Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Dekolonialisasi servant leadership: Karakter, kritik, dan rekonstruksi tata kelola eklesial dalam konteks indonesia Jonathan Leobisa
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1500

Abstract

The "servant leadership" discourse has achieved quasi-dogmatic status in contemporary Christian leadership, yet rarely undergoes critical interrogation of its epistemological assumptions and political implications. This article argues that the uncritical adoption of servant leadership in Indonesian church governance perpetuates colonial patterns through the depoliticization of biblical servanthood, the domestication of service rhetoric that conceals untransformed hierarchical power relations, and the reproduction of Western governance models as universal templates while marginalizing indigenous communal wisdom. Through critical analysis, this study identifies four constitutive characteristics of servant leadership discourse: individualization, moralization, leader-centrism, and ahistoricity. The reconstructive section develops an alternative paradigm of "Participatory-Communal Governance" that integrates early church practices (Acts 2:42-47; 1 Corinthians 12:12-27) with Indonesian indigenous wisdom—gotong royong, tepo seliro, and musyawarah-mufakat—proposing a distributed authority based on charismata, facilitative rotation, and communal deliberation.   Abstrak Diskursus "servant leadership" telah mencapai status quasi-dogmatis dalam kepemimpinan Kristiani kontemporer, namun jarang mengalami interogasi kritis atas asumsi epistemologis dan implikasi politisnya. Artikel ini mengargumentasikan bahwa adopsi tanpa kritik terhadap servant leadership dalam tata kelola gereja Indonesia melanggengkan pola-pola kolonial melalui depolitisasi servanthood biblika, domestikasi retorika pelayanan yang menyembunyikan relasi kekuasaan hierarkis yang tidak tertransformasi, dan reproduksi model governansi Barat sebagai template universal dengan memarjinalkan kearifan komunal indigenous. Melalui analisis kritis, studi ini mengidentifikasi empat karakter konstitutif diskursus servant leadership: individualisasi, moralisasi, leader-sentrisme, dan ahistorisitas. Bagian rekonstruktif mengembangkan alternatif paradigma "Governansi Partisipatif-Komunal" yang mengintegrasikan praktik gereja mula-mula (Kis 2:42-47; 1 Kor 12:12-27) dengan kearifan indigenous Indonesia—gotong royong, tepo seliro, dan musyawarah-mufakat—mengusulkan distribusi otoritas berbasis charismata, rotasi fasilitatif, dan deliberasi komunal.
PELATIHAN PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS IT DI DESA LUNU KECAMATAN NUNLEU KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN Andrian Wira Syahputra; Jonathan Leobisa; Yakobus Adi Saingo
Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM) Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM), Vol 5 No 2 (2024)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MUARA BUNGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52060/jppm.v5i2.2422

Abstract

The learning presented by teachers must be interesting, so that it can arouse students' enthusiasm and interest in learning, therefore teachers need to be equipped to create creative learning activities, including by utilizing IT which is centered on the use of Canva and learning videos via Power Point. Training through PkM activities aims to provide teachers with an understanding of the importance of IT-based learning media, as an effort to improve the process and quality of learning in schools, and how schools cannot avoid facing the era of modernization and the internet. PkM (Community Service) activities are carried out in the form of education and training in making IT-based learning media. The training material delivery method consists of lecture, question and answer, discussion and direct practice in creating IT-based learning media. The training results show that participants' understanding and mastery of the material regarding creating IT-based learning media has increased after attending the training compared to before. Apart from that, training participants already have the skills and ability to create their own learning media, such as making learning videos using Power Point and using the Canva application to create weekly and monthly activity schedules to support the smooth running of various activities at school.
Upaya Penguatan Pendidikan Karakter Di Sekolah Berbasis Integrasi Nilai-Nilai Karakter Dalam Kearifan Lokal Anita Yelinda Astuti Landena; Jonathan Leobisa
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ghhzva49

Abstract

Penguatan pendidikan karakter di sekolah merupakan upaya strategis dalam membentuk kepribadian peserta didik secara utuh di tengah tantangan globalisasi dan krisis moral. Pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada penguasaan aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan nilai, sikap, dan perilaku yang berlandaskan moral dan budaya. Salah satu pendekatan yang relevan dalam penguatan pendidikan karakter adalah integrasi nilai-nilai karakter dalam kearifan lokal. Kearifan lokal mengandung nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong royong, toleransi, dan kepedulian sosial yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui penghimpunan dan penelaahan berbagai dokumen tertulis, visual, dan elektronik yang relevan dengan topik kajian. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai karakter berbasis kearifan lokal dapat dilakukan melalui kurikulum, proses pembelajaran, budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Guru memiliki peran sentral sebagai teladan dan fasilitator dalam menanamkan nilai karakter melalui pendekatan kontekstual dan partisipatif. Integrasi ini membantu peserta didik memahami dan menginternalisasi nilai karakter secara nyata dan berkelanjutan. Dengan demikian, penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal menjadi pendekatan yang efektif dalam membentuk peserta didik yang berintegritas, berbudaya, dan siap menghadapi tantangan kehidupan secara bertanggung jawab.
Menjunjung Pembentukan Karakter Berbasis Nilai Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Arista Suki; Jonathan Leobisa; Yakobus Adi Saingo
Educational Journal Vol. 1 No. 2 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/d0ftyk45

Abstract

Pendidikan Agama Kristen memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan dan membentuk karakter Kristiani pada siswa di sekolah. Pendidikan ini tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan iman secara kognitif, tetapi juga berfokus pada pembinaan sikap, nilai, dan perilaku yang mencerminkan ajaran Yesus Kristus, seperti kasih, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan integritas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yaitu mengkaji berbagai buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam pembentukan karakter siswa. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen memegang peran strategis sebagai pengajar, pembimbing, teladan, motivator, dan pendamping rohani bagi peserta didik. Keteladanan hidup guru yang mencerminkan karakter Kristus menjadi faktor utama dalam keberhasilan pendidikan karakter. Selain itu, lingkungan sekolah yang kondusif, budaya sekolah yang positif, serta kerja sama antara sekolah, keluarga, dan gereja turut mendukung proses internalisasi nilai-nilai Kristiani. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen berkontribusi secara signifikan dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan moral, serta mampu menjadi pribadi yang beriman dan berkarakter dalam kehidupan bermasyarakat.
Korban Ke Penyitas: Upaya Sekolah Mengatasi Bullying Fisik Melalui Pendekatan Empatik Yasinta Emalia Waang; Jeanne Paula Konay; Fenetson Pairikas; Jonathan Leobisa; Yakobus Adi Saingo
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 2 No. 2 (2025): Juli - September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perundungan fisik di sekolah berdampak serius pada perkembangan psikologis dan sosial siswa. Sayangnya, pendekatan hukuman seringkali gagal memulihkan korban sepenuhnya. Artikel ini membahas bagaimana pendekatan empati dapat menjadi strategi efektif dalam membantu siswa korban perundungan untuk bertransformasi menjadi penyintas. Empati, yang terdiri dari dimensi kognitif, afektif, dan welas asih, diterapkan sebagai dasar tindakan restoratif yang mendorong pemulihan emosional dan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan desk study, dengan data dikumpulkan dari berbagai literatur seperti buku, jurnal ilmiah, dan prosiding. Data dianalisis secara reduktif, mengungkapkan bahwa peran aktif guru, konselor, teman sebaya, serta keterlibatan keluarga dan lembaga keagamaan seperti gereja, merupakan kunci untuk menciptakan lingkungan sekolah yang suportif dan aman. Dengan pendekatan ini, sekolah tidak hanya mencegah kekerasan tetapi juga menumbuhkan budaya penyembuhan dan pemberdayaan.
Membangun Jiwa Entrepreneur Berbasis Pendidikan Karakter Kristiani Di SMKN 5 Kupang Blandina Octavianus; Yakobus Adi Saingo; Jonathan Leobisa
Jurnal Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran Vol. 1 No. 2 (2026): Edisi Januari-Maret
Publisher : Pustaka Bangsa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengembangan jiwa kewirausahaan berbasis pendidikan karakter Kristen di SMKN 5 Kupang agar peserta didik tidak hanya kompeten secara vokasional, tetapi juga memiliki landasan etis dan spiritual dalam menghadapi dunia usaha. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur untuk mengkaji konsep pendidikan karakter. Analisis data dilakukan melalui reduksi dan interpretasi temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter merupakan proses sadar dan terarah dalam menanamkan nilai moral berakar pada iman Kristen, sehingga membentuk pribadi berintegritas, bertanggung jawab, dan berkarakter kuat. Nilai kasih, kejujuran, disiplin, komunikasi, dan ketekunan menjadi fondasi utama dalam membangun etika kewirausahaan yang tidak semata berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada pelayanan dan kemuliaan Tuhan. Implementasi dilakukan melalui keteladanan guru, pembiasaan rohani, dan integrasi kegiatan kewirausahaan dalam pembelajaran.