Claim Missing Document
Check
Articles

Teroesir : Metafora Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Dalam Penciptaan Busana Dengan Edgy Style Aribaten, Ni Nengah Zinnia; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Ratna Cora S., Tjok Istri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.292

Abstract

Metafora umumnya digambarkan melalui simbol-simbol ataupun perumpamaan dari film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang tergolong dalam perfilman Nusantara, dimana film ini mengandung budaya Minangkabau dan Makassar. Penciptaan ini merupakan salah satu upaya apresiasi terhadap perfilman Indonesia melalui perwujudan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture, sehingga dapat menjadi bentuk kekayaan baru berbasis pada kearifan lokal.Proses kreatif menggunakan metodelogi desain Tjok Ratna Cora, yaitu “FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion” yang terdiri atas sepuluh tahapan dalam proses perancangan desain fashion berdasarkan identitas budaya Bali. Berdasarkan uraian metafora pada kisah cinta Zainuddin dan Hayati, maka tercipta busana dengan style edgy. Edgy merupakan busana yang tergolong tidak biasa atau out of the box dengan ciri warna hitam yang mendominasi. Dalam karya ini didasari oleh pemeran utama yaitu Zainuddin, terlahir dari orang tua yang berbeda suku. Warna hitam sebagai sisi ayahnya, yaitu ciri warna pada baju adat pria Minangkabau, sedangkan warna ungu sebagai sisi ibunya, yaitu warna baju adat Makassar pada wanita janda. Warna hitam mendominasi dikarenakan Minangkabau (tanah kelahiran ayah Zainuddin) sebagai latar tempat pada film ini. Ketiga busana ini menggunakan print fabric yang mengilustrasikan kisah film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Pada busana ready to wear terdiri tiga pieces, yaitu dress, outer, dan mini skirt. Pada busana ready to wear deluxe terdiri atas tiga pieces, yaitu shirt, outer, dan pants. Dan pada busana haute couture terdiri atas dua pieces, yaitu gown dan balloon sleeves.
Gammara Lopi : Metafora Ritual Kapal Pinisi Dalam Karya Busana Exotic Dramatic Style Puspa Yeni, Ni Putu Ryani; Ratna Cora S., Tjok Istri; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.294

Abstract

“Gammara Lopi” adalah judul dalam karya busana Tugas Akhir bertemakan “Diversity of Indonesia” yang diwujudkan dalam busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture dengan mengadopsi exotic dramatic style. Karya busana Gammara Lopi terinspirasi dari ritual kapal Pinisi yang dilakukan selama proses pembuatan kapal Pinisi di daerah Bulukumba, Sulawesi Selatan. Karya busana Gammara Lopi diciptakan menggunakan delapan tahapan yaitu Design Brief, Research and Sourcing, Design Development, Prototypes, Final Collection, Promotion Branding and Marketing, Production, dan Business. Karya busana ini diciptakan dengan memetaforakan ide pemantik ritual kapal Pinisi yang dikaitkan dengan teori estetika dan teori semiotika yang diimplementasikan ke dalam unsur desain, prinsip desain dan elemen desain. Dalam karya busana Gammara Lopi diambil beberapa kata kunci yaitu serpihan kayu, lunas, annyorong lopi, lontara, darah dan pembakaran kemenyan. Busana ini menggunakan material berupa cotton oxford natural, tenun dobby, cotton printing, kulit sintetis, jacguard, cordurouy yang dipadukan dengan warna nude, coklat dan hitam. Pada proses pengerjaan karya busana Gammara Lopi meletakkan beberapa detail dengan menggunakan teknik macrame serta beberapa teknik fabric manipulation untuk mendukung penciptaan detail dalam karya busana Gammara Lopi.
Anyutirupa Of Ngelawang Barong Bangkal: Metafora Ngelawang Barong Bangkal Dalam Busana Edgy Style Trisnadewi, Anak Agung Sagung Istri; Ratna Cora S., Tjok Istri; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.295

Abstract

“Anyutirupa of ngelawang barong bangkal” adalah judul koleksi busana Tugas Akhir bertemakan Diversity of Indonesia yang terinspirasi dari tradisi ngelawang barong bangkal di Pura Hyang Api dengan memadukan style edgy dan gothic look. Koleksi ini merupakan jenis busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture. Penciptaan koleksi Anyutirupa of Ngelawang Barong Bangkal menggunakan delapan tahapan yang bertajuk “Frangipani”, Tahapan – tahapan Rahasia dari Seni Fashion Art. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap metafora yang akan diuraikan pada teori semiotika dan keyword berupa penolak bala, sakral, mistik, pelindung, rwa bhineda, dan kemenangan. Keyword tersebut kemudian diolah sedemikian rupa dan diaplikasikan pada koleksi busana dengan teori estetika mencakup prinsip desain dan elemen desain yang tampak dari desain busana, detail dan pemilihan bahan sehingga terbentuk nilai keindahan dalam koleksi busana ini. Adapun warna yang dipilih merupakan warna – warna yang berkaitan dengan konsep tradisi ngelawang barong bangkal yaitu hitam, putih, abu, dan gold. Melalui perpaduan material utama, yaitu faux fur, leather look, suede, tulle, poleng, woven scatola, dan cotton combed. Proses pengerjaan koleksi Tugas Akhir Anyutirupa of Ngelawang Barong Bangkal terdapat ukiran bali yang nantinya akan di prada menggunakan teknik lukis dengan kuas, pemasangan kaca cermin pada kulit serta teknik payet yang membentuk sesuai dengan desain. Selain itu terdapat teknik rumbai, drapery, dan manipulasi tekstil dibeberapa bagian – bagian pada busana.
The Power of Retro Baris Jangkang Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara; Ratna Cora S., Tjok Istri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.296

Abstract

Tari Baris Jangkang merupakan khasanah budaya, perpaduan seni dan filosofi, tarian ini memiliki nilai kesakralan dan unsur magis yang sangat tinggi, melambangkan tentara kuno dari daerah-daerah terpencil di Bali, tari baris multifungsi. Tari Baris Jangkang adalah sebuah tarian yang dipentaskan oleh sekelompok pria dewasa yang ada di Desa Pelilit, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Tari Baris Jangkang sangat jauh berbeda, dengan tarian-tarian sakral lainnya. Dimana tarian ini memiliki nilai kesakralan dan unsur magis yang sangat tinggi. Secara keseluruhan, tarian ini melambangkan tentara kuno dari daerah-daerah terpencil di Bali. Para penari bergerak seperti tentara dalam koreografi yang militer di alam. Inspirasi dalam penciptaan busana wanita yaitu tari baris jangkang. Sebagai generasi muda bagaimana cara kita untuk melestarikan keanekaragaman kebudayaan Indonesia dan melestarikan pertunjukan khas Indonesia khususnya. Busana yang terinspirasi dari tari baris jangkang yang berkonsepkan retro karena ingin mengangkat sesuatu yang tradisi (masa lalu). Gaya baru yang dikemas dengan nuansa masa lalu, melestarikan seni-seni yang sudah langka, untuk memberi inspirasi kepada generasi penerus, untuk menambah inspirasi dalam dunia mode. Karakter dari gerak tarian berkaitan dengan dunia mode di era retro (lincah, kokoh,lugas, dinamis). Penciptaan desain busana ini ada tiga busana wanita yang tergolong menjadi busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture. Pembuatan desain digunakan metode wawancara, metode observasi, metode dokumentasi dan metode kepustakaan dari analisa tersebut sebagai acuan dalam mendesain busana wanita retro yang terinspirasi dari tari baris jangkang.
Duology Metipat Bantal : Metafora Tradisi Mejauman Dalam Busana Edgy Look Grahantiyasari, Kadek Mirah; Pebryani, Nyoman Dewi; Ratna Cora S., Tjok Istri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.297

Abstract

Mejauman Metipat bantal adalah salah satu tradisi pernikahan yang ada di Indonesia khususnya Bali. Dalam istilah bahasa Bali, tradisi metipat bantal disebut tradisi Mejauman. Mejauman metipat bantal ditandai dengan membawa tipat bantal dengan segala kelengkapannya. Tipat yang dimaksud disini adalah ketupat yang melambangkan pradhana atau perempuan sedangkan bantal melambangkan purusa atau laki-laki. Upacara ini bertujuan untuk mohon pamit kepada orang tua dan kerabat dekatnya, termasuk secara kedinasan/administrasi kependudukan setempat. Secara niskala mempelai wanita mohon pamit kepada bhatara-bhatari leluhurnya yang dilaksanakan dengan membawa jauman berupa tipat bantal dan selengkapnya. Dalam proses penciptaan karya busana ini menggunakan 8 tahapan penciptaan frangipani yang diambil dari disertasi : Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, dengan judul “Wacana Fesyen Global dan Pakaian di Kosmopolitan Kuta”, tahun 2016, yaitu design brief, kemudian research and sourching selanjutnya tahapan ketiga yaitu design development, sehingga menghasilkan final collection, tahap ke lima yaitu prototype, sample and construction lalu didukung dengan promotion, branding and sales dan pada tahapan terakhir adalah bussinese. Delapan tahapan tersebut merupakan landasan dalam penciptaan busana Metipat Bantal dengan tiga busana dengan tingkat kesulitan bertahap yaitu ready to wear, ready to wear deluxe, dan busana houte couture. Tradisi Metipat bantal dievaluasikan dengan kata kunci yaitu : bantal, tipat, tebu, jaja sangguh, purusha, pradhana, dan upakara, sehingga dalam perwujudan busana diimplementasikan dengan cara metafora dalam setiap kata kunci yang digunakan. Dalam busana ready to wear deluxe ada menggunakan perwujudan dengan cara analog yaitu selempang menyimbulkan kata kunci tipat.
“Di Balik Muka” Analogi Rupa Film Moammar Emka’s Jakarta Undercover Dalam Busana Sexy Alluring Maheswari, Ni Made Dian; Ratna Cora S., Tjok Istri; Sari, Dewa Ayu Putu Leliana
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.301

Abstract

Film Moammar Emka’s Jakarta Undecover menjadi landasan menciptakan karya busana dengan judul “di Balik Muka: Analogi Rupa Film Moammar Emka’s Jakarta Undercover dalam Busana Sexy Alluring”. Film ini bercerita mengenai seseorang yang bercita-cita menjadi wartawan dan merantau ke Jakarta, tetapi terjebak oleh ‘wajah lain’ Jakarta dengan ‘kehidupan’ malam yang diketahui oleh segelintir orang. Gaya hidup dalam film melewati batas norma dan merusak kebudayaan Indonesia, menjadi inspirasi bertujuan memberitahukan akibat dari gaya hidup yang dapat merusak kebudayaan dan norma-norma yang ada di Indonesia. Tujuan diciptakan karya busana adalah untuk mengetahui tahapan peciptaan koleksi busana; strategi, promosi, pemasaran, branding, dan penjualan; serta sistem produksi dan bisnis. Metode penciptaan yang diterapkan adalah metode Delapan Tahapan Penciptaan Frangipani dari Ratna Cora Sudharsana. Yang terdiri dari Design brief; Research and sourcing; Design development; Prototype, sample, and construction; Final collection; Promotion, branding, and sale; Production; he business. Dengan berlandaskan teori analogi milik F.D.K. Ching; teori semiotika milik Ferdinand de Saussure; teori estetika milik Hospers; unsur desain; prinsip desain; teori strategi, branding, dan pemasaran milik Nickles dan Kotler; teori produksi dan bisnis milik Osterwalder dan Pigneur. Hasil penciptaan adalah koleksi busana yang terdiri dari busana ready to wear untuk pria, ready to wear deluxe untuk wanita, dan semi couture untuk wanita. Diciptakan menggunakan tenik menjahit dengan mesin dan tangan, manipulasi (sablon, digital printing, lukis), dan rajut. Serta fashion brand; rancangan pagelaran busana; bisnis model kanvas; cara produksi, promosi, penjualan, pemasaran.
Sarad Pulagembal The Symbol Of Universe Utami, Ni Luh Ayu Pradnyani; Ratna Cora S., Tjok Istri; Sukarya, I Wayan
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.302

Abstract

Sarad Pulagembal adalah salah satu bentuk upakara persembahan dalam wujud besar (mewah/utama) yang dipersembahkan oleh umat Hindu di Bali pada upacara keagamaan tingkat utama. Upakara ini terlihat sangat menonjol pada saat ritual keagamaan karena keunikan bentuk dan warnanya yang mencolok. Upakara yang terbuat dari susunan jajan berbahan tepung beras ini merupakan manifestasi bhakti umat dalam mempersembahkan segenap isi alam semesta kehadapan Tuhan (Sang Hyang Widhi). Melihat keunikan bentuk dan proses pembuatan serta filosofi yang terkandung dalam Sarad Pulagembal ini muncul ide untuk menjadikan Sarad Pulagembal sebagai konsep dalam penciptaan busana wanita ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture. Busana wanita dengan Sarad Pulagembal sebagai konsep penciptaan, mengangkat filosofi, warna, dan pengulangan bentuk organik dari Sarad Pulagembal. Busana ready to wear, ready to wear deluxe dan haute couture ini merepresentasikan bentuk-bentuk organik pada Sarad Pulagembal yang menyimbolkan isi alam semesta seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Dalam proses penciptaan busana wanita ini melalui 8 tahapan penciptaan Desain Fashion yaitu : ide pemantik (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain (design development), prototypes, sample, and construction, koleksi akhir (final collection), promosi, pemasaran, brand, dan penjualan (promotion, marketing, branding and sale), produksi (production), serta bisnis (bussines). Hasil penciptaan ini diharapkan dapat menambah referensi kepustakaan khususnya dibidang Desain Fashion mengenai konsep Sarad Pulagembal yang diwujudkan dalam produk busana wanita serta membantu masyarakat agar dapat mengenal Sarad Pulagembal sebagai salah satu tradisi dan budaya Bali dalam bentuk produk busana wanita
Sauk Ekendi : Analogi Tumbuhan Buah Merah Sebagai Inspirasi Penciptaan Busana Vintage Look Dewantari; I Wayan Rai S; Ratna Cora S., Tjok Istri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.728

Abstract

Buah merah (Pandanus Conoideus) merupakan salah satu tumbuhan endemik Papua yang tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi khususnya di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua. Penduduk asli di lereng gunung Jayawijaya menyebutnya dengan istilah Sauk Ekendi yang berarti buah darah atau sering juga disebut buah keajaiban karena buah ini kaya manfaat misalnya untuk bahan obat tradisional, sebagai makanan, pewarna makanan, bahan kosmetik dan bahan sabun. Namun demikian, sampai saat ini buah merah belum pernah dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni fesyen. Oleh karena itu, penulis ingin menciptakan busana vintage look dengan sumber inspirasi dari buah merah dengan tujuan memperkenalkan tumbuhan buah merah kepada masyarakat luas agar tetap dibudidayakan. Dalam penciptaan busana vintage look ini dipergunakan teori FRANGIPANI yaitu terdiri dari 8 tahapan (1) ide pemantik, (2) riset dan sumber data, (3) pengembangan desain, (4) prototype, sampel dan konstruksi, (5) koleksi akhir, (6) promosi, merek dagang dan pemasaran, (7) produksi dan (8) bisnis fesyen. Data-data tentang buah merah ini didapatkan melalui sumber wawancara dan sumber kepustakaan. Selanjutnya digarap dengan teori FRANGIPANI. Hasil dari penggarapan ini adalah busana vintage look yang terdiri atas 3 jenis busana yaitu ready to wear yang artinya busana siap pakai yang diproduksi dalam skala besar dengan menggunakan mesin, ready to wear deluxe yang artinya busana siap pakai dengan kualitas dan desain yang lebih eksklusif serta pengerjaannya masih menggunakan mesin, dan ketiga haute couture yang artinya busana adiluhung dengan desain orisinil atas pesanan pelanggan, dibuat secara eksklusif, proses pengerjaan 80- 90% dengan tangan.
NAMAKALIU: METAFORA BURUNG KUAU RAJA DALAM PENCIPTAAN BUSANA DENGAN EDGY STYLE LOOK ANDROGYNY Agustin Dia Sapariadi, I Dewa Ayu Reika; Ratna Cora S., Tjok Istri; Muka, I Ketut
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.730

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia terutama pada jenis satwa dan tumbuhan. Khususnya keanekaragaman spesies fauna burung Kuau Raja yang penyebarannya terancam punah. Burung Kuau Raja yang mempunyai nama latin Argusianus argus ini merupakan satwa endemik asli Indonesia yang ditetapkan sebagai fauna identitas dari Provinsi Sumatra Barat. Burung Kuau Raja memiliki bulu sayap dan ekor yang panjang, berwarna coklat kemerahan dengan motif abstrak dan bulat menyerupai mata serangga (ocelli), sehingga mendapat julukan burung seratus mata. Dari keindahan burung Kuau Raja menjadi sumber ide pemantik penciptaan karya busana tugas akhir yang diwujudkan ke dalam busana dengan tingkat yang bertahap yaitu Ready To Wear, Ready To Wear Deluxe, dan Haute Couture. Ide pemantik burung Kuau Raja diimplementasikan dengan teori metafora dari beberapa kata kun ci yaitu Koloni, Soliter, Suara, Poligini, Cinta, Edgy style dan Androgyny style. Landasan penciptaan busana ini menggunakan metodelogi desain Tjok Ratna Cora, yaitu “FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion” yang terdiri atas sepuluh tahapan dalam proses perancangan desain fashion berdasarkan identitas budaya Bali, namun dalam penciptaan karya tugas akhir ini hanya menggunakan 8 metode yaitu Ide pemantik (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain (design development), sample, prototype, and contruction, koleksi akhir (the final collection), promosi (promotion, sales and branding), produksi (production) dan bisnis (business). Hasil penciptaan ini diharapkan dapat menambah kepustakaan khususnya pada bidang mode mengenai metafora burung Kuau Raja yang diimplementasikan kedalam wujud busana edgy style dengan menggunakan branding “Hygge” dan strategi Bisnis Model Canvas (BMC).
LEADING TO THE LAST PLACE: ANALOGI ARSITEKTUR MAKAM GANTUNG DALAM BUSANA BERGAYA EDGY Suandhari, Ni Putu Desy Sonnya; Ratna Cora S., Tjok Istri; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.746

Abstract

Erong adalah makam gantung yang berasal dari Sulawesi Selatan, Tana Toraja. Erong memiliki arsitektur dan cara pemakaman yang unik. Makam ini dipenuhi dengan berbagi macam ukiran Toraja yang memiliki makna tersendiri. Kemudian dituangkan ke dalam busana untuk mengetahui proses penciptaan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture dengan ide Erong, sehingga dapat menjadi inspirasi dan refrensi bagi penciptaan yang akan datang. Proses penciptaan menggunakan metodelogi desain Tjok Ratna Cora, yaitu “FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion” yang terdiri atas sepuluh tahapan dalam proses perancangan desain fashion berdasarkan identitas budaya Bali. Berdasarkan ide pematik Erong, maka tercipta busana dengan style edgy. Edgy merupakan busana yang tergolong tidak biasa atau out of the box dengan ciri warna gelap yang mendominasi. Dalam karya ini menggunakan gaya ungkap analogi yang mengambil bentuk perahu sebagai salah satu bentuk Erong dengan berbagai macam ukiran yang memiliki makna tersendiri. Warna yang di ambil meggunakan empat warna dasar ukiran Toraja yaitu merah, kuning, putih, hitam, dan warna dari tebing serta makam yang sudah lapuk yaitu abu- abu. Selain itu bada busana juga terdapat banyak garis lurus yang menggambarkan siluet dari Erong yang didominasi garis lurus. Ketiga busana ini menggunakan print fabric dengan motif ukirn Toraja yang terdapat ada Erong. Pada busana ready to wear terdiri dua pieces, yaitu top dan celana. Pada busana ready to wear deluxe terdiri dari satu pieces, yaitu dress. Dan pada busana haute couture terdiri atas dua pieces, yaitu dress dan cape.
Co-Authors A.A. Ngr. Anom Mayun K. Tenaya Agustin Dia Sapariadi, I Dewa Ayu Reika Anak Agung Sagung Istri Trisnadewi Aribaten, Ni Nengah Zinnia Arimbawa, I Gede Arvia, Ni Desak Made Amanda Cahyani, Ni Kadek Tira Adi Darmara Pradnya Paramita, Ni Putu Dewantari Dewi Dasi, Ni Luh Melati Dewi, Melda Fransiska Dewi, Ni Kadek Junita Dianawati, Ni Kadek Dwi Putri Diantari, Ni Kadek Yuni Erawan, Ni Putu Netania Amanda Fida, Dalil Al Quds Fitriani Grahantiyasari, Kadek Mirah I Gede Anjas Kharismanata I Ketut Muka I Made Radiawan I Wayan Mudra, I Wayan I Wayan Rai I Wayan Sujana I Wayan Swandi Ida Ayu Wimba Ruspawati, Ida Ayu Karso, Kejora Pratiwi Karso, Olih Solihat Karuni, Ni Kadek Kharismanata, I Gede Anjas Komang Yudistia Larasistris, Triasmoro Mahadewi, Ida Ayu Ari Maheswari, Ni Made Dian Maselia Andriani, Ni Putu Nanda Moneko, I Kadek Dode MS Prof. Dr. I Wayan Rai . Muda Rahayu, Made Tiartini Mudarahayu, Made Tiartini Ni Kadek Yuni Diantari Ni Luh Ayu Pradnyani Utami Ni Putu Desy Sonnya Suandhari Nitya Sari, Ni Wayan Maya Nyoman Dewi Pebryani Patrow, Corlyne Janselia Marcelly Pratiwi, Luh Leony Rida Prayatna, I Wayan Dedy Priatmaka, I Gusti Bagus Puspa Anjani, Ayu Diah Puspa Yeni, Ni Putu Ryani Putu Manik Prihatini Putu Manik Prihatini Rahayu, Made Tiartini Muda Remawa, Anak Agung Gede Rai Santini, Ni Kadek Dwika Santosa, Hendra Saraswati, Ni Made Sari, Dewa Ayu Putu Leliana Siti Wasi’aturrizqi Soelistyowati Soelistyowati Suandhari, Ni Putu Desy Sonnya Sukarya, I Wayan Sukawati, Tjokoda Gde Abinanda Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri Sukmawati, Ni Komang Ayu Trisnadewi, Anak Agung Sagung Istri Udiyani, Ni Made Santi Wartini, Ketut Ari Widya, Sabiya Shula Wiguna, Kadek Karina Maharani Windari, Komang Noli Yuliana Maria