Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA GANGGUAN FUNGSIONAL LUMBAL AKIBAT LOW BACK PAIN MYOGENIC: Management of Physiotherapy in Lumbar Functional Disorders Due to Low Back Myogenic Pain Hasbiah; Nugraha, Rahmat; Erawan, Tiar; Sudaryanto; Marwah; Fahriana, Sri Gunda
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 16 No 1 (2024): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Low Back Pain (LBP) Myogenic merupakan kondisi nyeri punggung bawah yang ditandai dengan spasme atau tighness pada otot erector spine dan otot quadratus lumborum, dimana keluhan tersebut dapat menyebabkan nyeri gerak sehingga menimbulkan kesulitan melakukan aktivitas fungsional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi pada gangguan fungsional lumbal akibat low back pain myogenic, dengan jenis penelitian studi kasus, yang dilaksanakan di RS. Bhayangkara Makassar. Jumlah sampel sebanyak 2 orang yang memenuhi kriteria sampel. Pengumpulan data diperoleh melalui pengukuran nyeri menggunakan Visual Analog Scale (VAS), pengukuran lingkup gerak sendi atau fleksibilitas menggunakan Schoober Test, dan pengukuran aktivitas fungsional menggunakan Oswestry Disability Indeks (ODI). Hasil penelitian berdasarkan pemeriksaan fisioterapi didapatkan diagnose yaitu low back pain myogenic. Setelah dilakukan terapi berupa Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation, Myofascial Release Tehnique, dan Core Stability Exercise sebanyak 8 kali intervensi didapatkan perubahan VAS, untuk Tn.M nyeri diam dari (3.7 ) menjadi (0), nyeri tekan dari (5,4) menjadi (1.2), nyeri gerak dari (7.2) menjadi (2.3) ; untuk Tn.S nyeri diam dari (6.3) menjadi (1.4), nyeri tekan dari (7.6) menjadi (2.2), nyeri gerak dari (8.3) menjadi (3.1). Didapatkan peningkatan fleksibilitas pada Tn.M fleksi lumbal dari 3cm menjadi 8 cm, ekstensi lumbal dari 4 cm menjadi 5 cm ; untuk Tn.S fleksi lumbal dari 2 cm menjadi 7 cm, ekstensi lumbal dari 2.5cm menjadi 4cm. Dan didapatkan adanya peningkatan mobilitas fungsional pada Tn.M dari 34% (disabilitas sedang) menjadi 16% (disabilitas minimum) ; untuk Tn.S dari 42% (disabilitas parah) menjadi 24% (disabilitas sedang). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian Transcutaneus Electrical Stimulation (TENS),Myofascial Reelase Tehnique dan Core Stability Exercise dapat menurunkan nyeri, spasme, meningkatkan fleksibilitas lumbal dan meningkatkan aktivitas fungsional pada pasien penderita Low Back Pain Myogenic.
Pemberdayaan Kader Puskesmas Dalam Upaya Perbaikan Dan Pencegahan Forward Head Posture Sebagai Dampak Penggunaan Smartphone Pada Anak Dan Remaja Melalui Postural Correction di Wilayah Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Nugraha, Rahmat; Erawan, Tiar; Rahma, Sitti; Hanun, Dhiya Yusriyyah; Kala'tiku, Enjel
ABDIMASKU : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 7, No 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : LPPM UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62411/ja.v7i3.2465

Abstract

Forward head posture adalah masalah alignment tubuh dengan prevalensi 66-90% di kalangan remaja, di mana kurva leher menunjukkan Kepala yang condong ke depan adalah ciri khas dari postur abnormal. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, seperti kejang otot, herniasi discus, arthritis, penjepitan saraf, serta ketidakstabilan ligamen di area cervical. Dampak negatif dari postur yang tidak tepat ini bisa mempengaruhi berbagai aspek kesehatan muskuloskeletal. Berbagai jenis intervensi telah diteliti dan diuji untuk menangani masalah ini, termasuk teknik koreksi postural dan perubahan ergonomi, dengan tujuan untuk mengurangi gejala, memperbaiki postur, dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada struktur tubuh yang bermasalah, dan penelitian ini menggunakan pendekatan koreksi postural untuk mengatasi forward head posture. Pendekatan koreksi postural menggunakan metode penguatan dan peregangan untuk menyelesaikan masalah ketidakseimbangan otot. Ketika seseorang mengalami ketidakseimbangan otot, otot upper trapezius menjadi yang paling utama mengalami ketegangan, yang kemudian diikuti oleh kerusakan pada otot-otot lain dari regio cervical hingga thoracal. Metode pengabdian ini dilakukan adalah Edukasi tentang dampak penggunaan Smartphone terhadap posture anak dan remaja dan pelatihan postural correction untuk Forward Posture. Peserta pengabdian masyarakat terdiri dari 20 orang kader puskesmas di Wilayah Kacamatan Biringkanaya, setelah dilakukan pretes, tingkat pengetahuan terkait kelainan posture forward head, penyebab terjadinya dan pencegahan serta penanganannya masih kurang. Hasil dari edukasi dan pelatihan ini adalah seluruh peserta mengalami peningkatan pengetahuan tentang posture forward head.
FAKTOR RESIKO KEJADIAN PENYAKIT KARDIOVASKULAR PADA PEKERJA KANTORAN DI KOTA MAKASSAR: Risk factors for cardiovascular disease among office workers in Makassar Syahri, Nur Awalia; Hakim, Supartina; Halimah, Andi; Lestari, Virny Dwiya; Nugraha, Rahmat; Mahmud, Isfawati
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 16 No 2 (2024): Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
Publisher : Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/fis.v16i2.1216

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan prokram kerja prioritas dari Kementerian Kesehatan sejakan dengan program Transformasi Kesehatan sebab 71% jumlah kematihan disebabkan oleh PTM. Sebanyak 35% dari angka tersebut adalah disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. Penyebab penyakit kardiovaskular ini dapat disebabkan dari berbagai faktor resiko yang berkembang sejak usia produktif 20 – 30 tahun karena pada usia ini kita menjalankan pola hidup secara optimal namun jika terjadi penurunan kualitas pola hidup pada masa tersebut maka akan berdampak pada kondisi kesehatan di masa kedepan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa prevalensi dan distribusi faktor-faktor resiko penyakit kardiovaskuler pada pekerja kantor yang memiliki keterbatasan aktivitas fisik diakrenakan kesibukan pekerjaan di kantor. Penelitian ini menunjukkan sebanyak 83.33% pekerja duduk (tanpa aktivitas fisik) dengan durasi di atas 6 jam dan ditambah dengan presentasi yang tinggi terhadap riwayat hipertensi sebesar 13.33% dan mengalami kolesterol tinggi sebanyak 23.33%. Hal ini menunjukkan keterlibatan berbagai jenis faktor resiko dapat berpotensi meningkatkan kejadian penyakit kardiovaskular.
Pemanfaatan Virtual Reality Exergaming dalam Meningkatkan Kekuatan Otot Pasca Rekonstruksi Anterior Cruciate Ligament Rahmat Nugraha; Latifa Insani Nurhalim; Rizky Wulandari Ramli
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 3 (2024): Juli-September 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15343

Abstract

Post-Anterior Cruciate Ligament reconstruction has an impact on decreased muscle strength. Decreased muscle strength around the knee causes loss of proprioceptive control, resulting in instability in the knee joint which causes excessive load on the knee joint. Providing exercise therapy with the principle of activating and contracting muscles causes increased muscle strength of the lower limbs around the previously weakened injury area, especially in the quadriceps muscle group which causes functional instability. Exercise therapy can be done using virtual reality devices through exergaming which is a combination of exercise and games. This study aimed to determine the effectiveness of virtual reality exergaming in increasing muscle strength after Anterior Cruciate Ligament reconstruction. The method used was a literature review study. Literature searches utilize search engines using a combination of keywords according to the topic. The results of the study showed that after a review of selected articles, which was continued with classification, direction, elimination and organization, it was found that all literature reported that virtual reality exergaming can significantly increase muscle strength after Anterior Cruciate Ligament reconstruction. Furthermore, it was concluded that virtual reality exergaming is an effective intervention to increase muscle strength after Anterior Cruciate Ligament reconstruction.Keywords: anterior cruciate ligament; post reconstruction; muscle strength; virtual reality; exergaming ABSTRAK Pasca rekonstruksi Anterior Cruciate Ligament berdampak pada penurunan kekuatan otot. Penurunan kekuatan otot di sekitar lutut menyebabkan kehilangan kontrol proprioseptif, sehingga timbul ketidakstabilan pada sendi lutut yang menyebabkan beban di sendi lutut menjadi berlebihan. Pemberian terapi latihan dengan prinsip mengaktivasi dan mengkontraksikan otot menyebabkan peningkatan kekuatan otot anggota gerak bawah di sekitar area cedera yang sebelumnya melemah, khususnya pada kelompok otot quadriceps yang menyebabkan ketidakstabilan fungsional. Terapi latihan dapat dilakukan menggunakan perangkat virtual reality melalui exergaming yang merupakan kombinasi dari exercise dan game. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas virtual reality exergaming dalam meningkatkan kekuatan otot pasca rekonstruksi Anterior Cruciate Ligament. Metode yang digunakan ialah studi literature review. Pencarian literatur memanfaatkan mesin pencari dengan menggunakan kombinasi dari kata kunci sesuai topik. Hasil studi menunjukkan bahwa setelah dilakukan review terhadap artikel terpilih, yang dilanjutkan dengan penggolongan, pengarahan, eliminasi dan organisasi, maka diketahui bahwa seluruh literatur melaporkan bahwa virtual reality exergaming secara signifikan dapat meningkatkan kekuatan otot pasca rekonstruksi Anterior Cruciate Ligament. Selanjutnya disimpulkan bahwa virtual reality exergaming merupakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan kekuatan otot pasca rekonstruksi Anterior Cruciate Ligament.Kata kunci: anterior cruciate ligament; pasca rekonstruksi; kekuatan otot; virtual reality; exergaming
Efek Mckenzie Exercise dan Mechanical Lumbar Traction terhadap Perubahan Lingkup Gerak Sendi dan Fungsional Lumbal pada Penderita HNP Lumbal Tiar Erawan; Sudaryanto Sudaryanto; Andi Nur Hijriyani; Rahmat Nugraha
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf14nk309

Abstract

Herniated Nucleus Pulposus causes radicular pain due to pressure on the nerve roots resulting in various physical problems, especially limitations in lumbar movement and lumbar function. The aim of this research was to determine the difference in effectiveness between the combination of Interferential Current (IFC), McKenzie exercise and the combination of Interferential Current (IFC), Mechanical Lumbar Traction on changes in Range of Motion (ROM) and lumbar function in Lumbar HNP sufferers. This type of research was a quasi experiment with a pretest–posttest design with control group, using instruments in the form of an inclinometer and the ODI questionnaire. The research was conducted at RSAD Tk. II Pelamonia Makassar. The sample was 14 people suffering from grade 1 and 2 lumbar HNP who were randomly divided into 2 groups, namely the treatment group given IFC and McKenzie, the control group given IFC and Lumbar Mechanical Traction. Data analysis was performed by t test. Based on the paired samples t-test in the control group, the value obtained was p = 0.000 (flexion and lateral lumbar flexion), p = 0.001 (ODI), while in the treatment group the value obtained was p = 0.000 (flexion, lateral lumbar flexion, ODI) which means that IFC and Lumbar Mechanical Traction interventions as well as IFC and McKenzie Exercise can produce significant changes in flexion, lateral flexion and functional ROM of the lumbar region. Then, based on the independent samples t-test, the values obtained were p = 0.348 (lumbar flexion), p = 0.129 (lateral lumbar flexion), p = 0.670 (ODI) which means that there was no significant difference between the combination of IFC, McKenzie Exercise and IFC, Lumbar Mechanical Traction on changes in flexion, lateral flexion and lumbar functional ROM. IFC and McKenzie are no more effective than IFC and Lumbar Mechanical Traction in changing lumbar flexion and lateral flexion ROM and lumbar functional ability in sufferers of lumbar HNP.Keywords: McKenzie exercise; lumbar mechanical traction; lumbar range of motion; lumbar function ABSTRAK Herniated Nucleus Pulposus menyebabkan nyeri radikular akibat penekanan pada akar saraf sehingga timbul berbagai problem fisik, khususnya keterbatasan gerak lumbal dan fungsional lumbal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan efektivitas antara kombinasi Interferential Current (IFC), McKenzie exercise dan kombinasi Interferential Current (IFC), Mechanical Lumbar Traction terhadap perubahan Range of Motion (ROM) dan fungsional lumbal pada penderita HNP Lumbal. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan desain pretest–posttest with control group, menggunakan instrumen berupa inclinometer dan kuisioner ODI. Penelitian dilaksanakan di RSAD Tk. II Pelamonia Makassar. Sampel adalah penderita HNP lumbal grade 1 dan 2 sebanyak 14 orang yang dibagi secara acak kedalam 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan diberikan IFC dan McKenzie, kelompok kontrol diberikan IFC dan Mechanical Traction Lumbal. Analisis data dilakukan dengan uji t. Berdasarkan paired samples t-test pada kelompok kontrol diperoleh nilai p = 0,000 (fleksi dan lateral fleksi lumbal), p = 0,001 (ODI), sedangkan pada kelompok perlakuan diperoleh nilai p = 0,000 (fleksi, lateral fleksi lumbal, ODI) yang berarti bahwa intervensi IFC dan Mechanical Traction Lumbal serta IFC dan McKenzie Exercise dapat menghasilkan perubahan ROM fleksi, lateral fleksi dan fungsional lumbal yang signifikan. Kemudian, berdasarkan independent samples t-test diperoleh nilai p = 0,348 (fleksi lumbal), p = 0,129 (lateral fleksi lumbal), p = 0,670 (ODI) yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kombinasi IFC, McKenzie Exercise dan IFC, Mechanical Traction Lumbal terhadap perubahan ROM fleksi, lateral fleksi, dan fungsional lumbal. IFC dan McKenzie tidak lebih efektif daripada IFC dan Mechanical Traction Lumbal terhadap perubahan ROM fleksi dan lateral fleksi lumbal serta kemampuan fungsional lumbal pada penderita HNP lumbal.Kata kunci: McKenzie exercise; mechanical traction lumbal; lumbal range of motion; fungsional lumbal
Kombinasi Mobilisasi Mulligan dan Percussive Massage untuk Meningkatkan Rentang Gerak Lumbal pada Kondisi Non Specific Low Back Pain Rahmat Nugraha; Virny Dwiya Lestari; Sitti Rahma; Latifa Insani Nurhalim; Rizky Wulandari Ramli
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15203

Abstract

 Physiotherapy as a form of non-pharmacological health service can help individuals with non-specific low back pain to improve movement and activity limitations. Among the physiotherapy modalities that can be applied are mulligan mobilization and percussive massage using a massage gun device. This study aimed to analyze the effectiveness of a combination of mulligan mobilization and percussive massage to increase lumbar range of motion in non-specific low back pain conditions. This study implemented a one group pretest-posttest design, involving 20 patients with non-specific low back pain. Lumbar range of motion in the pre- and post-intervention phases was measured using an inclinometer. Then the results were compared using paired samples t-test. The analysis results showed that lumbar flexion in the pretest and posttest phases were 42.50 ± 9.490 and 52.10 ± 6.226 respectively; while for lumbar extension it was 21.10 ± 4.149 and 31.10 ± 4.932. The p value of the comparison test results was 0.000, both for lumbar flexion and extension (there was a difference between before and after intervention). Thus it was concluded that combination of mulligan mobilization and percussive massage gun device can increase lumbar range of motion.Keywords: non-specific low back pain; mulligan mobilization; percussive massage; range of motion ABSTRAK Fisioterapi sebagai salah satu bentuk pelayanan kesehatan non farmakologis dapat membantu individu dengan non spesifik low back pain untuk memperbaiki keterbatasan gerak dan aktivitas. Di antara modalitas fisioterapi yang dapat diaplikasikan adalah mobilisasi mulligan dan percussive massage dengan menggunakan massage gun device. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kombinasi mobilisasi mulligan dan percussive massage untuk meningkatkan rentang gerak lumbal pada kondisi non-specific low back pain. Penelitian ini menerapkan rancangan one group pretest-posttest, yang melibatkan 20 pasien dengan non-specific low back pain. Rentang gerak lumbal pada fase sebelum dan sesudah intervensi diukur menggunakan inclinometer. Lalu hasilnya dibandingkan menggunakan paired samples t-test. Hasil analisis menunjukkan bahwa fleksi lumbal pada fase pretest dan posttest masing-masing adalah 42,50±9,490 dan 52,10±6,226; sedangkan untuk ekstensi lumbal adalah 21,10±4,149 dan 31,10±4,932. Nilai p dari hasil uji perbandingan adalah 0,000, baik untuk fkesi maupun ekstensi lumbal (ada perbedaan antara sebelum dan sesudah intervensi). Dengan demikian disimpulkan bahwa kombinasi mobilisasi mulligan dan percussive massage gun device dapat meningkatkan rentang gerak lumbal.Kata kunci: non-specific low back pain; mobilisasi mulligan; percussive massage; range of motion
Kombinasi Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation dan Integrated Neuromuscular Inhibition Technique untuk Menurunkan Nyeri dan Meningkatkan Kemampuan Fungsional Pasien dengan Hernia Nukleus Pulposus Lumbal Sudaryanto Sudaryanto; Rahmat Nugraha; Hasbiah Hasbiah; Tiar Erawan; Aya Aimal Syaqshana
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 2 (2024): April-Juni 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15229

Abstract

Herniated nucleus pulposus can press on nerves or spinal cord, causing pain and spinal cord dysfunction. This study aimed to determine the effectiveness of the combination of Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation and Integrated Neuromuscular Inhibition Technique to reduce pain and improve functional ability in patients with lumbar herniated nucleus pulposus. The method used in this study was a case report, involving two patients with lumbar herniated nucleus pulposus who met the criteria, namely patients with grade 1-2 lumbar herniated nucleus pulposus, not accompanied by severe stenosis of the spinal canal, not obese, and experiencing bulging in the L4-S1 area. Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation and Integrated Neuromuscular Inhibition Technique were given 8 times. Measurement of pain levels was carried out using the Visual Analog Scale and measurement of functional ability was carried out using the Patient Specific Functional Scale. Furthermore, the data were analyzed descriptively. The results of the study showed that patient I experienced a decrease in silent pain from 3 to 0, tenderness from 6 to 1, and motion pain from 7 to 2, then experienced an increase in functional ability from 16 to 29; while patient II experienced a decrease in silent pain from 3 to 0, tenderness from 6 to 1, and motion pain from 8 to 3, then experienced an increase in functional ability from 14 to 25. Furthermore, it was concluded that the combination of Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation and Integrated Neuromuscular Inhibition Technique can reduce pain and increase the functional ability of patients with lumbar hernia nucleus pulposus.Keywords: lumbar hernia nucleus pulposus; pain; functional ability; Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation; Integrated Neuromuscular Inhibition Technique ABSTRAK Hernia nukleus pulposus dapat menekan saraf atau sumsum tulang belakang sehingga menyebabkan nyeri dan disfungsi sumsum tulang belakang. Studi ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation dan Integrated Neuromuscular Inhibition Technique untuk menurunkan nyeri dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien dengan hernia nukleus pulposus lumbal. Metode yang digunakan pada studi ini adalah case report, yang melibatkan dua pasien dengan hernia nukleus pulposus lumbal yang memenuhi kriteria yaitu penderita hernia nukleus pulposus lumbal grade 1-2, tidak disertai dengan stenosis berat kanal spinal, tidak mengalami obesitas, dan mengalami bulging pada area L4-S1. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation dan Integrated Neuromuscular Inhibition Technique diberikan sebanyak 8 kali intervensi. Pengukuran tingkat nyeri dilakukan dengan menggunakan Visual Analog Scale dan pengukuran kemampuan fungsional dilakukan dengan menggunakan Patient Specific Functional Scale. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif. Hasil studi menunjukkan bahwa pasien I mengalami penurunan nyeri diam dari 3 menjadi 0, nyeri tekan dari 6 menjadi 1, dan nyeri gerak dari 7 menjadi 2, kemudian mengalami peningkatan kemampuan fungsional dari 16 menjadi 29; sedangkan pasien II mengalami penurunan nyeri diam dari 3 menjadi 0, nyeri tekan dari 6 menjadi 1, dan nyeri gerak dari 8 menjadi 3, kemudian mengalami peningkatan kemampuan fungsional dari 14 menjadi 25. Selanjutnya disimpulkan bahwa kombinasi Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation dan Integrated Neuromuscular Inhibition Technique dapat menurunkan nyeri dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien dengan hernia nukleus pulposus lumbal. Kata kunci: hernia nukleus pulposus lumbal; nyeri; kemampuan fungsional; Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation; Integrated Neuromuscular Inhibition Technique
Ischemic Compression dan Passive Stretching untuk Menurunkan Nyeri pada Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius Andi Halimah; Aco Tang; Nur Hikmah Ramadhani; Yonathan Ramba; Sri Saadiyah Leksonowati; Rahmat Nugraha
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 15, No 4 (2024): Oktober-Desember 2024
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf15431

Abstract

Myofascial pain syndrome is a chronic muscle pain disorder characterized by the presence of trigger points. Trigger points are hypersensitive pain points located in tense muscles or what is called taut bands due to poor posture and static positions during activities. This study aimed to analyze the effectiveness of ischemic compression and passive stretching to reduce pain levels in myofascial pain syndrome of the upper trapezius muscle. The design of this study was a two-group pre-test and post-test. The sample for each group was 9 people selected using purposive sampling technique from the population. In both groups, before and after the intervention, pain levels were measured using the Visual Analog Scale. The difference in pain levels between before and after the intervention was analyzed using a paired samples t-test; while the difference in pain levels between the two groups was analyzed using an independent samples t-test. The results showed that the p value for the paired samples t-test in both groups was 0.000 each; so it was interpreted that there was a difference in pain levels between before and after the intervention, both groups that received ischemic compression and passive stretching. The pain level was lower in the post-intervention phase. The p-value for the independent samples t-test was 0.592, which means that there was no difference in the effectiveness of ischemic compression and passive stretching. In conclusion, ischemic compression and passive stretching are effective interventions to reduce pain levels in myofascial pain syndrome of the upper trapezius muscle in office workers.Keywords: myofascial pain syndrome; upper trapezius muscle; ischemic compression; passive stretching ABSTRAK Myofascial pain syndrome merupakan suatu gangguan nyeri pada otot yang bersifat kronik yang ditandai dengan adanya trigger point. Trigger point adalah titik nyeri yang hipersensitif yang terletak di otot yang menegang atau yang disebut dengan taut band karena postur tubuh yang buruk dan posisi statis saat beraktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas ischemic compression dan passive stretching untuk menurunkan tingkat nyeri pada myofascial pain syndrome otot upper trapezius. Rancangan penelitian ini adalah two group pre test and post test. Sampel untuk masing-masing kelompok 9 orang yang dipilih dengan teknik purposive sampling dari populasi. Pada kedua kelompok, sebelum dan sesudah intervensi dilakukan pengukuran tingkat nyeri menggunakan Visual Analog Scale. Perbedaan tingkat nyeri antara sebelum dan sesudah intervensi dianalisis dengan paired samples t-test; sedangkan perbedaan tingkat nyeri antara kedua kelompok dianalisis dengan independent samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p untuk paired samples t-test pada kedua kelompok masing-masing adalah 0,000; sehingga diinterpretasikan bahwa ada perbedaan tingkat nyeri antara sebelum dan sesudah intervensi, baik kelompok yang mendapatkan ischemic compression maupun  passive stretching. Tingkat nyeri lebih rendah pada fase sesudah intervensi. Nilai p untuk independent samples t-test adalah 0,592, yang berarti bahwa tidak ada perbedaan efektivitas ischemic compression dan passive stretching.  Sebagai kesimpulan, ischemic compression dan passive stretching merupakan intervensi yang efektif untuk menurunkan tingkat nyeri pada myofascial pain syndrome otot upper trapezius pada karyawan kantor.Kata kunci: myofascial pain syndrome; otot upper trapezius; ischemic compression; passive stretching
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN DRY NEDDLING UNTUK MENURUNKAN NYERI PADA OSTEOARTHRITIS Fahruddin, Sri Gunda Fahriana; Nugraha, Rahmat; Diya Atiqa, Ulfa
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 4 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v4i2.9417

Abstract

Introduction: Osteoarthritis is a chronic and progressive joint disorder usually characterised by damage to the cartilage located at the joints of the bones. This cartilage damage can be caused by mechanical stress or biochemical changes in the body. The occurrence of Osteoarthritis is influenced by various risk factors such as age (aging process), genetic, obesity, joint injury, disease Many high quality research studies are needed in these findings, so it is necessary to assess the effect of dry needling on reducing pain in patients with Osteoarthritis. Dry Needling (DN) is a technique used in the management of various neuromusculoskeletal pain syndromes by inserting fine monofilament needles through the skin. DN uses needles similar to those used in acupuncture, but the application technique is different. In DN, the needle is moved up and down within the muscle, precisely in the area of the myofascial trigger point (MTrP). This study aims to determine the benefits of dry needling in reducing pain in Osteorthritis. Methods: This research uses the literature study/literature review method. Where data searches are obtained through literature search engines using a combination of keywords according to the topic. After reviewing selected journals or articles, literature data analysis is carried out by classifying, directing, eliminating unnecessary data and organising data in such a way that it ends in a conclusion. Results: the use of Dry Neddling (DN) can reduce pain in patients with Osteoarthritis. Keywords: Osteoarthritis; Dry Neddling; Pain
Kombinasi Dry Needling dan Manipulasi Cervicothoracal Junction Berhasil Menurunkan Intensitas Nyeri pada Kondisi Myofascial Trigger Point Neck Region Nugraha, Rahmat; Lestari, Virny Dwiya; Rahma, Sitti; Nurhalim, Latifa Insani; Ramli, Rizky Wulandari
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16149

Abstract

The use of laptops and gadgets among students with poor posture can cause uneven distribution of body weight. This condition risks reducing body stability and flexibility, which if prolonged can cause muscle tension around the neck and shoulders that leads to myofascial pain syndrome (MPS). Cervical myofascial pain syndrome is characterized by the presence of myofascial trigger points (MTrPs) in the cervical area. One effective non-pharmacological approach to reducing pain is a combination of dry needling and cervicothoracal junction manipulation. The purpose of this study was to evaluate the effect of the combination of dry needling and cervicothoracal junction manipulation on reducing pain in myofascial trigger point conditions. This study design was a one-group pretest-posttest, involving 20 students from the Department of Physiotherapy, Poltekkes Kemenkes Makassar who met the inclusion criteria, such as tenderness or tenderness in the cervical MTrPs region, and limited range of motion due to facet joint dysfunction. Pain was measured using a Visual Analog Scale (VAS), while cervical range of motion was measured using a digital goniometer. Data were analyzed using the pain difference test and ROOM between before and after the intervention. The results showed that the combination of dry needling and cervicothoracal junction manipulation significantly reduced pain intensity and increased cervical range of motion in students with myofascial trigger points, with a p-value of 0.000. Furthermore, it was concluded that the combination of dry needling and cervicothoracal junction manipulation successfully reduced pain intensity in myofascial trigger point neck region conditions.Keywords: myofascial pain syndrome; trigger points; dry needling; cervicothoracal junction manipulation; pain intensityABSTRAK Penggunaan laptop dan gadget di kalangan mahasiswa dengan postur yang kurang baik dapat menyebabkan distribusi beban tubuh menjadi tidak merata. Kondisi ini berisiko menurunkan stabilitas tubuh dan fleksibilitas, yang jika berlangsung lama dapat menimbulkan ketegangan otot di sekitar leher dan bahu yang berujung pada myofascial pain syndrome (MPS). Cervical myofascial pain syndrome ditandai dengan keberadaan myofascial trigger points (MTrPs) pada area servikal. Salah satu pendekatan nonfarmakologi yang efektif untuk mengurangi nyeri adalah kombinasi dry needling dan manipulasi cervicothoracal junction. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh kombinasi dry needling dan manipulasi cervicothoracal junction terhadap penurunan nyeri pada kondisi myofascial trigger points. Rancangan penelitian ini adalah one group pretest-posttest, yang melibatkan 20 mahasiswa Jurusan Fisioterapi, Poltekkes Kemenkes Makassar yang memenuhi kriteria inklusi, seperti adanya tenderness atau nyeri tekan pada MTrPs regio cervical, serta keterbatasan rentang gerak akibat disfungsi sendi facet. Pengukuran nyeri dilakukan menggunakan Visual Analog Scale (VAS), sedangkan rentang gerak servikal diukur menggunakan goniometer digital. Data dianalisis menggunakan uji perbedaan nyeri dan ROOM antara sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dry needling dan manipulasi cervicothoracal junction secara signifikan menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan rentang gerak servikal pada mahasiswa dengan kondisi myofascial trigger points, dengan nilai p adalah 0,000. Selanjutnya diimpulkan bahwa kombinasi dry needling dan manipulasi cervicothoracal junction berhasil menurunkan intensitas nyeri pada kondisi myofascial trigger point neck region.Kata kunci: myofascial pain syndrome; trigger points; dry needling; manipulasi cervicothoracal junction; intensitas nyeri