Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Hubungan Perilaku Ibu Dengan Status Gizi Anak Balita di Kabupaten Garut Purnama, Dadang; Raksanagara, Ardini S.; Arisanti, Nita
KEPERAWATAN Vol 5, No 2 (2017): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.961 KB)

Abstract

ABSTRAK      Derajat kesehatan suatu masyarakat diukur oleh angka kematian, angka kesakitan, usia harapan hidup dan status gizi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukan masalah gizi yang terjadi di Indonesia 13,3%, Jawa Barat 11%, Garut 2,6%. Hasil penimbangan balita pada bulan penimbangan balita di Kabupaten Garut pada Tahun 2012 Kurang Energi Protein (KEP),  Kekurangan Yodium, dan Kekurangan Vitamin menunjukan angka 1,63%. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara perilaku ibu dalam pemberian makan dengan status gizi anak balita dan, untuk mengetahui hubungan antara perilaku ibu dalam pola asuh dengan status gizi anak balita.Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang bersifat cross-sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknikProporsional, pada 73 sampel penelitian yang memiliki anak balita yang berada di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung menggunakan kuesioner. Analisis bivariat menggunakan Uji Chi Square.Kesimpulandari penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan perilaku ibu dalam pemberian makan dengan status gizi anak balita, (p) = 0,152, dan terdapat hubungan perilaku ibu dalam pola asuh dengan status gizi anak balita(p) = 0,021.Perlu peningkatan kapasitas ibu dalam pengasuhan anak balita. Puskesmas membutuhkan sumberdaya manusia serta pembiayaan untuk promosi kesehatan di bidang gizi perlu lebih ditingkatkan. Salah satu sumber yang potensial adalah dana kapitasi Puskesmas dari Jaminan Kesehatan Nasional. Kata kunci: perilaku pemberian makan, perilaku pola asuh, status gizi. ABSTRACTThe degree of a community health may be measured by mortality, illness, life expectation age, and nutrient status. Basic Health Research in 2010 show nutrient issues in Indonesia at 13.3%, West Java, 11%, Garut, 2.6%. The weighing of children under five on children under five weighing month in Regency of Garut by 2012 for Protein Energy Deficit, Iodine Deficit, and Vitamin Deficit indicates the rate of 1.63%. The aims of this study are to know relationship between maternal behaviors in feeding and nutrient status of children under five and to understand relationship between maternal behaviors in parenting and nutrient status of children under five. This study design use cross-sectional quantitative approach. The sampling technique in this study is using proportional technique applied to 73 samples with children under five living in Sukaresmi District, Regency of Garut. The data were collected by means of direct interviews using questionnaire. The bivariate analysis was made by using Chi Square test.The conclusion of this study suggest there is not correlation of maternal behavior in feeding with nutrient status of children under five, (p) = 0.152), and there is correlation of maternal behavior in parenting with nutrient status of children under five, (p) = 0.021.There is need for improvement of maternal capacity in parenting for children under five. Clinical Center need for human resource and, therefore, the funding for promotion of health in nutrition will have to be improved. On potential source is Clinical Center capacitance funding of National Medical Assurance.Keywords: feeding behavior, nutrient status, parenting behavior.
Tingkat Pengetahuan dan Persepsi Dokter Puskesmas di Kota Bandung Terhadap Pengembangan Karir Sebagai Dokter Layanan Primer Tahun 2016 Winarto, Muhammad Ananta; Setiawati, Elsa Pudji; Arisanti, Nita
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3 Maret 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.43 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v3i3.16987

Abstract

Dokter layanan primer dapat menjadi pilihan dalam pengembangan karir dokter umum di Indonesia. Kehadiran dokter layanan primer menimbulkan pendapat dan sikap dari berbagai pihak. Pendapat dan sikap muncul setelah seseorang memiliki pengetahuan dan persepsi terhadap sesuatu. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pengetahuan dan persepsi dokter yang bekerja di puskesmas kota Bandung terhadap dokter layanan primer. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang dilakukan pada Bulan September-November 2016 di 73 Puskesmas di Kota Bandung dengan studi desain deskriptif kuantitatif dan kualitatif minor. Data diambil menggunakan kuesioner mengenai pengetahuan dan persepsi terhadap dokter layanan primer yang disebar kepada dokter fungsional yang berada di Puskesmas. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Terkumpul data dari 70 dokter fungsional yang berasal dari 57 Puskesmas di Kota Bandung. Hasil analisis data didapatkan bahwa 20,0% responden memiliki pengetahuan baik, 61,4% cukup, dan 18,6% responden kurang. Untuk aspek persepsi, responden yang memiliki persepsi positif dan negatif sama-sama sebesar 50% terhadap dokter layanan primer. Sebagian besar responden masih belum memiliki pengetahuan yang baik terhadap dokter layanan primer, sehingga disertai masih terdapatnya setengah responden yang memiliki persepsi negatif terhadap dokter layanan primer.Kata kunci: dokter layanan primer, dokter puskesmas.
GAMBARAN PEMANFAATAN UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT (UKBM) DI KECAMATAN JATINANGOR arisanti, nita; Sunjaya, Deni
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.89 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i1.10336

Abstract

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat bukan hanya tugas pemerintah saja tetapi diperlukan juga partisipasi masyarakat dengan memberdayakan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk memampukan masyarakat sehingga mampu mengenali dan menyelesaikan permasalahan. Berbagai upaya kesehatan yang bersumberdaya masyarakat telah dikembangkan di Indonesia seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pondok Bersalin Desa (Polindes), Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), pos obat desa POD), dana sehat, dll, tetapi pemanfaaranya masih kurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat di Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Indonesia.Metode penelitian ini adalah survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 820 responden. Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya sekitar 46% yang memanfaatkan posyandu. Alasan mereka tidak memanfaatkannya adalah tidak perlu. Hanya 28,5% penduduk yang memanfaatkan polindes. Alasan tidak memanfatkannya adalah sebagian besar merasa tidak membutuhkan dan sebagian besar penduduk menggunakan polindes untuk mendapatkan pengobatan (53,3%) bukan pemeriksaan kehamilan dan persalinan. Tidak ada Pos Obat Desa dan Pos Kesehatan Desa yang dikembangkan di Kecamatan Jatinangor. Perlu adanya revitalisasi untuk UKBM, sehingga UKBM dapat menjadi ujung tombak dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat.Kata kunci: bersumberdaya masyarakat, penggunaan, upaya kesehatan
Hubungan Fungsi Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Kronis Degeneratif di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Oktowaty, Susi; Setiawati, Elsa Pudji; Arisanti, Nita
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.172 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i1.19180

Abstract

Fungsi keluarga merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan kualitas hidup pasien penyakit kronis. Memiliki kualitas hidup yang baik akan mengurangi risiko terjadinya komplikasi yang dapat memperburuk keadaan. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan fungsi keluarga dengan kualitas hidup pasien penyakit kronis degeneratif yang tergabung dalam komunitas Program Pengelolaan Penyakit Kronis Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau Prolanis BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang ini dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2017 dengan menggunakan kuesioner dari WHO Quality of Life - BREF (WHOQOL-BREF) dan APGAR Keluarga. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling sebanyak 128 peserta Prolanis di Klinik Pratama Mitra Sehati yang kontrol rutin dalam 3 bulan terakhir. Pada penilaian APGAR keluarga didapatkan 52,3% peserta memiliki keluarga disfungsional sedang dan 43,8% sangat fungsional. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup peserta Prolanis (p value=0,014) sedangkan pengaruh fungsi keluarga terhadap kualitas hidup peserta Prolanis sebesar 8,8% (R2=0,088). Hal ini menjadi salah satu aspek penting bagi dokter di layanan primer agar lebih melibatkan peran fungsi keluarga dalam mengelola pasien penyakit kronis.Kata kunci: fungsi keluarga, kualitas hidup, pasien penyakit kronis degeneratif
Perception of Men Who Have Sex with Men about the Test and Treat Strategy of Human Immunodeficiency Virus in Bandung City Saifuddin, Ayesha Nadiatama; Arisanti, Nita; Lestari, Bony Wiem
Althea Medical Journal Vol 4, No 4 (2017)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.354 KB) | DOI: 10.15850/amj.v49n4.1262

Abstract

Background: Human immunodeficiency virus (HIV) infection in Indonesia has shifted from injecting drug use to sexual transmission. One of the ways to prevent HIV transmission is by using early antiretroviral therapy (ART) or known as Test and Treat. Test and Treat is recommended by the World Health Organization (WHO) in 2013. This study aimed to explore the perception of men who have sex with men (MSM) about HIV Test and Treat Strategy. Methods: This quantitative observational study used a cross-sectional design. Primary data were collected from questionnaires filled in by 58 MSM diagnosed as HIV positive at Mawar Clinic, Pasundan and Ibrahim Adjie public health centers in September–December 2016. Sampling was performed using total sampling method which was bounded by time period. The questionnaire contained data of respondents’ characteristics and perceptions of HIV Test and Treat Strategy. Data analysis was presented in tables. Result: Respondents  were mostly 20–24 years old (48%), 55% were Senior High School graduates, 98% were unmarried, 58% worked as employees, and 21% earned 2–2.5 million rupiahs per month. Forty eight percent of the respondents had negative perception of the test and treat strategy, and 52% of the respondents had positive perception of the strategy.Conclusions: Most of the MSM population have a negative perception of HIV test and treat strategy. It is important for the key populations especially the MSM to obtain education related to HIV treatments and strategy.
Profile and Behaviour of Mother as Factor of Increasing Diarrhea Incidence Children Under Five at Jatinangor District in 2013 Widhyasti, Rahayu; Arisanti, Nita; Rosalina, Ina
Althea Medical Journal Vol 3, No 4 (2016)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.765 KB)

Abstract

Background: In 2012, data from Health Center of Jatinangor District showed nearly 50% of diarrhea cases occured in children under five at Sayang Village and Cilayung Village. Diarrhea cannot be separated from several factors that influence it, thus to reduce the incidence rate of diarrhea needs description of factors that affect diarrhea in children so that prevention can be done maximally. Objective of this study was to describe profile and behavior of mother as one factor of increasing diarrhea incidence in children under five at Jatinangor.Methods: This study was descriptive with cross-sectional design conducted at Sayang Village and Cilayung Village in October–November 2013. The respondents of this study were 102 mothers who have infants aged 0–59 months thorough cluster sampling methods. Respondent will be interviewed and given validated questionnaire. Results: The result showed that 57.8% of mother aged 25–35 years, mostly graduated from junior high education (41.2%), and 81.4% as a housewife. Most of diarrhea occurred in children under 2 years and female. There were 73.5% mother who exclusively breastfed, 94.1% have good behavior of clean water usage, 61.8% with good hand washing behavior, and 60.8% respondents utilized healthy latrine.Conclusions: This study showed good results in behaviour of exclusive breastfeeding, behavior of clean water usage, behaviour of hand washing with clean and water flow, and behaviour of healthy latrine usage. Other factors might be contributed to increasing diarrhea incidence. [AMJ.2016;3(4):655–60] DOI: 10.15850/amj.v3n4.956
Kebijakan Outsourcing Penyelenggaraan Makan Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang Herawati, Dewi Marhaeni Diah; Nurparida, Ida Siti; Arisanti, Nita
Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 4 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.365 KB)

Abstract

Prevalensi malnutrisi pasien rawat inap di rumah sakit cukup tinggi. Pelayanan gizi  diharapkan dapat mengatasi terjadinya malnutrisi di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap kebijakan outsourcing penyelenggaraan makan pasien di Rumah Sakit  Umum Sumedang. Desain penelitian adalah mixed method dengan strategi concurrent embedded. Pengambilan sampel kualitatif dilakukan secara purposive sampling. Subjek penelitian adalah tim pelayanan gizi rumah sakit. Sampel kuantitatif  menggunakan stratified simple random sampling, diperoleh jumlah sampel 154 pasien. Pengukuran status gizi pasien menggunakan subjective global assessment. Penelitian dilakukan pada bulan November sampai Desember 2012. Mekanisme penyediaan makan cukup  terstruktur dan jelas, meskipun masih ada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang belum dimiliki katering seperti SOP untuk menu pasien anak-anak,  penyiapan logistik dan membersihkan peralatan makan pasien.  Beban kerja karyawan katering sangat tinggi dan rangkap tugas. Tim Panitia Asuhan Gizi (PAG) khususnya perawat dan petugas gizi dapat bekerja lebih baik, namun belum memiliki perencanaan stratejik untuk pelayanan gizi. Kapasitas tim PAG dalam pelayanan gizi belum optimal. Terdapat peningkatan gizi buruk dari 1,9% sebelum perawatan menjadi 13% setelah perawatan. Simpulan, penyelenggaraan makan dengan sistem outsourcing belum berdampak pada peningkatan status gizi pasien, namun mekanisme layanan asuhan gizi dan penyediaan makan menjadi lebih jelas dan lebih baik. Kata kunci: Analisis kebijakan, outsourcing, penyelenggaraan makanPolicy of Food Services Outsourcing  in Sumedang District HospitalAbstractThe prevalence of malnutrition remains high in hospital inpatients. Nutritional services can overcome such problem. This study aimed to perform a policy analysis of food service outsourcing in Sumedang District Hospital. The design of this study was a mixed method using a concurrent embedded strategy. The purposive sampling was chosen for the qualitative study in which the hospital nutritionist team members became the subjects. The sampling for the quantitative study was performed using the stratified simple random sampling. About 154 patients were selected as subjects. The subjective global assesment was used as the instrument. The study was conducted from November to December  2012.  The food service mechanism was well structured and clear even though there were missing Standard Operating Procedures (SOPs) such as SOPs for pediatric patient menus, logistic preparation, and patient meal equipment cleaning. Catering employees had a very high workload and were multitasking. The Nutrition Care Committee Team may work better. There was no strategic plan for nutrition services. The capacity of the team was not optimum in terms of nutritional care. The proportion of malnutrition increased from 1.9% to 13% after hospitalization when compared to the pre-hospitalization condition. In conclusion, the outsourcing system for food services has no impact on patients’  nutrition status; however, it is apparent that a clear and better mechanism of nutrition care and food provision is needed.Key words: Food services, outsourcing, policy analysis DOI: 10.15395/mkb.v46n4.343
Penggunaan Genogram dalam Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit Degeneratif dan Keganasan di Masyarakat Arisanti, Nita; Gondodiputro, Sharon; Djuhaeni, Henni
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.581 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v48n2.452

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM) dapat dimulai sejak usia produktif. Umumnya masyarakat baru memeriksakan diri setelah timbul gejala, padahal deteksi dini penyakit penting dilakukan. Sebagian penyakit bersifat familial atau diturunkan yang dapat dideteksi dini dengan menggali riwayat penyakit individu dan keluarga. Genogram merupakan salah satu alat untuk menggali faktor risiko dalam keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sejauh mana fungsi genogram dalam mendeteksi dini faktor risiko penyakit keganasan dan degeneratif. Penelitian kuantitatif dilakukan terhadap 231 pasien di puskesmas se-Kota Bandung. Kriteria inklusi adalah pengunjung puskesmas, berusia 18 tahun ke atas, kooperatif, dan bersedia diwawancara. Teknik pemilihan sampel menggunakan cluster sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner genogram yang mencatat faktor risiko PTM dari 3 generasi. Dilakukan analisis genogram dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus–September 2013. Hasil penelitian menunjukkan, sebanyak 183 dari 231 responden mempunyai faktor risiko penyakit degeneratif dan keganasan yang tergambar dari genogram. Dari riwayat keluarga, penyakit terbanyak adalah hipertensi dan penyakit jantung yang didapatkan dari generasi bapak. Penelitian ini memperkuat penelitian mengenai fungsi genogram yang efektif untuk mendeteksi secara cepat faktor risiko penyakit degeneratif dan keganasan pada individu dan keluarga. [MKB. 2016;48(2):118–22]Kata kunci: Degeneratif, deteksi dini, faktor risiko, genogram, keganasan Genogram as An Early Detection Method for the Risk Factors of Degenerative Diseases and Malignanciesy in the CommunityNon-communicable diseases (NCDs) can be found at young age and the people are not aware about the diseases. People seek medical care after symptoms occurred. Most of NCDs are familial or hereditaryy; hence, require family explorationin the detection that should be detected by exploring family history. Genogram is tool for describing multigenerational risks. The purpose of this study was to determine the functions of genogram in the early detection of risk factors for degenerative diseases and malignanciesy. A quantitative study was conducted on 231 patients who visited primary health centers (Puskesmas) in Bandung with the inclusion criteria were of patients at visited the selected Puskesmas, aged 18 years, and more, cooperative, and willing to be interviewed. Sampling technique used was cluster sampling. Data collecting were performed using questionnaires that recorded genogram and risk factors from three previous generations of the family. Interpretation of genogram was used to analyze the risk factors. This study was conducted from August to September 2013. The results showed that 183 of 231 respondents have risk factors for degenerative diseases and malignancies, which was reflected from the family genogram. Based on family history, most of respondents had have risk factors for hypertension and heart disease, specifically obtainedespecially from the father’s side.  from father’s generation. This research study confirms the results of previous research studystudies that the on the function of genogram that is effectiveo for in detecting the risk factors for degenerative diseases and malignancies in individuals and families in the community. [MKB. 2016;48(2):118–22]Key words: Degenerative diseases, early detection, genogram, malignancy, risk factors 
PELATIHAN KADER POSYANDU REMAJA WUJUD PEMBERDAYAAN REMAJA DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN REMAJA SECARA HOLISTIK Dhamayanti, Meita; Pandia, Veranita; Arisanti, Nita; Azriani, Devi; Bustami, Lusiana El Sinta; Widyasih, Hesty; Kresnayana, Made Yos
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v3i2.1187

Abstract

Survei Kesehatan Berbasis Sekolah di Indonesia tahun 2015 (GSHS) menunjukkan tingginya faktor risiko kesehatan remaja antara lain 41,8% remaja laki-laki dan 4,1% remaja perempuan mengaku pernah merokok. Data lainnya 124,4% remaja laki-laki dan 5,6% remaja perempuan pernah mengkonsumsi alkohol dan 2,6% remaja laki-laki pernah mengkonsumsi narkoba. Masalah perilaku seksual 8,26% remaja laki-laki dan 4,17% remaja perempuan pernah melakukan hubungan seksual.  Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan peningkatan kesehatan remaja secara holistik melalui literasi kesehatan. Tujuan kegiatan: pemberdayaan remaja untuk meningkatkan kesehatan diri dan teman sebaya melalui posyandu remaja. Metode pelaksanaan: kegiatan pelatihan kader posyandu remaja. Hasil kegiatan terjadi peningkatan rata-rata pengetahuan kader remaja tentang posyandu remaja dari 8.7 menjadi 8.8. Kesimpulan: kegiatan pengabdian masyarakat dapat dilaksanakan dengan baik dan memberikan dampak terhadap peningkatan pengetahuan kader remaja.
Patient Satisfaction with National Health Insurance and Public Health Center Accreditation: Lessons Learnt from Majalengka Regency, Indonesia Ruhiyat, Yayat; Sunjaya, Deni Kurniadi; Gondodiputro, Sharon; Mutyara, Kuswandewi; Sujatmiko, Budi; Arisanti, Nita
Althea Medical Journal Vol 10, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v10n4.2743

Abstract

Background: Perceptions of patient satisfaction influence the quality of the public health center (Pusat Kesehatan Masyarakat, Puskesmas) services. This study aimed to determine the differences in the level of patient satisfaction with national health insurance and the accreditation status of Puskesmas.Methods: This quantitative analytical study using a cross-sectional method was conducted at four Puskesmas in Majalengka Regency from October to November 2021 using a purposive sampling technique. The instrument used was the community satisfaction instrument (IKM-29) questionnaire , with the variable measured being the level of satisfaction. Data was transformed into numerical form using Rasch modelling and analyzed using the Chi-Square, independent-t, and one-way ANOVA tests.Results: A total of 273 respondents consisted of insured (Jaminan Kesehatan Nasional, JKN) and non-insured (non-JKN) respondents, resulting in the satisfaction mean value between JKN and non-JKN patients of 2.50 and 2.51 (p-value= 0.926). Satisfaction at Puskesmas levels 1 (Dasar), 2 (Madya), 3 (Utama), and 4 (Paripurna) was 2.15, 2.23, 2.56, 3.03, respectively (p-value = 0.002), indicating an increase in the level of satisfaction at the Puskesmas accreditation level.Conclusion: There is no difference in satisfaction between respondents using JKN and non-JKN. However, there is an increase in satisfaction related to the Puskesmas accreditation level. It is recommended for each Puskesmas to maintain the same service to all patients and improve the quality of service, especially in service dimensions that are considered inferior. Additionally, it is necessary to review the minimum standard value for accreditation programs.