Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

ANALISIS PENURUNAN KADAR KROM (Cr) LIMBAH LABORATORIUM MENGGUNAKAN ZEOLIT DAN KARBON AKTIF Febrina, Laila
Sustainable Environmental and Optimizing Industry Journal Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/seoi.v1i2.176

Abstract

Laboratorium lingkungan salah satu penghasilkan limbah B3 yang berbahaya yang berasal dari hasil analisis COD. Limbah ini banyak mengandung Krom yang sangat tinggi. Keracunan Kromium dapat menyebabkan gangguan pada paru-paru, maka limbah krom harus diolah sebelum dibuang keperairan. Dalam penelitian ini, kemampuan adsorpsi karbon aktif dan zeolit terhadap limbah krom dari limbah laboratorium dipelajari. Tahapan analisisnya meliputi preparasi sampel limbah, penentuan berat optimum dan waktu optimum adsorpsi kromium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karbon aktif efisien pada berat 7 gram dan waktu serapan 90 menit dengan nilai kapasitas dan efisiensi adsorpsi sebesar 0,43 mg/l dan 99,37% sementara zeolit efisiensi pada berat 10 gram dan waktu serapan 120 menit dengan nilai kapasitas dan efisiensi adsorpsi sebesar 0,47 mg/l dan 99,32 %. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kompetisi dengan logam-logam yang ada dalam limbah. Akan tetapi penyerapan krom oleh zeolit lebih sedikit ampas yang dihasilkan dan biaya produksi yang dibutuhkan
KAJIAN EMISI CO2 BERDASARKAN JEJAK KARBON SEKUNDER DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS SAHID JAKARTA Febrina, Laila; Wahyudi, Dedy; Harki, Refsiela Dwi
Sustainable Environmental and Optimizing Industry Journal Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/seoi.v3i1.435

Abstract

Perubahan iklim terjadi akibat adanya peningkatan konsentrasi emisi gas rumah kaca, dimana emisi karbon dioksida (CO2) adalah kompenen utama gas rumah kaca. Emisi CO2 terbesar dari sektor energi yaitu penggunaan energi listrik yang berasal dari aktivitas dalam gedung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji emisi CO2 yang dihasilkan dari penggunaan listrik di Universitas Sahid Jakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan menghitung pemakaian daya listrik dari AC dan lampu  dan komputer yang terdapat di Gedung Utama Universitas Sahid Jakarta . Perhitungan emisi CO2diperoleh dari perkalian penggunaan energi listrik peralatan elektronik dengan faktor emisi sesuai dengan ketentuan Surat Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Hasil yang diperoleh dari perhitungan diketahui bahwa penggunaan listrik di Gedung Utama Universitas Sahid Jakarta rata-rata menggunakan daya listrik sebesar 601.142,4 kWh/tahun dan mengeluarkan emisi sebesar  498.948,192 kgCO2  per tahun. Untuk mengurangi dampak pemanasan global dari penggunaan listrik, Universitas Sahid Jakarta dapat melakukan gerakan efesiensi energi listrik dengan mengurangi penggunaan AC sebagai penyejuk ruangan dengan memperbanyak ventilasi atau lubang udara sebagai tempat pengaliran udara. Melakukan kegiatan penghijauan. Penggunaan lampu sebagai pencahayaan pada ruangan juga dapat diganti dengan lampu yang berdaya lebih kecil, yang dibantu dengan memperbanyak pencahayaan alami dari sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan
PENURUNAN KADAR BOD, COD dan TSS PADA AIR LIMBAH DOMESTIK DENGAN SISTEM CONSTRUCTED WETLAND MENGGUNAKAN TANAMAN KAYU APU (Pistia stratiotes L.) Tampubolon, Rizki Amalia; Febrina, Laila; Mulyawati, Ira
Sustainable Environmental and Optimizing Industry Journal Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/seoi.v2i1.469

Abstract

Air limbah domestik berasal dari usaha dan atau kegiatan permukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen, dan asrama. Pencemaran air sungai 60% - 70% berasal dari limbah domestik, dengan kontribusi pencemar di DAS 60% berasal dari limbah domestik (sanitasi, sampah, detergen); 30% limbah industri; dan 10% limbah pertanian dan peternakan. Kayu apu (Pistia stratiotes L.) merupakan salah satu tumbuhan fitoremediator yaitu memiliki kemampuan untuk mengolah limbah, baik itu berupa logam berat, zat organik maupun anorganik, mudah ditemukan, dan ekonomis. Sistem pengolahan air limbah dengan Sistem Lahan Basah Buatan (Constructed Wetlands) menjadi rekomendasi untuk pengolahan limbah yang ekologis karena karakteristik limbah domestik yang biodegradable. Penelitian ini dilakukan skala laboratorium dengan menggunakan 4 buah reaktor. Perlakuan pertama dengan variasi jumlah Kayu Apu (Pistia stratiotes. L) pada tiap bak ember, yaitu 0, 4, 8 dan 12. Perlakuan kedua dengan variasi waktu kontak tanaman, yaitu hari ke-3, hari ke-6, ke-9 dan hari ke-12. Kemudian diukur kadar BOD, COD dan TSS masing masing tiap bak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tanaman terbaik dalam menurunkan beban pencemar adalah 12 tanaman. Pengaruh waktu kontak tanaman Kayu Apu (Pistia stratiotes. L) yang paling efisien yaitu pada hari ke-12 dengan hasil paling maksimal mencapai BOD 10 mg/L (95,83%), COD 15,97 mg/L (95,01%), dan TSS 17,66 mg/L (96,09%).
Utilization of Mandarin Orange Peel Waste as an Adsorbent for Methylene Blue Dye Muflih, Fakhri; Febrina, Laila; Mulyawati, Ira
Sustainable Environmental and Optimizing Industry Journal Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/seoi.v5i1.1799

Abstract

Utilization of mandarin orange peel waste as an adsorbent for methylene blue  dye is carried out to minimize methylene blue contamination. The research was conducted by using spike method samples then analyte was adsorbed. This research aims to make an adsorbent with chemical activation, which has a particle size of 100 mesh, and the quality of the adsorbent based on SNI 06-3730-199 to determine the optimum time and weight required to adsorb methylene blue. This research use Freundlich isotherm data processing and analysis of variance ANOVA. Making adsorbent is done by cleaning, then drying in an oven at a temperature of 150˚C, then put into the furnace with a temperature of 600˚C, then continued the process of testing the quality of the adsorbent based on SNI 06-3730-199. The adsorbent based on parameters contained in SNI 06-3730-1995, including 9,13% for water content, 7,26% for ash content, and 959,2 mg/g for absorption of iodine. These results have met the requirements. The optimum weight from the research is 1,5 grams, and the optimum time required for the adsorbent to absorb the analyte is 90 minutes. The efficiency of the adsorbent for absorbing methylene blue at optimum weight and interaction time is 98,93%.
The Measurement of the Noise Level Based on Roads Classifications in Urban Area (Case Study: Harjamukti, Depok) Hanaseta N., Evelyne; Laila Febrina
Indonesian Journal of Environmental Management and Sustainability Vol. 7 No. 4 (2023): December
Publisher : Magister Program of Material Science, Graduate School of Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26554/ijems.2023.7.4.153-159

Abstract

Harjamukti Village is located in Depok City which is a buffer zone for the capital city of DKI Jakarta, the rapidly growing housing sector shows that this location has an attractiveness. The next problem that arises is the potential for noise from vehicular traffic due to community mobility. Noise measurements carried out using SNI 8427: 2017 show the LSM value on each road: Tumaritis Road (68.87 dBA), Bungur Road (61.29 dBA), Putri Tunggal Road (73.67 dBA), Putri Tunggal District Road (65.7 dBA) and Sementara Road (61.29 dBA). This study was conducted to see the road class based on the noise and capacity parameters, so that from these two parameters, can we clearly show the road class being analyzed. The measurements were carried out for 24 hours using the standard SNI 8427: 2017. The quality standard for the residential area used was 55 Dba based on the Minister of Environment Decree No. 48 of 1996. The road capacity used is analyzed based on the number of vehicles and the class of each road. Based on the noise parameters (sig 0.006) and capacity (sig 0.000) so that from the noise parameter there is no significant difference in the 5 research locations, while the road capacity shows a significant difference from the 5 research locations. Prediction of road class cannot be determined from the noise value and road capacity, because the noise obtained needs to be analyzed for the types of activities around whether there is an influence from other activities that are also dominant, such as toll roads and road capacity, because there are local road classes whose capacity is not detected different from collector road class.
PELATIHAN PERANGKAT LUNAK DESAIN KAPAL SEBAGAI INISIASI PENDIDIKAN MICROCREDENTIAL BAGI MASYARAKAT Satoto, Sapto Wiratno; Handayani, Rita; Aisyi, Rahadatul; Susmana, Haris; Febrina, Laila; Regie, Muhammad; Putri, Dina Indriana
Abdi Masya Vol 5 No 2
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52561/abdimasya.v5i2.317

Abstract

The high demand for drafters provides new opportunities in the world of education. Many prospective students who do not pass the educational entrance selection try to find a credible institution to accommodate the needs of a competency training institution. Batam State Polytechnic is trying to take a role by providing microcredential classes which have a skills certification output for its students. This program was tried by carrying out community service activities as a form of initiation of microcredential class activities. The service method is implemented using; direct meetings / via zoom meetings, students will be given guidance to complete assignments and carry out practical work on campus. It is hoped that this service with the theme of drawing using a computer, which is carried out online and offline, will bring benefits to students. Basic K3 is also provided as a form of commitment to prioritizing safety at work. The activity output obtained includes: increasing students' skills and knowledge, participants also know more about Polibatam as a vocational campus in Batam and produce additional output in the form of learning modules, videos and posters. The training also received a positive and good response from students so that it might then be developed and continued again.
POKIMAS (PROGRAM KEBUN GIZI MASYARAKAT) DI KOMUNITAS BGBJ, TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH TERPADU (TPST), BANTAR GEBANG, BEKASI, JAWA BARAT Humayrah, Wardina; Stefani, Megah; Febrina, Laila
Jurnal Industri Kreatif dan Kewirausahaan Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Industri Kreatif dan Kewirausahaan DECEMBER 2020
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/kewirausahaan.v3i2.71

Abstract

Tujuan umum kegiatan Program Kemitraan Masyarakat ini adalah terbentuknya Kebun Gizi Masyarakat Percontohan di Komunitas Kerajaan BGBJ, Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat sebagai motivator dan penggerak masyarakat sekitar untuk ikut serta dalam POKIMAS di masing-masing rumah tangga. Metode yang dilakukan dalam kegiatan ini menyesuaikan situasi dan kondisi pandemi Covid 19, pelatihan dilakukan secara daring dan modul edukasi diberikan secara lengkap yang akan diberikan kepada semua sasaran sehingga mudah dipelajari mandiri di rumah. Tim PKM akan memberikan TOT (Training of Trainer) secara daring kepada tim inti Komunitas Kerajaan BGBJ dan selanjutnya tim Inti tersebut bertanggung jawab memberikan pelatihan ke 10 peserta sasaran POKIMAS. Hasil dan manfaat yang telah dicapai antara lain: data-data baseline awal tentang kondisi sosio-ekonomi dan pemahaman awal masyarakat sasaran sekitar mitra tentang kebiasaan makan sayur- buah dan kebun; 3 modul terdiri dari rangkaian video-video singkat dan sederhana dalam bentuk Compact Disk (CD) dan link YouTube antara lain: edukasi POKIMAS perwujudan gizi seimbang, pembuatan pupuk takakura, dan pembuatan vertical garden rumahan; serta tindak lanjut pelaksanaan kegiatan POKIMAS di 10 rumah tangga sasaran.
PKM MIJEL MENJADI BERKAH DI DESA NANGGERANG KECAMATAN TAJUR HALANG KABUPATEN BOGOR Febrina, Laila; Soecahyadi, Soecahyadi; Astuti, Titin
Jurnal Industri Kreatif dan Kewirausahaan Vol 5 No 1 (2022): Jurnal Industri Kreatif dan Kewirausahaan JUNE 2022
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/kewirausahaan.v5i1.840

Abstract

Desa Nanggerang adalah salah satu desa di Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor. Salah satu potensi tanaman pangan di desa itu adalah singkong. Sebagian dari penduduk desa telah mengolah singkong menjadi makanan ringan, seperti keripik singkong. Proses pengolahan keripik dilakukan secara sederhana. Desa Naggerang dikenal sebagai desa yang memiliki banyak UMKM keripik singkong dan keripik pisang yang banyak melibatkan ibu-ibu rumah tangga disekitaran usaha mereka. Hal ini tentunya menyebabkan semakin banyaknya minyak jelantah (mijel) seiring semakin banyaknya penggunaan minyak goreng dalam aktivitas UMKM tersebut. Penggunaan minyak goreng yang berkali-kali dapat membahayakan Kesehatan manusia. Disisi lain, membuang sisa minyak goreng ke lingkungan akan menyebabkan kerusakan lingkungan. Permasalahan yang sering muncul adalah minyak jelantah yang dihasilkan pada proses produksi tersebut yang tidak terkelola dengan baik yang bila dibuang sembarangan dapat menyebabkan permasalahan lingkungan Tujuan dan sasaran kegiatan ini adalah peningkatan partisipasi masyarakat melalui ibu-ibu PKK, Desa Nangerang, Kabupaten Bogor melalui program pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan minyak jelantah melalui pelatihan dalam pembuatan lilin padat dan cair serta sabun dari minyak jelantah.. Metode kegiatan dilakukan berupa (1) Sosialisasi tentang pemasaran, (2) Pelatihan dan pendampingan pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk yang bernilai guna (sabun batangan, lilin cair dan lilin padat). Target luaran yang dicapai pada kegiatan ini adalah peningkatan ketrampilan dan pengetahuan mitra sehingga menjadikan mitra memiliki ketrampilan dalam mengolah minyak jelantah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Model Sistem Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Balita melalui Program Rumah Gizi Sehat (PROGES) Humayrah, Wardina; Nuraelah, Almira; Febrina, Laila
Indonesian Journal for Social Responsibility Vol. 7 No. 01 (2025): June 2025
Publisher : LPkM Universitas Bakrie

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36782/ijsr.v7i01.409

Abstract

The Healthy Nutrition House Programme (PROGES) was implemented by Sahid University (USAHID) to improve the nutritional quality of young children at risk of stunting and malnutrition in RW 06, Pancoran Mas, Depok City. This programme focuses on creating a sustainable supplementary feeding system model (PMT) by engaging community members as donors. The first phase of PROGES successfully involved 30 participants from all RW06 residents and community leaders from the Integrated Service Post (Posyandu) and Family Empowerment and Welfare (PKK) cadres. Prior to the socialisation of the programme, the participants were asked several questions through a questionnaire regarding their initial views on the programme, which consisted of: experiences with the programme, types of food usually donated for PMT for young children, main reasons for participating in the programme, and perceptions of benefits if implemented for the RW 06 community. This was followed by a Forum Group Discussion (FGD) to agree on a PMT implementation system model that would meet the needs of the residents. The results of the FGD for the PMT implementation system model started with data collection on the recipients of donations, identification of donors, and collection of food ingredients from the residents, which were then stored in the Healthy Nutrition House RW 06 according to cooked or raw conditions. In addition, food distribution is carried out once a month before Posyandu, with priority given to underprivileged households with malnourished young children at risk of stunting. This first phase of the PROGES programme went smoothly and a sustainable PMT system model was successfully agreed with community leaders and residents of RW 06.
Utilization of Sludge from the Sulianti Saroso Hospital Wastewater Treatment Plant as Compost Material Anggraeni, Yeyen; Febrina, Laila; Mulyawati, Ira; Pratiwi, Tiara Zakiyah; Maemun, Siti
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 3 (2024): July - September
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i3.7316

Abstract

Hospital activities generate by-products from the treatment of liquid waste, namely sludge that settles in sedimentation tanks. The sludge produced thus far has been transported by a third party in collaboration with the hospital. This study was conducted to utilize hospital wastewater treatment plant (WWTP) sludge with the aim of determining the moisture content, carbon (C) content, nitrogen (N) content, and C/N ratio in the raw WWTP sludge before and after composting compared to SNI 19-7030-2004 standards. Additionally, the study aimed to identify the average differences in each variation of WWTP sludge and rice husk composition. This research employed an experimental method. The composting process was conducted aerobically with the following variations: 95% WWTP sludge:5% rice husk (A1), 85% WWTP sludge:15% rice husk (A2), 75% WWTP sludge:25% rice husk (A3), and 65% WWTP sludge:35% rice husk (A4), with the addition of EM4 activator 55 ml + 90 ml sugar solution diluted to 300 ml. The preliminary test results for the WWTP sludge showed a moisture content of 68.76%, C content of 28.00%, N content of 14.32%, and C/N ratio of 1.95. From the results of the ANOVA statistical test and Post Hoc Duncan test, it was found that the average variation in WWTP sludge: rice husk composition had a significant difference, with the ideal composition being variation A1 (95% WWTP sludge:5% rice husk).