Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Analisis Kualitas Udara Mikrobiologi Terhadap Gangguan Psikosomatis Masyarakat Sekitar Peternakan Ayam Di Kelurahan Tilihuwa: Microbiological Air Quality Analysis of Psychosomatic Disorders in Communities Surrounding Chicken Farms in Tilihuwa Subdistrict Elsariyanti; Herlina Jusuf; Moh. Rivai Nakoe
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 10: Oktober 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i10.8856

Abstract

Usaha peternakan ayam pedaging (broiler) memiliki kontribusi penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat. Namun, keberadaan peternakan yang berdekatan dengan pemukiman dapat memicu permasalahan lingkungan, salah satunya pencemaran udara mikrobiologi yang diduga berdampak terhadap kesehatan psikis masyarakat sekitar. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kualitas udara mikrobiologi terhadap gangguan psikosomatis pada masyarakat sekitar peternakan ayam di Kelurahan Tilihuwa. Metode penelitian ini yaitu analisis survey. Pengambilan sampel udara dilakukan pada tiga titik dengan jarak berbeda dari kandang ayam, dan dilakukan pengujian mikrobiologi untuk mengidentifikasi jumlah, jenis koloni bakteri dan jamur. Data gangguan psikosomatis diperoleh melalui wawancara dan kuesioner, serta dianalisis secara statistik menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan jumlah koloni bakteri tertinggi terdapat pada titik 1 sebesar 1.062 CFU/m³ dan terendah pada titik 3 sebesar 297 CFU/m³, dengan jenis dominan Monobacillus sp, Streptococcus sp, dan Diplobacillus sp. Koloni jamur terbanyak ditemukan pada titik 2 sebesar 239 CFU/m³, didominasi oleh Aspergillus sp dan Rhizopus sp. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kualitas udara mikrobiologi(bakteri maupun jamur) dengan gangguan psikosomatis pada masyarakat sekitar peternakan ayam di Kelurahan Tilihuwa, diharapkan pada peternak untuk tetap menjaga kandang dan mengelola limbahnya dengan baik untuk mengurangi resiko pencemaran.
Hubungan Kebiasaan Mencuci Tangan, Frekuensi Mandi, Kebersihan Pakaian Dan Tempat Tidur Dengan Keluhan Scabies Pada Santri Di Pondok Pesantren Hubulo Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango: The Relationship Between Handwashing Habits, Bathing Frequency, Clothing and Bedding Cleanliness and Scabies Complaints Among Students at the Hubulo Islamic Boarding School, Tapa District, Bone Bolango Regency Nur Hairunnisa Abaidatai; Laksmyn Kadir; Moh. Rivai Nakoe
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 10: Oktober 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i10.8861

Abstract

Keluhan scabies pada santri putra maupun putri yaitu mengalami gatal-gatal pada malam hari selain itu gatal tersebut menyebar dengan cepat diantara para santri yang kemungkinan disebabkan karena adanya kontak antar santri. Pihak pesantren mengatakan bahwa ada lebih dari 50 santri yang terkena penyakit scabies. Faktor yang berperan dalam tingginya prevalensi scabies pada pondok pesantren adalah personal hygiene seperti kebiasaan mencuci tangan, frekuensi mandi, kebersihan pakaian dan kebersihan tempat tidur. Para santri yang malas mencuci tangan setelah beraktifitas, mandi hanya sekali sehari, berbagi alat pribadi dengan yang lain dan jarang menjemur tempat tidur. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan kebiasaan mencuci tangan, frekuensi mandi, kebersihan pakaian dan kebersihan tempat tidur dengan keluhan scabies pada santri di pesantren Hubulo. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini 255 santri dan sampel yang diambil untuk penelitian ini adalah 163 santri. Data di analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi squere. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan keluhan scabies adalah kebiasaan mencuci tangan (p=0,000), frekuensi mandi (p=0,000), kebersihan pakaian (p=0,000) dan kebersihan tempat tidur (p=0,000). Disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan mencuci tangan, frekuensi mandi, kebersihan pakaian dan kebersihan tempat tidur dengan keluhan scabies pada santri. Saran bagi santri untuk menjaga kebersihan diri dan tidak berbagi alat-alat pribadi dengan orang lain. Bagi pesantren untuk memberikan edukasi atau penyuluhan pada santri.
Efektifitas EM-4 (Effective Microorganisms-4) Dalam Menurunkan Kadar Cod Pada Air Limbah Industri Tempe: The Effectiveness of EM-4 (Effective Microorganisms-4) in Reducing COD Levels in Tempe Industrial Wastewater Abd Ziad Mohamad; Herlina Jusuf; Moh. Rivai Nakoe
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 7: Juli 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i7.8308

Abstract

Air limbah hasil industri tempe memiliki kadar bahan organik yang tinggi, di tandai dengan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) yang melebihi ambang batas baku mutu lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas larutan Effective Microorganisms-4 (EM-4) dalam menurunkan kadar COD pada air limbah tempe dengan variasi konsentrasi 25%, 50%, dan 75%. Metode penelitian eksperimen laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk menguji efektivitas EM-4 dalam menurunkan kadar COD air limbah. Sampel berupa air limbah yang diberi perlakuan dengan variasi konsentrasi menggunakan EM4. Analisis data menggunakan uji One-Way Anova untuk mengetahui signifikansi perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas penurunan tertinggi diperoleh pada konsentrasi 25% dengan efisiensi sebesar 65,98%, diikuti oleh konsentrasi 75% sebesar 65,79%, dan 50% sebesar 65,35%. Penurunan kadar COD paling besar terjadi pada konsentrasi 25%, yaitu dari 1854 mg/L menjadi 630 mg/L, dibandingkan dengan konsentrasi 50% yaitu 636 mg/L dan 75% yaitu 686 mg/L. Berdasarkan hasil uji statistik, tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antar ketiga konsentrasi tersebut terhadap penurunan kadar COD (p-value = 0,143). Disarankan pada pemilik usaha tempe agar menerapkan penggunaan EM-4 dalam pengolahan limbah cair sebagai upaya menjaga kualitas lingkungan.
Gambaran Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Status Akreditasi Puskesmas Di Kota Gorontalo: Overview of Patient Satisfaction Levels with Health Services Based on the Accreditation Status of Community Health Centers in Gorontalo City Widya Ramadanti Kasim; Herlina Jusuf; Moh. Rivai Nakoe
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 12: Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9710

Abstract

Puskesmas harus memiliki pelayanan kesehatan yang berkualitas sehingga masyarakat mampu hidup sehat dan tujuan pembangunan tercapai. Baik atau tidaknya kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh puskesmas, tetapi juga melibatkan pasien. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan di puskesmas berdasarkan permasalahan mengenai kepuasan masyarakat, penangan, dan pengaduan terhadap pelayanan puskesmas. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana gambaran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan berdasarkan status akreditasi puskesmas di Kota Gorontalo. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan berdasarkan status akreditasi puskesmas di Kota Gorontalo. Desain penelitian deskriptif dengan pendekatan Kuantitatif.Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang berkunjung di Puskesmas yang berjumlah 18.823. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 392 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode Accidental Sampling. Hasil uji statistik menunjukkan kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Dumbo Raya berstatus akreditas dasar yaitu Kategori Baik (63,7 %), Puskesmas Sipatana berstatus akreditas madya yaitu kategori Baik (58,1 %), Puskesmas Kota Utara berstatus akreditas utama yaitu kategori Baik (71,3 %), dan Puskesmas Kota Barat berstatus akreditas Paripurna yaitu kategori Baik (52,6 %). Simpulan dari penelitian ini adalah 4 lokasi puskesmas masing-masing memiliki kepuasan pasien yang baik.Disarankan perlunya mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan yang ada di puskesmas.
The Effectiveness of the Combination of Moringa Seeds and Leaves (Moringa Oleifera) as a Natural Coagulant to Reduce Turbidity in Excavated Well Water in Wumialo Village, Gorontalo City Melani Koniyo; Irwan; Moh. Rivai Nakoe
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) Vol. 8 No. 2: April 2026 - In Progress
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v8i2.10545

Abstract

Dug well water is still widely used by the community as a source of clean water, but the quality often does not meet turbidity requirements. High turbidity levels can reduce water quality and increase health risks, so effective, safe, and environmentally friendly water treatment efforts are needed by utilizing natural coagulants. The purpose of this study is to determine the effectiveness of the combination of moringa seeds and leaves (Moringa oleifera) as a natural coagulant in reducing the turbidity level of dug well water. The type of experimental research with a pre-test-post test research design uses a combination dose of moringa seeds and leaves, namely 10 mg, 20 mg and 30 mg. The water sampling technique is Purposive sampling. Data analysis used the One-Way Anova test and the LSD (Least Significant Difference) follow-up test. The results of the study showed that the turbidity value of dug well water in pre-test conditions was 15.5 NTU. The reduction in cloudiness after treatment with a dose of 10 mg had an average of 3.77 NTU (75.67%), the 20 mg dose of 2.53 NTU (83.67%), and the 30 mg dose of 3.17 NTU (79.54%). The Anova One-Way test showed a significant difference in effectiveness between doses of coagulants (p-value = 0.038 < 0.05). Follow-up LSD tests showed a significant difference between the 10 mg and 20 mg doses (p-value = 0.014 < 0.05), but there was no significant difference between the 10 mg and 30 mg doses (p-value = 0.146 > 0.05), as well as between the 20 mg and 30 mg doses (p-value = 0.128 > 0.05). It is recommended for subsequent researchers to test variations in stirring speed as well as other water quality parameters.
Membangun Desa Wisata Arum Jeram Berkelanjutan: Optimalisasi Potensi dan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Poduwoma, Gorontalo Kadir, Suprianto; Prasetyo, Agung; Nakoe, Moh. Rivai; Suardika, I Kadek; Karim Hulopi, Abdul Karim Hulopi; Gaib, Moh. Alwy L.
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 4 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i4.1744

Abstract

Desa Poduwoma, Gorontalo, memiliki potensi arum jeram yang strategis namun belum berkembang akibat keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kelembagaan. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan komunitas lokal dalam mengelola potensi tersebut secara berkelanjutan. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif, yang meliputi (1) identifikasi dan pemetaan potensi bersama masyarakat, (2) pelatihan intensif bagi calon pemandu wisata dan manajemen keselamatan, (3) pembangunan infrastruktur pendukung berupa jalur akses sepanjang 1 km dan pos informasi, serta (4) pendirian dan penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang dilatih dalam administrasi dan pemasaran digital. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kapasitas 15 pemandu bersertifikat, kelembagaan Pokdarwis yang aktif, dan tersedianya fasilitas dasar. Dampak nyata terlihat dari peningkatan kunjungan wisatawan sebesar 40% dalam triwulan pertama operasi, yang langsung berkontribusi pada peningkatan pendapatan keluarga. Program ini menyimpulkan bahwa transformasi potensi alam menjadi produk wisata yang kompetitif memerlukan intervensi holistik yang memadukan peningkatan kapasitas SDM, penyediaan infrastruktur minimal, dan penguatan kelembagaan berbasis komunitas. Keberlanjutan program dijamin melalui komitmen pemerintah desa dan kabupaten dalam integrasi program serta dukungan regulasi.