Articles
HUBUNGAN ANTARA ADAPTASI KARIR DAN JOB HOPPING INTENTION PADA KARYAWAN GENERASI Z
Melsi Ranita Tamanampo;
Doddy Hendro Wibowo
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 3: Agustus 2025
Publisher : Bajang Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara adaptasi karir dan job hopping intention pada karyawan generasi Z. Adaptasi karir dipandang sebagai kompetensi psikososial yang berperan dalam menghadapi perubahan dan tantangan pekerjaan, sedangkan job hopping intention adalah kecenderungan individu untuk sering berpindah pekerjaan dalam waktu singkat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel berjumlah 156 responden berusia 15–28 tahun yang telah melakukan perpindahan kerja dalam waktu 1–2 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Career Adapt-Abilities Scale (CAAS) dan skala Job Hopping dari Lake et al. (2017). Hasil analisis Pearson menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara adaptasi karir dan job hopping intention (r = -0,014; p = 0,859). Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor lain di luar adaptasi karir kemungkinan memiliki pengaruh lebih besar terhadap intensi karyawan untuk berpindah kerja
Hubungan Antara Konsep Diri dan Kematangan Karier Siswa SMA “X” di Salatiga
Hartono, Oei Yanashia Siswo;
Wibowo, Doddy Hendro
Action Research Literate Vol. 7 No. 11 (2023): Action Research Literate
Publisher : Ridwan Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46799/arl.v7i11.203
Karier adalah hal yang sangat penting bagi manusia, maka dari itu individu harus memiliki kematangan karier yang baik dan salah satu yang mempengaruhi kematangan karier adalah konsep diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan antara konsep diri dan kematangan karier pada siswa SMA “X” di Salatiga. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian secara kuantitatif dengan teknik total sampling, total populasinya adalah 126 siswa. Metode analisis data menggunakan korelasi product moment dari Pearson. Terdapat dua skala yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu skala konsep diri dan skala kematangan karier. Hasil dari penelitian yaitu terdapat korelasi sebesar r = 0,322 dengan p = 0,001 (p<0,05), hal ini terdapat hubungan yang signifikan positif antara konsep diri dan kematangan karier. Artinya bila konsep diri tinggi maka kematangan karier juga tinggi, sebaliknya jika konsep diri rendah maka kematangan karier juga rendah. Hasil penelitian ini dalam menjadi acuan para guru BK untuk dapat membimbing siswa untuk memiliki konsep diri yang baik. Sehingga siswa dapat memiliki kematangan karier yang baik.
HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA REMAJA AWAL
Claudia Maysitta Yuslin Nanda;
Doddy Hendro Wibowo
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 6 (2025): Nopember 2025
Publisher : Bajang Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kewajiban utama remaja awal adalah belajar, yang mencakup menyelesaikan tugas tepat waktu dan menghadapi tantangan dengan baik. Akan tetapi, saat ini banyak remaja awal yang terbiasa menunda pekerjaannya terutama yang berkaitan dengan sekolah atau bisa disebut dengan prokrastinasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dengan prokrastinasi akademik pada remaja awal. Sampel pada penelitian ini dipilih menggunakan teknik quota sampling, dengan jumlah responden sebanyak 58 remaja awal aktif SMP Atmaja Wacana dari kelas 7-9. Metode pengumpulan data menggunakan Skala Motivated Strategies for Learning Questionnaire untuk mengukur motivasi belajar dan Skala Pure Procrastination Scale untuk mengukur prokrastinasi akademik. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji korelasi dari Pearson Product Moment. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan nilai koefisien antara prokrastinasi akademik dan motivasi belajar adalah 0,087 dengan nilai signifikansi = 0,514 (p > 0,05) yang berarti keduanya tidak memiliki hubungan yang signifikan. Maka dari itu, motivasi belajar tidak secara signifikan berhubungan dengan prokrastinasi akademik.
Self-Compassion with Loneliness in Late Teens Who Are Migrating
Biring, Reski Natalia;
Wibowo, Doddy Hendro
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 1 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i1.13432
Late adolescence is a time when individuals begin to prepare themselves to determine their future. For this reason, many teenagers choose to migrate for the sake of their desired future, but late teens often experience loneliness. To reduce feelings of loneliness, teenagers need to increase self compassion for themselves. This research aims to determine the relationship between self compassion and loneliness in late adolescents who are migrating. This study uses a quantitative approach. The number of samples in this study was 203 young people who were currently migrating, sampling using the quota sampling technique. The measuring instrument used in this research is the Self Compassion Scale (SCS). Loneliness scale version 3 (UCLA version 3). The data analysis technique used is the Pearson Product Moment correlation technique. The results of this study show a correlation coefficient of r = -0.510 with a significance value of 0.000 (p<0.01), which means there is a significant negative relationship between self compassion and loneliness in late adolescents who are migrating. This means that the higher the self compassion, the lower the level of loneliness experienced by teenagers who are migrating. Vice versa, the lower self compassion, the higher the level of loneliness experienced by teenagers who are migrating. The implication of this research is that late adolescents who are migrating are not immersed in feelings of loneliness and need to increase self compassion by carrying out activities according to their own desires or are popular which provide benefits for themselves and the people around them, to avoid feelings of loneliness.Masa remaja akhir merupakan masa dimana individu mulai mempersiapkan diri untuk menentukan masa depan. Oleh sebab itu banyak remaja memilih untuk merantau demi masa depan yang diinginkan, namun remaja akhir sering mengalami loneliness. Untuk mengurangi perasaan loneliness maka remaja perlu meningkatkan self compassion pada dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self compassion dengan loneliness pada remaja akhir yang sedang merantau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 203 remaja akhir yang sedang merantau, pengambilan sampel pada menggunakan teknik quota sampling. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini yaitu skala Self-Compassion Scale (SCS). Skala Loneliness scale version 3 (UCLA versi 3). Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian ini menunjukan koefisien korelasi r = -0.510 dengan nilai signifikansi 0.000 (p<0.01) yang berarti terdapat hubungan negatif signifikan antara self compassion dengan loneliness pada remaja akhir yang sedang merantau. Artinya, semakin tinggi self compassion maka semakin rendah tingkat loneliness yang dimiliki remaja yang sedang merantau. Begitu pun sebaliknya, semakin rendah self compassion maka semakin tinggi tingkat loneliness yang dimiliki remaja yang sedang merantau. Implikasi dari penelitian ini, yaitu remaja akhir yang sedang merantau tidak terlarut dalam perasaan loneliness dan perlu meningkatkan self compassion dengan melakukan aktivitas sesuai dengan keinginan diri sendiri atau digemari yang memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang disekitar, sehingga terhindar dari perasaan loneliness.
Locus of Control and Psychological Capital: The Key to Success for Thrifting Entrepreneurs
Bangsa, Galang Sukma;
Wibowo, Doddy Hendro
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.15123
Psychological capital is one of the important personal resources for entrepreneurs, especially when they are in a less conducive environment. In addition to psychological capital, locus of control is also an important element in influencing an entrepreneur in running his business. This study aims to determine the relationship between locus of control and psychological capital in thrifting entrepreneurs. This study used snowball sampling technique and involved 110 thrifting entrepreneurs. The data collection method used the IPC-Locus of Control Scale and Psychological Capital Questionnaire-24 (PCQ-24). Based on the results of data analysis using Spearman rank correlation coefficient, the correlation coefficient between internal locus of control and psychological capital is 0.235 with a p value of 0.007 (p < 0.05) and the correlation coefficient between external locus of control and psychological capital is -0.259 with a p value of 0.003 (p < 0.05). Thus, thrifting entrepreneurs with high internal locus of control tend to have high psychological capital. The effort that thrifting entrepreneurs can make to increase psychological capital is to believe that everything that happens to their business is dominated by internal factors such as their ability to manage their business plays an important role in the progress of their business.Psychological capital merupakan salah satu sumber daya pribadi yang penting bagi wirausahawan, terutama saat berada dalam lingkungan yang kurang kondusif. Selain psychological capital, locus of control juga merupakan elemen yang penting dalam mempengaruhi seorang wirausahawan dalam menjalankan usahanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara locus of control dengan psychological capital pada wirausahawan thrifting. Penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling dan melibatkan wirausahawan thrifting sejumlah 110 orang. Metode pengumpulan data menggunakan Skala IPC-Locus of Control dan Psychological Capital Questionnaire-24 (PCQ-24). Berdasarkan hasil analisis data menggunakan Spearman rank correlation coefficient, didapatkan koefisien korelasi antara locus of control internal dengan psychological capital sebesar 0,235 dengan nilai p sebesar 0,007 (p < 0,05) dan koefisien korelasi antara locus of control eksternal dengan psychological capital sebesar -0,259 dengan nilai p sebesar 0,003 (p < 0,05). Dengan demikian, wirausahawan thrifting dengan locus of control internal tinggi cenderung memiliki psychological capital yang tinggi. Upaya yang dapat dilakukan wirausahawan thrifting untuk meningkatkan psychological capital adalah dengan meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pada usahanya didominasi oleh faktor internal seperti kemampuannya dalam mengelola usaha berperan penting dalam kemajuan usahanya.
Korelasi antara pengambilan keputusan resiko dan intensi berkarir wirausaha pada mahasiswa
Lestyorini, Endah Nurul;
Wibowo, Doddy Hendro
JURNAL SPIRITS Vol 12 No 1 (2021): November 2021
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30738/spirits.v12i1.12715
Salah satu penyebab meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia adalah tingginya angka penggangguran terdidik. Permasalahan pengangguran tersebut dapat diatasi dengan cara menciptakan lowongan kerja mandiri melalui kegiatan berwirausaha. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah hubungan pengambilan risiko dan intensi berkarier wirausaha pada mahasiswa di universitas swasta XX. Mahasiswa aktif sebanyak 337 orang dipilih sebagai sampel, dengan teknik non-probability sampling. Hasil analisis data menunjukan nilai koefisien r=0,751 (p<0.05) artinya ada hubungan positif yang signifikan antara pengambilan risiko dan intensi berkarir wirausaha mahasiswa universitas swasta XX. Implikasi penelitian ini mahasiswa dapat memulai sebuah usaha untuk mengaktualisasikan keinginannya untuk berwirausaha dengan keberanian menghadapi dan mempertanggungjawabkan risiko yang akan muncul ketika berwirausaha
Gambaran karakter diri pelaku seni tari prajuritan di desa Banyubiru
Yuwono, Emmanuel Satyo;
Wibowo, Doddy Hendro
JURNAL SPIRITS Vol 13 No 2 (2023): May 2023
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30738/spirits.v13i2.15814
Prajuritan is a war dance where a group of men and women dance together. Warrior dance, full of meaning, is a form of local wisdom that the people in Banyubiru Village, Semarang Regency, Central Java Province live. This research aimed to discover the self-characteristic description of Tari Prajuritan performers in Banyubiru Village. This study implemented a phenomenological-descriptive qualitative method. The data were collected through interviews and observation. The participants in this study were 3 Tari Prajuritan dancers from Banyubiru Village. The research results on the self-characteristic description of Tari Prajuritan dancers include firmness in decision-making, a confident character in relationships, responsibility, and an attitude toward serving others.
Enhancing self-determination to optimize career decision-making
Sagala, Selfi Priska;
Wibowo, Doddy Hendro
JURNAL SPIRITS Vol 14 No 1 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30738/spirits.v14i1.15836
This researcher is important for teenagers who still have anxiety about their desired career because one of the factors in making career decisions is self-determination which can help teenagers in making career decisions because self-determination is the drive that exists within an individual to achieve life goals, especially career. From the explanation above, the aim of this research is to answer the existence of a relationship between self-determination and career decision making among teenagers in Salatiga City Orphanage. The method used in this research uses quantitative methods with a quantitative correlational research design. The data collection technique used in this research was distributing psychological scales in the form of a physical questionnaire. The sampling technique used is nonprobability sampling with purposive sampling technique. The population of this study were teenagers in Salatiga City Orphanage with 105 subjects. The sampling technique used was purposive sampling. The research results showed a correlation of 0.523 (p<0.05), which means there is a significant positive relationship between self-determination and career decision making among teenagers in Salatiga City Orphanage. So that teenagers who have good self-determination will find it easier to make career decisionsthat suit their abilities
Hubungan Dukungan Sosial Teman Sebaya dan Psychological Well-Being Pada Mahasiswa Rantau Pasca Pandemi
Santoso, Aldofo Yofino;
Wibowo, Doddy Hendro
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/innovative.v4i4.13544
Mahasiswa rantau akan dihadapkan dengan situasi-situasi dan tuntutan baru yang dapat memicu stress. Untuk menghadapai tuntutan dan situasi tersebut maka diharapkan memiliki psychological well-being agar tidak menghambat dalam proses perkuliahan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah ada hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan psychological well-being pada mahasiswa rantau pasca pandemic. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan Sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah partisipan sebanyak 200 responden. Alat ukur dukungan sosial menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MPPS), alat ukur psychological well-being menggunakan Ryff Psychological Well-Being Scale. Hasil perhitungan uji korelasi product moment dari Karl Pearson antara dukungan sosial dengan psychological well-being diperoleh pearson correlation sebesar 0,659 dengan sig.= 0,004 (p<0,05) Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan psychological well-being. Studi ini menyarankan bahwa meningkatkan dukungan sosial dan psychological well-being bagi mahasiswa perantau menjadi peran penting dalam menjalani perkuliahan.
PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DAN BURNOUT PADA KARYAWAN PRODUKSI YANG BEKERJA SECARA MONOTONI
Wibisono, Agustinus Yogi;
Wibowo, Doddy Hendro
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33024/jpm.v6i2.10139
Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara psychological well-being dan burnout para karyawan produksi yang bekerja secara monotoni di PT. XYZ. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan analisa statistik parametris dengan teknik regresi linier sederhana. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 150 karyawan produksi yang bekerja secara monotoni di PT. XYZ. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah psychological well-being scales dan burnout scales. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa psychological well-being memiliki hubungan negatif signifikan terhadap burnout. Temuan ini menunjukan bahwa tingkat psychological well-being karyawan produksi yang bekerja secara monotoni di PT. XYZ berada pada tingkatan yang rendah dan memiliki tingkat burnout yang tinggi. Pada penelitian ini, peneliti juga menyarankan perusahaan untuk meningkatkan psychological well-being karyawannya supaya mencegah terjadinya burnout dan berdampak pada peningkatan produktivitas perusahaan Kata Kunci: Psychological Well-Being, Burnout, Monotoni AbstractThe purpose of this study was to determine whether there is a correlation between psychological well-being and burnout of production employees who work monotonously at PT. XYZ. This study used quantitative methods and parametric statistical analysis with simple linear regression techniques. Sample determination in this study used purposive sampling technique with a total sample of 150 production employees who worked monotonously at PT. XYZ. The measuring instruments used in this study were psychological well-being scales and burnout scales. The results of the analysis were obtained with a correlation number of -0.666 and a significance value of 0.000 (p<0.05). The results of this study showed that psychological well-being has a significant negative correlation with burnout. This finding showed that the level of psychological well-being of production employees who work monotonously at PT. XYZ was at a low level and has a high burnout rate. In this study, researchers also advised companies to improve the psychological well-being of their employees in order to prevent burnout and create improvement in company productivity. Keywords: Psychological Well-Being, Burnout, Monotony