Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada UKM pengrajin keben di Desa Bunutin, Kabupaten Bangli, yang menghadapi permasalahan berupa keterbatasan peralatan produksi, variasi produk, serta pemasaran yang masih bergantung pada pasar konvensional dan pengepul. Kegiatan dilaksanakan pada Maret–September 2026 dengan melibatkan lima peserta mitra melalui tahapan sosialisasi dan identifikasi kebutuhan, pelatihan dan penerapan peralatan produksi, diversifikasi produk, pendampingan pemasaran digital, serta monitoring dan evaluasi. Pada aspek produksi, mitra memperoleh 15 canting, 5 kompor batik, 2 alat semprot, dan 5 set alat pelindung kerja. Pelatihan mencakup penggunaan peralatan, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja, serta pengembangan variasi produk. Pendampingan diversifikasi menghasilkan 150 unit produk dengan bentuk dan fungsi yang lebih beragam. Pada aspek pemasaran, mitra memperoleh pelatihan pembuatan konten, foto dan deskripsi produk, serta pemanfaatan TikTok dan Facebook Marketplace sebagai media promosi dan penjualan daring. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah intervensi selama periode kegiatan. Hasil monitoring menunjukkan kapasitas produksi meningkat dari 500 menjadi 750 unit per minggu atau sebesar 50%, sedangkan penjualan meningkat dari 350 menjadi 500 unit per minggu atau sebesar 42,86%. Kegiatan juga menghasilkan variasi produk baru dan dua kanal pemasaran digital sebagai alternatif pemasaran konvensional. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan produktivitas mitra setelah penerapan peralatan produksi, diversifikasi produk, dan pendampingan pemasaran digital. Strengthening the Capacity of Keben Businesses in Bangli Regency through Production and Marketing Optimization Abstract This community service initiative was conducted with a keben (traditional woven container) artisan SME in Bunutin Village, Bangli Regency. The business faced challenges regarding limited production equipment and product variety, as well as a marketing strategy that relied heavily on conventional markets and middlemen. The project ran from March to September 2026, involving five partner participants through stages that included needs assessment, equipment training and implementation, product diversification, digital marketing mentoring, and monitoring and evaluation. Regarding production, partners received 15 *canting* tools, 5 batik stoves, 2 sprayers, and 5 sets of workplace safety gear. Training covered equipment usage, occupational health and safety practices, and product variety development. Diversification efforts resulted in the creation of 150 product units featuring more diverse shapes and functions. In terms of marketing, partners received training on content creation, product photography and descriptions, and the use of TikTok and Facebook Marketplace for online promotion and sales. Evaluation involved comparing conditions before and after the intervention period. Monitoring results indicated a 50% increase in production capacity—rising from 500 to 750 units per week—and a 42.86% increase in sales, rising from 350 to 500 units per week. The initiative also yielded new product variations and established two digital marketing channels as alternatives to conventional marketing methods. Overall, the results demonstrate increased partner productivity following the implementation of new production equipment, product diversification, and digital marketing mentoring.