Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Pengembangan Pembelajaran Berbasis e-Learning Perspektif Alessi dan Trollip Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 5 No. 2 (2013): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.222 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengembangan e-learning tidak jauh berbeda dengan pengembangan media pembelajaran lainnya, yaitu merujuk salah satu teori pengembangan. Beberapa teori pengembangan Multi Media Interaktif (MMI) diperkenalkan oleh Robert Philips, Kemo, Leisly, Borg&Gall dan Alessi&Trollip. Dalam tulisan ini dipilih model Research and Development (R&D) dari Alessi&Trollip karena model ini lebih cocok untuk pengembangan e-learning. R&D merupakan metode pengembangan dan validasi suatu produk pendidikan, berupa penelitian analisis kebutuhan akan suatu produk, kemudian mengembangkannya, mengevaluasi produk melalui uji alpha (validasi ahli media dan ahli materi) dan uji beta (mahasiwa), dan tahap terakhir yaitu uji coba produk. Model Alessi&Trollip memiliki tiga atribut dan tiga fase, yaitu: standard, ongoing evaluation dan project management. Adapun atributnya terdapat juga tiga fase pengembangan, yaitu: perencanaan (planning), desain (design), dan pengembangan (developmet). Key Words: Pengembangan, E-Learning, Perspektif Alessi&Trollip
DESAIN PRODUK PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 9 No. 2 (2015): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.829 KB)

Abstract

ABSTRAK Desain pembelajaran atau desain instruksional menggambarkan program pembelajaran dalam satuan-satuan tertentu. Ada berbagai model pengembangan desain pembelajaran, yaitu model Dick & Carey, Gagne & Briggs Pekerti yang dikenal dengan MPI (Model Pengembangan Instruksional) dan Romiszowski. Sedangkan multimedia pembelajaran diartikan sebagai kombinasi teks, gambar, seni grafik, animasi, suara dan video. Aneka media tersebut digabungkan menjadi satu kesatuan kerja yang akan menghasilkan suatu informasi yang memiliki nilai komunikasi yang sangat tinggi. Berdasarkan model desain pengembangan pembelajaran tersebut, maka prosedur pengembangan multimedia pembelajaran dibagi dalam empat tahap, yaitu analisis kebutuhan, mengembangkan desain pembelajaran, persiapan pembuatan media pembelajaran, uji coba dan revisi produk. Key Words: Desain, Produk, Pembelajaran, Multimedia
Improvisasi Pesantren Sebagai Subkultur Di Indonesia Saekhotin, Sayyidah; Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 12 No. 1 (2017): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.736 KB)

Abstract

Improvisasi pesantren sebagai sub kultur dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu carayanya yaitu: pertama, improvisasi sistem pendidikan pesantren. Pesantren saat ini mulai banyak yang memasukkan sistem pendidikan yang baru. Seperti realita yang terjadi, banyak pesantren yang mendirikan perguruan tinggi, dan sebaliknya. Atau di beberapa kota mulai didirikan pesantren yang bernuansakan dunia perguruan tinggi, meskipun di dalamnya tidak ada pendidikan yang secara formal disebut perguruan tinggi. Kedua, improvisasi pola sistem kepemimpinannya. Awalnya, kepemimpinan pesantren secara kukuh masih terpola dengan kepemimpinan yang sentralistik dan hirarkis yang berpusat pada satu orang kiai, tetapi pada saat ini beberapa pesantren modern sudah merubah sistem kepemimpinan menjadi multi leaders (kepemimpinan kolektif). Sistem ini dipandang perlu mengingat bahwa kepemimpinan yang ada sering tidak mampu mengimbangi kemajuan dan perkembangan pesantren yang dikelolanya, karena terjadinya penurunan karisma kiai. Ketiga, improvisasi kitab-kitab klasik yang menjadi sumber nilai pesantren. Pelestarian dan pengembangan pengajaran kitab-kitab klasik berjalan terus menerus dan secara kultural telah menjadi ciri khusus pesantren sampai saat ini. Pesantren merupakan lembaga keagamaan yang tidak bisa dipisahkan dengan nilai dan tradisi luhur yang berkembang di pesantren. Ini merupakan karakteristik yang memiliki puluang cukup besar untuk dijadikan dasar pijakan dalam rangka menyikapi modernisasi dan persoalan-persoalan lain yang menghadang pesantren dalam menghadapi arus globalisasi yang sangat pesat. Seperti nilai kesabaran, kesalihan, kemandirian, keikhlasan, dan kesederhanaan merupakan nilai-nilai yang dapat melepaskan masyarakat dari dampak negatif globalisasi dalam bentuk ketergantungan dan pola hidup konsumerisme yang lambat tetapi pasti akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan umat manusia.
MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANTIKORUPSI Nurhayati, Umi; Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 9 No. 2 (2015): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.601 KB)

Abstract

Matakuliah Pendidikan Antikorupsi ini tidak berlandaskan pada salah satu perspektif keilmuan secara khusus. Berlandaskan pada fenomena permasalahan serta pendekatan budaya yang telah diuraikan diatas, matakuliah ini lebih menekankan pada pembangunan karakter antikorupsi (anti-corruption character building) pada diri individu mahasiswa. Supaya matakuliah pendidikan antikorupsi berjalan dengan baik, maka dibutuhkan suatu manajemen pembelajaran. Menurut Terry, manajemen adalah proses, yakni aktifitas yang terdiri dari empat subyektivitas yang masing-masing merupakan fundamental. Keempat subyektivitas itu- yang ada dalam dunia manajemen dikenal sebagai P.O.A.C adalah planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan), controlling (pengawasan). Oleh karena itu, implementasi manajemen pembelajaran matakuliah pendidikan antikorupsi sangat berkaitan dengan empat unsur manajemen tersebut. Berpijak dari konsep manajemen dan pembelajaran, maka konsep manajemen pembelajaran matakuliah pendiidkan antikorupsi dapat diartikan proses mengelola yang meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian (pengarahan) dan pengevaluasian kegiatan yang berkaitan dengan proses membelajarkan si pebelajar dengan mengikutsertakan berbagai faktor di dalamnya guna mencapai tujuan matakuliah pendidikan antikorupsi. Dalam “memanaje” atau mengelola pembelajaran, manajer dalam hal ini dosen melaksanakan berbagai langkah kegiatan mulai dari merencanakan pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengarahkan dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan. Pengertian manajemen pembelajaran matakuliah pendidikan antikorupsi dapat diartikan secara luas dalam arti mencakup keseluruhan kegiatan bagaimana membelajarkan mahasiswa mulai dari perencanaan pembelajaran matakuliah pendidikan antikorupsi sampai pada penilaian pembelajaran matakuliah pendidikan antikorupsi
Integrasi Nilai-Nilai Karakter Dalam Pembelajaran di Islamic Boarding School Khumairo, Dewi; Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 13 No. 2 (2017): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.432 KB)

Abstract

MTs. Al-Qodiri 1 Jember sebagai lembaga Islamic Boarding School telah mengimplementasikan pembelajaran berbasis karakter sesuai dengan rencana dan ketentuan yang telah ditetapkan. Pembelajaran berbasis karakter di MTs. Al-Qodiri 1 Jember akan menjadikan peserta didik beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. nilai-nilai karakter yang diintegrasikan adalah religius, jujur, kedisiplinan, kerja keras, kreatif, tanggung jawab, mandiri, cinta tanah air, peduli sosial, komunikatif, dan sebagainya. Dari semua nilai karakter tersebut, MTs. Al-Qodiri 1 Jember merumuskan kembali menjadi empat nilai yaitu kedisiplinan, keikhlasan, kesederhanaan, akhlakul karimah. Integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran dilakukan dengan tiga cara, yaitu: integrasi nilai-nilai karakter dalam pengembangan diri, integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum mata pelajaran, dan integrasi nilai-nilai karakter dalam budaya sekolah. Key Word: Integrasi, Nilai-Nilai Karakter, Pembelajaran, Islamic Boarding School
Formulasi Nilai-Nilai Pembelajaran Karakter Berbasis Nilai-Nilai Sufistik Di Islamic Boarding School Jember Rosidi, Ahmad; Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 19 No. 1 (2021): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan formulasi nilai-nilai pembelajaran karakter berbasis nilai-nilai sufistik di Islamic Boarding School Jember. Di dalam penelitian ini, metode penelitiannya menggunakan metode kualitatif dengan jenis multisitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pembelajaran karakter berbasis nilai-nilai sufistik di lembaga MTs IBS bersumber dari ajaran-ajaran Aswaja dan Syaikh Abdul Qodir Jailani serta ajaran dan perilaku pengasuh pesantrenya. Secara umum, nilai-nilai pembelajaran karakter berbasis nilai-nilai sufistik di lembaga MTs IBS adalah nilai kedisiplinan, keikhlasan, kemandirian, kesederhanaan dan ukhuwah Islamiyah. Sedangkan nilai-nilai yang khusus ketika berinteraksi dengan orang yang lain, nilai-nilai karakter sufistik yang harus dilaksanakan adalah terangkum dengan 6S, yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, dan Sanjung.
Pembelajaran Karakter-Sufistik: Studi Multisitus di MTs Unggulan Al-Qodiri 1 dan Nuris 1 Jember Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 19 No. 2 (2021): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/al qodiri.v19i2.4207

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran karakter-sufistik di MTs Unggulan Jember. Di dalam penelitian ini, metode penelitiannya menggunakan metode kualitatif dengan jenis multisitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pembelajaran karakter-sufistik di MTs Unggulan berbasis Islamic Boarding School berjalan dengan baik, maka lembaga MTs tersebut telah merumuskan nilai-nilai karakter-sufistik, melaksanakan pembelajaran di berbagai tempat atau setting sekolah, menggunakan berbagai metode, media dan evaluasi pembelajaran. Pelaksanaannya dilakukan di sekolah (kelas dan luar kelas), di pesantren dan di masyarakat. Untuk metode pembelajaran yang dapat digunakan antara lain adalah metode keteladanan, pengarahan dan bimbingan, pembiasaan dan pelatihan, penciptaan lingkungan dan penugasan. Adapun media yang dapat digunakan adalah buku template yang berisi nilai-nilai sufistik dan diletakkan di depan kelas dan kantor. Sedangkan evaluasi yang digunakan adalah berbentuk observasi dan cheklist dengan menggunakan buku saku jujur. Untuk dalam raport, penilaian dengan menggunakan huruf seperti A (sangat baik), B (Baik), dan C (Kurang Baik).Di dalam pelaksanaan pembelajaran karakter-sufistik guru sebagai faktor utama yang terpenting dalam membentuk karakter peserta didik, serta mengawali untuk memberi contoh atau sikap yang baik kepada peserta didiknya. Selain keteladanan, MTs tersebut juga mengoptimalkan pembudayaan pelaksanaan pembelajaran karakter berbasi nilai-nilai sufistik.
Pembelajaran Pendidikan Karakter dalam Konteks Tasawuf Irfani-Akhlaqi Anam, Nurul
AL-WIJDÃN Journal of Islamic Education Studies Vol. 3 No. 2 (2018): November 2018
Publisher : Faculty of Islamic Sciences, Raden Rahmat Islamic University Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.162 KB) | DOI: 10.58788/alwijdn.v3i2.142

Abstract

Krisis karakter memunculkan karakter anarkis, kesombongan, koruptif, keserakahan dan sebagainya. Karakter ini salah satunya disebabkan manusia melupakan keberadaan Allah SWT. dan tidak mampu mengkontrol hawa nafsu yang ingin selalu merasakan kenikmatan duniawi. Untuk mengatasi krisis karakter tersebut, tasawuf Irfani-akhlaki bisa menjadi solusi, karena tasawuf tersebut merupakan pendidikan mental-spritual untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang berkarakter spiritualis dan humanis. Pendidikan seperti ini juga diterapkan dalam majlis dzikir manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani di Pesantren Al-Qodiri Jember, sehingga setiap tahun jamaahnya semakin banyak, baik dari dalam maupun luar negeri. Para tokoh ulama dan umara’ meyakini dan mengakui bahwa majlis ini sebagai tempat untuk mengatasi krisis karakter yang dihadapi agama dan bangsa. Dari latar belakang ini, penelitian ini difokuskan pada Konsep Pendidikan Karakter Persepektif Dzikir Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jailani di Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember. Untuk mendiskripsikan fokus penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, pengumpulan data melaui observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis model interaktif Miles dan Huberman dan valilditas data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Setelah dilakukan analisis terhadap data yang telah terhimpun, akhirnya dihasilkan simpulan penelitian, yaitu:: 1) pembelajaran pendidikan karakter adalah proses internalisasi dan pembudayaan nilai-nilai spiritual yang bersumber dari ahlussunnah  waljamaah; 2) tujuan pembelajaran pendidikan karakter adalah untuk membentuk karakter jamaah dzikir manaqib yang pancasilais dengan berlandaskan pada nilai-nilai spiritual, sehingga jamaah bisa mengaplikasikan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, dan berbangsa dengan harapan agar mendapatkan barakah, syafaat Rasulullah, Idzin dan Ridho Allah SWT. ; 3) nilai-nilai pembelajaran pendidikan karakter meliputi nilai ketuhanan, zuhud/kesederhanaan, kemanusiaan, kebijaksanaan dan permusyawaratan, persatuan (ukhuwah Islamiyah) dan keadilan; dan 4) implementasi pembelajaran pendidikan karakter dilakukan dengan tiga tahap, yaitu: takhalli, tahalli dan tajalli. Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Tasawuf Akhlaqi
Cycle Model Of Integrative-Interconnective Strategy within Character Learning Anam, Nurul; Degeng, I Nyoman Sudana; Kuswandi, Dedi; Sulton
JTP - Jurnal Teknologi Pendidikan Vol. 26 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi Pendidikan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/jtp.v26i1.44494

Abstract

Received: Revised: Accepted: This paper describes the cycle model of integrative-interactive character learning strategies at ‘MTs’ (Islamic Junior High School) Islamic Boarding School. The data is focused on MTs Al-Qodiri 1 and Nuris 1 Jember. This study used a qualitative approach having a multi-site research principle. The findings of this study showed that the application of the cycle model of integrative-interactive character learning strategies in MTs Islamic Boarding School has its own characteristics and can be considered to be a successful model of student character development. Character learning materials, especially the character values are the integration of values within the formal curriculum and Sufi based Islamic Boarding School typical curriculum. The materials are organized through the process of determining the material, structuring the order, constructing analogy, and summarizing the contents of character learning. Various interactive, collaborative and learning media are used, so that the transfer process of character learning material is easily understood and practiced in daily life. In order to ensure that the organization and the process of learning provision are more optimal, the character learning regulation is carried out by a 24-hour scheduling process followed by a continuous process of monitoring, motivational management, and supervision.