Chrisna Adhi Suryono
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, 50275, Indonesia

Published : 96 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Monitoring Bakteri Coliform pada Pasir Pantai dan Air Laut di Wisata Pantai Marina dan Pantai Baruna Wilis Ari Setyati; Delianis Pringgenies; Dony Bayu Putra Pamungkas; Chrisna Adhi Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 1 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i1.13775

Abstract

Marina and Baruna Beach are widely recognized as popular beach tourism destinations in Semarang. Its proximity to the main beach estuary causes them to significantly impact marine tourism quality. In addition, their exposure to waste may be a potential threat to biological pollution. Coliform and Escherichia coli are used as bioindicators to monitor the quality of marine tourism due to their high correlation to faecal contamination and pathogenic microbes. Samples collected were beach sand and seawater from Marina Beach, Baruna Beach and the estuary of Semarang Banjir Kanal Barat. Data were collected following the presumptive and confirmed test, followed by the conversion to MPN Table. Data obtained is combined with Government Regulations No. 22 of 2021 in Appendix VIII, specifically seawater quality standards for marine tourism. The results of this study reveal high contamination of coliform and E. coli in both beaches. Coliform result in the swimming zone at Marina Beach was 2800 MPN/100ml and at Baruna Beach was 16000 MPN/100ml. Meanwhile, Escherichia coli in the swimming zone area at Marina Beach was 400 MPN/100ml and at Baruna Beach was 1700 MPN/100ml. Overall, these results show that the contamination rate from both swimming zones is higher than the recommended seawater quality standard for marine tourism  Wisata Pantai Marina dan Pantai Baruna menjadi kawasan wisata pantai yang populer di Kota Semarang. Lokasinya yang berdekatan dengan muara sungai utama di Kota ini berdampak terhadap kualitas wisata pantai. Paparan limbah berpotensi menyebabkanpencemaran biologis. Monitoring terhadap bakteri coliform dan bakteri Escherichia coli dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas wisata pantai, karena keberadaannya berkorelasi dengan cemaran feses dan mikroba patogen. Sampel berupa pasir pantai dan air laut diambil dari  lokasi Pantai Marina, Pantai Baruna, dan muara Sungai Banjir Kanal Barat Kota Semarang. Pengujian sampel dilaksanakan dengan presumtif test dan confirmed test, selanjutnya dikonversi dengan Tabel MPN. Data yang didapatkan akan dipadukan dengan PP Nomor 22 Tahun 2021 pada Lampiran VIII, yaitu baku mutu air laut untuk wisata bahari. Hasil penelitian menunjukkan tingginya kontaminasi bakteri coliform dan bakteri Escherichia coli dikedua pantai. Hasil coliform pada kawasan swimming zone pada Pantai Marina 2800 MPN/100ml dan Pantai Baruna 16000 MPN/100ml, serta hasil Escherichia coli pada kawasan swimming zone pada Pantai Marina 400 MPN/100ml dan Pantai Baruna 1700 MPN/100ml. Kawasan swimming zone pada wisata Pantai Marina dan Pantai Baruna mempunyai hasil yang melebihi baku mutu air laut untuk wisata bahari. 
Distribution of Gastropods in Mangrove Forest Area of Segara Anakan Cilacap Teguh Sugiarto; Chrisna Adhi Suryono; Jusup Suprijanto
Jurnal Moluska Indonesia Vol. 5 No. 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Masyarakat Moluska Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54115/jmi.v5i2.47

Abstract

This study aims to determine the distribution and diversity of gastropods at two locations with different levels of sedimentation in the mangrove forests of Segara Anakan Cilacap. This research was conducted during May-August 2002 in the mangrove forest area of Segara Anakan Cilacap. Analysis and identification of samples were carried out at the Laboratory of Marine Geology and Chemistry, Department of Marine Sciences, Diponegoro University, Awur Bay, Jepara. A preliminary survey was conducted to determine the research location, namely Klaces with high sedimentation rates and natural Sapuregel or areas with low sedimentation rates. At each research location 3 stations (I, II, and III) were determined, each of which was a transect line along 500 m. Each station has 3 sub stations, namely A (on the river bank), B (250 mr), and C (500 m) from the starting point. At each sub station there are two plots of 5m x 5m as a place for taking samples. The results showed that in the mangrove forests of Segara Anakan Cilacap, 29 species from 10 gastropod families were found. Cerithidea obtusa and Neritina violacea dominate the Klaces location with an average abundance of 14.04 individuals / m2 and 8.17 individuals / m2, respectively. Sapuregel was dominated by Nerita lineata with an average abundance of 1.77 individuals / m2. The Index of Diversity and Evenness in Sapuregel (2.48 and 0.61) was higher than the Klaces (1.73 and 0.42). Meanwhile, the Dominance Index in Klaces (0.46) is greater than that of Sapuregel (0.24). The community similarity between Klaces and Sapuregel is high, namely 65.12%.
Sebaran Ikan Sidat (Ikan Katadromus) di Perairan Sungai Lorok Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur Muhammad Arif Romadhi; Agus Indarjo; Chrisna Adhi Suryono; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33797

Abstract

Ikan sidat Anguilla sp. merupakan kategori ikan yang bermigrasi secara katadromous, artinya ikan sidat mengawali hidup di laut yang bermigrasi ke perairan tawar untuk tumbuh menjadi sidat dewasa dan kembali ke laut untuk melakukan pemijahan (spawning migration). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan klasifikasi jenis dan ukuran panjang kelompok sebaran ikan Sidat di Perairan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Penentuan kelompok menggunakan metode morfometrik dan jenis sampel menggunakan A/D%. Hasil menunjukkan distribusi ikan sidat yang ditemukan di Muara Sungai Lorok terdapat dua spesies, yaitu Anguilla bicolor dan Anguilla marmorata. Frekuensi ukuran panjang distribusi benih ikan sidat (glass eel) kisaran ukuran panjang total 4,8 cm hingga 7,56 cm dengan rata – rata 6,0 ± 0,9 hingga dan Sedangkan ukuran panjang distribusi sidat muda (yellow eel) kisaran ukuran panjang 37,98 cm hingga 48,0 cm dengan rata – rata 43,2 ± 3,1. Analisis uji beda mendapatkan nilai signifikansi (p= 0,00 < 0,01) maka adanya perbedaan ukuran panjang antara stasiun di aliran SungaI Lorok. Freswater eels Anguilla sp. is a category of fish that cathadromous migrate, that eel fish begin to live in the sea that migrates to fresh waters to grow into adult eels and returns to the sea to spawning migration. This study aims to classify the type and size of the length of the Eel fish distribution group in Ngadirojo Waters, Pacitan Regency. This study aims to classify the type and size of the length of the Eel fish distribution group in Ngadirojo Waters, Pacitan Regency. Group determination using morphometric methods and sample types using A/D%. The results showed that the distribution of eel fish found in the Lorok River was two species, namely Anguilla bicolor and Anguilla marmorata. The frequency of the length distribution of glass eel seeds (glass eel) ranges in total length from 4.8 cm to 7.56 cm with an average of 6.0 ± 0.9 to and. 37.98 cm to 48.0 cm with an average of 43.2 ± 3.1. The analysis of the difference test got a significance value of (p= 0,00 < 0,01), so there is a difference in length between stations in the Lorok River flow.
Mikroplastik yang Ditemukan di Perairan Karangjahe, Rembang, Jawa Tengah Denny Hendrik Nainggolan; Agus Indarjo; Chrisna Adhi Suryono
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.35021

Abstract

Sampah merupakan masalah bagi masyarakat di seluruh dunia, baik sampah yang berasal dari daratan maupun laut. Permasalahan sampah di Indonesia adalah masalah yang belum terselesaikan hingga saat ini, sementara itu dengan bertambahnya jumlah penduduk maka akan mengikuti pula bertambahnya volume timbulan sampah yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Salah satu jenis sampah yang paling banyak terdapat di wilayah daratan dan lautan adalah sampah plastik. Sampah plastik akan mengalami terfragmentasi menjadi partikel-partikel kecil plastik yang disebut mikroplastik. Mikroplastik merupakan sampah plastik yang berukuran kecil atau <5 mm yang telah mengalami degradasi dari ukuran plastik yang lebih besar. Mikroplastik sangat mempengaruhi organisme laut yang menempati tingkat trofik yang kecil, seperti plankton yang memiliki sifat filter feeder jika mengkonsumsi mikroplastik akan berdampak pada organisme yang memiliki tingkat trofik yang lebih besar melalui proses bioakumulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi kandungan mikroplastik pada sedimen dan permukaan perairan di Pantai Karangjahe. Penelitian ini dilakukan di Pantai Karang Jahe Rembang, untuk pengambilan sampel dan analisis sampel dilakukan di Laboratorium. Sampel air diambil menggunakan plankton net dengan ukuran mesh size 0,4mm dan sampel sedimen diambil menggunakan pipa paralon dengan ukuran 4 inchi dengan panjang 50cm. Untuk pengambilan sampel air disetiap stasiunnya terbagi menjadi 3 titik dengan jarak 10m setiap titiknya. Pengambilan sampel air sebanyak 25 kali dan setiap sekali pengambilan sampel air sebanyak 1L air, volume air yang telah tersaring sebanyak 25L. Setelah disaring, sampel dimasukkan kedalam botol sampel yang berukuran 250ml yang telah diberi label. Botol sampel dimasukkan kedalam cool box. Pengambilan sampel sedimen terbagi menjadi 3 stasiun dan pada 3 titik kedalaman yang berbeda yaitu 10cm, 20cm, dan 30cm. Sampel sedimen diambil sebanyak ±500g dari setiap titiknya. Kemudian sampel sedimen yang telah diambil dimasukkan kedalam plastik sampel dan diberi tanda tiap plastik tersebut. Sampel air dan sedimen dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi. Mikroplastik yang ditemukan di sampel air yaitu jenis mikroplastik fiber, fragment, film, dan foam. Pada sampel sedimen ditemukan 3 jenis mikroplastik yaitu fiber, fragment, dan film.  Rubbish is a problem for people around the world, both from land and sea. The waste problem in Indonesia is a problem that has not been resolved until now, meanwhile with the increase in population, it will also follow the increase in the volume of waste generated from human activities. One of the most common types of waste found in land and ocean areas is plastic waste. Plastic waste will be fragmented into small plastic particles called microplastics. Microplastics are small plastic wastes or <5 mm that have been degraded from larger plastic sizes. Microplastics greatly affect marine organisms that occupy a small trophic level, such as plankton which has filter feeder properties if consuming microplastics will have an impact on organisms that have a larger trophic level through the bioaccumulation process. This study aims to identify the content of microplastics in sediments and surface waters at Karangjahe Beach. This research was conducted at Karang Jahe Beach, Rembang, for sampling and sample analysis was carried out in the laboratory. Water samples were taken using a plankton net with a mesh size of 0.4 mm and sediment samples were taken using a 4 inch paralon pipe with a length of 50 cm. For water sampling, each station is divided into 3 points with a distance of 10 m from each point. Sampling of water as much as 25 times and every time the water sample is 1L of water, the volume of water that has been filtered is 25L. After filtering, the sample was put into a 250 ml sample bottle that had been labeled. The sample bottle is put into a cool box. Sediment sampling was divided into 3 stations and at 3 different depth points, namely 10cm, 20cm, and 30cm. Sediment samples were taken as much as ± 500g from each point. Then the sediment samples that have been taken are put into sample plastics and marked with each plastic. Water and sediment samples were brought to the laboratory for identification. The microplastics found in the water samples were fiber, fragment, film, and foam microplastic types. The sediment samples found 3 types of microplastics, namely fiber, fragment, and film.
Korelasi antara Ukuran Butir Sedimen Non Pasir dengan Kandungan Bahan Organik di Perairan Morodemak, Kabupaten Demak Millenia Dinda Alkautsar; Chrisna Adhi Suryono; Ibnu Pratikto
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.35020

Abstract

Perairan Morodemak merupakan salah satu perairan yang memiliki berbagai macam aktivitas masyarakat dimulai dari aktivitas Pelabuhan dan TPI, jalur lintas perahu nelayan hingga pembuangan limbah domestik maupun industri. Adanya aktivitas tersebut dapat menyebabkan perubahan sebaran ukuran butir dan kandungan bahan organik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui jenis dan klasifikasi sedimen serta jumlah kandungan bahan organik yang terdapat dalam sedimen non pasir di Perairan Morodemak, Demak. Pengambilan data pada penelitian ini yaitu pengambilan data berupa sampel sedimen dengan menggunakan sediment core. Dilanjutkan dengan analisa sampel sedimen dan analisa kandungan bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan Morodemak, Demak memiliki konsentrasi kandungan bahan organik sebesar 2,72-7,56% yang termasuk dalam kriteria sangat rendah-rendah. Hubungan persentase non pasir dengan bahan organik yang terdapat dalam partikel pasir memiliki korelasi positif (+) yang terbilang besar dengan nilai fraksi silt pada kedalaman 0 cm sebesar 79,0% dan kedalaman 30 cm sebesar 66,6%, dimana semakin besar persentase sedimen non pasir (silt dan clay) maka garis linear yang terbentuk semakin naik, bahan organik yang terkandung di dalam partikel sedimen semakin tinggi.Morodemak coastal waters is one of the waters that has various kinds of community activities starting from port and fish market activities, fishing boat track to the disposal of domestic and industrial waste. The existence of these activities can cause changes in the distribution of grain size and organic matter content. This study aims to determine the type and classification of sediments and the amount of organic matter contained in non-sand sediments in Morodemak waters, Demak. Data collection in this study is data collection in the form of sediment samples using a sediment core. Followed by an analysis of sediment samples and analysis of organic matter content. The results showed that in Morodemak waters, Demak has a concentration of organic matter content of 2.72-7.56% which is included in the very low-low criteria. The relationship between the percentage of non-sand and organic matter contained in sand particles has a fairly large positive correlation (+) with a relatively large correlation with the value of the silt fraction at a depth of 0 cm of 79.0% and a depth of 30 cm by 66.6%, where the greater the percentage of non-sand sediment (silt and clay) the linear line formed increases, the organic matter contained in the sediment particles is higher. 
Bulu Babi Pada Ekosistem Karang dan Lamun di Perairan Taman Nasional Karimunjawa The Michael Febrian Wijaya; Chrisna Adhi Suryono; Ervia Yudiati
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.34055

Abstract

Bulu babi merupakan salah satu biota Echinodermata yang ditemukan di perairan Taman Nasional Karimunjawa. Bulu babi pada umumnya menghuni ekosistem terumbu karang dan ekosistem padang lamun serta menyukai substrat yang agak keras terutama substrat di padang lamun yang merupakan campuran dari pasir dan pecahan karang. Karakteristik yang berbeda pada kedua ekosistem akan mempengaruhi populasi pada ekosistem tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kelimpahan bulu babi di ekosistem karang dan padang lamun di Pantai Legon Bajak dan Pulau Menjangan Kecil, Taman Nasional Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam pengambilan data penutupan karang adalah transek kuadrat dengan skala sepanjang 50 meter dan jarak antar transek yaitu 10 meter. Pengambilan data penutupan dan kerapatan lamun menggunakan transek kuadrat dengan ukuran 50 x 50cm. Kelimpahan bulu babi pada ekosistem terumbu karang dan padang lamun menggunakan Benthos Belt Transect (BBT). Hasil penelitian penutupan terumbu karang dan lamun di Pantai Legon Bajak dikategorikan rusak dengan persentase rata – rata 24,78% dan 20,1%. Sedangkan penutupan terumbu karang dan lamun di Pulau Menjangan Kecil dikategorikan sedang dengan nilai persentase rata – rata 49.16% dan 34.7%. Hubungan korelasi antara penutupan karang dengan kelimpahan bulu babi termasuk dalam kategori sangat kuat dengan nilai koefisien r sebesar 0,814, sedangkan nilai hubungan korelasi antara penutupan lamun dengan kelimpahan bulu babi termasuk dalam kategori sedang dengan nilai koefisien r sebesar 0,585. Sea urchins are one of the Echinoderms found in the Karimunjawa National Park waters. Sea urchins mostly inhabit coral reef ecosystems and seagrass beds ecosystems and like a rather hard substrate, especially the substrate in seagrass beds which is a mixture of sand and coral rubble. The different characteristics in the two ecosystems will affect the population in that ecosystem. The purpose of this research was to determine differences in the abundance of sea urchins in coral and seagrass ecosystems at Legon Bajak Beach and Menjangan Kecil Island, Karimunjawa National Park. The sampling method used in the coral cover data is quadrat methods with a scale of 50 meters and the distance between transects is 10 meters. Seagrass cover and density data collection used 50 x 50 cm quadrant transect. The abundance of sea urchins in coral reef and seagrass ecosystems using Benthos Belt Transect (BBT). The research results showed that the cover of coral reefs and seagrass beds in Legon Bajak Beach were categorized as bad which are of 24.78 % on coral reef and 20.1 % seagrass. Meanwhile, the cover of coral reefs and seagrass beds in Menjangan Kecil Island in the category of moderate which are of 49,16 % and 34,7 %. The correlation between coral cover and sea urchin abundance is in the very strong category with an r coefficient of 0.814, while the correlation between seagrass cover and sea urchin abundance is in the medium category with an r coefficient of 0.585.
Penggunaan Citra Satelit Sentinel-2A untuk Mengevaluasi Perubahan Garis Pantai Semarang Jawa Tengah Rafif Rizki Zaidan; Chrisna Adhi Suryono; Ibnu Pratikto; Nur Taufiq-Spj
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33395

Abstract

Kota Semarang merupakan kota pesisir yang rentan akan pengaruh dari alam dengan kondisi fisik yang berpasir dan berlumpur, topografi yang landai dan adanya banyak kegiatan manusia. Hal tersebut membuat Kota Semarang mengalami perubahan garis pantai yang dinamis dari tahun ke tahun, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian secara kontinu untuk memantau perubahan garis pantai yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perubahan garis pantai yang terjadi di Kota Semarang menggunakan citra satelit Sentinel-2A. Metode dalam penelitian ini adalah dengan mengaplikasikan penginderaan jauh yang dilanjutkan dengan perhitungan statistik Digital Shoreline Analysis System (DSAS) pada aplikasi penginderaan jauh dan pengolahan data sekunder angin, gelombang dan arus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2016-2021, garis pantai Kota Semarang mengalami perubahan berupa abrasi seluas 186.34 ha dan akresi sebesar 43.62 ha, dimana abrasi mendominasi perubahan dengan persentase 81%, sementara akresi yang terjadi hanya 19%. Rata-rata jarak dan laju perubahan yang terjadi masing-masing sebesar -32.78 meter dan -6.47 meter/tahun yang menunjukkan perubahan garis pantai berupa abrasi. Secara keseluruhan, pada periode 2016 hingga 2021 Kota Semarang cenderung mengalami pengurangan daratan atau abrasi. The city of Semarang is a coastal city that is vulnerable to the influence of nature with physical conditions of sandy and muddy beach, low topography and the presence of many human activities. This made the city of Semarang experience dynamic coastline changes from year to year, therefore it is necessary to conduct continuous research to monitor changes in coastline that occur. The purpose of this study was to determine changes in the coastline that occurred in the city of Semarang using Sentinel-2A satellite imagery. The method in this study is applying satellite imagery from remote sensing technology followed by statistical calculations using Digital Shoreline Analysis System (DSAS) on remote sensing application and the processing of wind, wave and current as secondary data. The results showed that in the 2016-2021 period, the coastline of Semarang City experienced changes in the form of 186.34 ha of abrasion and 43.62 ha of accretion, where abrasion dominated the change with a percentage of 81%, with accretion of only 19%. The average distance and rate of change that occur are -32.78 meters and -6.47 meters/year, respectively, indicating changes in the coastline in the form of abrasion. Overall, in the period 2016 to 2021, Semarang City tends to experience land reduction or abrasion.
Hubungan Persentase Tutupan Karang Hidup dan Kelimpahan Ikan di Kawasan Konservasi Perairan Pulau Koon, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku Rizky Erdana; Ibnu Pratikto; Chrisna Adhi Suryono; Suryono Suryono
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.32164

Abstract

Kawasan konservasi perairan merupakan daerah perlindungan bagi ekosistem terumbu agar sumberdaya yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Ekosistem terumbu karang dihuni karang, ikan karang, dan komponen lainnya untuk membentuk ekosistem yang seimbang. Penelitian mengenai persentase tutupan karang dan kelimpahan ikan karang penting untuk dilakukan sebagai upaya untuk pelestarian ekosistem terumbu karang kedepannya agar wilayah KKP Pulau Koon dan Sekitarnya dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antar persentase tutupan karang hidup dan kelimpahan ikan karang di wilayah kawasan konservasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini pada pengamatan tutupan karang menggunakan PIT (Point Intercept Transect) yaitu pengamatan tutupan pada setiap 0,5 m dengan panjang transek 50 m dan 3 kali pengulangan dan mengikuti Protokol RHM (Reef Health Monitoring). Untuk pengamatan ikan karang dengan menggunakan metode belt transect dengan sensus visual, pendataan ikan kecil dari 10-35 dan untuk ikan besar >35 dengan panjang transect 50 m dengan pengulangan sebanyak 5 kali (Gabby et al., 2013). Hasi menunjukkan bahwa kategori kesehatan karang paling tinggi terdapat pada zona inti sebesar 66,89% dan yang terendah zona perikanan berkelanjutan sebesar 48,5%. Kelimpahan ikan tertinggi terdapat pada zona pariwisata sebesar 2491 ind/250 m2 dan yang terkecil pada zona perikanan berkelanjutan sebesar 1317 ind/250 m2. Kelompok famili ikan yang mendominasi yaitu Caesionidae dan Pomacentridae. Hasil uji korelasi pearson digunakan untuk melihat hubungan pengaruh tutupan karang hidup dengan kelimpahan ikan karang menunjukkan nilai korelasi (r) sebesar 0,001 yang berarti bahwa hubungannya sangat lemah.Marine conservation areas are protected areas for reef ecosystems so that the resources in them can be used sustainably. Coral reef ecosystems, reef fish, and other components to form a balanced ecosystem. Research on the percentage of coral cover and abundance of reef fish is important to do as an effort to preserve coral reef ecosystems in the future so that the Koon Island MPA and surrounding areas can be used sustainably. The purpose of this study was to determine the relationship between the percentage of live coral cover and the abundance of reef fish in the conservation area. The method used in this study was to observe coral cover using PIT (Point Intercept Transect), namely observation of cover every 0,5 m with a transect length of 50 m and 3 repetitions and following RHM (Reef Health Monitoring) Protocol. For reef fish observation using the belt transect method with underwater visual census (UVC), collecting data for small fish from 10-35 and for large fish >35 with a transect length of 50 m with 5 repetitions. The result showed that the highest coral health was in the core zone of 66,89% which was good category and the lowest was in the sustainable fisheries zone of 48,5% which was medium category. The highest abundance of reef fish was found in the tourism zone 2491 ind/250 m2 and the smallest was found in the sustainable fisheries of 1317 ind/250 m2. The dominant fish family groups in all zone were Caesionidae and Pomacentridae. The results of the Pearson correlation test were used to see the relationship between the effect of live coral cover and abundance of reef fish, showing a correlation value (r) of 0.001 which means that the relationship is very weak.  
Model Prediksi Jumlah Pakan menggunakan Algoritma Evolusi Pikiran - Jaringan Syaraf Tiruan Rambatan Balik untuk Budidaya Udang Erwin Adriono; Maman Somantri; Chrisna Adhi Suryono
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.14256

Abstract

Menentukan jumlah pakan yang sesuai merupakan hal penting dalam kegiatan budidaya udang berjenis Litopenaeus Vannamei. Jumlah pakan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain Jumlah Udang, Umur udang, DO, Salinitas, Alkalinitas, Suhu dan PH. Hubungan antar faktor tersebut dengan jumlah pakan sulit dibuatkan dalam persamaan matematis maupun dengan metode statisik. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan menggunakan Neural network. Neural network menjadi solusi untuk memodelkan hubungan input dan output yang kompleks. Hubungan Jumlah pakan dan faktorlainnya akan dimodelkan menggunakan metode Backpropagation NN yang dikombinasikan dengan algoritma optimasi seperti Genetic Algoritm dan Mind Evotionary Algoritm. Model BPNN, BPNN – GA dan BPNN MEA akan dibandingkan performa menggunakan MSE, RSME, MAE dan MAPE. Dari ketiga metode yang digunakan didapatkan hasil paling baik adalah pada BPNN MEA yaitu nilai MSE, RSME, MAE dan MAPE berturut-turut adalah 40,92; 6,39; 6,51 dan 20,29.   Determining the appropriate amount of feed is important in the aquaculture of Litopenaeus Vannamei shrimp. The amount of feed can be influenced by many factors including the number of shrimp, shrimp age, DO, salinity, alkalinity, temperature and PH. The relationship between these factors and the amount of feed is difficult to make in mathematical equations or with statistical methods. These problems can be solved using a neural network. Neural network is a solution for modeling complex input and output relationships. The relationship between the amount of feed and other factors will be modeled using the Backpropagation NN method combined with optimization algorithms such as Genetic Algorithm and Mind Evotionary Algorithm. The BPNN, BPNN – GA and BPNN MEA models will be compared using MSE, RSME, MAE and MAPE. Of the three methods used, the best results were obtained on BPNN MEA, with values of MSE, RSME, MAE and MAPE respectively 40,92; 6,39; 6,51  and 20,29.
Kondisi Padang Lamun di Pulau Panjang dan Pulau Lima, Banten Rafdi Abdillah Harjuna; Ita Riniatsih; Chrisna Adhi Suryono
Journal of Tropical Marine Science Vol 3 No 2 (2020): Journal of Tropical Marine Science
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.753 KB) | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v3i2.1928

Abstract

Seagrass are one of the marine ecosystems that have an important ecological function in maintaining biodiversity. The ecosystems that exist in shallow sea waters, seagrass meadows in Indonesia are not widely known and even almost ignored, but this ecosystem has various important functions in marine ecosystem. The health status of the seagrass ecosystem can be determined based on the percent cover (%). Seagrass have several environmental factors that influence such as temperature, salinity, pH, current velocity, depth and sediment composition. This study aims to identify and monitor seagrass percent cover and the factors that influence it in Pulau Panjang and Pulau Lima, Banten. This research was conducted in October 2019 using descriptive methods and purposive sampling in determining the location. Seagrass identification and data collection refers to the LIPI method. There were 2 types of seagrass found, namely Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii with a percent cover on Pulau Panjang (11.55-12.5%) and Pulau Lima (14.21-15.34%). Other environmental factors that are outside the optimal value for seagrass growth, namely the value of temperature and sea current and the discovery of the type of sediment composition, namely sand and silty sand.
Co-Authors Abdul Rohman Zaky Abdul Rohman Zaky Adi Santoso Adi Santoso Agus Indardjo Agus Indarjo Agus Sabdono Ajeng Rusmaharani Al Bar Rauuf Mulki Aldo Rizqi Arinianzah Alfi Satriadi Alghazeer, Rabia Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Almira Nadia Kusuma Alvi Akhmad Arifin Amri, Fahrizal Dwi Anggada, Rama Annisa Rhamadany Apriliani, Seka Indah Ardi Ristiyanto Ardian Nurrasyid Chamidy Ardiati Widya Wandira Arief, Atthariq Fachri Ramadhan Arifin, Alvi Akhmad Arifin, Muhammad Yusuf Aris Ismanto Asnita Fraselina Samosir Azhar, Nuril Azizah, Pramita B Tyas Susanti Bambang Yulianto Baskoro Rochaddi Baskoro Rochaddi Bayu Khrisna Yudhatama Bima Agung Saputra Chamidy, Ardian Nurrasyid Dara Ramadhania Istiqomahani Delianis Pringgenies Delianis Pringgenis Denny Hendrik Nainggolan Diah Ayu Isti Anti Diah Permata Wijayanti Dian Kharisma Dinar Ayu Budi Dony Bayu Putra Pamungkas Dyah Pitaloka Novitasari Ega Widyatama Rachmawan Endang Sri Susilo Endang Supriyantini Ervia Yudiati Erwin Adriono Fahrizal Dwi Amri Faishal Falah Falah, Faishal Farahdita, Wanda Laras Fitriyani, Naily Gadisza Asmara Yudha Ghea Ken Joandani Joandani Hadi Endrawati Ibnu Praktikto Ibnu Praktikto Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Istiqomahani, Dara Ramadhania Ita Riniatsih Ita Widowati Joandani, Ghea Ken Joandani Johannes Riter Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Khusnul Khotimah Kiuk, Yosni Krisna Dwi Nugroho Krisna Dwi Nugroho Kusuma, Almira Nadia Mahda Veronika Maman Somantri Millenia Dinda Alkautsar Mimie Saputri, Mimie Muhamad Irfan Cahyo Putro Muhammad Arif Romadhi Muhammad Yusuf Arifin Muhammad Zainuddin Naily Fitriyani Naitkakin, Egidius Nathanael Ganang Anindityo Wibowo Nirwani Soenardjo Nor, Muhammad Muallifin Novitasari, Dyah Pitaloka Nur Taufiq-Spj Pangga, R. M. Dio Dwi Pitaloka, Maria Dyah Ayu Pramita Azizah Pramudya, Herning Putro, Muhamad Irfan Cahyo Rachmawan, Ega Widyatama Raden Ario Rafdi Abdillah Harjuna Rafif Rizki Zaidan Ramadhani, Yualita Prasida Rendha Hendyanto Retno Hartati Rhamadany, Annisa Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rini Pramesti Ristiyanto, Ardi Riter, Johannes Rizky Erdana Rudhi Pribadi Ruri Jupriyati Samosir, Asnita Fraselina Saputra, Bima Agung Sarifah, Almunatus Sarwati, Dhea Erika Satriawan, Erian Febri Seka Indah Apriliani Septiani, Mita Eka Setyani, Wilis Ari Setyo Adi Prasojo Setyo Adi Prasojo Sitanggang, Wanri Soares, Daniel Candido Da Costa Sri Redjeki Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Sugeng Widada Sugiyanto, Nenden Rose Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Teguh Sugiarto The Michael Febrian Wijaya Tunas Pulung Pramudya Vicencius Hendra Adhari Wanda Laras Farahdita Wandira, Ardiati Widya Warsito Atmodjo Wibowo, Nathanael Ganang Anindityo Widianingsih Widianingsih Wilis Ari Setyani Wilis Ari Setyati Yualita Prasida Ramadhani Yudha, Gadisza Asmara Yudhatama, Bayu Khrisna