Claim Missing Document
Check
Articles

Agents in Child Marriage Practice in Rural West Java Novitha Syari Dhevi Pradipta; Ekawati Sri Wahyuni; Titik Sumarti
Salasika Vol 2 No 2 (2019): Salasika (Indonesian Journal of Gender, Women, Child, and Social Inclusion's Stud
Publisher : Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender & Anak Indonesia (ASWGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1840.15 KB) | DOI: 10.36625/sj.v2i2.38

Abstract

The prevalence of child marriage in Indonesia, although it has declined over the last three decades, remains in a high rate. Child marriage is indirectly legitimated by the Indonesian Marriage Law of 1974 which states that the minimum age limit of the bride shall be 16 years old. This is contrary to the Constitution of the Republic of Indonesia and the Child Protection Law. Child marriages in rural areas are not only driven by structures like family and society but are also initiated by individual actions driven by the agency. Therefore, this study examined child marriage practice comprehensively through the perspective of Giddens's structuration. This study aimed to identify the agents in child marriage practice. The results of the study found that there are two types of child marriages in rural areas. The first one is registered and the other is unregistered marriage. The identified agents in child marriage practice are girls, amil (assistant of marriage recording officer), Religious Affairs (KUA) officers, peer groups, teachers, mothers, and spouses. Each agent's action is affected by both structure and agency. Girl's actions are influenced by the agency. The girls are able to do agency in and through social practice. Girls’ agency produces meaningful action understood as a process and inherent to the agent through reflexive monitoring. Meanwhile, the actions of other identified agents are influenced by the existing structures in the society. Agent’s actions perpetuate child marriage practice. Child marriage practice occurs because there is no family strength. Therefore, the improvement of the family strength is needed as a constraining structure.
MENGURAI JARINGAN MIGRASI: KAJIAN KOMUNITAS PETANI MIGRAN BUGIS DI SULAWESI TENGGARA Elok Mulyoutami; Ekawati Sri Wahyuni; Lala M Kolopaking
Jurnal Kependudukan Indonesia Vol 9, No 1 (2014)
Publisher : Research Centre for Population, Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jki.v9i1.8

Abstract

Spontaneous rural to rural migration have impacts on every dimension of human being, as it can lead to changes in social and family structure. These changes will be also followed by changes in livelihood, land management and decision for subsequent migration. Migration has various causes and could also resulted from cumulative causation. Study on migration network will contribute on a good portrait on continuous migration, the related actors and their roles in facilitating migration and influencing the decision for migration. Study on Buginese migrant community in Southeast Sulawesi portrays how migration network and the related actors orchestrate the migration process. Family and friendshipnetworks play a very important role in the initial process of migration. This network is also used by another central actor in the process, namely migrant broker and land broker, who become the node on the network as well as open the network to different villages and families.
Perubahan Strategi Penghidupan dan Perubahan Peran Gender Rumah Tangga Pengelola Desa Wisata pada Masa Pandemi Covid-19 Aleeka Sari Narulita Pramesvari; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 6 No. 3 (2022): Juni
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v6i3.990

Abstract

Pandemi global COVID-19 memberikan dampak negatif pada segi kesehatan, sosial, dan ekonomi. Salah satu sektor yang terdampak adalah sektor pariwisata seperti desa wisata yang sedang menjamur di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan perubahan strategi penghidupan dengan peran gender rumah tangga pengelola desa wisata pada saat pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode campuran kualitatif dan kuantitatif dalam menjelaskan dampak pandemi terhadap sektor bisnis pariwisata di desa wisata dan menganalisis perubahan strategi nafkah dan peran gender yang dialami rumah tangga pengelola desa wisata. Data diperoleh dengan wawancara mendalam kepada 10 informan dan kuesioner kepada 37 rumah tangga pengelola Desa Wisata Nglanggeran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 menyebabkan penurunan wisatawan dan omset desa wisata. Terjadi perubahan pendapatan, modal sosial, strategi nafkah, dan peran gender. Rumah tangga pun mengalami penurunan pendapatan dan melakukan perubahan strategi nafkah yaitu dengan mencari pekerjaan lain ketika pekerjaan wisatanya terpaksa berhenti. Perubahan peran gender juga terjadi pada beberapa rumah tangga karena bertambahnya waktu di rumah dan tertutupnya beberapa usaha wisata yang dijalani oleh rumah tangga desa wisata ketika pandemi.
Struktur Nafkah pada Rumah Tangga UMKM Olahan Pangan pada Masa Pandemi Covid-19 : (Kasus: Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur) Thaliya Andini Labbaikha; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 6 No. 5 (2022): Oktober
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v6i5.1064

Abstract

Masyarakat pesisir mengalami penurunan pendapatan dari adanya dampak perubahan iklim yang tak kunjung usai, namun juga harus menyelesaikan krisis yang terjadi akibat pandemi Covid-19. Melalui hadirnya sektor UMKM, memberikan alternatif sumber nafkah baru dalam kegiatan perekonomiannya. Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis perkembangan UMKM olahan pangan sebagai sebuah sumber nafkah baru di Kecamatan Kalianget dan menganalisis karakteristik pemilik UMKM olahan pangan serta menganalisis struktur nafkah UMKM olahan pangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung kualitatif untuk melihat hubungan antar variabel. Hubungan antar variabel ini secara statistik diolah menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan jumlah responden sebanyak 30 rumah tangga UMKM olahan pangan. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa variabel skala usaha memiliki hubungan yang signifikan dan searah dengan pendapatan dari sektor non farm atau UMKM dan memiliki hubungan sangat lemah dan negatif dengan variabel sumber nafkah dari sektor on farm dan off farm. Karakteristik pemilik UMKM seperti pendidikan non formal, bantuan sosial, jaringan sosial dan lama usaha memberikan pengaruh yang signifikan bagi besarnya skala usaha UMKM.
Strategi Nafkah dan Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Terdampak Banjir Rob Tsania Akmala; Ekawati Sri Wahyuni
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 7 No. 1 (2023): Maret
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v7i1.1008

Abstract

Banjir rob di Desa Pesanggrahan terjadi karena pengaruh dari hulu dan kenaikan muka air laut sebagai akibat dari perubahan iklim. Hal ini berdampak terhadap produktivitas pertanian hingga menghilangnya beberapa mata pencaharian petani, sehingga petani perlu menerapkan strategi nafkah untuk menghadapi dampak dari perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan terjadinya banjir rob, menganalisis modal nafkah yang dimanfaatkan rumah tangga petani, menganalisis strategi nafkah yang diterapkan rumah tangga petani, dan menganalisis kesejahteraan rumah tangga petani. Metode penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Data diperoleh dengan wawancara mendalam kepada 4 informan dan kuesioner kepada 35 rumah tangga petani Desa Pesanggrahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir rob banyak memberikan dampak negatif bagi kehidupan rumah tangga petani serta menghilangnya beberapa mata pencaharian. Strategi nafkah yang diterapkan rumah tangga petani adalah diversifikasi mata pencaharian. Modal nafkah diperlukan untuk menerapkan strategi nafkah, namun tidak ada hubungan kepemilikan modal nafkah dengan keberagaman strategi nafkah.
URBANISASI DI KOTA BALIKPAPAN: FORMASI SOSIAL KELUARGA PENDATANG MISKIN DI KOTA BALIKPAPAN A. Nurul Mutmainnah; Lala M Kolopaking; Ekawati Sri Wahyuni
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 14 No 1 (2015): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v14i1.45

Abstract

Abstract This aims of study to explain urbanization in Balikpapan  and poverty faced by poor migrant families through social processes and social formations that they experienced. The research method used is the method mix or combination of qualitative and quantitative methods. This study also uses primary data through surveys, in-depth interviews, field diaries and secondary data by dokumentation and articles related to the research. Urbanization in Balikpapan is inseparable by entry of poor families from various regions in Indonesia. Ethnic solidarity apparently affected relations of production, in which poor families are bound migrants in ethnic groups and used as cheap labor in production activities. Modes of subsistence and commercial production of social formation forming families of poor immigrants. Lack of capital and the role of market mechanisms in production activities make poor migrant families are in position of the working class with low incomes and experiencing poverty. Keywords: family poor immigrant, social process, social formation, modes of production,  production relationsAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan urbanisasi di kota Balikpapan dan kemiskinan yang dihadapi keluarga pendatang miskin melalui proses sosial dan formasi sosial yang mereka alami. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan data primer  melalui wawancara mendalam dan catatan harian lapangan. Data sekunder yang digunakan adalah dokumentasi dan artikel yang berkaitan dengan penelitian untuk menjelaskan urbanisasi di kota Balikpapan. Urbanisasi di kota Balikpapan tidak terlepas dari masuknya keluarga miskin dari berbagai wilayah di Indonesia yang ingin mencari kerja. Solidaritas dan kerjasama sesama etnis merupakan salah satu bentuk proses sosial yang dialami keluarga pendatang miskin. Moda produksi subsisten dan komersil menjadi pembentuk formasi sosial keluarga pendatang miskin. Kurangnya modal dan peran mekanisme pasar dalam kegiatan produksi membuat keluarga pendatang miskin berada dalam posisi kelas pekerja dengan pendapatan rendah dan mengalami kemiskinan. Kata kunci: keluarga pendatang miskin, proses sosial, formasi sosial, moda produksi   
Transformation of Farmer Resistance in Conservation Areas: Land Occupation by Farmers in Mount Halimun-Salak National Park, West Java Sardjo, Sulastri; Dharmawan, Arya Hadi; Darusman, Dudung; Wahyuni, Ekawati Sri
Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol. 27, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A number of studies have shown various agrarian conflicts as a response by local farmers against the policy of national parks that prohibits them from accessing conservation forest areas. However, previous studies had not explained the dynamics of power relations between park authorities and farmers who stand in opposition to these policies. This study employs a qualitative research approach complemented by secondary data to explain the transformation of farmer resistance in the Mount Halimun-Salak National Park (TNGHS) area, namely from their repertoire of everyday resistance to practices of land occupation. Specifically, this study uses the “powercube” analytical framework to explain the process of this transformation. The study concludes that changes have occurred within the dimensions of peasant power. Regarding the space of power, the power of farmers was transformed from being strictly exerted within closed spaces to being more open (invited), which enables them to conduct negotiations with the park authorities. Meanwhile, farmers now exert their power at the local TNGHS area level, after previously only taking place within each household. Finally, the form of power has changed from being hidden to more visible, which allows them to acquire the “recognition” of TNGHS authorities as legitimate sharecroppers. Farmers have been able to occupy land by taking advantage of the political space provided by a period of democratization, as well as their ability to mobilize economic capital and forge social relations with various actors, including the TNGHS park authorities.
Mekanisme dan Kunci Keberhasilan Pengelolaan Kolaborasi Ekowisata Bahari di Kawasan Konservasi Raja Ampat Nuraini, Nuraini; Satria, Arif; Wahyuni, Ekawati Sri; Bengen, Dietriech Geoffrey
Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Research Center for Marine and Fisheries Socio-Economic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marina.v10i1.13054

Abstract

Tantangan pengembangan pariwisata di kawasan konservasi muncul ketika kepentingan pembangunan ekonomi tidak selaras dengan pembangunan ekologi. Raja Ampat memiliki keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi. Di sisi lain, keanekaragaman hayati tersebut menjadi potensi wisata yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat menetapkan Kawasan Perairan Raja Ampat sebagai zona semiintensif, yakni kawasan yang dirancang untuk menerima kunjungan wisatawan dalam skala kecil dengan aktivitas wisata yang terbatas. Kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam pemanfaatan potensi wisata diperlukan untuk menghindari berbagai konflik kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan mekanisme dan hubungan dinamis yang kompleks antarpemangku kepentingan dan mengungkapkan kunci keberhasilan pengelolaan kolaborasi ekowisata di kawasan konservasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian dilakukan di Kampung Wisata Arborek, Yenbuba dan Sawinggrai Kabupaten Raja Ampat pada bulan Oktober 2020. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif dan focus group discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme pengelolaan kolaborasi dilakukan melalui sinergi peran antara pemerintah, masyarakat, LSM, akademisi, dan swasta mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan dengan tipe konsultatif. Tipe konsultatif ini ditandai dengan adanya mekanisme dialog antara pemerintah dan masyarakat, tetapi pengambilan keputusan masih dilakukan oleh pemerintah. Kunci keberhasilan pengelolaan kolaborasi ekowisata di kawasan konservasi meliputi (1) koordinasi antarpemangku kepentingan; (2) keterlibatan masyarakat lokal; (3) kesadaran dan komitmen bersama; (4) aturan pengelolaan disepakati bersama; (5) pembentukan kebijakan sesuai dengan kondisi lokal; (6) adanya pembagian kekuasaan dan tanggung jawab; (7) adanya mekanisme penyelesaian konflik; dan (8) berlakunya sanksi. Title: Mechanism and Keys to Successful Collaboration Management of Marine Ecotourism in The Raja Ampat Conservation Area   The challenge of developing tourism in conservation area arises when the interests of economic development are not aligned with ecological development. Raja Ampat has a biodiversity that needs to be protected. On the other hand, this biodiversity is a tourism potential utilized for economic interests. The Raja Ampat Regency Government has designated the Raja Ampat Waters Area as a semi-intensive zone, namely an area designed to receive tourist visits on a smaller scale with limited tourist activities. Collaboration among stakeholders in utilizing tourism potential is required to avoid various conflicts of interest. This research aims to elucidated complex dynamic mechanisms and relationships between stakeholders and revealed the keys to successful collaborative ecotourism management in conservation areas. This research used a qualitative approach with a case study method. Research was conducted in Arborek, Yenbuba, and Sawinggrai Tourism Villages, Raja Ampat Regency in October 2020. Data was collected through in-depth interviews, participatory observation, and focus group discussion. The study results showed that the mechanism collaborative management was carried out through the synergy of multi-party, namely government, communities, NGOs, academics, and the private sector, by forming a collaborative management strategy from planning to monitoring with a consultative type. This consultative type is characterized by the existence of a dialogue mechanism between the government and the community, but decision making is still carried out by the government. The keys to successful collaborative management of ecotourism in conservation areas include (1) coordination between stakeholders; (2) involvement of local communities; (3) awareness and commitment among stakeholders; (4) mutually agreed management rules; (5) local based policies and regulations; (6) a division of power and responsibility; (7) a conflict resolution mechanism; and (8) sanctions apply.
Livelihood Diversity of Rural Communities Without Legal Access to Forest Resources: The Case of Kerinci Seblat National Park in Bengkulu Province Widiono, Septri; Wahyuni, Ekawati Sri; Kolopaking, Lala M.; Satria, Arif
Forest and Society Vol. 8 No. 1 (2024): JUNE
Publisher : Forestry Faculty, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/fs.v8i1.30947

Abstract

Kerinci Seblat National Park in Bengkulu, Indonesia, was gazetted by the Indonesian government, and its overlaps with forests occupied by most indigenous communities made their farming activities in the area illegal. People were prohibited from accessing and expanding their farming areas in the national park, threatening their livelihoods. The livelihood diversity index (LDI) and livelihood asset index (LAI) were used to explore the livelihood systems of these communities. This study also examines the effect of livelihood assets on livelihood diversity and analyzes livelihood strategy choices using Giddens’ structuration theory. A quantitative survey combined with in-depth interviews was conducted in two villages with different land types: wetlands (rice fields) and drylands (farmlands). This study found that the communities diversified their livelihoods into eight types of livelihood strategies. Almost all livelihood indicators were different, and the differences in livelihood asset indicators affected the LDI. As a process of structuration, communities have diversified their livelihoods into farm (e.g., annual and perennial crops), off-farm (e.g., farm wages), and non-farm (e.g., services and government transfer) activities. Rural households have modified their social and physical structures to secure their livelihoods by optimizing agricultural intensification technologies or by seeking non-agricultural income. Households decide whether to specialize or diversify their livelihoods based on factors such as the area of cultivated land, number of crops cultivated, distance of the farming location from the house, total household income, non-farm income, and reciprocal relationships.
Eco-Gender Gap Dalam Pemeliharaan Lingkungan di Desa Wisata (Kasus : Rumah Tangga Anggota Komunitas Pecinta Lingkungan di Desa Wisata Batulayang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor) Apriani, Lutfia Putri; Wahyuni, Ekawati Sri
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat [JSKPM] Vol. 8 No. 01 (2024): Maret
Publisher : Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jskpm.v8i01.1241

Abstract

Batulayang Tourism Village is one of West Java Province's sustainable tourism villages. Gender equality in environmental preservation are an important factor in efforts to preserve the ecological environment. Men and women share equal responsibility for environmental preservation. The purpose of this study is to examine the relationship between environmental preservation and the level of the gender gap. This study uses a mixed method exploratory sequential design approach, applying in-depth interviews for qualitative followed by questionnaires for quantitative data collection. The respondents in this research are 30 household members of the environmental community and 5 people research subjects who were in Ecovillage Program. The Spearman Rank Correlation and Chi-Square Test were utilised in this data processing for quantitative data. The research findings indicate that the Ecovillage Programe has sufficiently increased community participation to care more about the surrounding environment; however, in its implementation in the household sphere, the lack of gender-based environmental awareness causes there to still be a gap between husbands and wives in environmental management because environmental management is often associated with women's domestic role.
Co-Authors *, Sampean A. Faroby Falatehan A. Nurul Mutmainnah A. Nurul Mutmainnah, A. Nurul Ageng Hasanah Sulaiman Ahmad Choibar Tridakusumah Ahmad, Risdawati Aida Vitayala S.Hubeis Aida Vitayala S.Hubeis, Aida Vitayala Aleeka Sari Narulita Pramesvari Alfiasari Alifa Nugrahayuningtyas Anggriani Syarif, Selvy Anisafarah, Sophie Annisa Ramadhani Apriani, Lutfia Putri Ardhian, David Arif Satria Arya Hadi Dharmawan Azizah, Reni Nur Dhevi Pradipta, Novitha Syari Dietrich G. Bengen Dietriech Geoffrey Bengen Dimas Erik Sumilat Dina Nurdinawati, Dina Dudung Darusman Elok Mulyoutami Endriatmo Soetarto Faris Budiman Annas Fazayanti, Qori Nur Hotma Yuli Kasih Theresia Husna, Latifah Irni Rahmayani Johan Irwan Abdullah Irwan Irwan KOSUKE MIZUNO, KOSUKE Lala M Kolopaking Maihasni M Martua Sihaloho Matsubayashi, Kozo Mayani, Nur Meziriati Hendri Mizan, Abdullah Al Muh. Asri, Muh. Muhamad Haris Zamaludin Setiadiputra Muhammad Fathan Raditasani Mulyono, Pudji Novitha Syari Dhevi Pradipta Nugrahayuningtyas, Alifa Nur Aini Nuraini Nuraini Nurul Amirah Pudji Muljono Putri Asih Sulistiyo Putri, Rizky Trisna Rachmat, Sri Hartini Raditasani, Muhammad Fathan Rahma Mutiya Sari Rahma Mutiya Sari, Rahma Mutiya Rilus Kinseng Rina Mardiana Riqa Arifah Zulkifli Risca Ardita Novianti Sara Endarwati Sardjo, Sulastri Septri Widiono Setiadiputra, Muhamad Haris Zamaludin Soeryo Adiwibowo Sofyan Sjaf Sumilat, Dimas Erik Syamsul Bakhri Thaliya Andini Labbaikha Titik Sumarti Tsania Akmala Tuty Irawaty, Tuty Tyas Retno Wulan Wada, Taizo Wenny Dwiharyenti Wenny Dwiharyenti, Wenny Zulkifli, Riqa Arifah