Ni Komang Ari Sawitri
Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Udayana, Bali, Indonesia

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PERBANDINGAN TINGKAT STRES ANTARA LANSIA YANG TINGGAL DI DAERAH WISATA PERKOTAAN DENGAN DAERAH WISATA PEDESAAN I Putu Artha Suwartika; Ni Komang Ari Sawitri; I Made Suindrayasa
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p15

Abstract

Stres merupakan reaksi atau respon tubuh terhadap stressor psikososial meliputi tekanan mental atau beban kehidupan. Stres yang berkepanjangan pada lansia dapat mengganggu dan menurunkan kualitas hidup lansia. Lingkungan tempat tinggal merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi stres pada lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perbedaan tingkat stres antara lansia yang tinggal di daerah wisata perkotaan dengan daerah wisata pedesaan. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif komparatif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 76 lansia yang tinggal di daerah wisata perkotaan dan 72 lansiahyanggtinggaltdi daerah wisata pedesaan, yang ditentukan dengan teknik simple random sampling. Kuesioner yang digunakan adalah Stress Assessment Questionnaire (SAQ). Hasil analisa data yang diperoleh dengan uji t tidak berpasangan (tingkat kepercayaan 95%) adalah p = 0,032 < 0,05 yang berarti terdapat perbedaan antara nilai rata-rata tingkat stres lansia yang tinggal di daerah wisata perkotaan dengan daerah wisata pedesaan. Perbedaan tingkat stres pada lansia disebabkan oleh kurangnya dukungan dari anggota keluarga yang menyebabkan lansia menjadi kesepian dan perbedaan suasana atau kondisi lingkungan yang ada di tempat tinggal mereka. Keluarga diharapkan dapat lebih memperhatikan dan memberikan dukungan kepada lansia agar lansia tidak mengalami stres sehingga kualitas hidup lansia menjadi meningkat
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN RASA KESEPIAN PADA MAHASISWA YANG SEDANG MERANTAU DI UNIVERSITAS UDAYANA Ni Made Diah Pradnyani; Made Oka Ari Kamayani; Ni Luh Putu Eva Yanti; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p05

Abstract

Mahasiswa perantau tinggal di tempat yang berbeda dari tempat tinggal sebelumnya. Hal ini menyebabkan mahasiswa perantau mengalami beberapa permasalahan, salah satunya kesepian. Hubungan interpersonal atau sosial yang baik dengan teman sebaya maupun lingkungan sekitar akan menimbulkan dukungan sosial atau support system bagi mahasiswa yang dapat dijadikan sebagai salah satu strategi untuk mengatasi rasa kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan rasa kesepian pada mahasiswa yang merantau di Universitas Udayana. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-korelatif dengan metode kuantitatif dan menggunakan desain cross-sectional study. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini total sampling dengan jumlah sampel 95 orang mahasiswa rantau yang tinggal di Rusunawa dan Asrama Universitas Udayana. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,001 (p<0,05). Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan rasa kesepian pada mahasiswa yang sedang merantau di Universitas Udayana. Nilai koefisien korelasi dalam penelitian ini menunjukkan nilai negatif yang berarti semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya pada mahasiswa rantau, maka semakin rendah rasa kesepian yang dialami oleh mahasiswa tersebut.
ANALISIS BEBAN PENGASUHAN KELUARGA YANG MERAWAT LANSIA DENGAN DEMENSIA Nyoman Anggun Anggraini Sukma; Putu Ayu Sani Utami; Ni Luh Putu Eva Yanti; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p10

Abstract

Keluarga merupakan pengasuh utama yang memberikan perawatan pada lansia demensia di rumah. Merawat penderita demensia dipandang sebagai salah satu bentuk perawatan yang sulit dan menegangkan, karena anggota keluarga yang merawat lansia dengan demensia sering mengalami kesulitan saat menghadapi perubahan besar dalam kepribadian dan perilaku lansia, hal tersebut dapat menimbulkan beban psikologis dan ketegangan fisik atau disebut sebagai beban pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran beban pengasuhan pada keluarga yang merawat lansia dengan demensia di Desa Lebih, Gianyar. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah keluarga yang merawat lansia demensia, menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling sejumlah 96 keluarga. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas beban pengasuhan yang dialami keluarga yang merawat lansia demensia berada pada kategori sedikit atau tidak ada sebanyak 53 orang (55,2%), ringan-sedang sebanyak 25 orang (26%), sedang-berat sebanyak 4 orang (4,2%) dan berat sebanyak 14 orang (14,6%). Lansia dengan kategori demensia berat, beban pengasuhan yang mayoritas dirasakan keluarga yaitu kategori berat (83,3%). Beban pengasuhan dapat dialami oleh keluarga, dimana demensia dengan kategori apapun dapat memberikan beban bagi keluarga. Skrining rutin perlu dilakukan bagi lansia untuk mendeteksi dini sebaran demensia, bagi keluarga dapat mencari kegiatan pengalihan peran dan mengoptimalkan dukungan anggota keluarga lain.
GAMBARAN PENGETAHUAN PEMANDU WISATA TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN WISATA ALL-TERRAIN VEHICLES (ATV) DI WILAYAH DESA SINGAPADU KALER Ni Kadek Alya Damayanti; Ni Luh Putu Eva Yanti; Ni Komang Ari Sawitri; Putu Ayu Sani Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p04

Abstract

Ekowisata dengan menggunakan All-Terrain Vehicles (ATV) memiliki risiko kecelakaan bagi wisatawan seperti terguling, perdarahan, patah tulang, dan pingsan. Pemandu wisata ATV belum pernah mendapatkan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan saat berwisata ATV. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan pemandu wisata tentang pertolongan pertama pada kecelakaan pada wisata ATV di wilayah Desa Singapadu Kaler. Penelitian ini merupakan studi deskriptif kuantitatif yang melibatkan 36 responden berdasarkan total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner yang dikembangkan oleh peneliti berdasarkan konsep teori yang ada. Penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan pertolongan pertama pada kecelakaan wisata ATV berada pada ketegori baik 75%, kategori cukup 16,7%, dan kategori kurang 8,3%. Pengetahuan P3K pemandu wisata ATV ada beberapa aspek yang sudah baik dipahami seperti penanganan terjatuh, perdarahan, dan saat pingsan. Namun, ada pengetahuan pemandu wisata ATV yang masih kurang dalam menangani patah tulang. Seluruh pemandu wisata ATV menyatakan belum pernah mendapatkan pelatihan P3K dari petugas kesehatan. Peran perawat komunitas di puskemas diperlukan untuk membuat program promosi kesehatan bagi pelayanan upaya kesehatan kerja di wilayah Desa Singapadu Kaler.
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN MASALAH KESEHATAN MENTAL EMOSIONAL REMAJA DI SMP NEGERI 9 DENPASAR Ni Kadek Ayu Putriyani; Ni Komang Ari Sawitri; Komang Menik Sri Krisnawati; Putu Ayu Sani Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p02

Abstract

Pola asuh merujuk pada cara orang tua terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka, dengan tujuan mempromosikan kesejahteraan emosional dan mental remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan masalah kesehatan mental emosional remaja di SMP Negeri 9 Denpasar. Jenis penelitian ini deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner pola asuh orang tua yang disusun oleh Najibah tahun 2017 dan kuesioner masalah kesehatan mental emosional (Strength and Difficulties Questionnaire). Penentuan sampel menggunakan teknik probability sampling dengan metode proportionate stratified random sampling dari siswa dan siswi kelas VII, VIII dan IX (A sampai I) di SMP Negeri 9 Denpasar sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yaitu berjumlah 91 orang. Hasil uji spearman rank didapatkan nilai p=0,040 yang berarti (p-value < 0,05) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pola asuh orang tua dengan masalah kesehatan mental emosional remaja di SMP Negeri 9 Denpasar. Hasil ini menguatkan hipotesis bahwa pengasuhan orang tua memiliki dampak pada kesehatan mental remaja. Dalam konteks ini, penting bagi anak-anak untuk dapat mencari dukungan dan membangun komunikasi yang efektif dengan orang tua mereka untuk meningkatkan serta menjaga kesejahteraan emosional remaja dengan cara yang lebih positif.
GAMBARAN KEMAMPUAN PERSONAL GENITAL HYGIENE PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDA WANA SERAYA Candra Vali Devi Dasi; Ni Luh Putu Eva Yanti; Putu Ayu Sani Utami; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p11

Abstract

Kelompok lansia mengalami proses penuaan sehingga terjadi penurunan fungsional. Kemampuan fungsional lansia yang menurun berpotensi terhadap penurunan kemampuan lansia melakukan personal hygiene khususnya personal genital hygiene. Genital hygiene pada lansia penting untuk diperhatikan karena jika tidak dilakukan dengan baik dapat menimbulkan masalah kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan personal genital hygiene lansia di Panti Sosial Tresna Werda Wana Seraya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini menggunakan metode total sampling dengan 28 responden. Hasil penelitian ditemukan rata-rata usia lansia adalah 73,39 tahun. Karakteristik lansia didominasi perempuan (78,6%), mayoritas tidak bersekolah (64,29%), dan tingkat kemandirian lansia sebagian besar (67,9%) termasuk dalam tingkat kemandirian tinggi. Kemampuan personal genital hygiene lansia dengan kategori positif ada 18 lansia (64,3%). Namun, masih terdapat lansia yang kemampuannya dikategorikan negatif, lansia perempuan tidak memastikan area genital kering sebelum menggunakan celana dalam 54%. Lansia perempuan juga tidak menggunakan celana dalam dengan bahan yang nyaman serta tidak mengganti celana dalam minimal 2 kali sehari atau popok rutin setiap 4 jam (63%). Lansia perempuan tidak mencukur rambut kemaluan (77%). Saran untuk penelitian ini, diharapkan lansia lebih memperhatikan personal genital hygiene. Keterlibatan pihak pengurus panti sosial untuk membantu dan memperhatikan kemampuan personal genital hygiene lansia kearah yang lebih positif.
HUBUNGAN PENGGUNAAN TERAPI KOMPLEMENTER DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN ANTIHIPERTENSI PADA LANSIA Yunita Nur Fadilla; Putu Ayu Sani Utami; I Kadek Saputra; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i05.p11

Abstract

Hipertensi merupakan satu dari banyaknya penyakit tidak menular yang paling umum terjadi pada lansia dan dapat ditangani melalui terapi farmakologis maupun nonfarmakologis, salah satunya terapi komplementer. Namun, penggunaan terapi komplementer dapat memengaruhi kepatuhan pengobatan antihipertensi lansia. Kepatuhan mengkonsumsi obat antihipertensi sangatlah penting, agar tidak terjadi komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan penggunaan terapi komplementer dengan kepatuhan pengobatan antihipertensi lansia. Metode penelitian adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel yang digunakan sejumlah 54 orang lansia yang mendapatkan obat antihipertensi dari Puskesmas Blahbatuh II dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan Spearman’s Rank. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 57,4% lansia menggunakan terapi komplementer dan sebanyak 68,5% patuh berobat. Hasil uji Spearman’s Rank didapatkan p = 0,106 > 0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan. Jadi, penggunaan terapi komplementer tidak memengaruhi kepatuhan pengobatan antihipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Blahbatuh II. Lansia hanya menggunakan terapi komplementer sebagai pendamping terapi farmakologis untuk menunjang pengobatannya.
KORELASI KEBIASAAN LATIHAN HATHA YOGA DAN LEVEL AKTIVITAS FISIK PADA PRALANSIA Ayuni, Ni Luh Sri; Utami, Putu Ayu Sani; Sawitri, Ni Komang Ari
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p07

Abstract

Masyarakat pralansia memiliki gaya hidup tidak sehat, salah satunya 33,5% kurang melakukan aktivitas fisik. Dalam aktivitas fisik diperlukan penunjang, seperti keseimbangan dan kelenturan yang bisa didapat dari latihan Hatha Yoga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan latihan Hatha Yoga dengan level aktivitas fisik pada masyarakat pralansia. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif dengan metode deskriptif korelatif cross-sectional. Sampel ditentukan dengan purposive sampling yang berjumlah 55 orang yang berusia 45-59 tahun dan seluruhnya sudah tergabung satu bulan dalam komunitas Yoga sebelum pengumpulan data serta minimal mengikuti 4 kali latihan dalam satu bulan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur kebiasaan latihan hatha yoga dan aktivitas fisik dengan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ-SF). Hasil uji korelasi menggunakan Spearman Rank menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan latihan hatha yoga dengan level aktivitas fisik (p-value = 0,000; a=0,05 ; r = 0,610). Semakin tinggi kebiasaan latihan Hatha Yoga maka semakin tinggi juga level aktivitas fisik. Hatha Yoga berperan penting untuk level aktivitas fisik sehingga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memiliki kebiasaan latihan yang rutin agar masyarakat pralansia tetap aktif melakukan aktivitas fisik sampai usia lanjut.
PENGARUH TERAPI AKUPRESUR TERHADAP TEKANAN DARAH PADA WANITA DENGAN PREHIPERTENSI Swandewi, Ni Putu Asri; Prapti, Ni Ketut Guru; Sawitri, Ni Komang Ari; Widyanthari, Desak Made
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p01

Abstract

Prehipertensi merupakan tahapan awal hipertensi, dengan 29% tingkat kejadian di seluruh dunia. Prehipertensi mempunyai fokus terapi secara nonfarmakologi. Salah satu terapi yang relevan adalah terapi akupresur. Terapi akupresur dengan penekanan pada titik Hegu (LI 4), Neiguan (PC 6), dan Quichi (LI 11) berfungsi dalam penurunan tekanan darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana pengaruh akupresur pada tekanan darah responden wanita prehipertensi. Penelitian menggunakan desain penelitian quasi eksperimen dengan control group yang menggunakan total sampling, pada 15 orang kelompok intervensi serta 15 orang kelompok kontrol. Uji analisis data menggunakan Wilcoxon untuk melihat perbedaan tekanan darah pada kelompok intervensi dan kontrol, dan Mann Whitney untuk melihat perbedaan tekanan darah antara kelompok intervensi maupun kontrol. Hasil penelitian menyatakan ada pengaruh signifikan pada pemberian terapi akupresur terhadap penurunan tekanan darah (p = 0.001). Hasil analisis perbandingan baik pada kelompok intervensi maupun kontrol, tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum perlakuan (sistolik = 0.888, diastolik = 0.684) dan terdapat perbedaan signifikan hasil tekanan darah setelah dilakukan perlakuan (sistolik = 0.000, diastolik = 0.007). Simpulan penelitian ini adalah adanya pengaruh signifikan antara terapi akupresur terhadap tekanan darah dari kedua kelompok. Penelitian selanjutnya dapat meninjau pemberian terapi dengan pertimbangan waktu pengambilan data, stres, dan aktivitas fisik sebelum pengukuran.
HUBUNGAN MASA, DURASI, DAN POSISI KERJA PADA BURUH TANI DENGAN KELUHAN LOW BACK PAIN Risnawati, Anak Agung Istri Galuh; Sawitri, Ni Komang Ari; Yanti, Ni Luh Putu Eva; Saputra, I Kadek
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p13

Abstract

Low Back Pain (LBP) merupakan kondisi nyeri atau rasa tidak nyaman yang terlokalisasi pada daerah punggung bawah dan dapat menjalar ke tungkai bawah. Keluhan LBP sering dialami oleh pekerja di bidang pertanian dan perkebunan, hal ini dikarenakan aktivitas yang dilakukan mengharuskan untuk mengeluarkan tenaga dan gerakan dengan posisi yang tidak tepat dalam jangka waktu yang lama. Apabila tidak diatasi, LBP dapat mengganggu aktivitas fungsional penderitanya dan berdampak pada menurunnya produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan masa, durasi, dan posisi kerja dengan keluhan LBP pada pekerja buruh tani di Desa Ulian. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional melalui pendekatan cross-sectional. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner The Pain and Distress Scale dan Rapid Entire Body Assessment (REBA). Sampel pada penelitian ini berjumlah 58 orang buruh tani di Desa Ulian dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan Spearman’s Rank menggunakan program komputer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden sebanyak 31 (53,4%) memiliki masa kerja >10 tahun, sebanyak 46 (79,3%) responden bekerja dengan durasi kerja >8 jam, sebanyak 41 (70,7) responden memiliki penilaian posisi kerja kategori risiko sedang dan sebanyak 34 (58,6%) responden mengalami LBP kategori sedang. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara masa kerja (p = 0,000 < 0,05), durasi kerja (p = 0,048 < 0,05), dan posisi kerja (p = 0,000 < 0,05) dengan keluhan LBP. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara masa, durasi, dan posisi kerja dengan keluhan LBP pada buruh tani di Desa Ulian. Buruh tani diharapkan dapat memperhatikan posisi kerja agar terhindar dari risiko keluhan LBP.