Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

ANALISIS KEMAMPUAN KLASIFIKASI DAN POLA MATEMATIS ANAK MELALUI PERMAINAN MANIPULATIF ANAK USIA 5-6 TAHUN Pattipeiluhu, Krislina; Tasijawa, Riski; Insyur, Alberthina
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i2.10216

Abstract

This study aims to provide an in-depth description of how manipulative play is utilized to enhance the classification skills and mathematical pattern abilities of children aged 5–6 years at PAUD Bintang Harapan Arso. Using a qualitative descriptive approach with a case study design, the research involved eight children and four teachers as participants. Data were collected through direct observations of classroom activities, interviews with teachers regarding instructional strategies, and documentation in the form of field notes and children’s work samples. These data were then analyzed systematically through the processes of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that children’s engagement with manipulative play creates concrete, interactive, and enjoyable learning experiences that support their ability to group objects based on characteristics such as color, shape, and size, as well as recognize and extend simple mathematical patterns. In addition, children demonstrated increased activeness and enthusiasm throughout the learning process, indicating that manipulative materials contribute not only to cognitive development but also to learning motivation. Overall, the study suggests that manipulative play serves as an effective instructional strategy for strengthening foundational mathematical concepts among young children. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam pemanfaatan permainan manipulatif dalam mendukung perkembangan kemampuan klasifikasi serta pola matematis pada anak usia 5–6 tahun di PAUD Bintang Harapan Arso melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus yang melibatkan delapan anak dan empat guru sebagai partisipan, di mana data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap aktivitas pembelajaran, wawancara dengan guru terkait strategi yang digunakan, serta dokumentasi berupa catatan dan hasil kegiatan anak, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara sistematis; hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan anak dalam permainan manipulatif mampu menghadirkan pengalaman belajar yang konkret, interaktif, dan menyenangkan sehingga membantu mereka dalam mengelompokkan objek berdasarkan karakteristik seperti warna, bentuk, dan ukuran, sekaligus memahami serta melanjutkan pola sederhana secara lebih mudah, selain itu anak juga menunjukkan peningkatan keaktifan dan antusiasme selama proses pembelajaran berlangsung, yang mengindikasikan bahwa penggunaan media berbasis permainan tidak hanya berdampak pada aspek kognitif tetapi juga pada motivasi belajar anak, sehingga secara keseluruhan permainan manipulatif dapat dipandang sebagai salah satu strategi pembelajaran yang efektif dalam memperkuat dasar kemampuan matematika anak usia dini.
Upaya Meningkatkan Sosial Emosional Anak melalui Program Funshare: Inovasi Pengabdian Kolaboratif di SD Inpres Doyo Baru Riski Tasijawa; Krislina Pattipeiluhu; Dorce Bu’tu; Santy Layan; Yustinus Polhaupessy; Yansa Anse Pattipeiluhu; Kornelia Maryanti Da Silva; Cristian Msen; Albertina Insyur
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5 No 4 (2025): JPMI - Agustus 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.3704

Abstract

Masalah sosial emosional anak di SD Inpres Doyo Baru, seperti rendahnya keberanian berbicara, interaksi yang terbatas antar kelompok budaya, dan kurangnya empati, mendorong perlunya intervensi berbasis kontekstual. Program Funshare dikembangkan sebagai upaya pengabdian masyarakat untuk meningkatkan keterampilan sosial emosional anak melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif. Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari, terdiri dari enam sesi tematik yang melibatkan permainan edukatif, diskusi kelompok, dan aktivitas berbagi. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung, catatan fasilitator, dan wawancara dengan guru. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek kerja sama (80%), kemampuan bersosialisasi (75%), ekspresi emosi (70%), dan empati (60%). Anak-anak menjadi lebih terbuka, berani berbicara, dan aktif menjalin hubungan sosial lintas kelompok. Kegiatan ini berdampak pada terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung pengembangan karakter anak. Funshare terbukti sebagai model efektif dalam menumbuhkan keterampilan sosial emosional anak di lingkungan pendidikan dasar.
Community empowerment for Sentani language preservation and cultural strengthening in Papua Bernard Labobar; Yustinus Wangguway; Evelien F. Ugadje; Christina A. Jeujanan; Riski Tasijawa; Krislina Pattipeiluhu
Jurnal Abmas Vol. 26 No. 1 (2026): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v26i1.143

Abstract

The decline in local language use and in children's awareness of local culture pose challenges for non-formal education. This community service activity aims to strengthen preservation of the Sentani language and promote local culture through contextual, participatory learning. The program was implemented at the Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rotehbu, Sentani, Papua, involving faculty members, students from the Early Childhood Education Program, and learners through a Participatory Action Research (PAR) approach that emphasizes a collaborative cycle of action, observation, and reflection. The activity was designed to integrate Sentani language learning and local cultural practices by preparing papeda as an experiential, context-based learning medium. The results showed increased participants' engagement in using the Sentani language, strengthened understanding of local culture, and growing awareness and pride in cultural identity. Furthermore, this activity strengthened the partnership between academics and the community and provided students with a culturally-based learning experience within the context of community service. These findings confirm that integrating local languages, cultural practices, and non-formal education within the PAR framework is an effective strategy for supporting community empowerment and sustainable cultural preservation.   Abstrak Penurunan penggunaan bahasa daerah dan melemahnya pengenalan budaya lokal pada anak usia sekolah menjadi tantangan dalam pendidikan nonformal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat pelestarian bahasa Sentani dan penguatan budaya lokal melalui pembelajaran kontekstual dan partisipatif. Program dilaksanakan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rotehbu, Sentani, Papua, dengan melibatkan dosen, mahasiswa Program Studi PKAUD, serta murid melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menekankan siklus aksi, observasi, dan refleksi secara kolaboratif. Kegiatan dirancang dengan mengintegrasikan pembelajaran bahasa Sentani dan praktik budaya lokal melalui pengolahan papeda sebagai media pembelajaran kontekstual berbasis pengalaman. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterlibatan aktif peserta dalam penggunaan bahasa Sentani, penguatan pemahaman budaya lokal, serta tumbuhnya kesadaran dan kebanggaan terhadap identitas budaya. Selain itu, kegiatan ini memperkuat kemitraan antara akademisi dan komunitas serta memberikan pengalaman pembelajaran berbasis budaya bagi mahasiswa dalam konteks pengabdian masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi bahasa daerah, praktik budaya, dan pendidikan nonformal dalam kerangka PAR merupakan strategi efektif dalam mendukung pemberdayaan komunitas dan pelestarian budaya secara berkelanjutan. Kata Kunci: bahasa Sentani; budaya lokal; pelestarian bahasa daerah; pendidikan nonformal; pengabdian masyarakat
Anjangsana Lintas Agama Rumah Moderasi Beragama STAKPN Sentani: Menyelami Nilai-Nilai Hindu Bali melalui Seni Budaya Fredrik Warwer; Ida Bagus Gede Surya Peradantha; Yohanes Kristian Labobar; Yakob Godlif Malatuny; Daniel Syafaat Siahaan; Jolanti Wisje Pentury; Dorce Bu’tu; Lewi Kabanga; Santy Layan; Riski Tasijawa; Seprianti Elisabet Pandi; Shintia Maria Kapojos
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 8, No 1 (2026): Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat (April)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ihsan.v8i1.25909

Abstract

Papua memiliki keragaman budaya dan agama yang tinggi sehingga membutuhkan ruang perjumpaan lintas iman yang autentik, kontekstual, dan menyentuh secara emosional. Melalui program Kampung Moderasi Beragama, STAKPN Sentani menginisiasi Kunjungan Lintas Iman di Pura Agung Giri Cyclop untuk menggali nilai-nilai moderasi beragama dari perspektif Hindu Bali dengan pendekatan seni budaya. Kegiatan dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan tokoh agama Hindu, dialog interaktif lintas iman, serta penyusunan laporan reflektif dan artikel ilmiah. Salah satu hasil penting adalah terciptanya karya seni kolaboratif berupa Pupuh Durma berjudul “Turunnya Sang Juru Selamat”, yang dibawakan oleh penyanyi Hindu dan diterjemahkan secara lisan oleh peserta Kristen Protestan. Karya ini mengisahkan kelahiran Yesus Kristus dalam perspektif spiritual universal melalui seni vokal tradisional Bali. Kolaborasi ini membuka ruang ekspresi spiritual bersama yang melampaui batas agama, budaya, dan wilayah. Nilai-nilai seperti Tat Twam Asi, Vasudhaiva Kutumbakam, serta cinta sebagai inti ajaran agama disampaikan secara puitis dan reflektif. Program ini menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat diwujudkan tidak hanya melalui wacana normatif, tetapi juga melalui praktik seni inklusif yang sederhana dan dapat direplikasi di berbagai konteks multikultural.