Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Efektivitas Daya Hambat Disinfektan Klorin terhadap Bakteri Escherichia Coli Penghasil Extended Spectrum Beta Lactamase Donna Mesina Pasaribu; Krisna Fernanda Suryaputra; Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i3.2002

Abstract

Kerja shift adalah pembagian jam kerja dalam waktu 24 jam yang dilakukan secara bergantian biasanya terbagi atas shift pagi, shift sore, dan shift malam. Kerja shift dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi pekerja antara lain dalam aspek fisiologis, psikososial, kinerja, maupun kesehatan dan keselamatan kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan fungsi eksekutif pada pekerja shift dan non shift. Penelitian bersifat analitik observasional dengan pendekatan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-September 2020. Total sampel sebanyak 44 orang yang dipilih dengan teknik consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur, sedangkan untuk menilai fungsi eksekutif menggunakan Trail Making Test A (TMT-A) dan Trail Making Test B (TMT-B). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur dan fungsi eksekutif pada pekerja shift dan non shift (P<0,05). Faktor usia dan pendidikan dapat menjadi penyebab tidak terdapatnya hubungan antara kualitas tidur dengan fungsi eksekutif.
Infeksi dan Pola Kepekaan Stenotrophomonas maltophilia di ICU RS X Nicolas Layanto; Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2310

Abstract

Infeksi Stenotrophomonas maltophilia dapat terjadi di berbagai organ, namun bakteri ini paling sering ditemukan pada paru. Angka kematian pada pasien dengan infeksi S. maltophilia cukup tinggi, tetapi berkaitan erat dengan kondisi pasien. Bakteri ini memiliki kekebalan intrinsik yang luas, antibiotik yang dapat digunakan lebih terbatas, serta diperlukan pengendalian infeksi yang baik dalam penanganannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data prevalensi S. maltophilia di ICU RS X dan pola kepekaannya. Seluruh sampel yang berasal dari ICU diambil dan jika ditemukan S. maltophilia, maka akan dimasukkan ke dalam studi. Ditemukan seluruh sampel dengan pertumbuhan S. maltophilia berasal dari paru, dengan sebagian besar disertai Pneumonia COVID-19. Prevalensi infeksi paru S. maltophilia 25,31%, dengan mortalitas mencapai 52,94%. Ditemukan kepekaan cotrimoxazole 95% dan levofloxacin 83,33%. Cotrimoxazole dan levofloxacin masih ideal untuk menangani infeksi S. maltophilia dengan tetap menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi yang baik.
Purple Urine Bag Syndrome Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i3.2315

Abstract

Purple Urine Bag Syndrome (PUBS) merupakan kasus yang jarang, namun dapat terjadi pada pasien dengan pemasangan kateter yang berkepanjangan, terutama pada keadaan imobilisasi. Kejadian PUBS dikaitkan dengan diet yang mengandung triptofan, urine yang bersifat alkali, konstipasi dan banyaknya bakteri  yang menghasilkan sulfatase/fosfatase pada urine.  Warna ungu yang terjadi disebabkan oleh  adanya kombinasi  pigmen indigo (warna merah) dan indirubin (warna biru) sebagai hasil metabolisme dari diet yang mengandung triptofan. PUBS biasanya tidak berbahaya namun sering membuat pasien cemas. Tatalaksana PUBS adalah dengan mengganti kateter urin dan pemberian antibiotik yang sesuai.
Pengaturan Sistem Heating Ventilation and Air Conditioner (HVAC) untuk Pencegahan Kontaminasi SARS-CoV-2 dalam Ruangan Gratia Erlinda Tomasoa; Wani Devita Gunardi; Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2379

Abstract

Virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus-2) termasuk dalam kelompok β-coronavirus yang merupakan virus RNA sense positif rantai tunggal dengan selubung lipid dan penyakit yang disebabkannya disebut Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19. World Health Organization (WHO) secara resmi menyatakan wabah COVID-19 sebagai pandemi global dan pemerintah di seluruh dunia mulai menerapkan strategi untuk memperlambat penyebaran infeksi. Penularan SARS-CoV-2 umumnya melalui droplet tetapi penularan secara airborne (aerosol) juga mungkin terjadi. Ventilasi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi transmisi secara airborne sehingga muncul pertanyaan tentang peran sistem heating, ventilation, and air-conditioning (HVAC) dalam penyebaran COVID-19 di lingkungan dalam ruangan. Penulis hendak mengkaji sumber-sumber kepustakaan yang tersedia yang membahas tentang kontaminasi udara dan area permukaan di lingkungan dalam ruangan dan pengaturan sistem HVAC dalam mencegah penyebaran SARS-CoV-2. Tulisan ini disusun dengan mengkaji 10 artikel jurnal penelitian yang berasal dari PubMed. Hasil kajian didapatkan bahwa pencegahan kontaminasi SARS-CoV-2 di dalam ruangan dengan sistem HVAC dapat dilakukan dengan meningkatkan laju ventilasi, menghindari sirkulasi udara kembali, menggunakan filter udara, ultraviolet germicidal irradiation (UVGI), serta rutin melakukan desinfeksi atau sterilisasi ruangan maupun permukaan.
Pemilihan Antibiotik pada Infeksi Kaki Diabetes Henny Tannady Tan; Ade Dharmawan
Journal of Educational Innovation and Public Health Vol. 2 No. 2 (2024): April : Journal of Educational Innovation and Public Health
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/innovation.v2i2.2703

Abstract

Based on the International Diabetic Federation (IDF), in 2017, the number of people suffering from DM in Indonesia was 10.3 million people, Indonesia was ranked 6th with the highest number of DM patients. Foot ulcers are often the main cause of hospitalization in DM patients, and DM is the main cause of lower extremity amputation in non-traumatic cases. Currently, Indonesia does not yet have a consensus for the management of diabetic foot infections. Management of diabetic foot infections currently uses guidelines from the Infectious Disease Society of America (IDSA) and the International Working Group of Diabetic Foot (IWGDF) for empirical selection of antibiotics. The basic principles of healing diabetic ulcers are adequate arterial perfusion, proper control of infection, and offloading the ulcer area. Empirical selection of antibiotics often coincides with inadequate information regarding microbiological patterns. Choosing an antibiotic with a spectrum that is too narrow will cause pathogens to be overlooked in infections which are often caused by polymicrobial, and cause clinical deterioration in the patient. Unnecessary selection of broad-spectrum antibiotics can contribute to the increasing problem of antibiotic resistance. Mild and moderate infections can be given antibiotics with a narrower spectrum. Severe infections require parenteral administration to reach therapeutic levels immediately.
DISTRIBUSI DAN POLA KEPEKAAN BAKTERI PATOGEN PADA UNIT PERAWATAN INTENSIF SEBUAH RS SWASTA DI JAKARTA Dharmawan, Ade; Gunardi, Wani Devita; Layanto, Nicolas
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i08.P08

Abstract

HAIs merupakan infeksi yang didapat saat pasien mendapatkan perawatan kesehatan. Salah satu faktor terjadinya infeksi nosokomial adalah perawatan di ruang rawat intensif. Penelitian ini menggunakan desain retrospektif potong lintang, menggunakan data sekunder dari data pola bakteri periode Januari – Desember 2020 di salah satu RS Swasta di Jakarta. Hasil penelitian didapatkan 5 bakteri terbanyak pada pasien infeksi di ruang perawatan intensif adalah A. baumannii 32,7%, K. pneumoniae 15,9%, S. maltophilia dan S. epidermidis masing-masing 12%, serta P. aeruginosa 10%. Dari hasil pola sensitivitas antibiotik, A. baumannii sensitif hanya terhadap Colistin (100%), K. pneumonia, cukup baik sensitivitasnya terhadap Amikacin (88,2%) dan Colistin (100%), S. maltophilia sensitif terhadap Trimethoprim-Sulfamethoxazole 84,6% dan Colistin 100%, sedangkan P. aeruginosa masih cukup sensitif terhadap Amikacin (72,7%), Ceftazidime dan Colistin masing-masing 75%.
POLA KEPEKAAN ANTIBIOTIK ORAL PADA INFEKSI SALURAN KEMIH KOMUNITAS PADA PASIEN PEDIATRIK RS X TAHUN 2022 Layanto, Nicolas; Dharmawan, Ade; Gunardi, Wani Devita; Rina, Veronica
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i03.P12

Abstract

Some pediatric urinary tract infection show unspesific symptoms and can be treated as an outpatient. Right oral antibiotic can prevent those infection become more severe. All urin sample from pediatic patient without history of antibiotic before sample were taken were collected for one year to get antibiotic pattern from oral antibiotic such as amoxicillin, amoxicillin clavulanat, cefixime, cotrimoxazole, and fosfomycin from all pathogen. All pediatric patient were classified by age. From 0-1 year group dan 1-3 years old group, Proteus mirabilis, Eschericia coli and Enterococcus sp. are the most common bacteria found while oral antibiotic with highest sentivity are cotrimoxazole and fosfomycin. Most Multi Drug Resistant bacteria found in this study were from 0-1 year old group
Antibiotic Susceptibility Profile in Urinary Tract Infection Patients at Tarakan Regional Hospital Dharmawan, Ade; Wijaya, Pande I Gede Indra; Septiana, Yorisye; Pasaribu, Donna Mesina Rosadini; Tan, Henny Tannady; Simanjuntak, Lasma Susi F.
Muhammadiyah Medical Journal Vol 5, No 1 (2024): Muhammadiyah Medical Journal (MMJ)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mmj.5.1.28-35

Abstract

Background: Urinary tract infections (UTIs) are common in the community and hospital. In Indonesia, the incidence of UTI reaches 180,000 new cases per year. The most common pathogenic bacteria causing UTIs are dominated by Escherichia coli. Early empirical treatment of UTI cases can reduce morbidity. Knowing the pathogenic bacteria involved in urinary tract infections and their antimicrobial susceptibility patterns is necessary to provide appropriate empirical therapy. Purposes: Describe bacterial patterns and susceptibility profiles in urinary tract infection patients. Methods: A retrospective UTI dataset between 2019-2021whom admitted to Tarakan Regional General Hospital with a diagnosis of UTI. Resistance marker data for ESBL were obtained from the results of identification and resistance using the BD PhoenixTM Automated Microbiology System (Becton Dickinson, USA). The data was analyzed descriptively. Results: As many as 40 isolates were analyzed. Consist of E.coli (37.5%), Enterococcus faecium (20%) and Klebsiella pneumoniae (17.5%). The ESBL-producing E.coli bacteria rate reached 60%, while ESBL-producing K. pneumoniae reached 100%. Conclusion: E. coli was the most common pathogen, with the highest antibiotic sensitivity being imipenem, meropenem, and amikacin.
Knowledge and attitudes towards antibiotic resistance among health profession students in Indonesia Syahniar, Rike; Farsida, Farsida; Kosasih, Audia Nizhma Nabila; Mardhia, Mardhia; Bekti, Heri Setiyo; Marpaung, Nurasi Lidya E.; Dharmawan, Ade; Indriyani, Indriyani; Husna, Ismalia; Amany, Hana Amirah
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 13, No 1: March 2024
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v13i1.23139

Abstract

Abuse and overuse of antibiotics cause the increasing prevalence of antibiotic resistance. Doctors, nurses, midwives, and pharmacy professionals play an essential role in providing information and education on the use of antibiotics to the public. This study aims to compare and identify the factors that influence the knowledge and attitudes of students’ medicine, midwifery, pharmacy, and nursing toward antimicrobial resistance. An online crosssectional survey involving 530 medical, midwifery, pharmacy, and nursing students who are currently in the clinical or professional study stage. The Mann–Whitney U test and the Kruskal–Wallis test was run to assess differences in the mean scores of knowledges and attitudes. Factors related to knowledge and attitudes regarding antibiotic resistance were analyzed using linear regression. Most (93%) students have a good level of knowledge and have a positive attitude 49.81%, neutral 43.78%, and negative 6.41%. There was a relationship between age (p=0.012), major (p=0.000), source of information (p=0.013), and knowledge and attitudes about antibiotics (p<0.05). We conclude that there are differences in knowledge and attitudes toward antibiotic resistance among clinical-stage students of medicine, midwifery, pharmacy, and nursing. We found that essential knowledge and attitudes should be revised regarding antibiotic resistance.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Staphylococcus aureus Andini, KD Ayu Asti; Dharmawan, Ade; Layanto, Nicolas
Jurnal MedScientiae Vol. 3 No. 3 (2024): Desember
Publisher : Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/JMedScientiae.v3i3.3473

Abstract

Plants are a source of various types of chemical compounds that have many benefits, one of which is as antibacterial agents. One of the plants known for its antibacterial properties is the moringa leaf (Moringa oleifera). This research aims to determine whether moringa leaves (Moringa oleifera) possess antibacterial activity, as well as to identify the minimum inhibitory concentration and minimum bactericidal concentration of moringa leaf extract against Staphylococcus aureus bacteria. This research method uses the dilution method. The results of the research indicate that moringa leaf extract has antibacterial activity against Staphylococcus aureus at concentrations of 20%, 40%, and 80%. It was found that as the concentration increases, the antibacterial activity inhibiting the growth of Staphylococcus aureus also increases.