Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Makna Jurnalisme Warga Bagi Jurnalis Warga Netcj.Co.Id Iqbal, Muhammad; Sjafirah, Nuryah Asri
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 2, No 2 (2019): Kajian Jurnalisme
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.917 KB) | DOI: 10.24198/jkj.v2i2.21364

Abstract

Jurnalisme warga memang bisa dikatakan baru jika dibandingkan dengan jurnalisme tradisional. Namun, yang disebut baru bukan berarti baru muncul satu atau dua tahun yang lalu. Setelah dikenal melalui radio, jurnalisme warga berkembang ke ranah televisi sejak dikenalkan oleh melalui video amatir yang ditayangkan pada program berita Metro TV. Saat ini NET TV melalui program NET10 dan platform Netcj.co.id juga mengusung konsep jurnalisme warga yang saling berintegrasi. Walaupun jurnalisme warga memang bukan sesuatu yang baru, tetapi platform netcj.co.id yang menampung hasil liputan jurnalis warga masih terbilang baru. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui pandangan dari jurnalis warga netcj.co.id bagaimana mereka memaknai praktik jurnalisme warga dan peran dari seorang jurnalis warga. Selain itu, peneliti juga ingin mengetahui motif jurnalis warga dalam mengirimkan hasil liputan ke platform netcj.co.id dan bagaimana pengalaman serta cara mereka saat melaksanakan atau memaknai tugas layaknya seorang jurnalis profesional. Ketika menjalankan aktivitas jurnalisme warga secara rutin, para informan memperoleh pengalaman, motif, dan makna jurnalisme warga, sehingga mereka memahami perannya sebagai jurnalis warga.
FRAMING MEDIA ONLINE TRIBUNNEWS.COM TERHADAP SOSOK PEREMPUAN DALAM BERITA VIDEO PORNOGRAFI DEPOK Hutami, Maudy Fitri; Sjafirah, Nuryah Asri
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 2, No 1 (2018): Kajian Jurnalisme
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.357 KB) | DOI: 10.24198/jkj.v2i1.21072

Abstract

Penelitian ini berisi tentang pembingkaian media online tribunnews.com terhadap sosok perempuan (HA) dalam video pornografi di Depok. Peneliti menggunakan beberapa teori diantaranya: teori hirarki pengaruh, teori konstruksi sosial media massa, serta teori ekonomi politik. Jenis penelitian yang digunakan peneliti bersifat kualitatif deskriptif dengan metode analisis framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki. Fokus penelitian ini adalah sintakis, skrip, tematik, dan retoris. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan berita tentang pemberitaan sosok perempuan (HA) dalam video pornografi di Depok di media online tribunnews.com, edisi terbit tanggal 25-27 Oktober 2017. Hasil penelitian menunjukan media online tribunnews.com melalui pemberitaannya telah melanggar Kode Etik Jurnalistik dan melanggar privasi korban. Kata kunci: pembingkaian, berita, video pornografi
Sensitivitas Gender Media Online Detik.com Bakhtiar, Rachma Mutia; Sjafirah, Nuryah Asri; Herawati, Maimon
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 1 (2019): Kajian Jurnalisme
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.657 KB) | DOI: 10.24198/jkj.v3i1.22852

Abstract

Detik.com merupakan salah satu media online yang masih bias gender. Padahal detik.com merupakan media online yang paling sering diakses di Indonesia. Di sisi lain, kini detik.comdipimpin oleh seorang perempuan. Untuk itu perlu dikaji lebih jauh bagaimana sensitivitas gender dalam redaksinya. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus intrinsik lalu digunakan untuk memahami secara lebih baik dan mendalam tentang sensitivitas gender di tingkat redaksional detik.com. Hasil penelitian menunjukkan para penentu kebijakan di tingkat redaksional detik.com masih kurang menerapkan sensitivitas gender dalam pelaksanaan kerja jurnalistiknya. Selain karena belum seragamnya pemahaman terkait pemberitaan yang sensitif gender, para penentu kebijakan ini terkadang belum mempraktikkan sensitivitas gender karena terhalang pola kerja dan pola bisnis media online. Detik.com juga masih belum berkomitmen secara penuh untuk menerapkan sensitivitas gender di dalam kebijakan lembaganya.
Democracy on Social Media: The Analysis of the New Criminal Code Ratification Polemic on Twitter Anbarini, Ratih; Abdullah, Aceng; Sjafirah, Nuryah Asri
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 7, No 1 (2023): KAJIAN JURNALISME
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkj.v7i1.46588

Abstract

The new Criminal Code (Kitab Undang-undang Hukum Pidana/KUHP) passage on December 6, 2022, sparked a significant conversation on Twitter, with pro and con responses making it a trending topic. Among these responses, certain influential actors disseminated messages that had the potential to shape public opinion, even if the information was not always accurate. This research utilizes social network theory to map the conversations surrounding netizens’ reactions to the new Criminal Code ratification on social media platforms. The study employs descriptive social network analysis methods to analyze three key variables: network structure, groups, and actors. Data was collected using NodeXL Pro between December 6 to December 10, 2022. The findings revealed that although the network consisted of 25,245 actors and 59,396 relationships, the level of interconnectivity among actors was relatively loose, indicating weaker and mostly one-way relationships. Furthermore, influential actors came from diverse backgrounds and profiles. This research confirms the ability of social media platforms to connect individuals without physical face-to-face interactions. At the group level, discussions regarding the new Criminal Code were divided into various topics, highlighting different perspectives and opinions. The presence of diverse actors reflects the inclusive nature of the network, exemplifying the concept of digital opinion movements and the emergence of digital public spaces. Although the public protests did not change the government’s decision, the conversations among netizens regarding the new Criminal Code raised public awareness of national issues, a crucial aspect of digital democracy.
Wacana Budaya Suku Sasak di Desa Sade dalam Detik.com Yalatama, Regita Nada; Sjafirah, Nuryah Asri; Aunillah, Rinda
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 5, No 1 (2021): KAJIAN JURNALISME
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkj.v5i1.31320

Abstract

Desa Sade dalam pemberitaan media seringkali diwacanakan sebagai desa yang memegang teguh adat dan istiadat setempat. Budaya Desa Sade dalam pemberitaan media dianggap sebagai budaya yang tidak tergerus modernisasi. Padahal, dua penelitian terkait etnografi budaya Suku Sasak menyatakan bahwa budaya Suku Sasak di Desa Sade dinilai telah tergerus modernisasi. Detik.com merupakan salah satu media online yang mempublikasikan berita terkait tempat wisata Desa Sade sebagai desa dengan budaya yang masih asli dan belum tergerus modernisasi. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis model Norman Fairclough untuk menganalisis wacana budaya Suku Sasak dalam pemberitaan Desa Sade, yang juga berkaitan dengan wacana detik.com dalam merepresentasikan budaya Suku Sasak. Analisis dilakukan dengan menguji tiga tahap, yaitu level teks, level praktik wacana dan level sosiokultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa detik.com dalam merepresentasikan budaya Suku Sasak hanya menampilkan citra positif dari Desa Sade. Pada level teks, detik.com memengaruhi pembaca terkait budaya Suku Sasak yang dianggap unik sebagai bagian dari wacana poskolonial. Pada level praktik wacana, produksi berita Desa Sade pada portal berita detik.com ditujukan untuk memajukan budaya Indonesia. Sementara pada level sosiokultural, aspek makro memengaruhi detik.com dalam merepresentasikan budaya Suku Sasak di Desa Sade. Maka, detik.com ketika mewacanakan budaya Suku Sasak dalam pemberitaan Desa Sade, merepresentasikan citra positif untuk mempromosikan Desa Sade yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
Penggunaan Infografis pada Akun Instagramtirtoid sebagai Strategi Cross-media Aisyah, Retno Nurul; Fadilah, Efi; Sjafirah, Nuryah Asri
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 2 (2020): KAJIAN JURNALISME
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkj.v3i2.22276

Abstract

Strategi cross-media (penyilangan media) adalah strategi diversifikasi dan pengintegrasian yang dilakukan oleh media massa di platform media lainnya termasuk media sosial. Tirto.id merupakan salah satu media massa yang menerapkan strategi ini dengan menggunakan infografis di akun Instagram-nya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan infografis pada akun Instagramtirtoid sebagai strategi cross-media melalui metode studi kasus.Hasil penelitian menunjukkan kebijakan Tirto.id menggunakan infografis di Instagram dilatarbelakangi empat pertimbangan; segmentasi khalayak, sifat dan karakter platform, kemudahan produksi, dan  karakter perusahaan. Keempat pertimbangan ini sesuai dengan konsep dasar strategi cross-media yang menekankan pada kesesuaian pilihan media dan konten yang disajikan. Dalam proses produksi konten infografis, ada enam tahapan yang dilaksanakan Tirto.id. Tirto.id memberikan karakter khas pada infografisnya yang dilandaskan pada prinsip dan etika jurnalistik. Tirto.id menggunakan prinsip reuse, repackaging, dan recreate dalam pendistribusian dan pengembangan konten infografis di Instagram yang pada dasarnya membangun praktik agenda setting.   Strategi cross-media menggunakan Instagram ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan sumber Daya Manusia (SDM) tim produksi, penguatan brand, dan terbukanya peluang baru pemasaran.