Claim Missing Document
Check
Articles

PEDULI EKOLOGI ALA YESUS DAN PAULUS Stanislaus, Surip
LOGOS Vol 17 No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v17i1.1036

Abstract

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru sikap Yesus yang peduli ekologi dapat ditemukan dalam pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah. Visi-misi hidup Yesus adalah perjuangan demi terwujudnya Kerajaan Allah. Penginjil Yohanes menegaskan bahwa Yesus datang untuk melakukan kehendak Bapa-Nya yang sejak awal mula penciptaan alam semesta menghendaki keharmonian dan keutuhan hidup seluruh ciptaan-Nya, sehingga semuanya diciptakan baik adanya bahkan amat baik (Yoh 5:19,30; 8:26,28,38; Kej 1:10,12,18,21,25,31). Berkaitan dengan keutuhan ciptaan dan harmoni alam, Yesus mewartakan Kerajaan Allah itu lewat perumpamaan-perumpamaan alamiah. Setiap perumpamaan berkenaan dengan kehidupan manusia maupun alam ciptaan yang mengarah pada perbaikan dan pemulihan, keutuhan dan keselamatan. Sebagai contoh Penginjil Matius memaparkan tentang matahari dan hujan yang diperuntukkan bagi orang benar maupun jahat (Mat 5:45) sebagai gambaran kasih Allah yang tanpa pandang bulu dan terbuka untuk semua lapisan dengan bobot yang sama. Penginjil Markus pun menyajikan perumpamaan alamiah, seperti benih yang tumbuh (Mrk 4:26-29), biji sesawi (Mrk 4:30-34) dan pohon Ara (Mrk 13:24-32). Penginjil Lukas juga berbicara tentang perumpamaan yang memakai unsur-unsur alami, seperti awan, hujan, angin dan matahari (Luk 12:54-55). Menurut Paulus, Yesus Kristus itulah kebijaksanaan Allah yang dimuliakan karena pencurahan darah-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya telah membawa pendamaian dan pemulihan keutuhan seluruh alam semesta (Kol 1:15-20). Dengan demikian oleh, untuk, dalam dan dengan Yesus rahasia karya penyelamatan Allah terhadap seluruh ciptaan-Nya telah dinyatakan (Ef 1:9-10). Sebagaimana dalam Kol 1:15-20 karya penyelamatan Allah bagi jemaat terpilih dan seluruh ciptaan terjadi oleh dan menyatu dengan Kristus sebagai Kepala, demikian halnya dalam Ef 1:9-10, bahkan melangkah lebih jauh lagi yakni jemaat dikutsertakan dalam misi penyelamatan Kristus (Ef 3:8-11)
PEDULI EKOLOGI ALA FRANSISKUS ASISI Stanislaus, Surip
LOGOS Vol 18 No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i2.1317

Abstract

Kepedulian Fransiskus terhadap sesama manusia, sesama makhluk ciptaan dan lingkungan alam berakar pada relasinya dengan Allah Pencipta. Ia melihat dirinya, segala makhluk dan lingkungan alam sebagai sama-sama atau sesama ciptaan yang berasal dari satu asal, yaitu Allah Pencipta semesta alam. Oleh karena itu, semua makhluk ciptaan dipandang, diperlakukan dan dicintainya sebagai saudara dan saudari. Mengapa Fransiskus bersikap demikian? Ia memandang alam semesta dan segala isinya bukan terutama dari segi kegunaannya demi pemenuhan kebutuhan dan peningkatan mutu hidup manusia, tetapi lebih pada nilai yang ada dalam dirinya sendiri dan arti simbolis sakramentalnya. Keberadaan setiap makhluk bukan saja karena bermanfaat bagi manusia, tetapi juga karena memiliki nilai dalam dirinya sendiri dan menjadi tanda yang menghadirkan Allah. Setiap makhluk pun memiliki kesamaan, yakni sama-sama sebagai ciptaan Allah, sehingga semuanya sederajat dan Fransiskus menyapanya dengan sebutan saudara-saudari. Madah Gita Sang Surya yang digubah dua bulan menjelang kematiannya, menyingkapkan kedekatan yang begitu mendalam Fransiskus dengan alam dan segala makhluk ciptaan.
1 SAM 15: 1-35 dan PERANG SUCI Stanislaus, Surip
LOGOS Vol. 6 No. 1 (2008): Januari 2008
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v6i1.1821

Abstract

A holy war is a war held in the contect of faith in God. In this kind of war, the role of God is so dominant, so that this war is believed God himself who is wagging the war. The war is called a holy war because God is holy. A holy war is not just a war for the sake of war, but for the sake of a fidelity to the will and God’s rule. To keep this war holy and so would grant a victory, the troop shoul obey the ritual rule of war. 1 Sam 15: 1-35 is an example of Saul’s infidelity to the rule of war which causes God’s anger.
HILANGNYA RASA BERDOSA MENURUT PAUS YOHANES PAULUS II DALAM EKSHORTASI APOSTOLIK RECONCILIATIO ET PAENITENTIA Nadeak, Largus; Purba, Suhendro; Surip, Stanislaus
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i1.2547

Abstract

Paus Yohanes Paulus II memandang bahwa di abad ini dunia dilanda konflik dan persoalan yang terjadi akibat hilangnya rasa berdosa (a sense of sin) dalam diri manusia. Krisis hati nurani dan krisis rasa akan Allah (a sense of God) adalah penyebab hilangnya rasa berdosa. Krisis tersebut tampak dalam beberapa fenomen budaya kontemporer, yakni sekularisme, kesalahan dalam mengevaluasi ilmu pengetahuan manusia, relativisme sistem etika, dan pemahaman yang samar-samar mengenai rasa berdosa. Paus Yohanes Paulus II mendorong semua insan untuk memulihkan rasa berdosa benar yang sudah hilang. Paus mengajak agar prinsip dan ajaran moral Gereja ditegakkan kembali, katekese pertobatan terus digaungkan, hati nurani tetap diasah, dan penerimaan Sakramen Tobat semakin digiatkan. Jalan-jalan pertobatan ini mutlak diperlukan agar rasa berdosa tetap lestari dalam diri manusia. Rasa berdosa yang benar membantu manusia untuk menata hidup bersama yang baik dengan sesama manusia serta mengakui dan mengalami kehadiran Allah yang Maharahim dalam gerak hidup.
YOHANES 20:19-31 DAN TEOLOGI BELASKASIH Marmidi, F.X.; Saragih, Arie Rizky Oktovianus; Surip, Stanislaus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2993

Abstract

This study aims to examine whether the Gospel of John 20:19-31 contains a theology of mercy. This theology is actualized in the Catholic Church’s tradition, especially in the liturgical celebration of Divine Mercy Sunday, where it uses John 20:19-31 as the third reading in the Eucharist. The passage of John 20:19-31, in fact, does not employ the word “mercy” or “love.” It narrates the appearance of the risen Jesus to the frightened disciples. Applying synchronic and diachronic approaches to the text, this article will show that John 20:19-31 contains theologically “mercy” described in the acts of Jesus Christ: His appearance, his presence, and his forgiveness. Mercy belongs to God; it depicts the character of Jesus Christ, and it was taught by Jesus for His disciples to practice. Even though in the Church Fathers’ writings and the Ecclesiastical Documents, John 20:19-31 has been related to the theme of mercy, in this article it will be observed textually to find that it richly reflects the theology of mercy.
SESAMA MANUSIA MENURUT LUKAS 10:25-37 DALAM HUMANA COMMUNITAS: Gambaran Persaudaraan Sejati dalam Situasi Pandemi Marmidi, F.X.; Stanislaus, Surip; Pandiangan, Lukman
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2997

Abstract

Artikel ini menunjukkan bahwa jika dokumen gerejawi Humana Communitas dibaca sebagai sebuah penafsiran Injil Lukas (10:25-37), dokumen ini akan memberikan kontribusi untuk memahami makna khusus dari pertanyaan dalam Injil, “Siapakah sesamaku manusia” (Lukas 10:29), dan aktualisasinya. Semua manusia adalah saudara dan saudari karena mereka diciptakan menurut gambar Allah. Manusia dipanggil untuk hidup dalam persaudaraan dan saling melayani. Saat ini, ada banyak pertanyaan tentang makna sesama manusia. Hal ini terjadi karena adanya mentalitas yang merendahkan dan tidak menghargai martabat manusia. Terlebih lagi, dunia telah menderita karena pandemi COVID-19. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan ahli Taurat kepada Yesus dalam Injil Lukas, “Siapakah sesamaku manusia” menjadi poin penting yang dapat menjadi ‘peringatan etis’ bagi umat Kristiani dalam upaya mengekspresikan kasihnya kepada Tuhan dan kepada sesama. Menurut Yesus, sesama manusia adalah mereka yang telah menunjukkan belas kasihan kepada semua orang.
"STAUROPHOBIA" : FEAR OF THE CROSS BASED ON HATE SPEECH AND SOME WAYS TO FACE IT Borgias, Fransiskus; Stanislaus, Surip
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3414

Abstract

This article explores the phenomenon of staurophobia, “fear of the cross”. There are negative discourses toward Christians and Christ’s cross, called staurophobia. It is related to an attitude towards Christ, either accepting Christ on the one hand, or rejecting Christ, on the other. Since the beginning of Christian history in New Testament, the cross (stauros) has been a sign of contradiction. It becomes a stumbling block to non-Christians, while for Christians, it is a sign of salvation. What is Christian’s attitude, if, on the basis of staurophobia, non-Christians develop hate speech against them? New Testament gives us glimpses of answers that people should not cause violence. Based on the historical comparative study of some New Testament theological discourses, I propose that Christians should develop a calm socio politico theological attitude toward the negative discourses aroused by outsiders. I also endorse Christians to develop a sense of humour to confront such negative discourses on the cross and crucifix, as once practiced by Francis of Assisi in his encounter with Sultan Malik al-Kamil in Damieta, Egypt
PERSEKUTUAN SEBAGAI PELEBURAN ONTOLOGIS ANTASUBJEK MENURUT GABRIEL MARCEL Suripto , Gregorius; Stanislaus, Surip; Dim, Petrus J.T.
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3420

Abstract

Manusia adalah makhluk yang berada sebagai a social being. Gabriel Marcel menyebutnya dengan istilah esse est co-esse. Manusia mengungkapkan eksistensinya bersama dengan yang lain. Kenyataan esse est co-esse selalu diuji dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan tersebut pada awalnya membantu manusia tetapi akhirnya “membutakan” manusia terhadap kesadaran akan eksistensinya dan mengikis persekutuan. Gabriel menggemakan kembali hubungan aku-engkau dengan jalan membentuk persekutuan atas dasar cinta. Melalui persekutuan manusia terbuka terhadap yang lain dan mengakui eksistensinya. Persekutuan mempunyai unsur kemanusiaan, antara lain: komunikasi, kesetiaan, harapan dan cinta. Dengan unsur-unsur tersebut manusia diharapkan mampu mencapai kepenuhannya, yakni hidup dalam persekutuan cinta.
PENGHAYATAN TEPO SELIRO DALAM BUDAYA JAWA DI INDONESIA SEBAGAI SUMBANGSIH BAGI DUNIA MASA KINI UNTUK MEMBANGUN PERSAUDARAAN UNIVERSAL: Uraian Deskriptif-Kritis Terhadap Situasi Dunia Masa Kini dalam Perspektif Budaya Jawa sebagai Usaha untuk Membangun Persaudaraan Universal Pratama, Fransiskus Asisi Satria Rudi; Stanislaus, Surip; Antono, Yustinus Slamet
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3421

Abstract

Dunia zaman sekarang sedang mengalami krisis moralitas. Dampak buruk dari krisis moralitas menimbulkan masalah sosial, seperti kesenjangan dan ketidakadilan sosial. Secara kongkrit, masalah sosial ini tampak dalam adanya sikap-sikap manusia untuk memanipulasi nilai luhur kehidupan, eksploitasi sosial serta lumpuhnya relasi sosial, semakin lama manusia jatuh pada sikap individulisme. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki martabat, hak dan kewajiban yang sama untuk mengembangkan hidup bersama. Salah satu usaha untuk, membangun hidup bersama adalah menerapkan Tepo Seliro. Melalui penerapan Tepo Seliro, Setiap orang diajak untuk membangun dunia masa kini dalam persaudaraan universal. Hal ini dapat diwujudkan melalui sikap keluar dan diri sendiri, menumbuhkan kasih yang terbuka, melampaui kepentingan dan status sosial serta menciptakan kebaikan bersama. Melalui sikap-sikap seperti itu, maka semua manusia dapat bekerja sama untuk mengembangkan hidup bersama secara adil dan bermartabat.
AGAPE VS PHILIA? THOMAS AQUINAS TENTANG CINTA-KASIH, PERSAHABATAN, DAN KEADILAN Kristanto, Heribertus Dwi; Stanislaus, Surip
LOGOS Vol. 21 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i2.3946

Abstract

Many Christian writers think of Christian agape love as incompatible with Greek philosophical tradition of love, known as philia (friendship). Agape is seen as a kind of love that is non-preferential, inclusive, altruistic and without regard to self-interest, whereas philia is regarded as a kind love that is preferential, exclusive, egocentric and reciprocal in nature. Agape is thought to have eclipsed philia. Then, in the spirit of agape, justice is understood as impartiality or treating everybody equally. This essay aims to show that according to St. Thomas Aquinas Christian agape love or charity (Latin: caritas) is not only compatible with philia (Latin: amicitia) but instead can be understood as “a friendship between man and God”. As a friendship, charity incorporates essential elements of philia, such as benevolence, mutual love, and some life sharing (communicatio). Perceived as grace, charity acknowledges the presence of order (ordo caritatis), in which justice does not necessarily amount to ‘giving to each the same thing’ (i.e., impartiality), but rather ‘giving to each according to his needs’.