Articles
Respon Pertumbuhan Bibit Cabutan Tanaman Penghasil Gaharu (Aquilaria sp) Akibat Pemberian Vitamin B1 pada Media yang Berbeda
Lukman, Lukman;
Fridayanti, Nelly;
Budi, Setia;
Junaidi, Junaidi;
Dahlan, Dahlan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi Vol. 2 No. 2 (2023): Vol 2, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroekoteknologi (JIMATEK) Juni 202
Publisher : Department of Agroecotechnology Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/jimatek.v2i2.12556
Gaharu merupakan substansi aromatik berupa gumpalan berwarna coklat muda dan kehitaman sampai hitam, terbentuk pada lapisan kayu dari jenis Aquilaria spp. Terbatasnya mendapatkan bahan tanam dalam jumlah yang banyak dan unggul merupakan kendala utama dalam budidaya tanaman penghasil gaharu. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pemberian vitamin B1 pada media yang berbeda terhadap pertumbuhan bibit gaharu cabutan. Metode penelitian disusun menggunakan RAK Faktorial terdiri atas media tanam (M) sebanyak 2 taraf : M1 = tanah biasa, M2 = topsoil dan konsentrasi vitamin B1 LiquinoxStart@ terdiri atas B0 = 0, B1 = 2 ml/l, B2 = 4 ml/l, dan B3 = 6 ml/l. Terdapat 8 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan, sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Parameter yang diukur terdiri atas : 1) persentase bibit yang hidup; 2) waktu muncul daun baru; 3) pertambahan jumlah daun; 4) pertambahan jumlah tunas; 5) pertambahan tinggi bibit; dan 6) pertambahan diameter pangkal batang. Data pengamatan dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji F dan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media tanam yang berbeda (tanah biasa dan topsoil) tidak memberikan pengaruh terhadap semua peubah yang diamati. Pemberian vitamin B1 terhadap pertumbuhan bibit tanaman penghasil gaharu cabutan menghasilkan persentase hidup ysng tinggi (93,33 persen) hingga 60 hari setelah tanam, tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan diameter pangkal batang, kecepatan munculnya tunas baru, dan jumlah tunas, serta memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan jumlah daun dan pertambahan tinggi bibit gaharu cabutan alam.
Pelaksanaan SL-PTT Dan Peran Penyuluh Terhadap Petani Kakao Di Kecamatan Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya
Wardah, Eva;
Budi, Setia
Agrifo : Jurnal Agribisnis Universitas Malikussaleh Vol. 3 No. 2 (2018): November 2018
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh - Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/ag.v3i2.1107
This study aims to determine the application of SL-PTT to smallholder cocoa farmers and the role of agricultural extension agents in cocoa cultivation activities in Banda Baru Sub District, Pidie Jaya District. This research uses survey method. Primary data was obtained from structured interviews (quisioner) while secondary data were obtained from various agencies that were related to this research. Data were analyzed quantitatively and qualitatively and described in the results of the study. The results showed that the majority of members of the Cocoa farmer group were productive working age for farming, the majority only had formal junior high school education level (SLTP). More than half of Cocoa farmers have a family burden of 3-5 people. The land area of kakao farmers is in the medium category (1-3 Ha). The application of SL-PTT in the People's Cocoa Farming is in the role category. Furthermore, the role of instructors as initiators, mediators, facilitators is in the very instrumental category, while the role of instructors as dynamicators and organizers is in the role category. Strengthening is needed for extension agents, especially in terms of strengthening farmer group institutions and the ability and skills to motivate farmer group members to implement innovations offered by extension workers in cocoa farming activities
Menakar Kendala Penerapan Sistem PsPSP Terhadap Peningkatan Produksi Pada Usaha Tani Kakao Aceh
Wardah, Eva;
Budi, Setia
Agrifo : Jurnal Agribisnis Universitas Malikussaleh Vol. 5 No. 2 (2020): November 2020
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh - Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/ag.v5i2.5277
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak dari penerapan sistem PsPSP pada usaha tani kakao yang ada di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kendala-kendala dalam penerapan sistem PsPSP (Panen sering, Pemangkasan, Sanitasi dan Pemupukan) pada usaha tani kakao untuk peningkatan produksi kakao. Penelitian ini mengunakan metode survei di mana penentuan lokasi ditentukan secara purposive (sengaja) di Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen. Data primer didapatkan dari responden melalui observasi dan wawancara terstruktur (kuesioner), sedangkan data skunder diperoleh dari berbagai instansi yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif dengan beberapa alat analisis sesuai dengan kebutuhan penelitian ini yang kemudian dideskripsikan dalam hasil penelitian sehingga menghasilkan gambaran kendala dari penerapan sistem PsPSP usaha tani kakao di Aceh. Hasil penelitian menunjukkan secara penerapan seluruh pelaksanaan sistem PsPSP dalam meningkatkan produksi kakao belum optimal. Secara berurutan kegiatan pemangkasan dan sanitasi masih dirasakan kendalanya, sedangkan kegiatan panen sering dan pemupukan tidak dirasakan kendala yang berarti oleh petani. Perlu ditingkatkan kemampuan petani khususnya keterampilan dalam penerapan sistem PsPSP untuk meningkatkan produksi kakao.
Pemberdayaan Petani Melalui Berbagai Pola Pembibitan Gaharu Sebagai Komoditi Unggulan Hutan Non-Kayu di Gampong Teupin Rusep Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara
Budi, Setia;
Wardah, Eva;
Lukman, L
Jurnal Solusi Masyarakat Dikara Vol 2, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Yayasan Lembaga Riset dan Inovasi Dikara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Gaharu adalah substansi aromatik berupa gumpalan berwarna coklat muda, coklat kehitaman sampai hitam yang terbentuk pada lapisan kayu gaharu. Gaharu dapat terbentuk akibat adanya interaksi antara mikroba (inokulum tertentu) dengan tanaman inang dan adanya mekanisme kimia yang akhirnya membentuk suatu produk yaitu gubal. Inokulum lokal efektif dalam menghasilkan gaharu, karena endemiknya didaerah tertentu. Beberapa kendala mitra yang sangat dirasakan anatara lain (1) rendahnya kemampuan anggota kelompok tani dalam hal pembibitan tanaman gaharu baik secara alami (generatif) meliputi perlakuan perbanyakan dengan pengunaan benih yang sudah masak dan anakan (cabutan) serta pola stek tanaman. (2) Belum adanya pengetahuan dan ketrampilan anggota kelompok kedua mitra dalam melakukan pembibitan dan pemeliharaan bibit gaharu. Pengabdian ini mengunakan metode Pelatihan dan pembibitan pola biji dan anakan (cabutan) dan stek tanaman. Pendekatan ini tepat untuk dilakukan dimana partisipasi petani mitra dalam peningkatan ketrampilan dan proses pendampingan dilakukan dengan langsung mempraktekkan. Pola pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada petani mitra menerapkan prinsip” learning by doing” belajar sambil bekerja. Pemberdayaan Petani pada kegiatan Pembibitan Komoditi Unggulan Hutan Non-Kayu (Gaharu Aceh) di Gampong Teupin Rusep telah mampu meningkatkan pengetahuan, ketrampilan serta perubahan sikap dalam pembibitan tanaman gaharu. Dampak yang dirasakan dengan adanya kegiatan pembibtan tanaman gaharu melputi; peningkatan pendapatan ekonomi petani mitra yang sangat potensial serta peningkatan keharmonisan sosial diantara anggota kelompok dan masyarakat dilokasi kegiatan pengabdian.
Pengenalan Inovasi Benih Unggul Dan Pupuk Bokashi Pada Kelompok Tani Budidaya Padi Sawah Desa Binaan Pulo Iboh Kabupaten Aceh Utara
Wardah, Eva;
Budi, Setia;
Lukman, L
Jurnal Solusi Masyarakat Dikara Vol 2, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Yayasan Lembaga Riset dan Inovasi Dikara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Ketersediaan benih padi sawah unggul secara lokal merupakan solusi yang tepat ini dengan mendorong sebagian petani menjadi penangkar. Upaya ini lebih berorientasi pemberdayaan petani dan mengedepankan aspek kemandirian. pola ini lebih menjamin ketersediaan benih unggul secara lokal, sehingga murah dan mudah didapat oleh petani. Selanjutnya kegiatan pelatihan untuk pembuatan pupuk bokashi diharapkan mampu meningkatkan ketrampilan petani untuk dapat menjawab permasalahan kelangkaan dan ketidakmampuan petani untuk mengakses pupuk anorganik karena membutuhkan biaya yang besar. Ketrampilan budidaya untuk petani yang dipersiapkan untuk penangkar juga diberikan pelatihan dan pedampingan untuk memastikan penerapan paket tehnologi untuk menghasilkan benih padi unggul. Pengabdian ini mengunakan metode Pelatihan dan Demontrasi Plot (DemPlot) kedua metode ini menjadi pendekatan yang tepat dimana partisipasi Mitra dalam peningkatan ketrampilan dan proses pedampingan dilakukan dengan langsung mempraktekkan dan secara tidak langsung proses ini menerapkan prinsip” learning by doing” belajar sambil bekerja. Hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian berupa pengenalan inovasi berupa benih unggul varietas IPB (IPB 3S, IPB 8G dan IPB 9G serta IPB 7R) dan pembuatan pupuk jenis Bokhasi mendapatkan sambutan dari petani mitra. Pengunaan varietas unggul yang diperkenalkan oleh tim pengabdian telah mampu meningkatkan hasil produksi padi sawah petani mitra. kegiatan peuatan pupuk bokhasi dengan bahan baku yang mudah didapatkan oleh petani mitra, proses pembuatannya yang tidak rumit menjadi daya tarik bagi petani mitra untuk memproduksi pupuk bokashi serta menerapkan dalam kegiatan usaha pertanian khususnya pada lahan padi sawah petani mitra. Setelah mengikuti kegiatan pengenalan inovasi keberdayaan mitra terwujud dengan terjadinya peningkatan produksi serta solusi terhadap ketersediaan pupuk pada uasahatani petani mitra pengabdian.
Identifikasi karakteristik nelayan perikanan tangkap dan persepsinya terhadap peran Lembaga Hukom Adat Laot di Kota Lhokseumawe (studi kasus: nelayan perikanan tangkap Gampong Pusong)
Budi, Setia
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 2: No. 2 (October, 2015)
Publisher : Universitas Malikussaleh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29103/aa.v2i2.338
Penelitian ini merupakan penelitian dasar yang bertujuan untuk (1) mengidentifikasi karakteristik nelayan perikanan tangkap yang ada di Kota Lhokseumawe (Studi Kasus di Perkampungan Nelayan Pusong), serta (2) menganalisis persepsi nelayan perikanan tangkap terhadap peranan Lembaga Hukum Adat Laot (LHAL) yang merupakan kearifan lokal yang ada di lingkungan domisili mareka. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode survey dan analisis datanya dengan pendekatan kualitatif dengan mengunakan data tabulasi quisioner hasil wawancara dengan rensponden. Hasil penelitian menunjukan karakteristik umur nelayan berada pada umur produktif dengan tingkat pendidikan formal dan nonformal yang masih rendah, pengalaman sebagai nelayan perikanan tangkap yang lama namun mayoritas tidak memiliki sarana kapal dan alat tangkap sendiri. Persepsi nelayan perikanan tangkap tentang peranan Lembaga Hukum Adat Laot (LHAL) secara berjenjang adalah (1) peran LHAL dalam menyelesaikan peselisihan dan persengketaan antar nelayan, (2) peranan LHAL dalam mengawasi ketentuan hukum adat laot, (3) Peranan LHAL sebagai penghubung antara pemerintah dengan nelayan dan (4) peranan LHAL sebagai pelaksana upacara adat laot.This study was basic study that aimed to (1) identify the characteristics of fishermen existing at Lhokseumawe City (Case Study at Pusong Village), and (2) analyze the perception of fishermen onto the role of Laot Customary Law Institution which was a local wisdom in their domicily environment. The research method used was survey method while the data analysis by using qualitative approach with tabulated quitionary data of renspondents. The results showed that the characteristics of fishermen age was in the productive age with the levels of formal and non-formal education were still low. The experience as a fisherman was already long experience, but the majority of them did not have their own boat and fishing equipments. Perception of fishermen onto the role of Laot Customary Law Institution were (1) the role of Laot Customary Law Institution in solving disputes and unpleasantness among fishermen, (2) the role of Laot Customary Law Institution in supervising the provision of laot customary law, (3) The role of Laot Customary Law Institution as a connector for both the government and fishermen (4) the role of Laot Customary Law Institution as executive agent of laot ceremonies.
CONSTRAINTS AND ROLE OF AGRICULTURAL EXTENSION PARTNERSHIPS IN APPLICATION RICE FIELD RICE CULTIVATION INNOVATIONS TO REALIZE FOOD SECURITY
Setia Budi;
Eva Wardah
International Journal of Economic, Business, Accounting, Agriculture Management and Sharia Administration (IJEBAS) Vol. 2 No. 6 (2022): December
Publisher : CV. Radja Publika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54443/ijebas.v2i6.587
Research in the long term aims to produce a partnership model in the application of lowland rice cultivation innovations to increase rice production to realize food security in the region in Aceh Province. In particular, this study aims to (1) identify and analyze the constraints in increasing rice production in Pidie Jaya Regency, (2) identify and analyze the role of agricultural extension partners in implementing innovations in lowland rice cultivation in Pidie Jaya Regency. This research is an action research on the application of innovation combined with a survey method which was carried out to see the pattern of partnerships in the application of innovation in lowland rice cultivation to realize food security in Pidie Jaya Regency. The location of this research was conducted intentionally in Pidie Jaya Regency. Focus Group Discussion) with stakeholders aboutthe potential role of each party in the partnership pattern. The results of the study showinnovations applied to lowland rice cultivation for food security include; superior seed innovation, land management, cropping system with agricultural mechanization, jajar legowo planting pattern, biological pest control (Rubuha), balanced fertilization and harvest implementation using agricultural mechanization. (1) constraint indicatorsthe availability of fertilizers (very constrained), pest and disease attacks, and the availability of extension workers, and the availability of agricultural tools and machinery (constrained) as well as garden patterns that are not simultaneously, the availability of irrigation water, and the low use of superior seeds are in the less constrained category. (2) farmers perceive the role of partners in implementing innovations in rice field cultivationlocal governments and farmers' institutions have played a role, while universities and the private sector/entrepreneurs are in the category of having quite a role.
HOW RICE SEED FARMERS PARTICIPATE IN ADDITIONAL PARTNERSHIP PROGRAM: EXPERIENCE FROM ACEH-INDONESIA
Setia Budi;
Jamilah;
Eva Wardah
International Journal of Educational Review, Law And Social Sciences (IJERLAS) Vol. 3 No. 2 (2023): March
Publisher : RADJA PUBLIKA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54443/ijerlas.v3i2.730
This study aims to determine the level of farmer participation in the agricultural extension partnership program in North Aceh and Pidie Jaya districts, Aceh-Indonesia. This is a case study involving 187 rice seed farmers as research samples. Data was measured and analyzed using a Likert Scale. The results showed that the level of farmer participation in the agricultural extension partnership program was good with an index value of 79.16%. Sequentially the response of farmers' involvement in agricultural activities (87.37%), provision of production facilities (84.24%) and program planning (80.14) were in very good category. The involvement of farmers in product processing (76.26%), program evaluation (74.69%) and product marketing (72.24%) is included in the good category.
TRAINING IN BREEDING FOR USED AGARWOOD COMMODITY NORTH ACEH DISTRICT CONFLICT AREA
Wardah, Eva;
Setia Budi;
Lukman
International Review of Practical Innovation, Technology and Green Energy (IRPITAGE) Vol. 3 No. 3 (2023): November 2023 - February 2024
Publisher : RADJA PUBLIKA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54443/irpitage.v3i3.1285
Agarwood is a type of wood produced by several species of trees from the Aquilaria genus, especially Aquilaria malaccensis. Agarwood has high value in the perfume and traditional medicine industries because of its unique aromatic compounds. Agarwood can be formed due to interactions between microbes (certain inoculum) and host plants and chemical mechanisms that ultimately form a product, namely sapwood. Local inoculum is effective in producing gaharu, because it is endemic to certain areas. Some of the partners' obstacles that are strongly felt include (1) the low ability of farmer group members in terms of breeding agarwood plants both naturally (generatively) including propagation treatments using mature seeds and saplings (plucks) as well as plant cutting patterns. (2) There is no knowledge and skills of members of the two partner groups in carrying out the breeding and maintenance of gaharu seedlings. This service uses training and seeding methods for seed patterns and saplings (plucks) and plant cuttings. This method is appropriate to use where the participation of partner farmers in improving skills and the mentoring process is carried out directly by practicing. The pattern of implementing community service activities for partner farmers applies the principle of "learning by doing" learning while working. Agarwood Nursery Training in the Former Conflict Area in North Aceh has been able to increase knowledge, skills and change attitudes in the cultivation of agarwood plants. The impacts felt by the existence of agarwood plant breeding activities include; increasing the economic income of partner farmers, increasing social harmony among group members and the community at the location of service activities.
Kajian Sosial Ekonomi Perikanan Tangkap Kawasan Pesisir Kabupaten Aceh Timur
jamilah, jamilah;
Wardah, Eva;
Isnanda Nasution, Wahyu;
Budi, Setia;
Zuriani, Zuriani;
Riani
Agrifo : Jurnal Agribisnis Universitas Malikussaleh Vol. 10 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh - Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The study aims to examine the socio-economics of capture fisheries in the coastal areas of East Aceh Regency. The socio-economic conditions of capture fisheries are studied using qualitative and quantitative descriptive approaches, including fishermen's activities in fishing, capture fisheries resources, and the economic potential of capture fisheries. Analysis of fishermen's income is carried out to calculate the amount of income and the amount of income distribution among capture fisheries business actors. The results of the study indicate that the potential of fisheries has not been optimally utilized, indicated by the socio-demographic conditions of fishermen who are full of limitations in fishing, difficult access to credit, limited fishing facilities, suboptimal performance of fisheries institutions, no access to capital for fishermen, minimal investment in fish processing, resulting in fish being widely marketed in fresh form. Fishermen's income is still low due to fluctuations in fish catches, limited fishing facilities, and the undeveloped fish processing business. The development of an environmentally conscious aquaculture creative economy, increasing supervision and quality control of fisheries businesses, developing minapolitan fisheries industrialization and marine resources can increase fishermen's income and the welfare of coastal communities in the utilization of marine and fisheries resources.