Claim Missing Document
Check
Articles

Brahrang: Si Manis Berbalut Merah di Binjai Karso, Kejora Pratiwi; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Pebryani, Nyoman Dewi; Karso, Olih Solihat
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2234

Abstract

Koleksi busana Brahrang merupakan hasil karya penciptaan desain mode yang terinspirasi oleh flora endemik Indonesia, yakni Rambutan Binjai. Rambutan Binjai adalah salah satu varietas unggul rambutan di Indonesia, memiliki asal usul yang menarik untuk diperkenalkan karena berasal dari salah satu kota penghasil buah rambutan terbanyak di Indonesia, yaitu Kota Binjai; kota yang juga terkenal dengan kain Ulosnya. Manisnya daging buah Rambutan Binjai dengan nuansa merah dan putih, serta kulitnya yang berwarna hijau ketika masih muda, diangkat menjadi ide pemantik dalam perancangan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture yang diimplementasikan menggunakan gaya ungkap analogi dengan sentuhan elegant look, style classic elegant dan sexy alluring. Perwujudan koleksi karya busana “Brahrang: Si Manis Berbalut Merah di Binjai” menggunakan delapan dari sepuluh tahapan perancangan busana yang bertajuk FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion, yaitu (1) Finding the brief idea, (2) Researching and sourcing of art fashion, (3) Narrating of art fashion idea by 2d or 3d visualization, (4) Making sample, dummy, and construction, (5) Interpreting of singularity art fashion will be showed in the final collection, (6) Promoting and making a unique art fashion, (7) Navigating art fashion production by humanist capitalism method, (8) Introducing the art fashion business. Perancangan busana ini bertujuan untuk memperkenalkan secara lebih luas ke masyarakat umum serta melestarikan flora endemik Indonesia dan kain khas tradisional Indonesia.
Kundang Rumania : Rancangan Analogi Flora Rumania Dalam Busana Edgy Style Windari, Komang Noli; Priatmaka, I Gusti Bagus; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2238

Abstract

Tradisi Mebuug-buugan merupakan Tradisi Sakral yang dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Nyepi oleh masyarakat Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Menurut umat Hindu, tradisi ini bertujuan untuk menetralisir sifat buruk manusia. Dalam tradisi ini, lumpur menjadi simbol dosa yang melekat pada manusia dan saat tahun baru Caka dibersihkan. Secara etimologi bahasa mebuugbuugan berasal dari kata “Buug“ yang berarti tanah/lumpur dan “bhu” yang artinya ada atau wujud, sehingga berafiliasi 8 menjadi kata “Bhur ” yang artiya Bumi, tanah atau pertiwi sehingga awalan memenjadi sebuah kata kerja atau aktivitas.Dapat diartikan mebuug-buugan berarti sebuah interaktivitas dengan menggunakan tanah/ lumpur (buug) sebagai media. Oleh karena itu penulis ingin memperkenalkan tradisi mebuug-buugan a kepada masyarakat luas melalui penciptaan busana feminine exotic. Dalam penciptaan busana feminine exotic ini mempergunakan teori FRANGIPANI yaitu 8 tahapan penciptaan busana dan gaya ungkap analogi. Dari sepuluh metode tahapan FRANGIPANI hanya delapan metode penciptaan dijadikan sebagai landasan dalam penciptaan koleksi busana dengan ide pemantik tradisi mebuug-buugan kedalam tiga jenis busana meliputi ready to wear busana pria, ready to wear deluxe busana wanita, dan semi couture busana wanita. Hasil dari penciptaan busana ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang fashion.
Matoa : Analogi Morfologi Buah Endemik Daerah Papua ‘Matoa’ Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Busana Berkolaborasi Dengan PT. Sangkara Indah Sejahtera Santini, Ni Kadek Dwika; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2241

Abstract

Matoa merupakan tumbuhan endemik asal Papua yang tersebar hampir di seluruh daerah Papua, seperti jayapura, Wondoswaar-pulau Weoswar, Anjai Kebar, Warmare, Armina-Bintuni, Ransiki, Pami-Nuni (Manokwari), Samabusa-Nabire, serta pulau Yapen. Buah ini memiliki cita rasa yang manis dan unik, rasa buahnya seperti perpaduan lengkeng, rambutan, dan durian. Selain rasa buah yang unik dan manis, buah matoa memiliki banyak manfaat seperti dalam bidang kesehatan buah ini mengandung vitamin A, C, dan E. Oleh karena itu, penulis ingin memperkenalkan buah matoa kepada masyarakat luas melalui penciptaan busana chic look yang terinspirasi dari buah matoa. Dalam penciptaan busana chic look ini mempergunakan teori FRANGIPANI yaitu 8 tahapan penciptaan busana dan gaya ungkap analogi. Dari sepuluh metode tahapan FRANGIPANI hanya delapan metode penciptaan dijadikan sebagai landasan dalam penciptaan koleksi busana dengan ide pemantik matoa kedalam tiga jenis busana meliputi ready to wear busana pria, ready to wear deluxe busana wanita, dan semi couture busana wanita. Hasil dari penciptaan busana ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang fashion mengenai analogi morfologi buah matoa yang diimplementasikan ke dalam karya busana.
Samudra Amerta Analogi Tradisi Muang Jong sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Busana dengan Style Feminine Romantic Sukmawati, Ni Komang Ayu; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Sari, Dewa Ayu Putu Leliana
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muang Jong adalah ritual adat Suku Sawang, Belitung. Muang Jong terdiri dari kata ‘muang’ uang yang memiliki arti ‘buang’ dan ‘jong’ yang memiliki arti ‘miniatur kapal kecil yang berisi sesajian’. Penggabungan dari dua kata tersebut bermakna sebuah ritual mengarungkan miniatur kapal kecil yang berisi sesajian ke laut . Tradisi Muang Jong ini dituangkan ke dalam karya busana tugas akhir menggunakan gaya ungkap analogi. Metode penciptaan yang digunakan dalam penciptaan pada karya rancangan ready to wear, busana ready to wear deluxe, dan busana semi couture dengan ide pemantik tradisi Muang Jong menggunakkan metodologi penciptaan TI Ratna Cora, yaitu ‘FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion’. FRANGIPANI terdiri dari sepuluh tahapan proses perancangan desain fashion berdasarkan identitas budaya Indonesia. Sepuluh metode FRANGIPANI tersebut akan diterapkan pada tiga jenis busana akhir yang bergaya feminine romantic. Ketiga busana tersebut diberi judul Samudra Amerta, Samudra Amerta diambil dari bahasa Sansekerta. Samudra berarti laut, dan Amerta berarti abadi, penggabungan dari dua kata tersebut memiliki arti ‘laut yang abadi’. Karya busana yang penulis wujudkan menggunakan warna yang memberi kesan tenang layaknya laut, yaitu warna ungu. Warna ungu mendominasi karya busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture berjudul Samudra Amerta dari segi pemilihan kain, dan detail aplikasi bunga. Kesimpulan dari proses penciptaan karya tugas akhir mendeskripsikan imajinasi penulis terhadap salah satu tradisi di Indonesia yang dituangkan menjadi ide pemantik busana Tugas Akhir yang berjudul Samudra Amerta, salah satu tujuan dari mengangkat tradisi Muang Jong menjadi ide pemantik karya busana adalah untuk memperkenalkan tradisi Muang Jong kepada para pembaca dan penikmat seni.
“SANG ARABICA”: Metafora Kopi Kintamani Dengan Cipta, Rasa Dan Karya Dalam Sebuah Rancangan Busana Moneko, I Kadek Dode; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kopi Arabica merupakan kopi yang memiliki cita rasa yang unik dan kompleks dibandingkan dengan kopi lainnya. Salah satu daerah yang memproduksi kopi Arabica di Bali yakni daerah Kintamani, Kabupaten Bangli. Kopi arabica sendiri telah terkenal dikalangan pecinta kopi di dunia. Untuk lebih memperkenalkan komoditas dari daerah Kintamani satu ini ke berbagai penjuru dunia dengan cara yang unik, dimana dengan mengaplikasikan kopi Arabica Kintamani dalam bentuk karya busana. Dalam penciptaannya, terdapat tiga busana yang dirancang yakni Ready to Wear, Ready to Wear Deluxe, dan Semi Couture. Ketiga busana ini dalam proses penciptaannya berawal dari ide dasar yakni kopi arabica Kintamani, kemudian dikembangkan melalui mind mapping yang membentuk kata kunci karya busana ini. Kata kunci tersebut menjadi Batasan yang menggambarkan moodboard sebagai kumpulan objek yang digunakan untuk membantu dalam mengembangkan ide dan konsep dalam merancang dan menciptakan karya busana, serta storyboard atau sketsa gambar yang menerangkan alur cerita pada karya Sang Arabica ini secara garis besarnya. Penciptaan karya busana Sang Arabica menggunakan metode Frangipani yang meliputi desain brief, research and sourching, analyzing, narrating idea, giving a soul-taksu, interpreting final collection, promoting, affirmation branding, navigating art fashion by humanist capitalism method, and introducing art fashion business. Dalam penciptaan karya busana ini diharapkan mendorong semangat mahasiswa maupun desainer muda lainnya dalam berkarya serta meniti karir dalam dunia fashion desain.
Benjing Mesti Winggit: Penerapan Dalam Penciptaan Busana Dengan Konsep Metafora Cerita Rakyat Reog Ponorogo Fitriani; Sari, Dewa Ayu Putu Leliana; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terinspirasi dari salah satu cerita rakyat reog ponorogo yang merupakan alur cerita Ki Ageng Kutu berisi sindiran politik terhadap pemerintahan Raja Brawijaya V yang dinilai lemah karena terlalu disetir oleh permaisurinya. Terkait hal itu penulis mengangkat tugas akhir dari Program Kegiatan MBKM ini dengan judul “BENJING MESTI WINGGIT” sebagai refleksi untuk menumbuhkan rasa percaya diri agar tidak mudah terpengaruh. Tahapan-tahapan Metode penciptaan seni yang digunakan dalam penciptaan karya busana tugas akhir dengan konsep Cerita Rakyat Reog Ponorogo, (couture, deluxe dan ready to wear) menggunakan metodologi “FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion” (Frangipani, Tahapan tahapan rahasia dari Seni Fashion) Makna Dhahhak Merak adalah kekuatan, keindahan dan kekuasaan. Penulis menentukan lima keywords, yaitu: Keindahan dalam karya melalui bentuk tubuh yang indah dan juga menambahkan beberapa payet. Benang diterapkan dalam karya melalui makrame yang dijalin menjadi satu. Taring diterapkan melalui bentuk yang meruncing pada busana. Bulu diterapkan dalam karya busana oversize. Kebaikan diartikan teratur, yaitu simetris. Melalui penggarapannya, penulis berpegangan pada lima kata kunci yang didapat melalui hasil riset. Kelima kata kunci tersebut dituangkan pada desain serta diwujudkan melalui tahapan-tahapan penciptaan karya fashion. Penulis menerapkan proses penciptaan karya fashion FRANGIPANI sebagai acuan dalam penggarapan karya Tugas Akhir. Penulis menerapkan 10 tahapan, yakni tahapan ide pemantik, riset, storyboard & mood board, desain, sampel & konstruksi pola, hasil akhir, merek, promosi, produksi dan bisnis fashion.
Keunikan Tradisi Panen Pelestarian Budaya Gawai Dayak Sebagai Identitas Pribumi Dewi, Melda Fransiska; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upacara Adat Gawai Suku Dayak merupakan warisan turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Jubata, Sang Pencipta, berasal dari Kalimantan Barat, Kabupaten Sanggau. Busana ready to wear, ready to wear deluxe dan haute couture ini diciptakan dengan tujuan menggabungkan tradisi Gawai Dayak dengan sentuhan Edgy. Perwujudan karya busana menggunakan teori metafora dan kata kunci terpilih seperti Rasa syukur, Kehormatan, Persatuan, Bebas, dan Kejayaan diterapkan dalam implementasi tradisi Gawai Dayak dalam busana ini. Metode penciptaan yang digunakan terdiri dari delapan tahapan penciptaan "Frangipani" Desain Fashion oleh Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana tahun 2016, yang meliputi design brief, research and sourcing, design development, sample, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, dan production business. Dengan adanya penciptaan ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih mendalam pada literatur mode, dengan menghadirkan harmonisasi antara teori metafora tradisi Gawai Dayak dan gaya busana Edgy.
Eternity of Majesty: Analogi Keindahan Arsitektur Katedral Santo Yosef Pontianak Dalam Busana Classic Elegant Arvia, Ni Desak Made Amanda; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gereja Katedral Santo Yosef berdiri sejak 9 Desember 1909, merupakan gereja tertua di Paroki Keuskupan Agung Pontianak. Bangunan gereja dirancang oleh arsitek asli dari Kalimantan Barat didampingi Tim Asistensi Pembangunan Gereja. Model gereja mengacu arsitektur klasik "Corinten" yang terlihat dari kubah bulat sebagai kubah utama dan diatasnya ada kubah kecil lagi yang disebut "Rotunda". Bangunan Katedral St. Yosef Pontianak memiliki arsitektur bergaya roma dengan pilar-pilar besar, jendela-jendela kaca patri yang indah menggambarkan ilustrasi orang-orang kudus, namun tetap memiliki unsur kebudayaan Dayak yang melekat. Terdapat ornamen-ornamen Dayak berupa motif burung enggang dan motif Dayak lainnya yang terukir di pintu maupun dinding Katedral. Dalam penciptaan karya Tugas Akhir studi independent ini, penulis menggunakan style minimalis, klasik dan elegan yang dipadukan dengan unsur etnik. Bentuk busana yang sederhana, tidak menggunakan layering dan menggunakan warna dasar yang netral menjadi acuan penulis dalam pembuatan desain dan pemilihan bahan. Busana dengan ide pemantik Katedral Santo Yosef Pontianak menghasilkan tiga buah karya yaitu busana ready to wear, ready to wear deluxe, semi couture. Hal yang ingin ditonjolkan dalam penciptaan desain adalah siluet ruang setengah lingkaran menyerupai kubah, Dimana kubah tersebut merupakan icon dari Katedral Santo Yosef Pontianak. Selain siluet, teknik juga cukup diperhatikan untuk membuat susunan kain menyerupai kaca-kaca patri karena kaca patri sangat identik dengan Katedral. Desain yang sederhana dan warna dasar yang netral merupakan bentuk dari penerapa gaya busana minimalis dan elegan.
Yudhaka Anderpati: Tradisi Perang Lembing Kayu Dalam Busana Bergaya Edgy Y2k Larasistris, Triasmoro; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan busana bergaya Y2K, EDGY yang terinspirasi dari sebuah tradisi yang berasal dari Waanokaka, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Pasola berasal dari kata sola atau hola yang berarti kayu lembing. Dalam konteks ritual, pasola merupakan tradisi perang adat dimana dua kelompok penunggang kuda saling berhadapan, kejar-mengejar seraya melempar lembing kayu kearah lawan. Asola berasal dari kata sola atau hola yang berarti kayu lembing. Pasola diselenggarakan sekali dalam setahun yaitu pada permulaan musim tanam, tepatnya pada bulan Februari di Kecamatan Lamboya serta bulan Maret di Kecamatan Wanokaka dan Laboya Barat/Gaura. Sama halnya dengan upacara Bijalungu Hiupaana, tanggal pasti perayaan pasola ditentukan oleh para rato berdasarkan perhitungan bulan gelap dan bulan terang serta dengan melihat tanda- tanda alam. Satu bulan sebelum pasola seluruh warga harus mematuhi sejumlah pantangan antara lain tidak boleh mengadakan pesta, membangun rumah dan lain sebagainya. Pasola diselenggarakan sekali dalam setahun yaitu pada permulaan musim tanam, tepatnya pada bulan Februari di Kecamatan Lamboya serta bulan Maret di Kecamatan Wanokaka dan Laboya Barat/Gaura. Sama halnya dengan upacara Bijalungu Hiupaana, tanggal pasti perayaan pasola ditentukan oleh para rato berdasarkan perhitungan bulan gelap dan bulan terang serta dengan melihat tanda- tanda alam. Satu bulan sebelum pasola seluruh warga harus mematuhi sejumlah pantangan antara lain tidak boleh mengadakan pesta, membangun rumah dan lain sebagainya.
GELAP RUANG JIWA: TRADISI BONEKA NINI THOWONG PADA PENCIPTAAN KARYA BUSANA BERGAYA ANDROGINI Patrow, Corlyne Janselia Marcelly; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian Nini Thowong adalah seni tradisi masyarakat Dusun Grudo, Bantul yang dimainkan sejak tahun 1938. Tradisi Boneka Nini Thowong merupakan karya seni peninggalan Jawa kuno dengan unsur ritual yang tinggi dengan memasukan roh ke dalam media boneka. Dalam ritual tradisi ini, Nini Thowong biasanya diberikan beberapa pertanyaan, ia akan menjawab dengan mengangguk atau menggelengkan kepalanya, terkadang juga dengan gerakan tidak terkontrol diiringi dengan alunan gamelan, dolanan, dan juga mantra yang dibacakan oleh sang pawang boneka Nini Thowong. Pada dahulu kala sebenarnya Nini Thowong bukan sekedar permainan biasa, tetapi adalah upacara untuk memanggil hujan, pengobatan, pesugihan, atau juga mencari barang yang hilang. Dari waktu ke waktu seni tradisi ini menyedot perhatian berbagai pihak dan menjadikan tradisi ini beralih fungsi menjadi aset wisata mistik. Penciptaan karya busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan couture ini diwujudkan ke dalam karya dengan ide pemantik Tradisi Boneka Nini Thowong dengan style androgini. Tradisi Boneka Nini Thowong diwujudkan dengan menggunakan gaya ungkap analogi. Metode penciptaan yang digunakan terdiri dari delapan tahapan penciptaan “Frangipani” Desain Fashion dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, pada tahun 2016 yaitu meliputi design brief, research and sourcing, analizing art fashion, narrating art fashion, production business. Diharapkan ide dari penciptaan busana ini dapat menambah refrensi kepustakaan tentang Tradisi Boneka Nini Thowong, juga diharapkan hasil busana ini dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat luas tentang keberadaan Tradisi Boneka Nini Thowong dengan keunikannya yang sudah mulai terancam punah.
Co-Authors A.A. Ngr. Anom Mayun K. Tenaya Agustin Dia Sapariadi, I Dewa Ayu Reika Anak Agung Sagung Istri Trisnadewi Aribaten, Ni Nengah Zinnia Arimbawa, I Gede Arvia, Ni Desak Made Amanda Cahyani, Ni Kadek Tira Adi Darmara Pradnya Paramita, Ni Putu Dewantari Dewi Dasi, Ni Luh Melati Dewi, Melda Fransiska Dewi, Ni Kadek Junita Dianawati, Ni Kadek Dwi Putri Diantari, Ni Kadek Yuni Erawan, Ni Putu Netania Amanda Fida, Dalil Al Quds Fitriani Grahantiyasari, Kadek Mirah I Gede Anjas Kharismanata I Ketut Muka I Made Radiawan I Wayan Mudra, I Wayan I Wayan Rai I Wayan Sujana I Wayan Swandi Ida Ayu Wimba Ruspawati, Ida Ayu Karso, Kejora Pratiwi Karso, Olih Solihat Karuni, Ni Kadek Kharismanata, I Gede Anjas Komang Yudistia Larasistris, Triasmoro Mahadewi, Ida Ayu Ari Maheswari, Ni Made Dian Maselia Andriani, Ni Putu Nanda Moneko, I Kadek Dode MS Prof. Dr. I Wayan Rai . Muda Rahayu, Made Tiartini Mudarahayu, Made Tiartini Ni Kadek Yuni Diantari Ni Luh Ayu Pradnyani Utami Ni Putu Desy Sonnya Suandhari Nitya Sari, Ni Wayan Maya Nyoman Dewi Pebryani Patrow, Corlyne Janselia Marcelly Pratiwi, Luh Leony Rida Prayatna, I Wayan Dedy Priatmaka, I Gusti Bagus Puspa Anjani, Ayu Diah Puspa Yeni, Ni Putu Ryani Putu Manik Prihatini Putu Manik Prihatini Rahayu, Made Tiartini Muda Remawa, Anak Agung Gede Rai Santini, Ni Kadek Dwika Santosa, Hendra Saraswati, Ni Made Sari, Dewa Ayu Putu Leliana Siti Wasi’aturrizqi Soelistyowati Soelistyowati Suandhari, Ni Putu Desy Sonnya Sukarya, I Wayan Sukawati, Tjokoda Gde Abinanda Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri Sukmawati, Ni Komang Ayu Trisnadewi, Anak Agung Sagung Istri Udiyani, Ni Made Santi Wartini, Ketut Ari Widya, Sabiya Shula Wiguna, Kadek Karina Maharani Windari, Komang Noli Yuliana Maria