Claim Missing Document
Check
Articles

Symbolic Meaning of Batik In Madura Bridal Kebaya Clothes Soelistyowati Soelistyowati; I Wayan Mudra; I Ketut Muka; Tjok Istri Ratna
Journal of Social Science Vol. 4 No. 1 (2023): Journal of Social Science
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.074 KB) | DOI: 10.46799/jss.v4i1.495

Abstract

This study was conducted to determine the meaning of the batik symbol on the Madurese bridal kebaya. At weddings, Madurese people wear batik and kebaya, especially for women getting married. Madurese batik motifs are classified as having the characteristics of plant (vegetal) motifs, animals and geometric shapes. The influence on the Madurese batik motifs is the mixing of Javanese-Hindu, Chinese and Dutch cultures. Chinese mythology dominates the fenghuang bird and dragon motifs believed to have philosophy in each symbol. Bright and bold colors are characteristic of Madurese batik, such as red, black, yellow and green. This research approach using literature study is done by looking for references that are relevant to the cases or problems found using the semiotic theory of Charles Sanders Peirce. By analyzing the data of this study, it was carried out by means of 5W1H, what, where, when, why, who, and how. The results of this study, a. The icon as a sign of the message using the kebaya dress interprets the kebaya as an Indonesian woman who is elegant, feminine and has manners, as a procession that is carried out is a cultural carnival procession as a mandatory dress that must be worn. b) symbols, the colors red, black, yellow and green on the decoration, as well as the appearance of the dragon and fenghuang bird motifs are characteristic of batik motifs, on the jarik or sarong worn at traditional wedding ceremonies in Madura. c) Index: Madurese philosophy considers that the colors red and black are courage and assertiveness, yellow symbolizes abundance and green means religious. The dragon motif brings fortune, guards and is authoritative. The fenghuang bird in batik means honesty and thoroughness, tolerance, knowledge, loyalty and integrity. When the dragon is juxtaposed with the fenghuang bird, it symbolizes bringing luck, honesty, happiness and repellent to evil, which is believed to be obtained from generations of cultural heritage to be preserved and maintained.
PERKEMBANGAN TAPESTRI DI BALI Ni Putu Desy Sonnya Suandhari; I Wayan Mudra; Tjokorda Istri Ratna Cora Sudharsana
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.41109

Abstract

Tapestry is a type of simple weaving structure composed of braiding of warp and feed threads. Currently, tapestry has begun to develop in Indonesian regions such as Bali. This tapestry is widely used as a wall decoration or applied to other products. This study aims to determine the development of tapestry in Bali and its preservation efforts so that it can be used as a reference or reference in understanding tapestry. The method used in this study is a qualitative method with data collection techniques in the form of observation, interviews, documentation, and literature studies on tapestry. The theory used is the tapestry theory to describe more specifically about tapestry and its patterns, and use aesthetic theory. The results of this study show that the development of tapestry has entered Bali and is widely traded, even tapestry craftsmen can be found in Bali but there are still many people who do not know or know about tapestry. The development of motifs can be seen in the diversity of motifs consisting of natural motifs, batik motifs, and abstract motifs. Techniques have also developed, namely there are flat techniques, soumak, giordes, hook joints, and kilite joints. The use of colors has also been diverse and brighter. The Indonesian Institute of the Arts Denpasar also develops tapestry by providing tapestry courses to students and even making tapestri workshops. The conclusion that can be conveyed is that in Bali tapestry has developed in terms of craftsmen / students, motifs, techniques, and their concentration.Keywords: tapestry, development, Bali, learning. AbstrakTapestri merupakan jenis struktur tenun sederhana yang tersusun atas jalinan dari benang lungsi dan pakan. Saat ini tapestri sudah mulai berkembang di daerah-daerah Indonesia seperti Bali. Tapestri ini banyak digunakan sebagai hiasan dinding atau diaplikasikan pada produk-produk lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan tapestri di Bali dan upaya pelestariannya sehingga dapat dijadikan acuan atau referensi dalam pemahaman mengenai tapestri. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur mengenai tapestri. Teori yang digunakan yaitu teori tapestri untuk menjabarkan lebih spesifik mengenai tapestri dan coraknya, serta menggunakan teori estetika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan tapestri sudah masuk di Bali dan banyak diperjual belikan, bahkan perajin tapestri pun sudah dapat ditemukan di Bali namun masih banyak masyarakat yang belum mengenal atau mengetahui tentang tapestri. Perkembangan motif dapat dilihat keragaman motif yang terdiri dari motif alam, motif batik, dan motif abstrak. Teknik juga mengalami perkembangan yaitu ada teknik rata, soumak, giordes, sambungan kait, dan sambungan kilim. Penggunaan warna juga sudah beragam dan lebih cerah. Institut Seni Indonesia Denpasar juga mengembangkan tapestri dengan memberikan pembelajaran mata kuliah tapestri kepada mahasiswa bahkan hingga membuat workshop tapestri. Simpulan yang dapat disampaikan bahwa di Bali tapestri sudah berkembang dari sisi perajin/mahasiswa, motif, teknik, dan pemaanfatannya.Kata Kunci: tapestri, perkembangan, Bali, pembelajaran. Authors:Ni Putu Desy Sonnya Suandhari : Institut Seni Indonesia DenpasarI Wayan Mudra : Institut Seni Indonesia DenpasarTjokorda Istri Ratna Cora Sudharsana : Institut Seni Indonesia Denpasar References:Ardianti, S. R., & Affanti, T. B. (2021). Pemanfaatan Teknik Tapestri Pada Rompi Dengan Bahan Renda. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 486-494.Astiti, N. P. P. S., & Panggabean, R. (2013). Eksplorasi Ragam Hias Tenun Rangrang (Doctoral dissertation, Bandung Institute of Technology).Dwigantara, A. (2011). Kajian Karya Tapestri Biranul Anaz Zaman Tahun 2006-2020. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.Joesyiana, K. (2018). Penerapan Metode Pembelajaran Observasi Lapangan (Outdor Study) pada Mata Kuliah Manajemen Operasional (Survey pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Semester III Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Persada Bunda). PEKA, 6(2), 90-103.Khasanah, A. U. (2019). Penciptaan Round-Weaving Tapestry Dengan Bunga Edelweis (Anaphalis Javanica) Sebagai Inspirasi. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.Pramesthi, I. A. N. (2022), “Perkembangan Tapestri di Bali”. Hasil Wawancara Pribadi: 1 Desember 2022, Institut Seni Indonesia Denpasar.Pujaastawa, I. B. G. (2016). Teknik Wawancara dan Observasi untuk Pengumpulan Bahan Informasi. Manuskrif Tidak Diterbitkan. Bali:  Universitas Udayana.Soelistyowati, S. P., & Julia, F. R. (2020). Pemanfaatan Sisa Kain Perca pada Desain Wearable Art dengan Menggunakan Teknik Tapestry.
ANALISA NUANSA WARNABALI PADA PINTU UKIR DI PT. SRAYA BALI STYLE KABUPATEN GIANYAR-BALI Komang Yudistia; Anak Agung Gede Rai Remawa; Tjok Istri Ratna Cora S
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 22, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/dk.2023.v22i1.6816

Abstract

Warna tradisional Bali merupakan warna yang didasarkan pada filosofi ajaran agama Hindu Bali. Warna dalam seni rupa di Bali memiliki fungsi yang istimewa, karena selain memiliki nilai pragmatis untuk memperindah tampilan produk juga memiliki nilai filosofis keagamaan dan budaya di Bali. Warna dalam seni rupa di Bali memiliki fungsi yang istimewa, karena selain memiliki nilai pragmatis untuk memperindah tampilan produk juga memiliki nilai filosofis keagamaan dan budaya di Bali. Penelitian ini akan melakukan analisis komparasi warnabali dengan nuansa warnabali yang digunakan sebagai bahan finishing pintu ukir di Kabupaten Gianyar. Warna berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh A.A Gede Rai Remawa terdiri dari konsep tri datu (tri kono) sampai konsep Nawa Sanggha yang menjadi pertimbangan penempatan warna di Bali yang bersumber pada lontar Kereb Bhuana, Dewa Tatwa ataupun lontar lainnya. Warnabali merupakan warna berbahan dasar mangsi, taum, kencu, deluge, pere, atal dan tulang yang menghasilkan warna yang disebut “Cet Bali” dan terdiri dari 7 (tujuh) warna dasar. Penggunaan Warnabali oleh perajin di PT. Sraya Bali Style saat ini merupakan hasil dari warisan turun temurun oleh tetua, pengalaman estetis dari melihat benda pusaka, dan arca keagamaan. Warna yang mucul dari pemahaman tersebut di istilahkan dengan Nuansa warnabali. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seperti apa kandungan dari nuansa warnabali pada pintu ukir di PT. Sraya Bali Style berdasarkan pembacaan dengan spectrophotometer sinar tampak nix pro 2. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi pengembangan ragam pewarnaan dengan cirikhas Bali untuk Pintu ukir.
Janma Sebuah Upaya Pelestarian Seni Langka Sulam Jembrana Melalui Apropriasi Tjok Istri Ratna C. Sudharsana
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 1 (2021): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UU Pemajuan Kebudayaan nomor 5 tahun 2017 menekankan pada perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan serta diharapkan dapat menjadikan budaya Indonesia tumbuh tangguh. Keseluruhan poin UU Pemajuan Kebudayaan nomor 5 tahun 2017 mengacu pada sikap perilaku manusia Indonesia yang tengah memasuki fase refleksi budaya. Salah satu sikap refleksi budaya membawa ingatan kita pada keberadaan seni langka di Indonesia. Demikian banyak seni langka yang kini tengah mengalami degradasi akut seperti halnya seni tekstil di beberapa wilayah bagian Indonesia, termasuk Bali dengan tekstil sulam Jembrana. Salah satu faktor penyebab terjadinya degradasi adalah fenomena rendahnya kesadaran masyarakat khususnya generasi muda untuk melestarikan dan mengembangkan sulam Jembrana, sehingga masyarakat Bali dan pemerintah tidak mengetahui eksistensinya. Menerapkan metode deskriptif kualitatif melalui teknik pengumpulan data observasi, kepustakaan, dokumentasi, dan wawancara, penelitian dilakukan dengan menggunakan teori bentuk estetis oleh DeWitt H. Parker dan teori produk kreatif model Bessemer dan Treffinger. Hasil penelitian menunjukan bahwa sulam Jembrana, memiliki keunikan pada bentuk ikon yang ditampilkan melalui interpretasi pengrajin terhadap tradisi lisan yang secara rutin didengar dalam pelaksanaan upacara keagamaan maupun kehiduan sosial di Bali, selain itu tekstil ini memiliki warna yang terang dan kontras sehingga membatnya terlihat berbeda dengan berbagai jenis tekstil lain di Bali. Sulam Jembrana merupakan satu-satunya tekstil di Bali yang menggunakan teknik sulam atau lebih dikenal dengan teknik nyudut oleh pengrajin, setelah kepunahan sulam Singaraja. Merujuk pada hasil penelitian tersebut, maka dilakukan upaya pelestarian melalui penciptaan produk art fashion Janma dengan metode penciptaan frangipani melalui apropriasi teknik nyudut.
PENGUATAN DAN PEMAJUAN PEMBELAJARAN MOTIF TENUN ENDEK BALI Nyoman Dewi Pebryani; Putu Manik Prihatini; Tjok Istri Ratna C.S
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 2 (2022): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses menenun merupakan proses yang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama, sehingga banyak generasi muda mulai meninggalkan budaya tersebut. Adanya Surat Edaran Gurbernur Provinsi Bali nomor 4 tahun 2021 mengatur tentang penggunaan kain tenun Endek pada hari selasa membawa dampak positif terhadap permintaan tenun Endek yang meningkat. Namun disisi lain, para penenun yang telah lama vakum, menemui kesulitan dalam proses produksi dan mencari inspirasi desain yang baru. Tuntutan proses yang serba cepat dalam menghasilkan desain-desain motif yang baru, dapat diantisipasi dengan mengintegrasikan teknologi berupa aplikasi digital berbasis web dalam proses desain motif tenun Endek. Untuk mengetahui bagaimana aplikasi digital ini mampu membantu kebutuhan pertenunan, maka dilakukan pelatihan pertenunan dan kemudian meminta masukan dan saran dari para peserta pelatihan, sebagai bahan untuk menyempurnakan aplikasi desain ini. Dengan demikian, aplikasi desain motif yang baru dapat disebarluaskan kepada pertenunan lainnya serta dapat dimanfaatkan untuk alat pembelajaran digital terkait dengan budaya.
JANMA PEMBUKA JALAN KELAHIRAN SANG BAYI Tjok Istri Ratna C.S.
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 2 (2022): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umat Hindu di Bali memiliki kepercayaan bahwa janin dilindungi oleh catur sanak ketika berada dalam rahim sang ibu, salah satunya adalah yeh nyom atau air ketuban. Kanda Pat Rare menyebutkan bahwa I Bhuta Putih merupakan sebutan bagi yeh nyom yang berperan sebagai bagian pertama pengantar lahirnya manusia. Tidak hanya dalam kepercayaan Hindu, secara medis air ketuban juga telah terbukti menjadi bagian penting bagi janin dan mempunyai peran besar saat proses kelahiran bayi khususnya dalam menjaga tali pusar agar tidak terputus. Fungsi dan peran penting yeh nyom menjadi pemantik untuk lahirnya karya art fashion Janma yang merupakan salah satu dari koleksi karya Tutur Bumi. Janma menggambarkan sang bayi yang dilahirkan ke dunia dalam kesederhanaan utuh. Desain yang didominasi dengan motif melingkar dan jelujur mengilustrasikan siklus kehidupan dalam mekanisme semesta yang dimulai dari air ketuban.
APPLICATION OF BALINESE ORNAMENT (KEKETUSAN KAKUL-KAKULAN) IN ENDEK WOVEN FABRIC WITH AIRBRUSH TECHNIQUE FOR EVENING DRESS I Made Radiawan; Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana; Ni Kadek Yuni Diantari
Journal of Aesthetics, Design, and Art Management Vol. 2 No. 1 (2022): Journal of Aesthetics, Design, and Art Management
Publisher : Yayasan Sinergi Widya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58982/jadam.v2i1.188

Abstract

Purpose : The use of endek fabrics in creating evening clothing can increase creativity so that it can produce innovative evening dress designs with curvaceous ornaments, besides that it can be a cultural heritage. Research methods : The stages in the process of creating evening dress designs consist of three main stages, namely the idea stage, the mindmap method stage, and the design process stage. Findings : The creation of evening dress takes modern tradition as the concept. The traditional concept can be seen from the application of traditional Balinese ornaments, namely keketusan kakul-kakulan as a motif on endek woven fabrics with the airbrush technique. While the modern concept can be seen in the silhouette of the evening dress which is designed not out of date, unique and fashionable, and comfortable to use. Implications : Evening dress with endek woven fabric with a kakul-kakulan motif is one of the innovative evening wear choices for women to be used on formal occasions and as a form of appreciation for Balinese cultural heritage and endek cloth weavers
Desain Karakter Maskot Sebagai Media Pengenalan Wayang Sasak Untuk Anak-Anak Sekolah Dasar I Gede Anjas Kharismanata; I Wayan Swandi; Tjok Istri Ratna
Jurnal SASAK : Desain Visual dan Komunikasi Vol 6 No 1 (2024): SASAK
Publisher : Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/sasak.v6iNo 1.3895

Abstract

Wayang Sasak merupakan salah satu budaya seni yang keberadaannya kurang diketahui oleh masyarakat terkhususnya anak anak sekolah dasar, sehingga membutuhkan upaya dalam pengenalan wayang sasak yang bersifat kreatif dan interaktif. penelitian ini bertujuan merancang karakter maskot sebagai medium pengenalan wayang sasak terhadap anak anak, serta dapat menjadi sebuah media komunikasi pengembangan karater dalam upaya bentuk pelestarian pada media lainya. Penelitian ini mengunakan metode kuantitaif dengan tahapan pengambilan data antara lain Observasi, Wawancara dan dokumentasi. Pada Tahap rancangan menggunakan pendekatan metode Design thingking, teori alih wahana dan teori transformasi dalam perancangan karakter maskot. Hasil dari penelitian ini berupa rancangan maskot berupa bentuk 2D wayang sasak yang telah di transformasi dengan dipadukan dengan bentuk manusia yang mengopsi unsur unsur pada tokoh utama wayang sasak yang di rancang dengan berbagai arah persepaktif antara lain arah depan arah kiri, arah kanan, dan arah belakang. Perancangan maskot wayang sasak salah satu usaha menumbuhkan pengetahuan tentang wayang sasak terhadap generasi muda yang diharapkan dapat mewarisi nilai nilai filosofi yang terkandung di dalamnya.
Fabric Slashing Bag: Solusi Kreatif UMKM Fashion Kota Denpasar Mengelola Limbah Tekstil Diantari, Ni Kadek Yuni; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara; Pradnyani Utami, Ni Luh Ayu; Pebryani, Nyoman Dewi; Muda Rahayu, Made Tiartini; Sudharsana, Tjokorda Istri Ratna Cora; Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Konte Tenaya, Anak Agung Ngurah Anom Mayun; Priatmaka, I Gusti Bagus; Prayatna, I Wayan Dedy
Abdi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 1 (2024): Abdi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/awjpm.v3i1.3601

Abstract

Kegiatan pengabdian dilakukan untuk menangani limbah tekstil berupa kain perca yang dihasilkan dari proses produksi produk fashion UMKM bidang fashion di kota Denpasar melalui pembuatan tas dengan teknik fabric slashing. Selain mengurangi limbah tekstil, produk fabric slashing bag ini juga sebagai sarana dalam mengekplorasi pemanfaatan limbah tekstil sekaligus meningkatkan nilai ekonomis dari limbah tekstil sehingga layak untuk dipasarkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisis data mengenai dampak limbah fashion. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk memperoleh tahapan yang tepat dalam pelaksanaan pengabdian dan pengolahan limbah fashion dengan kreatif dan bernilai ekonomis bagi UMKM. Kegiatan pengabdian dilakukan melalui kegiatan pelatihan selama lima hari untuk memahami karakteristik limbah fashion, mengetahui langkah-langkah dalam teknik fabric slashing, menentukan desain  produk, hingga proses pengolahan kain perca menjadi produk fashion yang memiliki nilai ekonomis. UMKM Kota Denpasar di bidang fashion dalam proses produksi menghasilkan limbah tekstil berupa kain perca, jumlah perca yang dihasilkan kian meningkat seiring dengan proses produksi. Kain perca yang tidak diolah menimbulkan kekhawatiran bagi pemilik UMKM bidang fashion di Kota Denpasar jika menjadi sampah atau limbah tekstil yang dapat mencemari lingkungan. Maka dari itu diperlukan kemampuan untuk mengolah kain perca agar tidak mencemari lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomis melalui kegiatan pelatihan kepada UMKM bidang fashion di Kota Denpasar.
Peningkatan Keahlian Sumber Daya Manusia Bagi Pelaku UMKM Fashion Kota Denpasar Melalui Pelatihan Merajut Diantari, Ni Kadek Yuni; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Sudharsana, Tjokorda Istri Ratna Cora; Rahayu, Made Tiartini Muda; Pebryani, Nyoman Dewi; Utami, Ni Luh Ayu Pradnyani; Udiyani, Ni Made Santi; Sukawati, Tjokoda Gde Abinanda; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya; Tenaya, Anak Agung Ngurah Anom Mayun Konte; Priatmaka, I Gusti Bagus; Prayatna, I Wayan Dedy; Mahadewi, Ida Ayu Ari
Abdi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 2 (2024): Abdi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/awjpm.v3i2.4500

Abstract

Pelatihan merajut ini dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat khususnya bagi UMKM bidang fashion dikota Denpasar. Pelatihan merajut digagas untuk meningkatkan keahlian bagi UMKM dalam produksi produk fashion yang kreatif dan inovatif sekaligus menambah nilai dari produk fashion sehingga mampu memperluas jangkauan produk yang ditawarkan. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dilakukan untu menganalisa data terkait permasalahan yang dihadapi oleh UMKM fashion di kota Denpasar dan ketepatan metode pembelajaran teknik merajut sebagai langkah pelaksanaan pelatihan merajut untuk mewujudkan produk fashion yang kreatif, inovatif serta bernilai ekonomis bagi UMKM. Pelaksanaan pelatihan merajut ini diselenggarakan selama lima hari untuk memahami teknik merajut hingga tercipta produk tas rajutan dengan tiga tahapan yang terdiri dari 1) tahap persiapan yang meliputi identifikasi peserta, penyusunan materi, dan persiapan alat dan bahan; 2) tahap pelaksanaan yang meliputi kegiatan penyampaian materi, pendampingan; 3) tahapan akhir dengan mengadakan evaluasi. Kegiatan pelatihan merajut ini mampu meningkatkan kemampuan SDM pelaku UMKM kota Denpasar khususnya dalam keahlian merajut dasar yang bermanfaat bagi UMKM fashion kota Denpasar dalam mengembangkan produk fashion dengan sentuhan tangan yang unik dan menarik untuk dipasarkan.
Co-Authors A.A. Ngr. Anom Mayun K. Tenaya Agustin Dia Sapariadi, I Dewa Ayu Reika Anak Agung Sagung Istri Trisnadewi Aribaten, Ni Nengah Zinnia Arimbawa, I Gede Arvia, Ni Desak Made Amanda Cahyani, Ni Kadek Tira Adi Darmara Pradnya Paramita, Ni Putu Dewantari Dewi Dasi, Ni Luh Melati Dewi, Melda Fransiska Dewi, Ni Kadek Junita Dianawati, Ni Kadek Dwi Putri Diantari, Ni Kadek Yuni Erawan, Ni Putu Netania Amanda Fida, Dalil Al Quds Fitriani Grahantiyasari, Kadek Mirah I Gede Anjas Kharismanata I Ketut Muka I Made Radiawan I Wayan Mudra, I Wayan I Wayan Rai I Wayan Sujana I Wayan Swandi Ida Ayu Wimba Ruspawati, Ida Ayu Karso, Kejora Pratiwi Karso, Olih Solihat Karuni, Ni Kadek Kharismanata, I Gede Anjas Komang Yudistia Larasistris, Triasmoro Mahadewi, Ida Ayu Ari Maheswari, Ni Made Dian Maselia Andriani, Ni Putu Nanda Moneko, I Kadek Dode MS Prof. Dr. I Wayan Rai . Muda Rahayu, Made Tiartini Mudarahayu, Made Tiartini Ni Kadek Yuni Diantari Ni Luh Ayu Pradnyani Utami Ni Putu Desy Sonnya Suandhari Nitya Sari, Ni Wayan Maya Nyoman Dewi Pebryani Patrow, Corlyne Janselia Marcelly Pratiwi, Luh Leony Rida Prayatna, I Wayan Dedy Priatmaka, I Gusti Bagus Puspa Anjani, Ayu Diah Puspa Yeni, Ni Putu Ryani Putu Manik Prihatini Putu Manik Prihatini Rahayu, Made Tiartini Muda Remawa, Anak Agung Gede Rai Santini, Ni Kadek Dwika Santosa, Hendra Saraswati, Ni Made Sari, Dewa Ayu Putu Leliana Siti Wasi’aturrizqi Soelistyowati Soelistyowati Suandhari, Ni Putu Desy Sonnya Sukarya, I Wayan Sukawati, Tjokoda Gde Abinanda Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri Sukmawati, Ni Komang Ayu Trisnadewi, Anak Agung Sagung Istri Udiyani, Ni Made Santi Wartini, Ketut Ari Widya, Sabiya Shula Wiguna, Kadek Karina Maharani Windari, Komang Noli Yuliana Maria