Ade Dharmawan
Departemen Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, Indonesia

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Diagnosis dan Penatalaksanaan Melioidosis Ade Dharmawan; Monica Cherlady Anastasia
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v21i56.1258

Abstract

AbstrakMelioidosismerupakan penyakit infeksi yang disebabkan akibat kontak dengantanah dan air yang terkontaminasi oleh bakteriBurkholderiapseudomallei. Melioidosis terjadi secara endemik di Australia Utara dan Asia Tenggara. Infeksi dapat terjadi melalui kulit yang terabrasi, inhalasi, dan tertelan. Gejala klinisnya tidak khas, diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan kultur mikroorganisme penyebab. Terapi antibiotika yang tepat dapat menurunkan mortalitas dan mencegah kekambuhan melioidosis. Kata Kunci: Melioidosis, Burkholderia pseudomallei Abstract Melioidosis is an infectious disease caused by contact with soil and water contaminated by the bacterium Burkholderia pseudomallei. Melioidosis occurs endemic in Northern Australia and Southeast Asia. Infections can occur by skin abrasions, inhalation and ingestion. The clinical symptoms are not typical, definitve diagnosis with cultures of microorganisms. Appropriate antibiotic therapy can reduce mortality and prevent recurrence of melioidosis. Key Words: Melioidosis, Burkholderia pseudomallei
Mekanisme Resistensi Acinetobacter baumannii terhadap Antibiotik Golongan Karbapenem Ade Dharmawan; Nicolas Layanto
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i68.1704

Abstract

Acinetobacter baumannii (A. baumanii) merupakan salah satu spesies Acinetobacter tersering diisolasi dari manusia, dan lebih sering dijumpai pada infeksi nosokomial dibandingkan dengan infeksi di komunitas. Eksistensi bakteri ini di lingkungan terkait dengan keragaman reservoir, kemampuan memperoleh gen pembawa sifat resisten antimikroba, dan sifat resisten terhadap pengeringan. Infeksi disebabkan strain A. baumannii yang resisten terhadap banyak antibiotik tidak mudah dikendalikan dan menjadi permasalahan di berbagai negara. Karbapenem merupakan antibiotik utama yang dipakai untuk mengobati pasien infeksi oleh Acinetobacter sehingga menyebabkan peningkatan resistensi bakteri ini terhadap karbapenem. Mekanisme kerja karbapenem yaitu dengan menghambat polimerisasi dan perlekatan peptidoglikan pada dinding sel. Kurangnya penetrasi obat (mutasi porin dan efflux pumps) dan atau carbapenem-hydrolyzing beta-lactamase enzymes seperti OXA carbapenamases dan metalo-beta-laktamase (MBL) memperantarai terjadinya resistensi karbapenem. Kata Kunci: karbapenem, resistensi antibiotik, Acinetobacter baumannii
Uji Fenotipik Deteksi Enzim ESBL, AmpC dan Karbapenemase pada Bakteri Enterobacteriaceae Ade Dharmawan; Nicolas Layanto
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v25i3.1754

Abstract

Organisms that express extended-spectrum β-lactamase (ESBLs) such as Enterobacteriaceae have been increasing for the past forty years. Organisms that express this enzyme can hydrolyze oxyminocephalosporins and monobactam,but can be inhibited using β-lactam inhibitors. There are various types of enzymes that contribute to cephalosporin and monobactam resistances, such as AmpC β-lactamase, and carbapenemase enzymes. Polymerase Chain Reaction (PCR) is an accurate method for detecting ESBL, but this method is a genotypic method that requires a specialized instrument. Therefore there is a need for a phenotypic method to detect ESBL, AmpC and Carbapenemase that can be conducted in various laboratories.
Gambaran Pola Bakteri dan Kepekaan Antibiotik Pada Pasien Rawat Inap dengan Pneumonia di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Periode Januari – Juni 2019 Theresia Ervina; Ade Dharmawan; Elisabeth D Harahap; Henny Tannady Tan; Rini Latifah
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i2.1936

Abstract

Prevalensi pneumonia menurut Riset Kesehatan Dasar Indonesia pada tahun 2018 yaitu sebesar 2%. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) adalah patogen paling umum penyebab pneumonia. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat untuk terapi empiris sering menimbulkan resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola bakteri dan penggunaan antibiotik terhadap bakteri penyebab pneumonia. Studi dilakukan dengan pendekatan cross-sectional dengan metode deskriptif. Sampel penelitian adalah rekam medis dari pasien terdiagnosis pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Paru dr. M. Goenawan Partowidigdo selama periode Januari–Juni 2019. Sampel ditetapkan secara total population sampling, dimana sebanyak 74 orang memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan pola bakteri penyebab pneumonia didominasi oleh bakteri gram negatif. Dari hasil uji kepekaan antibiotik pada bakteri gram positif, didapatkan antibiotik yang memiliki tingkat sensitivitas di atas 70% adalah linezolid, nitrofurantoin, teicoplanin, dan vancomycin. Sedangkan, pada gram negatif adalah amikacin, gentamicin, imipenem, meropenem, dan piperacillin-tazobactam.
Efektivitas Daya Hambat Disinfektan Klorin terhadap Bakteri Escherichia Coli Penghasil Extended Spectrum Beta Lactamase Donna Mesina Pasaribu; Krisna Fernanda Suryaputra; Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i3.2002

Abstract

Kerja shift adalah pembagian jam kerja dalam waktu 24 jam yang dilakukan secara bergantian biasanya terbagi atas shift pagi, shift sore, dan shift malam. Kerja shift dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi pekerja antara lain dalam aspek fisiologis, psikososial, kinerja, maupun kesehatan dan keselamatan kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan fungsi eksekutif pada pekerja shift dan non shift. Penelitian bersifat analitik observasional dengan pendekatan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-September 2020. Total sampel sebanyak 44 orang yang dipilih dengan teknik consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur, sedangkan untuk menilai fungsi eksekutif menggunakan Trail Making Test A (TMT-A) dan Trail Making Test B (TMT-B). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur dan fungsi eksekutif pada pekerja shift dan non shift (P<0,05). Faktor usia dan pendidikan dapat menjadi penyebab tidak terdapatnya hubungan antara kualitas tidur dengan fungsi eksekutif.
Infeksi dan Pola Kepekaan Stenotrophomonas maltophilia di ICU RS X Nicolas Layanto; Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i1.2310

Abstract

Infeksi Stenotrophomonas maltophilia dapat terjadi di berbagai organ, namun bakteri ini paling sering ditemukan pada paru. Angka kematian pada pasien dengan infeksi S. maltophilia cukup tinggi, tetapi berkaitan erat dengan kondisi pasien. Bakteri ini memiliki kekebalan intrinsik yang luas, antibiotik yang dapat digunakan lebih terbatas, serta diperlukan pengendalian infeksi yang baik dalam penanganannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data prevalensi S. maltophilia di ICU RS X dan pola kepekaannya. Seluruh sampel yang berasal dari ICU diambil dan jika ditemukan S. maltophilia, maka akan dimasukkan ke dalam studi. Ditemukan seluruh sampel dengan pertumbuhan S. maltophilia berasal dari paru, dengan sebagian besar disertai Pneumonia COVID-19. Prevalensi infeksi paru S. maltophilia 25,31%, dengan mortalitas mencapai 52,94%. Ditemukan kepekaan cotrimoxazole 95% dan levofloxacin 83,33%. Cotrimoxazole dan levofloxacin masih ideal untuk menangani infeksi S. maltophilia dengan tetap menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi yang baik.
Purple Urine Bag Syndrome Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i3.2315

Abstract

Purple Urine Bag Syndrome (PUBS) merupakan kasus yang jarang, namun dapat terjadi pada pasien dengan pemasangan kateter yang berkepanjangan, terutama pada keadaan imobilisasi. Kejadian PUBS dikaitkan dengan diet yang mengandung triptofan, urine yang bersifat alkali, konstipasi dan banyaknya bakteri  yang menghasilkan sulfatase/fosfatase pada urine.  Warna ungu yang terjadi disebabkan oleh  adanya kombinasi  pigmen indigo (warna merah) dan indirubin (warna biru) sebagai hasil metabolisme dari diet yang mengandung triptofan. PUBS biasanya tidak berbahaya namun sering membuat pasien cemas. Tatalaksana PUBS adalah dengan mengganti kateter urin dan pemberian antibiotik yang sesuai.
Pengaturan Sistem Heating Ventilation and Air Conditioner (HVAC) untuk Pencegahan Kontaminasi SARS-CoV-2 dalam Ruangan Gratia Erlinda Tomasoa; Wani Devita Gunardi; Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v28i2.2379

Abstract

Virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus-2) termasuk dalam kelompok β-coronavirus yang merupakan virus RNA sense positif rantai tunggal dengan selubung lipid dan penyakit yang disebabkannya disebut Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19. World Health Organization (WHO) secara resmi menyatakan wabah COVID-19 sebagai pandemi global dan pemerintah di seluruh dunia mulai menerapkan strategi untuk memperlambat penyebaran infeksi. Penularan SARS-CoV-2 umumnya melalui droplet tetapi penularan secara airborne (aerosol) juga mungkin terjadi. Ventilasi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi transmisi secara airborne sehingga muncul pertanyaan tentang peran sistem heating, ventilation, and air-conditioning (HVAC) dalam penyebaran COVID-19 di lingkungan dalam ruangan. Penulis hendak mengkaji sumber-sumber kepustakaan yang tersedia yang membahas tentang kontaminasi udara dan area permukaan di lingkungan dalam ruangan dan pengaturan sistem HVAC dalam mencegah penyebaran SARS-CoV-2. Tulisan ini disusun dengan mengkaji 10 artikel jurnal penelitian yang berasal dari PubMed. Hasil kajian didapatkan bahwa pencegahan kontaminasi SARS-CoV-2 di dalam ruangan dengan sistem HVAC dapat dilakukan dengan meningkatkan laju ventilasi, menghindari sirkulasi udara kembali, menggunakan filter udara, ultraviolet germicidal irradiation (UVGI), serta rutin melakukan desinfeksi atau sterilisasi ruangan maupun permukaan.
DISTRIBUSI DAN POLA KEPEKAAN BAKTERI PATOGEN PADA UNIT PERAWATAN INTENSIF SEBUAH RS SWASTA DI JAKARTA Dharmawan, Ade; Gunardi, Wani Devita; Layanto, Nicolas
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i08.P08

Abstract

HAIs merupakan infeksi yang didapat saat pasien mendapatkan perawatan kesehatan. Salah satu faktor terjadinya infeksi nosokomial adalah perawatan di ruang rawat intensif. Penelitian ini menggunakan desain retrospektif potong lintang, menggunakan data sekunder dari data pola bakteri periode Januari – Desember 2020 di salah satu RS Swasta di Jakarta. Hasil penelitian didapatkan 5 bakteri terbanyak pada pasien infeksi di ruang perawatan intensif adalah A. baumannii 32,7%, K. pneumoniae 15,9%, S. maltophilia dan S. epidermidis masing-masing 12%, serta P. aeruginosa 10%. Dari hasil pola sensitivitas antibiotik, A. baumannii sensitif hanya terhadap Colistin (100%), K. pneumonia, cukup baik sensitivitasnya terhadap Amikacin (88,2%) dan Colistin (100%), S. maltophilia sensitif terhadap Trimethoprim-Sulfamethoxazole 84,6% dan Colistin 100%, sedangkan P. aeruginosa masih cukup sensitif terhadap Amikacin (72,7%), Ceftazidime dan Colistin masing-masing 75%.
POLA KEPEKAAN ANTIBIOTIK ORAL PADA INFEKSI SALURAN KEMIH KOMUNITAS PADA PASIEN PEDIATRIK RS X TAHUN 2022 Layanto, Nicolas; Dharmawan, Ade; Gunardi, Wani Devita; Rina, Veronica
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i03.P12

Abstract

Some pediatric urinary tract infection show unspesific symptoms and can be treated as an outpatient. Right oral antibiotic can prevent those infection become more severe. All urin sample from pediatic patient without history of antibiotic before sample were taken were collected for one year to get antibiotic pattern from oral antibiotic such as amoxicillin, amoxicillin clavulanat, cefixime, cotrimoxazole, and fosfomycin from all pathogen. All pediatric patient were classified by age. From 0-1 year group dan 1-3 years old group, Proteus mirabilis, Eschericia coli and Enterococcus sp. are the most common bacteria found while oral antibiotic with highest sentivity are cotrimoxazole and fosfomycin. Most Multi Drug Resistant bacteria found in this study were from 0-1 year old group