Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Peranan Pemimpin Kelurahan Tembung Dalam Meningkatkan Pelayananan Publik Kepada Masyarakat Mhd Fauzi Damanik; Angel Sinambela; Jihan Alzaazera; Elman Wira Selamat Lafau; Flores Tanjung
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i1.12389

Abstract

Pelayanan publik merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan pemerintahan di tingkat kelurahan, yang bertujuan memberikan kemudahan, kecepatan, dan kualitas layanan kepada masyarakat. Pemimpin kelurahan sebagai ujung tombak pemerintahan daerah memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan pelayanan publik agar dapat memenuhi harapan dan kebutuhan warga. Penelitian ini membahas peranan pemimpin Kelurahan Tembung dalam meningkatkan pelayanan publik kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis strategi, tindakan, serta pengaruh kepemimpinan kelurahan terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada warga. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemimpin keluruahan berperan penting dalam memperbaiki sistem pelayanan publik melalui komunikasi aktif, serta penerapan inovasi pelayanan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Selain itu, kepemimpinan yang partisipatif dan transparan turut meningkatkan kepercayaan dan kepuasan warga dalam memperoleh layanan administrasi dan sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa peran aktif pemimpin kelurahan menjadi faktor kunci dalam mendorong optimalisasi pelayanan publik yang berkualitas dan berorientasi pada masyarakat Implikasi dari temuan ini merekomendasikan penguatan kapasitas pemimpin kelurahan sebagai ujung tombak pelayanan untuk mendukung pemerintahan yang lebih responsif dan inklusif.
Transformasi Makam Raja Sidabutar Dari Simbol Budaya Tradisional Menjadi Objek Wisata Sejarah: Analisis Faktor, Strategi, Tantangan, Dan Peran Masyarakat Lokal Cristy Rajagukguk; Indah Natalia Sinambela; Enjel Ika Sitorus; Rodia Ernita Nababan; Budi Luhur; Flores Tanjung
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 5 (2025): Oktober - November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis Transformasi Makam Raja Sidabutar yang terletak di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Makam Raja Sidabutar, telah mengalami transformasi dari simbol budaya tradisional Batak Toba menjadi objek wisata sejarah yang populer. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi tersebut, dengan fokus pada faktor pendorong, strategi pemasaran, tantangan, dan peran masyarakat dalam pelestarian situs. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi terjadi secara alami seiring dengan berkembangnya pariwisata Danau Toba, dimana lokasi strategis makam di jalur wisata utama menjadi faktor kunci. Nilai sejarah yang tinggi dan keunikan budaya, seperti sarkofagus batu dan tradisi Parmalim, menjadi daya tarik utama. Strategi pemasaran yang awalnya mengandalkan festival budaya Horja Bius, kini beralih ke pendekatan melalui interaksi langsung, cerita dari pemandu wisata, dan keramahan masyarakat lokal. Tantangan utama terletak pada menjaga keseimbangan antara nilai sakral dan komersialisasi, serta mempertahankan kualitas pelayanan dan kebersihan lingkungan. Peran masyarakat lokal terbukti sentral dalam menjaga kelestarian situs. Studi ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan situs warisan budaya sebagai destinasi wisata sangat bergantung pada kolaborasi semua pemangku kepentingan dalam memadukan pelestarian budaya dengan pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab.
Tempat Pengasingan Soekarno di Desa Lau Gumba sebagai Situs Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia Yohana Magdalena Siagian; Fifi Fatiah; Andrew Carlos Putra Ambarita; Enjel Adriani br Gurusinga; Felix Agrian Brahmana; Mutiara Nazla Dalimunthe; Yonathan Louis Pratama Lase; Flores Tanjung
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 5 (2025): Oktober - November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas Tempat Pengasingan Soekarno di Desa Lau Gumba sebagai salah satu situs sejarah penting pada masa Agresi Militer Belanda II. Penelitian dilakukan untuk memahami nilai historis, kondisi keaslian bangunan, serta pemanfaatannya sebagai wisata edukasi sejarah yang masih bertahan hingga saat ini. Menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara informal, dokumentasi visual, dan studi pustaka, penelitian ini menemukan bahwa bangunan pengasingan masih mempertahankan struktur asli dan artefak penting seperti kamar Soekarno, ruang rapat, serta foto dokumentasi masa pengasingan. Keaslian bangunan ini memperkuat pengalaman historis pengunjung dan berkontribusi pada pembentukan memori kolektif masyarakat lokal. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa proses pelestarian dilakukan melalui konsep adaptive reuse, yang memungkinkan bangunan tetap digunakan tanpa menghilangkan nilai sejarahnya. Selain itu, situs ini berkembang sebagai ruang edukasi sejarah yang berfungsi layaknya museum, dengan pengelola menyediakan narasi sejarah kepada pengunjung dari berbagai kalangan. Dengan demikian, Tempat Pengasingan Soekarno di Lau Gumba memiliki nilai sejarah, sosial, dan edukatif yang sangat kuat, serta perlu dilestarikan dan dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari warisan budaya yang penting bagi pembelajaran generasi muda. Penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian situs sejarah bukan hanya menjaga bangunan fisik, tetapi juga mempertahankan identitas, memori kolektif, dan pemahaman masyarakat terhadap perjuangan bangsa Indonesia.
MODEL KEPEMIMPINAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA MASYARAKAT ETNIS BATAK TOBA: ANALISIS NILAI-NILAI TRADISIONAL DAN RELEVANSINYA DALAM KEPEMIMPINAN MODERN Flores Tanjung; Anni L Lumban Gaol; Dea Anastasya Simarmata; Elsa Sophia Simanjutak; Felecia Diana Hestia Silaban; Katrin Suryani Rajagukguk
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 5 (2025): Oktober - November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis model kepemimpinan berbasis kearifan lokal masyarakat Batak Toba melalui sistem nilai Dalihan Na Tolu (DNT) serta relevansinya dalam kepemimpinan modern. Sebagai struktur kekerabatan dan sekaligus kerangka etis, DNT memuat nilai-nilai utama seperti somba marhulahula, manat mardongan tubu, elek marboru, musyawarah adat (martonggo raja), dan hasangapon yang menjadi pedoman moral bagi pemimpin tradisional. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kepustakaan, penelitian ini menelaah literatur terkait nilai-nilai budaya Batak Toba dan teori kepemimpinan modern seperti kepemimpinan transformasional, autentik, dan partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DNT memiliki relevansi tinggi dalam membentuk kepemimpinan modern yang berorientasi pada integritas moral, dialog, partisipasi, serta tanggung jawab sosial. Meskipun demikian, tantangan seperti modernisasi, pergeseran identitas generasional, dan potensi distorsi budaya (misalnya nepotisme) perlu mendapat perhatian dalam proses integrasi nilai-nilai lokal ke dalam struktur kepemimpinan kontemporer. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Dalihan Na Tolu tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat berfungsi sebagai sumber epistemologis untuk mengembangkan model kepemimpinan modern yang kontekstual, humanis, dan berkelanjutan.
TRANFORMASI PERTUJUKAN SIGALE-GALE DI ERA PARIWISATA MODERN Flores Tanjung; Alpha Bestli Sembiring; Intan Malau; Juan Andrian Damanik; Quia Natasya Br Sembiring; Zahra Magfirah Ziba
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertunjukan Sigale-gale merupakan salah satu warisan budaya Batak Toba yang mengalami perubahan signifikan seiring berkembangnya sektor pariwisata di kawasan Danau Toba. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk transformasi yang terjadi pada pertunjukan Sigale-gale, mengidentifikasi unsur tradisional yang masih dipertahankan, serta menganalisis tantangan pelestarian budaya di tengah komodifikasi wisata. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui observasi langsung pada pertunjukan Sigale-gale di Tomok, Samosir, yang dilakukan pada 15 November 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi terjadi pada durasi, penggunaan musik, tata panggung, dan pengemasan visual pertunjukan. Fungsi pertunjukan bergeser dari ritual spiritual menuju atraksi hiburan bagi wisatawan, namun sejumlah elemen budaya seperti penggunaan ulos, narasi legenda Manggale, dan gerak dasar tor-tor tetap dipertahankan sebagai identitas budaya. Transformasi ini menghasilkan bentuk autentisitas baru yang dinegosiasikan antara kebutuhan pariwisata dan nilai-nilai adat. Meskipun memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, perubahan tersebut menimbulkan risiko reduksi makna spiritual Sigale-gale dan berpotensi menjauhkan generasi muda dari pemahaman nilai tradisinya. Penelitian ini menegaskan pentingnya strategi pelestarian yang menyeimbangkan inovasi pertunjukan dengan penjagaan nilai kultural agar Sigale-gale tetap relevan dan bermakna dalam konteks pariwisata modern
PERAN PATUNG SIGALE-GALE SEBAGAI DAYA TARIK WISATA BUDAYA DI DESA TOMOK Flores Tanjung; Key BJ Nababan; Josua Panjaitan; Bonar Sihombing; Job Gamaliel Ginting; Cristian Purba
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Patung Sigale-gale di Desa Tomok, Pulau Samosir, merupakan warisan budaya Batak Toba yang memiliki nilai historis tinggi dan berperan sebagai daya tarik wisata budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi langsung, wawancara dengan pelaku seni dan pengelola, serta dokumentasi visual untuk memahami fungsi, makna, dan pengaruh pertunjukan Sigale-gale terhadap wisatawan dan masyarakat lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan Sigale-gale berfungsi tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi, pelestarian tradisi, dan promosi budaya. Atraksi ini memberikan dampak positif pada ekonomi lokal melalui peningkatan pendapatan masyarakat dan penguatan destinasi wisata desa. Transformasi pertunjukan seiring perkembangan zaman, termasuk pemanfaatan media modern dan platform digital, membantu memperluas jangkauan budaya ini dan menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Agar tetap diminati, pengelola perlu menjaga unsur budaya asli sekaligus mengelola pertunjukan secara profesional. Patung Sigale-gale berperan penting sebagai daya tarik wisata budaya sekaligus sarana pelestarian dan promosi kebudayaan Batak Toba
PELESTARIAN KEBUDAYAAN BATAK DALAM BENTUK PARIWISATA: PERAN MUSEUM BATAK TOMOK PULAU SAMOSIR DALAM MENJAGA PENINGGALAN BATAK Dicky Alexander Rajaguk Guk; Dwi Anggraini; Jonatan Pardamean Simanungkalit; Riana Debora Br Tarigan; Kheni Nazwa; Flores Tanjung
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 11 (2025): November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Museum Batak Tomok dalam menjaga budaya Batak Toba serta dampaknya terhadap perekonomian warga lokal di Tomok, Pulau Samosir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung, ditambah dengan data tambahan berupa literatur yang berkaitan dengan museum, budaya Batak Toba, dan pariwisata budaya di Indonesia. Temuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa budaya Batak Toba menghadapi berbagai masalah akibat kemajuan zaman dan pariwisata, yang bisa mengubah nilai budaya menjadi barang dagangan. Museum Batak Tomok memiliki dua fungsi utama, yaitu sebagai tempat penyimpanan dokumen dan sebagai sarana pendidikan, melalui penyimpanan benda-benda budaya seperti ulos, ukiran gorga, dan patung tradisional, serta memberikan informasi yang membantu pengunjung memahami arti penting budaya Batak Toba. Hasil observasi menunjukkan bahwa museum masih mempertahankan gaya arsitektur tradisional Ruma Bolon, meskipun beberapa bagian dari bangunan tersebut membutuhkan perbaikan. Dari sudut pandang ekonomi, museum berperan sebagai penggerak ekonomi lokal melalui jumlah kunjungan wisatawan yang mendorong berbagai kegiatan ekonomi masyarakat, seperti penjualan souvenir, ulos, dan layanan wisata. Kendati demikian, kontribusi ekonomi museum belum maksimal karena adanya kendala seperti fasilitas yang terbatas, lokasi yang kurang strategis, serta dukungan pemerintah daerah yang minim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Museum Batak Tomok memiliki peran signifikan dalam melestarikan budaya Batak Toba dan juga memberikan kontribusi kepada ekonomi lokal, tetapi perlu adanya peningkatan dalam pengelolaan dan kerjasama antara pemerintah serta masyarakat untuk mencapai keberlanjutan yang lebih baik
PERAN NARASI LOKAL DALAM MEMBANGUN DAYA TARIK WISATA BUDAYA: STUDI PADA MAKAM RAJA SIDABUTAR, SAMOSIR Flores Tanjung; Heri Agung Ramdani; Jenifer Mauli Stefani Siboro; Latifah Aini Rambe; Rofly Armadhany; Turoh Pasaribu
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 11 (2025): November 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Narasi lokal menjadi bagian yang sangat penting dalam membangun daya tarik wisata budaya pada situs Makam Raja Sidabutar di Tomok, Samosir. Narasi lokal yang berisi legenda leluhur, sejarah marga, simbol gorga, dan nilai spiritual Batak Toba terbukti memberi kontribusi besar dalam membentuk pengalaman interpretatif wisatawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif denan observasi dan wawancara langsung ke situs sejarah Makam Raja Sidabutar. Temuan dari observasi dan wawancara menunjukkan bahwa narasi tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi faktual, tetapi juga sebagai medium pembangun makna dan konstruksi realitas melalui cerita. Peran pemandu wisata menjadi kunci dalam menghubungkan wisatawan dengan konteks budaya situs, selaras dengan prinsip interpretasi warisan budaya yang menekankan pada penyampaian makna. Narasi lokal juga berperan sebagai penanda (marker) dalam sistem daya tarik wisata. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan seperti ketidakkonsistenan isi cerita dan keterbatasan media interpretasi. Penelitian ini menegaskan urgensi standarisasi materi narasi, peningkatan kapasitas pemandu, serta pelibatan masyarakat lokal guna mendukung keberlanjutan pengelolaan warisan budaya.
TRANSFORMASI MAKAM RAJA SIDABUTAR DARI SIMBOL BUDAYA TRADISIONAL MENJADI OBJEK WISATA SEJARAH: ANALISIS FAKTOR, STRATEGI, TANTANGAN, DAN PERAN MASYARAKAT LOKAL Cristy Rajagukguk; Indah Natalia Sinambela; Enjel Ika Sitorus; Rodia Ernita Nababan; Budi Luhur; Flores Tanjung
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 12 (2025): Desember 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis Transformasi Makam Raja Sidabutar yang terletak di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Makam Raja Sidabutar, telah mengalami transformasi dari simbol budaya tradisional Batak Toba menjadi objek wisata sejarah yang populer. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi tersebut, dengan fokus pada faktor pendorong, strategi pemasaran, tantangan, dan peran masyarakat dalam pelestarian situs. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi terjadi secara alami seiring dengan berkembangnya pariwisata Danau Toba, dimana lokasi strategis makam di jalur wisata utama menjadi faktor kunci. Nilai sejarah yang tinggi dan keunikan budaya, seperti sarkofagus batu dan tradisi Parmalim, menjadi daya tarik utama. Strategi pemasaran yang awalnya mengandalkan festival budaya Horja Bius, kini beralih ke pendekatan melalui interaksi langsung, cerita dari pemandu wisata, dan keramahan masyarakat lokal. Tantangan utama terletak pada menjaga keseimbangan antara nilai sakral dan komersialisasi, serta mempertahankan kualitas pelayanan dan kebersihan lingkungan. Peran masyarakat lokal terbukti sentral dalam menjaga kelestarian situs. Studi ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan situs warisan budaya sebagai destinasi wisata sangat bergantung pada kolaborasi semua pemangku kepentingan dalam memadukan pelestarian budaya dengan pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab.
Co-Authors Ade Aulia Rahma Adinda Dwi Saputri Alfiana Nurul Fadillah Alpha Bestli Sembiring Alpida Sari Alya Putri Dania Amelia Anggi Owein Bintang Andrew Carlos Putra Ambarita Angel Sinambela Anggun Ronauli Anni L Lumban Gaol arfan diansyah Arisya Rajagukguk Asini Rohana Silaban Azrina Hendri Bonar Sihombing Brena Rizky Budi Luhur Cristian Purba Cristy Rajagukguk Dea Anastasya Simarmata Dicky Alexander Rajaguk Guk Djumar Sumbayak Dwi Anggraini Elman Wira Selamat Lafau Elsa Sophia Simanjutak Enjel Adriani Br Gurusinga Enjel Ika Sitorus Fandi Saputra Ndruru Felecia Diana Hestia Silaban Felix Agrian Brahmana Fifi Fatha Fifi Fatiah Heri Agung Ramdani Hertati Sitanggang Hotmaida Berutu Imanuel Suranta Sembiring Indah Natalia Sinambela Intan Malau Jenifer Mauli Stefani Siboro Jeremy Arif Gonjales Tarigan Jesica Anastasia Lumbanraja Jihan Alzaazera Job Gamaliel Ginting Jonatan Pardamean Simanungkalit Josua panjaitan Joyanti Sirait Juan Andrian Damanik Juan Saragih Juan Vito Simanjuntak Katrin Suryani Rajagukguk Key BJ Nababan Kheni Nazwa Latifah Aini Rambe Lorenti Br Nainggolan Lubis, Hafnita Sari Dewi Maharani br Purba Masdiana Silvia Sinaga Mawaddah Mhd Fauzi Damanik Muh. Fahrurrozi Muhammad Ray Jhon Mutia Arini Mutia Havits Silaen Mutiara Nazla Dalimunthe Nazwa Andjani Nurdilla Ramadhani Nurhaini Siregar Nursalsabilah Ocha Primalia Tondang Quia Natasya Br Sembiring Riana Debora Br Tarigan Rizky C. P Manullang Rodia Ernita Nababan Rofly Armadhany Ruth Grace Lumbantoruan Sarah Clarissa Hutagalung Sen Aron Simanjuntak Shaniya Kristiani Br Bangun Shindi Nurazizah Mutmainah Suci Larasati Syahrani Tengku Riza Valefi Tiara Niammusyfah Turoh Pasaribu Ulfa Rahma Wishmar Siregar Yohana Magdalena Siagian Yonathan Louis Pratama Lase Zahra Magfirah Ziba