Chrisna Adhi Suryono
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang, 50275, Indonesia

Published : 96 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Sifat Fisik dan Mekanik Bioplastik Komposit dari Alginat dan Karagenan Khusnul Khotimah; Ali Ridlo; Chrisna Adhi Suryono
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.33865

Abstract

Sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton setiap tahunnya dan 3,2 juta ton diantaranya dibuang ke laut, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menciptakan plastik yang ramah lingkungan (bioplastik). Alginat dan karagenan merupakan polisakarida yang dihasilkan dari rumput laut yang berpotensi sebagai bahan pembuat bioplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karagenan terhadap karakteristik bioplastik komposit alginat-karagenan dengan pemlastis gliserol. Alginat diperoleh dari ekstraksi Sargassum sp. dan karagenan diperoleh dari ekstraksi Kappaphycus sp. yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Bioplastik dibuat dengan cara mencampurkan 1 gram alginat dan berbagai konsentrasi karagenan (1,5; 2,0; 2,5; 3,0; 3,5 gram) dalam 100 ml akuades yang diaduk dengan magnetic stirer selama 30 menit pada suhu 90oC. Gliserol sebanyak 10 ml ditambahkan ke dalam campuran dan dihomogenkan kembali selama 15 menit. Bioplastik dicetak dengan pelat kaca dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50oC selama 18 jam, kemudian dilepaskan dari cetakan dan dicelupkan ke dalam larutan CaCl2 2%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi karagenan berpengaruh (p<0,05) terhadap sifat mekanik (kuat tarik dan elongasi) dan sifat fisik (ketebalan, keburaman dan biodegradabilitas), tetapi tidak berpengaruh (p>0,05) pada ketahanan air bioplastik. Konsentrasi karagenan terbaik bioplastik komposit alginat-karagenan adalah 1,5 gram karena memiliki sifat fisik dan mekanik yang telah memenuhi Japanese Industrial Standard dan SNI 7188.7:2016 kecuali pada ketahanan airnya. Plastic waste in Indonesia reaches 64 million tons annually and 3.2 million tons of them are dumped into the sea, so research is needed to create environmentally friendly plastics (bioplastics). Alginate and carrageenan are polysaccharides produced from seaweed that have the potential to be used as bioplastics. This study aims to determine the effect of carrageenan on the bioplastic characteristics of alginate-carrageenan composites with glycerol as a plasticizer. Alginate obtained from the extraction of Sargassum sp. and carrageenan obtained from the extraction of Kappaphycus sp. from Jepara, Central Java. Bioplastics were made by mixing 1 gram of alginate and various concentrations of carrageenan (1.5; 2.0; 2.5; 3.0; 3.5 grams) in 100 ml of distilled water which was stirred with a magnetic stirrer for 30 minutes at 90oC. 10 ml of glycerol was added to the mixture and homogenized again for 15 minutes. The bioplastic was molded on a glass plate and dried in an oven at 50oC for 18 hours, then removed from the mold and immersed in a 2% CaCl2 solution. The results showed that carrageenan concentration had an effect (p<0.05) on mechanical properties (tensile strength and elongation) and physical properties (thickness, opacity and biodegradability), but had no effect (p>0.05) on water resistance of bioplastics. The best carrageenan concentration of alginate-carrageenan composite bioplastic is 1.5 grams because it has physical and mechanical properties that meet the Japanese Industrial Standard and SNI 7188.7:2016 except for its water resistance.
Logam Berat Mercury (Hg) dan Arsen (As) pada Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Semarang dan Tegal Jawa Tengah Chrisna Adhi Suryono; Agus Indardjo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 3 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i3.16279

Abstract

The Semarang and Tegal coastal waters are traditional fishing ground areas. However, the increasing use of coastal areas for various activities will increase pollutants in the coastal waters.  Heavy metals are pollutants that always appear in waters and accumulate in marine organisms. These study aims to determine As and Hg metals contained in the tissues of several marine organisms caught on the coast of Semarang and Tegal, Central Java. The analysis of As and Hg concentrations in organismal tissues using ICPMS.  The results showed that As and Hg were found in biota such as white shrimp (P. merguensis), blue crab (P. pelagicus), shellfish (A. inaequivalvis) and gastropods (H. ternatanus). Arsenic concentrations in the four biotas caught in Tegal (1.6 – 5.3 ppm) and Semarang (2.58 – 4.9 ppm). Meanwhile, Hg metal (0.02 – 0.15 ppm) in Tegal and (0.034 – 0.15 ppm) in Semarang.  The concentration level of As based on the biota caught in the Tegal waters are sequentially Shellfish > White shrimp > Gastropods > Blue swimming crab.  Meanwhile, the concentration of Arsenic in the biotas in Semarang waters are sequentially shellfish > white shrimp > blue crab > gastropods. However, Hg metal in the biota obtained in these two areas is very low  Pesisir Semarang dan Tegal merupakan daerah penangkapan perikanan tradisional.  Namun dengan semakin meningkatnya pemamnfaatan wilayah pesisir untuk berbagai kegiatan akan meningkatkan polutan dalam perairan.  Logam berat merupakan polutan yang selalu muncul dalam perairan dan terakumulasi organisme laut.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui logam As dan Hg yang terdapat dalam jaringan beberapa biota yang ditangkap pesisir Semarang dan Tegal Jawa Tengah.  Analisa konsentrasi As dan Hg dalam jaringan organisme menguunakan ICPMS.  Hasil penelitian menunjukan logam As dan Hg ditemukan dalam biota seperti udang putih (P. Merguensis), rajungan (P. pelagicus), kerang bulu (A. inaequivalvis) dan gastropoda (H. ternatanus).  Konsentrasi Arsen di keempat biota yang ditangkap di Tegal (1,6 – 5,3 ppm) dan Semarang (2,58 – 4,9 ppm).  Sedangkan logam Hg (0,02 – 0,15 ppm) di Tegal dan (0,034 – 0,15 ppm) Semarang.  Tingkat konsentrasi logam As berdasarkan biota yang tertangkap di perairan Tegal secara berurutan Kerang bulu > Udang putih > Gastropoda > Rajungan.  Sedangkan konsentrasi Arsen dalam biota di perairan Semarang secara berurutan Kerang bulu > Udang putih > Rajungan > Gastropoda.  Namun logam Hg dalam biota yang didapat di kedua daerah tersebut sangat rendah. 
Konsentrasi Logam Berat Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu) pada Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Semarang dan Tegal Jawa Tengah Chrisna Adhi Suryono; Agus Indardjo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 1 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i1.17321

Abstract

Coastal areas of Semarang and Tegal are the fishing ground area of traditional fishermen. But with the increasing activity in coastal and marine areas it will increase heavy metal contaminants in these waters which are allegedly contaminating existing biota. Heavy metals are pollutants that can accumulate in marine life. This study aims to know the concentration of lead metals (Pb) and copper (Cu) on the catch of the coastal fishermen of Semarang and Tegal, Central Java. Analysis of Pb and Cu concentration in tissue organisms using ICPMS. The results of the analysis showed that Pb and Cu metals were found in biota such as white shrimp (P. merguensis), crab (P. pelagicus), coocle (A. inaequivalvalvis) and gastropods (H. ternatanus). The highest concentration of Pb in the four biota captured in Semarang (4.48-5.76 ppm) and Tegal (0.53-3,055 ppm). Whereas the highest Cu metal in the biota argued in the Tegal waters (0.16 - 0.197ppm) while in Semarang (0.03-0.177 ppm) Semarang. The highest concentration of Pb (3,055-5.58 ppm) is found in gastropods both in Semarang and Tegal.  Thus, the metal Cu (0.177-0.197 ppm) in gastropods from Tegal and Semarang. Gastropods accumulate the highest Pb and Cu metal in the two regions of the fishing ground.  Pesisir Semarang dan Tegal merupakan daerah fishing ground nelayan tradisional.  Namun dengan semakin meningkatnya aktifitas di wilayah pesisir dan laut tersebut akan meningkatkan kontaminan logam berat di perairan tersebut yang diduga akan mengkontaminasi biota yang ada.  Logam berat merupakan polutan yang dapat terakumulasi dalam biota laut.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam Timbal (Pb) dan Tembaga (Cu) pada Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Semarang dan Tegal Jawa Tengah.  Analisa konsentrasi Pb dan Cu dalam jaringan organisme menguunakan ICPMS.  Hasil analisa menunjukkan logam Pb dan Cu ditemukan dalam biota seperti udang putih (P. Merguensis), rajungan (P. pelagicus), kerang bulu (A. inaequivalvis) dan gastropoda (H. ternatanus).  Konsentrasi tertinggi Pb di keempat biota yang ditangkap di Semarang (4,48–5,76 ppm) dan Tegal (0,53– 3,055 ppm).  Sedangkan logam Cu tertinggi pada biota yang ditangkap di perairan Tegal (0.16– 0.197ppm) sedangkan di Semarang (0.03–0.177 ppm) Semarang.  Konsentrasi tertinggi Pb (3,055–5,58 ppm) terdapat dalam gastropoda baik di Semarang maupun Tegal.  Demikian logam Cu tertingggi (0,177 - 0,197 ppm) pada gastropoda dari Tegal dan Semarang.  Gastropoda mengakumulasi logam Pb dan Cu tertinggi di kedua daerah fishing ground tersebut.
Kontaminasi Logam Cr dan Fe pada Organisme Benthik Laut yang Ditangkap di Perairan Jawa Tengah Chrisna Adhi Suryono; Agus Indardjo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 26, No 3 (2023): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v26i3.18165

Abstract

Coastal areas of Semarang and Tegal, there are several industries that use metal materials. These activities will have an impact on the marine ecosystem, especially the biota that lives in it. The research aims to determine the metal contamination of Chromium (Cr) and Iron (Fe) in benthic biota in the waters of Semarang and Tegal, Central Java. Analysis of Cr and Fe concentrations in biota tissues using ICPMS. The results of analysis of Cr and Fe metals in the biota tissues of white shrimp (P. Merguensis), crab (P. pelagicus), coocle (A. inaequivalvis) and gastropods (H. ternatanus) found Cr and Fe metals in the biota tissues. The concentration of Cr metal in biota found in Semarang ranges from 0.211– 0.235 ppm, while in Tegal it ranges from 0.1–0.218 ppm. Fe metal concentrations from Semarang biota ranged from 0.718 – 0.909 ppm, while those from Tegal were 0.733 – 1.429 ppm. The concentrations of Cr and Fe metals in each biota and research location showed no differences, while Fe metals showed differences.  Pesisir kota Semarang dan Tegal terdapat beberapa industri yang menggunakan bahan logam.  Aktifitas tersebut akan berdampak pada ekosistem laut terutama biota yang hidup didalamya.  Penelitian bertujuan mengethui kontaminansi logam Kromium (Cr) dan Besi (Fe) pada biota benthik di perairan Semarang dan Tegal Jawa Tengah.  Analisa konsentrasi Cr dan Fe dalam jaringan biota menguunakan ICPMS.  Hasil analisa logam Cr dan Fe dalam jaringan biota udang putih (P. Merguensis), rajungan (P. pelagicus), kerang bulu (A. inaequivalvis) dan gastropoda (H. ternatanus) ditemukan logam Cr dan Fe dalam jaringan biota.  Konsentrasi logam Cr pada biota yang ditemukan di Semarang berkisar 0,211 – 0,235 ppm, sedangkan di Tegal berkisar 0,1 – 0,218 ppm.  Konsentrasi logam Fe dari biota Semarang berkisar antara 0,718 – 0,909 ppm, sedangkan yang berasal dari Tegal 0,733 – 1,429 ppm.  Konsentrasi logam Cr dan Fe pada setiap biota dan lokasi penelitian menunjukan tidak adanya perbedaan sedangkan logam Fe menunjuakn adanya perbedaan.
Kerapatan Lamun di Perairan Pulau Panjang, Jepara Nor, Muhammad Muallifin; Suryono, Chrisna Adhi; Endrawati, Hadi
Journal of Marine Research Vol 13, No 3 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i3.35128

Abstract

Lamun adalah tumbuhan berbunga yang hidup di perairan dangkal dengan pengaruh sinar matahari. Lamun memiliki ciri morfologi yaitu daun, batang dan akar. Lamun dapat tumbuh dengan membentuk padang lamun yang terdiri dari satu atau lebih jenis lamun. Lamun tumbuh di perairan dengan substrat pasir dan berlumpur. Lamun memiliki fungsi ekologi yang banyak diantaranya adalah sebagai produktivitas primer, sumber makanan, menstabilkan sedimen, tempat asuhan dan habitat biota – biota laut. Ekosistem lamun menjadi ekosistem penting sehinga sebarannya di perairan perlu untuk dikaji. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kerapatan lamun di Pulau Panjang, menggunakan metode line transek sehingga dapat diketahui komposisi lamun, dan kerapatan lamun. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa di Pulau Panjang telah ditemukan empat jenis lamun dengan komposisi lamun yang paling banyak dijumpai adalah Thalassia hemprichii dan paling jarang dijumpai adalah Enhallus acoroides. Kerapatan jenis lamun tertinggi berada di stasiun 2 yaitu 283 tegakan/m2.  Seagrass is a flowering plant that lives in shallow waters under the influence of sunlight. Seagrass has morphological characteristics, namely leaves, stems and roots,.Seagrass can grow by forming seagrass beds consisting of one or more types of seagrass. Seagrass grows in waters with sandy and muddy substrates. Seagrasses have many ecological functions, including primary productivity, food sources, stabilizing waters, nursery and habitat for marine biota. Seagrass ecosystems are important ecosystems so that their distribution in waters needs to be studied. This study was conducted to determine the density of seagrass in the Panjang Island, using the line transect method so that the composition, and density seagrass can be known. Based on the research, it is known that in Panjang Island, there were 4 species of seagrass have been found with the composition of the most common seagrass being Thalassia hemprichii and the least common being Enhallus acoroides. The highest density of seagrass species is at station 2, which is 283 ind/m2.
Kajian Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun di Padang Lamun Pantai Bandengan dan Pantai Blebak, Jepara Anggada, Rama; Riniatsih, Ita; Suryono, Chrisna Adhi
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.37818

Abstract

Ekosistem padang lamun atau seagrass bed merupakan salah satu ekosistem laut dangkal yang mempunyai peranan penting bagi kehidupan di laut serta merupakan salah satu ekosistem yang paling produktif. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kompisisi jenis lamun, tutupan lamun dan indeks kesehatan ekosistem lamun di Pantai Bandengan dan Pantai Blebak, Jepara. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ditemukan dua spesies lamun yang ditemukan di Pantai Blebak dan lima spesies lamun yang ditemukan di Pantai Badengan. Spesies lamun yang ditemukan di Pantai Blebak yaitu Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata. Spesies lamun yang ditemukan di Pantai Bandengan yaitu yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, dan Oceana serrulata. Prosentase tutupan lamun yang didapatkan di Pantai Bandengan yaitu 41,5% dengan ketegori sedang dan Pantai Blebak yaitu 16,8% termasuk kategori jarang. Hasil tutupan makroalga yang terdapat pada kedua tempat tersebut secara berturut – turut  yaitu 3,03%, dan 3,1% dengan kategori sedikit. Hasil tutupan epifit di Pantai Blebak yaitu 14,2% dengan kategori baik dan Pantai Bandengan yaitu 32,72% dengan kategori sedang.Nilai indeks kesehatan ekologi lamun tergolong buruk dengan nilai yang didapatkan di perairan pantai Blebak dan Pantai Badengan secara berturut – turut yaitu berkisar antara 0,404 dan 0,44 dengan kategori buruk. The seagrass bed ecosystem is one of the shallow marine ecosystems that has an important role for life in the sea and is one of the most productive ecosystems. The purpose of this research was to determine the composition of seagrass species, seagrass cover and seagrass ecological quality index at Bandengan Beach and Blebak Beach. The research method used is descriptive analysis. The results of the study there were two species of seagrass found on Blebak Beach and five species of seagrass found on Badengan Beach. Seagrass species found in Blebak Beach are Thalassia hemprichii and Cymodocea rotundata. Seagrass species found on Bandengan Beach are Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, and Oceana serrulata. The percentages of seagrass cover found in Blebak Beach and Bandengan Beach are 41.5% and 16,8% are in the medium category. The results of macroalgae cover found in these two places respectively were 3,03%, and 3.1% with a little category. The results of epiphytic cover at Blebak Beach and Bandengan Beach were obtained respectively, namely 14,2% and 32.72% in the medium category. that is ranged between 0.404 and 0.44 
Komposisi Jenis Jenis Ikan dan Crustacea Hasil Tangkapan Bubu Naga di Pesisir Tambakrejo Semarang Septiani, Mita Eka; Suryono, Chrisna Adhi; Suryono, Suryono
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.43936

Abstract

Bubu naga merupakan alat perangkap yang bersifat pasif yang pengoperasiannya memanfaatkan kondisi pasang surut perairan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jenis komposisi hasil tangkapan bubu naga yang dioperasikan di Tambakrejo, Kota Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2023 sampai dengan 12 November 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh hasil tangkapan bubu naga sebanyak 8 jenis yaitu udang galah (Macrobrachium sp), udang putih (Penaeus merguensis), kepiting tapal kuda (Tachypleus gigas), kepiting bakau (Scylla serrata), ikan beloso (Glossogobius giuris), ikan kiper (Scatophagus argus), ikan manyung (Arius thalassinus), dan ikan kedukang (Hexanematichthys sagor) menyajikan komposisi hasil tangkapan secara berurutan; 40,30%, 44,89%, 3,06%, 6,12%, 1,27%, 1,27%, 1,78%, dan 1,27%. Kesimpulan dari penelitian diketahui bahwa diperoleh 8 jenis hasil tangkapan yang terdiri dari krustasea dan ikan dengan komposisi hasil tangkapan terbanyak diperoleh di krustasea.Bubu naga merupakan perangkap pasif yang pengoperasiannya memanfaatkan kondisi pasang surut perairan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan bubu naga yang dioperasikan di perairan pesisir Tambakrejo Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2023. Hasil penelitian menunjukkan 8 jenis bubu naga yang berhasil ditangkap yaitu udang galah (Macrobrachium sp), udang putih (Penaeus merguensis), kepiting tapal kuda (Tachypleus gigas), kepiting bakau (Scylla serrata), ikan beloso (Glossogobius giuris), ikan kiper (Scatophagus argus), ikan lele (Arius thalassinus), dan ikan teritip (Hexanematichthys sagor) persentase komposisi tangkapan secara berurutan; 40,30%, 44,89%, 3,06%, 6,12%, 1,27%, 1,27%, 1,78%, dan 1,27%. Kesimpulan dari penelitian diperoleh 8 jenis hasil tangkapan yang terdiri dari krustasea dan ikan dengan komposisi hasil tangkapan terbesar yang diperoleh dari krustasea.
Tingkat Kesuburan Perairan berdasarkan Konsentrasi Nitrat, Fosfat dan Klorofil-a di Kabupaten Jepara Arief, Atthariq Fachri Ramadhan; Suryono, Chrisna Adhi; Setyati, Wilis Ari
Journal of Marine Research Vol 12, No 4 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i4.41718

Abstract

: Kesuburan perairan ditentukan oleh nitrat, fosfat dan klorofil-a. Nitrat dan fosfat merupakan zat hara yang penting untuk mengembangkan potensi sumberdaya ekosistem laut Perairan Kartini merupakan salah satu perairan yang padat aktivitas manusia dan dekat dengan muara sungai Wiso. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesuburan di perairan Kartini dan Wiso, kabupaten Jepara. Pengambilan data penelitian dilaksanakan satu kali pada bulan Maret 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian dibagi menjadi delapan stasiun. Pengambilan sampel air dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Metode analisis kandungan nutrien pada air untuk konsentrasi nitrat dan fosfat mengacu pada SNI 6989.79.2011 dan SNI 06-6989.31.2005. Data dianalisis menggunakan analisis one way anova, uji regresi, uji korelasi dan uji TSI (Trophic State Index). Hasil penelitian menunjukkan, konsentrasi nitrat sebesar 0,50–0,73 mg/L, konsentrasi fosfat sebesar 0,013–0,513 mg/L dan konsentrasi klorofil-a sebesar 7,355-17,917 µg/L. Kandungan nitrat, fosfat dan klorofil-a pada stasiun Wiso relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun Kartini. Berdasarkan uji regresi, didapatkan persamaan regresi pada stasiun Kartini yaitu y = 32,74X1 + 1,33X2 – 7,07 dan stasiun Wiso yaitu y = -24,29X1 + 16,29X2 + 18,77. Uji korelasi pada stasiun kartini dan wiso menunjukkan nilai korelasi positif antara nitrat dan fosfat terhadap klorofil-a. Berdasarkan perhitungan TSI didapatkan tingkat kesuburan rata-rata semua stasiun yaitu eutrofik ringan hingga eutrofik sedang.    Water productivity is determined by nitrate, phosphate and chlorophyll-a. Nitrate and phosphate are essential nutrients to develop the potential of marine ecosystem resources. Kartini waters are one of the waters that are dense with human activities and  close to the mouth of the Wiso river. This study aims to determine water productivity in Kartini and Wiso waters, Jepara regency. The research data collection was carried out once in March 2022. The research method used was a descriptive method with a quantitative approach. The research location is divided into eight stations. Water sampling was repeated three times. The method of analyzing nutrient content in water for nitrate and phosphate concentration refers to the method of SNI 6989.79.2011 and SNI 06-6989.31.2005. Data were analyzed using one way anova test, regression test, correlation test and TSI test (Trophic State Index).  The results showed that the nitrate concentration was 0.50 – 0.73 mg/L, the phosphate concentration was 0.013–0.513 mg/L and the chlorophyll-a concentration was 7.355 µg/L - 17.917. µg/L. The content of nitrate, phosphate and chlorophyll-a at Wiso station is relatively higher than Kartini station. Based on the regression test, the regression equation obtained at Kartini station y = 32,74X1 + 1,33X2 – 7,07 and at wiso station is y = -24,29X1 + 16,29X2 + 18,77. The correlation test at Kartini and Wiso stations showed a positive correlation value between nitrate and phosphate on chlorophyll-a. Based on TSI calculations, the average fertility level for all stations is obtained, namely mild eutrophic to moderate eutrophic.
The Impact of Varying Alginate Co-activation with Probiotics on the Artemia Bioencapsulation to Enhance Immunity Against Vibrio spp. Suryono, Chrisna Adhi; Santoso, Adi; Yudiati, Ervia; Yulianto, Bambang; Sunaryo, Sunaryo; Azhar, Nuril; Alghazeer, Rabia
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 29, No 3 (2024): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.29.3.372-384

Abstract

Alginate is known as an immunostimulant. The comprehensive study of Artemia on its co-activity with Lactobacillus bulgaricus resolves the relationship of feed digestibility, hematological parameters, gene expression, feed digestibility, and disease-resistant have not been covered. This study aimed to determine the effect of various doses alginate with Lactobacillus bulgaricus bio-encapsulated Artemia in Vibrio vulnificus, V. parahaemolyticus, and V. harveyi challenged. Alginate from Sargassum sp. L. bulgaricus were cultured and grown with de Man, Rogosa and Shape media. Nauplii Artemia was encapsulated for one hour with 400, 600, 800 ppm alginate doses, with and without probiotics. The Artemia then was challenged with three Vibrio spp. The Artemia mortality, immune parameters (Phenol Oxidase, Super-oxide Dismutase) were evaluated. Pro Phenol Oxidase, b-1,3-glucan-binding proteins (LGBP), and Lectin gene expression as well as gut evacuation time, fullness of gut were recorded.  Compared to the non-probiotic alginate, co- probiotic activated and improved the mortality rate of 400 ppm alginate from 100% to 30-70% (36 h), CMI of 276-702, and mortality reduction (41.21-74.59%). The co-activity of 400 ppm alginate and L. bulgaricus resulted in higher PO and SOD activity. LGBP and proPO gene expression were also upregulated 233.44% and 185.17%. The gut evacuation time and fullness of alginate 400 ppm and L. bulgaricus treatment have also resulted in better performance than those of 800 ppm alginate without probiotics. Alginate and L. bulgaricus probiotics cooperated synergically through pre and probiotic mechanisms. This Artemia bio model defines that this combination will improve the survival rate, immune system, and gene expression. In the future this will be beneficial in terms of shrimp production in ponds.
Indeks Ekologi Komunitas Tintinnid (Protozoa:Ciliophora) di Perairan Banggai, Sulawesi Tengah Sugiyanto, Nenden Rose; Widianingsih, Widianingsih; Suryono, Chrisna Adhi; Hartati, Retno; Endrawati, Hadi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 27, No 3 (2024): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v27i3.24783

Abstract

There are several groups of organisms in zooplankton, including ciliates (Filum Ciliophora). Ciliates that live in the sea belong to the suborder tintininna or also often referred to as tintinnids. This study aims to determine the type and abundance and analyze the ecological index of the tintinnid community in Banggai Waters, Central Sulawesi. This research was conducted at 35 stations on 1 – 14 September 2022 in the Banggai Waters, Central Sulawesi. The samples were taken by vertical method. The results showed that 9 families, 20 genera, and 35 tintinnid species were identified. The abundance of tintinnids in Banggai Waters has an average of 5763 cells/m3. Furthermore, the distribution pattern of total abundance at each station shows a clustered distribution pattern. The diversity of tintinnid abundance in Banggai Waters has an average of 2.15, classified as moderate. Tintinnid uniformity in Banggai Waters has an average of 0.63 classified as high. The dominance of tintinnids in Banggai Waters has an average of 0.17 classified as low category. The relationship between total abundance and diversity index shows a positive correlation. Meanwhile, the relationship between the abundance and evenness indices and the dominance indices shows a negative correlation.  The study's results suggest that the condition of the tintinnid community in Banggai Waters is stable. Filum Ciliophora (Ciliata) termasuk dalam kelompok mikrozooplankton.  Ciliata yang hidup di laut termasuk ke dalam subordo Tintininna atau juga sering disebut dengan tintinnid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan, dan indeks ekologi dari komunitas tintinnid yang berada di Perairan Banggai, Sulawesi Tengah. Pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 1- 14 September  2022 di Perairan Sulawesi Tengah. Sampel  mikrozooplankton diambil secara vertikal pada 35 stasiun.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 9 famili, 20 genus, dan 35 spesies tintinnid yang teridentifikasi. Kelimpahan tintinnid di Perairan Banggai memiliki rata-rata sebesar 5763 sel/m3. Selanjutnya pola sebaran dari kelimpahan total di tiap stasiun menunjukkan pola sebaran mengelompok.  Kenekaragaman Kelimpahan tintinnid di Perairan Banggai memiliki rata-rata sebesar 2,15 tergolong kategori sedang.  Keseragaman tintinnid di Perairan Banggai memiliki rata-rata sebesar 0,63 tergolong kategori tinggi. .  Dominansi tintinnid di Perairan Banggai memiliki rata-rata sebesar 0,17 tergolong kategori rendah. Hubungan anatara kelimpahan total dengan indek keanekaragaman menjukkan korelasi positif. Sedangkan hunbungan antrara kelimpahan dengan indek keseragman dan  indek dominansi menjukkan adanya korelasi negatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kondisi komunitas tintinnid di Perairan Banggai termasuk stabil.
Co-Authors Abdul Rohman Zaky Abdul Rohman Zaky Adi Santoso Adi Santoso Agus Indardjo Agus Indarjo Agus Sabdono Ajeng Rusmaharani Al Bar Rauuf Mulki Aldo Rizqi Arinianzah Alfi Satriadi Alghazeer, Rabia Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Almira Nadia Kusuma Alvi Akhmad Arifin Amri, Fahrizal Dwi Anggada, Rama Annisa Rhamadany Apriliani, Seka Indah Ardi Ristiyanto Ardian Nurrasyid Chamidy Ardiati Widya Wandira Arief, Atthariq Fachri Ramadhan Arifin, Alvi Akhmad Arifin, Muhammad Yusuf Aris Ismanto Asnita Fraselina Samosir Azhar, Nuril Azizah, Pramita B Tyas Susanti Bambang Yulianto Baskoro Rochaddi Baskoro Rochaddi Bayu Khrisna Yudhatama Bima Agung Saputra Chamidy, Ardian Nurrasyid Dara Ramadhania Istiqomahani Delianis Pringgenies Delianis Pringgenis Denny Hendrik Nainggolan Diah Ayu Isti Anti Diah Permata Wijayanti Dian Kharisma Dinar Ayu Budi Dony Bayu Putra Pamungkas Dyah Pitaloka Novitasari Ega Widyatama Rachmawan Endang Sri Susilo Endang Supriyantini Ervia Yudiati Erwin Adriono Fahrizal Dwi Amri Faishal Falah Falah, Faishal Farahdita, Wanda Laras Fitriyani, Naily Gadisza Asmara Yudha Ghea Ken Joandani Joandani Hadi Endrawati Ibnu Praktikto Ibnu Praktikto Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Irwani Istiqomahani, Dara Ramadhania Ita Riniatsih Ita Widowati Joandani, Ghea Ken Joandani Johannes Riter Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Khusnul Khotimah Kiuk, Yosni Krisna Dwi Nugroho Krisna Dwi Nugroho Kusuma, Almira Nadia Mahda Veronika Maman Somantri Millenia Dinda Alkautsar Mimie Saputri, Mimie Muhamad Irfan Cahyo Putro Muhammad Arif Romadhi Muhammad Yusuf Arifin Muhammad Zainuddin Naily Fitriyani Naitkakin, Egidius Nathanael Ganang Anindityo Wibowo Nirwani Soenardjo Nor, Muhammad Muallifin Novitasari, Dyah Pitaloka Nur Taufiq-Spj Pangga, R. M. Dio Dwi Pitaloka, Maria Dyah Ayu Pramita Azizah Pramudya, Herning Putro, Muhamad Irfan Cahyo Rachmawan, Ega Widyatama Raden Ario Rafdi Abdillah Harjuna Rafif Rizki Zaidan Ramadhani, Yualita Prasida Rendha Hendyanto Retno Hartati Rhamadany, Annisa Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rini Pramesti Ristiyanto, Ardi Riter, Johannes Rizky Erdana Rudhi Pribadi Ruri Jupriyati Samosir, Asnita Fraselina Saputra, Bima Agung Sarifah, Almunatus Sarwati, Dhea Erika Satriawan, Erian Febri Seka Indah Apriliani Septiani, Mita Eka Setyani, Wilis Ari Setyo Adi Prasojo Setyo Adi Prasojo Sitanggang, Wanri Soares, Daniel Candido Da Costa Sri Redjeki Sri Redjeki Subagiyo Subagiyo Sugeng Widada Sugiyanto, Nenden Rose Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Teguh Sugiarto The Michael Febrian Wijaya Tunas Pulung Pramudya Vicencius Hendra Adhari Wanda Laras Farahdita Wandira, Ardiati Widya Warsito Atmodjo Wibowo, Nathanael Ganang Anindityo Widianingsih Widianingsih Wilis Ari Setyani Wilis Ari Setyati Yualita Prasida Ramadhani Yudha, Gadisza Asmara Yudhatama, Bayu Khrisna