Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

UJI EFEKTIVITAS BEBERAPA JENIS ARANG AKTIF DAN NAUNGAN PADA TANAMAN SAWI PAHIT MENGGUNAKAN TANAH LAHAN BEKAS PENAMBANGAN EMAS Uray Edi Suryadi; Dwi Raharjo; Elly Mustamir
Pedontropika : Jurnal Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Soil Science Department, Faculty of Agriculture, Tanjungpura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.958 KB) | DOI: 10.26418/pedontropika.v2i1.15690

Abstract

This study aims to determine the effect of shade and effectiveness of active charcoal derived from the raw material of palm shells and rice husks to absorb heavy metals Hg and Cu in bitter mustard / Chinese mustard plants (Brassicacea juncea). The mustard bitter in polybags with planting medium on the ex gold mining soils. The study design using split plot design, with the main plot factors are the type of the palm shells active charcoal (A1), and the rice husk active charcoal (A2). As a subplot factors are shade, that using shading net, consisting of 50% shade (P1), shade 60% (P2) and a shade 75% (P3). The results showed that the combination of 50% shade and active charcoal from shell palm oil can help the absorption of Cu and Hg at 0.92 ppm Cu and 5.11 ppb Hg in bitter mustard plant roots, as well as 0.42 ppm Cu and 2.96 ppb Hg on its leaves. The combination of 60% shade and activated charcoal from rice husk can help the absorption of Cu and Hg 0.67 ppm Cu and 4.11 ppb Hg in bitter mustard plant roots, as well as 0.23 ppm Cu and 4.09 ppb Hg on its leaves. Whereas 70% shade combinations and active charcoal from rice husk can help the absorption of Cu and Hg 0.57 ppm Cu and 4.89 ppb Hg in bitter mustard plant roots, as well as 0.13 ppm Cu and 4.75 ppb Hg on its leaves.Keywords : active charcoal, bitter mustard, Cu, ex PETI soil, Hg, shade
KARAKTER FISIKA TANAH LAHAN KELAPA SAWIT DAN SEMAK BELUKAR DI LAHAN RAWA LEBAK DESA SUNGAI DAKA KECAMATAN SUNGAI LAUR KABUPATEN KETAPANG U. Edi Suryadi Junaidi Tri Sudebyo
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.104 KB) | DOI: 10.26418/jspe.v7i3.27873

Abstract

ABSTRAK  Rawa lebak pada lokasi penelitian tergolong dalam rawa lebak dangkal dengan ketinggian genangan 47 cm dengan lama genangan 3 bulan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan karakter fisika tanah lahan rawa lebak yang ditanami kelapa sawit (KS), dengan vegetasi semak belukar (SB). Penelitian ini dilakukan di Desa Sungai Daka Kecamatan Sungai Laur. Data diolah dengan menggunakan uji-t dengan taraf kepercayaan 5 % dan menggunakan program Microsoft Excel untuk porositas total, bobot isi, kadar air kapasitas lapangan, dan permebilitas tanah. Warna tanah pada areal KS adalah coklat abu-abu, abu-abu, abu-abu, kuning kemerahan dan  SB coklat abu-abu gelap, abu-abu dan abu-abu  muda. Tekstur tanah pada dua tipe lahan KS dan SB yaitu lempung berdebu, lempung liat berdebu dan debu. Struktur tanah pada lahan KS L1 (butir), L2,dan L3 (masif) dan SB L1 (butir), L2 dan L3 (masif). Kematangan tanah pada dua lokasi yaitu KS L1 (agak matang), L2, L3 dan L4 (mentah), sedangkan SB L1 (matang), L2 (agak matang), L3 dan L4 (mentah). pH tanah pada dua tipe lahan (KS dan SB) yaitu sangat masam. C-organik pada KS L1(tinggi), L2 (sedang), L3 dan  (rendah) sedangkan pada SB L1 (sangat tinggi), L2 (tinggi), L3 dan L4 (sedang). N-total pada lahan SB L1 (tinggi), L2, L3 dan L4 (sedang), sedangkan pada SB L1 (sangat tinggi), L2,L3 danb L4 (sedang). C/N pada dua tipe lahan KS dan SB (rendah). Bobot isi tanah KS 0-30 dan KS 30-60 berbeda nyata. Porositas total tanah KS dan SB pada dua kedalaman tidak berbeda nyata. Kadar air kapasitas lapangan lahan rawa lebak SB 0-30 dan SB 30-60 berbeda nyata. Permeabilitas pada rawa lebak KS 0-30 dan KS 30-60, SB 0-30 dan SB 30-60 berbeda nyata. Reaksi tanah (pH) pada dua tipe lahan KS dan SB (sangat masam). C-Organik tanah lahan KS pada kedalaman 0-30 cm (tinggi), dan 30-60 cm (rendah) sedangkan pada lahan SB pada dua kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm (sedang). N-total pada lahan KS dan SB pada dua kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm yaitu (sedang). C/N Ratio tanah pada lahan KS dan SB pada dua kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm yaitu (rendah).Kata kunci : rawa lebak, fisika tanah, kebun kelapa sawit, lahan semak belukar
ANALISIS TINGKAT BAHAYA EROSI DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KEBUN RAYA SAMBAS Cindy Lusiani, Ari Krisnohadi, Urai Edi Suryadi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 11, No 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v11i3.55358

Abstract

ABSTRAKKebun Raya Sambas merupakan kawasan hutan sekunder yang diperuntukkan sebagai area konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan koleksi tumbuhan yang memiliki beberapa ekosistem didalamnya antara lain hutan dataran rendah dan riparian. Kebun Raya Sambas memiliki kondisi topografi yang bervariasi. Lereng yang semakin curam akan menyebabkan peningkatan kecepatan aliran permukaan dan volume air permukaan semakin besar, sehingga tanah yang terangkut akan lebih banyak jika tidak mendapatkan pengelolaan yang baik. Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan pemetaan menggunakan sistem informasi geografis yang memudahkan dalam menhubungkan data pada suatu titik tertentu di bumi, serta menggabungkan dan menganalisanya.Tujuan dari penelitian ini diantaranya menghitung pendugaan erosi berdasarkan rumus USLE, menghitung erosi yang diperbolehkan, menetapkan  tingkat bahaya erosi dan memetakan tingkat bahaya erosi menggunakan aplikasi SIG. Sampel yang diambil dari penelitian ini berdasarkan data topografi lahan, penggunaan lahan, dan jenis tanah. Setiap satuan lahan terdapat satu titik sampel, dan diambil pada kedalaman 0-30 cm. Penetapan lokasi sampling menggunakan metode acak, sedangkan analisa hasil data menggunakan metode USLE (Universal Loss Soil Equation). Dalam penentuan tingkat bahaya erosi diperlukan data : erosivitas hujan, erodibilitas tanah, panjang dan kemiringan lereng, pengelolaan tanaman dan konservasi tanah.Kebun Raya Sambas memiliki iklim yang sangat basah, topografi mulai dari datar hingga agak curam, penggunaan lahan hutan sekunder, dan terdapat 4 jenis tanah diantaranya : Typic Hapludults, Typic Endoaquepts, Typic Kandiudults, dan Typic Udipsamments. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kebun Raya Sambas memiliki nilai erosi tertinggi sebesar 116,95 ton/ha/th dan nilai erosi yang paling rendah ialah 38,98 ton/ha/th, dan erosi yang diperbolehkan sebesar 33,60 ton/ha/th sampai dengan 54 ton/ha/th. Penelitian juga menunjukan terdapat dua kelas tingkat bahaya erosi, yaitu kelas rendah dengan luas 81,74 hektar dan kelas sedang dengan luas 77,82 hektar. Pada tingkat bahaya erosi sedang memiliki volume erosi lebih besar daripada erosi yang diperbolehkan sehingga perlu tindakan konservasi tanah berupa pembuatan teras datar pada kemiringan <3%, teras kridit pada kemiringan lereng 3%-10% dan teras guludan pada kemiringan lereng 10-60%. Kata Kunci : Kebun Raya Sambas, Erosi, Metode USLE
KAJIAN CADANGAN KARBON PADA TIGA PENGGUNAAN LAHAN GAMBUT DI DESA WAJOK HILIR KECAMATAN SIANTAN KABUPATEN MEMPAWAH Reidha Haqqamuddien; U Edi Suryadi; Rossie Wiedya Nusantara
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v8i3.34223

Abstract

ABSTRAK                                                      Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar, terutama dalam tanah gambutnya. Alih fungsi hutan rawa gambut menjadi lahan pertanian telah menyebabkan kerusakan lahan. Pengukuran jumlah cadangan karbon tersimpan khususnya di lahan gambut  perlu diukur sebagai upaya untuk mengetahui besarnya cadangan karbon pada saat tertentu dan perubahannya apabila terjadi kegiatan baik manambah atau mengurangi besar cadangan tersebut. Cadangan karbon terdapat dalam lima penyimpanan karbon yaitu biomassa atas permukaan (above ground), biomassa bawah permukaan (below ground), vegetasi mati (nekromass), serasah (litter), dan tanah gambut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besaran cadangan karbon pada biomassa atas tanah (above ground), biomassa bawah permukaan (below ground), serasah (litter), dan tanah gambut, pada penggunaan lahan kelapa sawit, lahan jagung, dan hutan sekunder. Lokasi penelitian terletak di Desa Wajok Hilir Kecamatan Siantan Kabupaten Mempawah pada 3 penggunaan lahan yaitu hutan sekunder, kebun kelapa sawit, dan kebun jagung.Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan titik pengamatan yang telah ditentukan dengan metode diagonal. Titik pengamatan pada lokasi penelitian dapat dilihat pada Lampiran 6 dengan plot ukuran pada kebun kelapa sawit seluas 5m x 5m, kebun jagung seluas 1m x 1m dan hutan sekunder seluas 5m x 5m dengan luasan 1 ha pada masing-masing tipe lahan. Pengukuran karbon tersebut pada tiap tipe lahan mempunyai 5 ulangan. sehingga terdapat 60 total sampel pada atas permukaan, bawah permukaan dan tanah. Khusus untuk karbon serasah hanya diambil sampel pada Hutan Sekunder, sehingga terdapat 5 sampel untuk seresah. Jadi total sampel untuk 3 penyimpanan karbon adalah 65 sampel. Sebelum menghitung kandungan karbon pada tiap penggunaan lahan, terlebih dahulu mencari berat biomassa dengan mengoven sampel selama 48 jam dengan suhu 70oC, dan mengoven sampel tanah dengan waktu selama 24 jam dengan suhu 70oC.Hasil penelitian menunjukkan bahwa cadangan karbon tertinggi terdapat pada lahan hutan sekunder dengan nilai 4 Gt ha-1, yang tertinggi kedua adalah kebun sawit yaitu sebesar 0,6 Gt ha-1 dan kandungan karbon terendah terdapat pada kebun jagung dengan nilai 0,4 Gt ha-1. Rata-rata penyimpan kabon tertinggi pada lokasi penelitian terdapat pada tanah. Pada lahan hutan sekunder kandungan karbonnya apabila dipresentasekan perbandingannya sekitar 75,08% pada tanah, 18,18% pada biomassa atas permukaan (BAP) dan 6,73% pada biomassa bawah permukaan (BBP) dan 0,01% pada serasah. Pada lahan kebun sawit perbandingannya sekitar 98,40% pada tanah, 1,37% pada biomassa atas permukaan (BAP), dan 0,23% pada biomassa bawah permukaan (BBP), sedangkan pada kebun jagung perbandingannya 99,08% kandungan karbonnya terdapat pada penyimpan karbon tanah, 0,88% pada biomassa atas permukaan (BAP)  dan 0,04% pada biomassa bawah permukaan (BBP).Kata Kunci : Cadangan Karbon, Alih Fungsi Lahan, Penyimpan Karbon
STUDI SIFAT FISIKA TANAH GAMBUT PADA BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN DI DESA RASAU JAYA UMUM KECAMATAN RASAU JAYA SELLY SISKAWATI; URAI EDI SURYADI; BAMBANG WIDIARSO
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i1.22356

Abstract

STUDI SIFAT FISIKA TANAH GAMBUT PADA BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN DI DESA RASAU JAYA UMUMKECAMATAN RASAU JAYA Selly Siskawati(1), Urai Edi Suryadi(2), Bambang Widiarso(2)(1)Mahasiswa Fakultas Pertanian dan(2)Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura PontianakABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan beberapa sifat fisika tanah gambut pada beberapa penggunaan lahan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Rasau Jaya Umum Kecamatan Rasau Jaya. Metode yang digunakan dengan mengambil sampel langsung di lapangan, pengambilan sampel 3 penggunaan lahan yaitu lahan kelapa sawit, kebun campuran dan semak belukar masing-masing 6 titik pengamatan dan 2 kedalaman yaitu kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm. Parameter pengamatan terdiri dari sifat fisika : kematangan gambut, bobot isi, kadar air kapasitas lapangan, bobot jenis partikel, porositas tanah, kadar abu dan konduktivitas hidrolik; Parameter pendukung : reaksi tanah (pH), ketebalan gambut, jeluk muka air tanah, jeluk muka air di saluran drainase, C-Organik, N-Total dan rasio C/N. hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisika : tingkat kematangan gambut di lokasi penelitian tergolong hemik. Bobot isi pada penggunaan lahan semak belukar kedalaman 0-30 cm dan kedalaman 30-60 cm lebih tinggi dibanding penggunaan lahan lainnya. Kadar air kapasitas lapangan pada penggunaan lahan kebun sawit kedalaman 0-30 cm dan kebun campuran kedalaman 30-60 cm lebih tinggi dibandingkan penggunaan lahan lainnya. Berat jenis partikel pada penggunaan lahan kebun sawit kedalaman 0-30 cm dan semak belukar kedalaman 30-60 cm lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya. Porositas total pada penggunaan lahan  kebun sawit kedalaman 0-30 cm dan kedalaman 30-60 cm lebih tinggi dari penggunaan lahan lainnya. Kadar abu pada penggunaan lahan kebun campuran kedalaman 0-30 cm dan semak belukar lebih tinggi dibanding penggunaan lahan lainnya. Konduktivitas hidrolik pada penggunaan lahan semak belukar kedalaman 0-30 cm dan kedalaman 30-60 cm lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya. Parameter pendukung : reaksi tanah di lokasi penelitian tergolong sangat masam, ketebalan gambut di lokasi penelitian tergolong gambut sedang, jeluk muka air tanah di lokasi penelitian tergolong sedang – agak dalam, jeluk muka air di saluran drainase tergolong kedalaman sedang, kandungan C-Organik di lokasi peneliatan tergolong sangat tinggi, N-Total tanah di lokasi penelitian tergolong sangat tinggi dan rasio C/N tanah di lokasi penelitian tergolong sangat tinggi. Kata kunci : penggunaan lahan, Tanah gambut,  sifat fisika tanah
IDENTIFIKASI SIFAT FISIKA DAN KIMIA TANAH WILAYAH EKS PETI PADA SUB SUB DAS BELANTIAN KABUPATEN LANDAK ARIS SUSANTO; URAI EDI SURYADI; Junaidi Junaidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 8, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v8i1.11627

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sifat Fisika dan Kimia tanah pada lahan eks penambangan emas tanpa izin (PETI) dan hutan karet pada wilayah sub-sub DAS Belantian Kabupaten Landak. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tebedak Dusun Entikit Sub-Sub DAS Belantian Kecamatan Ngabang Kabupaten Landak. Metode yang digunakan dengan mengambil sampel langsung di lapangan, pengambilan sampel 2 tempat yaitu lahan eks penambangan emas tanpa izin (PETI) dan hutan karet masing-masing 9 titik pengamatan dan 2 kedalaman, kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm. Parameter pengamatan terdiri dari sifat fisika yaitu konsistensi tanah, warna tanah, perubahan landscape, bobot isi tanah, kadar air kapasitas lapangan, porositas tanah, tekstur tanah, struktur tanah dan permeabilitas tanah, sifat kimia yaitu pH tanah, C-Organik tanah, N-Total tanah. Hasil penelitian berdasarkan uji t hitung menunjukkan bahwa semua parameter tidak berbeda nyata, dan kandungan unsur-unsur hara lebih tinggi hutan karet dibandingkan dengan lahan eks penambangan emas tanpa izin (PETI).
PREDIKSI EROSI DENGAN METODE USLE PADA LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT MASYARAKAT DI GUNUNG SEHAK KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK PETRUS ROIMAI JACK; URAI EDI SURYADI; BAMBANG WIDIARSO
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 5, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i1.11628

Abstract

Lokasi penelitian merupakan hutan sekunder dengan bentuk wilayah yang sangat curam. Sejak tahun 2008 sampai sekarang telah terjadi pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit masyarakat dengan cara tebang bakar dan dikelola dengan tidak melakukan tindakan konservasi, sehingga perubahan penggunaan lahan ini turut mempercepat degradasi tanah melalui erosi tanah yang berujung pada kehilangan hara serta kelestarian/umur lahan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi besarnya erosi dan tingkat bahaya erosi yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari (1) Persiapan penelitian meliputi kegiatan penelaahan data sekunder (pra lapangan) antara lain : studi pustaka dan penentuan titik pengamatan; (2) Penelitian dan pengamatan lapangan yaitu menentukan titik – titik koordinat pengamatan, pengecekan hasil interpretasi peta kelas lereng untuk melengkapi data kemiringan dan panjang lereng, usaha konservasi yang telah dilakukan, sistem pengelolaan lahan dan vegetasi yang ada di lokasi penelitian, serta pengambilan contoh tanah; (3) Analisis contoh tanah di laboratorium; (4) Analisis data dan penyajian hasil penelitian mengenai prediksi erosi dengan metode USLE pada lahan perkebunan kelapa sawit masyarakat di Gunung Sehak Desa Aur Sampuk Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak. Prediksi laju erosi mencapai 4397,50 sampai 13171,32 ton/ha/tahun. Nilai erosi yang dapat ditoleransi berkisar antara 29,05 sampai 51,74 ton/ha/tahun. Nilai prediksi erosi sangat besar dibandingkan dengan nilai erosi yang dapat ditoleransi dan tingkat bahaya erosi berada pada status sangat berat pada semua lahan. Perencanaan dan penanggulangan bahaya erosi yang sesuai adalah hutan alami (primer) yang berkembang baik dengan seresah tinggi atau mengembalikan lahan sebagai hutan alami, dan jika lahan masih ingin dipertahankan maka direkomendasikan penerapan tindakan konservasi untuk menekan besarnya erosi yaitu mengombinasikan: secara vegetatif (penanaman LCC (Leguminosa Cover Crops)) dan secara mekanik (pembuatan teras bangku konstruksi baik; teras bangku konstruksi sedang; teras bangku konstruksi kurang baik; teras bangku teras tradisional; teras bangku teras tradisional yang dilengkapi dengan rorak; dan pembuatan parit yang memotong lereng menurut garis kontur).
IdentifikasiSifat Kimia Tanah Areal Perkebunan Kelapa Sawit dan Areal Terbuka Bekas PETI Kecamatan Mandor Kabupaten Landak EDY ANWAR; ASRIFIN ASPAN; URAI EDI SURYADI
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v6i1.19142

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sifat fisika dan kimia tanah pada areal terbuka dan kelapa sawit bekas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kayu Ara Kecamatan Mandor Kabupaten Landak. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survey yaitu diambil masing-masing lokasi secara diagonal kemudian sampel tanah di kompositkan. Parameter dalam penelitian ini terdiri dari tekstur, bobot isi, pH, C-organik, N-total, P-tersedia, K-tersedia, kejenuhan basa (KB) dan Kapasitas Tukar Kation (KTK). Hasil analisis menunjukkan bahwa tanah di lokasi areal terbuka bekas PETI bertekstur pasir berdebu sedangkan di areal perkebunan kelapa sawit bekas PETI bertekstur pasir, bobot isi di areal terbuka bekas PETI 1,29 g/cm dan di areal perkebunan sawit senilai 1,22 g/cm, pH di areal terbuka dan perkebunaan kelapa sawit antara 4,17 % - 4,51% dengan kriteria tergolong sangat masam, C-organik kedua lokasi antara 0,53% - 0,8% dengan kriteria tergolong sangat rendah, N-total kedua lahan lokasi antara 0,07% - 0,92% dan tergolong sangat rendah, P-tersedia kedua lokasi penelitian antara 14,15 – 8,08 (ppm) dengan kriteria tergolong sangat rendah hingga rendah, K-tersedia kedua lokasi antara 0,03 - 0,04 cmol (+)kg1 dan tergolong sangat rendah, KTK di kedua lokasi antara 4,64– 6,87 cmol (+)kg1 dan tergolong sangat rendah hingga rendah, dan kejenuhan basa (KB) di kedua lokasi antara 13,33% - 9,75% yang tergolong sangar rendah. Hasil perhitungan kebutuhan pupuk dilokasi penelitian pada areal terbuka 4,3 kg urea/pohon, SP-36 3,4 kg/pohon, KCl 2,7 kg/pohon dan areal perkebunan kelapa sawit Urea 3,2 kg/pohon, SP-36 3,7 kg/pohon, KCl 2,9 kg/pohon.   Kata Kunci:Areal Terbuka, Perkebunan Kelapa Sawit, PETI, Sifat Fisika dan                             Kimia Tanah.  
STUDY OF CHEMICAL PROPERTIES AND PEAT SOIL FERTILITY STATUS IN SOME TYPES OF LAND USE IN SUB-DISTRICT RASAU JAYA KUBU RAYA DISTRICT Sardika Fahmi; Asrifin Aspan; Urai Edi Suryadi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v8i4.36042

Abstract

Based on West Kalimantan BPS data for 2017, West Kalimantan has 1,543,752 ha of peatlands spread across several districts. One district that has peatlands is Kubu Raya Regency where the peatlands in this region are 130,248 ha. the purpose of this study was to determine the chemical nature of the soil and the fertility status of peat soils in several types of land use for oil palm, rubber, and horticulture.The location of this research is in Rasau Jaya III Village, Rasau Jaya Sub-District, Kubu Raya District. This research was conducted from May to July from the start of preparation, field sampling, soil analysis in the laboratory to the presentation of results. The parameters in this study are, ground water table, pyrite, N-total, P-total, K-total, C-organic, soil pH, C/N ratio, cation exchange capacity, base saturation and bulk density.The results of the analysis showed that the ground water table in the upper layer in each study area included shallow criteria while for the lower layer had rather deep criteria. Pyrite at the study site was no sulfidic. N-total between 0.21-0.45% with very low criteria. P-total between 0.93-3.94 mg / 100g with very low to low criteria. K-total between 0.98-3.98 mg / 100g with very low to low criteria. C-Organic between 4.94-12.96 mg / 100g with very high criteria. Soil pH between 2.65-3.01 with very acid criteria. C/N Ratio between 1.03-5.70% with very low criteria. Cation exchange capacity between 60.74-103.82 cmol (+) kg-1 with very high criteria. Base saturation between 9.41-16.58% with very low criteria. Bulk density from 0.15-0.34 gram / cm3. From the results of this analysis obtained criteria of soil fertility which are classified as low criteria.       Keywords: Chemical properties, fertility status  peat soils 
UJI EFEKTIVITAS BEBERAPA JENIS ARANG AKTIF DAN TANAMAN AKUMULATOR LOGAM PADA LAHAN BEKAS PENAMBANGAN EMAS Dwi Raharjo; Elly Mustamir; Uray Edi Suryadi
Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.626 KB) | DOI: 10.26418/plt.v2i2.3485

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas jenis arang aktif yang berasal dari bahan baku tempurung kelapa, tempurung kelapa sawit dan sekam padi serta tanaman akumulator sawi hijau, sawi huma dan sawi pahit dalam menyerap logam berat Cu (Tembaga) dan Hg (Merkuri). Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial, dengan faktor jenis arang aktif dan faktor jenis sawi. Faktor jenis arang aktif (A) terdiri dari: arang aktif sekam padi (a1), tempurung kelapa sawit (a2) dan tempurung kelapa dalam (a3). Sedangkan sebagai faktor jenis sawi (S) adalah (s1) sawi huma (Brassica juncea), (s2) sawi pahit (Brassica juncea L) dan (s3) sawi hijau (Brassica rapa). Sehingga perlakuan penelitian sebanyak 27 perlakuan. Hasil yang diperoleh adalah arang aktif yang berasal dari bahan baku sekam padi menyerap Cu 6,95 ppm (setelah inkubasi), 4,85 ppm (tanah saat panen sawi), tempurung kelapa sawit menyerap Cu 7,08 ppm (setelah inkubasi), 4,77 ppm (tanah saat panen sawi), dan tempurung kelapa menyerap Cu 5,45 ppm (setelah inkubasi) sawi hijau lebih efektif menyerap logam berat Cu dan Hg yang terakumulasi ke daun tanaman masing-masing sebanyak 0,64 ppm dan 5,96 ppb, sawi huma menyerap Cu sebanyak 5,97 ppm (saat panen), 0,42 ppm (dalam akar) dan menyerap Hg sebanyak 16,64 ppb (saat panen), 6,64 ppb (dalam akar), sedangkan sawi pahit menyerap logam berat Cu sebanyak 4,67 ppm (saat panen), 0,53 ppm (dalam akar), Hg 14,19 (saat panen), 3,43 (dalam akar), tidak adanya interaksi antara jenis arang aktif dan tanaman akumulator dalam menyerap logam berat Hg dan Cu. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa arang aktif yang berasal dari bahan baku sekam padi dan tempurung kelapa sawit lebih efektif untuk menyerap logam berat Hg dan Cu, sawi hijau lebih efektif menyerap logam berat Cu dan Hg yang terakumulasi ke daun tanaman, sedangkan sawi huma dan sawi pahit lebih efektif menyerap logam berat Hg dan Cu yang tersimpan di akar tanaman, tidak adanya interaksi antara jenis arang aktif dan tanaman akumulator dalam menyerap logam berat Hg dan Cu. Kata kunci : Arang aktif, tanaman akumulator, Cu, Hg, dan sawi