Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Heparin Vs Enoxaparin: Effects On D-Dimer And Hospital Stay In Covid-19 Patients Cokro, Fonny; Suryamin, Novita; Notario, Dion; Sahamastuti, Agnes Anania Triavika; Gunawan, Catherine Keiko; Sumarpo, Anton
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 3 (2026): Volume 13 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i3.23094

Abstract

Elevated d-dimer levels due to venous thromboembolism and hypercoagulability in covid-19 patients play a role in disease severity and poor clinical outcomes. This study aims to compare the effectiveness of heparin and enoxaparin, two recommended anticoagulants, in reducing d-dimer levels and hospital stay duration in hospitalized covid-19 patients. This retrospective cohort study involved 106 hospitalized covid-19 patients with abnormal d-dimer levels treated between March 2020 and March 2023. The assessment included changes in d-dimer levels and hospitalization duration. Statistical analyses were performed using stata software. Patients receiving enoxaparin were 5.913 times more likely to experience a reduction in d-dimer levels compared to those receiving heparin (p=0.021). While smoking status (or=0.034; p=0.001) and the number of comorbidities (or=11.247; p=0.018) were notable factors influencing d-dimer reduction, enoxaparin administration was linked to significantly longer hospitalization (p=0.024). The severity of covid-19 also had a substantial impact on hospital stays, with severe (β = 5.757; p= 0.004) and critical (β = 9.147; p 0.001) cases requiring extended care. Thus, enoxaparin demonstrates greater efficacy in reducing d-dimer levels in hospitalized covid-19 patients, though at the cost of prolonged hospital stays. 
Efektivitas Pemberian Ekstrak Phoenix Dactylifera Terhadap Retikulosit Dan Serum Iron Pada Darah Tepi Tikus Wistar Yang Mengalami Anemia Defisiensi Besi Almas, Nisrina Raudhatul Jannah; Aulia, Hiski; Putri, Ahista Saskirana; Raharjo, Budiono; Soelistyaningtyas, Anggraheny; Linggawan, Stephani; Soetedjo, Farida Anggraini; Gunawan, Catherine Keiko; Sumarpo, Anton
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 4 (2026): Volume 13 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i4.22431

Abstract

Anemia defisiensi besi merupakan salah satu masalah Kesehatan yang umum terjadi, terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, yang ditandai dengan rendahnya kadar hematologis akibat kekurangan zat besi. Phoenix dactylifera (kurma) mengandung berbagai senyawa aktif seperti zat besi, flavonoid, dan fenolik yang berpotensi mendukung eritropoiesis. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan rancangan randomized posttest-only control group design. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan sehat berbobot 200–300 gram dibagi menjadi 4 kelompok (n=6), yaitu kontrol negatif yang hanya diberi pakan standar, P1 diberikan ferrous sulfate dosis 100 mg/kgBB/hari, P2 diberikan ekstrak etanol Phoenix dactylifera dosis 250 mg/kgBB/hari, serta P3 diberikan ekstrak etanol Phoenix dactylifera dosis 500 mg/kgBB/hari. Induksi anemia defisiensi besi pada kelompok P1, P2, dan P3 dilakukan menggunakan deferasirox 50 mg/kgBB/hari selama 14 hari, kemudian dilanjutkan intervensi selama 21 hari. Pemeriksaan retikulosit dilakukan menggunakan hematology analyzer Sysmex XN-1000 A1, sedangkan kadar serum iron diukur dengan metode kolorimetri spektrofotometri. Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA dengan taraf signifikansi p0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna pada jumlah retikulosit (p=0,401) maupun kadar serum iron (p=0,431) antar kelompok. Rerata jumlah retikulosit tertinggi ditemukan pada kelompok P1, sedangkan rerata kadar serum iron tertinggi di antara kelompok yang diinduksi ditemukan pada kelompok P2.