Claim Missing Document
Check
Articles

THE EFFECT OF MULTI-MICRONUTRIENT SUPPLEMENTATION ON HEMOGLOBIN STATUS AMONG PREGNANT WOMEN AT BULANGO TIMUR PUBLIC HEALTH CENTER, BONE BOLANGO DISTRICT Fitriana Bidul; Srikit S Nurkamiden; Adnan Engelen
Journal of Health, Technology and Science (JHTS) Vol. 7 No. 2 (2026): Journal of Health, Technology, and Science (JHTS)
Publisher : LPPM Universitas Bina Mandiri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47918/24ger889

Abstract

Maternal anemia remains a major public health problem during pregnancy and is often associated with multiple micronutrient deficiencies. Multiple micronutrient supplementation (MMS) has been recommended to improve maternal nutritional status and hemoglobin levels. This study aimed to determine the effect of MMS on hemoglobin status among pregnant women at Bulango Timur Public Health Center, Bone Bolango District. A quantitative study using a pre-experimental one-group pretest–posttest design was conducted based on secondary data from maternal health records. A total of 18 pregnant women who received MMS supplementation were included using total sampling. Hemoglobin status before and after supplementation was assessed and analyzed using descriptive statistics and the Wilcoxon Signed-Rank Test with a significance level of 0.05. Before MMS supplementation, 72.2% of participants had abnormal hemoglobin status, while 27.8% had normal status. After supplementation, the proportion of normal hemoglobin status increased to 77.8%, whereas abnormal status decreased to 22.2%. The mean hemoglobin status score increased from 1.278 ± 0.461 before supplementation to 1.778 ± 0.428 after supplementation. The Wilcoxon Signed-Rank Test showed a statistically significant difference between pre- and post-supplementation hemoglobin status (Z = 2.496, p = 0.013). MMS supplementation was significantly associated with improved hemoglobin status among pregnant women and may serve as a useful strategy for reducing anemia risk during pregnancy.
PELATIHAN PEMBUATAN NUGGET BONGGOL PISANG Adnan Engelen; Arif Murtaqi Akhmad Mutsyahidan
Jurnal Abdimas Terapan Vol. 2 No. 2 (2023): JURNAL ABDIMAS TERAPAN (MEI)
Publisher : Program Vokasi Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.22 KB) | DOI: 10.56190/jat.v2i2.32

Abstract

Sampai saat ini, potensi dari tanaman pisang di Indonesia belum dioptimalkan sepenuhnya oleh masyarakat karena penggunaannya masih terbatas pada buah, pelepah, dan jantung pisang saja. Bonggol pisang merupakan salah satu potensi tanaman pisang yang tinggi kandungan gizinya namun masih jarang dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan bonggol pisang di Kabupaten Gorontalo perlu dilakukan karena daerah ini merupakan penghasil pisang terbesar di Provinsi Gorontalo. Kegiatan pelatihan pembuatan nugget pisang bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan bonggol pisang sebagai bahan baku pembuatan nugget. Kegiatan ini melibatkan peserta dari siswa-siswa SMKN 1 Mootilango Kabupaten Gorontalo. Kegiatan ini terlaksana dengan baik dan banyak para peserta kegiatan sangat antusias. Harapan setelah kegiatan ini adalah meningkatnya pemanfaatan bonggol pisang sebagai bahan baku pembuatan nugget yang kemudian akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di sekitar SMKN 1 Mootilango.
STUDI PEMBUATAN CUKA (Acetic acid) BERBAHAN DASAR PISANG DENGAN VARIETAS BERBEDA MENGGUNAKAN Saccharomyces cerevisiae dan Acetobacter aceti Siti Saliha Ali; Musrowati Lasindrang; Zainudin Antuli; Rahmiyati Kasim; Adnan Engelen
Jambura Journal of Food Technology Vol 8, No 01 (2026): JUNI
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjft.v8i01.18448

Abstract

Produksi cuka buah memerlukan fermentasi alkohol dan asam asetat. Pada fermentasi pertama ditambahkan  aktivitas Saccharomyces cerevisiae yang merubah etanol  menjadi alkohol dalam lingkungan anaerob, sedangkan pada fermentasi kedua ditambahkan aktivitas Acetobacter aceti dalam lingkungan aerobik. Standar mutu cuka yang utama adalah kandungan asam asetatnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan jenis pisang yang berbeda khususnya pisang susu, pisang tanduk dan pisang barangan dalam hubungannya dengan sifat fisik cuka pisang yang dihasilkan (Kadar Alkohol, Total Asam Tertitrasi, pH, Total Padatan Terlarut dan Organoleptik). Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal menggunakan pisang varites berbeda dengan tiga kali ulangan. Data analisis dengan uji statistik Analisa Of Variance (ANOVA). Bila terjadi uji nyata (p0,05) pada setiap perlakuan, maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa cuka sari buah pisang tanduk dengan kadar alkohol 4,43%, total asam tertitrasi 9,00%, pH 4,81, dan TPT 6,40ºbrix, pisang barangan dengan kadar alkohol 3,53%, total asam tertitrasi 10,93%, pH 4,13, dan TPT 4,30ºbrix, dan pisang susu dengan kadar alkohol 4,30%, total asam tertitrasi 7,80%, pH 5,23, dan TPT 5,27ºbrix. Perlakun terbaik diperoleh dari pisang barangan dengan nilai kadar alkohol 3,53%, total asam tertitrasi 10,93%, pH 4,13, dan TPT 4,30ºbrix. Sedangkan pada uji organoleptik warna, aroma dan rasa pisang susu mendapat respon terbaik dengan nilai rata-rata 6 atau suka.Kata kunci : Cuka buah, Fermentasi, Pisang Tanduk, Pisang Barangan, Pisang Susu
PEMBUATAN BISKUIT BERBASIS TEPUNG AMPAS SUSU KACANG SACHA INCHI (PLUKENETIA, VOLUBILIS), DENGAN FORTIFIKASI TEPUNG JAGUNG (ZEA MAYS SACCHARATA) Aditya Abdullah; Adnan Engelen; Sakinah Ahyani Dahlan; Widya Rahmawaty Saman; Muhammad Isra
Jambura Journal of Food Technology Vol 8, No 01 (2026): JUNI
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjft.v8i01.35917

Abstract

Biskuit, merupakan salah satu produk yang, bernilai gizi tinggi, mudah untuk dikonsumsi, dan memiliki, umur simpan yang, lebih lama., Tujuan dari penelitian  ini yaitu untuk mengetahui, Untuk mengetahui pengaruh, subtitusi tepung ampas kacang sacha inchi dan, tepung jagung manis terhadap nilai karakteristik, kimia,, fisik, dan organoleptik biskuit. Rancangan, yang, digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal, yaitu, perbandingan tepung, ampas kacang, sacha inchi dan tepung, jagung manis ( 100 : 0 g, 70 : 30 g, 50 :50 g, 30 : 70 g). Setiap, perlakuan diulang sebanyak 3 kali ulangan. Analisis data yang digunakan, brupa Analysis, Of variant (ANOVA) dan, di uji, banding Duncan’s Multiple Test (DMRT). Hasil penelitian, Menunjukkan nilai kadar air diperoleh 3.934 – 6.910, kadar lemak 24.923 – 16.293, kadar protein 14.427 – 8.135, kadar serat 1.040 – 0.459, uji fisik warna L* berkisar 51.00 – 25.49, a* 11.37 – 17.26, b* 19.11 – 8.33  kerenyahan 208.33 – 226.23, kemudian dilakukan uji organoleptik dengan parameter warna yang mengHasilkan nilai berkisar 4.67 – 5.03, (Agak Suka), aroma, 4.03 – 5.73 (Netral – ,Suka), rasa 4.03 – 6.03 (Netral – Suka), tekstur 5,73  – 3,73 (Suka - Netral).Kata Kunci: Ampas Susu Kacang Sacha Inchi, Biskuit, Jagung manis, Tepung
Analisis Pola Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Distribusi Infrastruktur Persampahan di Kota Gorontalo Sri Maryati; Budiyanto Ahaliki; Rahmat Taufik R.L Bau; Hermila A; Adnan Engelen
Geosfera: Jurnal Penelitian Geografi Vol 4, No 1 (2025): Geosfera : Jurnal Penelitian Geografi
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/geojpg.v4i1.34654

Abstract

Urban waste is a complex environmental issue, particularly in mid-sized cities like Gorontalo City, where the increase in generation is disproportionate to the capacity of management infrastructure. This study aims to analyze household waste management patterns and evaluate the distribution of waste infrastructure. A descriptive quantitative approach was used through a stratified sampling survey of 400 households in nine sub-districts. The results showed that 46.5% of respondents rely on Government Environmental Agency services, while 15% still burn waste and 6.3% dispose of it in rivers or vacant lots. Thirty-three percent of respondents assessed irregular collection, with service disparities clearly visible between central and outlying sub-districts. An analysis of infrastructure distribution revealed uneven distribution of recycling waste management units, with Kota Selatan sub-district lacking such facilities. Community suggestions emphasized the addition of fleets, segregated recycling waste management units, education, waste banks, and the use of digital technology. This study concluded that successful waste management is determined not only by technical aspects but also by regulations, institutions, education, and community participation.