Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Effect of Sappanwood Extract (Biancaea sappan (L.) Tod.) on the Elimination Phase of the Pharmacokinetic Profile of Glibenclamide in Wistar Rats (Rattus norvegicus) Vidiani, Anak Agung Pradnya Paramitha; Tapun, Margareta Chintami; Sa’adah, Anifatus; Adrianto, Madyo
MPI (Media Pharmaceutica Indonesiana) Vol. 7 No. 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/mpi.v7i2.7607

Abstract

Type 2 diabetes mellitus is characterized by chronic hyperglycemia, and glibenclamide remains a commonly used oral antidiabetic. Concomitant consumption of sappanwood extract (Biancaea sappan (L.) Tod.) is widespread in Indonesia, raising concerns about herb–drug interactions. This study investigated whether sappanwood modifies the elimination of glibenclamide in Wistar rats. Rats were randomized into three groups: Group I received glibenclamide 10 mg/kg BW; Group II received sappanwood extract 400 mg/kg BW; Group III received the combination. Blood was collected from the retro‐orbital plexus at 20, 22, and 24 h and analyzed by UV–Vis spectrophotometry. Pharmacokinetic parameters were derived by linear regression and residual analysis. In Group I, the terminal log‐linear profile yielded an elimination rate constant (Ke) of 0.1218 h−1 and an elimination half‐life (t1⁄2) of 5.79 h. In Group III, co‐administration with sappanwood produced Ke = 0.0066 h−1 and t1⁄2 = 105 h, indicating a pronounced slowing of glibenclamide elimination relative to control. Group II did not receive glibenclamide and was excluded from pharmacokinetic calculations. Sappanwood extract markedly altered glibenclamide disposition, consistent with a pharmacokinetic herb–drug interaction. The findings suggest that bioactive flavonoids (e.g., Brazilin and quercetin derivatives) may inhibit metabolic pathways relevant to glibenclamide clearance, leading to prolonged exposure.
Kesesuaian Mikrobiologis Kefir Susu Sapi Home Industri Kabupaten Bergas terhadap Standar SNI sebagai Produk Probiotik Untsa Alfiyaturrakhma; Madyo Adrianto; Farah Destyana N; Siti farah Hardiyati; Anisa Nova Puspitaningrum
urn:multiple://2988-7828multiple.v4i15
Publisher : Institute of Educational, Research, and Community Service

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kefir merupakan produk susu fermentasi yang berperan sebagai minuman probiotik, namun mutu mikrobiologis kefir produksi skala home industry berpotensi bervariasi akibat belum optimalnya penerapan standar fermentasi, sehingga diperlukan evaluasi berbasis standar nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian mikrobiologis kefir susu sapi produksi home industry di Kabupaten Bergas terhadap Standar Nasional Indonesia (SNI) 7552:2018 sebagai produk probiotik. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorik dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Sampel berupa kefir susu sapi dari tiga home industry dianalisis menggunakan metode Total Plate Count (TPC) untuk menentukan jumlah bakteri asam laktat pada media de Man Rogosa Sharpe Agar dan khamir pada media Potato Dextrose Agar. Data diperoleh melalui pengujian laboratorium terkontrol dan dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil uji terhadap persyaratan SNI 7552:2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel kefir memiliki jumlah bakteri asam laktat dan khamir yang konsisten berada di atas batas minimum standar, dengan kisaran populasi mikroorganisme fermentatif yang tinggi dan stabil. Temuan ini menunjukkan bahwa kefir susu sapi produksi home industry di Kabupaten Bergas memenuhi persyaratan mikrobiologis SNI dan berpotensi dikembangkan sebagai produk probiotik yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Penyuluhan DAGUSIBU dan Pengumpulan Sampah Obat Rumah Tangga Warga Kelurahan Miroto Kota Semarang Gloria, Fransisca; Adrianto, Madyo; Alfiyaturrakhma, Untsa; Santoso, Rizky Budi; Maharani, Putri; Aldila, Silvy; Nurainy, Farah Destyana; Hardiyati, Siti Farah; Arini, Yovita Dwi; Dahliyanti, Novita Dwi
Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 3 (2025): IJPM - Desember 2025
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/ijpm.1078

Abstract

Pengetahuan mengenai obat merupakan suatu hal yang wajib dimiliki oleh masyarakat. Hasil observasi dengan wawancara masyarakat di wilayah Kelurahan Miroto Semarang, diperoleh keterangan bahwa masyarakat belum memahami pentingnya untuk mengetahui batas kedaluwarsa obat (Expired Date/ED), periode setelah kemasan obat dibuka (Period After Opening/PAO), serta batas penggunaan obat yang sudah diracik (Beyond Use Date/BUD). Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap aspek keamanan penggunaan obat di rumah tangga sehingga perlu adanya edukasi kepada masyarakat melalui program DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang). Tujuan dari DAGUSIBU adalah untuk meningkatkan pemikiran dan kesadaran masyarakat tentang cara yang tepat untuk menggunakan obat dan pengumpulan sampah obat di rumah tangga. DAGUSIBU adalah sebuah program yang dipelopori oleh Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) untuk meningkatkan kesadaran penggunaan obat. Program ini dilakukan di kelurahan Miroto Semarang pada bulan Oktober 2024. Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan penyuluhan/edukasi tentang DAGUSIBU yang baik dan benar serta pengumpulan sampah obat di rumah tangga dan diskusi tanya jawab pada akhir kegiatan. Dari kegiatan tersebut didapatkan bahwa masyarakat meningkat pemahamannya terkait dengan DAGUSIBU dan dapat mengumpulkan sampah obat berdasarkan nama obat, bentuk sediaan, dan jumlahnya
Evaluasi Peresepan Antibiotik pada Pasien ISPA Pediatri Metode ATC/DDD Anak Agung Pradnya Paramitha Vidiani; Livania Indri Aswara; Madyo Adrianto; Anisa Devi Kharisma Wibowo
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober: Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v7i2.735

Abstract

Acute Respiratory Infections (ARI) are infectious diseases that cause the highest mortality rate in children. Antibiotics are administered to ARI patients if the infection is caused by bacteria. Excessive use of antibiotics increases the risk of resistance and irrational antibiotic use. Efforts to prevent antibiotic resistance and irrational use include evaluating antibiotic utilization based on WHO recommendations, specifically using ATC/DDD classification system and the DU90% method. This study aims to determine the antibiotic utilization profile, DDD/1000 patient-days, and DU90% among pediatric ARI from January 2022 to December 2023. This study employs a quantitative research method with retrospective data collection. The results indicate that the highest antibiotic class used was penicillin (98%), with Amoxicillin 500 mg being the most commonly prescribed antibiotic (98%). The most prevalent ARI diagnosis was Acute Pharyngitis (J.02) (66.1%). The most frequently used dosage form was syrup (54.7%), and the average duration of therapy was 3–5 days. The total antibiotic consumption was 137.4 DDD/1000 patient-days, with antibiotics included in the DU90% segment being Amoxicillin 500 mg (102.3 DDD/1000 patient-days) and Amoxicillin 250 mg (21.6 DDD/1000 patient-days). This study highlights that the most widely used antibiotic in terms of quantity was Amoxicillin 500 mg (102.3 DDD/1000 patient-days).
EFEKTIVITAS PENYEMBUHAN LUKA SAYAT SALEP TAMANU OIL (CALOPHYLLUM INOPHYLLUM L.) Madyo Adrianto; Silvy Aldila; Gilang Rizki Al Farizi; Viony Naulita Sidauruk
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 8 (2026): Januari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka sayat merupakan cedera kulit yang memerlukan terapi topikal untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah infeksi. Tamanu oil (Calophyllum inophyllum L.) mengandung asam oleat dan asam linoleat yang berperan dalam regenerasi jaringan, sehingga berpotensi sebagai terapi alternatif penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas salep tamanu oil terhadap penyembuhan luka sayat pada mencit putih jantan (Mus musculus). Sebanyak 20 ekor mencit dibagi menjadi lima kelompok: kontrol negatif (basis salep), kontrol positif (povidone iodine 10%), serta salep tamanu oil dengan konsentrasi 10%, 15%, dan 20%. Evaluasi meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan stabilitas. Analisis menggunakan One-Way ANOVA dan uji Post Hoc Duncan menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok (p<0,05), dengan formula tamanu oil (F1, F2, F3) berada pada subset yang sama dengan kontrol positif. Hasil ini menunjukkan bahwa salep tamanu oil konsentrasi 10%, 15%, dan 20% efektif dalam mempercepat penyembuhan luka sayat pada mencit putih jantan.
THE EFFECTIVENESS OF ACUPRESSURE AT THE LR3, KI3, SP6, ST36, AND SP10 POINT ON ANKLE BRACHIAL INDEX IN PATIENTS WITH DIABETES MELLITUS Muhammad Anis Taslim; Dhanang Efendi; Madyo Adrianto
Jurnal Ilmu Keperawatan Medikal Bedah Vol. 9 No. 1 (2026): May 2026
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/ehqe7215

Abstract

Background: Type II Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disease that can cause long-term complications, incluiding peripheral artery disease, which can be detected through the Ankle Brachial Index (ABI) examination. Non-pharmacological management, such as acupressure and warm water immersion, serves as a potential complementary therapy to improve ABI scores. Objective: This study determined the difference in ABI values after administering acupressure and warm water immersion therapies to type II DM patients. Method: The researches used a quasi-experimental design with a pretest-posttest approach and two intervention groups: acupressure and warm water immersion. A total of 76 respondents participated. The researches analyzed the data using the paired t-test and independent samples t-test. Results: The paired t-test results showed a significant increase in ABI values after both acupressure (p = 0.001) and warm water immersion (p = 0.000). The independent samples t-test results indicated no significant difference existed between the two. Conclusion: These interventions can serve as alternative non-pharmacological therapies to improve peripheral blood circulation in DM patients.
Penyuluhan DAGUSIBU dan Pengumpulan Sampah Obat Rumah Tangga Warga Kelurahan Tawangsari Kota Semarang Madyo Adrianto; Fransisca Gloria; Untsa Alfiyaturrakhma; Rizky Budi Santoso
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 5 (2026): JAMSI - September 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.3075

Abstract

Pengelolaan obat yang benar di masyarakat masih menjadi permasalahan kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Tingginya praktik swamedikasi di masyarakat berisiko menimbulkan kesalahan dalam memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan membuang obat. Masih banyak rumah tangga yang menyimpan obat keras dan antibiotik untuk keperluan swamedikasi, serta sebagian besar masyarakat belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai penggunaan obat yang benar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah terkait obat, termasuk penggunaan yang tidak rasional dan potensi dampak kesehatan yang merugikan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai program DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang Obat dengan Benar). Metode yang digunakan berupa penyuluhan kesehatan dan edukasi interaktif kepada masyarakat mengenai cara memperoleh obat dari sarana pelayanan kefarmasian yang resmi, penggunaan obat secara rasional, penyimpanan obat yang tepat, serta pembuangan obat yang aman dan ramah lingkungan.jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini sejumlah 42 orang. kegiatan dilengkapi dengan pengumpulan dan pemusnahan sampah obat rumah tangga sebagai bentuk implementasi pengelolaan obat yang benar. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai prinsip DAGUSIBU serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengelola obat secara tepat di lingkungan keluarga. Kegiatan ini dapat mendukung terbentuknya budaya penggunaan obat yang rasional, aman, dan bertanggung jawab sehingga mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan
Aktivitas Antibakteri Gel Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Madyo Adrianto; Pradnya Paramitha Vidiani Anak Agung; Untsa Alfiyaturrakhma; Anisa Nova Puspitaningrum; Martin Alexander V
SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional Vol. 5 No. 2 (2026): SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional
Publisher : LPPM Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62018/sitawa.v5i2.279

Abstract

Peningkatan penggunaan antiseptik berbahan dasar alkohol telah menimbulkan kekhawatiran terhadap iritasi kulit dan keamanan jangka panjang, sehingga mendorong pencarian alternatif antibakteri alami. Piper crocatum (daun sirih merah) mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang diketahui memiliki sifat antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri in vitro dari ekstrak etanol Piper crocatum yang diformulasikan dalam bentuk sediaan gel dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 40%. Aktivitas antibakteri diuji terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi sumur pada medium Mueller-Hinton Agar. Diameter zona hambat untuk gel konsentrasi 10%, 20%, dan 40% masing-masing adalah 8,25 mm, 9,63 mm, dan 11,75 mm terhadap E. coli, serta 7,21 mm, 8,66 mm, dan 10,32 mm terhadap S. aureus. Formulasi 40% menunjukkan aktivitas antibakteri paling signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa gel Piper crocatum, terutama pada konsentrasi yang lebih tinggi, memiliki potensi sebagai agen antibakteri alami.