Claim Missing Document
Check
Articles

PENDIDIKAN ISLAM DAN KERUKUNAN ANTARETNIS: PERAN MUHAMMADIYAH DALAM MENJEMBATANI MASYARAKAT MUSLIM DAYAK DAN MASYARAKAT BANJAR DI KALIMANTAN SELATAN Z, Syarif Hidayatullah; Jamalie, Zulfa
Atta'dib Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 6 No. 1 (2025): Atta'dib Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : IAIN Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/attadib.v6i1.8939

Abstract

This study aims to explore the role of Muhammadiyah in fostering interethnic harmony between the Muslim Dayak and Banjar communities in South Kalimantan through Islamic education. Utilizing a qualitative descriptive approach with a case study method, the research relies primarily on document analysis, supported by limited informal interviews. The data reveal that Muhammadiyah employs da’wah bil hal -a practical and socially responsive approach- as a key strategy to empower Dayak converts and promote social interaction with the Banjar community. Through inclusive educational programs and culturally sensitive outreach, Muhammadiyah has contributed to building intercultural dialogue, enhancing social solidarity, and supporting grassroots integration in a multiethnic society. 
Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Sinoman Hadrah di Kecamatan Haur Gading Kabupaten Hulu Sungai Utara Rahman, Sandy Aulia; Jamalie, Zulfa; Noor, Asikin
INTEGRASI : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 2, No. 1 : INTEGRASI (JANUARI-JUNI 2024)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/int.v2i01.103

Abstract

Salah satu yang menarik dari masyarakat Indonesia adalah keramah tamahannya kepada setiap orang. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kuat nilai-nilai islam terhadap budaya di Indonesia. Tradisi Sinoman hadrah salah satunya adalah tradisi yang berasal dari akulturasi budaya Arab dan Melayu sehingga keseluruhan Tindakannya bernafaskan Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami peran tradisi sinoman hadrah sebagai wadah pendidikan living sunnah dan bagaimana tradisi ini menggambarkan nilai-nilai pendidikan di masyarakat. Metode penelitian ini menggunakan Deskriptif-Kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dengan mengkaji living sunnah melalui analisis fungsional Thomas F.O’Dea. Jenis penelitiannya menggunakan jenis penelitian lapangan (Field Research) yang dipadukan dengan hasil penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sinoman Hadrah bukan hanya pertunjukan seni semata, melainkan juga medium pendidikan Living Sunnah yang efektif, terutama dalam hal penghormatan terhadap tamu dan peningkatan keberkahan melalui sholawat. Adapun dimensi-dimensi Pendidikan yang terdapat dalam tradisi sinoman hadrah ini meliputi aspek keagamaan, aspek budaya, aspek sosial, dan aspek ekonomis.
NILAI-NILAI SOSIAL TRADISI PAHADRING PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM PADA MASYARAKAT DESA KARASIKAN KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN Rusdiana, Rusdiana; Jamalie, Zulfa; Nor, Asikin
Tazkir: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Keislaman Vol 10, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/tazkir.v10i1.10990

Abstract

Tradisi Pahadring merupakan salah satu tradisi masyarakat Desa Karasikan yang dilaksanakan sekitar seminggu sebelum acara perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan pahadring, mengetahui apa saja nilai sosial yang terkandung dalam tradisi pahadring serta mengetahui faktor apa yang menyebabkan tradisi pahadring masih tetap eksis di desa Karasikan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karasikan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Metode yang digunakan adalah  penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dokumentasi mengenai tradisi pahadring. Teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah Tradisi pahadring ialah kegiatan rapat yang dilaksanakan masyarakat Desa Karasikan untuk menyiapkan acara perkawinan. Biasanya tradisi ini dilaksanakan pada malam hari dan dihadiri oleh keluarga pengantin dan warga khususnya laki-laki dengan maksud untuk merundingkan hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk acara perkawinan. Dalam tradisi pahadring terdapat beberapa nilai sosial yakni nilai kebersamaan, nilai tolong-menolong, nilai mufakat, nilai ekonomi dan nilai keagamaan. Adapun faktor yang mengakibatkan tradisi Pahadring masih eksis sampai saat ini adalah karena faktor adat dan tradisi serta faktor manfaatnya. Selain itu terdapat tiga tantangan dalam melestarikan tradisi pahadring yaitu Ketidakpedulian Generasi Muda, zaman yang serba mudah serta keadaan ekonomi masyarakat.
Agama dan Pendidikan di Barat dan Dunia Islam Syahbudin, Akhmad; Jamalie, Zulfa; Noor, Irfan; Iqbal, Muhammad; Basir, Abd.
Mu'allim Vol 5 No 1 (2023): Januari
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/muallim.v5i1.3542

Abstract

There has been a struggle in the diversity of the Western world, such as: That religion whose adherents have absolute, universal, and transcendental truths was concretely visualized in the Western World in the Middle Ages, even the West in the Middle Ages was known as the century of faith. However, in the modern era, the West, starting with the birth of a religious Renaissance, was challenged, criticized, and at least suspected. Since the renaissance there have been efforts to bring the Western world towards scularism and the separation of the role of religion in the life of empirical reality. The peak of rejection of religion in the west was raised by Nietzie with the statement God Is Death. In the postmodern century, it is nothing more than an image that has no meaning. Even religion has always been used as material for discussion, but in empirical reality and in practical life the existence of religion is considered as something that has no relation and is considered to interfere with human freedom. Postmodernism has a philosophy of anti-absoluteness and certainty, including in relation to religion. Therefore in the Western world there is no certainty in religion.
“Maarak Kitab Bukhari” Tradition in Banjar Community Jamalie, Zulfa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v18i2.3649

Abstract

This study reviews the local wisdom and harmony in the tradition Maarak Book of Bukhari (MKB) in Banjar community. This study uses religious anthropological approaches to explore various ideas and understanding of the research object. The results showed that this tradition is motivated by environmental condition of Banjar which is prone to fire, so as part of a tradition of starting reinforcements. It is carried out when people have seen some signs or warnings and dealt with specific situations. This tradition is done at night during dry season when fires frequently happened, with the aim of counteracting the danger of fire and for safety. In this tradition, the procession made certain that is believed to be a sort of intermediary or the cause so that it prevents from the fire. Starting with the implementation of the sunnat prayers, then reading the sura Yasin, paraded the holy book around the village, recite the lines of Burdah, reading segue Kamilah, and closed with praying for salvation. The description of religious valuesand propaganda contained in this tradition is strong evidence of the ability of the scholars earlier to acculturate the understanding and behavior of Banjar society before the arrival of Islam. MKB is one of the traditions that reflect the meeting between Islam and local culture. Penelitian ini mengkaji tentang kearifan lokal dan harmoni yang terdeskripsi dalam tradisi Maarak Kitab Bukhari pada masyarakat Banjar. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis keagamaan untuk menggali berbagai pemikiran dan pemahaman masyarakat terhadap objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Maarak Kitab Bukhari dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan masyarakat Banjar yang rawan terjadi kebakaran, sehingga sebagai bagian dari tradisi tolak bala, MKB dilaksanakan ketika masyarakat telah melihat sejumlah tanda (mendapat peringatan) dan berhadapan dan situasi tertentu. Tradisi ini dilakukan pada malam hari, ketika musim kemarau, seringnya terjadi kebakaran dengan tujuan menangkal bahaya kebakaran dan memohon keselematan. Dalam tradisi ini, dilakukan prosesi tertentu yang diyakini bisa menjadi semacam perantara (wasilah) atau berkat (penyebab), sehingga kebakaran tidak terjadi. Dimulai dengan pelaksanaan shalat sunnat hajat, diteruskan dengan membaca surah Yaasin, mengarak keliling kampung kitab Shahih Bukhari, melantunkan syair-syair Burdah, membaca Shalawat Kamilah, dan ditutup dengan pembacaan doa tolak bala serta doa keselamatan. Deskripsi nilai keagamaan dan dakwah yang terkandung dalam tradisi Maarak Kitab Bukhari merupakan bukti kuat kemampuan para ulama terdahulu dalam mengakulturasi paham dan prilaku masyarakat Banjar sebelum kedatangan Islam. Sehingga, apabila semula simbol, benda, dan nilai-nilai dalam tradisi tolak bala sarat dengan keyakinan terdahulu, begitu Islam masuk dan berkembang, tradisi tersebut telah bersandarkan dan sarat dengan nilai-nilai keIslaman dan bertransformasi menjadi tradisi Maarak Kitab Bukhari. Jelas apabila Maarak Kitab Bukhari adalah salah satu tradisi yang mencerminkan pertemuan antara Islam dan budaya lokal. 
Akulturasi dan Kearifan Lokal dalam Tradisi Baayun Maulid pada Masyarakat Banjar Jamalie, Zulfa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v16i2.2778

Abstract

This research examines the acculturation and transformation of traditional values of Banjarese Baayun Maulud . It used religious anthropology approach as an effort to understand the deepest meaning of the research object. The result shows that this tradition was historically started from swinging child ceremony of Dayakese Tribe in Kalimantan, in order to give blessing, give name, pray for safety, and to thank for the child birth. A long with the incoming and development of Islam in this region, the ceremony which was inherited by the ancestors experienced changes. The Islamic preachers have changed and acculturated this ceremony so it is full of Islamic values. The ceremony once called swinging child ceremony, then after the acculturation it became Baayun Maulud. The venue is centralized at the mosque and is combined with the celebration of Muhammad’s birthday. The children are swung with qur’an recitation, rhyme quatrains of maulud, and prayers. The local wisdoms and the religious thoughts has been unified in harmony in the tradition, which becomes the sign of gratitude expressions  for the child birth, as well as for celebrating and honoring the birth of the Greatest Prophet Muhammad. Penelitian ini mengkaji akulturasi dan transformasi nilai dalam tradisi Baayun Maulid masyarakat Banjar. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis keagamaan sebagai upaya memahami makna mendalam dari objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah munculnya tradisi ini bermula dari upacara maayun anak masyarakat Dayak Kalimantan untuk memberikan keberkahan, memberi nama, menyampaikan doa keselamatan, dan tanda syukur atas kelahiran anak. Seiring dengan masuk dan berkembangnya Islam di kawasan ini, upacara yang diwariskan oleh nenek moyang ini pun mengalami perubahan. Ulama penyebar Islam telah merubah dan mengakulturasi upacara ini menjadi sarat dengan nilai-nilai keislaman. Apabila semula upacara ini dinamakan Baayun Anak, maka sesudah diakulturasi berubah menjadi Baayun Maulid. Tempat pelaksanaan dipusatkan di masjid dan disandingkan dengan peringatan maulid Nabi. Anak diayun dan dibacakan al Quran, syairsyair maulid, serta doa. Tradisi lokal dan ajaran agama telah bersatu secara harmonis dalam kegiatan Baayun Maulid, yang menjadi penanda kesyukuran atas kelahiran anak sekaligus peringatan dan penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad.
Islam and Traditions of The Bugis Pagatan Coastal Community Jamalie, Zulfa; Wibowo, Fasih
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v25i1.20731

Abstract

This study concerned the relationship between Islam and traditions commonly practiced by the Bugis Pagatan coastal community. The purpose is to sociologically describe religious life and understand various rites due to a mixture of Islam and traditions. It is a descriptive qualitative, and empirical research that combines sociological, anthropological, and historical approaches to analyze the religious life of the Bugis Pagatan community. The results showed that there are three major traditions in the life of the coastal community, namely religious traditions as part of teaching values (mabbarasanji, massukkiri, mappanrelebbe), rites (mappandretasi'), and life cycle (mappabotting, madutta, mapacci, mappenretojang). Each form of tradition contains religious and cultural symbols as well as deep best values. Religious values found covered devotion, sincerity, and patience, to obtain safety and the blessings of life. Meanwhile, cultural and social values were in the form of honesty, openness, strength, chastity, and honor, to maintenance of harmony and togetherness. Thus, the interaction between Islam and local traditions runs in harmony and mutually reinforces. Islamic acculturation is accepted with the implementation of culture and directed to support spreading the religion. This research recommends the importance of maintaining a harmonious relationship between Islam and culture to prevent conflicts. Penelitian ini mengkaji hubungan antara Islam dan tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat pesisir Bugis Pagatan. Tujuannya untuk mendeskripsikan secara sosiologis kehidupan beragama dan memahami berbagai ritus akibat percampuran antara Islam dan tradisi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan empiris yang memadukan pendekatan sosiologis, antropologis, dan historis untuk menganalisis kehidupan keagamaan masyarakat Bugis Pagatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga tradisi besar dalam kehidupan masyarakat pesisir Bugis Pagatan, yaitu tradisi keagamaan sebagai bagian dari ajaran nilai (mabbarasanji, massukkiri, mappanrelebbe), ritus (mappandretasi'), dan daur hidup (mappabotting, madutta, mapacci, mappenretojang). Setiap bentuk tradisi mengandung simbol-simbol agama dan budaya serta nilai-nilai terbaik yang mendalam. Nilai religius berupa ketaqwaan, keikhlasan, dan kesabaran, untuk memperoleh keselamatan dan keberkahan hidup. Sedangkan nilai budaya dan sosial berupa kejujuran, keterbukaan, kekuatan, kesucian, dan kehormatan, untuk terpeliharanya kerukunan dan kebersamaan. Kesimpulan, interaksi antara Islam dan tradisi lokal berjalan harmonis dan saling menguatkan. Akulturasi Islam diterima dengan implementasi budaya dan diarahkan untuk mendukung proses penyebaran agama. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis antara Islam dan budaya untuk mencegah terjadinya konflik.
Rekonstruksi Islamisasi Pedalaman: Model Berbasis Masjid dan Terintegrasi dengan Tradisi dari Banua Lima, Kalimantan Selatan Jamalie, Zulfa; Wibowo, Fasih
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 24 No. 2 (2025): Islam, Local Wisdom, and Social Transformation in Contemporary Muslim Societie
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/albanjari.v24i2.8567

Abstract

The history of Islamic dissemination in Banua Lima particularly along the Batang Alai River Basin in Barabai remains poorly documented, resulting in a fragmented understanding of early Islamization in the upstream region compared to the more extensively recorded coastal areas. This study aims to reconstruct the development pattern of Islam in Banua Lima by examining historical traces, the role of sacred mosques, local religious figures, and the acculturation of pre-Islamic traditions. Employing a historical-social approach with heuristic, verification, interpretation, and historiographical stages, data were collected through archival studies, oral histories, site observation of heritage mosques, and documentation of cultural rituals. The findings indicate that Islam spread through three fundamental mechanisms: the establishment of mosques as centers of religious activities, the empowerment of local figures as key agents of da'wah, and the integration of indigenous traditions such as Baayun Maulid and Batumbang—into Islamic practice. Heritage mosques in Palajau, Banua Halat, Banua Lawas, and surrounding areas serve as material evidence of the da'wah mission led by Khatib Dayan. The study concludes that the Islamization process in Banua Lima was peaceful, adaptive, and collaborative, forming a da'wah model that remains contextually relevant for contemporary local communities. Further research and preservation of historical mosques and cultural traditions are recommended as strategic efforts to maintain the Islamic historical legacy in South Kalimantan.
Nilai-Nilai Pendidikan Islam Melalui Tradisi Menyaratus Dengan Khatamul Quran di Kabupaten Barito Kuala Muhammad Turiansyah; Zulfa Jamalie; Ali Muammar Zainal Abidin
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2026): Volume 11 No. 04 Desember 2025 In Build
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.8745

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekayaan budaya dan nilai keagamaan masyarakat Indonesia yang terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tradisi yang menarik untuk dikaji adalah tradisi Manyaratus yang disandingkan dengan kegiatan Khatamul Qur’an pada masyarakat Dayak Bakumpai di Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang kemunculan tradisi Manyaratus, menganalisis proses pelaksanaannya, serta mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya berdasarkan perspektif etnopedagogik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data meliputi observasi partisipatif, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Manyaratus dengan Khatamul Qur’an telah dilaksanakan sejak masa Qodhi H. Abdusshamad Albakumpai. Prosesi pelaksanaan dimulai dengan pembacaan Al-Qur’an pada malam hari, dilanjutkan dengan baakramal dan pembacaan kitab Khatamul Qur’an pada pagi harinya, serta doa-doa dan dzikir khas Bakumpai. Tradisi ini mengandung nilai religius, sosial, dan budaya lokal yang memperkuat internalisasi ajaran Islam dalam masyarakat. Temuan ini penting karena menunjukkan peran tradisi lokal dalam memperkuat pendidikan Islam melalui pendekatan budaya
JEJAK DAKWAH INSPIRATIF K.H. HASAN BASRI SEBAGAI ULAMA DARI KALIMANTAN NURUL HAFIZAH; Zulfa Jamalie
ORASI: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 14 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/orasi.v14i2.12774

Abstract

Orang Banjar mayoritas beragama Islam, hal ini dapat dilihat pada Satu Data Banua, data tersebut menunjukkan bahwa pemeluk agama Islam di Kalimantan Selatan mencapai 97%. Keislaman pada kawasan Kalimantan itu bukanlah secara langsung, akan tetapi banyak proses yang sudah terjadi dan dilalui oleh masyarakat banjar. Hal ini tidak terlepas oleh peran ulama ataupun tokoh Islam dalam usaha dakwahnya. Salah satu ulama yang berasal dari Kalimantan ialah K.H. Hasan Basri. Beliau merupakan ulama yang berasal dari Kalimantan, yang aktif dibeberapa bidang organisasi. Beliau dikenal sebagai tokoh ulama yang terkemuka yang memiliki kekhasan dalam pemikiran dan kepemimpinan. K.H. Hasan Basri dalam kepemimpinannya banyak menduduki posisi pimpinan di berbagai organisasi baik di keagamaan ataupun di kemasyarakatan, terutama di Majelis Ulama Indonesia. K.H. Hasan Basri walaupun sejak usia belia beliau dibesarkan tanpa ayah, namun hal itu tidak membuat beliau merasa kekurangan. Beliau tumbuh menjadi anak yang cerdas, yang memiliki impian yang tinggi. Alhasil usahanya yang begitu keras dalam berjuang, membuat cita-citanya terwujud. Hal ini penting untuk diteladani agar memberi tahu  masyarakat lokal dan global dalam mengenang jasa-jasa beliau, menginspirasi kaum muda, dan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya. Sosok K.H. Hasan Basri dapat kita jadikan tauladan karena beliau sangat berhati-hati dalam bertutur kata, mendengarkan pendapat dari orang lain, menghormati pendapat setiap orang, selalu menjalin tali silaturrahmi, pantang menyerah dalam menghadapi segala cobaan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak, dan selalu mencari jalan keluar dengan bermusyawarah. Penulisan penelitian ini menggunakan jenis penelitian studi pustaka, dengan teknik pengumpulan data berupa dokumensi dan teknik analisis data berupa analisis isi.