Claim Missing Document
Check
Articles

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER TERHADAP PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MAHASISWA PADA PERKULIAHAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK Siti Maryam Fadhilah Palestina; Samingan .; Evi Apriana
JESBIO : Jurnal Edukasi dan Sains Biologi Vol 4 No 1 (2015): Jurnal Edukasi dan Sains Biologi
Publisher : Program Studi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Almuslim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study were aimed to know : different concept understanding students who taught using Giving Question and Getting Answer  with students who taught using conventional learning The sample in this study were two classes is determined by cluster random sampling, consist of an exsperimental class(Giving Question and Getting Answer)  and the control class (conventional). The technique of analyzing data was conducted through t test. The conclusion of the research is a significant different concept understanding students who taught using Giving Question and Getting Answer  with students who taught using conventional learning.  Key words:    concept understanding, Giving Question and Getting Answer
PENERAPAN INKUIRI DAN SIKAP ILMIAH SISWA SEKOLAH DASAR SERTA PENGEMBANGANNYA DALAM PEMBELAJARAN PELESTARIAN MAKHLUK HIDUP Evi Apriana; Samsul Bahri
Jurnal Tunas Bangsa Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.989 KB) | DOI: 10.46244/tunasbangsa.v7i1.980

Abstract

Nature conservation activities aim to keep up plant and animal species to stay sustainable. Efforts to conserve nature can done through education. One strategy that can used by elementary schools is to raise students' awareness of the environment through learning to conserve living things by using a scientific attitude-based inquiry learning model.This study aims to identify the application of inquiry and scientific attitudes of students in learning to conserve living things through needs analysis, documentation studies, and field studies. This study uses a Qualitative Research design, carried out using direct observation methods in class VI students of the semester I who participated in the study of the preservation of living things in three elementary schools in Banda Aceh and deep interviews with key informants teachers and students. After identifying the application of inquiry and scientific attitudes of students, the development of learning to preserve living things is carried out using developmental analysis related to environmental issues. From observations and interviews the results show that the application of inquiry and scientific attitude of students there is no planning on the learning tools for the preservation of living things, the average value of the percentage of inquiry activities is 29% (low), the average value of the percentage of scientific attitude activities is 61% (moderate), and must be improved through learning to conserve living things. Development of an inquiry syllabus based on scientific attitudes, teaching materials, student activity sheets (LKS), tests of preservation of living things, and attitude scales integrated into targets, principles, and methods in inquiry models based on scientific attitude. Learning to conserve living things with a scientific attitude-based inquiry learning model is expected to be able to build student and community awareness of the preservation of Aceh's forests and the environment in a sustainable manner. Abstrak Kegiatan pelestarian alam bertujuan untuk mempertahankan spesies-spesies tumbuhan dan hewan agar tetap lestari. Upaya untuk melakukan pelestarian alam dapat dilakukan melalui pendidikan. Salah satu strategi yang dapat digunakan sekolah dasar untuk menyadarkan kepedulian siswa terhadap lingkungan melalui pembelajaran pelestarian makhluk hidup dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri berbasis sikap ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan inkuiri dan sikap ilmiah siswa dalam pembelajaran pelestarian makhluk hidup melalui analisis kebutuhan, studi dokumentasi, dan studi lapangan. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Kualitatif (Qualitative Research), dilakukan menggunakan metode observasi langsung pada siswa kelas VI semester I yang mengikuti pembelajaran pelestarian makhluk hidup di tiga SD Kota Banda Aceh dan wawancara mendalam (deep interview) dengan informan (key person) guru dan siswa. Setelah mengidentifikasi penerapan inkuiri dan sikap ilmiah siswa maka dilakukan pengembangan pembelajaran pelestarian makhluk hidup menggunakan analisis pengembangan yang berhubungan dengan isu-isu lingkungan. Dari observasi dan wawancara diperoleh hasil bahwa penerapan inkuiri dan sikap ilmiah siswa tidak ada perencanaan pada perangkat pembelajaran pelestarian makhluk hidup, nilai rata-rata persentase aktivitas inkuiri adalah 29% (rendah), nilai rata-rata persentase aktivitas sikap ilmiah adalah 61% (sedang), dan harus ditingkatkan melalui pembelajaran pelestarian makhluk hidup. Pengembangan silabus inkuiri berbasis sikap ilmiah, bahan ajar, lembar kegiatan siswa (LKS), tes pelestarian makhluk hidup, dan skala sikap terintegrasi ke dalam sasaran, prinsip, dan metode dalam model pembelajaran inkuiri berbasis sikap ilmiah. Pembelajaran pelestarian makhluk hidup dengan model pembelajaran inkuiri berbasis sikap ilmiah diharapkan mampu membangun kesadaran siswa dan masyarakat akan pelestarian hutan dan lingkungan Aceh secara berkelanjutan. Kata Kunci: Pembelajaran Pelestarian Makhluk Hidup, Aktivitas Inkuiri, Aktivitas Sikap Ilmiah
PENGEMBANGAN PROGRAM PERKULIAHAN BIOLOGI KONSERVASI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL ACEH Evi Apriana; Achmad Munandar; Nuryani Y Rustaman; Hertien Koosbandiah Surtikanti
Jurnal Visipena Vol 11 No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.272 KB) | DOI: 10.46244/visipena.v11i1.1086

Abstract

Acehnese local wisdom-based contextual approach has never been used in learning. Incorporating Acehnese local wisdom into the study of conservation biology will greatly assist the process of raising awareness among students and the community about the importance of nature conservation, being able to clarify customary rules and rules about human relations with the natural environment. Therefore, it is very necessary to the development of conservation biology lecture program through Acehnese local wisdom-based contextual approach to improve environmental literacy and conservation measures. This study aimed to collect information relating to the development of conservation biology lecture program through Acehnese local wisdom-based contextual approach through lectures that examine issues of forest conservation biology and terrestrial environments Aceh. This research applies qualitative research design (Qualitative Research), conducted the analysis of the development related to environmental issues and Acehnese local wisdom. From the analysis of the results showed that the development of conservation biology lecture program through Acehnese local wisdom-based contextual approach has the characteristics (lectures studying the problems of forest conservation biology and terrestrial environments Aceh; learning Acehnese local wisdom-based contextual approach effective, integrated in the lectures and field activities to clarify the learning in the classroom; emphasis on the ability of the knowledge and skills that students care about the forest and terrestrial environment, develop environmental literacy and conservation measures are real), component (using a variety of learning methods and media), structure (meetings, concepts and sub concepts, learning process, learning objectives, learning strategies, billing tasks, and extra activities), and evaluation (procedures and evaluation tools: evaluation process using lectures observation, evaluation of learning outcomes using test (environmental literacy), and conservation measures using guidelines observation conservation measures). Abstrak Pendekatan kontekstual berbasis kearifan lokal Aceh belum pernah digunakan dalam pembelajaran. Memasukkan kearifan lokal Aceh ke dalam pembelajaran biologi konservasi akan sangat membantu proses penyadartahuan mahasiswa dan masyarakat tentang arti penting pelestarian alam, dapat memperjelas aturan-aturan adat dan kaidah-kaidah tentang hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Dengan demikian sangat diperlukan adanya pengembangan program perkuliahan biologi konservasi dengan pendekatan kontekstual berbasis kearifan lokal Aceh untuk meningkatkan literasi lingkungan dan tindakan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan pengembangan program perkuliahan biologi konservasi dengan pendekatan kontekstual berbasis kearifan lokal Aceh melalui kegiatan perkuliahan yang mengkaji permasalahan biologi konservasi hutan dan lingkungan terestrial Aceh. Penelitian ini menerapkan desain penelitian kualitatif (Qualitative Research), dilakukan analisis pengembangan yang berhubungan dengan isu-isu lingkungan dan kearifan lokal Aceh. Dari analisis pengembangan ini diperoleh hasil bahwa program perkuliahan biologi konservasi dengan pendekatan kontekstual berbasis kearifan lokal Aceh mempunyai karakteristik (kegiatan perkuliahan mengkaji permasalahan biologi konservasi hutan dan lingkungan terestrial Aceh; pembelajaran dengan pendekatan kontekstual berbasis kearifan lokal Aceh yang efektif, terintegrasi dalam perkuliahan dan kegiatan lapangan yang dapat memperjelas pembelajaran di kelas; menekankan pada kemampuan pengetahuan dan keterampilan agar mahasiswa peduli terhadap hutan dan lingkungan terestrial; mengembangkan literasi lingkungan dan tindakan konservasi secara nyata), komponen (menggunakan metode dan media pembelajaran yang bervariasi), struktur (pertemuan, konsep dan sub konsep, proses pembelajaran, tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran, tagihan tugas, dan kegiatan ekstra), dan evaluasi (prosedur dan alat evaluasi: evaluasi proses menggunakan pedoman observasi kegiatan perkuliahan, evaluasi hasil belajar menggunakan tes (literasi lingkungan), dan tindakan konservasi menggunakan pedoman observasi tindakan konservasi). Kata kunci: pengembangan program perkuliahan biologi konservasi, pendekatan kontekstual berbasis kearifan lokal Aceh, isu-isu lingkungan, literasi lingkungan, tindakan konservasi
PENGARUH PROGRAM PERKULIAHAN BIOLOGI KONSERVASI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL ACEH TERHADAP PENINGKATAN LITERASI LINGKUNGAN Evi Apriana
JURNAL SERAMBI ILMU Vol 18, No 1 (2017): Jurnal Serambi Ilmu
Publisher : UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/si.v18i1.1032

Abstract

This study aimed to collect information relating to the influence of conservation biology lecture program through Acehnese local wisdom-based contextual approach to improving the environmental literacy. The study was conducted using Quasi Experiment design with One Group Pretest-Postest Design and involved a number of students (n = 33) of the VI semester who opted Conservation Biology course as a research subject. One group was given pretest and postest. The tests were used to measure the environmental literacy based on six components and 40 sub-components of environmental literacy. Experimental groups were treated with conservation biology course through Acehnese local wisdom-based contextual approach. Qualitative data analysis techniques derived fromdirect observations and analyzed descriptively, while quantitative data were obtained from the pre-test and post-test score, analyzed using excel program and statistical tests through normalized gain. From the pretest, posttest, and learning observations, it was obtained that conservation biology lecture program through Acehnese local wisdom-based contextual approach can improve the environmental literacy of students. Improved learning outcomes occurred in the superior, medium, and low group, in all components of environmental literacy and all sub-components in the components of environmental literacy. The largest increased learning outcomes were seen in the component of cognitive skills while the smallest was showed in the components of knowledge regarding environmental issues, problems and measures (environmentally responsibled behavior).
Persepsi Siswa Terhadap Penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) di Banda Aceh Erdi Surya; Evi Apriana; Muhammad Ridhwan; Armi Armi; Anita Noviyanti; Said Ali Akbar; Riska Masdianti
JURNAL SERAMBI ILMU Vol 21, No 1 (2020): Jurnal Serambi Ilmu
Publisher : UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/si.v21i1.1792

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) di SMA Negeri 11 Banda Aceh. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai kantor BNN Kota Aceh, dewan guru dan seluruh siswa-siswi SMA Negeri 11 Banda Aceh yang berjumlah 562 siswa yang terdiri dari 22 kelas. Sampel penelitian berjumlah 47 responden yang terdiri dari 1 orang pegawai kantor BNN Kota Aceh, 5 orang dewan Guru yang terdiri dari guru BK dan Guru Biologi serta 41 siswa SMA Negeri 11 Banda Aceh. Instrumen penelitian berupa angket dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMA Negeri 11 Banda Aceh memiliki persepsi positif terhadap penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif), hal ini terlihat dari hasil jawaban angket yang diberikan diperoleh nilai rata-rata keseluruhan yaitu 66,46 (kategori baik). Dari hasil wawancara secara umum semua responden memiliki sikap yang positif terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan dampak terjadinya penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif) di SMA Negeri 11 Banda Aceh,  dikalangan remaja dan pada masyarakat secara umunya. Adapun faktor penyebab sering terjadinya penyalahgunaan Napza yaitu faktor keluarga (broken home), faktor lingkungan tempat tinggal dan faktor pergaulan bebas.
PENGINTEGRASIAN KONSEPBIOKONSERVASIDALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI SEBAGAI UPAYA MENUMBUHKAN LITERASI DAN KESADARAN LINGKUNGAN DI KALANGAN SISWA Evi Apriana
JURNAL SERAMBI ILMU Vol 13, No 1 (2012): JURNAL SERAMBI ILMU
Publisher : UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/si.v13i1.1037

Abstract

Pengembangan kurikulum biokonservasi yang terintegrasi dalam pembelajaran biologi di SMA merupakan salah satu alternative untuk meningkatkan kepedulian masyarakat khususnya siswa SMA terhadap kelestarian sumber daya alam.konservasi keanekaragaman hayati, termasuk pengelolaan sumber daya alam hayati. Seharusnya masyarakat peduli akan pentingnya keaneka-ragaman hayati di sekitarnya, kenyataannya masyarakat rasanya kurang peduli akan lingkungan sekitar. Penebangan hutan adalah contoh paling nyata, padahal hutan merupakan benteng terakhir untuk melindungi flora dan fauna, disamping fungsinya untuk mencegah banjir dan kekeringan serta dapat mengurangi gas emisi rumah kaca penyebab pemanasan global.Atas dasar itu pentingnya menanamkan tentang konservasi lingkungan sejak dini.Oleh sebab itu pengetahuan tentang konservasi, flora dan fauna yang terancam punah sudah saatnya dimasukkan dalam muatan kurikulum mulai tingkat SD,SMP dan SMA.Pembelajaran konservasi, flora dan fauna yang terancam punah dan lingkungan hidup hendaknya disampaikan dengan menarik yang melibatkan aspek kognitif (otak, kecerdasan), afektif (perasaan), motorik (gerakan) dan sosial (hubungan antar manusia).
KAWASAN KONSERVASI ACEH DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI KONSERVASI Evi Apriana; Muhammad Ridhwan
Jurnal Biology Education Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Biology Education 2019
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.911 KB) | DOI: 10.32672/jbe.v7i1.1075

Abstract

KAWASAN KONSERVASI ACEH DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI KONSERVASI   (1Evi Apriana, (2M. Ridhwan(1,2Pend. Biologi Universitas Serambi Mekkah Banda Acehemail: eviapriana@serambimekkah.ac.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan kawasan konservasi Aceh dan pemanfaatannya dalam pembelajaran biologi konservasi. Penelitian ini menerapkan desain Penelitian Kualitatif (Qualitative Research), dilakukan menggunakan metode observasi langsung pada kawasan konservasi Aceh dan wawancara mendalam (deep interview) dengan informan (key person) pengelola kawasan konservasi Aceh. Dari observasi dan wawancara diperoleh hasil bahwa kawasan konservasi Aceh terdiri dari Kawasan Konservasi Hutan Ulu Masen, Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Laut Pulau Weh, Taman Wisata Alam Kepulauan Banyak, Taman Buru Lingga Isaq, Tahura Pocut Meurah Intan, Pusat Latihan Gajah Aceh – Saree, Cagar Alam Serbajadi, Cagar Alam Pinus Jantho, Suaka Margasatwa Rawa Singkil, Taman Nasional Gunung Leuser. Pemanfaatan kawasan konservasi Aceh dalam pembelajaran biologi konservasi dapat dilakukan dengan metode kerja ilmiah melalui observasi dan eksperimen pada laboratorium lapangan (field laboratorium), agar mahasiswa mempunyai kapasitas dan tingkat kesadaran yang tinggi terhadap biologi konservasi. Kata kunci: kawasan konservasi Aceh, hutan Ulu Masen, taman wisata alam, taman wisatalaut, taman buru, cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, pembelajaran biologi konservasi
Jurnal Biology Education 2015 Evi Apriana
Jurnal Biology Education Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Biology Education 2015
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jbe.v4i2.970

Abstract

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT DALAM PENGATURAN DAN PENGELOLAAN BERSAWAH EVI APRIANAUniversitas Serambi Mekkah Banda Acehemail: eviapriana@yahoo.co.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal yang terdapat pada masyarakat dalam pengaturan dan pengelolaan bersawah, dan mengetahui sangsi adat yang diberikan kepada masyarakat yang melanggar hukum adat tersebut. Sampel dari penelitian ini adalah imeum mukim, keujreun blang, dan masyarakat di Desa Ateuk Mon Panah Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Aceh Besar yang berjumlah 30 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menyatakan bahwa kearifan lokal khususnya tata tertib turun ke sawah telah ada sejak lama, dan tradisi ini sampai saat ini masih dipertahankan. Sangsi adat yang masih berlaku hingga sekarang pada masyarakat adalah sangsi bagi pencuri air. Sangsi yang diberikan dapat berupa membuat kue talam sebanyak 1000 buah bahkan bisa berupa potong kambing (tergantung dari besar kecilnya perkelahian). Kearifan lokal masyarakat dalam pengaturan dan pengelolaan bersawah sebagai adat yang  telah dilakukan dan harus dilestarikan. Kata kunci:   Kearifan lokal, pengaturan dan pengelolaan bersawah, adat, sangsi adat, hukum adat 
PENGGUNAAN BERBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI PADA MATA KULIAH PEMBELAJARAN MIKRO (MICROTEACHING) Evi Apriana
Jurnal Biology Education Vol 4, No 1 (2015): Biology Education
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.659 KB) | DOI: 10.32672/jbe.v4i1.143

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan penggunaan berbagai media pembelajaran biologi pada mata kuliah pembelajaran mikro (microteaching) melalui kegiatan perkuliahan berupa latihan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan berbagai media pembelajaran biologi. Penelitian ini menerapkan desain penelitian kualitatif (Qualitative Research). Proses analisis data terhadap peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan berbagai media pembelajaran biologi pada latihan mengajar I, II, III, dan nilai mata kuliah pembelajaran mikro (microteaching);dilakukan pada saat perkuliahan sedang berlangsung dan setelah perkuliahan selesai. Dari analisis ini diperoleh hasil bahwa penggunaan berbagai media pembelajaran biologi pada mata kuliah pembelajaran mikro (microteaching) harus disesuaikan dengan materi (konsep dan sub konsep), LKS, model, metode, dan lokasi pembelajaran yang bervariasi. Media asli lebih efektif digunakan dalam pembelajaran mikro (microteaching) (Biologi) dengan LKS “Kegiatan” dan LKS “Materi” sebagai panduan siswa untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan pemecahan masalah. Terjadi peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menggunakan berbagai media pembelajaran biologi padalatihan mengajar I, II dan III dengan nilai berkisar dari cukup, baik dan sangat baik bagi mahasiswa yang telah melakukan latihan mengajar dan berhasil menggunakan berbagai media pembelajaran biologi.Kata kunci: media pembelajaran, lembar kegiatan siswa, pembelajaran mikro (microteaching) dan latihan mengajar
PROSES EVALUASI (ASSESSMENT) KEMAMPUAN MENGELOLA PEMBELAJARAN MIKRO (MICROTEACHING) Evi Apriana; Samsul Bahri
Jurnal Biology Education Vol 10, No 1 (2022): Jurnal Biologi Education Volume 10 Nomor 1 Edisi April 2022
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.403 KB) | DOI: 10.32672/jbe.v10i1.4236

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan proses evaluasi (assessment) kemampuan mengelola pembelajaran mikro (microteaching) melalui kegiatan perkuliahan berupa latihan kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran biologi. Penelitian ini menerapkan desain penelitian kualitatif (Qualitative Research). Proses analisis data terhadap kemampuan mahasiswa dalam mengelola pembelajaran biologi pada latihan mengajar mata kuliah pembelajaran mikro (microteaching) dilakukan pada saat perkuliahan sedang berlangsung. Dari analisis ini diperoleh hasil bahwa proses evaluasi (assessment) kemampuan mengelola pembelajaran mikro (microteaching) harus disesuaikan dengan pedoman observasi dan rubrik penilaian kemampuan mengelola pembelajaran mikro (microteaching). Pedoman observasi kemampuan mengelola pembelajaran mikro (microteaching) memperhatikan aspek dan indikator penilaian yaitu kemampuan membuka pelajaran, bertanya, mengadakan variasi, menjelaskan, mengelola kelas, memberi penguatan, membimbing diskusi kelompok kecil, mengelola pembelajaran kelompok kecil dan perorangan, penggunaan bahasa lisan, dan menutup pelajaran. Rubrik penilaian kemampuan mengelola pembelajaran mikro (microteaching) digunakan untuk menilai 10 (sepuluh) kemampuan mengelola pembelajaran dengan memperhatikan empat deskriptor yang tampak sehingga memperoleh nilai skor 0, 1, 2, 3, dan 4.