Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Rabbani Education: Basic Concepts, Design and Implications of Rabbani Education Learning Anam, Nurul; Fikroni, Moh. Rofid
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 31 No. 1 (2020): Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v31i1.975

Abstract

Rabbani education is a basic concept to overcome various problems in human life. This concept is understood as a process that actively develops human potentials through the process of purification, instilling and incarnation into a generation of rabbani. From this understanding, there are three core processes of rabbani education, namely the process of purification, instilling, and incarnation. The design of rabbani education learning is centered within Al-Qur'an Surah Al-Alaq verses 1-5. This surah is the first revelation revealed to the Prophet Muhammad. Not only this revelation signifies that the prophet as an Apostle or messenger, but also as a student who was educated by God and became an educator for all humanity. This first revelation contains the core theory of learning design. Therefore, the basic concept and design of rabbani education learning has several implications that can be actualized in the context of Islamic education in this century, namely: 1) rabbani education empties and ends at the peak of a life mission, which is divinity or monotheism; and 2) rabbani education that had been through by the Prophet Muhammad is a reflection of the ideality of an Islamic education process.
Konstruksi Teori Belajar dan Pembelajaran Spiritualsufistik: Studi Kasus di Majlis Dzikir Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jailani Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember Anam, Nurul
Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars Vol 3 No 1 (2019): AnCoMS 2019
Publisher : Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Wilayah IV Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.342 KB) | DOI: 10.36835/ancoms.v3i1.274

Abstract

Indoktirinasi radikalis merupakan proses interaksi edukatif ekstremis yang dilakukan oleh doktriner kepada pengantin bom untuk menanamkan kepercayaan, sistem berpikir dan perilaku radikalis. Indoktrinasi ini berhasil mencuci otak pengantin bom sehingga dia rela melakukan bom bunuh diri. Sebaliknya, di dalam konteks spiritual-sufistik, terdapat proses dekonstruksi indoktrinasi yang mampu mencuci otak umat Islam menjadi umat yang menyebarkan rahmatan lil???alamin. Kegiatan ini dilakukan dalam pembelajaran spiritual-sufistik di Pesantren Al-Qodiri Jember. Konstruksi hakikat belajar spiritual-sufistik ini dipahami sebagai suatu proses perubahan tingkah laku baik perubahan berpikir, maupun sikap atau perbuatan sehingga hidupnya bermanfaat, membawa rahmat bagi semesta alam dan bahagia di dunia dan akhirat. Konstruksi implementasi pembelajarannya menempatkan imam spiritual-sufistik sebagai guru yang aktif dan jamaah sebagai peserta didik yang pasif untuk membawa jamaah macapai derajat syari???at, tarekat, hakikat dan ma???rifat
Respon Pendidik Terhadap Implementasi Kurikulum 2013 Dalam Mata PelajaranAl-Qur`an Hadist di MTs Al-Qodiri Jember Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 4 No. 1 (2013): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.666 KB)

Abstract

ABSTRAK Pada pertengahan Tahun 2012, kurikulum 2013 mulai disosialisasikan sampai saat ini. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum berbasis kompetensi yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengembangan tersebut tidak hanya pada aspek fisik saja, tapi juga pada pengembangan metodologi. Ketepatan metodologi sangat dibutuhkan dalam penyampaian materi, agar peserta didik memahami materi yang disampaikan secara mendalam, bahkan dalam rencana kurikulum 2013 yang akan lebih mengoptimalisasikan ketiga potensi yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Apabila peserta didik telah memenuhi ketiga potensi di atas, maka dia telah mencapai tujuan pendidikan yaitu untuk menjadi manusia dewasa. Fokus penelitiannya pada respon pendidik terhadap implementasi kurikulum 2013 dalam aspek tujuan, metode dan evaluasi pembelajaran Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadis di MTs Al-Qodiri Jember 2014. Adapun kesimpulannya yaitu: 1) tujuan pembelajarannyasangat sesuai dengan kualitas yang ingin dicapai dari setiap proses, materi dan out put lulusan yang sudah ditetapkan termasuk juga dalam mata pelajaran al-Qur’an dan Hadis; 2) Metode pembelajarannya menggunakan metode pembelajaran aktif dan menyenangkan. Guru harus lebih antraktif karena hal-hal yang sudah ada di buku (langkah-langkah) disesuaikan dengan kondisi dari sarana dan prasarana juga kondisi siswa yang bersangkutan; dan 3) Evaluasi kurikulum 2013 yang dilaksanakan dalam setiap materi mata pelajaran al-Qur’an dan Hadis sudah sangat bagus, karena dengan evaluasi ini siswa lebih bersemangat dan mempunyai rasa ingin tahu sehingga ketika dievaluasi, siswa mampu menjawab dengan benar, baik itu penilaiannya pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Kata Kunci: Respon Pendidik, Implementasi Kurikulum 2013, Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadis
Pengembangan Pembelajaran Berbasis e-Learning Perspektif Alessi dan Trollip Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 5 No. 2 (2013): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.222 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengembangan e-learning tidak jauh berbeda dengan pengembangan media pembelajaran lainnya, yaitu merujuk salah satu teori pengembangan. Beberapa teori pengembangan Multi Media Interaktif (MMI) diperkenalkan oleh Robert Philips, Kemo, Leisly, Borg&Gall dan Alessi&Trollip. Dalam tulisan ini dipilih model Research and Development (R&D) dari Alessi&Trollip karena model ini lebih cocok untuk pengembangan e-learning. R&D merupakan metode pengembangan dan validasi suatu produk pendidikan, berupa penelitian analisis kebutuhan akan suatu produk, kemudian mengembangkannya, mengevaluasi produk melalui uji alpha (validasi ahli media dan ahli materi) dan uji beta (mahasiwa), dan tahap terakhir yaitu uji coba produk. Model Alessi&Trollip memiliki tiga atribut dan tiga fase, yaitu: standard, ongoing evaluation dan project management. Adapun atributnya terdapat juga tiga fase pengembangan, yaitu: perencanaan (planning), desain (design), dan pengembangan (developmet). Key Words: Pengembangan, E-Learning, Perspektif Alessi&Trollip
DESAIN PRODUK PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 9 No. 2 (2015): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.829 KB)

Abstract

ABSTRAK Desain pembelajaran atau desain instruksional menggambarkan program pembelajaran dalam satuan-satuan tertentu. Ada berbagai model pengembangan desain pembelajaran, yaitu model Dick & Carey, Gagne & Briggs Pekerti yang dikenal dengan MPI (Model Pengembangan Instruksional) dan Romiszowski. Sedangkan multimedia pembelajaran diartikan sebagai kombinasi teks, gambar, seni grafik, animasi, suara dan video. Aneka media tersebut digabungkan menjadi satu kesatuan kerja yang akan menghasilkan suatu informasi yang memiliki nilai komunikasi yang sangat tinggi. Berdasarkan model desain pengembangan pembelajaran tersebut, maka prosedur pengembangan multimedia pembelajaran dibagi dalam empat tahap, yaitu analisis kebutuhan, mengembangkan desain pembelajaran, persiapan pembuatan media pembelajaran, uji coba dan revisi produk. Key Words: Desain, Produk, Pembelajaran, Multimedia
Improvisasi Pesantren Sebagai Subkultur Di Indonesia Saekhotin, Sayyidah; Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 12 No. 1 (2017): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.736 KB)

Abstract

Improvisasi pesantren sebagai sub kultur dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu carayanya yaitu: pertama, improvisasi sistem pendidikan pesantren. Pesantren saat ini mulai banyak yang memasukkan sistem pendidikan yang baru. Seperti realita yang terjadi, banyak pesantren yang mendirikan perguruan tinggi, dan sebaliknya. Atau di beberapa kota mulai didirikan pesantren yang bernuansakan dunia perguruan tinggi, meskipun di dalamnya tidak ada pendidikan yang secara formal disebut perguruan tinggi. Kedua, improvisasi pola sistem kepemimpinannya. Awalnya, kepemimpinan pesantren secara kukuh masih terpola dengan kepemimpinan yang sentralistik dan hirarkis yang berpusat pada satu orang kiai, tetapi pada saat ini beberapa pesantren modern sudah merubah sistem kepemimpinan menjadi multi leaders (kepemimpinan kolektif). Sistem ini dipandang perlu mengingat bahwa kepemimpinan yang ada sering tidak mampu mengimbangi kemajuan dan perkembangan pesantren yang dikelolanya, karena terjadinya penurunan karisma kiai. Ketiga, improvisasi kitab-kitab klasik yang menjadi sumber nilai pesantren. Pelestarian dan pengembangan pengajaran kitab-kitab klasik berjalan terus menerus dan secara kultural telah menjadi ciri khusus pesantren sampai saat ini. Pesantren merupakan lembaga keagamaan yang tidak bisa dipisahkan dengan nilai dan tradisi luhur yang berkembang di pesantren. Ini merupakan karakteristik yang memiliki puluang cukup besar untuk dijadikan dasar pijakan dalam rangka menyikapi modernisasi dan persoalan-persoalan lain yang menghadang pesantren dalam menghadapi arus globalisasi yang sangat pesat. Seperti nilai kesabaran, kesalihan, kemandirian, keikhlasan, dan kesederhanaan merupakan nilai-nilai yang dapat melepaskan masyarakat dari dampak negatif globalisasi dalam bentuk ketergantungan dan pola hidup konsumerisme yang lambat tetapi pasti akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan umat manusia.
MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANTIKORUPSI Nurhayati, Umi; Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 9 No. 2 (2015): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.601 KB)

Abstract

Matakuliah Pendidikan Antikorupsi ini tidak berlandaskan pada salah satu perspektif keilmuan secara khusus. Berlandaskan pada fenomena permasalahan serta pendekatan budaya yang telah diuraikan diatas, matakuliah ini lebih menekankan pada pembangunan karakter antikorupsi (anti-corruption character building) pada diri individu mahasiswa. Supaya matakuliah pendidikan antikorupsi berjalan dengan baik, maka dibutuhkan suatu manajemen pembelajaran. Menurut Terry, manajemen adalah proses, yakni aktifitas yang terdiri dari empat subyektivitas yang masing-masing merupakan fundamental. Keempat subyektivitas itu- yang ada dalam dunia manajemen dikenal sebagai P.O.A.C adalah planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan), controlling (pengawasan). Oleh karena itu, implementasi manajemen pembelajaran matakuliah pendidikan antikorupsi sangat berkaitan dengan empat unsur manajemen tersebut. Berpijak dari konsep manajemen dan pembelajaran, maka konsep manajemen pembelajaran matakuliah pendiidkan antikorupsi dapat diartikan proses mengelola yang meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian (pengarahan) dan pengevaluasian kegiatan yang berkaitan dengan proses membelajarkan si pebelajar dengan mengikutsertakan berbagai faktor di dalamnya guna mencapai tujuan matakuliah pendidikan antikorupsi. Dalam “memanaje” atau mengelola pembelajaran, manajer dalam hal ini dosen melaksanakan berbagai langkah kegiatan mulai dari merencanakan pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengarahkan dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan. Pengertian manajemen pembelajaran matakuliah pendidikan antikorupsi dapat diartikan secara luas dalam arti mencakup keseluruhan kegiatan bagaimana membelajarkan mahasiswa mulai dari perencanaan pembelajaran matakuliah pendidikan antikorupsi sampai pada penilaian pembelajaran matakuliah pendidikan antikorupsi
Integrasi Nilai-Nilai Karakter Dalam Pembelajaran di Islamic Boarding School Khumairo, Dewi; Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 13 No. 2 (2017): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.432 KB)

Abstract

MTs. Al-Qodiri 1 Jember sebagai lembaga Islamic Boarding School telah mengimplementasikan pembelajaran berbasis karakter sesuai dengan rencana dan ketentuan yang telah ditetapkan. Pembelajaran berbasis karakter di MTs. Al-Qodiri 1 Jember akan menjadikan peserta didik beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. nilai-nilai karakter yang diintegrasikan adalah religius, jujur, kedisiplinan, kerja keras, kreatif, tanggung jawab, mandiri, cinta tanah air, peduli sosial, komunikatif, dan sebagainya. Dari semua nilai karakter tersebut, MTs. Al-Qodiri 1 Jember merumuskan kembali menjadi empat nilai yaitu kedisiplinan, keikhlasan, kesederhanaan, akhlakul karimah. Integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran dilakukan dengan tiga cara, yaitu: integrasi nilai-nilai karakter dalam pengembangan diri, integrasi nilai-nilai karakter dalam kurikulum mata pelajaran, dan integrasi nilai-nilai karakter dalam budaya sekolah. Key Word: Integrasi, Nilai-Nilai Karakter, Pembelajaran, Islamic Boarding School
Formulasi Nilai-Nilai Pembelajaran Karakter Berbasis Nilai-Nilai Sufistik Di Islamic Boarding School Jember Rosidi, Ahmad; Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 19 No. 1 (2021): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan formulasi nilai-nilai pembelajaran karakter berbasis nilai-nilai sufistik di Islamic Boarding School Jember. Di dalam penelitian ini, metode penelitiannya menggunakan metode kualitatif dengan jenis multisitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pembelajaran karakter berbasis nilai-nilai sufistik di lembaga MTs IBS bersumber dari ajaran-ajaran Aswaja dan Syaikh Abdul Qodir Jailani serta ajaran dan perilaku pengasuh pesantrenya. Secara umum, nilai-nilai pembelajaran karakter berbasis nilai-nilai sufistik di lembaga MTs IBS adalah nilai kedisiplinan, keikhlasan, kemandirian, kesederhanaan dan ukhuwah Islamiyah. Sedangkan nilai-nilai yang khusus ketika berinteraksi dengan orang yang lain, nilai-nilai karakter sufistik yang harus dilaksanakan adalah terangkum dengan 6S, yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, dan Sanjung.
Pembelajaran Karakter-Sufistik: Studi Multisitus di MTs Unggulan Al-Qodiri 1 dan Nuris 1 Jember Anam, Nurul
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 19 No. 2 (2021): Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Ilmiah (LP3M) Institut Agama Islam (IAI) Al-Qodiri Jember, Jawa Timur Indonesia bekerjasama dengan Kopertais Wilayah 4 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/al qodiri.v19i2.4207

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran karakter-sufistik di MTs Unggulan Jember. Di dalam penelitian ini, metode penelitiannya menggunakan metode kualitatif dengan jenis multisitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pembelajaran karakter-sufistik di MTs Unggulan berbasis Islamic Boarding School berjalan dengan baik, maka lembaga MTs tersebut telah merumuskan nilai-nilai karakter-sufistik, melaksanakan pembelajaran di berbagai tempat atau setting sekolah, menggunakan berbagai metode, media dan evaluasi pembelajaran. Pelaksanaannya dilakukan di sekolah (kelas dan luar kelas), di pesantren dan di masyarakat. Untuk metode pembelajaran yang dapat digunakan antara lain adalah metode keteladanan, pengarahan dan bimbingan, pembiasaan dan pelatihan, penciptaan lingkungan dan penugasan. Adapun media yang dapat digunakan adalah buku template yang berisi nilai-nilai sufistik dan diletakkan di depan kelas dan kantor. Sedangkan evaluasi yang digunakan adalah berbentuk observasi dan cheklist dengan menggunakan buku saku jujur. Untuk dalam raport, penilaian dengan menggunakan huruf seperti A (sangat baik), B (Baik), dan C (Kurang Baik).Di dalam pelaksanaan pembelajaran karakter-sufistik guru sebagai faktor utama yang terpenting dalam membentuk karakter peserta didik, serta mengawali untuk memberi contoh atau sikap yang baik kepada peserta didiknya. Selain keteladanan, MTs tersebut juga mengoptimalkan pembudayaan pelaksanaan pembelajaran karakter berbasi nilai-nilai sufistik.