Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Karakteristik Faktor Risiko Penderita Stroke Iskemik Pada Era Pandemi Covid-19 Shupiyesa S, Ghita; Rachman, Moch Erwin; Safitri , Asrini; Muchsin , Achmad Harun; Kaelan, Cahyono
Jurnal Ners Vol. 8 No. 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v8i2.27371

Abstract

Stroke adalah salah satu penyakit kronis yang tidak menular. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak atau terhalang oleh gumpalan darah sehingga terjadi hambatan pasokan oksigen dan nutrisi yang menyebabkan kerusakan pada jaringan otak. Penelitian ini merupakan penelitian literature review dengan desain narrative review. Data yang digunakan berasal dari literatur-literatur yang berkaitan dengan rumusan masalah didapatkan dari database jurnal internasional maupun nasional. Hasil analisis dari 20 literatur menemukan bahwa karakteristik faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi usia ditemukan rerata usia ? 60 tahun, menyatakan laki-laki yang paling banyak, ras kulit hitam yang paling banyak, berdasarkan karakteristik faktor resiko yang dapat dimodifikasi hipertensi merupakan faktor risiko yang paling berperan. pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan hemoglobin, leukosit, neutrofil, limfosit, laktat dehidrogenase (LDH), Creactive protein (CRP), fibrinogen, d-dimer, dan ferritin, berdasarkan tingkat kematian terdapat peningkatan tingkat kematian yang terkonfirmasi Covid-19 dibandingkan yang tidak terkonfirmasi covid-19. Karakteristik Faktor Risiko Penderita Stroke Iskemik Pada Era Pandemi Covid-19 rerata usia ? 60 tahun, menyatakan laki-laki yang paling banyak, ras kulit hitam yang paling banyak, hipertensi merupakan faktor risiko yang paling berperan. pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan, berdasarkan tingkat kematian terdapat peningkatan tingkat kematian yang terkonfirmasi Covid-19.
Significance of HBsAg Expression in Placental Tissue with Serum Positivity in Hepatitis B Virus-infected Mother Kalatiku, Jane Magdalena; J Nelwan, Berti; Zainuddin, Andi Alfian; Kaelan, Cahyono; Achmad, Djumadi; Masadah, Rina
Nusantara Medical Science Journal Volume 8 Issue 2, July - December 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Hasanuddin University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/nmsj.vi.20242

Abstract

Introduction:  Hepatitis B virus infection in fetal and newborn may result from the intrauterine vertical transmission. The purpose of our study is to determine the association between HBsAg expression in the placental and HBsAg serum in pregnant women. Methods: Total 67 placental tissues and serum were obtained from HBV-infected mothers. This study was conducted in various hospitals in Makassar, Indonesia from December 2017 until August 2018. Maternal serum and placental tissues were tested by ELISA and Immunohistochemistry staining. Results: 67 samples from placental tissues and serum were categorized into two different levels of serum titer and staining positivity. Twenty nine samples (43.3%) were categorized in low titer of HBsAg positive serum and 38 samples (56.7%) in high titer of  HBsAg positive serum. From the total of 67 placental samples, 43 (64.2%) samples had positive expression of HBsAg immunohistochemistry staining and 24 (34.8%) samples had negative expressions. Conclusions: There was a significant correlation between the expressions of HBsAg in the placental tissues and serum titers of HBV-infected mothers that is important in predicting the risk of transplacental transmission. The results of this study can be used as guidelines for the prevention and therapeutic approach of mother-to-child HBV infection.
EFEKTIVITAS TERAPI CERMIN TERHADAP PERBAIKAN MOTORIK LENGAN PASIEN STROKE ISKEMIK AKUT Machyono, Machyono; Tammasse, Jumraini; Kaelan, Cahyono; Muis, Abdul; Ganda, Idham Jaya
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 35 No 2 (2018)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v35i2.4

Abstract

EFFECTIVENESS OF MIRROR THERAPY ON RECOVERY OF ARM MOTOR FUNCTION IN PATIENTS WITH ACUTE ISCHEMIC STROKEABSTRACTIntroduction: Disability after stroke often happens and burden patients to perform their daily activity. Mirror therapy is an intervention focused on hand and leg movement of the affected side based of mirror neuron principal. This new technique using mirror is simple, affordable, and effective.Aim: To investigate the effectiveness of mirror therapy (MT) on recovery of arm motor function in patients with acute ischemic stroke.Methods: Randomized clinical trial with parallel design an patient with ischemic stroke admitted to Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital, Makassar, June to July 2017. Subjects were allocated into standard with mirror therapy group and standard therapy alone. Mirror therapy was done for 30 minutes everyday for 10 days. Action Research Arm Test (ARAT) at the first and the tenth day were compared using independent t test.Results: There were 32 subjects with 16 subjects in each group. Majority of subjects were men (59,4%), age 45-54 years (31,2%), had history of hypertension (81,2%), came at the third day of onset (28,1%), and a right side motor deficit (59,4%). Difference in ARAT score was higher in group receiving standard + mirror therapy than in group receiving standard therapy alone (15,56 vs 7,69).Discussion: Arm motor function recovery were significant on group receiving standard + mirror therapy compared to control after 10 days of intervention, especially grasping movement.Keywords: Action research arm test, ischemic stroke, mirror therapyABSTRAKPendahuluan: Kelumpuhan ekstremitas pascastroke merupakan masalah yang sering terjadi dan sangat mengganggu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Terapi cermin merupakan terapi intervensi yang difokuskan pada gerakan tangan atau kaki yang paresis akibat stroke dengan prinsip mirror neuron. Teknik ini relatif baru, sederhana, murah, dan efektif dengan menggunakan bantuan cermin.Tujuan: Mengetahui efektivitas terapi cermin terhadap perbaikan motorik lengan pada pasien stroke iskemik akut.Metode: Uji klinis terandomisasi dengan desain paralel  terhadap pasien stroke iskemik akut yang dirawat di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar pada bulan Juni hingga Juli 2017. Subjek dibagi menjadi kelompok terapi yang mendapatkan tambahan terapi cermin dan kelompok kontrol yang hanya mendapatkan terapi standar. Terapi cermin dilakukan 30 menit setiap hari selama sepuluh hari. Dilakukan perbandingan skor action research arm test (ARAT) sebelum dan sesudah terapi dengan uji t tidak berpasangan.Hasil: Didapatkan 32 subjek yang masing-masing terdiri dari 16 subjek pada tiap kelompok. Mayoritas subjek adalah laki-laki (59,4%), usia 45-54 tahun (31,2%), memiliki riwayat hipertensi (81,2%), onset terbanyak pada hari ke-3 (28,1%), dan memiliki gangguan motorik pada sisi kanan (59,4%). Rerata selisih skor ARAT lebih tinggi pada kelompok terapi standar dan terapi cermin dibandingkan kelompok terapi standar saja (15,56 vs 7,69).Diskusi: Terdapat perbaikan fungsi motorik lengan yang signifikan antara kelompok dengan terapi cermin dan kelompok kontrol setelah 10 hari terapi cermin, terutama pada gerakan menggenggam (grasp).Kata kunci: Action research arm test, stroke iskemik, terapi cermin
HUBUNGAN KADAR BRAIN-DERIVED NEUROTROPHIC FACTOR (BDNF) SERUM DENGAN FUNGSI KOGNITIF PENDERITA STROKE ISKEMIK Madeng, A. Arsidin Mappa; Bahar, Ashari; Akbar, Muhammad; Zainuddin, Andi Alfian; Bintang, Andi Kurnia; Kaelan, Cahyono
Molucca Medica Vol 16 No 2 (2023): VOLUME 16, NOMOR 2, OKTOBER 2023
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/10.30598/molmed.2023.v16.i2.169

Abstract

Pendahuluan: Stroke merupakan penyakit neurologis utama di usia dewasa, berdasarkan tingginya angka kejadian, kegawatdaruratan, penyebab utama kecacatan, dan kematian. Brain derived neurotrophic factor (BDNF) merupakan salah satu neurotrophin golongan neurotrophic. BDNF terlibat dalam perkembangan sinapsis, platisitas sinapsis, dan fungsi kognitif dan meningkat pada stroke iskemik. Sehingga perlu dilakukan analisis antara kadar BDNF dengan fungsi kognitif. Metode: Penelitian cross-sectional yang dilakukan pada 64 orang pasien stroke iskemik dengan onset 15-30 hari dengan usia 18-70 tahun. Pasien dengan gangguan fungsi kortikal luhur sebelumnya, buta huruf, afasia, Alzheimer, Parkinson dan depresi merupakan kriteria eksklusi. Usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lokasi infark, kadar BDNF dan fungsi kognitif merupakan variabel yang akan dianalisis. Hasil: Tingkat pendidikan berpengaruh pada fungsi kognitif dan terdapat korelasi kuat positif bermakna antara kadar BDNF dengan fungsi kognitif. Kadar cut off BDNF ≤ 1,3 ng/mL memiliki sensitivitas 86,11% dan spesifitas 96,43% sebagai prediktor gangguan kognitif dan bermakna pada variabel memori, visuospasial dan eksekutif. Kesimpulan: BDNF serum dapat diukur untuk memprediksi terjadinya gangguan fungsi kognitif.
Perbandingan iskemik dan hemoragik terhadap prognosis dan pemulihan pasca stroke: Literatur review Bakri, Zarah Asvirah; Kaelan, Cahyono; Muchsin, Achmad Harun
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 2 (2026): February Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i2.2484

Abstract

Background: According to the World Health Organization (WHO), stroke is a disturbance in brain function with clinical signs that last more than 24 hours or can lead to death. Stroke is divided into ischemic and hemorrhagic strokes, which have different pathophysiological mechanisms, prognoses, and functional outcomes. Rehabilitation interventions, particularly physical therapy, are the primary approach to improving motor function recovery after stroke. Purpose: To determine the differences in prognosis and recovery between ischemic and hemorrhagic strokes. Method: This study is a systematic literature review that discusses prognosis and recovery after stroke by comparing ischemic and hemorrhagic strokes. Twenty journals were analyzed and synthesized. Results: Prognosis and recovery after stroke are influenced by stroke type, initial severity, and the quality and intensity of rehabilitation. Ischemic strokes generally have a better prognosis than hemorrhagic strokes, which tend to have higher mortality and disability rates. However, intensive rehabilitation interventions, including specific therapies such as mirror therapy, can result in significant functional recovery in both types of stroke. Conclusion: An individualized and comprehensive rehabilitation approach is essential to maximize functional outcomes. Early prognostic predictions should be used cautiously, and intervention strategies targeting cerebral edema and blood-brain barrier dysfunction have the potential to support long-term outcomes. Keywords: Hemorrhagic; Ischemic; Post-Stroke; Prognosis; Recovery. Pendahuluan: Stroke menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan fungsi otak dengan tanda klinis yang berlangsung lebih dari 24 jam atau dapat menyebabkan kematian. Stroke dibedakan menjadi stroke iskemik dan hemoragik yang memiliki mekanisme patofisiologi, prognosis, serta luaran fungsional yang berbeda. Intervensi rehabilitasi, terutama terapi fisik, menjadi pendekatan utama untuk meningkatkan pemulihan fungsi motorik pasca-stroke. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan prognosis dan pemulihan stroke iskemik dan hemoragik pasca-stroke. Metode: Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan systematic literature review yang membahas prognosis dan pemulihan pasca-stroke melalui perbandingan stroke iskemik dan hemoragik. Sebanyak 20 jurnal dianalisis dan disintesis. Hasil: Prognosis dan pemulihan pasca-stroke dipengaruhi oleh tipe stroke, tingkat keparahan awal, serta kualitas dan intensitas rehabilitasi. Stroke iskemik umumnya memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan stroke hemoragik yang cenderung menunjukkan angka mortalitas dan disabilitas lebih tinggi. Namun, intervensi rehabilitasi yang intensif termasuk terapi spesifik seperti mirror therapy dapat menghasilkan pemulihan fungsional yang bermakna pada kedua tipe stroke. Simpulan: Pendekatan rehabilitasi yang individual dan komprehensif sangat penting untuk memaksimalkan luaran fungsional. Prediksi prognosis awal perlu digunakan secara hati-hati, dan strategi intervensi yang menargetkan edema serebral serta disfungsi blood–brain barrier berpotensi mendukung outcome jangka panjang. Kata Kunci: Hemoragik; Iskemik; Pasca-Stroke; Pemulihan; Prognosis.