Claim Missing Document
Check
Articles

Rancangan Desain Pesan Peringatan Dini Bencana Banjir (Studi Komunikasi bencana Pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bandar Lampung) Ryu Al-Ikhsan Nur Assyfa; M. Denu Poyo; Noning Verawati
Interaction Communication Studies Journal Vol. 3 No. 2 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/interaction.v3i2.6301

Abstract

Flood incidents in Bandar Lampung City have increased significantly, from 11 incidents in 2023 to 242 incidents during January–August 2025, indicating the need for flood early warning communication. This study aims to identify the forms and processes of flood early warning implemented by the Bandar Lampung City Regional Disaster Management Agency (BPBD) and to formulate a warning message design. A qualitative descriptive case study approach was employed. Data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation involving BPBD officials and residents in flood-prone areas. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, with source and technique triangulation used to strengthen data validity. The findings show that BPBD combines conventional and digital forms of flood early warning. Conventional communication, including evacuation signs, socialization, and disaster simulations, supports long-term preparedness, while digital channels such as the Warning Receiver System (WRS), Handy Talky (HT), WhatsApp, and social media support short-term warning dissemination. However, manual field verification and hierarchical communication channels delay information delivery and reduce the time available for community response. Based on these findings, this study proposes an adaptive warning message design integrating the AIDA model and emphasizing simple, timely, accurate, relevant, location-specific, and action-oriented information through Instagram and WhatsApp. The study concludes that effective flood early warning depends not only on communication technology and channels, but also on message design that enables communities to understand risks quickly and take appropriate action.
Perubahan Perilaku Pelaku UMKM dalam Komunikasi Pemberdayaan di Pasar Yosomulyo Pelangi Kota Metro Gencia Agna Setra; Noning Verawati; M. Denu Poyo
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 4 (2026): EduTIK : Agustus 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i4.546

Abstract

ABSTRAK              Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi) di Kota Metro Lampung merupakan ruang ekonomi kreatif berbasis komunitas yang menaungi 78 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sejak berdiri pada tahun 2018, pengelola Payungi menerapkan strategi komunikasi pemberdayaan melalui pertemuan rutin mingguan, budaya belajar, dan kegiatan gotong royong. Namun demikian, sejauh mana strategi tersebut mengubah perilaku pelaku UMKM belum banyak dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan perilaku pada komunikasi pemberdayaan UMKM di Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi) Kota Metro. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam terhadap informan kunci, utama, dan pendukung, serta dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dan diuji keabsahannya melalui triangulasi, member check, dan audit trail. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pemberdayaan yang berlangsung di Payungi mendorong perubahan perilaku pelaku UMKM pada tiga aspek. Perubahan kognitif terlihat dari meningkatnya pengetahuan mengenai pemasaran digital, penggunaan media sosial dan aplikasi Canva, serta pelayanan pelanggan. Perubahan afektif ditunjukkan melalui meningkatnya rasa percaya diri, motivasi, keterbukaan terhadap kritik, dan rasa memiliki terhadap komunitas. Perubahan behavioral tampak dari pemanfaatan media sosial untuk promosi, peningkatan kualitas pelayanan, kepedulian terhadap kebersihan lingkungan pasar, serta partisipasi aktif dalam kegiatan komunitas. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan berkembang secara bertahap menjadi kebiasaan, bahkan budaya kolektif komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi pemberdayaan yang dilakukan secara konsisten dan partisipatif mampu menghasilkan perubahan perilaku yang berkelanjutan pada pelaku UMKM. ABSTRACT              Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi) in Metro City, Lampung, is a community-based creative economic space that houses 78 Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs). Since its establishment in 2018, the Payungi management has implemented an empowerment communication strategy through weekly routine meetings, a learning culture, and mutual cooperation (gotong royong) activities. However, the extent to which this strategy changes the behavior of MSME actors has not been widely examined. This study aims to identify behavior change in empowerment communication among MSMEs at Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi), Metro City. The research employs a descriptive qualitative approach with a case study method. Data were obtained through observation, in-depth interviews with key, main, and supporting informants, and documentation, then analyzed using the Miles and Huberman interactive model, with validity tested through triangulation, member checking, and audit trail. The results show that empowerment communication at Payungi encourages behavior change among MSME actors in three aspects. Cognitive change is seen in increased knowledge of digital marketing, the use of social media and the Canva application, and customer service. Affective change is shown through increased self-confidence, motivation, openness to criticism, and a sense of belonging to the community. Behavioral change is reflected in the use of social media for promotion, improved service quality, concern for market cleanliness, and active participation in community activities. These three aspects are interrelated and gradually develop into habits, and even into the community's collective culture. The study concludes that consistent and participatory empowerment communication is able to produce sustainable behavior change among MSME actors.
Komunikasi Persuasif Pembina Rohani melalui Strategi Psikodinamik, Sosiokultural, dan Konstruksi Makna Jesinta Febriana Zahara; M. Denu Poyo; Noning Verawati
Interaction Communication Studies Journal Vol. 3 No. 2 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/interaction.v3i2.6300

Abstract

Partisipasi anak dalam kegiatan Bina Iman Anak Katolik (BIA) Stasi Pringsewu menunjukkan fluktuasi, dengan jumlah kehadiran yang menurun dari sekitar 80 anak pada periode sebelumnya menjadi berkisar 35 sampai 65 anak per pertemuan pada Januari hingga Mei 2026. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi persuasif pembina rohani dalam meningkatkan partisipasi anak strategi psikodinamik, sosiokultural, dan konstruksi makna yang dikemukakan DeFleur dan Ball-Rokeach. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Data diperoleh  melalui observasi nonpartisipan, wawancara semiterstruktur, dan studi dokumentasi terhadap empat informan kunci, lima informan utama, dan enam informan pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa storytelling menjadi medium utama pembina dalam mengoperasionalkan ketiga strategi komunikasi persuasif. Strategi psikodinamik diwujudkan melalui sapaan, tanya jawab, gerak lagu, permainan, serta pemberian kupon atau hadiah untuk membangun perhatian, emosi positif, motivasi, dan keberanian anak. Strategi sosiokultural dilakukan melalui dukungan orang tua, interaksi teman sebaya, pengelompokan berdasarkan usia, kerja sama antar-pembina, dan keterkaitan kegiatan dengan komunitas gereja. Sementara itu, strategi konstruksi makna dilakukan melalui penyederhanaan bahasa, pengaitan cerita Kitab Suci dengan pengalaman sehari-hari, pemberian contoh konkret, dan penggunaan visualisasi. Ketiga strategi tersebut tidak bekerja secara terpisah, melainkan membentuk proses persuasif yang bertahap, mulai dari kesiapan psikologis, dukungan sosial, hingga pemaknaan pesan iman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi persuasif yang adaptif dan kontekstual dapat mendukung peningkatan partisipasi anak secara berkelanjutan dalam kegiatan Bina Iman Anak.
Komunikasi Pelatih dan Atlet dalam Membangun Hubungan Harmonis pada Pembinaan Prestasi Olahraga : Studi Kasus di Taekwondo Heliandri Club Lampung Ahmad Aditya Ardiansyah; M. Denu Poyo; Wawan Hernawan
Interaction Communication Studies Journal Vol. 3 No. 2 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/interaction.v3i2.6317

Abstract

Komunikasi antara pelatih dan atlet merupakan unsur fundamental dalam pembinaan prestasi olahraga karena tidak hanya berfungsi menyampaikan instruksi teknis, tetapi juga membentuk hubungan interpersonal yang memengaruhi kepercayaan, motivasi, dan keharmonisan relasi kerja dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana komunikasi pelatih dan atlet membangun hubungan harmonis pada pembinaan prestasi di Taekwondo Heliandri Club (THC) Lampung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tujuh informan ayang dipilih secara purposive, terdiri atas dua pelatih, dua atlet, dua orang tua atlet, dan satu alumni klub, kemudian dianalisis secara tematik melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan harmonis pelatih-atlet dibangun melalui lima dimensi komunikasi yang saling berkaitan, yaitu proses komunikasi, bentuk komunikasi (interpersonal dan kelompok), fungsi komunikasi, umpan balik komunikasi, dan pola adaptasi komunikasi, yang beroperasi pada level individual, relasional, dan kolektif, serta diperkuat oleh keterlibatan orang tua dan alumni sebagai sistem pendukung eksternal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hubungan harmonis antara pelatih dan atlet tidak terbentuk dari satu bentuk komunikasi tunggal, melainkan dari proses komunikasi yang adaptif, terbuka, suportif, evaluatif, dan berkelanjutan, sejalan dengan Teori Tindakan Sosial dan Teori Interaksi Simbolik.