Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

DNA Barcoding Using the Chloroplast Gene MatK for Genetic Diversity Analysis of Lansium domesticum Corr. Plants Growing in South Sumatra, Indonesia Wardana, Singgih Tri; Hanum, Laila; Nursela, Dewi; Aminasih, Nita; Kasiamdari, Rina Sri
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 16 No 1 (2025): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosfer.v16i1.27296

Abstract

Lansium domesticum Corr. known as duku, langsat, and kokosan is a popular fruit in Indonesia, particularly in South Sumatra. Furthermore, the fruit is cherished in this region because of the nice smell, sweet taste, and high economic value. Until now, South Sumatra local duku is rarely investigated, even though information on the genetic diversity of the germplasm is useful in supporting breeding and conservation programs. Therefore, this study aimed to determine the genetic diversity and phylogenetics of local duku and langsat (Lansium domesticum) based on matK gene DNA barcoding. DNA genome was extracted using Tiangen Plant Genomic DNA Kit DP305, then amplified using GoTaq Green Master Mix (Promega) and primers 3F_KIM-F and 1R_KIM-R. The product was sequenced by 1st Base Singapore and seven amplification results had a DNA size of 900 bp. The results showed that the matK gene is capable of determining Lansium domesticum interspecies. According to the DNA sequence phylogenetic analysis conducted using the maximum likelihood method, all the DNA samples were designated as Lansium domesticum Corr. with a fairly high genetic variation, indicated by DNA sequence differences caused by gene mutations. DNA Barcoding Menggunakan Gen Kloroplas MatK untuk Analisis Keragaman Genetik Tanaman Lansium domesticum Corr. yang Tumbuh di Sumatera Selatan, Indonesia ABSTRAK: Lansium domesticum Corr. yang dikenal dengan sebutan duku, langsat, dan kokosan merupakan buah yang populer di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan. Selain itu, buah ini digemari di daerah ini karena baunya yang harum, rasanya yang manis, dan bernilai ekonomis tinggi. Hingga saat ini, duku lokal Sumatera Selatan jarang diteliti, padahal informasi mengenai keragaman genetik plasma nutfahnya bermanfaat dalam mendukung program pemuliaan dan konservasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetic dan filogenetik duku dan langsat (Lansium domesticum) berdasarkan DNA barcoding gen matK. DNA genom diekstraksi menggunakan Tiangen Plant Genomic DNA Kit DP305, kemudian diamplifikasi menggunakan GoTaq Green Master Mix (Promega) dan primer 3F_KIM-F dan 1R_KIM-R. Produk tersebut disekuensing oleh 1st Base Singapore dan tujuh hasil amplifikasi memiliki ukuran DNA 900 bp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen matK mampu mengidentifikasi Lansium domesticum antarspesies. Berdasarkan analisis filogenetik sekuens DNA yang dilakukan dengan metode kemungkinan maksimum, semua sampel DNA ditetapkan sebagai Lansium domesticum Corr. dengan variasi genetik yang cukup tinggi, ditunjukkan oleh perbedaan sekuens DNA yang disebabkan oleh mutasi gen.
Anthocyanin, Antioxidant and Metabolite Content of Butterfly Pea Flower (Clitoria ternatea L.) Based on Flowering Phase Juswardi, Juswardi; Yuliana, Rina; Tanzerina, Nina; Harmida, Harmida; Aminasih, Nita
JURNAL PEMBELAJARAN DAN BIOLOGI NUKLEUS Vol 9, No 2: Jurnal Pembelajaran Dan Biologi Nukleus July 2023
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jpbn.v9i2.4064

Abstract

The butterfly flowers (Clitoria ternatea L.) are used as natural dyes and herbal medicines because they contain metabolites, anthocyanins and antioxidants. The content of these metabolites is influenced by the phase of flower development. This study aims to determine the levels of anthocyanins, antioxidants and metabolites of butterfly pea flowers from different flowering phases. The Butterfly flower collection was taken from the village of Mulyaguna, Teluk Gelam, Ogan Komering Ilir, South Sumatra. The extraction was carried out with 70% ethanol solvent, and determination of the amount of anthocyanin content by spectrophotometry, antioxidant content by DPPH method, and metabolite compounds by GC-MS. Data on anthocyanin and antioxidant content were analyzed with averages and standard deviations, and GC-MS chromatograms were traced for compounds with reference to the PubChem, KEGG, ChEBI, PlantCyc, and Spectrabase websites, which then determined the dominant compound group. The results of the study on blooming butterfly pea flowers found that the antioxidant content was 6.58 ppm, higher than that of bud flowers, which were 2.55 ppm, and wither flowers, which were 1.74 ppm. The anthocyanin content of the blooming butterfly pea flower was 40.33 ppm, the withering flower was 4.36 ppm, and the bud flower was 3.60 ppm. The dominant metabolites were identified as fatty acids, organic acids, aromatics and flavanoids, followed by differences in antioxidant and anthocyanin content in the flowering phase of the butterfly pea flower
Pelatihan pembuatan sabun transparan antibakteri dari ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum) di desa Tanjung Baru Harmida, Harmida; Tanzerina, Nina; Lamin, Safrina; Salni, Salni; Aminasih, Nita; Loekitowati Hariani, Poedji
Abdimas Mandalika Vol 3, No 2 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/am.v3i2.21246

Abstract

Abstract:  The use of chemicals in soap can have a negative effect on sensitive skin and has the potential to pollute the environment. This community service activity aims to provide education about the importance of maintaining health, especially skin, and giving training in making transparent antibacterial soap with the addition of salam leaves extract (Syzygium polyanthum) in Tanjung Baru village, North Indralaya sub-district, Ogan Ilir. The activity participants were 30 young women and mothers. The activity method is carried out in stages: (i) education about infectious skin diseases and the importance of maintaining healthy skin, (ii) training on how to extract antibacterial compounds from salam leaves by maceration, (iii) training on making transparent soap, and (iv) activity evaluation. The activity results showed that 86.67% of participants did not understand antibacterial transparent soap before the training. After the activity, the percentage of understanding and very understanding increased to 98.67%. The soap products produced are very popular with the public (86.68%) based on aroma, shape, color, comfort, and foam characteristics. Through this activity, it is hoped that public awareness of skin health will increase, and the use of antibacterial transparent soap, proven safe, economical, and easy to make from natural ingredients, will also increase.Abstrak: Penggunaan bahan kimia dalam sabun dapat memberikan efek negatif pada kulit yang sensitif, dan berpotensi mencemari lingkungan. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan ini bertujuan memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kesehatan terutama kulit, dan memberikan pelatihan pembuatan sabun transparan yang bersifat antibakteri dengan penambahan ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum) di desa Tanjung Baru, kecamatan Indralaya Utara, Ogan Ilir. Peserta kegiatan adalah remaja putri dan ibu-ibu sebanyak 30 orang. Metode kegiatan dilaksanakan dengan tahapan (i) penyuluhan tentang infeksi penyakit kulit dan pentingnya menjaga kesehatan kulit, (ii) pelatihan cara mengekstraksi senyawa antibakteri dari daun salam dengan cara maserasi, (iii) pelatihan pembuatan sabun transparan, dan (iv) evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebelum pelatihan sebanyak 86,67 % peserta kurang memahami tentang sabun transparan yang bersifat anti bakteri. Setelah kegiatan persentase paham dan sangat paham meningkat menjadi 98,67 %. Produk sabun yang dihasilkan sangat disukai masyarakat (86,68 %) berdasarkan karakteristik aroma, bentuk, warna, kenyamanan dan busa. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan kulit meningkat, serta penggunaan sabun transparan antibakteri yang terbukti aman, ekonomis, dan mudah dibuat dari bahan alami semakin meningkat pula.
Ethnobotany of Medicinal Plants for Infectious Diseases in the Besemah Tribe, Lahat Regency, South Sumatra Province, Indonesia Tanzerina, Nina; Safitri, Desti; Harmida, Harmida; Aminasih, Nita; Juswardi , Juswardi
Asian Journal of Social and Humanities Vol. 2 No. 1 (2023): Asian Journal of Social and Humanities
Publisher : Pelopor Publikasi Akademika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59888/ajosh.v2i1.163

Abstract

Knowledge about medicinal plants in the Besemah tribe community in Jarai District and Sukamerindu District, Lahat Regency, South Sumatra Province, has long been known and used for generations and stored as local wisdom of the community. The use of medicinal plants as one of the community's solutions to cure infectious diseases, with natural medicinal materials the side effects caused are relatively less. This study aims to inventory and identify the types of medicinal plants and types of medicinal plants typical of the Besemah tribe, how to process, how to use, and how to use specifically to treat infectious diseases in the Besemah tribe in Jarai District and Sukamerindu District, Lahat Regency, South Sumatra Province. This research will be conducted from January to March 2023. The study was conducted using quantitative descriptive methods by conducting interviews with 9 traditional medicine (battra) as sources of information. The results showed that plants used as medicine by the Besemah tribe community as many as 94 species of plants from 47 families to treat 29 infectious diseases. There are seven species of typical plants of the Besemah tribe, namely Tetap kadam (Hadgsonia macrocarpa (Blume) Cogn.), Tetungau (Debregeasia longifolia (Burm.f) Wedd), Memban burung (Donax canniformis (G.Forst) K.Schum), Temperingat (Rubus moluccanus L.), Tapal selembar (Monophyllaea horsfieldii R.Brown), Sedingin hutan (Fissistigma fulgens (Hook.f & Thomson) Merr.), Memaye (Leea indica (Burm.f.) Merr), and the typical way of processing is that the stem is cut, the water is collected and drunk directly. The most widely used plant part is the 38% leaf part. The most processing method is used by boiling 46% and the most use method by drinking 53%.
Keragaman Lichen pada Batang Palem Ekor Tupai (Wodyetia bifurcata L.) Berdasarkan Tingkat Kepadatan Lalu Lintas yang Berbeda Turahmi, Mitra; Harmida, H; Aminasih, Nita
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) 2022: Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lichen merupakan simbiosis antara fungi dan alga yang membentuk individu yang unik sehingga dari segi morfologi dan fisiologi merupakan suatu kesatuan. Keragaman lichen yang tumbuh di pohon dipengaruhi oleh keadaan lingkungan misalnya tingkat pencemaran udara yang dihasilkan oleh gas buangan kendaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifkasi jenisjenis lichen secara morfologi yang ditemukan di batang Wodyetia bifurcata serta mengetahui perbedaan jenis lichen yang ditemukan di masing-masing tingkat kepadatan lalu lintas dan jenis lichen yang dapat dijadikan sebagai bioindikator pencemaran udara. Penelitian ini dilaksanakan bulan Desember 2021- Februari 2022, Bertempat di Jl. Parameswara Palembang dan Kawasan Universitas Sriwijaya Indralaya. Identifikasi bertempat di Laboratorium Fisiologi dan Perkembangan Jurusan Biologi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode jelajah dan untuk hasil dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan 21 jenis lichen yang hidup di batang palem ekor tupai dan didapatkan 2 tipe talus yakni tipe talus crustose dan foliose dengan organ reproduksi seksual berupa apothecia, perithecia dan pycnidia, dan aseksual berupa soredia dan isidia. Kepadatan lalu lintas berpengaruh kepada warna dan keragaman lichen, semakin tinggi tingkat kepadatan lalu lintas maka warna lichen semakin pudar atau kusam. Pada kawasan kepadatan lalu lintas tinggi didapatkan 2 jenis lichen, kepadatan lalu lintas sedang didapatkan 16 jenis, dan kepadatan lalu lintas rendah didapatkan 18 jenis. Dari hasil didapatkan ada 5 jenis lichen yang dapat dijadikan sebagai bioindikator pencemaran udara antara lain Buellia stellulata, Glyphis cicatricosa, Glyphis scyphulifera, Pyrenula platysoma, Sarcographa tricosa.
Pelatihan Pembuatan Sabun Padat Transparan Antibakteri dari Ekstrak Daun Tembesu untuk Meningkatkan Keterampilan Masyarakat Desa Tanjung Seteko Harmida; Tanzerina, Nina; Lamin, Syafrina; Aminasih, Nita; Muharni; Hariani, Poedji Loekitowati
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 2 (2026): JAMSI - Maret 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2697

Abstract

Penggunaan sabun herbal berbasis tanaman lokal semakin populer sebagai alternatif alami pengganti sabun sintetis yang mengandung bahan kimia. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memberikan pelatihan pembuatan sabun padat transparan antibakteri dari ekstrak daun tembesu. Ekstrak daun tembesu mengandung senyawa bioaktif seperti fenolik, tanin, alkaloid, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin yang bersifat antibakteri. Kegiatan pengabdian Masyarakat dilaksanakan di desa Tanjung Seteko, kecamatan Indralaya, kabupaten Ogan Ilir dengan khalayak sasaran ibu-ibu PKK dan para remaja putri. Metode kegiatan dilaksanakaan dengan tahapan (i) penyuluhan, (ii) pelatihan dan (iii) evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan pretes dan postes untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta terhadap materi dan evaluasi penerimaan terhadap produk sabun yang dihasilkan. Hasil pretes dan postes menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan peserta mengenai sabun padat transparan antibakteri berbahan ekstrak daun tembesu. Sebelum pelatihan, peserta yang mampu menjawab pretes dengan tepat hanya 16,67%, dan meningkat menjadi 90,0% setelah kegiatan dilakukan. Hasil evaluasi ini merupakan indikator keberhasilan kegiatan pengabdian masyarakat. Evaluasi terhadap penerimaan produk sabun dengan 7 kriteria yaitu warna, tekstur, busa, stabilitas, aroma, penampilan dan kenyamanan memperlihatkan bahwa masyarakat menerima dan menyukai sabun padat transparan antibakteri tersebut.
Strategi edukatif dan partisipatif dalam pengenalan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) untuk kemandirian kesehatan Desa Pulau Semambu Nita Aminasih; Hary Widjajanti; Yuniar Harvianti; Trissa Silvian; Khosy Khoirunnisa
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38658

Abstract

Abstrak Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, organisasi perempuan tingkat desa (PKK) Desa Pulau Semambu dalam budidaya dan pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). TOGA dipilih sebagai alternatif peningkatan kemandirian kesehatan berbasis potensi lokal. Permasalahan utama mitra adalah rendahnya literasi kesehatan terkait jenis tanaman obat, manfaat, serta teknik pengolahan dan pemanfaatannya untuk penanganan penyakit ringan. Selain itu, belum tersedia media edukasi yang dapat diakses sebagai panduan praktik berkelanjutan. Kegiatan ini dilakukan melalui beberapa tahap: survei awal, sosialisasi, pelatihan budidaya dan pengolahan TOGA, penyediaan buku saku dan media digital, serta pendampingan lapangan. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui penyuluhan, praktik langsung, dan pendampingan berkelanjutan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta tentang tanaman obat dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Mayoritas peserta menyatakan mendapat pemahaman baru terkait budidaya TOGA dan mulai menerapkannya di pekarangan rumah. Selain itu, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pemanfaatan tanaman obat sebagai solusi kesehatan yang mudah diakses, ekonomis, dan ramah lingkungan. Rencana tindak lanjut berupa pembentukan Kelompok TOGA Desa Pulau Semambu dan pendampingan lanjutan disusun untuk menjamin keberlanjutan program. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menambah kemampuan pengetahuan masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan kesehatan keluarga dan mendukung pelestarian kearifan lokal berbasis tanaman obat. Kata kunci: tanaman obat keluarga; literasi kesehatan; keterlibatan masyarakat; pelestarian pengetahuan lokal; ketahanan kesehatan keluarga. Abstract This community service program was developed to address low health literacy regarding medicinal plants and inadequate access to educational resources in Semambu Island Village. The initiative aimed to enhance PKK women's knowledge and skills in cultivating and using Family Medicinal Plants (TOGA) as a sustainable, accessible health solution. Through a participatory approach encompassing surveys, socialization activities, hands-on training in TOGA cultivation and processing, distribution of educational materials, and continuous field mentoring, the program engaged community members directly in the learning process. Results revealed significant improvements in participants' understanding of medicinal plant types, their health benefits, and processing techniques. Most notably, the majority of participants successfully implemented TOGA cultivation in their home gardens and began applying herbal remedies to manage minor illnesses. Beyond individual skill acquisition, the program fostered collective awareness about medicinal plants as an economical and environmentally friendly alternative to conventional healthcare. To ensure long-term sustainability, the Semambu Island Village TOGA Group was established with plans for ongoing mentoring. This initiative not only enhanced community capacity and health literacy but also strengthened family health resilience while preserving valuable local knowledge about medicinal plants for future generations. Keywords: family medical plants; health literacy; community engagement; local wisdom preservation; family health resilience.
Anatomy and Secretory Structure of Leea indica (Burm.f.) Merr (Memaye) as a Typical Medicinal Plant of the Besemah Tribe for Anti-Infection and Degenerative in Lahat Regency, South Sumatra, Indonesia Nina Tanzerina; Febrin Yohana Purba; Nita Aminasih; Endri Junaidi; Juswardi Juswardi
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 4 No. 10 (2024): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v4i10.17481

Abstract

Leea indica (Burm.f.) Merr, commonly known as Memaye, is a shrub utilized by the Besemah tribe in Lahat Regency, South Sumatra, for treating infectious diseases such as hepatitis and warts, as well as degenerative diseases like liver disorders. This plant's medicinal properties are primarily derived from its roots and fruits, which contain secondary metabolites like alkaloids, flavonoids, and terpenoids. Anatomical studies are crucial to identify specific structures within the plant that may store these metabolite compounds. This research aims to analyze the anatomical structure and distribution of secretory structures in the vegetative organs (leaves, stems, and roots) of Leea indica. Using a descriptive method, the study employed Paraffin and Whole mount techniques to prepare samples for microscopic observation. Results revealed the presence of epidermal tissue, basic tissue, and vascular tissue. Additionally, internal secretory structures, including cavities and two types of idioblast cells, were found to function as storage sites for secondary metabolites. These secretory structures were distributed throughout the leaves, stems, and roots of the plant.
Pelatihan Pembuatan Sabun Transparan Antibakteri Berbahan Ekstrak Daun Mengkudu (Morinda Citrifolia L.) sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat di Desa Tanjung Atap, Ogan Ilir Harmida Harmida; Nina Tanzerina; Safrina Lamin; Salni Salni; Nita Aminasih; Poedji Loekitowati Hariani
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2025): Mei 2025 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v5i3.679

Abstract

Tanaman mengkudu (Morinda Citrifolia L.) telah dikenal masyarakat sebagai salah satu tanaman sebagai sumber obat tradisional. Ekstrak daun mengkudu mengandung senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid dan antrakuinon yang bersifat antibakteri dan antioksidan. Pemanfaatan ekstrak daun mengkudu sebagai bahan sabun padat transparan antibakteri untuk mendukung pengembangan produk alami, aman digunakan, dan yang paling utama adalah meningkatkan kebersihan dan kesehatan masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan pelatihan pembuatan sabun transparan antibakteri dari ekstrak daun mengkudu yang dilakukan di desa Tanjung Atap, kecamatan Tanjung Batu, kabupaten Ogan Ilir. Kegiatan diikuti oleh ibu-ibu dan remaja putri sebanyak 30 orang. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, pelatihan dan evaluasi hasil kegiatan. Hasil pre-test dan pos-test menunjukkan terjadinya peningkatkan pengetahuan peserta tentang sabun transparan antibakteri yang dari ekstrak daun mengkudu. Peserta yang menjawab pertanyaan dengan tepat dari sebelum pelatihan sebanyak 18,75% meningkat menjadi 76,67% setelah pelatihan. Selain itu masyarakat juga menyukai produk sabun yang dihasilkan. Hal ini mengindikasikan keberhasilan kegiatan pelatihan yang diberikan.
Orchid (Orchidaceae) Inventory in Isau-Isau Wildlife Conservation Resort Area IX Lawang Agung Village, South Sumatra Felia Melinda. H; Harmida Harmida; Nita Aminasih
Jurnal Biodjati Vol 7 No 2 (2022): November
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v7i2.19271

Abstract

Orchidaceae is one of the plant families which occupies 7-10% of the total flowering plants in the world. Of the 25,000 species of orchids in the world, 6,000 species are found in various forests in Indonesia, including Sumatra. South Sumatra save high diversity of orchid and one of them is in Isau-Isau Wildlife Conservation. This area has various types of plants, including orchids. Diversity orchids in the area have not gotten any attention, so the data regarding orchids in the Isau-Isau Wildlife Conservation, especially in Resort Conservation Area IX Lawang Agung Village, Mulak Ulu District, Lahat Regency, South Sumatra still limited and not well documented, so that need further research to know types of orchids in the area. The research found 22 species, consisting of 21 epiphyte orchids and 1 terrestrial orchid. Many orchids were found in the secondary forest of 16 species. An endemic orchid of South Sumatra was found in this research, it is Vanda foetida. Host plants found were 11 plants, 7 can identify and 4 not can be identified.