Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

MEMPERDALAM KHUSYU' DI SETIAP RAKAAT: PELATIHAN GERAKAN DAN BACAAN SHOLAT BAGI SANTRI TPQ NURUL IMAN SUMBAWA Hermansyah, David; Yaqin, Husnul; Annisa; Kamula, Ega Ade; Harimansyah, Reza; Syaharuddin
Jurnal Abdi Insani Vol 11 No 1 (2024): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v11i1.1361

Abstract

Sholat memiliki peran penting dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun masih banyak ditemui para siswa secara umum dan santri secara khusus belum bisa melakukan peragaan sholat secara benar dan tepat. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menyelenggarakan pelatihan peragaan gerakan dan bacaan sholat bagi santri di TPQ Nurul Iman Sumbawa. Dalam upaya mencapai tujuan ini, kegiatan pelatihan dan pendampingan dilakukan secara holistik, mencakup penyampaian materi, sesi praktik, serta proses evaluasi. Partisipan dalam kegiatan ini melibatkan 27 orang santri dari TPQ tersebut. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terdapat pencapaian yang positif dalam pelaksanaan takbir dan Al-Fatihah dengan nilai rata-rata mencapai 100%. Namun, terdapat tingkat pencapaian yang relatif rendah dalam pelaksanaan bacaan Tasyahud dengan nilai rata-rata sebesar 51%. Hasil dari pengabdian ini memberikan gambaran tentang aspek-aspek yang berhasil dan tantangan yang dihadapi dalam praktik sholat di lingkungan TPQ Nurul Iman Sumbawa. Informasi ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan strategi lebih lanjut guna meningkatkan pemahaman dan pelaksanaan sholat yang konsisten dan tepat sesuai dengan ajaran agama Islam, guna manfaat bersama bagi masyarakat setempat.
UPAYA GURU DALAM MENGATASI KEJENUHAN PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP AL-IHSAN YAPIS KOTARAJA Irianto, Ilham; Firdaus, Muh. Anang; Yaqin, Husnul
Borneo : Journal of Islamic Studies Vol. 4 No. 1 (2023): BORNEO: Journal of Islamic Studies
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/borneo.v4i1.2281

Abstract

Some of the problems underlying the learning saturation experienced by students at SMP Al-Ihsan Yapis Kotaraja Such as the discomfort in the room, the teacher's lack of interest in teaching, and the material being given, which is not enjoyable. This problem cannot be overcome if it is only limited to the way of teaching that is evaluated but must also pay attention to the atmosphere remaining conducive and attracting student learning interest. This research is a qualitative descriptive study with a phenomenological approach. The data collection method uses observation, interviews, and documentation from PAI teachers, school principals, and two students. The results of this study indicate that in order to overcome the saturation of the PAI learning process, the school works together between PAI subject teachers and homeroom teachers at Al-Ihsan Middle School to provide examples of religious values and create an interesting learning atmosphere such as games or competition so they don't get bored with learning PAI.
Implementasi Kebiijakan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) di Kalimantan Selatan Yaqin, Husnul; Norlaila, Norlaila
el Buhuth: Borneo Journal of Islamic Studies el Buhuth: Borneo Journal of Islamic Studies, 6(1), 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Center for Research and Community Services), Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/el-buhuth.v6i1.7204

Abstract

Pendidikan Diniyah formal (PDF) merupakan Lembaga Pendidikan Islam formal yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah. Di satu sisi, Lembaga Pendidikan ini diakui oleh pemerintah dan disetarakan dengan pendidikan formal lainnya seperti SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/MAK/SMK, sehingga lulusannya mempunyai akses untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, lulusannya juga berhak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jenjang pendidikan yang diikutinya. Di sisi lain masih terdapat beberapa masalah yang nampaknya tidak sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Berangkat dari isu di atas menarik untuk diteliti dan digambarkan bagaimana implementasi kebijakan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) yang mencakup bidang kurikulum dan pembelajaran; pendidik dan tenaga kependidikan; sarana, prasarana dan pembiayaan; pembinaan dan monitoring; dan capaian serta kendala yang dihadapi. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan untuk menggali bagaimana implementasi kebijakan Pendidikan Diniyah Formal di Kalimantan Selatan dengan analisis deskriptif kualitatif. Sedangkan untuk pengumpulan data dilakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di 12 lembaga Pendidikan Diniyah Formal (PDF) di Kalimantan Selatan; yaitu di Kota Banjarmasin berjumlah 2 buah, di Kabupaten Tapin berjumlah 2 buah, di Kabupaten HSU berjumlah 6 buah, dan di Kabupaten Tanah Laut berjumlah 2 buah. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Secara garis besar implementasi kebijakan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) di Kalimantan Selatan terkait dengan kurikulum dan pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana, prasarana dan pembiayaan, serta pembinaan dan monitoring sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku, baik Undang Undang Republik Indonesia, Peratuturan Presiden Republik Indonesia, Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia, maupun Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama; (2) Dalam bidang kurikulum, PDF di Kalimantan Selatan telah menerapkan ketentuan kurikulum yang memuat mata pelajaran agama, mata pelajaran umum, dan muatan lokal. Ketentuan kurikulum yang diterapkan ini menjadikan PDF diakui dan setara dengan MI/SD, MTs/SMP, dan MA/MAK/SMA/SMK. Dalam praktiknya buku rujukan yang diajarkan kepada santri sebagian besar mengacu kepada buku rujukan yang direkomendasi oleh Kementerian Agama dan sebagiannya lagi buku rujukan yang memang sudah biasa digunakan oleh Pondok Pesantrten Salafiyah penyelenggara PDF; (3) Dalam bidang pendidik dan tenaga kependidikan, PDF di Kalimantan Selatan belum sepenuhnya bisa mengikuti ketentuan perundang-undangan yang berlaku khususnya terkait dengan kualifikasi akademik ustadz/ustadzah yang mengharuskan berpendidikan Strata Satu (S-1). Sedangkan kualifikasi akademik yang mensyaratkan alumni pondok pesantren sudah bisa dipenuhi oleh PDF. Sementara itu pemenuhahn tenaga kependidikan yang tidak mengharuskan berpendidikan S1 sudah bisa dipenuhi oleh PDF; (4) Dalam bidang sarana dan prasarana, PDF di Kalimantan Selatan sudah memenuhi ketentuan perundang undangan yang berlaku, seperti ruang belajar, mushalla/masjid, tempat praktik ibadah, dan asrama tempat santri praktik berkehidupan. Hanya saja kapasitas sebagian asrama PDF tidak berbanding lurus dengan jumlah santri yang belajar, sehingga sebagian santri harus tinggal di luar asrama. Sementara itu dalam aspek pembiayaan, PDF di Kalimantan Selatan juga mengikuti ketentuan yang berlaku dalam perundang undangan, baik aspek pemasukan maupun aspek pengeluaran dan pertanggungjawaban; (5) Dalam aspek pembinaan dan monitoring terhadap pelaksanaan Pendidikan Diniyah Formal di Kalimantan Selatan, kebijakan yang dituangkan dalam perundang undangan sudah dilakulan dengan memberdayakan majelis masyaikh dan dewan masyaikh di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam pada level pusat dan Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam (PAPKIS) Kantor Kementerian Agama Kalimantan Selatan pada level provinsi, serta Kepala Seksi Pondok Pesantren dan Ma’had Aly pada level Kantor Kementerian Agama Kota/Kabupaten; dan (6) Penerapan kebijakan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) di Kalimantan Selatan berdampak terhadap terbukanya akses santri mendapatkan kesempatan yang sama dengan lulusan lembaga Pendidikan formal lainnya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi baik dalam maupun luar negeri, dan berhak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan tingkat/jenjang pendidikannya. Sementara itu kendala yang dihadapi PDF lebih terkait dengan pemenuhan ustadz/ustadzhnya yang berpendidikan minilmal Strata Satu (S-1) sesuai dengan yang disyaratkan oleh Undang Undang. Kendala lainnya adalah pemenuhan asrama santri yang terus bertambah dan memerlukan dana yang tidak sedikit.
Description and Analysis of Madrasah Diniyah in Southern Kalimantan Yaqin, Husnul; Norlaila, Norlaila
International Journal of Education and Digital Learning (IJEDL) Vol. 2 No. 3 (2024): International Journal of Education and Digital Learning (IJEDL)
Publisher : Lafadz Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/ijedl.v2i3.105

Abstract

One of Islamic educational institutions that still exists and is acknowledged by the community and the government is Madrasah Diniyah (Islamic School) which, in the past period, was recognized as Arabic School. This institution has been strengthened by the government regulation of the Republic of Indonesia, Number 55/2007 about Religion Education and Religious Education. In line with the rapid growth of educational institutions in Indonesia in the last decade, it is important to look at the existance and the role of Madrasah Diniyah as well as its contributions in developing Indonesian Human Resource. In particular, this article is intended to have a look at its existence in the area of curriculum, teaching-learning process, and management. By using qualitative approach, 20 Madrasah Diniyahs were researched spreading in 4 regions in South Kalimantan, namely Barito Kuala, Banjar, Tanah Laut, and Hulu Sungai Tengah. The research findings indicate that the curriculum of Madrasah Diniyah in South Kalimantan varies, consisting of 1) The curriculum is in accordance with the curriculum policy of Department of Religious Affairs; 2) Adopting the curriculum of Religious Affairs Department and, at the same time, adopting essential Islamic knowledge written in Islamic-Arabic books (Malay Arab); 3) The curriculum developed by Madrasah Diniyah itself. In the context of teaching and learning process, it is conducted classically with simple media and various methods, using standard books used at Pondok Pesantren. In the context of management, Madrasah Diniyah is simply managed and still needs good administration.
Beyond Compliance: The Strategic Role of Organizational Citizenship Behavior in Managing Workplace Conflicts within Faith-Based Educational Institutions Wahyudin, Wahyudin; Riinawati, Riinawati; Fuad Rasyid, Muhammad Zakiyyul; Suriagiri, Suriagiri; Yaqin, Husnul
Kharisma: Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Progressive Islamic Education
Publisher : Perkumpulan Dosen Tarbiyah Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59373/kharisma.v4i2.112

Abstract

This study examines the role of Organisational Citizenship Behaviour (OCB) in resolving conflicts within an Islamic educational setting. Conflicts are an inevitable aspect of collective life; yet, their management reflects the maturity and solidarity of an organisation. The research aims to identify and describe how OCB contributes to effective conflict management in maintaining organisational harmony. Using a qualitative case study design, data were collected through purposive and snowball sampling, with observations, interviews, and document analysis. The data were analysed using an inductive conceptualisation approach to capture patterns emerging from participants’ experiences. The findings reveal that conflicts within the institution are generally situational and temporary, and do not escalate into latent disputes. The existence of organisational forums, a tradition of deliberation, and the strong leadership role of spiritual figures ensure that conflict management operates effectively. Furthermore, collective solidarity is reinforced through cooperative problem-solving and mutual agreements. OCB—manifested through sincerity, humility, loyalty, and faith in spiritual rewards—serves as social capital in preserving social equilibrium. The integration of spirituality-based OCB and deliberation-oriented conflict resolution fosters a resilient and adaptive organisational culture. These findings suggest that cultivating spirituality-driven OCB can transform conflict from a disruptive force into a constructive process of social learning and institutional strengthening.