Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA MARKER INFLAMASI DENGAN MORTALITAS PASIEN COVID-19 DI UNIT PERAWATAN INTENSIF RS UKRIDA PADA TAHUN 2020 – 2021 Henny Tannady Ta; Suparto Suparto; Clara Valentia Josephine; Ade Dharmawan
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023): Volume 4 Nomor 4 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i4.20557

Abstract

Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan suatu masalah kesehatan yang tengah berlangsung di lebih dari 200 negara di dunia. Indonesia sendiri melaporkan Pada tahun 2022 jumlah ini meningkat menjadi 158.000 pasien yang meninggal karena COVID-19 di Indonesia. Pada bulan September 2022, Indonesia sendiri melaporkan total kasus sebanyak 6.430.000 kasus dan 158.000 kematian (CFR 2,5%). Saat ini banyak data penelitian mengenai kondisi kritis dan hasil dari perawatan pasien COVID-19, namun masih sedikit diketahui mengenai penanda potensial untuk kondisi kritis pasien. Penelitian ini merupakan penelitian analitis korelasional dengan disain Retrospektif kohort Study. Jenis kelamin laki-laki mendominasi perawatan dan mortalitas di ruang intensif COVID-19 dengan mayoritas usia yang dirawat rata-rata 57,75 tahun. Analisis univariat marker inflamasi menunjukkan mayoritas jumlah leukosit normal , kadar CRP meningkat, procalcitonin normal, albumin darah menurun dan NLR meningkat. Analisis bivariat menunjukkan variabel procalcitonin (p= 0,021) mempunyai hubungan signifikan dengan mortalitas COVID-19. Sedangkan variabel jumlah leukosit, CRP, Albumin darah, dan NLR tidak berhubungan signifikan dengan mortalitas. Marker inflamasi procalcitonin merupakan variabel yang paling dominan dengan mortalitas COVID-19 (p=0,021; OR=2,97; 95%CI (1,248-7,098). Marker inflamasi Procalsitonin yang meningkat mempunyai peluang 2,97 kali lebih besar untuk terjadi Mortalitas Covid 19 dibanding pasien dengan kadar procalsitonin normal di Unit Perawatan Intensif RS Ukrida pada tahun 2020-2021.Marker inflamasi prokalsitonin dapat dipertimbangkan sebagai faktor prediktor tingkat keparahan gejala COVID-19 serta memprediksi risiko mortalitas pasien. sehingga para klinisi dapat mempersiapkan kemungkinan hal buruk yang dapat terjadi pada pasien.
Efektivitas Ceftazidime-Avibactam terhadap Bakteri Gram Negatif Penghasil Enzim Karbapenemase Ade Dharmawan; Nicolas Layanto
Jurnal MedScientiae Vol. 1 No. 1 (2022): August
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Ukrida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jmedscie.v1i1.2453

Abstract

Antibiotic therapy is a major concern in the health sector. There is an increase in the resistance of gram-negative bacteria that produce carbapenemase enzymes to certain antibiotics, especially the β-lactam group, thus creating a new challenge for the health world to find stronger antibiotics to fight the resistance of these gram-negative bacteria. Currently, there are several new antibiotics that have been approved as treatment options, such as Ceftazidime-Avibactam. It is hoped that this new treatment can be an option, especially for gram-negative bacteria that produce carbapenemase enzymes.  
Pengaruh Pemberian Probiotik pada Infeksi Clostridium Difficile Ade Dharmawan; Dhimas Garin Dewa Agista; Sinsanta Sinsanta; Nicolas Layanto; Deby Deby
Jurnal MedScientiae Vol. 1 No. 2 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Ukrida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jmedscie.v1i2.2567

Abstract

Clostridium difficile (C. difficile) is a gram-positive, anaerobic, spore-forming bacterium, and is an important pathogen in antibiotic-associated diarrhea. These bacteria are normal flora in the human digestive tract but can become pathogenic and form toxins consisting of 2, namely toxin A and toxin B. Due to antibiotics including risk factors for C. difficile infection (CDI), the treatment that can be given is probiotics. Probiotics may be effective in the prevention and treatment of CDI in several ways: alteration of gut flora, enhancement of antimicrobial activity, and as immunomodulators. The effect of probiotics, the method of administration, and the varying duration of administration make probiotics unable to be used as a therapy for C. difficile infection. However, probiotics can still be an option for adjuvant therapy in the treatment of CDI.
Hubungan Antara Vulva Hygiene Dan Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim dengan Keputihan pada Wanita Usia Subur Petri Damiani Anindyajati; Ade Dharmawan; Nicolas Layanto; Monica Cherlady
Jurnal MedScientiae Vol. 2 No. 1 (2023): April
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Ukrida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jmedscientiae.v2i1.2821

Abstract

Pathological vaginal discharge is an abnormal disorder that often occurs in women of childbearing age and is characterized by a white discharge with a thick, white-yellow or white-greenish consistency, sometimes accompanied by an unpleasant odor and itching, often caused by several problems such as vulvovaginal infections. This happens because the composition of the vaginal microflora changes, which is influenced by internal factors (age, hormonal changes during menarche, menstruation, and pregnancy) and external factors (hygiene practices, sexual relations, and contraceptive use). The purpose of this article is to look at the relationship between vulva hygiene and intrauterine contraceptives with the incidence of vaginal discharge in women of childbearing age. The data was searched using Google Scholar and PubMed and found 8 articles that met the criteria. Various risk factors that affect the occurrence of vaginal discharge due to the use of non-hormonal intrauterine contraceptive devices that occur in women of childbearing age and through good vulvar hygiene behavior, can reduce the risk of physiological and pathological vaginal discharge. Based on the analysis conducted, it was concluded that there is a relationship between vulva hygiene and the use of intrauterine contraceptive devices with vaginal discharge in women of childbearing age
Correlation Between Vulva Hygiene And Intrauterine Device Use And The Event Of Vaginal Discharge In Women Of Reproductive Age Petri Damiani; Ade Dharmawan; Nicolas Layanto; Donna Mesina Rosadini Pasaribu
Jurnal MedScientiae Vol. 2 No. 3 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Ukrida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/JMedScientiae.v2i3.2857

Abstract

Pathological leucorrhoea is an abnormal disorder in women of childbearing age that occurs in the body in the form of thick white, yellowish, greenish discharge. This is because the composition of the vaginal microflora fluctuates as a function of internal factors such as age,hormonal changes during menarche,menstruation,and pregnancy. External factors such as hygiene practices, sexual relations, and contraceptive use.In the use of Intrauterine devices, there is vaginal discharge that occurs as a result of the initial reaction to the presence of a foreign body, the use of intrauterine contraceptives which can change the chemical balance of the vagina and is thought to cause vaginitis. The research method for this literature review analyzed 8 research articles and assessed the articles based on predetermined inclusion and exclusion criteria. This literature reviews various risk factors that influence the occurrence of vaginitis due to the use of non-hormonal intrauterine contraceptive devices that occur in women of childbearing age and through good vulva hygiene behavior,can reduce the risk of physiological and pathological vaginal discharge.Based on these sources,it can be concluded that there is a relationship between vulva hygiene and the use of Intrauterine device with the incidence of vaginal discharge in women of childbearing age.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Melioidosis Ade Dharmawan; Monica Cherlady Anastasia
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v21i56.1258

Abstract

AbstrakMelioidosismerupakan penyakit infeksi yang disebabkan akibat kontak dengantanah dan air yang terkontaminasi oleh bakteriBurkholderiapseudomallei. Melioidosis terjadi secara endemik di Australia Utara dan Asia Tenggara. Infeksi dapat terjadi melalui kulit yang terabrasi, inhalasi, dan tertelan. Gejala klinisnya tidak khas, diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan kultur mikroorganisme penyebab. Terapi antibiotika yang tepat dapat menurunkan mortalitas dan mencegah kekambuhan melioidosis. Kata Kunci: Melioidosis, Burkholderia pseudomallei Abstract Melioidosis is an infectious disease caused by contact with soil and water contaminated by the bacterium Burkholderia pseudomallei. Melioidosis occurs endemic in Northern Australia and Southeast Asia. Infections can occur by skin abrasions, inhalation and ingestion. The clinical symptoms are not typical, definitve diagnosis with cultures of microorganisms. Appropriate antibiotic therapy can reduce mortality and prevent recurrence of melioidosis. Key Words: Melioidosis, Burkholderia pseudomallei
Virus Penyebab Infeksi pada Otot Ade Dharmawan
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 66 APRIL-JUNI 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i66.1644

Abstract

Otot merupakan massa jaringan lunak terbesar didalam tubuh, yang memiliki peran utama untuk menjaga postural tubuh dan sebagai penggerak. Miositis merupakan peradangan pada otot dan biasanya terjadi nekrosis, disebabkan terutama karena penyebaran dan invasi patogen bakteri atau virus secara hematogen ke otot. Miositis merupakan penyakit yang jarang. Angka kejadian miositis diperkirakan sebesar 50.000-70.000 orang pada tahun 2011 di Amerika Serikat. Virus merupakan penyebab tersering miositis infeksi nonbakteri, miositis viral seringkali memberikan gambaran klinis berupa mialgia, miositis multifokal, dan rhabdomiolisis. Penegakkan diagnosis miositis sangat penting dalam penatalaksanaan kasus, diagnosis dapat ditegakan bila ditemukan pengumpulan cairan radang pada pemeriksaan pencitraan. Uji diagnostik dengan pewarnaan Gram dan Gomori-Grocott methenamine silver (GMS), pemeriksaan histopatologi, kultur, dan pemeriksaan standar untuk virus.Kata Kunci: infeksi virus, miositis, rhabdomiolisis
Mekanisme Resistensi Acinetobacter baumannii terhadap Antibiotik Golongan Karbapenem Ade Dharmawan; Nicolas Layanto
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i68.1704

Abstract

Acinetobacter baumannii (A. baumanii) merupakan salah satu spesies Acinetobacter tersering diisolasi dari manusia, dan lebih sering dijumpai pada infeksi nosokomial dibandingkan dengan infeksi di komunitas. Eksistensi bakteri ini di lingkungan terkait dengan keragaman reservoir, kemampuan memperoleh gen pembawa sifat resisten antimikroba, dan sifat resisten terhadap pengeringan. Infeksi disebabkan strain A. baumannii yang resisten terhadap banyak antibiotik tidak mudah dikendalikan dan menjadi permasalahan di berbagai negara. Karbapenem merupakan antibiotik utama yang dipakai untuk mengobati pasien infeksi oleh Acinetobacter sehingga menyebabkan peningkatan resistensi bakteri ini terhadap karbapenem. Mekanisme kerja karbapenem yaitu dengan menghambat polimerisasi dan perlekatan peptidoglikan pada dinding sel. Kurangnya penetrasi obat (mutasi porin dan efflux pumps) dan atau carbapenem-hydrolyzing beta-lactamase enzymes seperti OXA carbapenamases dan metalo-beta-laktamase (MBL) memperantarai terjadinya resistensi karbapenem. Kata Kunci: karbapenem, resistensi antibiotik, Acinetobacter baumannii
Uji Fenotipik Deteksi Enzim ESBL, AmpC dan Karbapenemase pada Bakteri Enterobacteriaceae Ade Dharmawan; Nicolas Layanto
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v25i3.1754

Abstract

Organisms that express extended-spectrum β-lactamase (ESBLs) such as Enterobacteriaceae have been increasing for the past forty years. Organisms that express this enzyme can hydrolyze oxyminocephalosporins and monobactam,but can be inhibited using β-lactam inhibitors. There are various types of enzymes that contribute to cephalosporin and monobactam resistances, such as AmpC β-lactamase, and carbapenemase enzymes. Polymerase Chain Reaction (PCR) is an accurate method for detecting ESBL, but this method is a genotypic method that requires a specialized instrument. Therefore there is a need for a phenotypic method to detect ESBL, AmpC and Carbapenemase that can be conducted in various laboratories.
Gambaran Pola Bakteri dan Kepekaan Antibiotik Pada Pasien Rawat Inap dengan Pneumonia di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Periode Januari – Juni 2019 Theresia Ervina; Ade Dharmawan; Elisabeth D Harahap; Henny Tannady Tan; Rini Latifah
Jurnal Kedokteran Meditek Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v27i2.1936

Abstract

Prevalensi pneumonia menurut Riset Kesehatan Dasar Indonesia pada tahun 2018 yaitu sebesar 2%. Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) adalah patogen paling umum penyebab pneumonia. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat untuk terapi empiris sering menimbulkan resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola bakteri dan penggunaan antibiotik terhadap bakteri penyebab pneumonia. Studi dilakukan dengan pendekatan cross-sectional dengan metode deskriptif. Sampel penelitian adalah rekam medis dari pasien terdiagnosis pneumonia yang dirawat inap di Rumah Sakit Paru dr. M. Goenawan Partowidigdo selama periode Januari–Juni 2019. Sampel ditetapkan secara total population sampling, dimana sebanyak 74 orang memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan pola bakteri penyebab pneumonia didominasi oleh bakteri gram negatif. Dari hasil uji kepekaan antibiotik pada bakteri gram positif, didapatkan antibiotik yang memiliki tingkat sensitivitas di atas 70% adalah linezolid, nitrofurantoin, teicoplanin, dan vancomycin. Sedangkan, pada gram negatif adalah amikacin, gentamicin, imipenem, meropenem, dan piperacillin-tazobactam.