Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Analysis of Evidence of Witchcraft Crimes Based on the New Indonesian Criminal Code Jeremia Hutagalung; Setiadi, Edi; Yanto, Oksidelfa
Sinergi International Journal of Law Vol. 3 No. 3 (2025): August 2025
Publisher : Yayasan Sinergi Kawula Muda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/law.v3i3.798

Abstract

The pluralistic life of beliefs about spiritual matters in Indonesia is very thick and sensitive, especially the occurrence of criminal acts that are beyond common sense or cannot be proven by scientific criminal investigations, namely criminal acts of black magic perpetrators or victims of black magic which result in violations of human rights (HAM). Belief in religion which is a source of morality and spirituality which is considered as part of a tradition that has never been abandoned by Indonesian society with situations and conditions of high spiritual values makes Indonesian people's belief in God and spirits that live around humans or those that smell mystical or black magic not uncommon in every region with their respective cultural characteristics, for example human rights violations in Banyumas Regency, namely the massacre allegedly carried out by black magic perpetrators with 250 victims. With this belief, it is not uncommon for people in some areas to have or even have the ability to see supernatural things or study black magic, for their own interests. So the question arises as a problem identification, namely 1. How are efforts to prove the crime of black magic according to Law Number 1 of 2023 concerning the Criminal Code? 2. How can the elements of black magic be called a criminal act based on Law Number 1 of 2023 concerning the Criminal Code? The research method used by the author is the normative legal approach method. The normative legal approach is a legal research conducted by examining library materials or secondary data as a basis for research by tracing laws and regulations and literature related to the problems studied by the author.
Criteria of Acts that Can be Classified as Religious Blasphemy Yanto, Oksidelfa
al-'adalah Vol 18 No 2 (2021): Al-'Adalah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/adalah.v18i2.7740

Abstract

This study discusses the criteria for actions that can be classified as acts of religious blasphemy. The aim is to find out in-depth the types of actions that can be classified as criminal acts of blasphemy, as well as legal provisions and sanctions against perpetrators who intentionally commit such acts. This research is descriptive qualitative using a normative juridical approach. To obtain data in viewing the issues discussed, the authors use normative juridical research methods through library research using secondary data. The results of the study show that the acts of religious blasphemy include all kinds of slanderous actions aimed directly at the religion professed, either orally or in writing, regardless of whether it will endanger public order or not, with the aim that people do not adhere to a particular religion. In the realm of criminal law, the case of blasphemy is a form of a pure criminal event whose perpetrators can be given legal sanctions. The legal sanctions for perpetrators according to the Criminal Code can be sentenced to 5 (five) years in prison
Status of Nullity by Law the Agreement Due to Standard Clauses in the Consumer Protection Law Sibagariang, Rudini; Yanto, Oksidelfa; Runaeni, Neni
Sinergi International Journal of Law Vol. 3 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Yayasan Sinergi Kawula Muda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/law.v3i4.803

Abstract

Current legal issues greatly affect several aspects in the field of business law which often not infrequently end in civil lawsuits in court, although it has been clearly regulated in the Consumer Protection Law regarding several things that may be agreed upon in a contract, however, business actors often also ignore the rules that are prohibited from being made in the agreement, such as applying standard clauses which in the legal norms of the standard clauses in the Consumer Protection Law such things are not permitted, so that the situation becomes null and void, which in which such a situation can harm not only consumers but can also have an impact on the business actors themselves, in daily practice of course such things must be a serious concern not only in the field of business or business but in all aspects related to the law, especially those agreed upon in an agreement, because an agreement requires several provisions that cannot be simply ignored, although sometimes it seems that the existing agreement arises from existing problems, not actually prepared before a dispute occurs, because apart from the agreement being prepared to minimize more complicated disputes, it is also expected that there is good ethics in the implementation and obedience to follow what is it has been agreed that both individual subjects and legal entities such as companies are parties to an agreement.
SOSIALISASI KEKAYAAN INTELEKTUAL GUNA MENUMBUHKEMBANGKAN USAHA DALAM RANGKA MENGHADAPI PERSAINGAN GLOBAL PADA REVOLUSI 4.0 Yanto, Oksidelfa; Susanto, Susanto; Nugroho, Agung; Santoso, Bambang; Gueci, Rizal S
Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 2 (2020): Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/al-jpkm.v1i2.4976

Abstract

The purpose of the implementation of Community Service entitled "The Socialization of Intellectual Property to Grow Businesses in the Context of Facing Global Competition in the Revolution 4.0" is as an effort to fulfill the obligations of the Higher Education Tri Dharma namely Community Service to be carried out at Bandung Lembang Floating Market on 19 October 2019 up to October 21, 2019. Based on the above, community service activities by providing information and or additional knowledge regarding Intellectual Property Rights. The method used in Community Service is in the form of counseling on the understanding of IPR and the importance of IPR for the business world. The types of IPR are also explained in detail. The Community Service Results obtained are the understanding and desire of PKM objects to administer and register IPR in the interests of their business.
URGENSI PEMAHAMAN ANTI KORUPSI SECARA DINI BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SASMITA JAYA Yanto, Oksidelfa; Susanto, Susanto; Darusman, Yoyon M.; Iqbal, Muhamad; Indriani, Iin
Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 (2021): Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/al-jpkm.v2i1.8771

Abstract

Urgensi pemahaman antikorupsi dilingkungan Sekolah dalam hal ini yang dilakukan oleh Tim PKM Magister Hukum lakukan pada SMK Sasmita Jaya sebenarnya sudah menjadi bagian dari rencana dan implementasi pemahaman nasional sebagaimana dinyatakan dalam peraturan menteri pemahaman nasional (Permendiknas) No.22 dan No. 23 Th.2006 tentang standar isi dan Standar kompetensi lulusan untuk satuan pemahaman dasar dan menengah. Metode pelaksanaan pengabdian ini dilakukan dalam beberapa kegiatan yaitu tahap pertama survei yaitu sosialisasi dilakukan dengan menyusun berbagai hal yang akan disampaikan pada saat kegiatan pengabdian. Pemahaman anti korupsi adalah program pemahaman tentang korupsi yang bertujuan untuk membangun dan meningkatkan kepedulian warganegara terhadap bahaya dan akibat dari tindakan korupsi. tujuan utama dari Tim PKM Magister Hukum pada Siswa/i SMK Sasmita Jaya yakni: (1) pembentukan pengetahuan dan pemahaman mengenai bentuk korupsi dan aspekaspeknya; (2) pengubahan persepsi dan sikap terhadap korupsi; dan (3) pembentukan keterampilan dan kecakapan baru yang ditujukan untuk melawan korupsi.Pemahaman antikorupsi menghendaki sikapsikap seperti ini perlu untuk dirubah agar sesuai dengan nilai-nilai dasar antikorupsi. Untuk itu diperlukan pola dan strategi perubahan sikap yang bisa dipakai dari berbagai sumber misalnya untuk membentuk persepsi tentang korupsi yang berlawanan dengan persepsi yang dimiliki siswa dapat dilakukan dengan menyajikan informasi secara tak terduga melaui permainan atau parodi. Perilaku manusia dalam menanggapi pelanggaran moral atau konvensi juga berbeda. Jika mereka melanggar prinsip moral mereka minta maaf atau mencoba mencari pembenaran atau alasan dari tindakan mereka itu, tetapi prinsip moral itu sendiri tidaklah dipertanyakan. Sementara kalau mereka melanggar konvensi maka mereka akan mengkritisi sumber norma tersebut. Karena itu manusia tahu secara instingtif mana yang moralitas dan mana yang konfensi. Terdapat sembilan nilai dasar yang perlu ditanamkan dan diperkuat, Dalam upaya memahami upaya anti korupsi pada generasi muda terutama pada tingkat siswa/I SMK Sasmta Jaya melalui Pemahaman antikorupsi sebaiknya memperhatikan perbedaan antara moralitas dengan konvensi.
BIMBINGAN TEKNIS PEMBUATAN PERATURAN DESA DI DESA PEDESLOHOR, KECAMATAN ADIWERNA, KABUPATEN TEGAL, JAWA TENGAH Susanto, Susanto; Darusman, Yoyon M.; Maddinsyah, Ali; Isnaeni, Belly; Yanto, Oksidelfa
Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 1 (2021): Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/al-jpkm.v2i1.8790

Abstract

Peraturan Desa ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa merupakan kerangka hukum dan kebijakan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan Pembangunan Desa. Penetapan Peraturan Desa merupakan penjabaran atas berbagai kewenangan yang dimiliki Desa mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Sehingga sebagai sebuah produk hukum, Peraturan Desa tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi dan tidak boleh merugikan kepentingan umum. Salah satu daru alasan di buatnya Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah pengakuan bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat dan berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Hal ini disebabkan karena dengan diakuinya desa sebagai sebuah daerah otonom menjadikan desa memiliki peran utama dalam mengelola, memberdayakan dan memajukan sumber daya yang tersedia, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Sehingga pada akhirnya mampu menggerakkan roda pembangunan yang harus diiringi kesadaran akan pemahaman spirit otonomi bagi seluruh penggerak warga desa dan kapasitas perangkat juga masyarakat dalam memahami tata kelola pemerintahan. Kelembagaan Desa/Desa Adat, yaitu lembaga Pemerintahan Desa/Desa Adat yang terdiri atas Pemerintah Desa/Desa Adat dan Badan Permusyawaratan Desa/Desa Adat, Lembaga Kemasyarakatan Desa, dan lembaga adat. Kepala Desa/Desa Adat atau yang disebut dengan nama lain merupakan kepala Pemerintahan Desa/Desa Adat yang memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Kepala Desa/Desa Adat atau yang disebut dengan nama lain mempunyai peran penting dalam kedudukannya sebagai kepanjangan tangan negara yang dekat dengan masyarakat dan sebagai pemimpin masyarakat. Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan visi dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang terdiri dari pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Sebagai upaya untuk mewujudkan visi tersebut, Program studi Magister Hukum Universitas Pamulang dengan melibatkan Dosen dan para Mahasiswa telah mengadakan Pengabdian Masyarakat dalam bentuk memberikan Bimbingan teknis kepada kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa Pedeslohor, Kecamatan Adiwerna dalam penyusunan Peraturan desa yang akan dilakukan di desa Pedeslohor, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal.
SISTEM PEMIDANAAN DALAM TINDAK PIDANA PERZINAHAN BERDASARKAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA NOMOR 1 TAHUN 1946 Insani, Nursolihi; Oktaviyanti, Ary; Yanto, Oksidelfa
Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2023): Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/abdilaksana.v4i2.30952

Abstract

Perzinahan adalah suatu perbuatan yang melanggar norma didalam masyarakat dan juga  dilarang didalam KUHP jika perzinahan dilakukan dalam suatu hubungan perkawinan. didalam pembaharuan hukum pidana Indonesia yang sudah mengalami perubahan, diharapkan dapat mengatasi kelemahan aturan pidana mengenai delik perzinahan karena delik perzinahan merupakan salah satu contoh aktual adanya benturan antara pengertian dan paham tentang zina dalam KUHP Pasal 284 dengan kepentingan atau nilai sosial masyarakat. Permasalahan yang sering terjadi di masyarakat adalah karena perzinahan dianggap merupakan suatu perbuatan tercela yang melanggar norma didalam masyatakat  yang dapat dilakukan oleh pria maupun wanita didalam suatu ikatan perkawinan. tindak pidana perzinahan yang dimaksud dalam Pasal 284 KUHP ayat (1) KUHP itu merupakan suatu tindak pidana yang harus dilakukan dengan sengaja. Ini berarti bahwa unsur kesengajaan itu harus terbukti pada si pelaku agar ia dapat terbukti sengaja dalam melakukan salah satu tindak pidana perzinahan dari tindak pidana-tindak pidana perzinahan yang diatur dalam Pasal 284 ayat (1) KUHP.Oleh karena itu, semenjak konsep KUHP dikeluarkan pada tahun 1946, aturan delik perzinahan mengalami perubahan , ketentuan hukum pidana Indonesia (KUHP) mengenai delik perzinahan memiliki pengertian yang berbeda dengan konsepsi yang diberikan masyarakat. Menurut KUHP, zinah diidentikkan dengan overspel yang pengertiannya jauh lebih sempit dari pada zinah itu sendiri. Overspel hanya dapat terjadi jika salah satu pelaku atau kedua pelaku telah terikat tali perkawinan. Hal ini berbeda dengan konsepsi masyarakat Indonesia yang komunal dan religius. Setiap bentuk perzinahan, baik telah terikat tali perkawinan maupun belum, merupakan perbuatan tabu yang melanggar nilai nilai kesusilaan. Dalam pelanggaran hukum yang terjadi secara umum selalu melibatkan dua pihak yaitu pelaku kejahatan dan korban dari kejahatan itu. Ketentuan hukum pidana Indonesia (KUHP) mengenai delik perzinaan diatur dalam Pasal 284 KUHP yaitu hubungan seksual atau persetubuhan diluar perkawinan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan yang kedua-duanya atau salah satunya masih terikat dalam perkawinan, Serta suatu tindakan perzinaan tersebut hanya akan mendapatkan tindakan hukum apabila adanya suatu pengaduan dari suami atau istri dari salah satu atau kedua orang dari pasangan Agar tidak terjadi perzinahanan didalam suatu ikatan perkawinan diperlukan suatu  penegakan hukum pidana di Indonesia karena perzinahan merupakan suatu tindak kejahatan yang dapat merusaksuatu hubungan ikatan perkawinan.Kata Kunci : perzinahan, tindak pidana, kejahatan
The Implementation of The Restorative Justice System in the New Indonesian Criminal Law Imanuddin, Iman; Darusman, Yoyon Mulyana; Yanto, Oksidelfa
Sinergi International Journal of Law Vol. 3 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Yayasan Sinergi Kawula Muda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/law.v3i4.836

Abstract

The regulations of Indonesian criminal law are inherited from Dutch colonial legislation that was incorporated into the Indonesian national legal framework through Article 2 of the transitional provisions of the 1945 Constitution, than officially was established in Law no. 1 of 1945 pertaining to Criminal Law after the independence proclamation. When it was established, the Indonesian penal system was a criminal law intended to offer a punishment and generate a deterrent effect on offenders of criminal activities. As time progresses, with swift societal changes and advancements in information technology, there is a public inclination towards adopting a criminal law system focused on retribution and creating a deterrent effect on offenders that could contemplate utilizing a diversion or restorative justice model. This study employs a socio-legal method utilizing secondary data by analyzing all laws and regulations pertinent to the research. The findings of this study indicate that the government, in reference to Law No. 1 of 2023 on New Criminal Law, has aimed to align with community expectations by releasing policies in the form of regulations from multiple law enforcement bodies to facilitate diversion or restorative justice.
The Influence of Social Media on Public Perception of Crime and Law Enforcement Kartono; Yanto, Oksidelfa; Salim, Agus
International Journal of Law Social Sciences and Management Vol. 2 No. 4 (2025): International Journal of Law Social Sciences and Management
Publisher : Yayasan Meira Visi Persada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69726/ijlssm.v2i4.204

Abstract

This research examines the influence of social media on public perception of crime and law enforcement in the urban communities of Jakarta and South Tangerang. The aim is to analyse how social media shapes the narrative of crime, trust in law enforcement, and public views on legal policies. The method used is qualitative phenomenology with data collection techniques including in-depth interviews, participant observation, and digital document analysis. Data were analysed using the Miles and Huberman model. The research findings indicate that social media plays a significant role in shaping biassed perceptions, creating "collective anxiety," and triggering public pressure on law enforcement agencies based on the logic of virality. In conclusion, social media has transformed into a powerful space for information circulation as well as a tool for social control, making it necessary to optimise its use in legal communication strategies to enhance transparency and public participation.
PERANAN HAKIM DALAM PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA NARKOBA MELALUI PUTUSAN YANG BERKEADILAN Yanto, Oksidelfa
Jurnal Hukum dan Peradilan Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Pusat Strategi Kebijakan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25216/jhp.6.2.2017.259-278

Abstract

Indonesia is the fourth largest country in the capacity of the population number in the world. As the country with the largest population, various problems often plague the nation of Indonesia. One such problem is the problem of law enforcement and narcotics and drugs cases. Up to now Indonesia is confronted with drug trafficking that is very alarming. Drug crimes are so uncontrolled in social life. It is undeniable that narcotics have been threatening the future of the nation. There have been already many victims even until some of them dies. Drug abuse has reached very dangerous phase. There is no other way, government and officials must immediately take a serious and earnest step. It is a pity that the nation's children must always be the victims of drug distribution by the syndicate. Laws must be enforced as fairly as possible. Because the law is the supreme commander that must not be defeated by anything.Keywords: role of the judge, crime, drugs