Claim Missing Document
Check
Articles

GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PADA KLIEN STROKE DI UPT PUSKESMAS SUKAJADI KOTA BANDUNG Dhestirati Endang Anggraeni; Erna Irawan; Mery Tania; Ari Tetra
Jurnal Keperawatan BSI Vol 9 No 1 (2021): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.497 KB)

Abstract

Pasien stroke mengalami gangguan fisik seperti gangguan persepsi dengan ketidakmampuan menginterpretasikan baik berupa visual maupun sensori. Sehingga dampak lain dari stroke adalah depresi. Depresi adalah keadaan emosional yang ditandai kesedihan, menarik diri kehilangan minat juga hal-hal yang menyenangkan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran tingkat depresi pada klien stroke di UPT Puskesmas Sukajadi Kota Bandung. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah klien yang menderita stroke di UPT Puskesmas Sukajadi Kota Bandung. Teknik Sampling yang digunakan adalah purposive sampling, dengan jumlah sampel 43 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner BDI (Beck Depression Inventory). Analisa data dilakukan dengan distribusi frekuensi. Hasil menunjukkan sebagian besar tingkat depresi termasuk sedang yaitu 26 responden dengan presentase 60,5%, Sebagian kecil termasuk ringan yaitu 16 orang (37,2%), dan hamper tidak ada yang termasuk berat yaitu 1 orang (2,3%) di UPT Puskesmas Sukajadi Kota Bandung Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas termasuk kriteria depresi sedang sehingga disarankan kepeda petugas kesehatan di UPT Puskesmas Sukajadi Kota Bandung agar dapat memberikan Pendidikan Kesehatan untuk mengurangi depresi.
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA MENJELANG AJAL DI PSRLU CIPARAY KABUPATEN BANDUNG Panji Agung Nugraha; Erna Irawan; Mery Tania
Jurnal Keperawatan BSI Vol 9 No 1 (2021): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.158 KB)

Abstract

Lansia atau lanjut usia merupakan tahap terakhir dalam tahap pertumbuhan. Menjadi tua merupakan suatu proses menghilangnya secara bertahap kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diterima. Tujuan penelitian ini Mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada lansia menjelang ajal di PSRLU Ciparay. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif . Populasi pada penelitian ini berjumlah 147 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive sampling dengan kriteria inklusi eksklusi, sehingga diperoleh 70 orang. Data diambil dengan menggunakan intrumen Death Anxiety Scale (DAS) kemudian dianalisa menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar lansia berusia 60-74 tahun sebanyak 42 (60%) mengalami kecemasan menjelang ajal yang berat dan sebagian kecil memiliki kecemasan sedang sebanyak 5 (7,1%). Penting bagi perawat sebagai konselor dalam mengatasi kecemasan akan kematian lansia dengan memberikan dukungan untuk membantu meningkatkan mekanisme koping lansia menjadi lebih adaptif.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEMANDIRIAN PENDERITA SKIZOFRENIA DI UPT PUSKESMAS BABAKAN SARI KOTA BANDUNG Erna Irawan; Mery Tania; Anggi Agustini
Jurnal Keperawatan BSI Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.416 KB)

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang cukup serius dimana penderita skizofrenia mengalami penurunan kemampuan kognitif, berpikir abstrak dan penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Sehingga pasien skizofrenia mengalami menurunan kemandirian, dimana pasien skizofrenia membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Dukungan keluarga merupakan salah satu penunjang pengobatan bagi pasien skizofrenia. Dukungan keluarga yang diberikan meliputi dukungan penilaian, dukungan instrumental, dukungan informasional, dan dukungan emosional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian pasien skizofrenia. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif korelasional dengan rancangan cross-sectional dengan jumlah populasi 69 keluarga dan pasien skizofrenia di UPT Puskesmas Babakan Sari kota Bandung. teknik sampel yang digunakan Simple Random Sampling didapatkan 37 responden. teknik analisis univariat yang digunakan yaitu distribusi frekuensi sedangankan teknik analisis bivariat menggunakan uji korelasi spearmen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa p-value (0,000) <0,05, dimana terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kemandirian pasien skizofrenia di wilayah kerja UPT Puskesmas Babakan Sari Bandung. Nilai Correlation Coefficient didapatkan +0,72 termasuk nilai Correlation Coefficient (0,51-0,75) maka korelasi antara dukungan keluarga dengan kemandirian pasien skizofrenia termasuk tingkat hubungan kuat. Simpulan dari penelitian ini Sebagian besar responden (67,6%) 25 responden memberikan dukungan keluarga dengan baik dan Sebagian besar (59,5%) pasien skizofrenia memiliki kemandirian yang baik. Adapun saran bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menambahkan kekurangan pada penelitian ini, serta dapat meneliti faktor-faktor kemandirian pasien skizofrenia.
GAMBARAN PERKEMBANGAN ANAK PRA SEKOLAH DI SALAH SATU PAUD DI KUNINGAN Yanti Budiyanti; Sri Hayati; Mery Tania; Erna Irawan; Nia Kurniawati
Jurnal Keperawatan BSI Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.714 KB)

Abstract

Dalam perkembangan terdapat tahapan yang harus dilalui anak untuk menuju dewasa. Periode penting dalam perkembangan anak adalah pada masa balita, termasuk masa anak pra sekolah. Masa pra sekolah merupakan masa yang sangat penting untuk memperhatikan tumbuh kembang anak secara cermat agar dapat terdeteksi apabila terjadi kelainan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perkembangan anak pra sekolah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yang menggunakan desain penelitian Deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu PAUD di Kuningan. Sampel penelitian digunakan sebanyak 30 orang dengan teknik Accidental Sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner. Dalam penelitian ini analisa univariat yang digunakan untuk mengetahui gambaran responden diantaranya perkembangan anak. Hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan anak prasekolah sebagian besar responden memiliki perkembangan anak normal sebanyak 23 orang (76,7%) dan sebagian kecil terdapat penyimpangan yaitu 7 orang (23,3%). Simpulan mayoritkas anak PAUD memeliki perkemabngan normal. Diharapkan diadakannya penyuluhan mengenai perkembangan anak.
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN RETARDASI MENTAL DI SLB C SUKAPURA Maidartati; Mery Tania; Vina Octaviani
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 1 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.479 KB)

Abstract

Retardasi mental adalah gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan penurunan kemampuan berfikit dan adanya keterbatasan dalam perilaku. Anak retardasi mental menempati angka paling besar dibanding dengan jumlah keterbatasan mental lainnya. Karakteristik sosiodemografi pada anak retardasi mental dapat dilihat dari data anak dengan retardasi mental, data ibu dan data ayah, sedangkan pada karakteristik ekonomi keluarga pada anak retardasi mental di SLB C Sukapura dapat dilihat dari penghasilan dalam keluarga dalam sebulan. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui apasaja karakteristik sosiodemograf dan bagaimana ekonomi keluarga pada anak retardasi mental di SLB C Sukapura. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 53 responden. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 53 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian menggunakan Kuesioner terdiri 12 pertanyaan yang mengkaji empat data yaitu data anak, ibu, ayah dan ekonomi keluarga. Hasil penelitian ini didapatkan data karakteristik sosiodemografi pada anak retardasi mental di SLB C Sukapura diantaranya hampir setengah dengan 23 responden (43.4%) anak berusia ≥16 tahun, sebagian besar dengan 18 responden (64.2%) anak laki-laki, hampir setengah dengan 18 responden (34%) merupakan anak SDLB, sebagian besar dengan 31 responden (58.5%) mengalami retardasi mental sedang, sebagian besar dengan 31 responden (58.8%) umur ibu saat hamil anak dengan retardasi mental dalam rentang usia 20-35 tahun, sebagian besar dengan 28 responden (52.8%) ibu dan ayah berpendidikan tinggi, sebagian besar dengan 40 responden (75.5%) ibu tidak bekerja, mayoritas dengan 42 responden (79.2%) ayah bekerja dan sebagian besar dengan 29 responden (54.7%) ayah perokok aktif. Pada ekonomi sebagian besar dengan 31 responden (58.5%) < UMR. Data tersebut dapat digunakan oleh pihak pendidikan untuk melengkapi data anak. Bagi pihak pendidikan khusus seperti SLB C agar dapat memberikan terapi dan lebih mengasah kemampuan anak didik agar kemampuannya menjadi prestasi dan memiliki kualitas hidup yang baik.
GAMBARAN POLA ASUH ORANGTUA PADA ANAK PRASEKOLAH Yanti Budiyanti; Asma Darmayanti; Anggi Saputra; Maidartati; Mery Tania; Nia Kurniawati
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 1 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola asuh orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan anak sehingga peran ini dapat menentukkan bagaimana perkembangan anak berjalan baik atau tidak. Dalam perkembangan terdapat tahapan yang harus dilalui anak untuk menuju dewasa. Periode penting dalam perkembangan anak adalah pada masa balita, termasuk masa anak pra sekolah. Masa pra sekolah merupakan masa yang sangat penting untuk memperhatikan tumbuh kembang anak secara cermat agar dapat terdeteksi apabila terjadi kelainan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan pola asuh orang tua terhadap perkembangan anak pra sekolah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yang menggunakan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di RA Binaul Ummah Kuningan. Sampel penelitian digunakan sebanyak 30 orang dengan teknik Accidental Sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner. Dalam penelitian ini analisa univariat yang digunakan untuk mengetahui karakteristik responden diantaranya usia, pendidikan, pekerjaan dan lama interaksi responden dengan anak. Hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan anak prasekolah sebagian besar responden memiliki perkembangan anak normal sebanyak 23 orang (76,7%) dengan pola asuh demokratis sebanyak 18 orang (60%), permisif 5 orang (16,7%) dan otoriter 7 orang (23,3%).
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PERAWAT RUANG OPERASI SELAMA PANDEMI COVID-19 Hudzaifah Al Fatih; Anita Putri Wijayanti; Mery Tania; Nining Handayani; Eprianto Ziraluo
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi COVID-19 telah menjadi krisis kesehatan di dunia karena penyebaran sangat cepat, hal ini dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan merupakan salah satu yang di alami oleh semua orang, terutama di kalangan tenaga Kesehatan. Dampak kecemasan yang terjadi dikalangan tenaga kesehatan khususnya perawat ruang operasi mengalami ketakutan, stress dan sedih takut membawa virus dan tertular kepada anggota keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran tingkat kecemasan perawat ruang operasi selama pandemi COVID-19. Populasi penelitiaan adalah perawat ruang operasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling deskriptif kuantitatif. Jumlah sampel penelitian sebanyak 58 orang perawat di ruang operasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner HRS-A yang terdiri dari 14 pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa tingkat kecemasan responden yaitu sebagian kecil tidak cemas (6,9%), cemas ringan sebagian besar (60,3%) dan cemas sedang sebagian kecil (27,6%). Hasil penelitian ini menggambarkan hampir semua perawat yang bekerja di ruang operasi mengalami kecemasan ringan dan kecemasan sedang. Dari hasil data diatas menunjukkan bahwa pengukuran tingkat kecemasan ruang operasi lebih efektif menggunakan metode deskriptif cross sectional dan intrumen HRS-A (14 item).
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE-OPERASI KATARAK DI RUMAH SAKIT DI KOTA BANDUNG Putti Rahima; Erna Irawan; Mery Tania; Sujut Royana; Nurul Iklima
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Katarak merupakan keadaan dimana lensa mata bersifat opasitas (tidak tembus cahaya) dan merupakan penyebab dominan masalah sosio-medis yaitu kebutaan diseluruh dunia. Salah satu pengobatan katarak adalah pembedahan atau operasi. Pembedahan dilakukan dengan membuat sayatan pada suatu bagian tubuh kemudian akan akan dilakukan pemulihan dan diakhiri dengan jahitan atau tanpa dengan jahitan. Tindakan pembedahan merupakan sebuah pengalaman yang dapat menyebabkan kecemasan. Adanya kecemasan pada setiap pasien merupakan hal yang wajar, namun kecemasan yang berlebihan dapat menyebabkan respon patofisiologis seperti hipertensi, takikardi, penurunan kemampuan untuk mentoleransi rasa sakit baik intra operasi dan post operasi. Meningkatnya tekanan darah pada pasien akan mengakibatkan Tekanan Intra Okuler (TIO) juga meningkat. TIO yang meningkat akan menyulitkan ketika intra operasi yang menyebabkan lensa menjadi lengket sehingga sulit dikeluarkan serta menyulitkan dokter bedah mata untuk implant Intra Okuler Lens (IOL). Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian diskriftif kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan yaitu Acidental Sampling, selanjutnya penelitian ini menggunakan kuesioner APAIS dan dianalisa menggunakan analisa univariat dan responden ditabulasi silang dengan tingkat kecemasan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuhnya 47,5% responden mengalami kecemasan ringan sejumlah 19 responden, sebagian kecil 52,5% responden mengalami kecemasan sedang sejumlah 21 responden.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KADAR GULA DARAH PENDERITA DIABETES MELLITUS DI KOTA BANDUNG Hudzaifah Al Fatih; Mery Tania; Desi Aprillia
Jurnal Keperawatan BSI Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kadar gula darah pada penderita Diabetes Mellitus (DM) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti asupan makanan, kurangnya aktivitas olahraga, pengobatan, obesitas, keturunan dan stress. Stress dapat meningkatkan hormon katekolamin, glucagon, glukokortitikoid, β endorfin dan hormon pertumbuhan sehingga menyebabkan produksi berlebih pada kortisol, kortisol adalah hormon yang melawan efek insulin dan menyebabkan kadar gula darah tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa hubungan tingkat stress dengan kadar gula darah penderita DM. Desain penelitian menggunakan studi cross sectional dengan populasi seluruh penderita diabetes mellitus yang berkunjung ke Puskesmas Babakan Sari. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 73 responden yang direkrut menggunakan teknik convenience sampling method. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner DASS 42, sementara kadar glukosa darah diukur menggunakan alat monitoring glukosa darah (autocheck) dengan mengukur kadar gula darah puasa responden. Selanjutnya, data yang diperoleh dideskripsikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan korelasi antar variabel dianalisa menggunakan Spearman Rank. Hasil penelitian didapatkan 28 (38.4%) responden mengalami tingkat stress sedang, 54 (74.0%) responden memiliki kadar gula darah buruk. Penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat stress dengan kadar gula darah penderita DM di Puskesmas Babakan Sari (ρ= 0.048; r=0.232). Oleh sebab itu, perlu diadakannya program pengendalian stress dan pemeriksaan kadar gula darah rutin untuk mengendalikan kadar gula darah penderita DM di Puskesmas Babakan Sari. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Kadar Gula Darah, Tingkat Stres
GAMBARAN TINGKAT STRES KERJA PADA PERAWAT DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU) Erna Irawan; Mery Tania; Mutia Awaliah Nur S; Eva Supratin
Jurnal Keperawatan BSI Vol 11 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecemasan kerja ICU merupakan salah satu lingkungan kerja yang memiliki stres tinggi. Hal ini dikarenakan perawat ICU harus berhadapan denagna klien yang kondisinya kritis dan mengancam jiwa, sehingga membutuhkan perhatian khusus, pengetahuan dan keterampilan untuk dapat memberikan tindakan dengan cepat dan tepat. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran stres kerja pada perawat di ruang intensive care unit (ICU). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriftif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di ruang ICU sejumlah 91 perawat. Sampel menggunakan total sampling sebanyak 91 perawat yang bekerja di ruang Intensive Care Unit (ICU). Instrument yang digunakan adalah expanded nursing stress scale (ENSS) versi Bahasa Indonesia. Analisa dalam penelitian ini adalah distribusi frekuensi. Dari Hasil Gambaran stres kerja perawat di Ruang Intensive Care Unit (ICU) memperlihatkan sebanyak 46 responden (51%) mengalami stres kerja tinggi, sedangkan (49%) 45 responden sisanya mengalami stres kerja rendah, dengan begitu responden dalam penelitian ini lebih dari separuh mengalami stres kerja tinggi pada perawat yang bekerja di Ruang ICU Dilihat dari 9 indikator didapatkan, subskala yang paling dirasa membuat stres adalah beban kerja sebesar 17% diikuti dengan ketidakpastian mengenai pengobatan sebesar 16%, masalah dengan permasalahan dengan pasien sebesar 15%, masalah dengan atasan sebesar 13%, kematian dan sekarat sebesar 10%, konflik dengan dokter dan masalah dengan teman kerja masing- masing sebesar 9%, diskiminasi sebesar 6% dan yang paling rendah yaitu subskala tidak cukup persiapan sebesar 5%. Saran bagi Rumah Sakit untuk bisa melakukan beberapa kegiatan relaksasi untuk mengurangi stres kerja.