Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Karakteristik Pasien Leukemia Granulositik Kronik Berdasarkan Hasil Direct Coomb’s Test di RSUP Dr. M. Djamil Zahira, Aisyah Dhia; Rofinda, Zelly Dia; Izzah, Amirah Zatil; Efrida, Efrida; Afriant, Rudy; Rahmatini, Rahmatini
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i3.1314

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Leukemia Granulositik Kronik (LGK) merupakan penyakit mieloproliferatif yang ditandai dengan adanya proliferasi seri granulosit tanpa ada gangguan diferensiasi. Direct Coomb’s Test (DCT) digunakan untuk mendekteksi adanya antibodi imun, baik IgG maupun komponen komplemen (umumnya C3d) yang menutupi atau mensensitisasi sel eritrosit. Pemeriksaan coomb’s test pada pasien LGK dilakukan apabila adanya kecurigaan anemia dan terjadinya retikulositosis tanpa ditemukan adanya sumber perdarahan yang jelas. Objektif: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik pasien LGK berdasarkan hasil direct coomb’s test di RSUP Dr. M.Djamil Padang. Metode: Penelitian deskriptif dilakukan terhadap semua pasien yang didiagnosis LGK yang memiliki hasil direct coomb’s test. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dengan 30 sampel yang memiliki data berupa usia, jenis kelamin, hasil direct coomb’s test, derajat anemia, hitung retikulosit, dan jenis terapi. Hasil: Penelitian berdasarkan jenis kelamin pada pasien leukemia granulositik kronik didapatkan lebih banyak perempuan yaitu 18 pasien (60%) dan laki-laki 12 pasien (40%) dengan rerata usia 44 tahun. Direct coomb’s test menunjukkan hasil positif pada 21 pasien (70%) dan negatif pada 9 pasien (30%). Anemia berat paling banyak ditemukan pada direct coomb’s test negatif dengan 55,6%. Retikulositosis lebih banyak ditemukan pada hasil direct coomb’s test positif. Kesimpulan: Pasien LGK dengan hasil direct coomb’s test positif lebih banyak ditemukan anemia berat, anemia sedang, dan retikulositosis. Kata kunci: direct coomb’s test, leukemia granulositik kronik, luka sedang
Hubungan Asupan Protein dengan Kadar Zink Rambut terhadap Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di Kota Padang As Siddiqi, Abdurrahman Arsyad; Masnadi, Nice Rachmawati; Jurnalis, Yusri Dianne; Izzah, Amirah Zatil; Mayetti, Mayetti; Yantri, Eny
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.1-8

Abstract

Latar belakang. Stunting menggambarkan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh masalah nutrisi. Defisiensi zink dapat menghentikan proses pertumbuhan. Asupan zink memiliki korelasi positif terhadap asupan protein dari makanan. Kadar zink tubuh dapat diukur melalui kadar zink rambut, yang lebih akurat menggambarkan kadar zink kronis dan sesuai untuk kondisi stunting.Tujuan. Mengetahui hubungan antara asupan protein dengan kadar zink rambut pada anak stunting usia 24-59 bulan di Puskesmas Anak Air, Ikur Koto, dan Seberang Padang.Metode. Penelitian cross-sectional dilakukan di tiga Puskesmas di Kota Padang dan Laboratorium Kesehatan Sumatera Barat dari Februari 2023 hingga Maret 2024. Subjek adalah anak dengan stunting berusia 24-59 bulan. Data asupan protein diukur dengan wawancara food recall 2x24 jam, sedangkan kadar zink rambut dianalisis menggunakan teknik flame atomic absorption spectrometry (FAAS).Hasil. Sebanyak 97 subjek yang diteliti, 67% memiliki asupan protein kurang dengan median 13,92 gram, dan 67% memiliki kadar zink rambut kurang dengan median 123,80 ppm. Selain itu, 64,6% anak dengan asupan protein kurang juga memiliki kadar zink rambut yang rendah. Hasil penelitian diuji dengan uji statistik chi-square dan diperoleh nilai p-value adalah 0,627 (p>0,05) maka Ho diterima yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara asupan protein total harian dengan kadar zink rambut pada anak stunting usia 24-59 bulan.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara asupan protein dengan kadar zink rambut pada anak stunting usia 24-59 bulan.
Anemia Defisiensi Besi Berat pada Remaja As Siddiqi, Abdurrahman Arsyad; Izzah, Amirah Zatil
Majalah Kedokteran Andalas Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v47.i1.p99-110.2024

Abstract

Iron deficiency anemia (IDA) is anemia caused by a reduced body iron reserve to form red blood cells. During periods of rapid growth, such as the first year of life and adolescence, the need for iron increases, leading to an increased incidence of iron deficiency anemia during these periods. Deficiency of iron can lead to concealed intestinal bleeding. This case report discusses a 10-year and 7-month-old male patient with a diagnosis of severe iron deficiency anemia accompanied by occult bleeding. The patient received a blood transfusion due to a very low Hb level of 3.9 g/dl. The transfusion was administered gradually with a target Hb of 6 g/dl and was followed by iron supplementation. The blood transfusion provided was in the form of red cell packs, administered slowly in sufficient amounts to raise the Hb to a safe level.
Hubungan Anemia dengan Remisi Komplit Kemoterapi induksi pada Pasien Leukemia Mieloblastik Akut Dewasa di RSUP Dr. M. Djamil Padang Salsabila, Zahra; Afriant, Rudy; Rofinda, Zelly Dia; Elvira, Dwitya; Yaswir, Rismawati; Izzah, Amirah Zatil
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v5i1.1169

Abstract

Latar Belakang: leukemia mieloblastik akut merupakan salah satu keganasan darah yang terjadi akibat gangguan proses pertumbuhan sel mieloid, yang menyebabkan terjadinya penumpukan sel blast di sumsum tulang, dan menekan pembentukan sel darah lain yang menyebabkan anemia. Pengobatan yang diberikan pada penderita LMA adalah kemoterapi. Kondisi anemia dapat menyebabkan hipoksia di jaringan, yang dapat mengakibatkan berkurang nya efektivitas kemoterapi. Objektif: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara derajat anemia dengan tercapainya remisi komplit pada pasien LMA yang di kemoterapi induksi. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan observasional analitik retrospektif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 15 sampel yang diambil dari data rekam medik. Analisis univariate dilakukan untuk mendeskripsi frekuensi variable dan analisis bivariate dengan uji statistic fisher exact test. Hasil: Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah pasien LMA banyak yang berusia >40 tahun, berjenis kelamin perempuan, dengan klasifikasi LMA M4, keluhan utama lemah letih, derajat anemia ringan dan berhasil remisi komplit yang lebih banyak. Hasil uji statistik memperlihatkan tidak adanya hubungan derajat anemia dengan tercapainya remisi komplit pada pasien. Hasil analisi LMA dengan nilai p=1,000. Kesimpulan: kesimpulan yang didapatkan adalah tidak adanya hubungan antara derajat anemia dengan tercapainya remisi komplit pada pasien leukemia mieloblastik akut dewasa yang menjalani kemoterapi induksi di RSUP Dr. M Djamil Padang.
Pengaruh Probiotik terhadap Kadar Calprotectin Feses dan Durasi Diare Akut pada Anak Yulfiwanti, Idha; Jurnalis, Yusri Dianne; Asrawati, Asrawati; Syarif, Iskandar; Mariko, Rinang; Izzah, Amirah Zatil; Ihsan, Indra
Sari Pediatri Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.2.2024.74-9

Abstract

Latar belakang. Probiotik adalah mikroorganisme yang menguntungkan dalam pengobatan diare akut pada anak. Probiotik mengurangi frekuensi dan durasi diare dengan meningkatkan respon imun, produksi substansi antimikroba, menurunkan proses inflamasi, dan menghambat pertumbuhan kuman patogen penyebab diare. Pengukuran calprotectin feses sebagai penanda penyakit inflamasi pada diare akut merupakan metode noninvasif, cepat dan mudah.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh probiotik terhadap kadar calprotectin feses dan durasi diare akut pada anak.Metode. Penelitian eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest control group yang dilaksanakan di Puskesmas dan Rumah Sakit di kota Padang. Penelitian dimulai dari bulan Januari sampai Juni 2023. Populasi penelitian adalah pasien anak usia 2-60 bulan dengan diare akut yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Terdapat 31 sampel kelompok kontrol yang mendapatkan terapi standar WHO dan 30 sampel kelompok kasus yang mendapatkan terapi standar WHO ditambah probiotik. Dilakukan pengamatan terhadap durasi diare akut dan kadar calprotectin feses.Hasil. Anak dengan usia >24 bulan lebih banyak pada kedua kelompok dengan sebagian besar kelompok dengan gizi baik. Rerata berat badan dan tinggi badan subjek pada kelompok kasus adalah 10,76 kg dan 82,6 cm, sedangkan kelompok kontrol adalah 10,15 kg dan 81 cm. Terdapat pemendekan durasi diare yang signifikan pada kelompok kasus dibandingkan kelompok kontrol adalah 10,32 (+6,35)jam (p-value =0,049). Terdapat perbedaan kadar calprotectin feses yang signifikan antara sebelum dan sesudah pemberian probiotik pada kelompok kasus (p-value =0,038).Kesimpulan. Pemberian probiotik dapat memperpendek rerata durasi diare akut dan menurunkan rerata kadar calprotectin feses secara bermakna. Pemberian probiotik ini dapat disarankan sebagai terapi adjuvan dalam tata laksana diare akut pada anak.
Fungsi Hati Anak Leukemia Limfoblastik Akut dalam Kemoterapi Fase Induksi berdasarkan Usia dan Status Gizi Anggraini, Syahzalya; Izzah, Amirah Zatil; Anggraini, Fika Tri; Alioes, Yustini; Handayani, Tuti
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.131-6

Abstract

Latar belakang. Kemoterapi merupakan pengobatan utama pada anak leukemia limfoblastik akut (LLA). Kemoterapi fase induksi adalah kemoterapi pertama yang membunuh 95-98% sel leukemik. Pemberian kemoterapi menyebabkan kerusakan hati ditandai dengan peningkatan kadar enzim transaminase dan dapat disertai peningkatan kadar bilirubin. Faktor yang mempengaruhi pengobatan LLA, di antaranya usia dan status gizi.Tujuan. Melihat gambaran kadar enzim transaminase dan bilirubin pada anak LLA berdasarkan usia dan status gizi pada kemoterapi fase induksi.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling pasien anak LLA di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil, Padang, periode September 2022 sampai Agustus 2023. Data demografis, SGOT, SGPT, dan bilirubin total pasien didapatkan melalui rekam medis.Hasil. Penelitian ini mendapatkan sebanyak 49 sampel, dengan mayoritas responden adalah perempuan (53,1%), usia <10 tahun (65,3%) dan status gizi normal (77,6%). Cenderung terjadi peningkatan ringan SGOT (65,3%) dan SGPT (49%) serta kadar normal bilirubin (49%) pada kemoterapi fase induksi. Kadar SGOT dan SGPT cenderung mengalami peningkatan ringan pada semua kelompok status gizi. Pada 4 anak overweight ditemukan peningkatan berat SGOT (25%) dan SGPT (50%). Kadar bilirubin cenderung normal pada setiap status gizi, tetapi meningkat sedang pada overweight (75%). Peningkatan kadar SGOT dan SGPT cenderung ringan pada setiap kelompok usia. Bilirubin meningkat sedang pada anak ?10 tahun (53%).Kesimpulan. Pada umumnya SGOT dan SGPT mengalami peningkatan kadar ringan serta bilirubin dalam kadar normal pada anak LLA selama kemoterapi fase induksi. Peningkatan berat SGOT,SGPT dan bilirubin ditemukan pada overweight dan usia ?10 tahun. 
PROFIL KLINIS DAN BAKTERIOLOGIS INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2017 – 2021 Bari'ah, Puti Asma; Amelin, Fitrisia; Putra, Andani Eka; Izzah, Amirah Zatil; Welan, Rahmani
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 2 No. 5 (2025): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, Mei 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v2i5.1214

Abstract

Urinary Tract Infection (UTI) is the most common bacterial infection in children which is characterized by an increase in bacteria in the urine. The purpose of this study was to determine the clinical and bacteriological profiles of urinary tract infection patients in children at Dr. M. Djamil Padang in 2017-2021. This type of research is descriptive with a total sample method of 52 children with a retrospective approach on patient medical record data and urine culture results. The variables studied included age, gender, nutritional status, urinary tract abnormalities, clinical symptoms, physical examination, supporting examinations, and types of bacteria in pediatric urinary tract infection patients. The results of this study showed that most cases of UTI occurred in children aged 0-1 years (59,2%) with more male cases than females, good nutritional status (56,8%), with the most congenital abnormality in males is phimosis (37,9%). Based on physical examination, it was found that most of the patients did not have a fever (50%). The results of investigations showed that the patient had leukocyturia (61,5%) on urinalysis, leukocytosis (61,5%) on blood scan, cystitis (47.8%) on ultrasound, and nephrolithiasis (33%) on CT scan. Bacterial culture results show that the most common cause of UTIs in boys is Klebsiella pneumoniae (37.9%) and in girls Escherichia coli (87.0%). Based on this study, most results were obtained in the form of uncomplicated UTI. Gram-negative bacteria are the most common type of bacteria that cause UTIs.
Clinical Severity of COVID-19 among Pediatric in Tertiary Level Hospital, West Sumatra Yani, Finny Fitry; Izzah, Amirah Zatil; Alkamdani, Riki; Widoyo, Ratno
Frontiers on Healthcare Research Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63918/fhr.v1.n2.p8-16.2024

Abstract

Background: COVID-19 clinical signs can be different for each pediatric patient. This study aims to systematically evaluate the clinical, laboratory examination, severity of COVID-19 infection of pediatric patients in RSUP Dr. M. Djamil General Hospital. Methods: This is a cohort retrospective study. Data were extracted from the medical records of pediatric patient who received COVID-19 medical treatment between September 2020 to June 2021. The data were presented as frequency, percentage and adjusted odd ratio (aOR). Bivariate and multivariate analysis was done to identify the association. Results: The results showed that from a total sample of 93 patients, the majority of these patients were male (60,2%) and fell within the age groups of 1-5 years (30,1%) and 11-15 years (31,2%). Most pediatric patients presented with a mild severity level of COVID-19. Clinical characteristics, such as consciousness (p=0.014), neurologic deficits (p=0.035), and thoracic abnormalities (p=0.040), showed a significant association with the severity level of COVID-19. There are no significant association between laboratory results and the severity level of COVID-19. Admission to PICU was identified as a protective factor against the mortality of COVID-19 (aOR=0.02) and abdominal abnormalities were identified as a contributing factor to mortality among pediatric COVID-19 cases (aOR=14.44). Conclusions: Clinical characteristics including consciousness, neurologic deficits, and thoracic abnormalities were associated with the severity level of COVID-19. PICU admission and abdominal abnormalities were associated with mortality among pediatric COVID-19 patients.