Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

EDUKASI DAN DETEKSI DINI PENYAKIT ASAM URAT DAN RHEUMATOID ARTRITIS PADA GAPOKTAN DI KABUPATEN KEDIRI Erawati, Erawati; Nela, Frieti Vega; Wardani, Siska Kusuma; Imasari, Triffit; Kurniasari, Mia Ashari; Restuaji, Ibnu Muhariawan; Mulyati, Tri Ana; Pujiono, Fery Eko; Mu`arofah, Binti
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penduduk Indonesia terutama didaerah pedesaan sebagian besar berprofesi sebagai petani, Petani merupakan profesi seseorang dengan aktivitas cocok tanam pada tanah pertanian bertujuan memperoleh keuntungan. Pekerjaan sebagai petani yang berat dapat menimbulkan nyeri di persendian, punggung serta pegal di bagian kaki dan tangan, penyakit yang diakibatkan nyeri seperti Rheumatoid Arthritis (RA) dan asam urat. RA adalah penyakit sistemik kronik yang menyerang tulang sendi distruksi, asam urat adalah penyakit yang menyerang sendi dengan gejala penyakit mirip RA. Kegiatan petani yang cukup berat dirasakan memerlukan sosialisasi dan pemeriksaan bagi petani. Tujuan Pengmas memberikan edukasi dan mengetahui hasil pemeriksaan RA menggunakan  pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada petani dan tergabung dalam Gapoktan di desa Bulu, Semen Kabupaten Kediri. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dengan pembagian Kuisoner mengenai RF dan asam urat, pemaparan materi dan pemeriksaan RF dan asam urat. Waktu pelaksanaan tanggal 28-30 April 2024. Hasil pemeriksaan pada 23 responden didapatkan hasil RF positif Rheumatoid Arthritis 1 orang, pemeriksaan Asam Urat didapatkan hasil tertinggi 12,5 mg/dL sedangkan hasil terendah 3,7 mg/dL dengan rincian kadar normal 8 orang dan tinggi 15 orang. Hasil Quisioner menunjukan bahwa pengetahuan gapoktan mengenai Rheumatoid Arthritis dan asam urat masih rendah.
Triffit Imasari Korelasi Perilaku Merokok Terhadap Jumlah Pertumbuhan Bakteri Kokus di Bandar Lor Kota Kediri imasari, triffit; Mu'arofah, Binti; pati, Berardus fernandes
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 3 No 1 (2018): volume 3 Nomor 1 tahun 2018
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.542 KB) | DOI: 10.29407/judika.v3i1.12833

Abstract

ABSTRAK Perilaku merokok merupakan perilaku yang membakar salah satu produk tembakau, dihisap atau dihirup termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotina tabacum, nicotina rustica dan spesies lainnya. Bahan kandungan rokok diketahui bersifat toksik dan dapat merusak jaringan sehingga tidak dapat melaksanakan fungsinya dangan baik termasuk dalam fungsi respon imun melawan zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Keadaan ini dapat membentuk suatu lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri dan dapat menyebabkan Infeksi Saluran Penapasan Akut (ISPA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi perilaku merokok terhadap jumlah pertumbuhan bakteri kokus. Metode penelitian ini adalah penelitian survey (observasional) analitik dengan rancangan Cross Sectional Study. Sampel yang diambil yaitu 30 sampel dengan teknik metode purposive sampling. Hasil dari 30 sampel perokok (10 perokok berat, 10 perokok sedang dan 10 perokok ringan) memiliki jumlah pertumbuhan terbanyak pada sampel perokok ringan dengan kode C-28 dan terdapat 7 sampel yang tidak terdapat pertumbuhan yaitu sampel A-6 pada perokok berat, sampel B-13, B-16, B17, B-19 pada sampel perokok sedang dan sampel C-24, C-25 pada sampel perokok ringan. Berdasarkan uji statistik Range spearman tidak ada hubungan antara perilaku merokok terhadap jumlah pertumbuhan bakteri kokus di Bandar Lor Kota Kediri dimana nilai sig 0,554>0,05. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara perilaku merokok terhadap jumlah pertumbuhan bakteri kokus Bandar Lor Kota Kediri. Kata Kunci : Perilaku Perokok, Perokok, Bakteri Kokus
Korelasi Bakteri Batang Gram Negatif Dengan Kadar Leukosit Esterase Pada Urin Pasien ISK imasari, triffit; santoso, kurniawan; kefira, Ribka
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 3 No 2 (2019): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2019
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.439 KB) | DOI: 10.29407/judika.v3i2.13105

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme di dalam saluran kemih manusia. Bakteriuria dalam urin menunjukkan adanya leukosit esterase yang positif. Pemeriksaan biakan urin menunjukkan penyebab tersering ISK adalah bakteri Gram negatif yang biasa ditemukan di saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi bakteri batang Gram negatif dengan kadar leukosit esterase pada urin pasien ISK. Metode Penelitian ini menggunakan desain rancangan cross sectional survey, Jumlah sampel yang didapat sebanyak 30 sampel dengan pengambilan sampel secara accidental sampling. Data hasil pemeriksaan akan di analisis dengan SPSS V.23 menggunakan uji korelasi Kendall’s Tau untuk melihat korelasi. Hasil Kadar leukosit esterase dengan bakteri batang Gram negatif memiliki nilai signifikan 0,038 < 0,05 yang berarti memiliki hubungan. Kesimpulan Terdapat korelasi antara bakteri batang Gram negatif dengan kadar leukosit esterase, serta ditemukan bakteri batang Gram negatif sebanyak 29 sampel dan kadar leukosit esterase positif sebanyak 30 sampel.
Korelasi Bakteri Kokus Gram Positif Pada Swab Payudara dengan Tingkat Pengetahuan Mastitis pada Ibu Post Partum di Kediri Imasari, Triffit; Erawati, Erawati
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 4 No 2 (2020): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/judika.v4i2.15379

Abstract

Mastitis didefinisikan sebagai radang pada payudara yang umumnya menyerang wanita yang menyusui dengan gejala menggigil seperti flu, demam tinggi, nyeri serta panas, merah dan bengkak pada area payudara. Peradangan payudara ini bisa dikarenakan infeksi dan non infeksi, mastitis infeksi penyebab umumnya adalah Staphylococcus aureus, dan infeksi jarang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolitik Grup A atau streptokokus Grup B dan Escherichia coli. Sedangkan pada mastitis non infeksi dikarenakan stasis Air Susu Ibu (ASI), stasis ASI disebabkan oleh sikap menyusui yang tidak tepat, Selain itu, ditunjukkan pula bahwa pendidikan seorang ibu tentang sikap menyusui selama hari-hari pertama persalinan mempengaruhi keberhasilan menyusui di masa depan dan mengurangi masalah postpartum. Pengetahuan yang kurang tentang mastitis dan penanganannya menyebabkan banyak ibu yang terlambat mendeteksi adanya mastitis dan semakin memperparah keadaan mastitis tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya korelasi bakteri kokus Gram positif pada swab payudara dengan tingkat pengetahuan mastitis pada ibu post partum di kediri. Metode penelitian merupakan metode analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional menggunakan swab steril pada payudara dan dilakukan pewarnaan Gram serta dilakukan kuisioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan mastitis pada ibu post partum. Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat korelasi bakteri kokus Gram positif pada swab payudara dengan tingkat pengetahuan mastitis pada ibu post partum.
DETEKSI Salmonella sp DAN UJI EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK AMOXICILIN DAN TETRASIKLIN PADA PEKERJA SAMPAH DI TPS KOTA KEDIRI Imasari, Triffit; Ali Sahbana, Beta; Hanum Oktavianing Putri, Sabilla
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 8 No 1 (2024): Volume 8 No 1 April 2024
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/judika.v8i1.22547

Abstract

Salmonella sp. merupakan bakteri patogen dan zoonosis yang tersebar luas dilingkungan misalnya pada tempat pembuangan sampah. Secara lokal diyakini berasal dari campuran kotoran hewan dan manusia serta sisa makanan dan dapat menyebabkan infeksi mulai diare hingga demam tifoid. Terapi antibiotik menjadi salah satu pengobatan yang efektif terhadap strain bakteri Salmonella sp. Resistensi Salmonella sp. terhadap antibiotik telah banyak dilaporkan. Kebanyakan resistensi antibiotik disebabkan oleh cara penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol dan tidak tepat, tidak sesuai resep dokter. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeteksi bakteri Salmonella sp. dan menguji efektifitas antibiotik amoxicillin dan tetrasiklin. Cross Sectional digunakan dalam metode penelitian ini dengan menggunakan 28 sampel yang diperoleh dari hasil swab tangan pekerja sampah. Salmonella sp ditemukan ada 10 sampel yang ditumbuhkan di media SSA (Salmonella Shigella Agar) selanjutnya dilakukan uji efektifitas dalam waktu 24 jam dengan suhu 37°C memakai metode difusi di media Mueller Hinton Agar untuk mengamati dan mengukur zona hambat yang terbentuk. Hasil penelitian terdapat 10 sampel terdeteksi Salmonella sp dan menunjukkan antibiotik tetrasiklin terhadap Salmonella sp adalah senfitif sebesar 90%, intermediet 10% dan amoxicillin intermediet sebesar 80%, resisten 20%. Penelitian ini untuk efektifitas antibiotik menggunakan data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Analisis data didapatkan perbandingan antibiotik amoxicillin dan tetrasiklin. Hasil penelitian ini menunjukkan antibiotik tetrasiklin memiliki efektifitas yang tinggi terhadap bakteri Salmonella sp.
KORELASI KADAR C-RP DENGAN JUMLAH LEUKOSIT PADA SANTRI PONDOK PENDERITA TB PARU YANG MELAKUKAN PENGOBATAN DI RUMAH SAKIT X KOTA KEDIRI Siska Kusuma Wardani; Erawati; Triffit Imasari
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 9 No 2 (2025): Judika Volume 9 No. 2 Oktober 2025
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/judika.v9i2.27861

Abstract

Infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebabkan tuberkulosis paru, suatu kondisi peradangan pada jaringan paru-paru. Sebagai respons terhadap infeksi, tubuh mengaktifkan sistem pertahanan dengan menghasilkan senyawa peradangan seperti sitokin pro-inflamasi (IL-6). Senyawa ini berperan penting dalam memicu hati untuk memproduksi protein fase akut, seperti C-Reactive Protein (CRP). Respons peradangan ini sering kali menimbulkan manifestasi hematologi, di mana jumlah sel darah putih atau leukosit meningkat secara signifikan melebihi kadar normal. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan antara kadar CRP dan jumlah leukosit pada santri pondok yang sedang menjalani pengobatan TB Paru Metode penelitian dengan desain observasional analitik untuk menganalisis hubungan antara kadar CRP dan jumlah leukosit pada santri pondok yang sedang menjalani pengobatan TB Paru. Uji statistik penelitian ini menggunakan metode Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara kadar CRP dan jumlah leukosit pada passion TBC paru yang dirawat di Rumah Sakit X, Kota Kediri (p-value = 0.001, r = 0.780). Rata-rata hasil pemeriksaan kadar CRP dari 15 responden 33.60 Mg/dl dan Rata-rata hasil pemeriksaan jumlah leukositnya adalah. Kesimpulan : Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan adanya korelasi antara kadar CRP dengan jumlah leukosit pada pasien TB Paru yang menjalani pengobatan di Rumah Sakit X, Kota Kediri.
GAMBARAN HASIL PEWARNAAN DIFF QUICK PADA SEDIAAN EFUSI PLEURA DI RSUD MARDI WALUYO KOTA BLITAR Hermawan, Rizal; Sabban, Indra; Imasari, Triffit; Wahyuni, Ismiy; Rokim, Moch. Abdul
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/wiyata.v12i2.1078

Abstract

Efusi pleura merupakan kondisi patologis berupa akumulasi cairan di rongga pleura yang dapat disebabkan oleh berbagai etiologi, termasuk infeksi, keganasan, dan penyakit sistemik. Di negara-negara maju, prevalensi efusi pleura tercatat sekitar 320 kasus per 100.000 penduduk per tahun, sedangkan di Amerika Serikat mencapai 1,5 juta kasus setiap tahunnya. Di Indonesia, data nasional mengenai prevalensi efusi pleura belum dipublikasikan secara resmi. Di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, terdapat 109 pasien efusi pleura sepanjang tahun 2024. Diagnosis sitologi cairan efusi pleura sangat bergantung pada teknik pewarnaan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pewarnaan Diff Quick dan Papanicolau pada sediaan efusi pleura di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Desain penelitian ini adalah deskriptif. Sampel diperoleh dari pasien efusi pleura yang menjalani pemeriksaan sitologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar pada bulan Maret 2025. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dengan SPSS versi 25. Hasil analisis menunjukkan kualitas pewarnaan diff Quick baik dalam memberikan warna pada sediaan efusi pleura.
Hubungan C-Reactive Protein (CRP) dan Neutrofil Lymphosit Count Ratio (NLCR) pada Bayi Neonatus di RS Dian Harapan Jayapura Nela, Frieti; Jalong, Yosep; Hidayatul Hasanah, Fathul; Erawati, Erawati; Imasari, Triffit
Jurnal Sintesis: Penelitian Sains, Terapan dan Analisisnya Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Fakultas Sains, Teknologi, dan Analsisi Institut ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jst.v6i2.352

Abstract

Bayi Neonatus mempunyai risiko tinggi terhadap terjadinya infeksi yang disebabkan sistem imun belum sempurna berasal organisme, seperti bakteri, virus, jamur, parasit yang dapat mengakibatkan kematian. Diagnosis dini infeksi neonatal merupakan faktor penentu dalam keberhasilan tata laksana infeksi. C-reactive protein (CRP) merupakan salah satu pemeriksaan yang mengukur jumlah protein yang dihasilkan hati sebagai respons terhadap reaksi inflamasi dan kerusakan jaringan. Rasio Neutrophils lymphocytes Count ratio (NLCR) telah diketahui merupakan petanda pada infeksi bakteri yang berat. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan CRP dan NLCR terhadap infeksi pada bayi neonatus. Penelitian ini menggunakan analitik observasional dengan desain cross sectional dan teknik sampling accidental, jumlah sampel sebanyak 19. Hasil penelitian Uji statistik menggunakan Uji korelasi chi square menunjukkan adanya nilai sig > 0,05 maka arrtinya tidak ada hubungan antara CRP dan NLCR terhadap infeksi pada bayi neonates.
KENALI FAKTOR RESIKO INFEKSI BAKTERI TERHADAP WANITA DENGAN OBESITAS Imasari, Triffit; Erawati; Ermawati, Nita; Nela, Frieti Vega
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol. 8 No. 1 (2026): .
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas telah menjadi masalah kesehatan global yang semakin meningkat, didefinisikan sebagai akumulasi lemak tubuh berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan risiko penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker, tetapi juga memiliki implikasi serius terhadap sistem kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap infeksi. Disfungsi imun ini menjadikan individu dengan obesitas lebih rentan terhadap infeksi bakteri, baik yang didapat dari komunitas maupun nosokomial. Obesitas meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK). Selain itu, individu dengan obesitas juga lebih berisiko mengalami infeksi kulit dan jaringan lunak (seperti selulitis dan abses), pneumonia, serta infeksi luka pascaoperasi. Peningkatan risiko ini tidak hanya disebabkan oleh gangguan imunologis, tetapi juga faktor mekanis seperti lipatan kulit yang lembap dan kurangnya ventilasi di area intertriginosa, yang menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri. Tantangan dalam menjaga kebersihan pribadi secara optimal pada individu dengan obesitas juga dapat berkontribusi pada kerentanan ini. Tujuan sosialisasi adalah memberikan pengetahuan wanita obesitas dengan informasi yang relevan dan memberdayakan Masyarakat untuk lebih proaktif dalam menjaga Kesehatan. Metode sosialisasi dihadiri 18 warga, dari hasil kuisioner yang dilakukan 15 warga masih kurang mengetahui dan 3 warga yang sudah baik pengetahuan tentang penyebab Faktor Resiko Infeksi Bakteri Terhadap Wanita Dengan Obesitas. Setelah dilakukan sosialisasi pengetahuan masyarakat Dusun Bajang Desa Semen Kabupaten Kediri mengalami peningkatan, yaitu 100%, dengan jumlah total warga 18 warga dan masyarakat dapat secara mandiri mengimplementasikan langkah-langkah pencegahan yang efektif, seperti menjaga kebersihan diri, mengelola berat badan secara sehat.
UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK CIPROFLOXACIN DENGAN CEFIXIME PADA Escherichia coli : STUDI KASUS INFEKSI SALURAN KEMIH : ANTIBIOTIC SENSITIVITY TEST OF CIPROFLOXACIN AND CEFIXIME AGAINST Escherichia coli: A CASE STUDY OF URINARY TRACT INFECTION Triffit Imasari; Nita Ermawati; Frieti Vega Nela; Salwa Fitri Senjani
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v17i1.486

Abstract

Keberadaan mikroorganisme dalam urin menjadi indikator utama infeksi saluran kemih (ISK). ISK disebabkan oleh berbagai macam bakteri seperti Eschericia coli, Klebsiella sp, Proteus sp, Providensia, Citrobacter, Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter, Enterococcus faecali, dan Staphylococcus saprophyticus. Lonjakan kasus resistensi antibiotik dan kemunculan patogen multidrug-resistant (MDR) pada ISK berkorelasi erat dengan tingginya insiden pemberian terapi antibiotik empiris yang kurang tepat. Praktik peresepan antibiotik tanpa diawali uji mengakibatkan  inefektivitas penanganan ISK. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bakteri E. coli sebagai penyebab ISK pada urin pasien penderita ISK serta membandingkan tingkat sensitivitas E. coli terhadap dua jenis antibiotik, yaitu Ciprofloxacin dan Cefixime.Metode yang digunakan adalah metode kultur dengan media Eosin Methilen Blue dan disk cakram. Sampel diperoleh sebanyak 13 sampel ISK dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada 9 sampel positif E. coli dan dengan tingkat sensitivitas pada antibiotik Ciprofloxacin sebanyak lima sampel (58%) sensitif, Intermediet satu sampel (11%), Resisten tiga sampel (33%) dan uji sensitivitas antibiotik Cefixime resisten sembilan sampel (100%). Penelitian ini disimpulkan pada penderita ISK ditemukan bakteri E. coli dan terdapatnya  perbandingan antara hasil uji sensitivitas antibiotik Ciprofloxacin dan antibiotik Cefixim terhadap bakteri E. coli. Kata kunci: Eschericia coli, Cefixime, Ciprofloxacin, Infeksi Saluran Kemih   The presence of microorganisms in urine is a primary indicator of a Urinary Tract Infection (UTI). UTIs are caused by various bacteria such as Escherichia coli, Klebsiella sp., Proteus sp., Providencia, Citrobacter, Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter, Enterococcus faecalis, and Staphylococcus saprophyticus. The surge in antibiotic resistance cases and the emergence of multidrug-resistant (MDR) pathogens in UTIs are closely correlated with the high incidence of inappropriate empirical antibiotic therapy. The practice of prescribing antibiotics without prior testing leads to the ineffectiveness of UTI management. This research aimed to identify E. coli bacteria as a cause of UTIs in the urine of patients suffering from UTIs and to compare the sensitivity levels of E. coli to two types of antibiotics: Ciprofloxacin and Cefixime. The method was culture with Eosin Methylene Blue media and disk diffusion. A total of 13 UTI samples were obtained using an accidental sampling technique. The research results showed that nine samples were positive for E. coli. For Ciprofloxacin, five samples (58%) were sensitive, 1 sample (11%) was intermediate, and three samples (33%) were resistant. For Cefixime, all nine samples (100%) were resistant. This research concluded that E. coli bacteria were found in UTI patients, and there was a comparison between the sensitivity test results of Ciprofloxacin and Cefixime antibiotics against E. coli bacteria. Keywords : Eschericia coli, Cefixime, Ciprofloxacin, Urinary Tract Infection