Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Formulasi dan Uji Aktivitas Gel Repellent Minyak Atsiri Bunga Kenanga (Cananga Odorata) terhadap Nyamuk Aedes Aegypti Rahmawati, Irma Sari; Putri, Riana; Khudzaifi, Muhammad
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i2.31496

Abstract

Indonesia memiliki berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri yang berpotensi sebagai bahan repellent alami, salah satunya adalah bunga kenanga (Cananga odorata). Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama penyebab penyakit DBD, sedangkan penggunaan repellent nyamuk berbahan aktif kimia sintetis dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Repellent yang berasal dari minyak atsiri mampu memproteksi kulit dari gigitan nyamuk dengan aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas repellent sediaan gel minyak atsiri bunga kenanga dengan variasi konsentrasi FI (3%), FII (4%), dan FIII (5%) terhadap nyamuk Aedes aegypti.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang merupakan penelitian eksperimental atau percobaan dalam bentuk desain fungsional maupun desain faktora. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dikarenakan bertujuan untuk mengetahui formulasi dan uji aktivitas antinyamuk minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata) terhadap sediaan gel repellent.Hasil Uji analisa statistik One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar masing-masing formula gel perlakuan dengan taraf signifikansi (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing konsentrasi sediaan gel minyak atsiri bunga kenanga memiliki perbedaan aktivitas sebagai repellent nyamuk Aedes aegypti. Konsentrasi terbaik diperoleh pada FIII (5%) dengan nilai daya proteksi sebesar 96,15% padaa jam pertama. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sediaan gel minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata) dengan variasi konsentrasi FI (3%), FII (4%), dan FIII (5%) memiliki aktivitas sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti. Konsentrasi terbaik diperoleh pada FIII (5%) dengan nilai daya proteksi sebesar 96,15% pada jam pertama. Oleh karena itu, gel minyak atsiri bunga kenanga berpotensi dikembangkan sebagai alternatif repellent alami yang aman digunakan serta ramah lingkungan.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kelengkeng (Dimocarpus longan L.) dalam Sediaan Mouthwash Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Faizin, Fadli Akbar; Rahmawati, Riana Putri; Khudzaifi, Muhamad
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19006

Abstract

Daun kelengkeng memiliki khasiat sebagai antioksidan, antikanker dan antibakteri. Flavanoid, alkaloid, tanin, dan saponin adalah metabolit sekunder daun ini yang membantu menghentikan pertumbuhan bakteri. Menggunakan mouthwash daun kelengkeng sebagai pengganti mouthwash beralkohol yang memiliki efek samping dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kelengkeng dalam sediaan mouthwash terhadap bakteri Streptococcus mutans. Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi daun kelengkeng adalah etanol 70%. Setelah ekstraksi dilakukan skrining fitokimia yang meliputi uji flavanoid, uji tanin, uji saponin dan uji alkaloid. Untuk membuat sediaan mouthwash, konsentrasi ekstrak daun kelengkeng yang digunakan adalah 0%, 5%, 15%, dan 25%. Selain uji antibakteri, sediaan mouthwash dilakukan pula uji fisikokimia yang meliputi uji organoleptik, uji pH, uji kejernihan, uji bobot jenis dan uji viskositas. Pengujian antibakteri dilakukan dengan difusi cakram. Hasil penelitian pada formulasi mouthwash dari ekstrak daun kelengkeng menunjukkan mutu fisik organoleptik, kejernihan, bobot jenis dan viskositas sediaan yang baik, sedangkan uji pH pada formula F0 melebihi syarat pH sediaan mouthwash. Pada pengujian aktivitas antibakteri sediaan mouthwash didapatkan nilai zona hambat yaitu pada F0 2,5 mm; F1 4,66 mm; F2 7,33 mm; F3 9,16 mm; dan kontrol positif 10,16 mm.
Analisis Kadar Hidrokuinon dalam Sediaan Krim Racikan di Toko Kosmetik Kabupaten Jepara dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Mardhiyah, Sofiana Nur; Rahmawati, Riana Putri; Khudzaifi, Muhamad
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19057

Abstract

Hidrokuinon merupakan senyawa aromatik organik jenis fenol dengan rumus kimia C6H6O2 yang sering ditambahkan dalam krim kecantikan dengan tujuan untuk memutihkan kulit. Mekanisme kerja hidrokuinon adalah efek toksik hidrokuinon terhadap melanosit dan menghambat proses pembentukan melanin. Penggunaan hidrokuinon dalam krim yang beredar dipasaran hanya dapat digunakan dalam kadar maksimal 2% , lebih dari itu dipergunakan sebagai obat. Hidrokuinon > 2% termasuk golongan obat keras yang penggunaanya harus dengan resep dokter. Kadar hidrokuinon yang melebihi 5% dapat menyebabkan kemerahan dan rasa terbakar pada kulit. Pemakaian hidrokuinon tanpa pengawasan dokter memiliki resiko iritasi kulit, kulit kemerahan, rasa terbakar, kelainan ginjal, hingga dapat menyebabkan kanker. Saat ini masyarakat sangat tertarik menggunakan krim racikan yang dijual bebas di toko kosmetik. Harga krim racikan yang terjangkau dengan hasil yang cepat menjadi alasan tingginya minat masyarakat. Pendistribusian produk krim racikan yang dijual bebas di toko kosmetik perlu diperhatikan untuk memastikan produk tersebut aman digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui kadar hidrokuinon yang terkandung dalam krim racikan yang dijual bebas di toko kosmetik Kabupaten Jepara. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif laboratorik dimana sampel krim racikan yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Analisis hidrokuinon dilakukan secara kualitatif menggunakan pereaksi FeCl3. Penentuan kadar hidrokuinon dalam sampel dilakukan secara kuantitatif menggunakan alat Spektrofotometri UV-Vis.
Analisis Kemometrika Kandungan Fitokimia Dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Bunga Asoka (Ixora Coccinea L.) Widiansyah, Risma Anindya; Setyowati, Endang; Khudzaifi, Muhammad
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 4 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i4.20719

Abstract

Bunga asoka (Ixora coccinea L.) dikenal bukan hanya karena keindahanya, tetapi juga karena kandungan senyawa aktifnya seperti flavonoid dan fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan yang dapat berkontribusi terhadap kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemometrika antara kandungan fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak bunga asoka yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70% dan etil asetat. Kandungan flavonoid total diukur menggunakan kuersetin sebagai standar pembanding, sedangkan fenolik total menggunakan asam galat. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH pada konsentrasi 40, 60, 100, dan 120 ppm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% mengandung flavonoid total sebesar 4,267 ± 0,006 mgEK/mL dan fenolik total sebesar 6,227 ± 0,027 mgEAG/mL, lebih tinggi dibandingkan ekstrak etil asetat. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa nilai IC50 pada kuersetin yaitu sebesar 2,9495 ppm, ekstrak etanol 70% sebesar 32,589 ppm dan etil asetat sebesar 148,508 ppm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat tergolong aktivitas antioksidan kategori sedang dibanding dengan kuersetin dan ekstrak etanol 70% yang tergolong sangat kuat. Hasil analisis kemometrika menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki hubungan yang lebih kuat dengan aktivitas antioksidan dibandingkan ekstrak etil asetat. Kandungan fenolik total etanol membentuk korelasi positif dengan aktivitas antioksidan metode DPPH etanol. Hasil tersebut membuktikan bahwa pelarut etanol 70% lebih efektif dalam mengekstraksi senyawa aktif dari bunga asoka yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan.
PERBANDINGAN KADAR FLAVONOID SEBAGAI ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK BATANG PISANG KEPOK (MUSA BALBISIANA ) DAN EKSTRAK BATANG PISANG AMBON (MUSA ACUMINATA) TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS Khudzaifi, Muhamad; Manik, Nirmala; Fadel, Muhammad Nurul; Kurniawan, Galih; Presticasari, Hardiyani
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 8, No 2 (2023): INDONESIA JURNAL FARMASI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v8i2.2261

Abstract

Latar Belakang: Indonesia mempunyai banyak jenis tanaman yang berpotensi sebagai antibiotik, Salah satunya adalah tanaman pisang, Indonesia merupakan habitat yang sesuai untuk tanaman pisang karena iklimnya yang tropis, tanaman pisang mempunyai bagian bagian diantaranya adalah akar, batang, pelepah daun, bunga, dan buah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antibakteri dengan konsentrasi 5%, 10% dan 15% pada ekstrak batang pisang ambon (Musa balbisiana) dan ekstrak batang pisang kepok (Musa acuminate) dengan perbandingan klindamisin terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif menggunakan skrining fitokimia, sedangkan analisis kuantitatif adalah kadar total dari senyawa kimia yang diperoleh, sedangkan untuk uji antibakteri menggunakkan metode difusi. Hasil Penelitian: Hasil dari kadar total pada ekstrak pisang ambon sebesar 9,54% dan ekstrak pisang kepok sebesar 8,89%, dan uji antibakterinya didapatkan hasil untuk pisang ambon 5% rata rata 4,6mm, 10% rata rata 9,6mm, 15% rata rata 12mm. Pada ekstrak pisang kepok 5% rata rata 4 mm, 10% rata rata 7,6 mm, 15 % rata rata 9 mm. Simpulan: Hasil kadar flavonoid yang lebih tinggi terdapat pada ekstrak pisang ambon dan uji antibakteri pada pisang ambon memberikan nilai hambatan yang lebih tinggi.
PEMANFAATAN URBAN FARMING TOGA DAN PENGELOLAAN MENJADI PRODUK UNGGULAN DESA Muhammad Nurul Fadel; Intan Adevia Rosnarita; Bintari Tri Sukoharjanti; Riana Putri Rahmawati; Muhamad Khudzaifi; Emma Jayanti Besan; Hasriyani Hasriyani; Galih Kurniawan
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 6, No 1 (2024): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v6i1.2420

Abstract

Urban farming merupakan dapat menjadi salah satu solusi atas permasalahan semakin langkanya lahan pertanian di kota-kota besar. Penggunaan obat tradisional untuk pengobatan di masyarakat terus meningkat dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Salah satu inisiatif penggunaan obat tradisional adalah TOGA (tanaman obat keluarga) dengan memanfaatkan lahan yang ada sebagai urban farming. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat dan kegunaan TOGA dalam kehidupan sehari-hari serta pemanfaatan urban farming. Metode pengabdian masyarakat dilakukan melalui edukasi dan diskusi tentang cara meningkatkan pengalaman dan pengetahuan masyarakat dalam penerapan urban farming TOGA, baik dalam penanaman maupun pemanfaatannya serta diskusi mengenai pentingnya pemanfaatan bahan alam dan TOGA sebagai alternatif pilihan pengobatan untuk minor ilness. Hasil pengabdian ini dapat meningkatkan produktivitas dan keberdayaan warga terhadap pemanfaatan urban farming terutama tanaman obat keluarga (TOGA) dan juga meningkatkan empati serta kepedulian apoteker dan tenaga kefarmasian dalam memberikan edukasi dan swamedikasi tanaman obat.
Chemometric Analysis of Phytochemical Content and Antioxidant Activity of 70% Ethanol and Ethyl Acetate Extracts of Butterfly Pea Flowers Nabila Naila Amelia; Endang Setyowati; Muhamad Khudzaifi
International Journal Of Health Science Vol. 5 No. 2 (2025): International Journal of Health
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/ijhs.v5i2.5594

Abstract

Antioxidants are essential for the body to inhibit or ward off free radicals. Naturally, the body can produce antioxidants, but they can also be obtained from external sources. Interestingly, antioxidants can also be found in plants, one of which is the butterfly pea flower (Clitoria ternatea L.). Compounds contained in butterfly pea flowers, such as flavonoids and phenolics, were macerated with 70% ethanol and ethyl acetate solvents. This study aims to analyze the phytochemical content (flavonoids and phenolics) and evaluate the antioxidant activity of butterfly pea flower extract and their relationship with the PCA (Principal Component Analysis) chemometric method. The total flavonoid content test was carried out with quercetin as a comparator, while the total phenolic content test was carried out with gallic acid as a comparator. Meanwhile, antioxidant activity was carried out using the DPPH method. In this study, the total flavonoid content in the 70% ethanol extract was 4.109 ± 0.027 mg QE/mL, while in the ethyl acetate extract it was 6.616 ± 0.22 mg QE/mL. The total phenolic content produced was 28.276 ± 1.36 mg GAE/mL for the 70% ethanol extract and 31.579 ± 1.59 mg GAE/mL for the ethyl acetate extract, respectively. Meanwhile, the IC50 value for antioxidant activity showed that the ethanol extract had a value of 54.23 ± 2.37 µg/mL, while the ethyl acetate extract had a value of 39.38 ± 3.14 µg/mL. The ethyl acetate extract had higher flavonoid, phenolic, and antioxidant activity than the 70% ethanol extract. Chemometric analysis showed a positive correlation between flavonoids and phenolics in the ethanol solvent. Chemometric analysis showed a relationship between flavonoid and phenolic content in both the ethanol and ethyl acetate solvents and the antioxidant activity of the DPPH method.
Formulasi Dan Uji Sifat Fisik Sediaan Lip Balm Menggunakan Kombinasi Ekstrak Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.) Dan Minyak Biji Anggur (Vitis Vinifera L.) Mayang Putri Oktaviani; Hasriyani Hasriyani; Muhamad Khudzaifi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2916

Abstract

Bunga telang (Clitoria ternatea L.) dikenal memiliki kandungan flavonoid dan antioksidan tinggi, yang bermanfaat dalam menjaga kelembaban serta kesehatan kulit, termasuk bibir. Namun, pemanfaatannya dalam sediaan kosmetik seperti lip balm masih terbatas. Di sisi lain, minyak biji anggur (Vitis vinifera L.) mengandung asam lemak tak jenuh seperti asam linoleat dan vitamin E yang bersifat antioksidan serta antibakteri, menjadikannya bahan potensial dalam formulasi lip balm alami. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kombinasi ekstrak bunga telang dan minyak biji anggur dalam sediaan lip balm, serta mengevaluasi stabilitas fisik dan sifat organoleptik dengan variasi konsentrasi bunga telang sebesar 5%, 10%, dan 15%. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan fokus pada pengamatan karakteristik fisik seperti warna, aroma, pH, dan iritasi pada kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula lip balm tidak menimbulkan iritasi pada kulit, sehingga dinyatakan aman untuk digunakan. Selain itu, ditemukan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak bunga telang, nilai pH lip balmcenderung menurun. Namun, seluruh formula masih berada dalam kisaran pH yang aman untuk bibir. Secara umum, formulasi lip balm berbahan dasar ekstrak bunga telang dan minyak biji anggur memiliki potensi sebagai produk kosmetik berbahan alami yang aman dan inovatif, serta dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai alternatif lip balm komersial yang aman untuk kulit.
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Lip Balm Kombinasi Ekstrak Bunga Mawar (Rosa Sp.) Dengan Minyak Biji Anggur (Vitis Vinifera) Desy Dewi Purbaningrom; Hasriyani Hasriyani; Muhamad Khudzaifi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3384

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan lip balm yang menggabungkan keduanya, untuk menciptakan produk yang aman dan efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan formula lip balm dengan kombinasi ekstrak bunga mawar dan minyak biji anggur serta mengevaluasi efektivitasnya dalam menjaga kelembapan, melindungi, dan menutrisi bibir. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji stabilitas dan kenyamanan produk yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen formulasi. Beberapa variasi komposisi bunga mawar 5%, 7%, 9% dan minyak biji anggur 5%,10%, 15% diuji untuk mendapatkan formula lip balm yang optimal. Evaluasi dilakukan melalui pengujian fisik (Organoleptis, pH), uji homogenitas, uji daya lekat, uji hedonik dan uji Iritasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksperimental dalam formulasi dan evaluasi sediaan lip balm. Hasil penelitian menunjukkan pada F1 dengan konsentrasi bunga mawar 5% dan minyak biji anggur dengan konsentrasi 5%, F2, dengan konsentrasi bunga mawar 7% dan minyak biji anggur dengan konsentrasi 10%, F3 dengan konsentrasi bunga mawar 9% dan minyak biji anggur dengan konsentrasi 15%, telah memenuhi persyaratan uji pH, homogenitas, uji organoleptik, daya lekat, kesukaan dan uji iritasi. Dapat disimpulkan Ekstrak Bunga Mawar (Rosa hybrida) dan Minyak Biji Anggur (Vitis vinifera) dapat di formulasikan ke dalam sediaan lip balm. Perbedaan variasi konsentrasi dapat berpengaruh pada bentuk fisik dan warna sediaan lip balm. F3 terlihat lebih lembek dari pada sediaan F1 dan F2.
ANALISIS COST-EFFECTIVENESS CEFAZOLIN VS AMPICILLIN-SULBACTAM PADA SECTIO CAESAREA PRIMIPARA DI RS HERMINA BANYUMANIK Ilma Hanifa; Ahmad Suriyadi Muslim; Muhammad Khudzaifi
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/7mw30d88

Abstract

Persalinan dengan sectio caesarea terus meningkat dan berpotensi meningkatkan risiko infeksi luka operasi (ILO). Pemberian antibiotik profilaksis merupakan strategi utama untuk mencegah infeksi, namun pemilihannya harus mempertimbangkan efektivitas klinis dan efisiensi biaya. Evaluasi farmakoekonomi diperlukan untuk menentukan alternatif terapi yang paling efisien. Penelitian ini merupakan studi farmakoekonomi observasional analitik dengan pendekatan retrospektif menggunakan metode cost effectiveness analysis (CEA). Penelitian dilakukan di RS Hermina Banyumanik periode Januari–Desember 2024 menggunakan data rekam medis dan biaya medis langsung. Sampel sebanyak 64 pasien sectio caesarea primipara dipilih dengan teknik total sampling, terdiri dari kelompok cefazolin (n=17) dan ampicillin sulbactam (n=47). Parameter efektivitas meliputi kejadian infeksi luka operasi, lama rawat inap (LOS), dan penggunaan antibiotik oral tambahan. Analisis efektivitas biaya dihitung menggunakan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER). Tidak ditemukan kejadian infeksi luka operasi pada kedua kelompok (100% efektif). Rata-rata biaya medis langsung kelompok cefazolin lebih rendah dibandingkan ampicillin sulbactam (Rp 1.617.055 vs Rp 1.629.094). Lama rawat inap kelompok cefazolin lebih singkat (3,35 vs 3,60 hari). Proporsi pasien tanpa antibiotik oral tambahan lebih tinggi pada kelompok cefazolin (23,53% vs 6,38%). Nilai ACER kelompok cefazolin lebih rendah dibandingkan ampicillin sulbactam. Cefazolin memiliki efektivitas klinis yang setara dengan biaya lebih rendah dibandingkan ampicillin sulbactam, sehingga merupakan alternatif antibiotik profilaksis yang lebih cost-effective pada pasien sectio caesarea primipara dari perspektif rumah sakit.