Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pengaruh Variasi Lama Penundaan Pemeriksaan Terhadap Enumerasi Bakteri Pada Urin Penderita Infeksi Saluran Kemih (ISK) Inayah Fitri; Triffit Imasari; Diva Nadia
Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (JB&P) Vol 6 No 2 (2019): October 2019
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/jbp.v6i2.14793

Abstract

Hitung jumlah bakteri merupakan gold standard untuk konfirmasi ISK. Hitung jumlah bakteri harus menggunakan urin segar, karena penggunaan urin yang telah ditunda dapat menyebabkan peningkatan bakteri. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh variasi lama penundaan pemeriksaan urin terhadap jumlah bakteri. Metode: inokulasi di media CLED. Hasil: penundaan 0 jam =4.5×104; 1.5 jam =5.5×104; 4 jam =5.9×104; dan 6 jam =1.4×105 CFU/ml.
DETEKSI STAPHYLOCOCCUS AUREUS PENYEBAB MASTITIS PADA IBU POST PARTUM 0-3 BULAN DENGAN GAMBARAN JUMLAH LEUKOSIT DI KEDIRI Triffit Imasari; Erawati Erawati
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/wiyata.v13i1.1086

Abstract

Latar belakang: Mastitis adalah suatu kondisi inflamasi pada payudara yang mayoritas dialami oleh ibu menyusui pada fase awal pascapersalinan. Gejala peradangan lokal dan sistemik yang lebih berat sering menyertai mastitis. Meskipun berpotensi terjadi sewaktu-waktu selama menyusui, puncaknya paling banyak diamati pada enam minggu pertama setelah ibu melahirkan. Mikroorganisme penyebab utama infeksi mastitis yaitu Staphylococcus aureus. Jumlah leukosit yang meningkat dapat menunjukkan respon fisiologis tubuh terhadap adanya agen infeksi seperti bakteri Staphylococcus aureus penyebab mastitis. Peningkatan jumlah leukosit pada ibu postpartum, selain disebabkan oleh mastitis, juga dapat terjadi setelah beberapa hari karena faktor internal dan eksternal pada ibu postpartum, seperti trauma jalan lahir dan proses sterilisasi persalinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya Staphylococcus aureus penyebab mastitis serta mengetahui gambaran jumlah leukosit pada mastitis ibu postpartum 0-3 bulan di Kediri. Metode penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Metode dilakukan dengan mengumpulkan sampel swab puting payudara dan pengambilan darah. Dilakukan identifikasi bakteri dengan kultur pada media BAP, MSA, dan NAS, serta jumlah leukosit menggunakan alat Hematology Analyzer. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan SPSS  menunjukkan sampel positif Staphylococcus aureus sebesar 17 orang (34%) dan jumlah sampel yang  menunjukkan peningkatan jumlah leukosit sebesar 37 sampel (74%). Sampel positif dan sampel yang negatif dari bakteri Staphylococcus aureus memiliki rata-rata jumlah leukosit yang hampir sama, yaitu berada pada kisaran nilai 12.000 sel/µl. Mastitis pada ibu post-partum dapat disebabkan karena adanya infeksi dan tanpa infeksi. Dua faktor utama yang berkontribusi pada perkembangan mastitis adalah stasis ASI dan adanya infeksi bakteri
DETEKSI BAKTERI Staphylococcus sp PADA SWAB HANDPHONE DENGAN TINGKAT PERSONAL HYGIENE MAHASISWA IIK BHAKTI WIYATA KEDIRI Triffit Imasari; Febriana Faldita; Veronica Puspitasari
Klinikal Sains : Jurnal Analis Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2022): Juni
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/klinikal_sains.v10i1.2517

Abstract

Mobile phones as a learning tool among students are used during the temporary closure of educational institutions as an effort to prevent the spread of the COVID-19 pandemic around the world. This requires students to do Study From Home learning, a learning process that is carried out virtually using communication media such as cellphones, laptops, and tablets. This causes the intensity of using cellphones to become more frequent every time and generally ignores hygiene. Overall the level of bacterial contamination of cell phones is 70% with the pathogenic bacteria Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas sp., Staphylococcus saprophyticus, Enterobacter aergene, Escherichia coli, Citrobacter intermedites, and Citrobacter freundii. The purpose of the research was to identify Staphylococcus sp and to know the correlation of Staphylococcus sp. with the personal hygiene level of IIK Bhakti Wiyata Kediri students. The research method is correlation analytic using purposive sampling technique with 16 cell phone swab samples. This research used the culture test on BAP, MSA, NAS and Gram staining as well as a questionnaire to determine the level of personal hygiene. The results of the research identified Staphylococcus aureus by 75% and Staphylococcus epidermidis by 25% and the results of the questionnaire on the level of personal hygiene with a sufficient category of 75%. The conclusion of the research is that there is Staphylococcus sp in cellphone swabs and there is a correlation of the presence of Staphylococcus sp bacteria with the level of personal hygiene in IIK Bhakti Wiyata students.
Identification of Gram-Negative Bacteriuria among Diabetes Mellitus Patients at X Public Health Center, Kediri TRIFFIT IMASARI; Erawati; Siska Kusuma Wardani; Indra Fauzi Sabban; Vanda Pitasari
Jurnal Sintesis: Penelitian Sains, Terapan dan Analisisnya Vol 7 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Sains, Teknologi, dan Analsisi Institut ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56399/jst.v7i1.400

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by a steadily increasing prevalence both globally and nationally. Patients with DM are highly susceptible to various infections, with Urinary Tract Infection (UTI) being one of the most frequent complications. The hyperglycemic state in DM patients leads to glycosuria, a condition where the presence of glucose in the urine creates an ideal environment for the proliferation of pathogenic microorganisms. Microbiologically, Gram-negative bacteria are the primary etiology of UTIs in diabetic patients. Bacteria such as Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, and Proteus mirabilis possess specific virulence factors that facilitate adherence to the urinary tract epithelium. The objective of this research was to identify Gram-negative bacteria and determine their percentage distribution among Diabetes Mellitus patients at Public Health Center X in Kediri. This research employed a descriptive research method with an accidental sampling technique, utilizing 14 urine specimens from DM patients. The results revealed the presence of Klebsiella sp. (36%), Escherichia coli (50%), and Salmonella sp. (14%) in the urine of the subjects. Based on these findings, it can be concluded that urinary tract infections in Diabetes Mellitus patients at Public Health Center X, Kediri, are caused by several types of pathogenic bacteria, with the highest prevalence being Escherichia coli, followed by Klebsiella sp., Salmonella sp., and Proteus sp. Early detection and management of bacterial infections are essential to prevent further complications in patients with Diabetes Mellitus
KENALI FAKTOR RESIKO INFEKSI BAKTERI TERHADAP WANITA DENGAN OBESITAS Triffit Imasari; Erawati; Nita Ermawati; Frieti Vega Nela
Journal of Community Engagement and Empowerment Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatah Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas telah menjadi masalah kesehatan global yang semakin meningkat, didefinisikan sebagai akumulasi lemak tubuh berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan risiko penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker, tetapi juga memiliki implikasi serius terhadap sistem kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap infeksi. Disfungsi imun ini menjadikan individu dengan obesitas lebih rentan terhadap infeksi bakteri, baik yang didapat dari komunitas maupun nosokomial. Obesitas meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK). Selain itu, individu dengan obesitas juga lebih berisiko mengalami infeksi kulit dan jaringan lunak (seperti selulitis dan abses), pneumonia, serta infeksi luka pascaoperasi. Peningkatan risiko ini tidak hanya disebabkan oleh gangguan imunologis, tetapi juga faktor mekanis seperti lipatan kulit yang lembap dan kurangnya ventilasi di area intertriginosa, yang menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri. Tantangan dalam menjaga kebersihan pribadi secara optimal pada individu dengan obesitas juga dapat berkontribusi pada kerentanan ini. Tujuan sosialisasi adalah memberikan pengetahuan wanita obesitas dengan informasi yang relevan dan memberdayakan Masyarakat untuk lebih proaktif dalam menjaga Kesehatan. Metode sosialisasi dihadiri 18 warga, dari hasil kuisioner yang dilakukan 15 warga masih kurang mengetahui dan 3 warga yang sudah baik pengetahuan tentang penyebab Faktor Resiko Infeksi Bakteri Terhadap Wanita Dengan Obesitas. Setelah dilakukan sosialisasi pengetahuan masyarakat Dusun Bajang Desa Semen Kabupaten Kediri mengalami peningkatan, yaitu 100%, dengan jumlah total warga 18 warga dan masyarakat dapat secara mandiri mengimplementasikan langkah-langkah pencegahan yang efektif, seperti menjaga kebersihan diri, mengelola berat badan secara sehat.