Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

KEABSAHAN PERCERAIAN YANG DILAKUKAN DENGAN PESAN MELALUI MEDIA TELEPON Yaqin, Husnul
Mimbar Keadilan Vol 12 No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Faculty of Law, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/mk.v12i2.2384

Abstract

Perkembangan Teknologi informasi (TI) abad XXI sangat pesat dan menduduki lini kehidupan. Terutama dalam komunikasi yang berbasis kemudahan dalam melakukan hubungan seseorang secara langsung. Konteks dalam Hukum Islam ini yang bersifat universal (umum), sehingga dengan kaidah ushul fikih itu sendiri, bahwa hukum tersebut akan berubah dengan perubahan zaman dan perubahan tempat. Permasalahannya, hukum positif di Indonesia sekarang ini belum mengatur spesifik kaidah perkawinan yang melalui alur telekomunikasi, dalam praktek perkawinan yang berlaku di dalam masyarakat, banyak bermunculan hal baru bersifat ijtihad, karena dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 tentang ketentuannya dalam Kompilasi Hukum Islam tidak ada aturan yang khusus untuk mengatur hal tersebut. Kasus-kasus perceraian dewasa ini sudah menjadi fenomena sosial yang menggejala dalam masyarakat. Bahkan tingkat perceraian mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Adanya dominasi suami terhadap istri dalam hal thalak sangat kuat dan istri seakan menjadi pihak yang lemah, menjadikan sebuah perceraian (thalak) sebagai suatu fenomena yang wajar dan dapat dilakukan dengan mudah. Lebih lanjut sering dengan perkembangan teknologi komunikasi pada saat ini, ada satu persoalan yang muncul dalam masalah ini, yaitu ucapan thalak tersebut tidak diikrarkan secara langsung oleh suami kepada istri, tetapi hanya gadget seperti melalui SMS atau Email dan semacamnya. Dari perkembangan teknologi yang begitu pesat guna membantu dan mempermudah berbagai urusan komunikasi sesama manusia, sampai kemudian masuk ke masalah perkawinan dengan alasan yang cukup signifikan, tentunya permasalahan ini memerlukan payung hukum yang tegas guna mengatur dengan melihat aspek masalah dan mencari solusinya.
LEXICAL RELATION ANALYSIS REFERRING TO MUSLIMS ON DONALD TRUMP’S SPEECH; BAN ALL MUSLIMS TRAVEL TO UNITED STATES OF AMERICA YAQIN, HUSNUL
LANGUAGE HORIZON Vol 6, No 1 (2018): Volume 6 tahun 2018
Publisher : LANGUAGE HORIZON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research reviews Donald Trump?s dictions which refer to Muslims in his campaign speech. He keeps arguing that terrorism attacks in America are mostly performed by Muslims which leads to be one of his campaign concerns on banning Muslims travel to America. It becomes issue of debate over the world since the policy program hits sentimental field. Thus, knowing how the tight-loose expression level of them turns to be the interest of this study. The study focuses on semantic relation theory by Riemer and uses qualitative method to reveal the goal. There are various lexical relation terms arise over Donald Trump?s dictions to refer Muslims. They provide variant meanings which can be variation terms to use by speaker. Those terms come over four lexical relations, Antonym, Synonym, Meronym and Hyponym. Donald Trump tended to use tighter meaning words to address Muslims. Hyponymy covers more semantic components than others on componential analysis which indicates looser meaning among others. While in turn, Donald Trump should not use antonymy form to avoid misunderstanding on his audiences. It also indicates tighter meaning since it mostly does not cover any component.
Education Management in the Qur'an Perspective Husnul Yaqin; Hasni Noor
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 5, No 1 (2022): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i1.3959

Abstract

This study aims to determine the management of education from the perspective of the Qur'an. This study uses a qualitative method with a literature study approach. The result of this research is that management is a process of utilizing all resources through other people and working with them. The process is in order to achieve common goals effectively, efficiently, and productively. The principles of educational management according to the Qur'an include sincerity, honesty, trustworthiness, fairness, responsibility, dynamic, practical, flexible, selective, effective and efficient, open, cooperative and participatory, giving warnings, giving instructions and directions. The conclusion of this research is henceforth, management functions like planning, organizing, mobilizing, and supervising. This function is a process that must be carried out by all parties involved in an organization. These functions will determine the success or failure of management performance.
Inovasi dan Difusi Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Manajemen Pendidikan Islam Safitri, Syaumi; Cahyadi, Ani; Yaqin, Husnul
Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Al-Madrasah Vol. 7, No. 4 (Oktober 2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (SIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v7i4.2678

Abstract

Penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengembangan manajemen Pendidikan Islam agaknya dapat diidentikkan dengan penerapan teknologi informasi dan komunikasi di bidang pendidikan, yaitu dalam pembelajaran pendidikan Islam. Ruang lingkup teknologi pendidikan, di antaranya adalah desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, penilaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana inovasi dan difusi pemanfaatan teknologi informasi dalam manajemen pendidikan Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi pustaka. Bentuk inovasi pemanfaatan teknologi informasi dalam manajemen pendidikan islam ialah Ujian Nasional Berbasis Komputer, Pemanfaatan konsep e-madrasah, Pengembangan SDM, Media Pembelajaran, Peningkatan kinerja lembaga, Layanan akademik, Penyebaran informasi lembaga dan lainnya. Untuk dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam memperbaiki mutu pendidikan Islam, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru; harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru; guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik.
Implementasi Manajemen Pembiayaan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar Islam Al Firdaus Banjarmasin Fahlupi, Muhammad Rizka; Yaqin, Husnul; Salabi, Ahmad
ALACRITY : Journal of Education Volume 4 Issue 2 Juni 2024
Publisher : LPPPI Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52121/alacrity.v4i2.269

Abstract

Implementasi manajemen keuangan memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Firdaus Banjarmasin. Manajemen keuangan yang efektif dapat memberikan dampak positif terhadap kualitas pendidikan dengan cara mengoptimalkan pengelolaan sumber daya keuangan, sehingga dapat meningkatkan akses, kualitas, dan relevansi pendidikan yang diberikan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi manajemen keuangan yang diterapkan di sekolah tersebut untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Melalui pendekatan studi kasus di SDIT Al Firdaus Banjarmasin, penelitian ini menggali lebih dalam tentang perencanaan dan pelaksanaan manajemen keuangan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk memahami pentingnya strategi manajemen keuangan dalam konteks pendidikan, khususnya dalam lingkungan SDIT Al Firdaus Banjarmasin. Proses penganggaran dipandu oleh skala prioritas yang terdiri dari empat tingkatan, yaitu mendesak dan penting, penting tapi tidak mendesak, tidak penting tapi mendesak, dan tidak penting dan tidak mendesak. Skala ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara efektif dan efisien. Prinsip keadilan, transparansi, dan kehati-hatian dalam manajemen keuangan ditekankan sebagai nilai-nilai fundamental dalam Islam dan menjadi dasar untuk praktik penganggaran yang baik.
Internalisasi Nilai Moderasi Beragama dalam Literasi Finansial (Analisis Qur’an Surah Al-Furqan Ayat 67) Hamli, Haji; Hamdan, Hamdan; Sabda, Syaifuddin; Fidzi, Ridhahani; Yaqin, Husnul
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 18, No. 4 : Al Qalam (Juli 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i4.3627

Abstract

Literasi finansial menjadi kata kunci dalam ketidakstabilan ekonomi. Permasalahan tentang krisis ekonomi dan kemiskinan masih menjadi momok menakutkan hingga hari ini dan menarik perhatian serius dari individu atau masyarakat sosial. Tujuan artikel ini untuk mengetahui bagaimana internalisasi nilai moderasi beragama dalam literasi finansial (analisis Qur’an surah al-Furqan  ayat 67).) Metode pengumpulan data adalah studi pustaka dengan menggunakan pendekatan kualikatif. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam al-Qur’an banyak ayat yang berbicara tentang konsep literasi finansial salah satunya adalah QS. Al-Furqan ayat 67 yang menekankan pada moderasi dalam literasi finansial atau  pengelolaan keuangan berdasarkan sistem ekonomi Islami serta pemberantasan kemiskinan dengan zakat dan infaq.
Jember Fashion Carnival (JFC) as a National Culture Viewed from Islamic Law Perspective Yaqin, Husnul; Ira Eka Pratiwi; Taufiqur Rohman; Balkis Nur Azizah
Hikmatuna : Journal for Integrative Islamic Studies Vol 7 No 2 (2021): Hikmatuna: Journal for Integrative Islamic Studies, December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/hikmatuna.v7i2.4288

Abstract

The purposes of this research were to (1) describe the practice of the Jember Fashion Carnival (JFC), which is held in Jember, Indonesia, and (2) explain how the practice of the Jember Fashion Carnival (JFC) is regarded from the perspective of Islamic law. This research is included in the qualitative-descriptive and literature research category. In conclusion, (1) the Jember Fashion Carnival (JFC) is a cultural event as well as a carnival that is held every year with a specific theme; this spectacular activity attracts foreign tourists and helps to boost the economy, among other things; and (2) the entire event contained in the Jember Fashion Carnival (JFC) is a good culture that does not conflict with Islamic law. As a result, it is feasible and may be implemented as a normal culture within the local community. No action taken at the Jember Fashion Carnival (JFC) activity violates Islam, nor does it ban something permissible, nor does it cancelsomething compulsory, invalidate the meaning of benefit, nor does it foster the growth of evil.
Pembelajaran Islam Pendekatan Multi, Inter, dan Transdisipliner (Hakikat dan Implementasinya) Rahmah, Rahmah; Yaqin, Husnul; Amiruddin, Andi
TARBAWI : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 9, No 01 (2024): TARBAWI: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jtw.v9i01.14788

Abstract

Pendidikan adalah pilar fundamental dalam pembangunan masyarakat dan peradaban. Dalam konteks Pendidikan Islam, upaya untuk menyelaraskan nilai-nilai agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern menjadi suatu tantangan yang tak terhindarkan. Pendekatan transdisipliner, yang mengintegrasikan pemahaman dari berbagai disiplin ilmu, muncul sebagai alternatif yang menjanjikan dalam merespons kompleksitas tuntutan pendidikan masa kini. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep Pendidikan Islam melalui pendekatan Multi, Inter, dan Transdisipliner Artikel  ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian mengunakan studi literatur. Sumber data dan bahan analisis yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari berbagai referensi artikel ilmiah yang relevan dari berbagai jurnal dan buku. Berdasarkan penggalian terhadap data dari beberapa sumber yang digunakan didapatkan hasil bahwa pembelajaran Islam multidisipliner menekankan pada tinjauan multiperspektif ilmu yang terkait dengan masalah yang dipecahkan, tanpa menggabungkan ilmu-ilmu tersebut menjadi sebuah kesatuan ilmu. Sementara Pembelajaran Islam interdisipliner menekankan pada interaksi dan kolaborasi antar disiplin ilmu untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif. Sedangkan Pembelajaran Islam transdisipliner menekankan pada interaksi dan kolaborasi antar disiplin ilmu untuk menghasilkan pemahaman baru yang tidak dapat dipahami oleh disiplin ilmu mana pun secara terpisah.
SEKOLAH, MADRASAH, DAN PESANTREN (ANALISIS SOSIOLOGIS, MANAJEMEN, BUDAYA, DAN EKONOMI) Sidik, Abdul Rahman; Yaqin, Husnul
Tajdid Vol 8 No 2 (2024): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v8i2.2500

Abstract

Perkembangan zaman menuntut tiga jenis lembaga pendidikan di Indonesia, yaitu sekolah, madrasah, dan pesantren memiliki perubahan sehingga berdampak pada adanya problematika yang dihadapi masing-masing, termasuk dalam input, proses, dan output. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi dari tiga jenis lembaga pendidikan di Indonesia tersebut dengan melihat dari aspek sosiologis, manajemen, budaya, dan ekonomi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tiga jenis lembaga pendidikan ini muncul di Indonesia saling berkaitan. Meskipun sempat terjadi persaingan di antara ketiganya, tetapi tetapi secara tidak langsung kekhasan dalam segi sosiologi, budaya, manajemen, dan ekonomi muncul sebab perbedaan yang masih ada tidak menjadikan ketiga lembaga tersebut saling melengkapi. Sekolah yang dikelola secara langsung oleh pemerintah lebih terlihat sebagai suatu pilihan utama baik dinilai dari aspek sosiologi, manajemen, budaya maupun ekonomi. Sedangkan madrasah masih menjadi pilihan kedua karena kebanyakan madrasah masih berada dalam kondisi peralihan dari klasik menuju modern dan kebanyakan pengelolaannya masih dipegang oleh pemilik yayasan sehingga dari aspek sosiologis, manajemen, budaya, dan ekonomi sebagian madrasah belum mengalami keluwesan untuk mengikuti perubahan zaman. Sedangkan pesantren meski telah berubah menjadi bentuk yang lebih modern, masih menjadikan kiai sebagai titik sentral dalam berbagai aspek tersebut di atas.
HOMESCHOOLING PADA ANAK USIA DINI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS MULTIDISIPLINIER, INTERDISIPLINEAR DAN TRANSDISIPLINEAR Novita Harini; Syaifuddin Sabda; Husnul Yaqin; Ridhahani Fidzi
ENTINAS: Jurnal Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran Vol. 3 No. 1 (2025): In Press JANUARI-JUNI
Publisher : CV. ADIBA AISHA AMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article aims to explore the concept of Homeschooling for early childhood in the perspective of Islamic education, integrated with multidisciplinarity, interdisciplinarity, and transdisciplinarity. Early childhood education is a crucial phase in the development of character, cognitive abilities, and social skills. Homeschooling, as an alternative form of education outside the formal system, provides space for the implementation of more flexible education that is tailored to the individual needs of children. In the context of Islamic education, Homeschooling is seen as a method that allows for the instillation of religious values, ethics, and morals from an early age, serving as a foundation for the intellectual and spiritual development of children. The multidimensional approach in this study integrates various disciplines, such as psychology, pedagogy, and sociology, to understand the dynamics of child development within the Homeschooling environment. The interdisciplinary approach brings together concepts from various fields, such as Islamic theology, philosophy of education, and child education sciences, which synergistically enrich Homeschooling practices within the context of Islamic education. Meanwhile, the transdisciplinary approach emphasizes openness and collaboration between different disciplines to create a holistic understanding of implementing Homeschooling based on Islamic values. Homeschooling for early childhood in the perspective of Islamic education, supported by multidisciplinarity, interdisciplinarity, and transdisciplinarity, can make a significant contribution to the formation of morally upright, intelligent children with strong personalities. This educational model offers the potential to create a more personalized learning environment that aligns with Islamic principles, fostering a balance between the worldly and spiritual aspects of a child. Furthermore, the application of these principles can enrich the Homeschooling method with a more comprehensive and adaptive approach to the needs of contemporary society.