Anak Agung Putu Putra Wibawa
P.S. Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana

Published : 35 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PENAMBAHAN RAGI TAPE DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMA PRODUKSI BABI LANDRACE Ditama I K. N.; A. A. P. P. Wibawa; D. P. M. A. Candrawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol 10 No 3 (2022): Vol. 10 No. 3 Tahun 2022
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ragi tape terhadap performa produksi babi landrace. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tabanan selama tujuh minggu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari empat perlakuan yaitu P0: Babi landrace yang diberikan ransum tanpa ragi tape sebagai kontrol, P1: Babi landrace yang diberikan ransum ragi tape sebesar 0,1%, P2: Babi landrace yang diberikan ransum dengan ragi tape sebesar 0,2%, P3: Babi landrace yang diberikan ransum dengan ragi tape sebesar 0,3%. Masing-masing perlakuan memiliki empat ulangan. Variabel yang diamati meliputi konsumsi ransum, berat badan akhir, pertambahan berat badan dan Feed Convertion Ratio (FCR). Data dianalisis menggunakan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ransum pemberian ragi tape sebesar 0,1% (P1) berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi dari babi landrace tanpa pemberian ragi tape (P0). Pemberian ragi tape 0,3% (P3) merupakan perlakuan dengan berat badan akhir dan pertambahan berat badan tertinggi dibanding perlakuan lainnya dan secara statistik berbeda nyata (P<0,05). Pemberian ragi tape 0,3% (P3) merupakan perlakuan terbaik dari perlakuan lainnya dan secara statistik bebeda nyata (P<0,05) menurunkan Feed Convertion Ratio (FCR). Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa Pemberian ragi tape yang diberikan pada babi landrace dapat meningkatkan konsumsi ransum pada pemberian ragi tepe sebesar 0,1%, sedangkan pemberian ragi tape sebesar 0,3% dapat meningkatkan berat badan akhir dan pertambahan berat badan. Pada pemberian ragi sebesar 0,3% dapat menurunkan FCR. Kata kunci: Saccharomyces spp. (ragi tape), probiotik, performa produksi, babi landrace
PENGARUH TIPE LANTAI KANDANG DAN KEPADATAN TERNAK TERHADAP TABIAT MAKAN AYAM PEDAGING UMUR 2-6 MINGGU PUSPANI, ENY; NURIYASA, I.M.; WIBAWA, AAP. PUTRA; CANDRAWATI, DPMA.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 11 No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.291 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tipe lantai dan kepadatan ternak yang berbeda terhadap tabiat makan ayam pedaging telah dilaksanakan di Tabanan, Bali. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial 3×3 dalam 3 blok. Faktor pertama adalah tipe lantai kandang yang terdiri dari litter sekam di tanah (L1), lantai slat bambu (L2) dan lantai litter panggung (L3). Faktor kedua adalah kepadatan ternak yang terdiri dari 10 ekor/m2 (P1), 12 ekor/m2 (P2), dan 14 ekor/m2 (P3). Hasil penelitian tabiat makan menunjukkan bahwa frekuensi makan, frekuensi minum, frekuensi istirahat pada L1 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari L2. Lama makan pada L2 lebih lama dari L1 dan L3 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Lama minum pada L3 nyata lebih lama (P<0,05) dari L1 dan L2. Lama istirahat pada L1 nyata lebih lama (P<0,05) dari L2. Lama panting pada L2 nyata lebih sedikit (P<0,05) dari L1 dan L3. Frekuensi makan pada P1 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari P2 dan P3. Frekuensi minum, frekuensi istirahat pada P1 lebih tinggi dari P2 dan P3 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Lama makan pada P1 nyata lebih lama (P<0,05) dari P2 dan P3. Lama minum pada P2 nyata lebih lama (P<0,05) dari P1 dan P3. Lama istirahat dan lama panting pada P3 lebih lama dari P1 dan P2 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara tipe lantai dan kepadatan ternak terhadap tabiat makan, lantai slat bambu dan litter panggung menghasilkan tabiat makan yan lebih baik dibandingkan litter sekam di tanah. Kepadatan ternak 10 ekor/m2 menghasilkan tabiat makan lebih baik daripada 12 ekor/m2 dan 14 ekor/m2. THE EFFECT OF FLOOR TYPE AND BIRDS DENSITY ON FEEDING BEHAVIOUR OF BROILER AGED 2-6 WEEKS ABSTRACT The experiment aimed to study the effect of floor type and birds density on feeding behaviour of broilers. This experiment was carried out at Tabanan, Bali. The experiment used a completely randomized block design (CRBD) with factorial arrangement (3x3) in tree blocks. The first factor was floor type consisted of deep litter in the ground (L1), bamboo slat floor (L2) and litter podium floor (L3). The second factor was birds density consisted of 10 birds/m¬2 (P1), 12 birds/m2 (P2), and 14 birds/m2 (P3). The results of the experiment showed that the frequency of the eating, the drinking, and the resting at L1 were significantly higher (P<0.05) than L2. Time of feeding at L¬2 was longer than L1 and L3 but there were no significant differences (P>0.05). The time for drinking at L3 was significantly longer (P<0.05) than L1 and L¬2 and the time for resting at L1 was significantly longer (P<0.05) than L2 and also time for painting at L2 was significantly shorter (P<0.05) than L1 and L3. The frequencies of feeding at P1 was significantly higher (P<0.05) than P2 and P3. However, there were no significant differences on drinking and resting frequencies (P>0.05). The time feeding of P1 were significantly longer (P<0.05) than P2 and P3 and time for drinking at P2 were significantly longer than P1 and P3. Time for resting and panting at P3 were longer (P<0.05) than P1 and P2, but no significant differences (P>0.05). It was concluded that bamboo slat floor and litter podium make feeding behaviour better than chaff litter in the ground. There were no differences between density of 10 birds/m2, and 14 birds/m2 at bamboo slat floor and litter podium in feeding behaviour of broilers. Kata kunci : kepadatan kandang, tipe lantai kandang, tabiat makan, ayam pedaging
SUPLEMENTASI RAGI DALAM RANSUM YANG MENGANDUNG AMPAS TAHU TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM LOHMANN BROWN Wibawa, A. A. P. Putra; Trisnadewi, A. A. A. Sri; Partama, I. B. Gaga
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 17 No 3 (2014): Vol 17, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.46 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2014.v17.i03.p02

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh spenggunaan 10% ampas tahu yang disuplementasi ragi tape (Saccharomyces spp) dalam ransum terhadap produksi telur ayam Lohmann Brown umur 32-40 minggu. Rancangan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat macam perlakuan dan enam kali ulangan. Tiap ulangan (unit percobaan) menggunakan tiga ekor ayam petelur Lohmann Brown umur 32 minggu dengan berat badan homogen. Ransum yang diberikan pada ayam selama periode penelitian (umur 32-40 minggu) disusun isiprotein (CP: 17%) dan isoenergi (2750 kkal ME/kg). Keempat perlakuan yang dicobakan yaitu ayam yang diberi ransum basal tanpa penggunaan ampas tahu sebagai kontrol (A); ransum dengan penggunaan 10% ampas tahu (B), ransum dengan penggunaan 10% ampas tahu yang disuplementasi 0,20% ragi tape (C); dan ransum dengan penggunaan 10% ampas tahu terfermentasi (D). Ransum dan air minum diberikan ad libitum. Variabel yang diamati, yaitu konsumsi ransum, jumlah telur, hen-day production, berat telur, dan feed conversion ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 10% ampas tahu yang disuplementasi 0,20% ragi tape dalam ransum nyata (P<0,05) dapat meningkatkan produksi telur ayam dibandingkan dengan kontrol. Penggunaan 10% ampas tahu terfermentasi dengan Saccharomyces spp dalam ransum ternyata tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum. Akan tetapi, secara nyata (P<0,05) meningkatkan produksi telur ayam, serta secara nyata (P<0,05) menurunkan jumlah kadar kolesterol telur ayam. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan 10% ampas tahu yang disuplementasi 0,20% ragi tape (Saccharomyces spp.) dalam ransum dapat meningkatkan produksi telur ayam Lohmann Brown umur 32-40 minggu.
RESPONS RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum Schumach) TERHADAP APLIKASI PUPUK UREA, KOTORAN AYAM, DAN KOTORAN SAPI SEBAGAI SUMBER NITROGEN (N) A. A. P., Putra Wibawa; I G. B., Adi Parwata; I W., Wirawan; N. L. G., Sumardani; I W., Suberata
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 17 No 2 (2014): Vol 17, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.137 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2014.v17.i02.p01

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons rumput gajah terhadap pupuk urea, pupuk kotoran ayam, dan pupuk kotoran sapi sebagai sumber nitrogen. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu P0 (tanpa pupuk), P1 (pupuk urea), P2 (pupuk kotoran ayam) dan P3 (pupuk kotoran sapi) dan setiap perlakuan diulang empat kali. Variabel yang diamati terdiri dari tinggi rumput, jumlah anakan, jumlah daun, warna daun, luas daun, berat kering (daun, batang, akar, total rumput), T/R (Top Root) ratio, LSR (Leaf Steam Ratio), LWR (Leaf Weight Ratio), LAR (Leaf Area Ratio), SLA (Spesifik Leaf Area), kadar protein kasar dan serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan dengan pemberian pupuk urea memberikan hasil yang tertinggi secara nyata (P<0,01) pada variabel tinggi rumput, jumlah anakan, jumlah daun, warna daun, luas daun, berat kering (daun, batang, total rumput), T/R ratio, dan kadar protein kasar, sedangkan pada variabel LSR, LWR, LAR, SLA memberikan nilai yang berbeda tidak nyata (P>0,05) di antara semua perlakuan. Disimpulkan bahwa perlakuan pupuk urea memberikan respons yang terbaik pada pertumbuhan, produksi, karakteristik produksi dan kualitas hijauan rumput gajah yang dihasilkan.
PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN POD KAKAO DALAM RANSUM TERHADAP PENAMPILAN ITIK BALI UMUR 2 – 8 MINGGU WARMADEWI, D. A.; WIBAWA, A. A. P. PUTRA; BIDURA, I. G. N. G.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 10 No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.767 KB)

Abstract

RINGKASAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat penggunaan pod kakao dalam ransum terhadap penampilan itik Bali jantan umur 2 – 8 minggu, dan dilakukan di Denpasar, Bali. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan enam kali ulangan. Tiap ulangan menggunakan empat ekor itik Bali jantan umur 2 minggu dengan berat badan homogen. Ransum yang diberikan selama periode penelitian (umur 2 – 8 minggu) disusun dengan kandungan protein kasar 16 % dan energi termetabolis 2900 kkal/kg, sebagai ransum kontrol (A), ransum dengan 10 % pod kakao (B), 20 % pod kakao (C), dan ransum dengan 30 % pod kakao (D). Ransum dan air minum selama penelitian diberikan secara ad libitum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan 10 % pod kakao dalam ransum ternyata tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap berat badan akhir, pertambahan berat badan, dan efisiensi penggunaan ransum jika dibandingkan dengan kontrol. Berat badan akhir, pertambahan berat badan, dan efisiensi pengunaan ransum pada itik perlakuan C dan D menurun secara nyata (P<0,05) jika dibandingkan dengan kontrol (A). Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan 20 % dan 30 % pod kakao dalam ransum nyata menurunkan berat badan akhir, pertambahan berat badan, dan efisiensi penggunaan ransum pada itik Bali jantan umur 2 – 8 minggu. Kata kunci : Pod kakao, pertambahan berat badan, serat kasar, itik Bali THE EFFECT OF COCOA-POD LEVELS IN DIET ON PERFORMANCE OF BALI DUCKS AGED 2 – 8 WEEKS SUMMARY. The research was carried out to study the effect of cocoa-pod levels on performance of male Bali ducks aged 2 – 8 weeks, and at Denpasar, Bali. The research used a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments in six replicates. There were four ducks in each replicates with homogenuous body weight. The experimental diets for the finishing period (aged 2-8 weeks) were formulated to 16 % crude protein and 2900 kkal ME/kg as a control diet (A), diets with 10 % cocoa-pod (B), 30 % cocoa-pod (C), and 30 % cocoa-pod (D), respectively. These diets and drinking water were provided ad libitum during the entire experimental period. Results of this experiment showed that diets with 10 % cocoa-pod did not significantly effect (P>0,05) on final body weight, body weight gains, and feed efficiencies than control. The final body weight, body weight gains, and feed efficiencies of ducks both in treatment C and D decreased significantly different (P<0,05) than control. It was concluded that diets with 20 % and 20 % of cocoa-pod decreased performance of male Bali duck aged 2 - 8 weeks.