Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Karakterisasi dan Formulasi Uji Sitotoksik Nanopartikel PLGA-pcDNA 3.1-SB3-HBcAg dari Gel Retardation Assay sebagai Delivery Agent Kandidat Vaksin DNA Hepatitis B Lalu Unsunnidhal; Raudatul Jannah; Fihiruddin; Nurul Inayati; Agus Supinganto
Journal of Health (JoH) Vol 10 No 2 (2023): Journal of Health (JoH) - July
Publisher : LPPM STIKES Guna Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30590/joh.v10n2.570

Abstract

Indonesia is one of the countries that has the highest prevalence of HBsAg (hepatitis B disease), ranging from 2.5% to 10%, with the highest levels reported in North Sulawesi with 33.0%, Papua with 12.8%, and Pontianak with 9.1%. Strategies to overcome these obstacles include using formulations such as nanoparticles, which are formed by coacervation between polymers and DNA. This study showed that the results of the physicochemical characterization of PLGA-pcDNA 3.1-SB3-HBcAg showed a polydispersity index value of 0.246, a particle size of 925 nm, and a zeta potential value of 2.31 mV. PLGA managed to protect PLGA-pcDNA 3.1-SB3-HBcAg from enzymatic degradation, and the viability percentage of the PLGA-pcDNA 3.1-SB3-HBcAg cytotoxicity test was 98.03%, so that PLGA has good potential as a delivery system for PLGA -pcDNA 3.1-SB3- HBcAg.
Korelasi Kadar C-Reaktif Protein dengan Persentase Eosinofil pada Pasien Covid-19 Nurul Qomariah; Rohmi; Fihiruddin Fihiruddin; Nurul Inayati
Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences Vol. 15 No. 2 (2023): July Edition
Publisher : Universitas Nurul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30599/jti.v15i2.2100

Abstract

Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) merupakan virus corona baru yang dikenal sebagai Covid-19. Pemeriksaan skrining seperti C-reaktif protein dapat dilakukan pada saat timbulnya gejala klinis. infeksi SARS-CoV-2 dapat menyebabkan peradangan yang mengakibatkan meningkatnya kadar C-reaktif protein. Peradangan dapat diketahui dengan pemeriksaan hitung persentase eosinofil dimana sel ini berperan dalam sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi virus. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya korelasi antara kadar C-reaktif protein dengan persentase eosinofil pada pasien Covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik menggunakan rancangan survey cross sectional dengan pendekatan observasi. Teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling. Sebanyak 24 sampel dari penderita Covid-19 dilakukan pemeriksaan eosinofil dan kadar C-reaktif protein. Uji statistik hasil pemeriksaan dilakukan analisis bivariate dengan rumus korelasi pearson. Hasil penelitian didapatkan rerata eosinofil yaitu 2,5% dan rerata kadar C-reaktif protein 13,56 mg/L. Hasil uji statistik didapatkan nilai p= 0,037<0,05 dan nilai r= -0,428 sehingga menunjukkan nilai yang signifikan dan korelasi antara persentase eosinofil dengan kadar C-reaktif protein. Terdapat korelasi antara penurunan persentase eosinofil dengan peningkatan kadar C-reaktif protein pada pasien Covid-19.
Resistance Analysis Of Several Antibiotics in Samples of Clinical Isolates With Salmonellosis Shohifatul Wahyuni; Iswari Pauzi; Yunan Jiwintarum; Fihiruddin Fihiruddin
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Vol 11, No 1 (2024): JURNAL ANALIS MEDIKA BIOSAINS (JAMBS)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jambs.v11i1.357

Abstract

Typhus is a systemic infection caused by Salmonella typhi bacteria, which is usually transmitted through contaminated food or drink, usually treated with antibiotics. Inappropriate use of antibiotics causes various problems, one of which causes resistance. This resistance problem has become a global problem, including in Indonesia where there is an increase in bacterial resistance from 2013 which is 40%, 2016 as much as 60% and in 2019 reached 60.4%, due to irrational use of antibiotics so that bacteria become resistant to drugs. This study aims to determine the description of resistance to several antibiotics in clinical isolates of patients with Salmonellosis This study is a pre-experimental study, with a cross sectional approach. The samples used were pure isolates of Salmonella typhi bacteria obtained from blood samples of Salmonellosis patients, then tested for resistance with 5 different types of antibiotics (Ciprofloxacin, Amoxicillin, Levofloxacin, Cefotaxime and Sulfamethoxazolle-trimethopim) with the disk method (Kearby Beaure). The number of experimental units is 25 units, with the number of replications is 5 replications. The results showed that the five types of antibiotics were sensitive to Salmonella typhi bacteria with the highest antibiotic sensitivity being Ciprofloxacin while the antibiotic that had the lowest sensitivity was Amoxicillin. From the results, it can be concluded that the resistance test of the five antibiotics (Ciprofloxacin, Amoxicillin, Levofloxacin, Cefotaxime and Sulfamethoxazolle-trimethopim) is sensitive. 
The Relationship Of Serum Creatinine Levels And Urine Creatinine In Workers In PenimbungVillage Dwi Kurnia Febrianti kurnia; Siti zaetun; Ida Bagus Rai Wiadnya; I wayan Getas; Fihiruddin Fihiruddin
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 2 No. 1 (2023): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v2i1.16

Abstract

Latar Belakang: Kreatinin merupakan hasil metabolis dari kreatinin dan fosfokreatinin. Kreatinin difiltrasi di gromerulus dan di reabsorpsi di tubular. Proses awal biosintesis kreatinin berlangsung di ginjal yang melibatkan asam amino arginin dan glisin. Kreatinin adalah produk akhir dari metabolis yang dikeluarkan melalui ginjal. Tujuan : untuk mengetahui hubungan kadar kreatinin serum dan kreatinin urine pada buruh di Desa Penimbung. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional Analitik yaitu penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar kreatinin serum dan kreatinin urine pada buruh di Desa Penimbung secara deskriptif berdasarkan hasil pemeriksaan kadar kreatinin. Hasil : Nilai kadar tertinggi untuk kreatinin serum adalah 5,72 mg/dl dan nilai kadar tertinggi untuk kreatinin urine adalah 5,0 g/dl. Kesimpulan: hasil uji korelasi spearmen diperoleh nilai signifikan 0,080 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan kadar kreatinin serum dan kreatinin urine pada buruh di Desa Penimbung. Rerata kadar Kreatinin serum pada buruh di Desa Penimbung 4,22 mg/dl. Rerata kadar kreatinin urine pada buruh di Desa Penimbung 4,60 g/dl. Terdapat hubungan kadar kreatinin serum dan kreatinin urine pada buruh di Desa Penimbung.
Differences In Blood Glucose Levels Of Amphetamine-Type Drug Users Who Are Undergoing Rehabilitation and Completed Baiq Linda Rolian ocatari; Lale Budi Kusuma Dewi; Lalu Srigede; Fihiruddin; Nurul Inayati
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 2 No. 1 (2023): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v2i1.19

Abstract

Latar Belakang: Amfetamin merupakan salah satu jenis psikotropika yang berefek diantaranya, mengurangi rasa lelah, nafsu makan menurun, dan susah tidur. Tubuh memerlukan nutrisi, istirahat yang cukup serta aktifitas yang sehat agar kondisinya tetap normal. Pola hidup buruk dan penggunaan NAPZA secara terus – menerus dapat mempengaruhi kadar gula dalam darah. Tujuan : untuk mengetahui perbedaan kadar gula darah pada pengguna NAPZA jenis amfetamin yang sedang dan selesai menjalani rehabilitasi di BNN Kota Mataram. Metode : Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan observasi oleh peneliti untuk mendata setiap pengguna positif NAPZA jenis amfetamin. Pengumpulan data dlakukan langsung dengan menghitung kadar glukosa darah terhadap responden menggunakan metode POCT. Hasil : Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan diperoleh rata-rata kadar gula darah yang sedang rehabilitasi 78,85 mg/dl, dan selesai rehabilitasi 101,56 mg/dl. Pengolahan data menggunakan uji statistik wilcoxon sehingga didapatkan hasil sig 0,000 < 0,05 yang menandakan adanya perbedaan pada data. Kesimpulan: terdapat perbedaan antara kadar gula darah pengguna NAPZA jenis amfetamin yang sedang dan selesai menjalani rehabilitasi. Kadar gula darah orang selesai rehabilitasi meningkat dari sebelum rehabilitasi. Untuk peneliti selanjutnya bisa melakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor penyebab menurunnya kadar gula darah pada pengguna NAPZA jenis amfetamin yang sedang rehabilitasi.
Pengaruh Lamanya Gejala Terhadap Hasil Pemeriksaan Albumin, Ureum Dan Kreatinin Pada Pasien UGD Positif COVID-19 Di Rumah Sakit Wira Bhakti Angkatan Darat Anisa Prisilia Prisilia; Agrijanti; Ari Khusuma; Fihiruddin; I Wayan Getas
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 2 No. 1 (2023): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v2i1.20

Abstract

Tingginya angka kematian akibat COVID-19 disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya penyakit penyerta yang dapat menyebabkan beberapa komplikasi pada ginjal. Untuk mengetahui komplikasi ginjal dapat dilakukan pemeriksaan albumin, ureum dan kreatinin dengan menggunakan sampel serum. Namun, lamanya gejala dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Cross Sectional dengan teknik Consecutive Sampling. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah data pasien di Rumah Sakit Wira Bhakti Angkatan Darat yang melakukan pemeriksaan albumin, ureum dan kreatinin pada pasien UGD positif COVID-19. Hasil penelitian ini dilakukan terhadap 43 responden yang memiliki riwayat pemeriksaan kadar albumin, ureum dan kreatinin pada pasien UGD positif COVID-19 berdasarkan lamanya gejala. Hasil yang diperoleh rerata kadar albumin terendah berdasarkan lama gejala >14 hari, yaitu 2,64 g/dL. Rerata kadar ureum tertinggi diperoleh berdasarkan usia 58-73 tahun yaitu 51,50 mg/dL. Rerata kadar kreatinin tertinggi diperoleh berdasarkan usia 26-41 tahun, yaitu 1,63 mg/dL. Lamanya gejala tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil pemeriksaan albumin, ureum, dan kreatinin pada pasien COVID-19
Overview Of Pathological Color Urine Examiation Result The Dip Cark Method Dwi Melbaow Aisyiah Putri; Nurul Inayati; Erna Kristinawati; Fihiruddin Fihiruddin; Agrijanti Agrijanti
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 2 No. 1 (2023): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v2i1.21

Abstract

Latar Belakang : Urine merupakan cairan sisa hasil ekskresi ginjal yang keluar dari tubuh melalui proses urineasi. Komposisi urine mencerminkan kemampuan ginjal untuk menahan dan menyerap bahan–bahan yang penting untuk metabolism dan mempertahankan homeostatis tubuh. Intensitas warna urin sesuai dengan konsentrasi urin. Alat diagnostik dasar untuk menentukan perubahan patologis dalam urin dengan melihat perubahan warna yang terjadi sesuai dengan keadaan urine yang sebenarnya adalah carik celup. Tujuan : Untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan urin warna patologis dengan metode carik celup. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian Observasional deskriptif dengan pengumpulan data dilakukan secara langsung. Sampel pada penelitian ini berjumlah 18, berasal dari pasien yang melakukan pemeriksaan urinalisa di laboratorium RSUD Kota Mataram. Hasil : Urin warna merah didapatkan hasil abnormal pada pemeriksaan Blood, Protein dan Leukosit; Urin warna kuning didapatkan hasil abnormal pada pemeriksaan Glukosa, Blood, Protein dan Leukosit; Urin warna coklat didapatkan hasil abnormal pada pemeriksaan Glukosa, Keton, Blood, Protein dan Urobilinogen; Urin warna hijau didapatkan hasil abnormal pada pemeriksaan Blood, Protein dan Leukosit. Kesimpulan : warna pada sampel urin berpengaruh dengan hasil pemeriksaan urin metode carik celup.
Prevalensi C-Reactive Protein (CRP) Positif Pada Usia Di Bawah Dan Di Atas 50 Tahun Rizki Ananda Putri; Dr. Fihiruddin; Drs. I Wayan Getas; Yunan Jiwintarum
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 2 No. 2 (2023): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v2i2.36

Abstract

Latar Belakang: Rokok merupakan salah satu hasil olahan tembakau, yang mengandung zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kandungan zat dalam rokok dapat mengakibatkan kerusakan organ yang dapat menyebabkan inflamasi. Salah satu cara untuk mengetahui adanya inflamasi dalam tubuh yaitu dengan pemeriksaan kadar C-reactive protein. Kadar C-reactive protein yang meningkat sebagai penanda terjadinya inflamasi. Tujuan: Mengetahui pengaruh usia perokok terhadap kadar C-reactive protein Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik. Sampel yang digunakan ialah 24 sampel menggunakan simple random sampling. Data yang diperoleh dan analisis menggunakan chi square. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 2 sampel yang positif CRP Kesimpulan : Usia perokok bukan merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi peningkatan kadar C-reactive protein.
Pengaruh Lama Menjalani Pengobatan Anti Tuberkulosis Terhadap Kadar Albumin pada Penderita Tuberkulosis Astriani, Astriani; Fihiruddin, Fihiruddin; Resnhaleksmana, Ersandhi
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 19 No 2 (2024): JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jpp.v19i2.2235

Abstract

Latar Belakang: Obat anti tuberkulosis seperti rifampisin serta isoniazid dapat merangsang tubuh untuk memproduksi TNF α. Tingginya kadar TNF α dapat mengganggu produksi albumin serta menurunnya messenger ribonucleic acid (mRNA) albumin. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Hasil: Hasil penelitian didapatkan rata-rata kadar albumin pada penderita tuberkulosis yang mengkonsumsi obat anti tuberkulosis 2 bulan = 3.2 gr/dL, 3 bulan = 3.1 gr/dL dan 4 bulan = 2.7 gr/dL. Kesimpulan: Terdapat kadar albumin yang mengkonsumsi obat anti tuberkulosis 4 bulan lebih rendah dibandingkan kadar albumin yang mengkonsumsi obat anti tuberkulosis 3 bulan dan 2 bulan.
Pengaruh Jenis Sampel Urine Terhadap Pemeriksaan HCG (Human Chorionic Gonadotropin) Untuk Deteksi Kehamilan Dini Metode Immunokromatografi Wardani, Yuliana; Erlin Yustin Tatontos; Fihiruddin; Yunan Jiwintarum
Journal of Indonesia Laboratory Students (JILTS) Vol. 3 No. 2 (2024): Journal of Indonesia Laboratory Students
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jilts.v3i2.129

Abstract

Latar Belakang : Kehamilan merupakan suatu proses yang akan dialami oleh hampir semua wanita. disaat sel telur bertemu dengan sperma dan terjadi pembuahan dapat menyebabkan kehamilan. Human Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah hormone yang diproduksi oleh trophoblast pada awal kehamilan yang dikeluarkan melalui urine. Adanya hormone HCG dalam urine dapat digunakan untuk deteksi kehamilan dini. Urine pagi baik untuk pemeriksaan kehamilan atau deteksi HCG karena, urine pagi merupakan urine satu malam yang mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga urine pagi lebih pekat daripada urin sewaktu yang konsentrasinya lebih encer sehingga sulit untuk mendeteksi hormone HCG. Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh jenis sampel urine terhadap pemeriksaan Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dalam deteksi kehamilan dini metode immunokromatografi. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah wanita yang terlambat menstruasi 1-3 minggu (hamil) pada wilayah kecamatan selong dengan jumlah sampel sebanyak 24 sampel. Analisa data menggunakan Analisa deskriptif. Pada penelitian ini menggunakan metode Immunokromatografi (Testpack). Hasil Penelitian : Didapatkan hasil positif (+) pada 12 sampel urine pagi hari dan didapatkan hasil positif (+) pada 12 sampel urine sewaktu wanita yang terlambat menstruasi 1-3 minggu. Kesimpulan : Tidak terdapat pengaruh jenis sampel urine dalam deteksi HCG menggunakan sampel urine pagi hari dan urine sewaktu pada wanita yang terlambat menstruasi 1-3 minggu.