Claim Missing Document
Check
Articles

Sauk Ekendi : Analogi Tumbuhan Buah Merah Sebagai Inspirasi Penciptaan Busana Vintage Look Dewantari; I Wayan Rai S; Ratna Cora S., Tjok Istri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.516 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.728

Abstract

Buah merah (Pandanus Conoideus) merupakan salah satu tumbuhan endemik Papua yang tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi khususnya di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua. Penduduk asli di lereng gunung Jayawijaya menyebutnya dengan istilah Sauk Ekendi yang berarti buah darah atau sering juga disebut buah keajaiban karena buah ini kaya manfaat misalnya untuk bahan obat tradisional, sebagai makanan, pewarna makanan, bahan kosmetik dan bahan sabun. Namun demikian, sampai saat ini buah merah belum pernah dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni fesyen. Oleh karena itu, penulis ingin menciptakan busana vintage look dengan sumber inspirasi dari buah merah dengan tujuan memperkenalkan tumbuhan buah merah kepada masyarakat luas agar tetap dibudidayakan. Dalam penciptaan busana vintage look ini dipergunakan teori FRANGIPANI yaitu terdiri dari 8 tahapan (1) ide pemantik, (2) riset dan sumber data, (3) pengembangan desain, (4) prototype, sampel dan konstruksi, (5) koleksi akhir, (6) promosi, merek dagang dan pemasaran, (7) produksi dan (8) bisnis fesyen. Data-data tentang buah merah ini didapatkan melalui sumber wawancara dan sumber kepustakaan. Selanjutnya digarap dengan teori FRANGIPANI. Hasil dari penggarapan ini adalah busana vintage look yang terdiri atas 3 jenis busana yaitu ready to wear yang artinya busana siap pakai yang diproduksi dalam skala besar dengan menggunakan mesin, ready to wear deluxe yang artinya busana siap pakai dengan kualitas dan desain yang lebih eksklusif serta pengerjaannya masih menggunakan mesin, dan ketiga haute couture yang artinya busana adiluhung dengan desain orisinil atas pesanan pelanggan, dibuat secara eksklusif, proses pengerjaan 80- 90% dengan tangan.
NAMAKALIU: METAFORA BURUNG KUAU RAJA DALAM PENCIPTAAN BUSANA DENGAN EDGY STYLE LOOK ANDROGYNY Agustin Dia Sapariadi, I Dewa Ayu Reika; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Muka, I Ketut
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.044 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.730

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia terutama pada jenis satwa dan tumbuhan. Khususnya keanekaragaman spesies fauna burung Kuau Raja yang penyebarannya terancam punah. Burung Kuau Raja yang mempunyai nama latin Argusianus argus ini merupakan satwa endemik asli Indonesia yang ditetapkan sebagai fauna identitas dari Provinsi Sumatra Barat. Burung Kuau Raja memiliki bulu sayap dan ekor yang panjang, berwarna coklat kemerahan dengan motif abstrak dan bulat menyerupai mata serangga (ocelli), sehingga mendapat julukan burung seratus mata. Dari keindahan burung Kuau Raja menjadi sumber ide pemantik penciptaan karya busana tugas akhir yang diwujudkan ke dalam busana dengan tingkat yang bertahap yaitu Ready To Wear, Ready To Wear Deluxe, dan Haute Couture. Ide pemantik burung Kuau Raja diimplementasikan dengan teori metafora dari beberapa kata kun ci yaitu Koloni, Soliter, Suara, Poligini, Cinta, Edgy style dan Androgyny style. Landasan penciptaan busana ini menggunakan metodelogi desain Tjok Ratna Cora, yaitu “FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion” yang terdiri atas sepuluh tahapan dalam proses perancangan desain fashion berdasarkan identitas budaya Bali, namun dalam penciptaan karya tugas akhir ini hanya menggunakan 8 metode yaitu Ide pemantik (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain (design development), sample, prototype, and contruction, koleksi akhir (the final collection), promosi (promotion, sales and branding), produksi (production) dan bisnis (business). Hasil penciptaan ini diharapkan dapat menambah kepustakaan khususnya pada bidang mode mengenai metafora burung Kuau Raja yang diimplementasikan kedalam wujud busana edgy style dengan menggunakan branding “Hygge” dan strategi Bisnis Model Canvas (BMC).
LEADING TO THE LAST PLACE: ANALOGI ARSITEKTUR MAKAM GANTUNG DALAM BUSANA BERGAYA EDGY Suandhari, Ni Putu Desy Sonnya; Ratna Cora S., Tjok Istri; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.114 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.746

Abstract

Erong adalah makam gantung yang berasal dari Sulawesi Selatan, Tana Toraja. Erong memiliki arsitektur dan cara pemakaman yang unik. Makam ini dipenuhi dengan berbagi macam ukiran Toraja yang memiliki makna tersendiri. Kemudian dituangkan ke dalam busana untuk mengetahui proses penciptaan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture dengan ide Erong, sehingga dapat menjadi inspirasi dan refrensi bagi penciptaan yang akan datang. Proses penciptaan menggunakan metodelogi desain Tjok Ratna Cora, yaitu “FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion” yang terdiri atas sepuluh tahapan dalam proses perancangan desain fashion berdasarkan identitas budaya Bali. Berdasarkan ide pematik Erong, maka tercipta busana dengan style edgy. Edgy merupakan busana yang tergolong tidak biasa atau out of the box dengan ciri warna gelap yang mendominasi. Dalam karya ini menggunakan gaya ungkap analogi yang mengambil bentuk perahu sebagai salah satu bentuk Erong dengan berbagai macam ukiran yang memiliki makna tersendiri. Warna yang di ambil meggunakan empat warna dasar ukiran Toraja yaitu merah, kuning, putih, hitam, dan warna dari tebing serta makam yang sudah lapuk yaitu abu- abu. Selain itu bada busana juga terdapat banyak garis lurus yang menggambarkan siluet dari Erong yang didominasi garis lurus. Ketiga busana ini menggunakan print fabric dengan motif ukirn Toraja yang terdapat ada Erong. Pada busana ready to wear terdiri dua pieces, yaitu top dan celana. Pada busana ready to wear deluxe terdiri dari satu pieces, yaitu dress. Dan pada busana haute couture terdiri atas dua pieces, yaitu dress dan cape.
Metta Karuna : Teaching of Love and Compassion Dianawati, Ni Kadek Dwi Putri; Ratna Cora S., Tjok Istri; Pebryani, Nyoman Dewi
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.579 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1491

Abstract

Metta Karuna adalah judul koleksi busana Tugas Akhir bertemakan Diversity of Indonesia yang terinspirasi dari Vihara Buddhagaya Watugong yang merupakan salah satu kawasan ibadah sekaligus salah satu objek tujuan wisata religi di Kota Semarang. Atraksi wisata yang terdapat di kawasan Vihara Buddhagaya Watugong terdiri dari atraksi budaya fisik/bangunan dan atraksi budaya. Adapun atraksi bangunan seperti Pagoda Avalokitesvara, yang merupakan stupa dengan ciri khas Tiongkok yang didalamnya terdapat patung Bodhisatva Avalokitesvara atau biasa dikenal dengan nama Dewi Kwan Sie Im Po Sat atau Dewi Welas Asih. Penciptaan karya busana ready to wear deluxe dan semi couture ditunjukan untuk mewujudkan busana wanita dan pria dengan style classic elegant dan Vihara Budhagaya Watugong sebagai ide penciptanya. Metode penciptaan yang digunakan yaitu terdiri dari delapan tahapan penciptaan “Frangipani” Desain Fashion dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016 meliputi design brief, research and sourching, design development, sample, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, production business. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap metafora yang akan diuraikan pada keyword berupa Budaya Tiongkok, Metta Karuna, Bertumpuk-tumpuk, Megah, dan Persembahan. Adapun warna yang dipilih merupakan warna – warna yang berkaitan dengan konsep Vihara Buddha yaitu coklat dan dominan merah. Melalui perpaduan material utama yaitu Katun, Organdi, Satin Bridal, Fleece.
Coronatus : Uncrowned Queen (Metafora Orchid Mantis dalam Busana Pastel Goth) Nitya Sari, Ni Wayan Maya; Ratna Cora S., Tjok Istri; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.075 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1496

Abstract

“CORONATUS: Uncrowned Queen” adalah judul koleksi busana Tugas Akhir bertemakan Diversity of Indonesia yang terinspirasi oleh fauna dari hutan hujan tropis di Pulau Jawa yakni Belalang Anggrek, dengan memadupadankan art of beat style dengan look androgini dan pastel goth dengan sentuhan gaya 80-an. Kecantikan Orchid Mantis dengan nuansa warna merah jambu serta putih bersih layaknya bunga anggrek yang tengah mekar, diangkat menjadi ide pemantik dalam merancang busana Ready to Wear dan Semi Couture yang mengacu pada teori metafora yang diimplentasikan ke dalam Art of Beat Style serta Pastel Goth Style. Penciptaan koleksi “CORONATUS: Uncrowned Queen” menggunakan delapan tahapan yang bertajuk “Frangipani”, Tahapan – tahapan rahasia dari Seni FashionArt. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap metafora yang akan diuraikan pada teori semiotika dan keyword berupa pixel, kamuflase, diurnal, kanibal, 1879. Keyword tersebut kemudian diolah sedemikian rupa dan diaplikasikan pada koleksi busana dengan teori estetika postmodern yang mencakup prinsip desain dan elemen desain yang tampak dari desain busana, detail dan pemilihan bahan sehingga terbentuk nilai keindahan dalam koleksi busana ini. Adapun warna yang dipilih merupakan warna – warna yang berkaitan dengan konsep Orchid Mantis yaitu merah jambu, maroon, putih, biru muda dan hitam. Melalui perpaduan material utama, yaitu Denim, taffeta, Denim Stonewashed dan plisket. Proses pengerjaan koleksi Tugas Akhir “CORONATUS: Uncrowned Queen” mengaplikasikan teknik patchwork, stitching, serta manipulasi tekstil dibeberapa bagian – bagian pada busana.
Seaphoria: The Marine Life of Bunaken Erawan, Ni Putu Netania Amanda; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.312 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1500

Abstract

Taman Nasional Bunaken merupakan perwakilan ekosistem laut Indonesia yang memiliki beragam kehidupan bawah laut. Hal ini dikarenakan Taman Nasional Bunaken berada di segitiga emas terumbu karang dunia yang tersebar dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste dan kepulauan Solomon. Taman Laut Bunaken yang mempesona, diangkat sebagai ide pemantik pada penciptaan karya busana ready to wear deluxe dan semi haute couture dengan gaya busana yang feminin sebagai karya kolaborasi bersama CV. Terima Kasih Banyak selaku mitra. Proses penciptaan karya busana ready to wear deluxe dan semi haute couture diimplementasikan dengan teori metafora dengan mengambil lima kata kunci terpilih yaitu Terumbu karang, tersembunyi, mempesona, hidup, dan penyu. Metode “FRANGIPANI” digunakan sebagai pedoman dalam proses penciptaan busana ini yang terdiri dari Design Brief, Research and Sourching, Design Development, Sample, Prototype, Dummy, Final Collection, (Promoting, Branding, Sale, Production, Bussiness). Hasil dari penciptaan busana ini diharapkan dapat menjadi salah satu referensi kepustakaan terkait dengan bidang mode serta dapat mempromosikan keindahan ekosistem laut indonesia
INFERNO: Metafora Naja Sumatrana dalam Busana Look Bombshell dan Androgynous Fida, Dalil Al Quds; Sudarsana, Tjok Istri Ratna Cora; Sari, Dewa Ayu Putu Leliana
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.135 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1770

Abstract

INFERNO merupakan judul koleksi busana yang bertemakan Diversity of Indonesia, terinspirasi dari Naja Sumatrana atau ular kobra Sumatra memadukan look bombshell dan androgynous dengan konsep western modern dan style Sexy alluring. Koleksi ini merupakan jenis busana ready to wear deluxe dan semi couture. Penciptaan koleksi busana menggunakan delapan tahapan yang berjudul “Frangipani”, Tahapan – tahapan rahasia dari Seni FashionArt. Dengan lima keywords berupa Racun, Taring, Simetris, sembur, dan tudung, tahap pengerjaan koleksi ini dilakukan dengan program magang MBKM yang bertempat pada UD Ali Charisma, dengan mengkolaborasikan ciri khas dari Ali Charisma dengan gaya dari penulis sehingga tercipta koleksi busana INFERNO. Detail warna yang digunakan dari koleksi INFERNO yaitu hitam dan dark grey yang merupakan warna dari ular kobra Sumatra, melalui perpaduan material bahan, yaitu kain tulle, kain semi vinyl, kain lycra, dan kain jaring, selain itu Teknik pengerjaan koleksi ini menggunakan Teknik cut out dan Teknik applique untuk menambahkan kesan 3D pada busana.
Bala Maya Niskala : Studi Kasus Busana Semi Couture dan Deluxe di CV. Terima Kasih Banyak Cahyani, Ni Kadek Tira Adi; Sudarsana, Tjok Istri Ratna Cora; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.693 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1773

Abstract

Motologi merupakan warisan budaya intangible yang mulai dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Makadari itu penulis ingin memperkenalkan kembali lewat koleksi yang berjudul “Bala Maya Niskala”. Pada penciptaan ini juga diuraikan tentang keterkaitan antara bentuk dan makna dalam busana Ready To Wear Deluxe dan Semi Couture dengan ide pemantik. Bentuk yang muncul pada koleksi ini tampak dalam siluet, permainan potongan busana, dan aplikasi dari Textile Manipulating dengan teknik penambahan dan pengurangan. Sedangkan makna pada koleksi ini secara garis besar adalah perpaduan antara sumber ide dengan unsur tradisional dan unsur modern yang inovatif. Pada penulisan ini juga disertakan penerapan bisnis model canvas pada koleksi karya Tugas Akhir dengan judul “Bala Maya Niskala”.
Troides Psyche Dewi Dasi, Ni Luh Melati; Sudarsana, Tjok Istri Ratna Cora; Sari, Dewa Ayu Putu Leliana
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.924 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1782

Abstract

Kupu-kupu Troides Dorhetyi merupakan kupu-kupu bersayap besar berwarna hitam (Jantan) dan coklat (Betina), hanya bisa ditemukan di kepulauan Talaud dan Sangihe Sulawesi Utara dan Filipina. Kupu -kupu identik dengan kesan feminim. Koleksi busana dengan judul Troides Psyche merupakan hasil kolaborasi dengan tempat magang UD Ali Charisma yaitu busana evening gown dengan style feminim. Tahapan pembuatan koleksi busana Troides Psyche menggunakan teori Prangifani dari Tcok Ratna Istri Ratna Cora Sudharsana yaitu beberapa tahapan pembuatan busana meliputi research and sourching, design development, sample, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, production business. Sebelum memulai tahap desain, perlunya melakukan reseach target market terlebih dahulu, koleksi busana troides psyche dengan target market wanita yang memiliki sifat feminim, berani dan percaya diri. Pembuatan koleksi busana ini menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang selama 4 bulan ini diterima di tempat magang UD Ali Charisma, salah satunya yaitu ilmu bisnis marketing plan yang terdapat bisnis canvas dan pecah pola bustier.
Happiness in Simplycity : Studi Kasus Busana Semi Couture dan Ready to Wear di Agung Bali Collection Maselia Andriani, Ni Putu Nanda; Pebryani, Nyoman Dewi; Sudarsana, Tjok Istri Ratna Cora
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1375.41 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1797

Abstract

Kue Klepon merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang termasuk dalam kelompok jajanan pasar yang sangat unik, makanan ini terbuat dari tepung ketan putih yang diberi pewarna hijau dari daun suji ataupun dari daun pandan kemudian dibentuk bulat-bulat diberi isian gula merah dan direbus didalam air mendidih. Keunikan Kue Klepon itu sendiri yaitu mengeluarkan gula saat digigit didalam mulut sehingga penikmat kue klepon merasakan kejutan rasa manis didalamnya. Hal ini yang membuat Kue Klepon hingga saat ini masih menjadi makanan tradisional yang sangat populer dimasyarakat luas. Pengembangan ide pemantik dari Kue Klepon ini dilakukan dengan tahapan proses desain fashion bertajuk “FRANGIPANI”, The Secret Steps of Art Fashion (Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Tahapan proses desain fashion FRANGIPANI ini meliputi 10 tahapan yang memberikan tahapan sistematis dalam mengembangkan sumber ide Kue Klepon ke dalam karya busana RTW dan Semi Couture.
Co-Authors A.A. Ngr. Anom Mayun K. Tenaya Agustin Dia Sapariadi, I Dewa Ayu Reika Anak Agung Sagung Istri Trisnadewi Aribaten, Ni Nengah Zinnia Arimbawa, I Gede Arvia, Ni Desak Made Amanda Cahyani, Ni Kadek Tira Adi Darmara Pradnya Paramita, Ni Putu Dewantari Dewi Dasi, Ni Luh Melati Dewi, Melda Fransiska Dewi, Ni Kadek Junita Dianawati, Ni Kadek Dwi Putri Diantari, Ni Kadek Yuni Erawan, Ni Putu Netania Amanda Fida, Dalil Al Quds Fitriani Grahantiyasari, Kadek Mirah I Gede Anjas Kharismanata I Ketut Muka I Made Radiawan I Wayan Mudra, I Wayan I Wayan Rai I Wayan Sujana I Wayan Swandi Ida Ayu Wimba Ruspawati, Ida Ayu Karso, Kejora Pratiwi Karso, Olih Solihat Karuni, Ni Kadek Kharismanata, I Gede Anjas Komang Yudistia Larasistris, Triasmoro Mahadewi, Ida Ayu Ari Maheswari, Ni Made Dian Maselia Andriani, Ni Putu Nanda Moneko, I Kadek Dode MS Prof. Dr. I Wayan Rai . Muda Rahayu, Made Tiartini Mudarahayu, Made Tiartini Ni Kadek Yuni Diantari Ni Luh Ayu Pradnyani Utami Ni Putu Desy Sonnya Suandhari Nitya Sari, Ni Wayan Maya Nyoman Dewi Pebryani Patrow, Corlyne Janselia Marcelly Pratiwi, Luh Leony Rida Prayatna, I Wayan Dedy Priatmaka, I Gusti Bagus Puspa Anjani, Ayu Diah Puspa Yeni, Ni Putu Ryani Putu Manik Prihatini Putu Manik Prihatini Rahayu, Made Tiartini Muda Remawa, Anak Agung Gede Rai Santini, Ni Kadek Dwika Santosa, Hendra Saraswati, Ni Made Sari, Dewa Ayu Putu Leliana Siti Wasi’aturrizqi Soelistyowati Soelistyowati Suandhari, Ni Putu Desy Sonnya Sukarya, I Wayan Sukawati, Tjokoda Gde Abinanda Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri Sukmawati, Ni Komang Ayu Trisnadewi, Anak Agung Sagung Istri Udiyani, Ni Made Santi Wartini, Ketut Ari Widya, Sabiya Shula Wiguna, Kadek Karina Maharani Windari, Komang Noli Yuliana Maria