Claim Missing Document
Check
Articles

Perkembangan Terkini dalam Painless Labour: Tinjauan Naratif Ganakin, Acuyta; Jonathan, Jeremy; I Made Gede Widnyana
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 1 (2025): JATI April 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i01.p06

Abstract

Pendahuluan: Persalinan merupakan proses fisiologis yang sering kali disertai dengan nyeri hebat, yang dapat menyebabkan stres fisik dan psikologis pada ibu. Manajemen nyeri yang tidak optimal dapat berkontribusi terhadap peningkatan angka morbiditas dan mortalitas ibu serta mempengaruhi kesejahteraan neonatal. Oleh karena itu, pemilihan metode analgesia yang efektif dan aman menjadi perhatian utama dalam praktik obstetri modern.Metode: Tinjauan naratif ini didasarkan pada penelusuran literatur terstruktur dari PubMed, Scopus, ScienceDirect, Cochrane Library, dan Google Scholar. Pencarian menggunakan kombinasi kata kunci seperti "painless labour", "labour analgesia", "obstetric analgesia", "pain management in labour", "epidural analgesia", “non-pharmacological pain relief in labour” dan "neuraxial analgesia". Publikasi dibatasi pada tahun 2018–2022, berbahasa Inggris atau Indonesia. Kriteria inklusi meliputi studi primer peer-reviewed (RCT, kohort, observasional) yang mengevaluasi painless labour atau labour analgesia, serta melaporkan skor nyeri pasca melahirkan, dan kepuasan persalinan.Hasil: Kajian ini adalah untuk mengevaluasi berbagai metode manajemen nyeri persalinan, baik melalui pendekatan farmakologis maupun non-farmakologis, serta menyoroti keunggulan dan keterbatasan masing-masing pendekatan. Metode farmakologis seperti anestesi epidural, analgesia intravena, dan blok saraf telah terbukti efektif dalam mengurangi intensitas nyeri, sementara pendekatan non-farmakologis seperti teknik pernapasan, hidroterapi, akupunktur, dan stimulasi listrik saraf transkutan (TENS) juga memberikan manfaat tambahan dalam meningkatkan kenyamanan ibu selama persalinan. Kajian ini menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam manajemen nyeri persalinan guna memastikan pengalaman persalinan yang lebih aman, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan individual pasien. Kesimpulan: Pemilihan metode yang tepat harus mempertimbangkan kondisi medis ibu, preferensi pasien, serta ketersediaan fasilitas kesehatan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang metode analgesia yang tersedia, diharapkan pelayanan obstetri dapat semakin optimal dalam meningkatkan kualitas persalinan bagi ibu dan bayi.
RENAL RESISTIVE INDEX (RRI) GUIDED BY ULTRASOUND (USG) AS A DIAGNOSTIC PREDICTOR OF ACUTE KIDNEY INJURY IN SEPSIS PATIENTS Satria Pinanditas S; Putu Agus Surya Panji; I Made Gede Widnyana; I Wayan Suranadi; Tjahya Aryasa EM; I Made Agus Kresna Sucandra; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27245

Abstract

This study is an observational analytical study with a cross-sectional design conducted in the intensive care unit of RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah from January 2024 until completion. The study population consisted of patients aged 18-65 years who met the criteria for sepsis diagnosis without chronic kidney disease. Data analysis was performed using SPSS version 26, including descriptive analysis, ROC curve, diagnostic test, and correlation analysis. The mean RRI at 0 hours was ±SB 0.78±0.68 cm/s for the AKI group and ±SB 0.60±0.08 cm/s for the non-AKI group. The mean RRI at 6 hours was ±SB 0.77±0.65 cm/s for the AKI group and ±SB 0.60±0.08 cm/s for the non-AKI group. The cut-off point for RRI at 0 hours was ?0.70 cm/s, with a sensitivity of 84.6%, specificity of 88.9%, accuracy of 86.4%, PPV of 91.7%, and NPV of 80%, with a relative risk of AKI of 4.58 times (95% CI 1.89-11.10; P<0.001). Meanwhile, for RRI at 6 hours, the cut-off point was also ?0.70 cm/s, with a sensitivity of 88.5%, specificity of 88.9%, accuracy of 88.6%, PPV of 92%, NPV of 84.2%, and a relative risk of AKI of 5.83 times (95% CI 2.05-16.56; P<0.001). The correlation coefficient between RRI at 0 hours and serum creatinine was r=0.380, p=0.011, while for RRI at 6 hours, it was r=0.393, p=0.008. RRI at 0 hours showed a correlation with urine production with r=-0.428, p=0.004, while for RRI at 6 hours, it was r=-0.540, p<0.001. In conclusion, RRI guided by ultrasound is a good diagnostic predictor for acute kidney injury in sepsis.
EFFECTIVENESS OF BILATERAL ERECTOR SPINAE PLANE BLOCK VERSUS TRANSVERSUS ABDOMINIS PLANE AS ANALGESIA AFTER GYNECOLOGIC LAPAROTOMY Anak Agung Gde Agung Adistaya; Tjahya Aryasa E M; I Gede Budiarta; I Made Gede Widnyana; I Wayan Aryabiantara; IGAG Utara Hartawan; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27247

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas blok ESP dan TAP terhadap durasi efek analgesik pasca operasi, nyeri pasca operasi, total konsumsi opioid pasca operasi, dan perubahan dalam nilai Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) sebelum dan sesudah operasi laparatomi ginekologi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni (eksperimental sejati). Desain penelitian yang digunakan adalah uji acak tunggal tersamar. Subjek penelitian adalah pasien berusia 18-65 tahun yang menjalani operasi laparatomi ginekologi di ruang operasi Instalasi Bedah Pusat. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS versi 26 termasuk analisis deskriptif dan uji perbandingan rata-rata menggunakan uji t independen. Blok ESP memiliki durasi analgesik yang lebih lama dengan rata-rata 6.13 ± 3.30 jam sedangkan TAP memiliki durasi analgesia sebesar 3.93 ± 1.98 jam, dengan perbedaan rata-rata sebesar 2.18 jam (IK 95% 0.22-4.15 jam; p = 0.030). Terdapat perbedaan pada skala VAS pada 6, 12, 24, dan 48 jam dengan hasil ESP lebih rendah dari TAP. Rata-rata kebutuhan morfin pada blok ESP adalah 1.62 ± 0.71 mg dan kelompok TAP dengan total kebutuhan rata-rata ± SB 3.31 ± 1.74 mg, perbedaan yang diperoleh adalah 1.68 mg (IK95% 0.72-2.64 mg; p = 0.001). Hasil perbedaan nilai perubahan NLR antara sebelum dan sesudah operasi antara blok ESP bilateral dan TAP ditemukan memiliki perbedaan yang signifikan dengan perbedaan rata-rata sebesar 0.36 (IK 95% 0.04-0.69; P=0.029). Kesimpulan dari penelitian ini adalah blok ESP memiliki efektivitas yang lebih baik dibandingkan dengan blok TAP sebagai analgesia setelah operasi laparatomi ginekologi.
THE EFFECTIVENESS OF GREATER AURICULAR NERVE (GAN) BLOCK USING ISOBARIC ROPIVACAINE AS AN ANALGESIC ADJUVANT AS COMPARED TO INTRAVENOUS OPIOID AS ANALGESIA FOR MIDDLE EAR SURGERY Tirta, Ian; Widnyana, I Made Gede; Sinardja, Cynthia Dewi; Putra, Kadek Agus Heryana; Parami, Pontisomaya; Suarjaya, I Putu Pramana; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas Blok Saraf Aurikular Besar menggunakan ropivakain isobarik terhadap jumlah penggunaan opioid selama dan setelah operasi, penilaian hemodinamik, intensitas nyeri, dan penilaian respons mual dan muntah post-operatif. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni (eksperimental sejati). Desain penelitian yang digunakan adalah uji acak terkontrol buta tunggal (RCT). Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 48 pasien berusia di atas 18 tahun hingga 65 tahun yang menjalani operasi telinga bagian tengah-bagian dalam di Rumah Sakit Prof IGNG Ngoerah, Denpasar. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 26 untuk uji t-tidak tergantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fentanyl P1 adalah 77,08 ± 32,90 mg dan P0 adalah 97,92 ± 37,53 mg, p = 0,003. Kebutuhan morfin ditemukan dalam 3 jam, P1 adalah 0,58 ± 0,77 mg dan P0 ditemukan menjadi 1,04 ± 0,69 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin 6 P1 adalah 0,79 ± 0,72 mg dan P0 ditemukan menjadi 2,63 ± 1,27 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin selama 24 jam P1 adalah 1,50 ± 1,14 mg dan P0 ditemukan menjadi 3,92 ± 1,66 mg, p < 0,001. Intensitas nyeri ditemukan lebih rendah pada 3, 6, 12, 18, dan 24 jam pada P1 (p <0,05). Perbaikan hemodinamik > 20% pada P0 ditemukan pada 15, 30, 60, dan 120 menit, sedangkan kelompok P1 ditemukan stabil (p <0,001). Skor mual dan muntah selama 24 jam P1 adalah 1,92 ± 1,01 dan P0 adalah 2,75 ± 1,03, p = 0,007.
THE EFFECTIVENESS OF POSTOPERATIVE PERICAPSULAR NERVE GROUP ANALGESIA BLOCK IN PATIENTS UNDERGOING TOTAL HIP REPLACEMENT WITH REGIONAL ANESTHESIA SUBARACHNOID BLOCK I Gede Prima Julianto; I Made Gede Widnyana; Kadek Agus Heryana Putra; I Ketut Wibawa Nada; I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa; Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27258

Abstract

Penggunaan blok saraf kelompok perikapsular (PENG) dapat menjadi alternatif analgesia post-operatif yang efektif untuk Penggantian Sendi Panggul Total, dengan komplikasi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas analgesia blok PENG terhadap tingkat nyeri, jumlah konsumsi opioid dalam 24, 48, dan 72 jam serta analgesia post-operatif THR di Rumah Sakit Prof. Dr. I. G. N. G. Ngoerah Denpasar. Penelitian ini adalah studi eksperimental dengan desain uji acak terkontrol buta tunggal yang dilakukan di ruang operasi Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Prof. Dr. I. G. N. G Ngoerah, Denpasar. Uji perbandingan rata-rata menggunakan uji Mann-Whitney jika distribusi data tidak normal. Seluruh proses analisis data di atas menggunakan perangkat lunak statistik SPSS 26. Ada 48 subjek yang menjalani THR dan dibagi menjadi 2 kelompok. Ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok-kelompok tersebut. Berdasarkan hasil analisis non-parametrik, NRS saat istirahat dan bergerak di kelompok perlakuan lebih rendah daripada kontrol dengan nilai p <0,001. Jumlah opioid yang diperoleh memiliki nilai p <0,001 dalam 24 jam pertama, 48 jam, dan 72 jam. Durasi efek ditemukan lebih lama pada kelompok PENG dibandingkan dengan kontrol (p <0,001). Pemberian blok PENG selama prosedur THR menghasilkan NRS yang lebih rendah pada 24 jam, penggunaan opioid yang lebih rendah pada 24 jam, 48 jam, dan 72 jam pascaoperatif, dan durasi efek bebas nyeri yang lebih lama.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANALGESIA PASCAOPERASI BLOK SUBKOSTAL TRANSVERSUS ABDOMINIS (STA) DENGAN OPIOID INTRAVENA PADA PASIEN OPERASI LAPAROSKOPI KOLESISTEKTOMI DI RSUP PROF. DR. I.G.N.G. NGOERAH DENPASAR Wardani, Dinar Kusuma; Sidemen, I.G.P.Sukrana; Hartawan , I.G.A.G. Utara; Widnyana, I Made Gede; Parami, Pontisomaya; EM, Tjahya Aryasa; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27260

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedakan efektivitas antara blok STA dengan opioid intravena sebagai analgesia pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar. Penelitian ini merupakan sebuah uji coba prospektif, acak, terkendali dan single-centered. Sebanyak 60 subjek pasien yang menjalani tindakan operasi laparoskopi dibagi menjadi 2 kelompok denganpemberian tindakan STA dan tanpa STA. Analisis data dillakukan dengan bantuan SPSS versi 36 meliputi uji Chi Square, independent t tets dan Mann Whitney. Hasil penelitian bahwa Blok STA pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi memiliki intensitas nyeri dengan NRS pada jam ke 6, 12 dan 24 lebih rendah dibandingkan dengan yang hanya mendapatkan opioid intravena dengan nilai p<0,001. Blok STA memiliki total waktu pemberian analgesik rescue pertama 6,67±2,39 jam dan tanpa STA 1,87±0,81 jam dengan perbedaan 4,80 jam (IK95% 3,87-5,72; p<0,001). Blok STA memiliki jumlah muntah dalam 24 jam dengan rerata 0,50±0,97 kali dan tanpa STA 3,27±1,79 kali dengan perbedaan 2,76 kali (IK95% 2,01-3,51; p<0,001). Blok STA memiliki hasil NLR dengan rerata 2,52±1,71 dan tanpa STA 4,64±2,90 dengan perbedaan 2,12 (IK95% 0,89-3,35; p=0,001). Nilai NLR antara sebelum dan sesudah kelompok STA menurun sebesar 1,27±2,64 sedangkan kelompok tanpa STA meningkat rerata 1,33±1,87 dengan perbedaan 2,61 (IK 1,43-3,80; P<0,001). Tindakan blok STA dapat menurunkan efek nyeri, mual-muntah dan durasi analgetik lebih panjang dengan nilai NLR lebih rendah pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi dibandingkan dengan tanpa STA.
ANESTHESIA MANAGEMENT IN MODIFIED PARK BENCH POSITION IN NEUROSURGERY : A CASE REPORT Wanda, Aprilia; Suarjaya, I Putu Pramana; Widnyana, Made Gede; Sutawan, IB Krisna Jaya; Ryalino, Christopher
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.31222

Abstract

The modified park bench position enhances surgical exposure while minimizing brainstem manipulation but poses significant anesthetic challenges. This case report aimed to describe the author’s anesthesia management in a modified park bench position for neurosurgery. A 39-year-old woman presented with intermittent headaches, nausea, and vomiting for three months, alongside vision deterioration. She denied loss of consciousness, seizures, weight loss, or trauma. Examination revealed typical vital signs, neurological function, and musculoskeletal integrity. Supporting tests showed elevated SGOT levels and a primary malignant brain tumor with suspected hemorrhage and surrounding vasogenic edema. She underwent craniotomy after fasting and standard anesthesia preparation. An arterial line, premedication, and intubation were administered, followed by five-hour surgery in the modified park bench position. Postoperatively, pain was managed with fentanyl, paracetamol, and ibuprofen. She was monitored in the ICU for seven days and discharged on the eighth postoperative day. In summary, managing primary malignant brain tumors like glioblastoma requires thorough preoperative assessment, precise anesthesia planning, and vigilant intraoperative monitoring for patient safety and successful outcomes. The collaborative effort of neurosurgery and anesthesia teams and postoperative care is vital for patient recovery and underscores the importance of comprehensive perioperative management.
Axillary Plexus Block for Anesthesia Management in Patients with Acute Compartment Syndrome after Primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI) Transradial Approach: A Case Report Renaldi; I Made Gede Widnyana; Otniel Adrians Labobar
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 8 No. 2 (2024): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v8i2.917

Abstract

Background: Acute compartment syndrome is a rare complication of the percutaneous Coronary Intervention (PCI) transradial approach but it is very hand-threatening. Treatment for acute compartment syndrome is emergent fasciotomy of the affected compartments to reduce intracompartmental pressure. Axillary plexus block is an excellent choice of anesthesia technique for elbow, forearm, and hand surgery. Case presentation: An 80-year-old, 60 kg, 168 cm man was consulted to our department with a painful swelling on his right upper arm and hand that began three hours after a primary PCI procedure. Previously, the patient had a history of hypertension and diabetes mellitus. The supporting examination results were notable for anemia (Hemoglobin 7,5 g/dL), thrombocytopenia (78 x103/uL), elevated hemostasis function (International Normalized Ratio 1.43), and high blood sugar (360 mg/dL) from echocardiography results anteroseptal and lateral hypokinetic. Before we did block, the patient was given ketamine 10 mcg IV and fentanyl 25 mcg IV for sedation. Axillary plexus block, as a type of regional anesthesia under ultrasound guidance, is a reliable substitute for general anesthesia in high-risk patients, and we do it with a dose of 20 ml of solution (50 mg (10 ml) isobaric bupivacaine 0.5% + 200 mg lidocaine 2% diluted with 20 ml normal saline). During the surgery, the patient was hemodynamically stable. After the operation, the patient was readmitted to the intensive cardiac care unit (ICCU). Conclusion: Axillary plexus block can be an alternative to general anesthesia in patients who will undergo fasciotomy surgery after percutaneous coronary intervention transradial approach with stable hemodynamics during surgery and well-controlled pain after the surgery.
Degree of pain in intravenous injection of propofol with intravenous lidocaine administration; A Literature Review Study Putra, Agung Manik Septiana; Widnyana, I Made Gede
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 4 No. 10 (2024): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v4i10.2021

Abstract

Intravenous propofol injection is widely used for anesthesia induction and sedation, though it often causes discomfort and pain at the injection site, leading to patient anxiety. Lidocaine, a local anesthetic, has been studied for its ability to reduce this pain by inhibiting sodium channels, thereby decreasing neuronal excitability and pain transmission. Research indicates that intravenous lidocaine effectively reduces the occurrence and intensity of pain during propofol injection. This study aims to assess the effectiveness of intravenous lidocaine in minimizing pain related to propofol injection. A literature review was conducted, analyzing studies from 2018 to 2024 obtained from databases such as Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect. Twelve articles meeting the selection criteria were reviewed. The findings consistently show that intravenous lidocaine significantly lowers the pain associated with propofol injection. Additionally, lidocaine use reduced the required propofol dosage and improved patient satisfaction. The studies suggest that administering intravenous lidocaine before or during propofol injection is a practical approach to reducing injection pain. Future research should focus on optimizing the parameters that enhance lidocaine's analgesic effects, ultimately improving patient comfort and satisfaction in procedures involving sedation.
Overview of the Incidence of Post-Sectio Caesaria Back Pain with Spinal Anesthesia: A Literature Review Putra, Agung Manik Septiana; Widnyana, I Made Gede
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 6 (2024): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i6.2551

Abstract

Post-cesarean back pain with spinal anesthesia is one of the most common complications and can affect the patient's quality of life. Although spinal anesthesia is a safe and commonly used option in surgical procedures, the risk of back pain remains, especially if the anesthesia technique is not optimal. This study aims to provide an overview of the incidence of post-cesarean section back pain with spinal anesthesia based on a literature review over the past 10 years. This study is a literature review that reviews 10 scientific journals published in the last 10 years. The focus of this study includes the prevalence of back pain, risk factors, anesthesia techniques, and post-cesarean section back pain management. The results of the review showed that the prevalence of post-cesarean back pain ranged from 30% to 50%, with the main risk factors being age, body mass index, and anesthesia techniques. The use of smaller atraumatic needles and careful anesthesia techniques can reduce the incidence of back pain. Back pain is generally temporary, but in some patients it can develop into chronic pain. Post-cesarean section back pain with spinal anesthesia can be prevented with proper anesthesia techniques and good pain management. A multidisciplinary approach is needed to reduce the prevalence of chronic pain and improve the patient's quality of life.
Co-Authors Adinda Putra Pradhana Agrasidi, Putu Anindya Anak Agung Gde Agung Adistaya Ari Andayani Ariyasa, I Putu Eka Aryasa EM, Tjahya Astuti, Mira Kusuma Bora, Fivilia Anjelina Christopher Ryalino Cynthia Dewi Sinardja Damayanti, Elok Dewi, I Dewa Ayu Mas Shintya Eka Nantha Kusuma, Putu Elisma Nainggolan, Elisma EM, Tjahya Aryasa Emkel Perangin Angin, Emkel Estrada, Ronald Ganakin, Acuyta Gde Agung Senapathi, Tjokorda Gede Semarawima, Gede Hartawan , I.G.A.G. Utara Hartawan, IGAG Utara Hengki Irawan Hengki Irawan Hengky Hengky, Hengky I Dewa Gede Tresna Rismantara, I Dewa Gede Tresna I Gde Raka Widiana I Gede Budiarta I Gede Prima Julianto I Gusti Agung Gede Utara Hartawan I Gusti Ngurah Mahaalit I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa I Ketut Sinardja I Ketut Wibawa Nada I Made Agus Kresna Sucandra I Made Darma Junaedi, I Made I Made Subagiartha I Nyoman Hariyasa Sanjaya I Putu Agus Surya Panji I Wayan Aryabiantara, I Wayan I Wayan Suranadi IB Krisna, IB Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan IGNA Putra Arimbawa, IGNA Putra Jeanne, Bianca Jim Anthonio, Jim Jimmy Wongkar Johanes, Kevin Paul Jonathan, Jeremy Junaedi, I Made Darma Kadek Agus Heryana Putra Kadek Agus Heryana Putra, Kadek Agus Kenzi, Ignatio Armando Ketut Semara Jaya, Ketut Semara Kurnia, Prajnaariayi Prawira Kurniyanta, I Putu Made Adi Kusuma Made Agus Kresna Sucandra, Made Agus Kresna Made Wiryana Madyline Victorya Katipana Marilaeta Cindryani Marilaeta Cindryani Lolobali, Marilaeta Cindryani Marilaeta Cindryani, Marilaeta Mark Christsatya Bolla Mas Shintya Dewi, Dewa Ayu Nada, I Ketut Wibawa Otniel Adrians Labobar Pande Nyoman Kurniasari, Pande Pemayun, Cok Istri Dewiyani Pontisomaya Parami Putra, Agung Manik Septiana Putrawan, I Wayan Eka Putu Agus Surya Panji Putu Herdita Sudiantara, Putu Herdita Putu Kurniyanta Putu Pramana Suarjaya Renaldi Reynaldi Reiky Hadiwijaya Richard Richard Riko Riko Satria Pinanditas S Sidemen, I Gusti Ayu Eka Para Santi Sidemen, I.G.P.Sukrana Sidemen, IGP Sukrana Sonni Soetjipto, Sonni Sri Astuti Srinami Dewi Suastika, I Gede Juli Sutyawan, I Wayan Eka Tanggono, Aninda Tirta, Ian Tjahya Aryasa Tjahya Aryasa E M Tjokorda Gde Agung Senapathi Tjokorda Gde Agung Senapathi Wanda, Aprilia Wardani, Dinar Kusuma Win Muliadi