Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Inovasi Kurikulum

Interactive video for learning Mathematics element of measurement in elementary school Setyo Ajie Wibowo; Made Duananda Kartika Degeng; Henry Praherdhiono
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.67125

Abstract

Mathematics learning needs to be delivered using learning media to make it easier for students to receive information and increase student motivation. Creating interesting learning media is the solution to make it easier for students to receive the material. This research aims to produce an interactive video for learning elementary school measurement math that can motivate students to learn. The method used in this research is development research with the Lee and Owen development model. The development model consists of 5 stages: analysis, design, development, implementation, and evaluation. The validation results showed positive results that are very feasible to use. The trial in the actual class has been proven by the student's response to using the developed media, which is seen in ease, attractiveness, and motivation. Developing interactive videos can be considered accessible, exciting, and motivating for elementary school students to learn. AbstrakPembelajaran Matematika perlu disampaikan dengan menggunakan media pembelajaran sehingga memudahkan peserta didik dalam menerima penyampaian informasi serta meningkatkan motivasi peserta didik. Pembuatan media pembelajaran yang menarik menjadi solusi yang ditawarkan untuk mempermudah peserta didik dalam menerima materi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan interaktive video untuk pembelajaran matematika elemen pengukuran sekolah dasar yang dapat memotivasi peserta didik untuk belajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model pengembangan Lee and Owen. Model pengembangan terdiri dari 5 tahapan analisis, desain, pengembangan, penerapan, dan evaluasi. Hasil validasi menunjukkan hasil positif sehingga media sangat layak untuk digunakan. Uji coba pada kelas sebenarnya telah dibuktikan dengan respons peserta didik terhadap penggunaan media yang dikembangkan dilihat dari aspek kemudahan, kemenarikan, dan motivasi. Pengembangan interaktif video dapat disimpulkan mudah, menarik, dan memotivasi belajar peserta didik sekolah dasar.Kata Kunci: Elemen pengukuran; Matematika; sekolah dasar; video; video interaktif
Augmented reality integrated chatbot to improve learning outcomes in secondary school students. Reno Nurdiyanto; Henry Praherdhiono; Made Duananda Kartika Degeng
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.69108

Abstract

The major challenge in learning science is that it is abstract and complex for some students to understand. For example, elements and compounds cannot be seen directly in very micro-sized objects; therefore, visualizing this concept can be challenging. Another challenge is the limited time for teachers to answer questions, provide explanations, and provide feedback during the learning process. This study aims to develop augmented reality learning tools integrated with large language models in the format of a chatterbot text-to-text that can be utilized on the topic of elements and compounds. The development model that has been implemented is adapted from the Lee and Owen model, which includes need analysis, front-end analysis, design, development, implementation, and assessment. Media and content experts have assessed the technology's suitability for classroom learning for 8th-grade students of Salafiyah Junior High School in Pekalongan. Based on field implementation, this technology obtained a positive perspective and indicated an improvement in learning outcomes on element and compound topics. The integration of AR and ChatBot contributes significantly to the innovative classroom learning process and creates a learning experience that suits the needs of students in this digital era. AbstrakKendala utama dalam pembelajaran IPA yaitu abstrak dan sulit untuk dipahami oleh beberapa siswa. Contohnya konsep mengenai unsur dan senyawa yang tidak bisa dilihat dalam bentuk secara langsung dalam objek yang berukuran sangat kecil, sehingga memvisualisasikan konsep ini bisa menjadi tantangan. Tantangan lain berupa waktu yang terbatas untuk guru dalam siswa dalam menjawab pertanyaan, memberikan penjelasan, dan memberikan umpan balik selama proses pembelajaran. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa augmented reality terintegrasi large language models dalam bentuk chatterbot teks ke teks sehingga dapat digunakan pada topik tentang unsur dan senyawa. Model pengembangan yang telah dilakukan diadaptasi model Lee dan Owen, yang meliputi analisis kebutuhan, analisis awal akhir, desain, pengembangan, implementasi, dan penilaian. Ahli media dan ahli materi telah menyatakan kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran kelas pada siswa kelas 8 SMP Salafiyah Pekalongan. Berdasarkan implementasi lapangan, teknologi ini memperoleh perspektif yang positif dan menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar pada materi unsur dan senyawa. Integrasi dari AR dan Chatbot memberikan kontribusi signifikan bagi sebagai media pembelajaran dalam proses pembelajaran kelas yang inovatif dan menciptakan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa di era digital saat ini.Kata Kunci: artificial intelligence; large language models; pembelajaran IPA; realitas berimbuh
Measuring the quality of adaptive environments in instruction based on student perceptions Zahid Zufar At Thaariq; Dedi Kuswandi; Made Duananda Kartika Degeng
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.62255

Abstract

Adaptive learning has been identified as a means of creating a student-centered environment that is more fulfilling in multiple aspects. Such an environment prioritizes the facilitation of students' interests in learning. The present study employs quantitative research methods to measure the quality of the adaptive learning environment at Wahid Hasyim Junior High School, as perceived by 144 students, using factor analysis techniques. The findings reveal several factors that are integral to the adaptive learning environment. Firstly, student interaction is deemed crucial, emphasizing interactive and personalized elements. Secondly, teachers' course delivery of learning is determined by design, models, strategies, and resources, with media use having a lesser impact. Thirdly, contextualized content and engaging instructional techniques are key factors in discovering and organizing learning materials. Finally, collaboration support is recognized as an essential factor. These conclusions can inform educational improvement initiatives at Wahid Hasyim Junior High School. AbstrakPembelajaran adaptif telah diidentifikasi sebagai cara untuk menciptakan lingkungan yang berpusat pada peserta didik yang lebih memuaskan dalam berbagai aspek. Lingkungan seperti ini memprioritaskan fasilitas minat peserta didik dalam belajar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif untuk mengukur kualitas lingkungan belajar adaptif di SMP Wahid Hasyim, seperti yang dipersepsikan oleh 144 peserta didik, dengan menggunakan teknik analisis faktor. Temuan penelitian ini mengungkapkan beberapa faktor yang menjadi bagian integral dari lingkungan belajar adaptif. Pertama, interaksi peserta didik dianggap penting, dengan penekanan yang signifikan pada elemen interaktif dan personal. Kedua, penyampaian pembelajaran oleh guru ditentukan oleh desain, model, strategi, dan sumber daya, dengan penggunaan media yang memiliki dampak yang lebih kecil. Ketiga, konten yang kontekstual dan teknik pembelajaran yang menarik diidentifikasi sebagai faktor kunci dalam penemuan dan pengorganisasian materi pembelajaran. Terakhir, dukungan kolaborasi diakui sebagai faktor penting. Kesimpulan-kesimpulan ini memiliki potensi untuk menginformasikan inisiatif peningkatan pendidikan di SMP Wahid Hasyim.Kata Kunci: Lingkungan adaptif; pembelajaran; pendidikan; persepsi peserta didik.