Claim Missing Document
Check
Articles

Peranan Modal Sosial terhadap Kondisi Kerja dan Pendapatan Pekerja Migran Muda Sektor Informal Muhamad Haris Zamaludin Setiadiputra; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 2 No. 3 (2018)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.2.3.363-382

Abstract

Agricultural sector are no longer being seen as choice of occupation by the rural youth. Perception and aspiration of parents and rural youth towards agricultural related job has pushed them away to migrate and find job in urban area. Informal job in general has always become the type of job which being dominated by rural youth since they can benefited from the social capital they possesed to gain access, capital, and neccesary skills to enter informal job. One of the aformentioned sector is angkot informal transportation service provider. Angkot working environtment are characterized by flexible working hour, low capital, and organized by informal norms and unregistered institution. The result indicate that social capital play an important role in determining driver’s working environtment which composed of working status, operational cost, and working duration. The findings also shown that driver’s working environtment detrimental towards their level of income.Keywords: Informal Sector, Social capital, Angkot paratransit---------------------ABSTRAKSektor pertanian sebagai sektor dengan penyerapan tenaga kerja yang tinggi di desa saat ini tidak lagi dipandang sebagai pilihan pekerjaan bagi pemuda pedesaan. Perubahan aspirasi orangtua dan persepsi pemuda pedesaan terhadap sektor pertanian mendorong mereka untuk melakukan migrasi dan mencari pekerjaan di daerah perkotaan. Sektor informal merupakan pekerjaan yang umumnya dimasuki oleh pemuda perdesaan karena dapat memanfaatkan modal sosial untuk memperoleh jaminan akses, modal, dan keterampilan untuk masuk ke dalam bidang pekerjaan tersebut. Salah satu bidang dalam sektor informal tersebut adalah bidang transportasi dalam kota dan antar kota yang dikenal sebagai “angkot”. Angkutan Kota “Angkot” memiliki flexibilitas jam kerja dan di organisir oleh asosiasi yang tidak terkena regulasi langsung dari pemerintah. Hasil penelitian menunjukan bahwa modal sosial berperan dalam menentukan kondisi kerja supir angkot yang terdiri dari status supir, biaya operasional, dan durasi bekerja. Pada peneltian ditemukan juga komponen variabel kondisi kerja berperan dalam menentukan tingkat pendapatan supir angkot.Kata kunci: sektor informal, modal sosial, angkutan kota
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Keluarga dalam Menentukan Penolong Persalinan Wenny Dwiharyenti; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 1 No. 1 (2017)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.1.1.97-114

Abstract

This study aimed to analyze the factors that influence family decision-making in choosing childbirth helper in Ligarmukti Village, Bogor. These factors are households’ internal factors (household characteristics and expecting mothers) and households’ external factors (health services and social capital). This research was carried out using quantitative approach, and utilized questionnaire, in-depth interview and observation as the data collection methods. Results of the study show that the majority of respondents still prefer traditional midwife as childbirth helper than village midwife. Decisions were made by mutual agreement of husband and wife, and were not affected by households’ internal factors. On the other hand, the external factors such as extended family and norms were influential to the decisions’ made. The extended family’s advices on pregnancy and childbirth were often based on family experiences, even though most of respondents have faith to trust the village midwife than traditional one.Keywords : birth, family, traditional midwife-------------------------ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan keluarga dalam menentukan penolong persalinan di Desa Ligarmukti, Bogor. Faktor tersebut, yaitu faktor internal rumahtangga (karakteristik rumahtangga dan ibu hamil/bersalin) dan faktor eksternal rumahtangga (pelayanan kesehatan dan modal sosial). Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan kuesioner, wawancara mendalam serta observasi lapang sebagai metode pengumpulan data. Hasil penelitian menujukkan sebagian besar responden lebih memilih paraji sebagai penolong persalinan dibandingkan bidan desa. Keputusan dibuat berdasarkan kesepakatan suami istri dan tidak dipengaruhi faktor internal keluarga. Faktor eksternal seperti jaringan dengan keluarga besar dan kepatuhan terhadap norma yang turun temurun memengaruhi pengambilan keputusan. Keluarga besar memberi masukan seputar kehamilan dan persalinan yang sering kali berdasarkan pengalaman sebelumnya, walaupun sebenarnya masyarakat sudah banyak yang memercayai keahlian bidan.Kata kunci: bersalin, keluarga, paraji
The Relationship Between Employment Opportunity and the Standard of Living as a Result of Population Mobility Rahma Mutiya Sari; Ekawati Sri Wahyuni; Dina Nurdinawati
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 1 No. 4 (2017)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.1.4.537-550

Abstract

Indonesian labor  market continues to develop, it is proved by the increase in the number of jobs and the growth of open unemployment. Job opportunities not only in urban areas but also in the rural areas. Employment opportunities in rural areas could be open due to many  factors, one of them  for their arrivals to the region. The purpose of this research is to analyze the relationship between  employment opportunity with the standard of living because of population mobility.  Employment opportunity divided in to job sectors, job types, and job status. The standard of living divided in to primer, secunder, and tertiary. This research use quantitative and qualitative methods. The result shows that  employment opportunity open because the population mobility become an opportunity for people to improve the standard of living.  Keyword: Employment Opportunity, population mobility, the standard of living=============================================== ABSTRAKPasar tenaga kerja Indonesia terus mengalami perkembangan, hal ini terbukti dengan peningkatan jumlah pekerjaan dan penurunan angka pengangguran terbuka. Kesempatan kerja teryata tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga terjadi di pedesaan. Kesempatan kerja yang terbuka di pedesaan dapat terjadi karena banyak faktor, salah satunya karena adanya pendatang ke suatu wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kesempatan kerja dengan taraf hidup masyarakat karena adanya pendatang. Kesempatan kerta terbagi menjadi tiga, sektor/lapangan pekerjaan, jenis/jabatan pekerjaan, dan status pekerjaan. Taraf  hidup telah dikelompokkan menjadi taraf hidup primer, sekunder, dan tersier. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terbukanya kesempatan kerja karena adanya pendatang menjadi peluang bagi masyarakat guna meningkatkan taraf hidup.Kata kunci: gerak penduduk, kesempatan kerja, taraf hidup
Peran Gender dalam Perekonomian Rumah Tangga Petani pada Masyarakat Adat Alifa Nugrahayuningtyas; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 2 No. 5 (2018)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.2.5.581-602

Abstract

Ethnic communities in Indonesia mostly live in rural areas by making use of natural resources and agriculture as the main livelihood. The typical ordinance determines the gender division of labour carried out ethnic communities on the farming system. One of the ethnic communities in Central Java who live in rural areas and make use of natural resources for agricultural activity is community Samin. The purpose of this research, in general, is to analyzing the pattern of the division of gender roles in the household economy of the farmers in the indigenous communities. The research uses quantitative methods supported by qualitative methods. The research shows the principle of the sareng-sareng (together) is used on the farmer households in sedulur sikep. Division of labor in farmers houseolds of communities sedulur sikep is more flexible compared to the division of labor in farmers household of non sedulur sikep because work is done mostly in agriculture that makes it easy to switch roles in the division of laborKeywords: Ethnic communities, farming households, gender ABSTRAK Komunitas etnis di Indonesia sebagian besar hidup di daerah pedesaan dengan memanfaatkan sumberdaya alam dan menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian utama. Tata cara yang khas menentukan pembagian kerja gender yang dilakukan komunitas etnis pada sistem pertanian. Salah satu komunitas etnis di Jawa Tengah yang hidup di pedesaan serta memanfaatkan sumberdaya alam untuk aktivitas pertanian adalah komunitas Samin. Tujuan penelitian ini secara umum yaitu menganalisis pola pembagian peran gender dalam perekonomian rumah tangga petani di masyarakat adat. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif didukung dengan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip sareng-sareng (bersama-sama) digunakan pada rumah tangga petani di sedulur sikep. Pekerjaan yang dilakukan sedulur sikep sebagian besar di bidang pertanian memudahkan untuk penggantian peran dalam pembagian kerja sehingga pembagian kerja rumah tangga petani di komunitas sedulur sikep  lebih fleksibel dibandingkan dengan pembagian kerja rumah tangga petani di non sedulur sikep.Kata Kunci : Gender, komunitas etnis, rumah tangga petani
Analisis Gender Rumah Tangga Tenaga Kerja Perempuan dalam Sektor Industri Garmen dengan Sistem Putting Out Dimas Erik Sumilat; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.4.2.167-180

Abstract

Double burden is a situation where a woman works both on reproductive and productive activity for long hours. One of the working systems that allow women to do productive activities at the same time as reproductive is a putting-out system. However, this system may disadvantaged women in terms of wages, which will affect the income and welfare of the household. The objective of this research is to analyze the relationship between the level of gender equality to the household’s income and to the welfare of the household. This research is using a quantitative approach with survey method and supported by qualitative data. The analysis’ unit of this research is the female labours’ household with a putting-out system. This research indicated that woman experiences double burden and inequality in the access and control of resources and benefits. A household with high access and control of benefits have a higher income. A household with high access to resources and control of benefits have higher household’s welfare.Keywords: female workers, gender analysis, putting out system ABSTRAKBeban ganda merupakan situasi di mana perempuan bekerja dalam kegiatan reproduktif dan produktif dengan curahan waktu yang lama. Salah satu sistem pekerjaan yang membuat perempuan melakukan pekerjaan reproduktif dan produktif secara bersamaan adalah sistem putting out. Akan tetapi, sistem ini merugikan perempuan terutama dalam hal pengupahan, yang berakibat juga pada pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga tenaga kerja. Tujuan umum dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan kesetaraan gender dalam rumah tangga dengan pendapatan rumah tangga dan kesejahteraan rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan didukung data kualitatif. Unit analisis penelitian ini adalah rumah tangga tenaga kerja perempuan dengan sistem putting out. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki beban ganda pada pembagian kerja dan didapati adanya ketidaksetaraan gender pada akses dan kontrol terhadap sumber daya dan manfaat. Semakin tinggi tingkat akses dan kontrol terhadap manfaat dalam rumah tangga, maka semakin tinggi juga pendapatan rumah tangga. Selain itu, semakin tinggi tingkat kontrol terhadap sumber daya dan kontrol terhadap manfaat dalam rumah tangga, semakin tinggi juga kesejahteraan rumah tangganya.Kata Kunci: tenaga kerja perempuan, analisis gender, sistem putting out
Gender Dan Alokasi Pemanfaatan Remitan Dalam Rumah Tangga Migran TKI Laki-Laki Riqa Arifah Zulkifli; Dina Nurdinawati; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.4.2.195-206

Abstract

Migration is the way that husband do to fulfil the household needs of life and improve the level of household welfare. A remittance is a form of fulfilment for household workers in the form of money, ideas, and opinion. The purpose of this study is to identify the influence of household characteristics and the characteristics of TKI on the level of equality of access and control. Research conducted with a quantitative method supported by qualitative data. The unit of research analysis is households. The results of this study indicate that most of TKI households allocate remittances for consumption needs and social investment. The level of equality of access and control in remittance utilization is in an unequal condition. In this study, the status of working wives, household income, and the magnitude of remittances affect the level of equality of access. The magnitude of remittance is an indicator of the characteristics of migrant workers that affects the level of equality of control.Key words: access and control, allocation of remittance, TKIABSTRAKMigrasi merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh kepala keluarga yaitu suami untuk memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan taraf kesejahteraan rumah tangganya. Remitan merupakan bentuk pemenuhan bagi rumah tangga TKI berupa uang, ide-ide, dan gagasan. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi pengaruh karakteristik rumah tangga dan karakteristik TKI terhadap alokasi pemanfaatan remitan dalam rumah tangga dan mengidentifikasi pengaruh karakteristik rumah tangga dan TKI terhadap tingkat kesetaraan akses dan kontrol. Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang didukung data kualitatif. Unit analisis penelitian adalah rumah tangga. Hasil penelitian ini menunjukkan rumah tangga TKI paling banyak mengalokasikan remitan untuk kebutuhan konsumi dan investasi sosial. Tingkat kesetaraan akses dan kontrol dalam pemanfaatan remitan berada pada kondisi tidak setara. Pada penelitian ini status bekerja istri, pendapatan rumah tangga, dan besarnya remitan mempengaruhi tingkat kesetaraan akses. Besarnya remitan adalah indikator karakteristik TKI yang mempengaruhi tingkat kesetaraan kontrol.Kata kunci: akses dan kontrol, alokasi pemanfaatan remitan, TKI
Strategi Adaptasi Rumah Tangga Petani dan Non Petani Terdampak Banjir Rob Muhammad Fathan Raditasani; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.4.1.25-36

Abstract

The impact of climate change increasingly felt in every country including Indonesia. One of the forms of climate change that happened in Indonesia is a tidal flood in the coastal areas, so the households should have to adapt to the tidal flood. The purpose of this study is to explain how coastal households survive the tidal flood. The research data collected by a survey to farmer’s and non-farmer’s household in Timbulsloko Village, Sayung Regency, Demak District, Central Java. Farmer’s and non-farmer’s household adapt in physical strategies like rising the house floor and economic strategies like getting additional income from non-agricultural works. Non-agricultural works have become the primary choice of work by the head and other members of a household because the only agricultural works left in the village is becoming fisherman as almost all the agriculture land and fishpond submerged by tidal flood.Keywords: adaptation strategies, farmer’s and non farmer’s household, tidal flood ABSTRAK Dampak perubahan iklim semakin terasa di setiap negara di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu bentuk perubahan iklim di Indonesia adalah banjir rob yang terjadi di pesisir Indonesia, sehingga penduduk yang terdampak harus melakukan adaptasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan upaya masyarakat pesisir dalam mengatasi banjir rob. Data penelitian dikumpulkan dengan survey pada rumah tangga petani dan non petani di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Hasil dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan strategi adaptasi yang dilakukan oleh rumah tangga petani dan non petani. Rumah tangga petani dan non petani beradaptasi dengan banjir rob dengan melakukan strategi fisik seperti mengurug lantai rumah dan strategi ekonomi dengan menambah pendapatan dari pekerjaan di bidang non pertanian. Pekerjaan non pertanian menjadi pilihan bagi kepala rumah tangga dan anggota keluarga lain karena pekerjaan pertanian yang tersisa hanya menjadi nelayan setelah tanah pertanian dan tambak terendam banjir rob.Kata Kunci: banjir rob, rumah tangga petani dan non petani, strategi adaptasi
MIGRASI INTERNASIONAL PEREMPUAN DAN PENGUASAAN LAHAN PEDESAAN DI JAWA BARAT Ekawati Sri Wahyuni; Lala M. Kolopaking; Endriatmo Soetarto
Jurnal Ilmiah Mimbar Demokrasi Vol 11 No 2 (2012): Jurnal Ilmiah Mimbar Demokrasi: Volume 11 No. 2 April 2012
Publisher : Program Studi PPKn FIS UNJ & Asosiasi Profesi PPKn Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/jimd.v11i2.3895

Abstract

This paper is a result of a research on women in Panyingkiran Village (Karawang) and Ciherang Village (Purwakarta) of West Java-Indonesia who migrate internationally. Paradigm used in this research is Post-Positivism which integrates quantitative and qualitative methods. Primary data is collected through in depth interview and Focus Group Discussion. The result of the research shows that most of female migrants spend remittent from working in Saudi to buy land (dry land and paddy rice fields) of relatively small in size. Land is an interesting choice because: (1) female migrants come from poor families which are the lowest class in rural areas; (2) the livelihood of female migrants’ families are farm labors and landless farmers; (3) occupations of migrants before going abroad are farm labors, jobless and as house wife; (4) farm land is a social status symbol for rural communities; (5) land is a saving and land ownership is also a capital when one dies, and becomes a standard in the ritual of death ngamumule or mulasara.
Urbanisasi di Kota Balikpapan: Formasi Sosial Keluarga Pendatang Miskin A. Nurul Mutmainnah; Lala M. Kolopaking; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 18, No 1 (2014): Juli
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2155.537 KB) | DOI: 10.22146/jsp.13098

Abstract

The research aimed to explain the urbanization in Balikpapan City and the poverty that faced by the needy migrant family through their social and formation processes what their experience. Methods use in the researchfrom quantitative and qualitative method. The research was using the primary data through survey, in-depth interview and fi eld log book. The secondary data are use from documentation and related articles to explain the urbanization in Balikpapan City. The result shown that, the urbanization in Balikpapan City connected with the present of the needy family from various regions in Indonesia that seek for jobs. The solidarity among ethnic, become one of the social process that experience by the needy family. The needy migrant families that bond with ethnic bond, than use by the fi nancier as cheap labor that make the migrant family still in poverty.
Kendala Pelaksanaan Regulasi tentang Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Yogyakarta Muryanti Muryanti; Ekawati Sri Wahyuni; Rilus Kinseng; Aida Vitayala S.Hubeis
Asy-Syir'ah: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 49, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Sharia and Law - Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajish.2015.49.2.425-457

Abstract

Non-Governmental Organizations (NGO), through their advocacy program, have succeeded in protecting the housemaids and their employers, both at provincial as well as national levels. Some regulations on this issue have been issued as results of their advocacy program include: SuratEdaranGubernur DIY Tahun 2003 (Governor of Yogyakartas Handbill 2003), Peraturan Gubernur DIY No. 48 Tahun 2010 (Governor of Yogyakartas Bylaw 2010), Peraturan Walikota Yogyakarta No. 31 Tahun 2011, (Mayor of Yogyakarta Citys Bylaw 2011), and Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No.2 Tahun 2015 (Ministry of Labors Law No.2/2015). This paper discusses some difficulties in implementing those regulations, especially related to the debatable content, such as: the definition of Pembantu Rumah Tangga/PRT (Housemaids), whether they are considered as helpers or labor; deciding their working hours; having a written or oral contract; and involving the third parties in the relationship between housemaids and their employers. Some reasons are found in explaining those difficulties: in any situation, PRT (housemaids) are considered as an informal work; there is a strong notion of familial relationship, where emotional relation is preferred than formal relationship. One thing that should be noted related to the importance of legal protection for housemaids is the need of continuous advocacy in dealing with managing their relationships with others, especially employers and the third parties. Keywords: PRT (housemaid), Employer, Regulations, Formal and Familial Relationship
Co-Authors *, Sampean A. Faroby Falatehan A. Nurul Mutmainnah A. Nurul Mutmainnah, A. Nurul Ageng Hasanah Sulaiman Ahmad Choibar Tridakusumah Ahmad, Risdawati Aida Vitayala S.Hubeis Aida Vitayala S.Hubeis, Aida Vitayala Aleeka Sari Narulita Pramesvari Alfiasari Alifa Nugrahayuningtyas Anggriani Syarif, Selvy Anisafarah, Sophie Annisa Ramadhani Apriani, Lutfia Putri Ardhian, David Arif Satria Arya Hadi Dharmawan Azizah, Reni Nur Dhevi Pradipta, Novitha Syari Dietrich G. Bengen Dietriech Geoffrey Bengen Dimas Erik Sumilat Dina Nurdinawati, Dina Dudung Darusman Elok Mulyoutami Endriatmo Soetarto Faris Budiman Annas Fazayanti, Qori Nur Hotma Yuli Kasih Theresia Husna, Latifah Irni Rahmayani Johan Irwan Abdullah Irwan Irwan KOSUKE MIZUNO, KOSUKE Lala M Kolopaking Maihasni M Martua Sihaloho Matsubayashi, Kozo Mayani, Nur Meziriati Hendri Mizan, Abdullah Al Muh. Asri, Muh. Muhamad Haris Zamaludin Setiadiputra Muhammad Fathan Raditasani Mulyono, Pudji Novitha Syari Dhevi Pradipta Nugrahayuningtyas, Alifa Nur Aini Nuraini Nuraini Nurul Amirah Pudji Muljono Putri Asih Sulistiyo Putri, Rizky Trisna Rachmat, Sri Hartini Raditasani, Muhammad Fathan Rahma Mutiya Sari Rahma Mutiya Sari, Rahma Mutiya Rilus Kinseng Rina Mardiana Riqa Arifah Zulkifli Risca Ardita Novianti Sara Endarwati Sardjo, Sulastri Septri Widiono Setiadiputra, Muhamad Haris Zamaludin Soeryo Adiwibowo Sofyan Sjaf Sumilat, Dimas Erik Syamsul Bakhri Thaliya Andini Labbaikha Titik Sumarti Tsania Akmala Tuty Irawaty, Tuty Tyas Retno Wulan Wada, Taizo Wenny Dwiharyenti Wenny Dwiharyenti, Wenny Zulkifli, Riqa Arifah