Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

REPRESENTASI NILAI SIRI’ NA PACCE PERTUNJUKAN TEATER RAKYAT KONDOBULENG SANGGAR SENI TRADISIONAL I LOLO GADING PAROPO Asia Ramli*; Andi Taslim Saputra
PANGGUNG Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i4.2904

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pertunjukan teater rakyat Kondobuleng representasi nilai siri’ na pacce (harga diri dan kehormatan). Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan interdisiplin. Pertunjukan Teater Rakyat Kondobuleng (PTRK) merupakan salah satu karya seni kolektif yang di dalamnya memuat beragam unsur seni yang saling terkait antar satu dengan yang lain, tokoh/karakter, pemeranan, dialog, kostum, rias, properti, tari atau gerak, musik, dan lagu. Penelitian ini menguraikan fenomena pertunjukan dengan menggunakan salah satu teori dari John Fiske yang membaca realitas seni dengan berfokus pada representasi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pada tahapan analisis data diolah dengan bentuk reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan representasi nilai siri’ na pacce yang berhubungan dengan sosiokultural masyarakat pesisir Bugis-Makassar meliputi mempertahankan diri dan kehormatan, memegang teguh pendirian, menumbuhkan kerja gotong royong, menanamkan sifat tolong menolong, menumbuhkan etos kerja, menempatkan seseorang dengan keahliannya, mengambil keputusan secara arif dan bijaksana, serta menjunjung tinggi rasa kesetiakawanan. Nilai yang disampaikan termuat pada adegan dari pertunjukan teater rakyat Kondobuleng. Kata kunci: Pertunjukan, Teater, Representasi, Nilai siri’ na pacce.
Pelatihan Teater Melalui Board Games Teater Rakyat Kondobuleng bagi Siswa SMA Negeri 2 Majene Sulawesi Barat Andi Taslim Saputra; Asia Ramli; Karta Jayadi; Dzulfitrah Ramadhani Mar; Safei Suprianto
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 1 No. 3 (2024): September-Desember "Implementation of Social Service Programs to Increase Commu
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/a78dns50

Abstract

SMA Negeri 2 Majene Sulawesi Barat merupakan Sekolah Menengah Atas yang terletak di Majene Sulawesi Barat. Sajian seni di sekolah ini selalu berkembang dan berkembang. Ekosistem seni yang dikembangkan mencakup semua genre. Fenomena pembelajaran teater merupakan salah satu fenomena yang paling banyak dikaji karena orientasi seni dalam kerangka seni rupa, tari, musik, dan teater belum mempunyai landasan nilai-nilai lokal yang kuat. Meskipun demikian ekosistem kesenian berkembang tetap terdapat permasalahan sosial yangg turut hadir dan membuat ketidakstabilan. Atas fenomena permasalah maka lahirlah pelatihan yang diinisiasi institusi. Tujuan pengabdian adalah pelatihan teater rakyat Kondobuleng berbasis Board games. Metode yang digunakan adalah analisis, perancangan, pengenalan dan roleplay, simulasi games dan evaluasi. Pelatihan ini dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran, sarana refleksi, perubahan dan pengajaran berharga bagi siswa SMA Negeri 2 Majene Sulawesi Selatan. Pelaksanaan pelatihan dengan model pendampingan bagi peserta atau mitra agar pelatihan lebih aktif, kreatif dan menyenangkan. Pelaksanaan kegiatan tersebut adalah: (1) Merancang pelatihan teater melalui Board Games, dan (2) melaksanakan kegiatan games berbasis permainan tradisional. Selain itu, pelatihan ini menghasilkan luaran sebagai berikut: (1) Mengurai persoalan dengan pendekatan teater yang menjadi patron serta meningkatkan nilai tradisional melalui pembelajaran Board games Teater Rakyat Kondobuleng
KAJIAN SEMIOTIKA: MAKNA SIMBOLIK SULAPA’ EPPA DALAM MOTIF BALO LOBANG PADA LIPA’ SABBE BUGIS Andi Fauziyah Hijrina Fatimah; Nurul Fadhillah; Andi Taslim Saputra
KAGANGA KOMUNIKA: Journal of Communication Science Vol 8 No 1 (2026): Edisi 14
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/kagangakomunika.v8i1.7429

Abstract

Lipa’ sabbe (Bugis silk sarong) is a textile that has been designated as an Intangible Cultural Heritage (ICH) of Indonesia since 2016. The balo lobang motif visually has a very close connection with the sulapa’ eppa (four sides) philosophy, which represents cosmological balance in the Bugis worldview. This research aims to uncover the symbolic meaning of sulapa’ eppa in the balo lobang motif on Bugis lipa’ sabbe. This type of research uses an interpretative qualitative research method, which seeks to find meaning in a phenomenon to investigate issues related to specific individuals, thereby gaining direct insight into their activities. The results of this study found interpretations related to the perspectives of representamen, object, and interpretation. This research outlines that the semiotic approach is crucial for understanding cultural artifacts as tools for generating meaning. According to the findings of this research, symbolic meanings must be revived in cultural practices. In this process, the symbolic values contained in the motifs tend to be simplified or even lose their relevance in social practice.   Keywords: Semiotics, Meaning, Lipa’ Sabbe, Balo Lobang, Sulapa’ Eppa
KACAPING SEBAGAI ALAT MUSIK TRADISIONAL MASYARAKAT SIDRAP: KAJIAN SOSIOMUSIKOLOGI Andi Ihsan; Andi Taslim Saputra; Khaeruddin Khaeruddin
JURNAL PAKARENA Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v9i2.70362

Abstract

This study aims to map the distribution of Kacaping as a traditional musical instrument of the Bugis people in Sidenreng Rappang (Sidrap) Regency and analyze the socio-cultural relationships that support the sustainability of this musical practice from a socio-musicological perspective. The study uses a qualitative approach with a musical ethnography design. Data were obtained through field observations, in-depth interviews with cultural experts, Kacaping players, and community leaders, and documentation studies. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interactive model which includes data reduction, data presentation, and data verification. The results of the study indicate that Kacaping activities in Sidrap Regency are not evenly distributed, but are concentrated in Tellu Limpoe District, especially Amparita Village, which is currently the center of Kacaping preservation and development. Socio-culturally, Kacaping functions as a symbol of Bugis cultural identity, a medium for transmitting cultural values, and a means of building social relations in the community. The study also found that each player has a different improvisational pattern that forms a personal identity in musical practice. These differences in improvisation indicate that Kacaping is a dynamic cultural practice and continues to undergo a process of cultural construction. Furthermore, Kacaping serves as a cultural arena that brings together performers, cultural figures, craftspeople, and the community in the process of producing meaning, legitimizing culture, and reproducing local knowledge. This finding expands sociomusicological studies by positioning Kacaping not only as a traditional musical instrument, but also as a sociocultural practice that shapes the identity, social relations, and cultural sustainability of the Bugis Sidrap community
Performative Semiotics of Manca' Paddang: Body, Sword, And Humor in the Construction of Selayar Cultural Meaning Andi Taslim Saputra; Andi Fauziyah Hijrina Fatimah
Tamaddun Life Vol 24 No 2 (2025): December
Publisher : Fakultas Sastra - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/tamaddun.v24i2.1119

Abstract

This study analyzes manca' paddang, a traditional Selayar martial performance using swords, as a performative semiotic practice in which the body, object, and humor operate as cultural signs. Although the performance remains visible in ritual and community stages, it is often reduced to entertainment, thereby obscuring its role in transmitting values of courage, siri', social intimacy, and cultural memory. Using an interpretive qualitative design, data were collected over approximately three months in Galung Bontosikuyu, Benteng Bontoharu, Kayuadi, and Pulau Madu through passive observation, in-depth interviews, and visual documentation of performances. Charles Sanders Peirce's triadic model of representamen, object, and interpretant was used as the main analytical framework, complemented by performance studies perspectives on embodied action and cultural transmission. The findings show that the performer's body functions as a representamen through patterned movement, gesture, posture, and facial expression. The paddang or sword operates as an object that indexes courage, self-control, and disciplined masculinity while structuring dramatic interaction. Humor emerges as a dynamic interpretant through playful improvisation, laughter, and audience participation, transforming potential violence into social intimacy. The study argues that manca' paddang is not merely a traditional martial attraction but a complex cultural sign system in which Selayar identity is enacted, negotiated, and reproduced. It contributes to scholarship on Indonesian performance by integrating Peircean semiotics with performative analysis of embodied local knowledge.
ORGANOLOGI KITOKA SEBAGAI BENTUK PENGEMBANGAN KECAPI TRADISIONAL DI AMPARITA KECAMATAN TELLUE LIMPOE KABUPATEN SIDRAP Andi Ihsan; Andi Taslim Saputra
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5, No 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/botinglangi.v5i1.83645

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan organologi Kitoka sebagai bentuk pengembangan Kecapi tradisional. Kitoka merupakan inovasi kecapi tradisional yang dikembangkan oleh Karsin Kati pada tahun 1992 dan mulai diproduksi secara resmi pada 1995 di Kecamatan Amparita, Kabupaten Sidrap. Inovasi ini didasarkan pada kebutuhan akan instrumen musik yang lebih adaptif terhadap perkembangan musik modern, mengingat keterbatasan kecapi tradisional dalam menjangkau variasi nada yang lebih luas. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan bentuk organologi dari Kitoka di Amparita Kecamatan Tellue Limpoe Kabupaten Sidrap sekaligus menganalisis Kitoka sebagai bentuk pengembangan Kecapi Tradisional di Amparita. Metode yang digunakan tergolong penelitian kualitatif dengan menggunakan data dari studi pustaka, observasi partisipan dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keberadaan Kitoka tidak menggantikan kecapi tradisional, tetapi justru berperan sebagai sarana adaptasi musik tradisional dalam lanskap musik modern. Dengan karakteristik yang lebih fleksibel, Kitoka banyak digunakan di sanggar seni dan lembaga pendidikan, bahkan telah dikenal hingga luar negeri. Meskipun pemasaran masih dilakukan secara terbatas, inovasi ini menjadi kontribusi penting dalam upaya pelestarian dan pengembangan musik tradisional di Indonesia.
TARI BUAI-BUAI DI SANGGAR BUJANG SAIYO KABUPATEN PESISIR SELATAN: TINJAUAN TEKS DAN KONTEKS Muthia Rianti; Dani Fajrul Arisyi; Andi Taslim Saputra
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i4.76915

Abstract

Di Kabupaten Pesisir Selatan masih ada beberapa sanggar yang melestarikan tari Buai-Buai, salah satunya sanggar Bujang Saiyo yang dipimpin oleh Gusman beralamat di Nagari Laban Salido Kecamatan IV Jurai, Painan, Pesisir Selatan. Tari Buai-Buai di Pesisir Selatan dikenal dengan tari Buai- Buai Duduak. Tari ini sudah ada di Pesisir Selatan semenjak tahun 1960-an, yang menceritakan kisah kerajaan Indropuro yang berada di Pesisir Selatan. Gerak tari ini bersumber dari gerak Silek yang karakter geraknya tidak memiliki pola yang sistematis. Ragam gerak yang dimiliki tari Buai-Buai ini ada 12 yaitu, Gerak Sambah, Duduak, Sentak, Ayun Lakang, Ayun Sampiang, Tagak Manyimpia, Tapuak Hantak, Lenggang Karaia, Jinjiang Bantai, Bakatiek, Marantang, dan Sambah Panutuik. Tari ini tidak banyak menggunakan pola lantai dan juga tidak menggunakan tata rias karena tari ini masi termasuk kepada tari tradisional. Untuk alat music yang digunakan juga sederhana yaitu, Adok dan juga dendang. Untuk pakaiannya hanya menggunakan pakaian Silat pada umumnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pradigma kualitatif dengan metode deskriptif analisis dengan menggunakan Etnokoreologi sebagai pisau bedah dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah, observasi, studi Pustaka, wawancara, dan dokumentasi.
Exploring Cultural Knowledge through Sketches of Historical Sites in Makassar City: An Innovative Approach to Fine Arts Learning Rasul; Andi Taslim Saputra
Tamaddun Life Vol 25 No 1 (2026): June
Publisher : Fakultas Sastra - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/tamaddun.v25i1.1338

Abstract

This study examined how historical-site-based sketching can strengthen fine arts learning and cultural knowledge among students in the Fine Arts Education Study Program at Makassar State University. The study responded to the limited use of Makassar’s historical sites as educational resources despite their architectural, historical, and cultural significance. It aimed to investigate the implementation and learning contribution of field-based sketching at the Makassar City Museum, Fort Rotterdam, Societeit de Harmonie, and Paotere Harbor. A qualitative case study design was employed. Data were collected through field observations, interviews, documentation, questionnaires, and analysis of students’ sketches. The data were analyzed thematically and interpreted through triangulation across sources and techniques. The findings show that direct sketching encouraged students to observe architectural proportions, perspective, line quality, textures, spatial relationships, and changing environmental conditions more attentively. Their sketches demonstrated stronger visual representation and contextual detail, while interviews and questionnaires indicated increased understanding of historical meanings, social functions, local identity, and heritage preservation. Students also reported greater engagement and confidence in discussing visual interpretations than in conventional studio-based learning. The study concludes that historical-site-based sketching can function as a contextual pedagogical model that integrates technical skill development with cultural literacy and heritage appreciation. The approach is particularly valuable when supported by preparatory historical orientation, guided field observation, reflective critique, and assessment that addresses both artistic and cultural dimensions. Further research should examine longer-term learning outcomes across broader participant groups and heritage settings.
Training in Harmonizing Langgam and Modern Music as Accompaniment for Makassar Regional Songs Karta Jayadi; Andi Taslim Saputra; Mas’ud Uqbah Al Ansyari; Khaeruddin Khaeruddin; Andi Agussalim Aj
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 5, No 1 (2026): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v5i1.83677

Abstract

This Community Service Program (PKM) focuses on strengthening local identity thru training, performances, and the digitalization of Makassar regional songs using an approach that harmonizes traditional and modern music. This activity is a response to the lack of appreciation from the community for Makassar regional songs, the low number of traditional music performances, and the absence of effective dissemination strategies in the digital era. The implementation of the activity began with socialization to local artists, traditional musicians, art communities, and the general public. This stage introduces the basic concepts of Langgam Makassar, its musical history, and its potential as a bridge between tradition and modernity. The socialization continued with the exploration of the repertoire of Makassar regional songs and the analysis of old recordings to understand the vocal character, rhythm, and melody that are the main identities of this regional music. The core stage of the activity involved musical training. After the training, the activities continued with performances held in several areas such as Barru, Sidrap, Makassar, Malino, and other cities. This performance serves as a space for appreciation as well as a performative test of the training outcomes. This program has a significant impact on the development of local musicians' capacities, the revitalization of regional songs, and the enhancement of cultural appreciation. In addition, this activity demonstrates that the collaboration between tradition and modernity, along with the utilization of digital technology, can create models of art production and learning that are relevant to the contemporary context. In the future, this program is designed to continue thru the development of new repertoires, the formation of community study groups, the expansion of performances, and the establishment of a digital portal as a center for the documentation of Makassar Langgam music.
PELATIHAN TARI PELANGI UNTUK SISWA UPT SMPN 2 PANGSID KABUPATEN SIDRAP Syakhruni Syakhruni; Andi Ihsan; Heriyati Yatim; Khaeruddin Khaeruddin; Andi Taslim Saputra
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 5, No 2 (2026): Juli-Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v5i2.88958

Abstract

Pelestarian budaya lokal melalui pendidikan seni memerlukan model pelatihan yang tidak hanya meningkatkan keterampilan menari, tetapi juga kreativitas siswa. Berbagai pelatihan tari telah dilakukan, namun umumnya masih berfokus pada penguasaan gerak dan belum mengintegrasikan proses kreatif berbasis budaya lokal secara utuh. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kreativitas siswa UPT SMP Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidenreng Rappang melalui Pelatihan Tari Pelangi berbasis budaya lokal. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif yang meliputi tahap persiapan, penyampaian materi, eksplorasi dan improvisasi gerak, latihan, presentasi hasil karya, serta evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan kreativitas, kemampuan bekerja sama, kepercayaan diri, dan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya lokal yang diwujudkan dalam pertunjukan Tari Pelangi. Novelty kegiatan ini terletak pada pengembangan model Pelatihan Tari Pelangi yang mengintegrasikan eksplorasi, improvisasi, dan penciptaan tari berbasis budaya lokal sebagai pengalaman belajar kreatif bagi siswa sekolah menengah pertama.