Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Studi Histologi dan Histomorfometri Daging Sapi Bali dan Wagyu (HISTOLOGYCAL AND HISTOMORPHOMETRY STUDY OF BALI CATTLE AND WAGYU BEEF) Ni Ketut Suwiti; I Putu Suastika; Ida Bagus Ngurah Swacita; I Nengah Kerta Besung
Jurnal Veteriner Vol 16 No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.522 KB)

Abstract

The objective of this study was to detect histological structure and histomorphometry of bali cattleand wagyu beef. The samples were collected from rib eye muscle of wagyu and bali cattle. The tissuesamples were fixed, dehydrated and embedded in paraffin and 4-5 mm sections, for histological examinationand stained with Haematoxilin-Eosin (HE). The light binocular microscope was used to identify the samples.The study showed that the beef histological structure consisted of: cells / muscle fibers, fatty and connectivetissues. The muscle fibers of wagyu were observed larger, regular, and longer compared to the Bali cattle.Additionally, intramuscular fat cells and connective tissue interlobulus were found less and thinner thanthe Bali cattle. In the area of muscle where the longitudinal cut was done, its observed that the presence ofI and A bands in Bali cattle beef were clearer compared to the wagyu. The diameter muscle fibers of balicattle beef (45.00 ±1.94 ?m), was smaller (P < 0.01) compared to the wagyu (75.00±1.82 ?m), as well as fatcell size of bali cattle beef (90.10 ±2.13 ?m) and wagyu beef (195.00±2.57?m). In conclusion, the structureof histology and histomorphometry of rib eye muscle in Bali cattle were different to the wagyu.
STRUKTUR HISTOLOGI DUODENUM, JEJENUM, DAN ILEUM SAPI BALI Ni Nyoman Werdi Susari; Ni Luh Eka Setiasih; Ni Ketut Suwiti
Jurnal Veteriner Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study to find out the histological structures of small intestine (ie. duodenum, jejunum, and ileum) of bali cattle have been carried out. A total of 20 small intestines were collected from the abattoir at Pesanggaran, Denpasar Bali. Histological examinations were performed on Haematoxyline Eosin stained small intestines slides. The duodenum, jejunum and ileum of the small intestines have four mucosa membranes: i) mucosa membrane, ii) sub mucosa membrane, iii) muscular membrane and, iv) serous membrane. The average thickness of mucosa membrane of duodenum, jejunum and ileum was 36,3±13,5 mm; 29,9±3,1 mm; and 38,8±11,9 mm, respectively. Each part has villi with an average length of 27,5±8,3 mm; 20,1±3,7 mm; and 18,5±4,3 mm, respectively. This mucosa membranes consist of single columnar epithelium, muscularis mucosa, and lamina propria. The average thickness of sub mucosa membrane was 47,3±15,3 mm; 10,4±2,6 mm; and 16,9±5,6 mm, respectively. Sub mucosa membrane consisted of connective tissue. The average thickness of muscular membrane was 46,9±8,8 mm; 28,1±5,1 mm; and 62,4±11,3 mm, respectively, which consisted of circular and longitudinal smooth muscle. The average thickness of serous membrane was 19,9±3,1 mm; 11,9 ±3,0 mm; and 12,1±3,6 mm, respectively, which consisted of mainly connective tissue. Goblet cells were seen through all the epithel of small intestines with the highest number seen in the ileum. Specific structure of duodenum, jejunum, and ileum which is Brunner’s glands in the sub mucosa membranes of duodenum, circular plicae in the jejunum and mesenteric gland in the ileum were also observed.
Kadar Hormon Pertumbuhan Sapi Bali Lebih Rendah di Nusa Penida Daripada Daerah Bali Lainnya(LEVELS OF GROWTH HORMONE BALI CATTLE IN NUSA PENIDA LOWER THAN OTHER BALI REGIONS) Ni Ketut Suwiti; I Wayan Masa Tenaya; I Nengah Kerta Besung
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.478 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.226

Abstract

The objective of this research was to compare the levels of growth hormone in bali cattle reared in the purification of Nusa Penida with those from other regions in Bali Province. A total of 320 sera samples were collected from bali cattle reared in Nusa Penida, Klungkung, Tabanan, Buleleng and Bangli. The levels of growth hormone was determined by using sandwich Enzime Linked Immunosorbent Assay (ELISA). The results showed that a diverse levels of growth hormone in Bali cattle were observed in Bali cattle. The lowest growth hormone levels (576.4 pg/mL) was found in Bali cattle reared in Nusa Penida and the highest levels (5044.08 pg/mL) were found in the Buleleng regency. It was concluded that bovine growth hormone levels varies, depending on the regions of rared of Bali cattle. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi kadar hormon pertumbuhan sapi bali yang dipelihara di wilayah pemurnian Nusa Penida dan wilayah lainnya di Provinsi Bali. Sebanyak 320 sampel serum sapi bali betina dewasa dikumpulkan dari peternakan rakyat di Nusa Penida Klungkung, Tabanan, Buleleng, dan Kabupaten Bangli. Kadar hormon pertumbuhan dideteksi dengan metode Enzime Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan, kadar hormon pertumbuhan sapi bali terendah (576,4 pg/mL) ditemukan pada sapi bali yang dipelihara di Nusa Penida, sedangkan kadar hormon tertinggi (5044,08 pg/mL) ditemukan pada sapi bali yang dipelihara di Kabupaten Buleleng. Disimpulkan bahwa kadar hormon pertumbuhan sapi bali berbeda-beda, tergantung wilayah tempat pemeliharaan sapi bali.
FUNGSI DAN GERAKAN YOGA ASANAS TERHADAP REMAJA DI SANGGAR JEPUN BALI DUSUN KALONGAN MAGUWOHARJO DEPOK KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Kadek Suwiti; Ni Luh Putu Wiardani Astuti
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.292 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i1.34

Abstract

Penelitian ini mendiskripsikan gerakan yoga asanas, manfaat dan fungsi yoga terhadap remaja di Sanggar Jepun Bali, gerakan-gerakan yoga yang efesien, dan berguna untuk kesehatan remaja. Dalam Jurnal ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, pendekatan tersebut digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang pelaksanaan kegiatan yoga asanas bagi remaja, metode kualitatif dipakai sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau pelaku yang dapat diamati. Pendekatan kualitatif ini diarahkan pada individu secara menyeluruh dalam keutuhan kelas. Relevansi pemilihan pendekatan ini adalah bahwa penelitian kualitatif pada prinsipnya adalah mengamati perilaku orang dalam lingkungan kehidupannya, berinteraksi dengan mereka, dan berusaha memahami aktivitas yang ada di sanggar Jepun juga dengan dunia sekitarnya.Hasil penelitian menunjukan gerakan yoga asanas Jepun Bali berjalan dengan baik meliputi : (1).Cara memilih gerakan sesuai dengan kebutuhan remaja, yaitu dengan gerakan yoga, ada lima gerakan fokok yang diterapkan yaitu : Surya Namaskar ( Penghormatan terhadap Matahari), Vrksana (Postur Pohon), Hanurasana (Postur Busur), Dhava Mukha Dhanursana (Postur Roda), dan Matsyasana (Postur Ikan). Manfaat dan fungsi Yoga Asana, menyatukan atau mengubungkan diri untuk Tuhan. Yoga juga sebagai pengendali gerak- gerak pikiran. Yoga asanas. Bagi remaja yoga asanas sangat penting di lakukan untuk meningakatkan srada, bhakti, konsentrasi, daya ingat belajar dan menjaga kematangan atau keseimbangan bagi jasmani rohani, dengan tujuaan membuka pikiriran dan spritual ke arah yang positif. Fungsi dan manfaat yoga asanas dapat menjaga tubuh menjadi lebih sehat lentur membuang racun dari dalam tubuh, serta meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan untuk berpikir positif.
Identification of Growth Hormone Gene of Bali Cattle with Qualitative Superior in Bali Province Ni Ketut Suwiti; I Wayan Suardana; Ni Luh Watiniasih; I Nengah Kerta Besung; Chandra Yowani
Journal of Veterinary and Animal Sciences Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Institute for Research and Community Service, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JVAS.2017.v01.i01.p09

Abstract

A research has conducted, in order to identify the genetic markers of Bali cattle that can be used as an indicator of their qualitative superior. The genetic marker identified was the growth hormone gen. As many as 50 whole blood samples which were collected from 50 individual cattle which were certificated as good breed or had qualitative superior, were used in this study. The DNA fragments were identified by using Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) method with primers, GH5 (5’-CCC ACG GGC AAG AAT GAG GC-3’ and GH6 (5’TGA GGA ACT GCA GGG GCC CA-3), respectively. Furthermore, the PCR products were restricted with MspI endonucleic restriction enzyme, before electrophoresis in 2% agarose The result showed that the growth hormone gene of bali cattle with qualitative superior has polymorphism which characterized by the formation of two fragments i.e. 230 and 329 bp that categorized as: allele +/+ and allele -/-.
STRUKTUR DAN MORFOMETRI LIMPA ITIK BALI (Anas sp.) PADA FASE PERTUMBUHAN Winda Ara Yulisa; Ni Luh Eka Setiasih; Luh Gde Sri Surya Heryani; Ni Ketut Suwiti; Ni Nyoman Werdi Susari; I Gede Soma
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.357

Abstract

Limpa merupakan organ yang dikelompokkan ke dalam sistem limfoid sekunder. Limpa memiliki fungsi imunitas terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh dan menghancurkan eritrosit yang rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan morfometri limpa itik bali (Anas sp.) pada fase pertumbuhan/grower. Penelitian ini menggunakan 20 ekor itik bali yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu jantan dan betina yang masing-masing terdiri atas 10 ekor (umur 2-3 bulan). Hasil data struktur anatomi dan histologi dianalisis secara deskriptif kualitatif, sedangkan data morfometri dan histomorfometri untuk menguji perbedaan antara jantan dan betina digunakan uji Independent sample T-test dengan prosedur analisis menggunakan program SPSS versi 26. Struktur anatomi limpa itik bali berbentuk segitiga piramid dan berwarna cokelat kemerahan, struktur histologi limpa itik bali terdiri atas kapsula, trabekula, pulpa merah dan pulpa putih. Hasil pengukuran morfometri berat limpa itik bali jantan diperoleh 0,68 ± 0,20 g dan berat limpa itik betina 0,66 ± 0,24 g. Volume limpa itik bali jantan dan betina berturut-turut 0,60 ± 0,19 mL dan 0,58 ± 0,23 mL. Hasil pengukuran histomorfometri ketebalan kapsula limpa itik jantan dengan betina adalah 17,97 ± 4,81 ?m; 31,75 ± 6,09 ?m; ketebalan trabekula jantan 17,20 ± 3,26?m ; dan betina 22,54 ± 6,29 ?m; serta diameter pulpa putih jantan adalah 214,69 ± 14,77 ?m; dan diameter pulpa putih betina adalah 199,56 ± 23,58 ?m. Simpulan penelitian ini adalah limpa itik bali jantan dan betina pada fase pertumbuhan/grower memiliki struktur anatomi dan histologi yang sama, morfometri yang tidak berbeda nyata, serta histomorfometri yang menunjukkan perbedaan pada ketebalan kapsula dan trabekula sedangkan diameter pulpa putih tidak jauh berbeda.
Struktur dan Morfometri Ginjal Itik Bali (Anas sp.) pada Fase Pertumbuhan Ni Putu Dewi Setia Sari; Ni Luh Eka Setiasih; Luh Gde Sri Surya Heryani; Ni Ketut Suwiti; Ni Nyoman Werdi Susari; I Ketut Suatha
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.374

Abstract

Ginjal merupakan organ ekskresi yang berperan dalam membuang zat sisa metabolisme yang tidak dibutuhkan lagi di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan morfometri ginjal itik bali (Anas sp.) dengan jenis kelamin berbeda pada fase pertumbuhan/ grower. Penelitian menggunakan 32 ekor itik bali yang dibagi menjadi dua kelompok jenis kelamin masing-masing 16 ekor (umur 2-3 bulan). Hasil data struktur dianalisis dengan deskriptif kualitatif,sedangkan data morfometri digunakan uji Independent sample T-test dengan program SPSS. Hasil pengukuran ginjal itik bali jantan diperoleh panjang ginjal kanan 7,256 + 0,388 cm, panjang ginjal kiri 7,175 + 0,437 cm, bobot ginjal kanan 3,50 + 0,61 g, bobot ginjal kiri 3,487 + 0,497 g, volume ginjal kanan 0,350 + 0,103 cm3, volume ginjal kiri 0,362 + 0,088 cm3, glomerulus tipe mamalia 34,025 + 2,931 ?m dengan lebar bowman 8,173 + 2,447 ?m, glomerulus tipe reptil 14,777 + 2,300 ?m dengan lebar ruang bowman 6,676 + 1,780 ?m. Hasil pengukuran ginjal itik bali betina diperoleh panjang ginjal kanan 6,812 + 0,263 cm, panjang ginjal kiri 6,781 + 0,299 cm, bobot ginjal kanan 4,012 + 0,464 g, bobot ginjal kiri 3,987 + 0,401 g, volume ginjal kanan 0,418 + 0,116 cm3, volume ginjal kiri 0,393 + 0,106 cm3, glomerulus tipe mamalia 43,443 + 4,686 ?m dengan lebar bowman 9,068 + 3,483 ?m, glomerulus tipe reptil 23,312 + 2,761 ?m dengan lebar ruang 6,390 + 1,995 ?m. Hasil pengujian terhadap panjang bobotginjal dan ginjal menunjukkan berbeda nyata P<0,05, sedangkan volume ginjal tidak berbeda nyata P>0,05. Hasil pengujian terhadap glomerulus tipe mamalia dan glomerulus tipe reptil menunjukkan berbeda nyata P<0,05. Struktur anatomi danhistologi antara ginjal itik bali jantan dan betina adalah sama, sedangkan morfometri anatomi dan histologi ginjal itik bali jantan dengan betina berbeda.
IDENTIFIKASI DAGING SAPI BALI DENGAN METODE HISTOLOGIS Suwiti, Ni Ketut
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 11 No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.601 KB)

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian identifikasi daging sapi bali dengan metode histologis yakni melakukan pengamatan terhadap struktur mikroskopis. Sampel daging sapi bali. berupa muskulus pectoralis profundus, diperoleh dari pasar swalayan di Denpasar. Sampel difiksasi, didehidrasi dan diembedding dalam parafin selanjutnya dilakukan pemotongan dengan mikrotom ketebalan 4 - 5 µ. Dibuat sediaan histologis dengan metode pewarnaan Harris-Haematoxilin-Eosin. Pengamatan terhadap struktur histologi dilakukan dengan mikroskop cahaya binokuler pembesaran 450x. Hasil penelitian menunjukkan struktur histologi daging sapi bali terdiri atas serabut otot skelet longitudinal dan tranversal dengan multinuklleus. Nukleus terletak dipinggir sel. Ditemukan jaringan ikat padat dan jaringan lemak dengan pembuluh darah. Diameter serabut otot berukuran 8,40 ± 1,41 µm. Pada pengamatan histologis juga ditemukan : endomisium, perimisium dan epimisium IDENTIFICATION OF BALI CATTLE MEAT WITH HISTOLOGICAL METHODS ABSTRACT A study to identification the microscopic structure of bali cattle meat by histological methods, has been carried out. The meat bali cattle samples were collected from musculus pectoralis profundus has been taken from Denpasar supermarket. The tissue samples were fixed, dehydrated and embedded in paraffin and 4 - 5 µ. sections. Harris-Haematoxilin-Eosin staining method, using to identified of histological structure. Microscopic analysis was performed using a binocular light microscope (450X). The study showed that, histological structure of bali cattle beef was composed by longitudinally and transverselly skeletal muscle with a multinucleated. The nuclei in the periphery of the cell, there are dense connective tissue, fat, with small blood vessels. The skeletal myofibers diameter of muscle is 8.40 ± 1,41 µm. We observed for the presence of : endomysium , perimysium and epimysium.
Case Report: Ehrlichiosis and Anaplasmosis in Timber Wolf Crossbreed (Canis lupus) in Bali, Indonesia Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Putra, I Putu Cahyadi; Suwiti, Ni Ketut
Media Kedokteran Hewan Vol. 36 No. 1 (2025): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v36i1.2025.88-99

Abstract

Pathogenic bacteria from the Anaplasmataceae family cause ehrlichiosis and anaplasmosis in animals, including dogs and wild carnivores (wolves, foxes, raccoons, and others). These diseases are emerging vector-borne diseases transmitted through ticks. A six-month-old timber wolf crossbreed (Canis lupus) came to the Veterinary Teaching Hospital, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University, Bali, Indonesia, with a history of weakness, decreased appetite, and excessive salivation. Examination revealed that the timber wolf crossbreed had pale mucosa, lethargy, hypersalivation, normochromic microcytic anemia, thrombocytopenia, gas accumulation in the stomach and intestine, and no foreign bodies in the digestive tract. Rapid test results with the SNAP® 4Dx® Plus Test IDEXX® were positive for Ehrlichia sp. and Anaplasma sp.; however, the blood smear examination was negative. The therapy for this case included sodium chloride 0,9% infusion as fluid therapy, atropine sulfate as symptomatic therapy, hematopoietic, multivitamin, iron supplementation as supportive therapy, and doxycycline antibiotic as causative therapy. The wolf showed decreased salivary excretion and ate 4 h after fluid therapy, atropine sulfate, and hematopoietic administration. The wolf improved their condition through increased appetite and became agile after seven days of treatment. The wolf was declared clinically cured after two weeks of doxycycline treatment.
Pyometra servik terbuka pada anjing domestik dengan riwayat terapi progestin secara rutin Putra, I Putu Cahyadi; Widyasanti, Ni Wayan Helpina; Antaprapta, I Gusti Ngurah Agung; Sibang, I Nengah Anom Adi Nugraha; Suwiti, Ni Ketut
ARSHI Veterinary Letters Vol. 6 No. 1 (2022): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2022
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.6.1.1-2

Abstract

Pyometra servik terbuka merupakan akumulasi nanah pada lumen uterus yang ditandai dengan keluarnya leleran melalui vagina. Penggunaan progestin yang kurang tepat untuk tujuan kontrasepsi telah diketahui dapat menimbulkan terjadinya pyometra. Seekor anjing domestik berjenis kelamin betina, berumur 3 tahun dan memiliki bobot badan 8,64 kg datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana (RSHP FKH UNUD) dengan keluhan anjing tidak mau makan, perut membesar dan keluar cairan putih bercampur darah dari vulva sejak sepuluh hari. Berdasarkan hasil anamnesis, anjing tidak pernah kawin dan rutin diberikan kontrasepsi berupa injeksi progestin saat kondisi loop (estrus). Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan anjing mengalami distensi abdomen dan keluar nanah bercampur darah melalui vagina. Hasil pemeriksaan ultrasonografi teramati uterus bersekat – sekat, lumen uterus anekhoik (berisi cairan) dan dinding uterus hiperekhoik. Terapi yang dilakukan adalah ovariohysterectomy, terapi cairan, antibiotik, hemostatik serta antiradang. Anjing sudah mau makan sehari pascaoperasi dan diizinkan untuk rawat jalan. Anjing melakukan kontrol ke RSHP FKH UNUD setelah 7 hari operasi dan diketahui bahwa luka sudah tertutup dan kering sehingga dilakukan pelepasan jahitan.
Co-Authors Anak Agung Ananda Septiarini Anak Agung Gde Arjana Anak Agung Sagung Indraswari Anak Agung Sagung Kendran Anjelia Martina Dewi Antaprapta, I Gusti Ngurah Agung Bianca Violanda Junus Brahma Tusta Bhirawa Chandra Yowani chyntia nirmalasari mantrawan Fedik Abdul Rantam Franki Remi Andung I Gede Agus Eva Prawira Adinata I Gede Erik Juliarta I Gede Oka Budiawan I Gede Semarabawa I Gede Soma I Gusti Agung Ayu Suartini I Gusti Ketut Suarjana I K. Berata I Ketut Suatha I Komang Gde Bendesa I Made Kardena I Made Wima Cahyadi I Md Chandra Arya PW I Nengah Kerta Besung I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I P. Suastika I Putu Cahyadi Putra, I Putu Cahyadi I Putu Indra Parmayoga I Putu Juli Sukariada I Putu Sampurna I Putu Suastika I W BUDIARSA SUYASA I Wayan Gunawan I Wayan Masa Tenaya I Wayan Piraksa I Wayan Suardana I Wayan Sudira Ida Ayu Pasti Apsari Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Ngurah Swacita IK Sudibia IM Suyana Utama IW. Piraksa K.K Agustina Ketut Tono Pasek Gelgel Komang Ariya Hendrayana Komang Yogie Suryana Putra Luh Gde Sri Surya Heryani Luh Kadek Nanda Laksmi M Windhu M. Oenas Adinugroho Mergayanti Yudanta Eka Putri Muh Amiruddin N. Suparta N.N. Suryani Ni Kadek Rahayu Swari Ni Komang Dian Sri Sujani Ni Luh Eka Setiasih Ni Luh Putu Sriyani Ni Luh Putu Wiardani Astuti Ni Luh Sri Sundari Rahayu Ni Luh Watiniasih Ni Made Riska Adnyani Ni Made Riska Adnyani Ni Nyoman Citra Susilawati Ni Nyoman Tri Pujiastari Ni Nyoman Werdi Susari Ni Putu Dewi Setia Sari Ni Wayan Ayu Rukmini Ni Wayan Ayu Rukmini Ni Wayan Suryanadi Ni Wayan Tatik Inggriati Nyoman Sadra Dharmawan Oktavyan Loys Mami P Sampurna P. Suastika Putu Agus Trisna Kusuma Antara Putu Ayu Santika Putu Dian Purnama Putra Putu Henrywaesa Sudipa Putu Satya Dwipartha Putu Suastika Rasdianah Rasdianah Reny Navtalia Sinlae Sibang, I Nengah Anom Adi Nugraha Sri Milfa Tri Ulfah Arema Yanti Widodo Cipto Subagyo Widyasanti, Ni Wayan Helpina Winda Ara Yulisa