Claim Missing Document
Check
Articles

ETERNITY OF MAJESTY: ANALOGI KEINDAHAN ARSITEKTUR KATEDRAL SANTO YOSEF PONTIANAK DALAM BUSANA CLASSIC ELEGANT Arvia, Ni Desak Made Amanda; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gereja Katedral Santo Yosef berdiri sejak 9 Desember 1909, merupakan gereja tertua di Paroki Keuskupan Agung Pontianak. Bangunan gereja dirancang oleh arsitek asli dari Kalimantan Barat didampingi Tim Asistensi Pembangunan Gereja. Model gereja mengacu arsitektur klasik "Corinten" yang terlihat dari kubah bulat sebagai kubah utama dan diatasnya ada kubah kecil lagi yang disebut "Rotunda". Bangunan Katedral St. Yosef Pontianak memiliki arsitektur bergaya roma dengan pilar-pilar besar, jendela-jendela kaca patri yang indah menggambarkan ilustrasi orang-orang kudus, namun tetap memiliki unsur kebudayaan Dayak yang melekat. Terdapat ornamen-ornamen Dayak berupa motif burung enggang dan motif Dayak lainnya yang terukir di pintu maupun dinding Katedral. Dalam penciptaan karya Tugas Akhir studi independent ini, penulis menggunakan style minimalis, klasik dan elegan yang dipadukan dengan unsur etnik. Bentuk busana yang sederhana, tidak menggunakan layering dan menggunakan warna dasar yang netral menjadi acuan penulis dalam pembuatan desain dan pemilihan bahan. Busana dengan ide pemantik Katedral Santo Yosef Pontianak menghasilkan tiga buah karya yaitu busana ready to wear, ready to wear deluxe, semi couture. Hal yang ingin ditonjolkan dalam penciptaan desain adalah siluet ruang setengah lingkaran menyerupai kubah, Dimana kubah tersebut merupakan icon dari Katedral Santo Yosef Pontianak. Selain siluet, teknik juga cukup diperhatikan untuk membuat susunan kain menyerupai kaca-kaca patri karena kaca patri sangat identik dengan Katedral. Desain yang sederhana dan warna dasar yang netral merupakan bentuk dari penerapa gaya busana minimalis dan elegan.
THE UNIQUE A OLD ARTEFACT STONE'S DALAM BUSANA EDGY STYLE Wartini, Ketut Ari; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia memiliki banyak bentuk-bentuk proses penguburan dengan menggunakan wadah dan banyak ragamnya, hal ini merupakan menjadi bukti adanya kemampuan dan alam pikiran sendiri dan setiap daerah mempunyai ciri khas masing-masing. Adanya perbedaan bentuk dan jenis wadah kuburan, pada satu sisi dapat dipandang sebagai suatu perkembangan yang mungkin bersifat lokal karena pengaruh lingkungan alamnya, tetapi dapat juga dianggap sebagai suatu proses perkembangan budaya dari masa ke masa. Bentuk-bentuk wadah kubur yang terbuat dari batu dapat dibedakan dalam beberapa jenis, misalnya: kubur dolmen (hybrid dolmen graves), kubur peti batu (stone-cist graves atau stoneslab graves), tempayan batu (stone vats), dan keranda batu atau sarkofagus (Heine Geldern 1945: 148-152; Soejono, 1977: 31) Masyarakat (suku) Minahasa yang terletak di Sulawesi Utara ini merupakan suku di Indonesia yang memiliki bentuk-bentuk budaya khas, yang berupa peninggalan berupa tradisi penguburan yang sudah ada pada zaman megalitik yang berupa kubur peti batu atau yang sering disebut dengan waruga. Dari hasil penelitian terlihat bahwa kubur batu waruga ini ternyata mempunyai beberapa ciri khas bentuk keragaman seperti tutupnya, tetapi ternyata beberapa keragaman bentuk tutup waruga ini tidak memperlihatkan adanya suatu simbol dari status sosial masyarakat pendukungnya, seperti contoh kebanyakan tradisi penguburan yang ada didaerah lain berciri megalitik lainnya.
JULUK ADOK : TRADISI CAKAK PEPADUN LAMPUNG DALAM PENCIPTAAN BUSANA READY TO WEAR, DELUXE DAN SEMI COUTURE Siti Wasi’aturrizqi; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Cakak Pepadun dari Lampung, Sumatera, memiliki akar sejarah dari Kerajaan Lampung pada abad ke-17. Sebagai seni bela diri khas, Cakak Pepadun telah menjadi bagian vital dari kehidupan masyarakat Lampung selama berabad-abad. Nilai-nilai tradisionalnya tetap dijaga dan diajarkan melalui pelatihan dan pertunjukan. Dalam mempromosikan budaya Lampung, penggunaan berbagai jenis busana seperti Ready to Wear, Deluxe, dan Semi Couture memegang peran penting. Perbedaan antara ketiganya terletak pada kualitas, eksklusivitas, dan harga. Dalam era modern, pengembangan proses pengenalan budaya adat penting untuk menarik perhatian baik dari lokal maupun luar Lampung, membantu melestarikan dan memperkaya warisan budaya di tengah perubahan zaman.
ANGSU LUBHYATI : THE THIEF OF NAWANGWULAN IN SEXY ALLURING STYLE Yuliana Maria; K. Tenaya, A.A. Ngurah Anom Mayun; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu lukisan karya sang pelukis maestro legendaris Basuki Abdullah yang berjudul " Jaka Tarub " merupakan karya lukisan terkenal, memiliki nilai seni tinggi dan cerita rakyat. Dibalik lukisan ini ada cerita dan kisah tentang jaka tarub dan tujuh bidadari yang turun ke bumi untuk mandi yang kemudia oleh Basoeki Abdullah dilukiskan menjadi eksotis dan sekaligus erotis di tangannya. Ada 10 tahapan penciptaan “Frangipani” Desain Fashion dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, Penciptaan karya busana ready to wear, deluxe dan semi haute Couture ini di buat untuk mewujutkan busana sexy alluring dengan mengambil lukisan Joko Tarub sebagai ide pemantik. Lukisan Joko Tarub ini diimplementasikan dalam karya dengan menggunakan teori metafora dan kata kunci yang terpilih yaitu, eksotis,pria,merah,selendang,gesture. Metode penciptaan yang tahun 2016 meliputi design brief, research and sourching, design development, sample, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, production business. Diharapkan karya ini nantinya dapat menambah kepustakaan dibidang mode dengan teori metafora lukisan Joko Tarub yang akan diimplementasikan dalam busana bergaya sexy alluring.
KONSEP SUSTAINABLE FASHION DALAM KOLEKSI BUSANA CAKRAWALA Mudarahayu, Made Tiartini; Ratna CS, Tjok Istri; Utami, Ni Luh Ayu Pradnyani
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belum adanya teknologi pengolahan limbah yang baik khususnya untuk limbah cair akibat dari industri tekstil di Indonesia, menuntut desainer untuk mampu menunjukkan upaya pengendalian limbah sebagai bentuk kesadaran akan konsep keberlanjutan dalam industri fashion. Konsep sustainable fashion menjadi konsep dasar dalam penciptaan kolesi busana Cakrawala ini, tidak hanya berfokus pada aspek bahan melalui penggunaan tekatil Ecoprint yang lebih ramah lingkungan, aspek sosial melalui penggunaan endek Bali seseh juga dilakukan untuk melestarikan ekosistem pembuatan wastra Bali khususnya endek. Pada prosesnya peneliti menerapkan metode penciptaan frangipani: the secret step of art fashion. Hasil dari penelitian ini yaitu koleksi busana Cakrawala terdiri atas lima busana yang terbagi ke dalam tiga busana wanita dan dua busana pria. Menggunakan kain Ecoprint dan endek Bali seseh sebagai material dengan memperhatikan material lain yang ramah lingkungan seperti wool dan katun twill, pola yang menghasilkan limbah yang minimal atau jika bisa hingga zero waste, desain yang timeless sehingga dapat menjadi bagian dari slow fashion dan tidak tergerus oleh zaman dan tergeser tren, serta penggunaan endek Bali seseh sebagai bentuk kesadaran akan penerapan konsep sustainability fashion dalam kearifan lokal Bali. Melalui perwujudan lima busana dalam koleksi Cakwala ini diharapkan dapat menjadi model implementasi SDGs dalam perkembangan industri fashion kedepannya.
TUTUR BUMI: WASTRA TUU BATU DAN SAUDAN PADA KARYA ART FASHION Ratna, Tjok Istri
PANGGUNG Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i4.3576

Abstract

Bebali wastra is a sacred weaving product that contains aesthetic, socio-economic, and socio-cultural values with diverse meanings. The existence of bebali wastra is now starting to fade, so preservation efforts are needed. Therefore, innovation is carried out by adopting the visual aspects of tuu batu and saudan wastra into new wastra, then processed into art fashion products. The method used in the creation of art fashion products is Frangipani: The Secret Steps of Art Fashion. The result of the work is an innovation in tuu batu and saudan wastra through the making of tuu batu and saudan wastra replicas, which are used as the main medium to create six Tutur Bumi art fashion products. Creation was done through exploration with a combination of wastra saudan, tuu batuand various modern textiles painted to resemble rerajahan with the theme of the human life cycle related to Hindu ceremonies in Bali.
REVEALING CULTURAL EXCLUSIVISM IN BALI THROUGH WASTRA BEBALI Tjok Istri Ratna C. Sudharsana
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 1 (2021): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The unpopularity of wastra bebali among the Balinese themselves inspired the writer to explore further and in depth about the thoughts of the sulinggih (pedanda) who intensely described Balinese Hindu religious teachings through the visual art in the medium of textile called wastra bebali, as well as what made it not so popular. known even by the people themselves. Case study research and cultural studies approach is used to uncover the causes of the unpopularity of wastra bebali in Balinese society. The results of the study indicate that there is an indication of the exclusivity of the geriya as the upstream of the knowledge and practice of making wastra bebali as the key factors in the unpopularity of wastra bebali, the exclusivity of the geriya occurs as a result of several accumulative factors caused by past experiences. This attitude of exclusivity is like a double-edged sword, an attitude that can protect the existence of wastra bebali while making it slowly extinct. The emergence of figures like a descendant of the Brahmins who consciously began to introduce wastra bebali to the community, needed support from local researchers, so that they could bring this wastra bebali as an exclusive product not only for the geriya but for Balinese society. Keywords: Wastra Bebali, Cultural Exclusivism, Bali
Kabebasan Diri Analogi Alur Film Before, Now and Then dalam Penciptaan Karya Busana Stlye Eclectic Berkolaborasi dengan Pagi Motley Studio Pratiwi, Luh Leony Rida; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Ni Kadek Karuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 5 No. 1 (2025): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v5i1.5898

Abstract

Busana dengan judul “Kabebasan Diri” yang terinspirasi dari film Before, Now & Then karya Kamila Andini. Proyek ini dilakukan sebagai program studi independen Kampus Merdeka, yang bekerja sama dengan Pagi Motley Studio, sebuah studio seni di Bali yang mengkhususkan diri pada pewarnaan alami. Proses penciptaan dimulai dengan eksplorasi ide pemantik dari elemen visual, naratif, dan emosional film tersebut yang kemudian diterjemahkan menjadi desain busana bergaya eklektik. Penelitian ini mengadopsi pendekatan sistematis melalui tahapan riset, desain, hingga produksi dengan menerapkan prinsip-prinsip seni rupa, dan desain. Karya yang dihasilkan meliputi koleksi busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi haute couture. Dalam prosesnya, bahan alami seperti pewarna dari daun ketapang, kayu secang dan indigo digunakan untuk menghasilkan warna yang unik dan ramah lingkungan. Selain itu, proyek ini juga memberikan manfaat praktis bagi mahasiswa dalam memahami dinamika industri kreatif, dan memperkuat kemampuan kolaborasi lintas disiplin.
Analogi Akulturasi Budaya Pada Masjid Merah Panjunan Dalam Koleksi Busana Amatris Manunggal Widya, Sabiya Shula; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 5 No. 1 (2025): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v5i1.5900

Abstract

Arsitektur Masjid Merah Panjunan tidak hanya sekadar bangunan tempat ibadah, tetapi juga sebuah artefak budaya yang memiliki nilai seni dan sejarah tinggi. Masjid ini didirikan pada tahun 1480 oleh Pangeran Panjunan, seorang ulama keturunan Arab yang juga dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Ciri khas masjid ini adalah penggunaan batu bata merah pada dindingnya. Selain itu, masjid ini juga mencerminkan perpaduan budaya antara Hindu-Buddha, Islam, Cina dan tradisi lokal, sebagaimana terlihat dari ornamen - ornamen yang menghiasi bangunannya. Masjid Merah Panjunan dipilih sebagai inspirasi utama dalam penciptaan karya busana Ready to Wear, Ready to Wear Deluxe, dan Semi Couture dengan mengusung tren fashion bertema spirituality melalui pendekatan gaya ungkap analogi yang berlandaskan kata kunci terpilih. Proses penciptaan koleksi ini menggunakan metode FRANGIPANI yang dikembangkan oleh Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana. Melalui karya ini, diharapkan makna filosofis dari arsitektur Masjid Merah Panjunan yang kaya dengan nilai akulturasi budaya dapat dikenalkan dan diapresiasi lebih luas.
POTENSI PASAR DAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK INDUSTRI KAIN TRADISIONAL DI INSTAGRAM Dewi, Ni Kadek Junita; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Tenaya, A.A. Ngurah Anom Mayun K.
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 4 (2025): Volume 6 No 4 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i4.46160

Abstract

Kain tradisional Indonesia tidak hanya merepresentasikan identitas budaya lokal, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar dalam industri kreatif dan fashion berkelanjutan. Namun, pelaku usaha, khususnya dari kalangan UMKM, masih menghadapi berbagai tantangan dalam memasarkan produk secara luas dan efektif di era digital. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui potensi pasar dan merumuskan strategi pemasaran berbasis data bagi industri kain tradisional melalui platform Instagram. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap pelaku usaha dan konsumen, serta observasi terhadap akun-akun Instagram yang menjual kain tradisional. Hasil kajian menunjukkan bahwa Instagram sebagai media sosial berbasis visual sangat relevan dalam menampilkan estetika dan nilai budaya kain tradisional, serta efektif menjangkau konsumen muda. Namun, efektivitas pemanfaatannya masih terhambat oleh rendahnya pemahaman pelaku usaha terhadap strategi digital yang terstruktur dan berorientasi pada prinsip keberlanjutan. Oleh karena itu, dibutuhkan integrasi antara nilai budaya lokal, strategi pemasaran digital, dan prinsip sustainable fashion untuk meningkatkan daya saing serta pelestarian kain tradisional di pasar global. Temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan pemasaran produk budaya berbasis media sosial secara strategis dan berkelanjutan.
Co-Authors A.A. Ngr. Anom Mayun K. Tenaya Agustin Dia Sapariadi, I Dewa Ayu Reika Anak Agung Sagung Istri Trisnadewi Aribaten, Ni Nengah Zinnia Arimbawa, I Gede Arvia, Ni Desak Made Amanda Cahyani, Ni Kadek Tira Adi Darmara Pradnya Paramita, Ni Putu Dewantari Dewi Dasi, Ni Luh Melati Dewi, Melda Fransiska Dewi, Ni Kadek Junita Dianawati, Ni Kadek Dwi Putri Diantari, Ni Kadek Yuni Erawan, Ni Putu Netania Amanda Fida, Dalil Al Quds Fitriani Grahantiyasari, Kadek Mirah I Gede Anjas Kharismanata I Ketut Muka I Made Radiawan I Wayan Mudra, I Wayan I Wayan Rai I Wayan Sujana I Wayan Swandi Ida Ayu Wimba Ruspawati, Ida Ayu Karso, Kejora Pratiwi Karso, Olih Solihat Karuni, Ni Kadek Kharismanata, I Gede Anjas Komang Yudistia Larasistris, Triasmoro Mahadewi, Ida Ayu Ari Maheswari, Ni Made Dian Maselia Andriani, Ni Putu Nanda Moneko, I Kadek Dode MS Prof. Dr. I Wayan Rai . Muda Rahayu, Made Tiartini Mudarahayu, Made Tiartini Ni Kadek Yuni Diantari Ni Luh Ayu Pradnyani Utami Ni Putu Desy Sonnya Suandhari Nitya Sari, Ni Wayan Maya Nyoman Dewi Pebryani Patrow, Corlyne Janselia Marcelly Pratiwi, Luh Leony Rida Prayatna, I Wayan Dedy Priatmaka, I Gusti Bagus Puspa Anjani, Ayu Diah Puspa Yeni, Ni Putu Ryani Putu Manik Prihatini Putu Manik Prihatini Rahayu, Made Tiartini Muda Remawa, Anak Agung Gede Rai Santini, Ni Kadek Dwika Santosa, Hendra Saraswati, Ni Made Sari, Dewa Ayu Putu Leliana Siti Wasi’aturrizqi Soelistyowati Soelistyowati Suandhari, Ni Putu Desy Sonnya Sukarya, I Wayan Sukawati, Tjokoda Gde Abinanda Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri Sukmawati, Ni Komang Ayu Trisnadewi, Anak Agung Sagung Istri Udiyani, Ni Made Santi Wartini, Ketut Ari Widya, Sabiya Shula Wiguna, Kadek Karina Maharani Windari, Komang Noli Yuliana Maria