Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Kajian Pustaka: Hipertensi Renovaskuler Sumarpo, Anton; Fenny, Fenny; Suraya, Nida
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2025): Volume 12 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i1.17867

Abstract

Hipertensi renovaskuler adalah salah penyebab paling sering timbulnya hipertensi sekunder dengan proses perkembangan penyakit yang gradual dan berhubungan erat dengan sistem renin-angiotensin-aldosteron. Hipertensi renovaskuler yang telat terdeteksi dan tertangani dengan tepat berpotensi menyebabkan hipoksia dan hilangnya fungsi ginjal. Oleh karena itu, identifikasi individu dengan penurunan perfusi ginjal adalah langkah awal yang penting. Tinjauan pustaka ini akan membahas secara menyeluruh mengenai epidemiologi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, hingga pemeriksaan penunjang dan manajemen terapi untuk hipertensi renovaskuler.
KAJIAN PUSTAKA: METODE IDENTIFIKASI PENANDA BIOLOGIS FESES PADA KANKER KOLOREKTAL Sumarpo, Anton; Martioso, Penny Setyawati; Fenny, Fenny
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2024): Volume 11 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i1.13265

Abstract

Abstrak: Metode Identifikasi Penanda Biologis Feses Pada Kanker Kolorektal. Kanker kolorektal adalah salah satu penyebab kematian utama akibat kanker di seluruh dunia. Kanker kolorektal adalah jenis keganasan dengan tingkat kelangsungan hidup yang berkaitan erat dengan momentum penegakan diagnosis. Temuan klinis yang ditunjang dengan hasil pemeriksaan laboratorium dapat mengawali dugaan akan kanker kolorektal dan mencetus saran untuk pemeriksaan lanjutan, sehingga identifikasi penanda biologis untuk deteksi awal yang tepat menjadi penting. Tinjauan pustaka ini akan membahas mengenai berbagai metode dan tahapan penelitian untuk mengindentifikasi kandidat penanda biologis feses untuk kanker kolorektal. 
The Assessment of Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio in Obesity: A Descriptive Study on University Students in Surabaya, Indonesia Damayanti, Inggit; Raharjo, Budiono; Setiawan, Heru; Herawaty, Wike; Linggawan, Stephani; Sumarpo, Anton; Bintoro, Siprianus Ugroseno Yudho
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i5.17939

Abstract

ABSTRACT The incidence of obesity worldwide is rapidly increasing, both in developed and developing countries. Obesity, particularly central obesity, is an inflammatory condition occurring within the body. The neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) is a simple biomarker used to indicate the inflammatory response. This study aims to determine the profile of the neutrophil-to-lymphocyte ratio in students with obesity at the Faculty of Medicine, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.  This study employs a descriptive-analytic method with a cross-sectional approach. The study population comprises students from the Faculty of Medicine, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya; 47 individuals, with 30 obese individuals and 17 individuals with a normal BMI. The results showed that the average neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) for individuals with a normal BMI is 1,95. In contrast, the average NLR for obese individuals is 2,09. There is an increase in the average neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) among obese students at the Faculty of Medicine, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Keywords: Obesity, Neutrophil, Lymphocyte, Neutrophil-To-Lymphocyte Ratio
Keterkaitan ASI eksklusif dan vaksinasi terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada balita usia 12-48 bulan Dewi, Ni Luh Arisda Satya Cahya; Rahmawati, Febtarini; Linggawan, Stephani; Raharjo, Budiono; Anggono, Susan Jocelyn; Tjokro, Vanessa Susanto; Gunawan, Catherine Keiko; Sumarpo, Anton
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1624

Abstract

Background: Breast milk contains compounds that strengthen and stimulate the immune system. Previous research has shown a correlation between exclusive breastfeeding, complete immunization, and the incidence of acute respiratory infections in children. Purpose: To analyze the relationship between exclusive breastfeeding and immunization on the incidence of acute respiratory infections in toddlers aged 12-48 months. Method: This quantitative study used a cross-sectional approach with a sample of 40 infants who met the inclusion criteria. Univariate and bivariate data were analyzed using the chi-square test. Results: The analysis showed a p-value of 0.540 (α<0.05) between exclusive breastfeeding and the incidence of ARI, and a p-value of 0.006 (α<0.05) between complete immunization and the incidence of acute respiratory infections. Conclusion: There was no statistically significant relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of acute respiratory infections. However, a significant relationship was found between the level of complete immunization and the incidence of acute respiratory infections. Suggestion: Future research should use a larger sample size to increase the power of the study and expand the study by including other risk factors to more accurately determine their influence.   Keywords: Acute Respiratory Tract Infection; Breastfeeding; Exclusive breastfeeding; Toddlers; Vaccination.   Pendahuluan: Air susu ibu (ASI) mengandung komposisi yang memperkuat dan merangsang sistem kekebalan tubuh. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya korelasi antara pemberian ASI eksklusif, vaksinasi lengkap, dan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak. Tujuan: Untuk menganalisis keterkaitan ASI eksklusif dan vaksinasi terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada balita usia 12-48 bulan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan sampel sebanyak 40 bayi yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Analisis menunjukan nilai p=0.540 (α<0.05) antara variabel pembeian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA, dan nilai p=0.006 (α<0.05) antara variabel kelengkapan vaksinasi dengan kejadian ISPA. Simpulan: Tidak adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA. Namun, ditemukan hubungan yang signifikan antara tingkat kelengkapan vaksinasi dengan kejadian ISPA. Saran: Penelitian selanjutnya dapat menggunakan ukuran sampel yang lebih besar untuk meningkatkan kekuatan studi dan memperluas penelitian dengan memasukkan faktor risiko lain untuk menentukan pengaruhnya secara lebih akurat.   Kata Kunci: ASI Eksklusif; Balita; Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA); Menyusui; Vaksinasi.
Peran Pemeriksaan Mutasi Gen Dead-Box Helicase 41 (DDX41) pada Sindroma Mielodisplasia Hipoplastik Raharjo, Budiono; Linggawan, Stephani; Sumarpo, Anton; Imannuel, Erica Valencia; Supriadi, Vegy; Lukito, Diane; Raharjo, Yohanes Timothy; Devi, Wivina Riza; Bintoro, Siprianus Ugroseno Yudho
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 75 No 5 (2025): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.75.5-2025-1847

Abstract

Introduction: DDX41 gene mutations can occur in hematopoietic malignancies, especially acute myeloid leukemia (AML) and myelodysplastic syndrome. The average incidence of myelodysplastic syndrome (MDS) in the general population is 4.5 out of 100,000 people per year. Myelodysplastic syndrome (MDS) can occur with different genetic mutations and will provide different prognoses and therapy results. Hypoplastic myelodysplastic syndrome (MDS) is often found in 10-15% of MDS patients. There have been no case reports or research studies in Indonesia that have reported a case of hypoplastic myelodysplastic syndrome associated with a mutation in the Dead Box Helicase 41 (DDX41) gene.Case Report: A 66-year-old man presented with complaints of weakness. The patient had a history of myelodysplastic syndrome diagnosed two years earlier. Bone marrow aspiration revealed cellularity with decreased granulopoiesis and thrombopoiesis, and myeloblasts accounted for 2.0%. Genetic testing using a Next Generation Sequencing (NGS) panel identified DDX41 p.(Pro258Leu) at 47.9%, DDX41 p.(Arg525His) at 1.7%, and ASXL1 p.(Gln977Ter) at 1.6%. The patient was treated with a combination therapy of venetoclax and azacitidine. Follow-up bone marrow aspiration showed improved cellularity, increased erythropoiesis activity, and a reduction in the number of dysplastic cells. Case Discussion: Mutations in the DDX41 gene can mostly be found in cases of hypoplastic myelodysplastic syndrome, while in normocellular or hypercellular myelodysplastic syndrome, genetic mutations such as SF3B1, TET2, STAG2, ASXL1, and BCOR are mostly found. The DDX41 gene is related to cellular molecules and innate immunity. The DDX41 gene mutation is a determining factor in the administration of chemotherapy. The DDX41 gene mutation is a determining factor in the selection of chemotherapy drugs.Conclusion: DDX41 genetic testing with NGS method is essential for determining the prognosis and appropriate therapy in the management of hypoplastic myelodysplastic syndrome cases.
Efektivitas Pemberian Ekstrak Phoenix dactylifera Pada Reticulocyte Hemoglobin Equivalent Dan Hemosiderin Tikus Wistar Anemia Defisiensi Besi Aulia, Hiski; Putri, Ahista Saskirana; Almas, Nisrina Raudhatul Jannah; Raharjo, Budiono; Soelistyaningtyas, Anggraheny; Linggawan, Stephani; Soetedjo, Farida Anggraini; Gunawan, Catherine Keiko; Sumarpo, Anton
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2026): Volume 13 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i2.22428

Abstract

Anemia menjadi salah satu permasalahan utama dalam kesehatan masyarakat baik di negara berkembang maupun negara maju. Pemeriksaan reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) dan hemosiderin dapat mengukur kadar hemoglobin pada retikulosit yang baru keluar dan mengukur cadangan zat besi dari sumsum tulang. Kurma (Phoenix dactylifera) merupakan tanaman yang kaya akan manfaat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pemberian ekstrak Phoenix dactylifera pada peningkatan kadar reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) dan tingkat hemosiderin tikus Wistar anemia defisiensi besi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental, jumlah sampel penelitian 4 kelompok, dengan kriteria inklusi tikus Wistar sehat, jenis kelamin jantan, usia 4-6 bulan, tidak ada kelainan anatomis/cacat, berat badan 200-300 gram. Kriteria eksklusi tikus yaitu tikus dalam keadaan sakit, cacat fisik. Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil darah dan sumsum tulang tikus Wistar, sampel darah digunakan untuk mengukur kadar reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) dan sampel sumsum tulang dibuat menjadi apusan untuk mengukur tingkat hemosiderin. Hasil penelitian didapatkan nilai mean kadar reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) pada kelompok perlakuan tertinggi adalah perlakuan 2, dan nilai median tingkat hemosiderin pada kelompok perlakuan tertinggi adalah perlakuan 2 dan 3. Analisis statistik reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) menggunakan Welch ANOVA dan Welch’s t-test menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna (p0,05). Analisis statistik hemosiderin menggunakan Kruskal-Wallis antar keempat kelompok (p0,05), dan analisis menggunakan Mann-Whitney antara kelompok kontrol negatif dan perlakuan 1 (p≤0,05), sisanya menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna (p0,05). Kesimpulan dari hasil tersebut yaitu pemberian ekstrak Phoenix dactylifera tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada kadar reticulocyte hemoglobin equivalent (Ret-He) dan tingkat hemosiderin yang bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif.
Perbandingan uji Widal dan Tubex pada pasien suspek demam tifoid Fariko, Kensha Firstyputri; Mimanda, Yona; Muhammad, Fathiyah Zahra; Mubarak, Rifky; Sumarpo, Anton
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.1930

Abstract

Background: Typhoid fever is an infectious disease transmitted primarily through contaminated food, caused by Salmonella typhi, and is characterized by prolonged high fever and systemic involvement. Serological tests such as the Widal and Tubex tests are widely used for diagnosis. While the Tubex test is considered more sensitive, the Widal test remains prevalent due to its lower cost. Purpose: To compare the concordance between the Widal and Tubex tests and evaluate the diagnostic agreement in patients with suspected typhoid fever. Method: This observational analytical study using a cross-sectional approach was conducted at the Clinical Pathology Laboratory of the Faculty of Medicine, Syarif Hidayatullah State Islamic University, using 70 serum samples from patients at Hermina Hospital, Ciputat, selected through consecutive sampling. Widal and Tubex tests were performed on all samples. Data analysis was performed using univariate and bivariate tests, as well as the Cohen's Kappa consistency test. Results: The level of agreement between the Widal and Tubex tests was moderate, with a Kappa value of 0.519. Of the 70 subjects, 50% had negative results on both tests, 27.14% were positive on both tests, and the remaining subjects showed discordant results between the two tests. Conclusion: The concordance between the Widal and Tubex tests in diagnosing suspected typhoid fever was moderate.   Keywords: Serology Test; Tubex; Typhoid Fever; Widal.   Pendahuluan: Demam tifoid adalah penyakit infeksi yang ditularkan terutama melalui makanan terkontaminasi, disebabkan oleh Salmonella typhi, dan ditandai dengan demam tinggi berkepanjangan serta keterlibatan sistemik. Uji serologi seperti Widal dan Tubex digunakan secara luas untuk diagnosis. Meskipun uji Tubex dianggap lebih sensitif, uji Widal tetap umum digunakan karena biayanya yang rendah. Tujuan: Untuk membandingkan kesesuaian antara uji Widal dan Tubex serta mengevaluasi kesepakatan diagnostik pada pasien dengan suspek demam tifoid. Metode: Studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik FK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, menggunakan 70 sampel serum dari pasien di Rumah Sakit Hermina Ciputat, dipilih melalui consecutive sampling. Uji Widal dan Tubex dilakukan pada semua sampel. Analisis data dilakukan menggunakan uji univariat, bivariat, serta uji konsistensi Cohen's Kappa. Hasil: Tingkat kesepakatan antara uji Widal dan Tubex adalah sedang (moderate), dengan nilai Kappa 0.519. Dari 70 subjek, 50% memiliki hasil negatif pada kedua uji, 27.14% positif pada kedua uji, dan sisanya menunjukkan hasil diskordan (tidak selaras) di antara kedua uji tersebut. Simpulan: Kesesuaian (concordance) antara uji Widal dan Tubex dalam mendiagnosis suspek demam tifoid berada pada tingkat sedang.   Kata Kunci: Demam Tifoid; Tubex; Uji Serologi; Widal.