Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Antibacterial Effectiveness of Golden Garlic Against Gram-Positive Bacteria from Diabetic Ulcer Patients with High CRP Levels Erawati, Erawati; Imasari, Triffit; Wardani, Siska Kusuma
Journal La Medihealtico Vol. 6 No. 1 (2025): Journal La Medihealtico
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallamedihealtico.v6i1.1764

Abstract

The wrong antibiotic therapy in patients with DM results in therapeutic failure and increases the risk of antibiotic resistance. Herbal ingredients can be used as antibacterial alternatives to prevent the growth of Gram-positive bacteria so that there is no resistance and further complications from diabetics. One of the natural antibacterial alternative herbs is Golden garlic or golden coloured garlic extract. Golden garlic contains the bioactive component Allisin as an antibacterial on several pathogenic bacteria, such as Gram-positive bacteria. Based on this, the purpose of the study was to analyze the Antibacterial Effectiveness of Golden Garlic Against Gram-Positive Bacteria From Patients With Diabetic Ulcers With High CRP Levels. Research design with analytical observational method and cross sectional research design, purposive sampling technique. Samples with high CRP from diabetic ulcer swabs were 10 samples with the results of Staphylococcus aureus bacterial growth and tested the effectiveness of golden garlic ethanol extract with concentrations of 100%, 80%, 60% and 40%. The results of the study of golden garlic extract with Cindamycin positive control showed intermediate effectiveness in inhibiting the growth of Gram-positive bacteria with a concentration of 100%, while with concentrations of 80%, 60% and 40% showed more resistance. Analysis with SPSS Anova there is a difference in effectiveness by showing the inhibition zone of Golden Garlic with a concentration of 100%, 80%, 60% and 40% against Gram Positive Bacteria from Diabeticum Ulcer Patients with High CRP Levels of 0.000. The results showed that Golden Garlic extract can be an alternative to antibacterial herbs in diabetic ulcers.
EDUKASI DAN DETEKSI DINI PENYAKIT ASAM URAT DAN RHEUMATOID ARTRITIS PADA GAPOKTAN DI KABUPATEN KEDIRI Erawati, Erawati; Nela, Frieti Vega; Wardani, Siska Kusuma; Imasari, Triffit; Kurniasari, Mia Ashari; Restuaji, Ibnu Muhariawan; Mulyati, Tri Ana; Pujiono, Fery Eko; Mu`arofah, Binti
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penduduk Indonesia terutama didaerah pedesaan sebagian besar berprofesi sebagai petani, Petani merupakan profesi seseorang dengan aktivitas cocok tanam pada tanah pertanian bertujuan memperoleh keuntungan. Pekerjaan sebagai petani yang berat dapat menimbulkan nyeri di persendian, punggung serta pegal di bagian kaki dan tangan, penyakit yang diakibatkan nyeri seperti Rheumatoid Arthritis (RA) dan asam urat. RA adalah penyakit sistemik kronik yang menyerang tulang sendi distruksi, asam urat adalah penyakit yang menyerang sendi dengan gejala penyakit mirip RA. Kegiatan petani yang cukup berat dirasakan memerlukan sosialisasi dan pemeriksaan bagi petani. Tujuan Pengmas memberikan edukasi dan mengetahui hasil pemeriksaan RA menggunakan  pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada petani dan tergabung dalam Gapoktan di desa Bulu, Semen Kabupaten Kediri. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dengan pembagian Kuisoner mengenai RF dan asam urat, pemaparan materi dan pemeriksaan RF dan asam urat. Waktu pelaksanaan tanggal 28-30 April 2024. Hasil pemeriksaan pada 23 responden didapatkan hasil RF positif Rheumatoid Arthritis 1 orang, pemeriksaan Asam Urat didapatkan hasil tertinggi 12,5 mg/dL sedangkan hasil terendah 3,7 mg/dL dengan rincian kadar normal 8 orang dan tinggi 15 orang. Hasil Quisioner menunjukan bahwa pengetahuan gapoktan mengenai Rheumatoid Arthritis dan asam urat masih rendah.
DETEKSI BAKTERI Streptococcus mutans PADA SIKAT GIGI DENGAN PERILAKU PEMAKAIAN SIKAT GIGI DI KOST PUTRI X KOTA KEDIRI Triffit Imasari; Fathul Hidayatul; Ayu Nabila Rizki Insani
Jurnal Insan Cendekia Vol 10 No 1 (2023): Jurnal Insan Cendekia
Publisher : STIKES Insan Cendekia Medika Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jic.v10i1.1133

Abstract

Pendahuluan: Sikat gigi merupakan alat untuk membersihkan bagian gigi dan mulut yang digunakan secara luas oleh masyarakat. Sedangkan menyikat gigi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan deposit lunak pada permukaan gigi dan gusi untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut secara optimal. Sikat gigi merupakan salah satu tempat yang paling sering terjadi kontaminan bakteri, salah satu bakteri yang paling sering yaitu Streptococcus mutans. Perilaku pemakaian sikat gigi yang mencakup penggunaan, pemeliharaan dan penempatan sikat gigi di rumah masih tidak disiplin sehingga memungkinkan kontaminasi silang antara mikroorganisme yang ada di rongga mulut dengan bakteri yang ada di sikat gigi. Tujuan penelitian: untuk mendeteksi bakteri Streptococcus mutans pada sikat gigi dan mengetahui korelasi bakteri Streptococcus mutans dengan perilaku pemakaian sikat gigi di kost putri X Kota Kediri. Metode penelitian adalah analitik korelasi dengan teknik sampling total sampling menggunakan 23 sampel sikat gigi di salah satu kost putri X kota Kediri. Metode penelitian: menggunakan uji biakkan kultur pada media Tryptone Yeast Extract Cystine Sucrose and Bacitracin Agar dan pewarnaan Gram serta kuisioner untuk mengetahui perilaku pemakaian sikat gigi. Hasil penelitian ini terdapat 19 sampel 82,6% ditemukan bakteri Streptococus mutans pada sikat gigi dan 4 sampel 17,3% bakteri batang Gram negatif dan hasil kuisioner perilaku pemakaian sikat gigi dikategorikan kurang baik 83% dan baik 17%. Kesimpulan: Streptococcus mutans adalah bakteri terbanyak yang ditemukan pada sikat gigi dan tidak ada korelasi bakteri Streptococus mutans dengan perilaku pemakaian sikat gigi di kost putri X di kota Kediri
Gambaran Jumlah Eosinofil dan Neutrofil pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Rsud Gambiran Kota Kediri Nita Ermawati; Imasari, Triffit; Erawati, Erawati; Arifatunnisa, Yulvia
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45410

Abstract

Gagal ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologi dengan penyebab yang beragam yang dapat mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan biasanya berakhir dengan gagal ginjal. Gagal ginjal kronik ditemukan meningkat pada stadium yang tidak disadari oleh pasien. Gagal ginjal kronik berisiko tinggi berkembang menjadi penyakit ginjal stadium akhir (ESKD). Alternatif sel-sel di hematologi bisa diindikatorkan terjadinyanya peningkatan stadium yag lebih tinggi salah satunya eosinofil dan neutrofil yang kadarnya meningkat pada pasien PGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran eosinofil dan neutrofil dalam patologi penyakit ginjal. Pengambilan sampel dapat dilakukan metode penelitian Deskriptif dengan teknik sampiling purposeve sampling jumlah 27 sampel, penggumpulan data dilakukan dengan menggunkan kuisioner. Berdasrkan hasil penelitian menunjukan bahwa dari 27 sampel pasien gagal ginjal kronis di RSUD Gambiran kota kediri diperoleh hasil jumlah eosinofil meningkat sebanyak 5 responden ( 19%), normal sebanyak 22 responden ( 81%). Pada pemeriksaan neutrofil didapatkan hasil meningkat sebanyak 10 responden ( 37%) ,normal sebanyak 17 responden ( 63%) Peningkatan eosinofil dan neutrofil, baik di darah perifer maupun jaringan ginjal, berperan penting dalam proses inflamasi pada pasien gagal ginjal kronis. Kondisi ini dikaitkan dengan lebih banyak risiko tinggi berkembang menjadi penyakit ginjal stadium akhir (ESKD).
UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK CIPROFLOXACIN DENGAN CEFIXIME PADA Escherichia coli : STUDI KASUS INFEKSI SALURAN KEMIH : ANTIBIOTIC SENSITIVITY TEST OF CIPROFLOXACIN AND CEFIXIME AGAINST Escherichia coli: A CASE STUDY OF URINARY TRACT INFECTION Imasari, Triffit; Ermawati, Nita; Nela, Frieti Vega; Senjani, Salwa Fitri
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v17i1.486

Abstract

Keberadaan mikroorganisme dalam urin menjadi indikator utama infeksi saluran kemih (ISK). ISK disebabkan oleh berbagai macam bakteri seperti Eschericia coli, Klebsiella sp, Proteus sp, Providensia, Citrobacter, Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter, Enterococcus faecali, dan Staphylococcus saprophyticus. Lonjakan kasus resistensi antibiotik dan kemunculan patogen multidrug-resistant (MDR) pada ISK berkorelasi erat dengan tingginya insiden pemberian terapi antibiotik empiris yang kurang tepat. Praktik peresepan antibiotik tanpa diawali uji mengakibatkan  inefektivitas penanganan ISK. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bakteri E. coli sebagai penyebab ISK pada urin pasien penderita ISK serta membandingkan tingkat sensitivitas E. coli terhadap dua jenis antibiotik, yaitu Ciprofloxacin dan Cefixime.Metode yang digunakan adalah metode kultur dengan media Eosin Methilen Blue dan disk cakram. Sampel diperoleh sebanyak 13 sampel ISK dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada 9 sampel positif E. coli dan dengan tingkat sensitivitas pada antibiotik Ciprofloxacin sebanyak lima sampel (58%) sensitif, Intermediet satu sampel (11%), Resisten tiga sampel (33%) dan uji sensitivitas antibiotik Cefixime resisten sembilan sampel (100%). Penelitian ini disimpulkan pada penderita ISK ditemukan bakteri E. coli dan terdapatnya  perbandingan antara hasil uji sensitivitas antibiotik Ciprofloxacin dan antibiotik Cefixim terhadap bakteri E. coli. Kata kunci: Eschericia coli, Cefixime, Ciprofloxacin, Infeksi Saluran Kemih   The presence of microorganisms in urine is a primary indicator of a Urinary Tract Infection (UTI). UTIs are caused by various bacteria such as Escherichia coli, Klebsiella sp., Proteus sp., Providencia, Citrobacter, Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter, Enterococcus faecalis, and Staphylococcus saprophyticus. The surge in antibiotic resistance cases and the emergence of multidrug-resistant (MDR) pathogens in UTIs are closely correlated with the high incidence of inappropriate empirical antibiotic therapy. The practice of prescribing antibiotics without prior testing leads to the ineffectiveness of UTI management. This research aimed to identify E. coli bacteria as a cause of UTIs in the urine of patients suffering from UTIs and to compare the sensitivity levels of E. coli to two types of antibiotics: Ciprofloxacin and Cefixime. The method was culture with Eosin Methylene Blue media and disk diffusion. A total of 13 UTI samples were obtained using an accidental sampling technique. The research results showed that nine samples were positive for E. coli. For Ciprofloxacin, five samples (58%) were sensitive, 1 sample (11%) was intermediate, and three samples (33%) were resistant. For Cefixime, all nine samples (100%) were resistant. This research concluded that E. coli bacteria were found in UTI patients, and there was a comparison between the sensitivity test results of Ciprofloxacin and Cefixime antibiotics against E. coli bacteria. Keywords : Eschericia coli, Cefixime, Ciprofloxacin, Urinary Tract Infection
KORELASI HIGH SENSITIVITY C-REACTIVE PROTEIN (hs-CRP) DENGAN MONOSIT PADA PASIEN TUBERKULOSIS SETELAH PENGOBATAN: CORRELATION BETWEEN HIGH-SENSITIVITY C-REACTIVE PROTEIN (hs-CRP) AND MONOCYTES IN TUBERCULOSIS PATIENTS AFTER TREATMENT Vega Nela, Frieti; Erawati; Imasari, Triffit; Ningrum, Erlina Setia
GEMA KESEHATAN Vol. 17 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : POLTEKKES KEMENKES JAYAPURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/gk.v17i1.488

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksius yang berlangsung lama dan utamanya mempengaruhi organ paru. Kondisi ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang biasanya menyerang sistem pernapasan manusia. Pemeriksaan High Sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP) dan monosit dapat digunakan sebagai pemeriksaan untuk mengetahui terjadinya inflamasi pasien tuberkulosis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 15 sampel. Hasil pemeriksaan hs-CRP didapatkan nilai rata-rata 3,22 mg/L dan rata-rata monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan yaitu 540,80 mm3. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji normalitas Shapiro-wilk dan uji korelasi menggunakan uji pearson product moment. Berdasarkan uji pearson product moment didapatkan nilai signifikasi 0,037 dengan nilai koefisien korelasi yang diperoleh yaitu 0,542. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan adanya korelasi antara hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan, dengan korelasi positif yang menandakan korelasi kuat antara hasil hs-CRP dengan monosit pada pasien tuberkulosis setelah pengobatan. Kata kunci: hs-CRP, Monosit, Tuberkulosis   Tuberculosis (TB) is a chronic infectious disease that primarily affects the lungs and is caused by Mycobacterium tuberculosis. This pathogen typically targets the human respiratory system. High-sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) and monocyte levels can serve as diagnostic indicators to assess inflammation in TB patients. This study examines the relationship between hs-CRP and monocyte levels in tuberculosis patients following treatment. A cross-sectional study design with accidental sampling was employed, involving 15 participants. The mean hs-CRP level was 3.22 mg/L, while the mean monocyte count was 540.80 cells/mm³. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test and Pearson product-moment correlation test. The Pearson test yielded a significance value of 0.037 and a correlation coefficient (r) of 0.542. The results indicate a statistically significant positive correlation between hs-CRP and monocyte levels in tuberculosis patients after treatment. This suggests a moderate to strong association between inflammatory response and monocyte activity post-therapy. Keywords : hs-CRP, Monocytes, Tuberculosis
EDUKASI DAN DETEKSI DINI PENYAKIT ASAM URAT DAN RHEUMATOID ARTRITIS PADA GAPOKTAN DI KABUPATEN KEDIRI Erawati, Erawati; Nela, Frieti Vega; Wardani, Siska Kusuma; Imasari, Triffit; Kurniasari, Mia Ashari; Restuaji, Ibnu Muhariawan; Mulyati, Tri Ana; Pujiono, Fery Eko; Mu`arofah, Binti
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penduduk Indonesia terutama didaerah pedesaan sebagian besar berprofesi sebagai petani, Petani merupakan profesi seseorang dengan aktivitas cocok tanam pada tanah pertanian bertujuan memperoleh keuntungan. Pekerjaan sebagai petani yang berat dapat menimbulkan nyeri di persendian, punggung serta pegal di bagian kaki dan tangan, penyakit yang diakibatkan nyeri seperti Rheumatoid Arthritis (RA) dan asam urat. RA adalah penyakit sistemik kronik yang menyerang tulang sendi distruksi, asam urat adalah penyakit yang menyerang sendi dengan gejala penyakit mirip RA. Kegiatan petani yang cukup berat dirasakan memerlukan sosialisasi dan pemeriksaan bagi petani. Tujuan Pengmas memberikan edukasi dan mengetahui hasil pemeriksaan RA menggunakan  pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) pada petani dan tergabung dalam Gapoktan di desa Bulu, Semen Kabupaten Kediri. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dengan pembagian Kuisoner mengenai RF dan asam urat, pemaparan materi dan pemeriksaan RF dan asam urat. Waktu pelaksanaan tanggal 28-30 April 2024. Hasil pemeriksaan pada 23 responden didapatkan hasil RF positif Rheumatoid Arthritis 1 orang, pemeriksaan Asam Urat didapatkan hasil tertinggi 12,5 mg/dL sedangkan hasil terendah 3,7 mg/dL dengan rincian kadar normal 8 orang dan tinggi 15 orang. Hasil Quisioner menunjukan bahwa pengetahuan gapoktan mengenai Rheumatoid Arthritis dan asam urat masih rendah.
Triffit Imasari Korelasi Perilaku Merokok Terhadap Jumlah Pertumbuhan Bakteri Kokus di Bandar Lor Kota Kediri imasari, triffit; Mu'arofah, Binti; pati, Berardus fernandes
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 3 No 1 (2018): volume 3 Nomor 1 tahun 2018
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.542 KB) | DOI: 10.29407/judika.v3i1.12833

Abstract

ABSTRAK Perilaku merokok merupakan perilaku yang membakar salah satu produk tembakau, dihisap atau dihirup termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotina tabacum, nicotina rustica dan spesies lainnya. Bahan kandungan rokok diketahui bersifat toksik dan dapat merusak jaringan sehingga tidak dapat melaksanakan fungsinya dangan baik termasuk dalam fungsi respon imun melawan zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Keadaan ini dapat membentuk suatu lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri dan dapat menyebabkan Infeksi Saluran Penapasan Akut (ISPA). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi perilaku merokok terhadap jumlah pertumbuhan bakteri kokus. Metode penelitian ini adalah penelitian survey (observasional) analitik dengan rancangan Cross Sectional Study. Sampel yang diambil yaitu 30 sampel dengan teknik metode purposive sampling. Hasil dari 30 sampel perokok (10 perokok berat, 10 perokok sedang dan 10 perokok ringan) memiliki jumlah pertumbuhan terbanyak pada sampel perokok ringan dengan kode C-28 dan terdapat 7 sampel yang tidak terdapat pertumbuhan yaitu sampel A-6 pada perokok berat, sampel B-13, B-16, B17, B-19 pada sampel perokok sedang dan sampel C-24, C-25 pada sampel perokok ringan. Berdasarkan uji statistik Range spearman tidak ada hubungan antara perilaku merokok terhadap jumlah pertumbuhan bakteri kokus di Bandar Lor Kota Kediri dimana nilai sig 0,554>0,05. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara perilaku merokok terhadap jumlah pertumbuhan bakteri kokus Bandar Lor Kota Kediri. Kata Kunci : Perilaku Perokok, Perokok, Bakteri Kokus
Korelasi Bakteri Batang Gram Negatif Dengan Kadar Leukosit Esterase Pada Urin Pasien ISK imasari, triffit; santoso, kurniawan; kefira, Ribka
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 3 No 2 (2019): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2019
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.439 KB) | DOI: 10.29407/judika.v3i2.13105

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan suatu infeksi yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme di dalam saluran kemih manusia. Bakteriuria dalam urin menunjukkan adanya leukosit esterase yang positif. Pemeriksaan biakan urin menunjukkan penyebab tersering ISK adalah bakteri Gram negatif yang biasa ditemukan di saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi bakteri batang Gram negatif dengan kadar leukosit esterase pada urin pasien ISK. Metode Penelitian ini menggunakan desain rancangan cross sectional survey, Jumlah sampel yang didapat sebanyak 30 sampel dengan pengambilan sampel secara accidental sampling. Data hasil pemeriksaan akan di analisis dengan SPSS V.23 menggunakan uji korelasi Kendall’s Tau untuk melihat korelasi. Hasil Kadar leukosit esterase dengan bakteri batang Gram negatif memiliki nilai signifikan 0,038 < 0,05 yang berarti memiliki hubungan. Kesimpulan Terdapat korelasi antara bakteri batang Gram negatif dengan kadar leukosit esterase, serta ditemukan bakteri batang Gram negatif sebanyak 29 sampel dan kadar leukosit esterase positif sebanyak 30 sampel.
Korelasi Bakteri Kokus Gram Positif Pada Swab Payudara dengan Tingkat Pengetahuan Mastitis pada Ibu Post Partum di Kediri Imasari, Triffit; Erawati, Erawati
Judika (Jurnal Nusantara Medika) Vol 4 No 2 (2020): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/judika.v4i2.15379

Abstract

Mastitis didefinisikan sebagai radang pada payudara yang umumnya menyerang wanita yang menyusui dengan gejala menggigil seperti flu, demam tinggi, nyeri serta panas, merah dan bengkak pada area payudara. Peradangan payudara ini bisa dikarenakan infeksi dan non infeksi, mastitis infeksi penyebab umumnya adalah Staphylococcus aureus, dan infeksi jarang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolitik Grup A atau streptokokus Grup B dan Escherichia coli. Sedangkan pada mastitis non infeksi dikarenakan stasis Air Susu Ibu (ASI), stasis ASI disebabkan oleh sikap menyusui yang tidak tepat, Selain itu, ditunjukkan pula bahwa pendidikan seorang ibu tentang sikap menyusui selama hari-hari pertama persalinan mempengaruhi keberhasilan menyusui di masa depan dan mengurangi masalah postpartum. Pengetahuan yang kurang tentang mastitis dan penanganannya menyebabkan banyak ibu yang terlambat mendeteksi adanya mastitis dan semakin memperparah keadaan mastitis tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya korelasi bakteri kokus Gram positif pada swab payudara dengan tingkat pengetahuan mastitis pada ibu post partum di kediri. Metode penelitian merupakan metode analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional menggunakan swab steril pada payudara dan dilakukan pewarnaan Gram serta dilakukan kuisioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan mastitis pada ibu post partum. Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat korelasi bakteri kokus Gram positif pada swab payudara dengan tingkat pengetahuan mastitis pada ibu post partum.